abses hepar fix

Download Abses Hepar Fix

Post on 28-Nov-2015

54 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUANA. PengertianAbses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. Dan sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu (1).Bakteri ini bisa sampai ke hati melelui: 1) kandung kemih yang terinfeksi. 2) Luka tusuk atau luka tembus. 3) Infeksi didalam perut., dan 4) Infeksi dari bagian tubuh lainnya yang terbawa oleh aliran darah. Gejalanya berkurangnya nafsu makan, mual dan demam serta bisa terjadi nyeri perut (1). Pada umumnya abses hati dibagi dua yaitu abses hati amebik (AHA) dan abses hati pyogenik (AHP). Abses hati amebik merupakan komplikasi amebiasis ekstraintestinal yang sering dijumpai di daerah tropik/ subtropik, termasuk Indonesia. Abses hepar pyogenik (AHP) dikenal juga sebagai hepatic abscess, bacterial liver abscess, bacterial abscess of the liver, bacterial hepatic abscess (1,2).Abses hati masih merupakan masalah kesehatan dan sosial pada beberapa negara berkembang. Prevalensi yang tinggi sangat erat hubungannya dengan sanitasi yang jelek, status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. Meningkatnya arus urbanisasi menyebabkan bertambahnya kasus liver abses di daerah perkotaan. Di negara yang sedang berkembang abses hati amebik lebih sering didapatkan secara endemik dibanding dengan abeses hati piogenik. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah banyak perubahan mengenai aspek epidemiologi, etiologi, bakteriologi, cara diagnostik maupun mengenai pengelolaan serta prognosisnya (1,2).Pada era pre-antibotik, AHP terjadi akibat komplikasi appendisitis. Bakteri patogen melalui arteri hepatika atau melalui sirkulasi vena portal masuk ke dalam hati, sehingga terjadi bakteremia sistemik, ataupun menyebabkan komplikasi infeksi intra abnominal seperti divertikulitis, peritonitis dan infeksi post operasi (1).

Berikut kami laporkan satu kasus pada seorang pasien dengan abses hepar.

BAB IILAPORAN KASUSSeorang pasien bernama Tn. S, laki-laki berumur 33 tahun, bekerja sebagai wiraswasta, tinggal di moramo utara. Masuk pada tanggal 3 November 2013. Dirawat di ruang Asoka Non Bedah kamar 5, Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara dengan nomor rekam medic 371157.Pasien masuk dengan keluhan utama demam. Pasien mengeluh demam yang telah dirasakan sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dikeluhkan kadang naik turun, tidak disertai menggigil dan tidak terjadi pada waktu-waktu tertentu. Pasien juga mengeluhkan sakit ulu hati dan juga terasa mual, muntah tidak dialami pasien. Pasien juga mengeluh sakit perut bagian kanan atas, serta adanya penurunan nafsu makan selama beberapa bulan terakhir, dan adanya penurunan berat badan yang dirasakan pasien tapi tidak diketahui berapa banyak penurunan berat badannya. Riwayat sakit kepala, batuk, sesak dan nyeri dada tidak dikeluhkan oleh pasien. Buang air besar terkesan biasa, tidak ada riwayat buang air besar berwarna hitam, dan buang air kecil lancar, berwarna seperti teh dan tidak ada nyeri saat berkemih.Pasien mempunyai riwayat merokok dari SMA sampai sekarang setiap hari, dengan rata-rata 1 sampai 2 bungkus rokok perhari. Riwayat minum alkohol waktu pasien muda, setiap minum sebanyak 2 gelas. Keluhan ini baru dirasakan oleh pasien, dan tidak ada keluhan yang sama pada keluarga pasien. Riwayat mengalami diare sebelumnya disangkal pasien dan riwayat menderita penyakit kuning tidak ada sebelumnya begitu pula dengan diabetes dan hipertensi.Pada pemeriksaan fisis yang dilakukan didapatkan pasien dengan keadaan umum sakit sedang dengan tinggi badan 165 cm, dan berat badan 74 kg. Indeks massa tubuh (IMT) pasien adalah 27,18 Kg/m2. Dalam kondisi kesadaran compos mentis.Tanda vital pasien meliputi tekanan darah: 130/80 mmHg, nadi 88x/menit, pernapasan: 22x/menit tipe torakoabdominal, pemeriksaan suhu pada axilla 36,40C. Pada pemeriksaan fisis yang dilakukan pada kepala tampak mesosefal, dengan wajah simetris namun dengan ekspresi wajah yang tampak lemas. Tidak ditemukan deformitas, rambut hitam lurus dan sukar dicabut. Pemeriksaan mata tidak ada exoptalmus ataupun enoptalmus, pada kelopak mata tidak tampak cekung, ditemukan konjungtiva yang anemis, sclera tidak ikterik, reflex cahaya pada kornea positif kiri dan kanan dengan diameter 3mm pada mata kiri dan kanan. Pemeriksaan hidung tidak ditemukan perdarahan dan secret. Pemeriksaan telingga tidak didapatkan tophi, tidak ada nyeri tekan pada proceccus mastoideus, dan pendengaran normal. Pada mulut tidak ada oral ulcer, bibir tidak pucat dan kering, gigi geligi masih intak, lidak tidak kotor, tidak ada perdarahan gusi, tonsil dan faring tidak hiperemis.Pada pemeriksaan leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, begitu pula pada kelenjar gondok. Tekanan vena jugular 5+2 cm, tidak ada tremor dan kaku kuduk. Pemeriksaan thorax, diinspeksi pada bagian kiri dan kanan tampak simetris, tidak ada yeri tekan pada palpasi, paru kanan terdengar pekak dan paru kiri sonor pada perkusi, tidak ada bunyi tambahan saat dilakukan auskultasi. Pemeriksaan inspeksi jantung terlihat Ictus cordis pada intercostal V linea midclavicularis sinistra, dan terpalpasi pada daerah yang sama, dengan perkusi pekak, serta auskultasi didapatkan bunyi jantung I dan II murni tanpa bunyi tambahan baik murmur maupun gallop.Pada pemeriksaan abdomen, inspeksi tampak datar, simetris, mengikuti gerak napas dan tidak ada kelainan kulit. Auskultasi terdengar 8 kali per menit. Palpasi pada abdomen teraba pembesaran hepar 3 jari di bawah arcus costa, konsistensi lunak, permukaan licin, tepi tumpul dan tidak ada nyeri tekan, sedangkan lien tidak teraba, dan pada perkusi didapatkan pekak hepar. Pemeriksaan punggung diinspeksi tidak ada kelainan, tidak ada nyeri ketok, dan gerakan punggung tampak normal. Pada pemeriksaan ekstremitas akral tidak dingin, tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening di inguinal, tidak ada edema pada kedua tungkai, dengan kekuatan 5-5-5-5.Pada pemeriksaan penunjang yang dilakukan tanggal 6 november 2013 didapatkan hasil darah rutin dengan gambaran WBC 22,6 x 103 ul, lymph# 3,4 x 103 ul, mid# 1,3 x 103 ul, gran # 17,9 x 103 ul, lymph# 15,2%, mid# 5,9%, gran# 78,9%, HGB 10,0 g/dL, RBC 4,77 x 106 ul, HCT 37,6%, MCV 78,9 pg, MCH 22,6 g/dL, MCHC 28,7 g/dL, RDW-CV 14,2%, RDW-SD 43,2 fl, PLT 94 x 103 ul, MPV 10,7 fl, PDW 15,6, PCT 0,100%.Pada pemeriksaan kimia darah nilai glukosa 143, SGOT 30,3 U/L, SGPT 27,6 U/L, urea 15,7 mg/dL. Telah dilakukan pula pemeriksaan laboratorium kedua darah rutin tanggal 11 November 2013 dengan hasil WBC 7,3 x 103 ul, lymph# 1,8 x 103 ul, mid# 0,6 x 103 ul, gran # 4,9 x 103 ul, lymph# 25,0%, mid# 8,7%, gran# 66,3%, HGB 10,9 g/dL, RBC 4,87 x 106 ul, HCT 38,1%, MCV 78,4 pg, MCH 22,3 g/dL, MCHC 28,6 g/dL, RDW-CV 14,8%, RDW-SD 43,2 fl, PLT 456 x 103 ul, MPV 8,5 fl, PDW 14,6, PCT 0,387%. Dari hasil tes widal yang dilakukan, ditemukan S. Typhy O Neg (-), S. Typhy A-O Neg (-), S. Typhy H Neg (-), S. Typhy B-A Neg (-)Hasil Pemeriksaan Foto Thorax

Ekspertise foto thorax (7 November 2013): Perselubungan basal kanan dengan sinus tertutup, kesan empyema Cor, sinus, diafragma serta paru sinistra normal

Hasil Pemeriksaan BNO 3 Posisi Ekspertise foto BNO 3 posisi (6 November 2013): Distribusi udara dalam loop-loop usus. Tidak tampak dilatasi loop-loop usus Tampak cavum hepar membesar, psoas line dan fat line dalam batas normal Tulang-tulang intak Tampak sinus kanan tumpulKesan: - Hepatomegaly Efusi pleura kanan Tidak tampak tanda-tanda ileusHasil Pemeriksaan USG Abdomen Ekspertise USG (6 November 2013): Hepar: Ukuran memebesar, tampak massa hipoechoic, batas tegas, tepi ireguler dengan ukuran 6,42 x 7,72cm, tidak tampak dilatasi bileduct Tampak efusi cavum pleura kananKesan: Abses hepar disertai efusi pleura kanan

Ekspertise USG Abdomen (11 November 2013): Hepar: ukuran membesar. Tampak massa hipoechoic, batas tegas, tepi ireguler dengan ukuran 8,52 x 5,96 cm dan 8,46 x 6,86cm pada lobus kanan hepar GB, pancreas, lien dan VU echo normal Tampak cairan pada paru pleura kananKesan: - Abses hepar Efusi pleura kanan

Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisis, serta pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan maka pasien atas nama Ny. E didiagnosa dengan Abses Hepar disertai Empiema dan anemia defiiensi besi. Pasien mendapat terapi berupa pemberian cairan infus ringer laktat 20 tetes per menit, pemberian injeksi ranitidine 1 gr per 12 jam, injeksi antibiotic ceftriaxone 1gr per 12 jam intravena, injeksi ketorolac 1 ampul per 8 jam, injeksi metronidazole 1gr per 8 jam, paracetamol tablet 3 kali sehari dan tablet SF tiga kali sehari. Pasien juga dianjurkan untuk tirah baring, diet makanan rendah lemah, hindari minum alcohol dan konsumsi rokok.Pasien dirawat di RSUB Provinsi Sulawesi Tenggara selama 9 hari. Pada hari pertama dan kedua pasien masih merasakan nyeri uku hati, mual dan tidak bisa tidur dnegan tidak disertai adanya demam, buang air kecil masih berwarna seperti teh, lemas dan anemis. Pasienpun diberikan infus RL, injeksi ceftriacone per 12 jam dan injeksi ranitidine dan masih diberikan paracetamol 3 kali sehari. Hari heri ketiga pasien mengeluhkan nyeri pada perut kanan atas tembus ke belakang, nyeri ulu hati, tidak dapat tidur, nafsu makan menurun dan belum buang air bear selama 4 hari. Dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan HGB 10,8 g/dL, HCT 37,6%, MCV 78,9 fL, PLT 94. Dilakukan pula pemeriksaan kimia darah dan dipatkan glukosa 143 mg/dL, SGOT 30,3 U/L, SGPT 27,6 U/L dan urea 16,7 mg/dL. Hasil tes widal ditemukan negative. Hasil USG ditemukan hepatomegaly, abses hepar disertai efusi pleura kanan. Hasil BNO 3 posisi ditemukan pula hepatomegaly, efusi pleura kanan da tidak tampak tanda-tanda ileus. Pada pengobatan diberikan infus RL:D5 = 2:1 dan ditambahkan injek