peritonitis et causa tifoid perforasi

of 23 /23
Peritonitis Et Causa Tifoid Perforasi Makalah Disusun untuk memenuhi tugas Problem Based Learning Disusun oleh : S. Krissattryo Rosarianto I. Kelompok B-1 102011374 [email protected]

Author: ryo-rosarianto

Post on 28-Dec-2015

171 views

Category:

Documents


8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

16

TRANSCRIPT

Peritonitis Et Causa Tifoid PerforasiMakalahDisusun untuk memenuhi tugas Problem Based Learning

Disusun oleh :S. Krissattryo Rosarianto I.Kelompok [email protected] Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana2012

PendahuluanI.Latar BelakangPeritonitis adalah radang selaput peritoneum yang berada di rongga peritoneum dan melapisi organ-organ di abdomen. Berdasarkan cara terjadinya, peritonitis dibedakan menjadi tiga, yaitu peritonitis primer, sekunder dan tersier. Peritonitis ada yang disebabkan oleh satu/beberapa bakteri yang menginfeksi lapisan peritoneum sehingga menimbulkan reaksi radang tetapi ada juga peritonitis yang disebabkan karena adanya suatu proses komplikasi dari penyakit lain. Komplikasi yang ditakutkan dari peritonitis adalah jika bakteri penyebab menyebar ke organ-organ lain atau bahkan ke seluruh tubuh sehingga meyebabkan sepsis yang dapat menyebabkan kematian. Penanganan yang tepat dan adekuat terhadap peritonitis tentu dapat mencegah komplikasi tersebut. II.Rumusan MasalahRumusan masalah dalam makalah ini adalah seorang laki-laki berusia 20 tahun dibawa ke UGD RS dengan keluhan nyeri perut hebat pada seluruh perutnya sejak 6 jam yang lalu. Sejak 10 hari yang lalu, pasien demam naik turun terutama pada malam hari, disertai mual, konstipasi dan anoreksia. Sejak 3 hari yang lalu, keadaan pasien semakin melemah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Pemeriksaan fisik, keadaan umum lemah, TD: 130/90 mmHg, Nadi: 95x/menit, RR: 24x/menit, T: 38,5C, Abd: tampak distensi abdomen.III. HipotesisHipotesis dalam makalah ini adalah seorang laki-laki usia 20 tahun tersebut mengalami peritonitis et causa tifoid perforasi.

Isi1.Nyeri PerutNyeri perut dapat merupakan variasi kondisi dari yang bersifat sangat ringan sampai yang bersifat fatal. Dapat berasal dari nyeri viseral abdomen akibat rangsang mekanik (seperti regangan, spasme) atau kimiawi (seperti inflamasi, iskemia). Nyeri viseral bersifat tumpul, rasa terbakar dan samar batas lokasinya. Sedangkan nyeri peritoneum parietal lebih bersifat tajam dan lokasinya lebih jelas. Ujung saraf nyeri pada organ seperti hati dan ginjal terbatas pada kapsulanya, jadi rasa nyeri timbul bila ada regangan karena pembesaran organ. Referred pain dapat dijelaskan pada keadaan dimana serat nyeri viseral dan serat somatik berada pada satu tingkat di susunan saraf spinal.1a.AnamnesisUrutan kronologis dari kejadian-kejadian dalam anamnesis pasien sering lebih penting daripada menunjukkan perhatian pada lokasi nyeri. Bila pemeriksa cukup terbuka pikirannya dan tidak terburu-buru, ajukan pertanyaan yang tepat, dan dengarkan, pasien biasanya akan memberikan diagnosis. Perhatian yang seksama harus ditujukan pada daerah-daerah ekstraabdominal yang mungkin bertanggung jawab untuk nyeri abdominal. Suatu riwayat menstruasi yang tepat pada seorang pasien perempuan adalah esensial. Narkotika dan analgetika seharusnya tidak diberikan sampai suatu diagnosis atau rencana yang definitif dirumuskan karena agen-agen ini sering mempersulit pemeriksa untuk mendapatkan dan menafsirkan anamnesis dan temuan fisis. 2b.Pemeriksaan FisikSebelum memulai pemeriksaan mendetail dari nyeri abdomen, terlebih dahulu fleksikan lutut pasien secara pasif dengan bantal kecil atau gulingan yang dapat menyokong dan mempertahankan fleksi. Jika memungkinkan pasien harus tidur berbaring dengan abdomen terekspos dari payudara hingga simfisis pubis. Pemeriksa harus mengamati wajah pasien untuk melihat tanda-tanda rasa tidak enak, baik spontan ataupun ditimbulkan pada waktu pemeriksaan. 31.InspeksiApakah abdomen mengalami distensi? Jika demikian, apakah distensi bersifat umum, atau terlokalisir pada satu tempat di abdomen? Apakah umbilikus mengalami eversi? Apakah ada penonjolan dekat atau mengenai umbilikius ataupun jaringan parut bedah? Jika ada penonjolan vena, dari arah mana aliran vena berlangsung?. Apakah perubahan warna menjadi kebiruan terdapat sekitar umbilikius (tanda Cullen) atau ekimosis yang nyata pada abdomen atau pinggang (tanda Grey Turner)?Apakah terdapat spider angiomata pada percabangan kava superior? 3Apakah tampak gelombang peristaltik?Inspeksi pada abdomen untuk pergerakan peristaltik dipermudah dengan menerangi lampu secara horizontal atau dengan sudut transversal rendah menyilang dinding abdomen. Dengar borborigmi atau bising usus yang terdengar tanpa stetoskop, yang dapat menyertai gelombang peristaltik yang terlihat. 32.AuskultasiLetakkan diafragma stetoskop dengan ketat pada kuadran abdomen. Apakah tekanan stetoskop menyebabkan nyeri berkurang atau lebih kecil daripada palpasi dengan jari tangan tekanan yang sama? Apakah bising usus terdengar?Jika demikian, apakah normal atau terdiri atas bunyi nada tinggi? Apakah terdapat gerakan keras dan cepat yang berhubungan dengan gelombang peristaltik yang terlihat dan/atau nyeri kram yang dirasakan pasien? Untuk lebih yakin bahwa tidak terdapat bising usus, pemeriksa harus tidak mendengarnya dalam satu menit penuh. 33.PerkusiApakah perkusi menyebabkan nyeri, kaku, atau withdrawal? Apakah bunyi abdomen timpani umum, atau terlokalisir pada satu kuadran?Apakah terdapat perkusi redup yang memberi kesan pembesaran organ, massa jaringan padat, atau cairan di dalam rongga peritoneum? 3

4.PalpasiJika pasien menyebutkan nyeri terlokalisir, mulai palpasi pada kuadran yang tidak nyeri dan jauh dari penonjolan atau perubahan warna yang terlihat. Hipersensitivitas kulit kadang-kadang menunjuk pada sumber nyeri. Jika sentuhan ringan menyebabkan hipersensitivitas kulit, pertimbangkan penyebaran dermatom sebagai petunjuk daerah yang terkena. 3c.Pendekatan Diagnostik1 Berdasarkan lokasi nyeri:Lokasi NyeriDugaan Sumber Nyeri

EpigastriumGaster, pankreas,duodenum

PeriumbilikusUsus halus, duodenum

Kuadran kanan atasHati, duodenum, kandung empedu

Kuadran kiri atasPankreas, limpa, gaster, kolon ginjal

Kualitas nyeri: perlu diketahui kualitas rasa nyeri tersebut. Hal ini tidak mudah, terutama di Indonesia, dimana ekspresi bahasa tidak sama untuk menggambarkan rasa nyeri. Pada dasarnya harus dibedakan rasa nyeri kolik seperti pada ibstruksi intestinal dan bilier, rasa nyeri yang bersifat tumpul seperti pada batu ginjal, rasa seperti diremas pada kolesistitis, rasa panas seperti pada esofagitis, dan appendisitis tidak jarang menimbulkan rasa nyeri tumpul dan menetap. Faktor yang mencetuskan dan faktor yang meringankan nyeri: nyeri perut yang dapat diringankan dengan minum antasid dapat diperkirakan menderita tukak peptik (terutama tukak duodenum). Nyeri pada penyakit pankreas sering terjadi setelah makan, dan juga pada iskemia intestinal. Pada penyakit kolon, rasa nyeri berkurang setelah buang besar. Harus juga ditelusuri gejala sistemik lain yang menyertainya. Pemeriksaan penunjang berupa laboratorium, radiologi. Dan endoskopi sesuai penyakit yang diduga mendasarinya.

d. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium mungkin sangat berharga untuk menilai pasien dengan nyeri abdomen, namun dengan hanya beberapa kecualian pemeriksaan ini jarang dapat membantu menegakkan diagnosis. Leukositosis seharusnya tidak merupakan faktor penentu tunggal mengenai apakah operasi terindikasi atau tidak. Diagnosis anemia mungkin lebih membantu daripada jumlah leukosit, khususnya jika digabung dengan anamnesis. 2Foto polos abdomen dalam posisi tegak dan lateral dekubitus mungkin paling besar nilainya. Foto- foto ini biasanya tidak diperlukan pada pasien dengan apendisitis akut atau hernia eksterna yang mengalami strangulasi. Akan tetapi, pada kasus obstruksi usus, tukak yang mengalami perforasi dan berbagai kondisi lain, foto mungkin diagnostik. 2Bilas peritoneal merupakan suatu tindakan diagnostik yang aman dan efektif pada para pasien dengan nyeri abdomen akut. Tindakan ini mempunyai nilai khusus pada pasien dengan trauma tumpul pada abdomen di mana evaluasi abdomen mungkin sulit karena cedera multipel lainnya pada tulang belakang, pelvis atau iga dan dimana darah dalam rongga abdomen hanya menimbulkan suatu reaksi peritoneal yang sangat ringan. 2e.Etiologi 1 Inflamasi peritoneum parietal: perforasi, peritonitis, appendisitis, diverkulitis, pankreatitis, kolesistitis. Kelainan mukosa viseral: tukak peptik, inflammatory bowel disease, kolitis infeksi, esofagitis. Obstruksi viseral: ileus obstruksi, kolik bilier atau renal karena batu. Regangan kapsula organ: hepatitis, kista ovarium, pielonefritis. Gangguan vaskular: iskemia atau infark intestinal. Gangguan motilitas: irritable bowel syndrome, dispepsia fungsional. Ekstra abdominal: herpes, trauma muskuloskletal, infark miokard dan paru.

2.PeritonitisPeritonitis adalah inflamasi dari lapisan serosa dari rongga peritoneal yang membatasi rongga abdomen dan organ-organ yang terdapat di dalamnya. Peritonitis dapat bersifat lokal maupun generalisata, bakterial ataupun kimiawi. Inflamasi dapat merupakan hasil dari respon terhadap mikroorganisme dan/atau bahan kimia iritan. Ada dua tipe utama dari peritonitis yaitu peritonitis primer (spontan atau idiopatik) dan peritonitis sekunder. Ketika tanda/ gejala dari peritonitis dan sepsis muncul setelah pengobatan untuk peritonitis sekunder dan tidak ditemukan adanya isolasi dari patogen penyebab dianggap sebagai peritonitis tersier.Abses intraperitoneal dapat terjadi akibat peritonitis primer yang merupakan respon inflamasi yang menyebar dari satu atau berbagai tempat, atau peritonitis sekunder yang terjadi di sumber infeksi pada intra abdominal. Peritonitis juga dapat terjadi akibat pemasangan kateter untuk dialisis. Peritonitis tersier dapat terjadi akibat peritonitis sekunder yang telah dilakukan interfensi pembedahan ataupun medikamentosa. Kejadian peritonitis tersier kurang dari 1% kasus bedah. 4a.Peritonitis primerPeritonitis primer didefinisikan sebagai infeksi dari rongga peritoneum tanpa adanya bukti sumber infeksi dari rongga abdomen. Peritonitis primer dapat terjadi pada semua umur. Di anak-anak biasanya terjadi akibat sirosis dan sindroma nefrotik. Peritonitis primer juga disebut sebagai peritonitis bakterial spontan, di orang dewasa sering terlihat ada hubungannya dengan asites karena berbagai macam sebab tapi yang paling sering adalah karena sirosis alkohol, terutama pada stadium lanjut.Peritonitis primer adalah infeksi monomikrobial dan jarang melibatkan anaerob obligat, jika kultur cairan asites memperlihatkan infeksi polimikrobial atau bakteri anaerob, perlu dicurigai sebagai peritonitis sekunder. Infeksi daripada peritonitis primer bisa menyebar secara hematogen, limfogen, atau migrasi transmural melewati dinding usus, atau pada wanita melewati vagina melalui tuba fallopi.Mekanisme patogenik pada sirosis terjadi akibat pertumbuhan bakteri secara berlebihan di traktus intestinal bagian atas, perubahan di barrier mukosa usus, translokasi di kelenjar limfe, dan menuju ke aliran darah. Bersihan bakteri dari darah terhambat pada penderita sirosis dikarenakan berkurangnya aktivitas fagositik di dalam sistem retikuloendothelial, serta aktivitas netrofil, monosit dan opsonisasi yang terganggu.Manifestasi klinis dari peritonitis primer sangat beragam. Pada anak-anak sering sulit dibedakan dengan appendisitis akut. Gejala yang paling umum adalah demam, demam bisa terjadi tanpa adanya gejala-gejala/ tanda dari infeksi abdominal, atau infeksi intraperitoneal dapat terjadi tanpa disertai gejala klinis.Asites yang mendahului infeksi hamipr selalu ada. Gejala dan tanda-tanda lain yang terjadi biasanya adalah nyeri abdominal, mual, muntah, diare, nyeri abdominal yang menyebar, nyeri lepas dan suara bising usus yang hipoaktif, dan gejala yang atipikal seperti hipothermia, hipotensi, dll.Diagnosis dari peritonitis primer biasanya dilakukan dengan pemeriksaan Computed Tomography (CT). Pemeriksaan dari cairan asitik dibutuhkan, biasanya leukosit dari cairan asitik lebih dari 250 PMN leukosit/mm3. Pemeriksaan gram dari cairan biasanya negatif karena rendahnya kadar bakteri dalam cairan asitik. Pemeriksaan darah harus dilakukan untuk melihat ada/tidaknya bakteremia yang sering terjadi.Karena pemeriksaan stain gram seringkali negatif pada peritonitis primer, antibiotik pilihan pertama biasanya empiris dan termodifikasi setelah hasil dari kultur dan tes susepbilitas tersedia. Terapi inisial harus diarahkan untuk melawan bakteri enterik gram negatif basil dan gram positif kokus. Antimikroba yang dapat digunakan antara lain sefalosporin generasi ketiga (seftriakson dan sefotaksim), sefalosporin generasi keempat (sefepim), atau generasi terbaru daru fluorokuinolon yang memilki aktivitas terhadap S.pneumoniae, dan strain lain yang relatif resisten penisilin, dan kombinasi -lactam antibiotic--lactamase inhibitor(mis: ampicilin-sulbactam, ticarcilin-klavulanat, atau piperazin-tazobactam). 4

b.Peritonitis SekunderPeritonitis sekunder dikaitkan dengan adanya lesi predisposisi intra-abdominal dan biasanya melibatkan flora gastrointestinal. Beberapa kelainan intra-abdominal mungkin memicu terjadinya peritonitis sekunder; termasuk perforasi ulkus peptik, appendisitis, pancreatitis, diverkulitis, dll. 4Meskipun beberapa tipe mikroorganisme bisa menjadi penyebab, peritonitis sekunder biasanya adalah infeksi polimikrobial endogen yang didapat. Rata-rata, sekitar 5 spesies bakterial diisolasi, dan mereka termasuk obligat dan fakultatif anaerob.Gejala yang ditunjukkan menyerupai peritonitis primer. Kecepatan onset, lokasi awal dan luasnya peritoneum yang terlibat bervariasi tergantung penyebab kejadiannya, sebagai contoh, pertumpahan intraperitoneal dari isi lambung secara masif dan tiba-tiba ,menyebabkan nyeri epigastrik yang dalam waktu singkat menyebar ke seluruh perut. Lebih jelasnya, penyebaran nyeri dari lesi seperti ruptur appendiks atau divertikulum kolon jauh lebih meningkat dan terbatas sejalan dengan proses inflamasi yang cenderung mereda perlahan-lahan.Nyeri adalah simptom utamanya. Nyeri dan sakit pada abdomen dirasakan sangat maksimal pada saat bagian yang nyeri dan sakit tersebut dipalpasi (mis: epigastrium karena ulkus peptik, kuadran kanan bawah karena appendisitis,dll). Gejala lain yang ditemukan antara lain demam, mual, muntah dan distensi abdomen. Pasien sering mengeluh tidak bisa mengangkat tungkai dan kakinya ke dada karena akan merangsang nyeri abdominalnya. Tekanan darah biasanya normal pada awal tetapi dapat menurun pada keadaan syok septik, mungkin terdapat peningkatan frekuensi pernafasan dan takikardia. Nyeri lepas dan kekakuan dinding abomen sering terlihat. Bising usus tidak terdengar. 4Evaluasi diagnostik harus secara singkat dan teliti karena kondisi kritis pasien. Pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah lengkap, liver, amilase dan lipase. Kultur yang sesuai harus dilakukan dengan tepat, meskipun kultur dari cairan peritoneum sering terhambat sampai waktu laparotomy. Radiografi thorak harus dilakukan untuk menyingkirkan kondisi thorak yang mungkin menstimulasi proses pada intra-abdominal. Radiografi abdomen bisa sangat membantu, kadang-kadang memperlihatkan adanya udara atau cairan, distensi kolon, ileus atau edema dinding kolon. Namun, CT abdomen dan pelvis dengan bahan kontras sangat membantu untuk melokalisir infeksi dan menunjukkan sumber penyebab. 4Terapi antimikroba dilakukan awal untuk mengendalikan bakteremia dan meminimalisir penyebaran infeksi lokal. Pasien dengan hemodinamik, pernafasan, ginjal dan disfungsi sistem organ lain membutuhkan terapi yang cepat dan tepat. Pembedahan sering dibutuhkan untuk drainase materi purulen yang mengandung bakteri, dan kadar proinflamasi sitokin dan adjuvant (feses, makanan, darah, empedu dan barium) yang akan meningkatkan virulensi dari infeksi peritoneal. 4c.Anamnesis dan Pemeriksaan FisikAnamnesis biasanya berupa nyeri abdomen dengan awitan cepat, demam dan muntah, biasanya terjadi lebih dari 48 jam. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri hebat diseluruh abdomen atau di kuadran bawah. Suara usus biasanya hipoaktif atau menghilang dan dapat dijumpai kekakuan abdomen. Pasien lebih suka menyukai posisi berbaring terlentang dan akan merasa sangat tidak nyaman jika bergerak atau dipalpasi. Radiografi abdomen pasien peritonitis sering memperlihatkan dilatasi intestinal, edema usus halus, cairan peritoneum, dan hilangnya bayangan psoas. Pasien perforasi usus secara radiografi dibuktikan dengan adanya udara bebas di dalam rongga peritoneum. Aspirasi jarum pada cairan peritoneum sebaiknya dilakukan jika dicurigai adanya peritonitis atau jika pasien mengalami demam yang tidak diketahui sebabnya dan terdapat cairan dalam abdomen. Cairan peritoneum yang terinfeksi biasanya mengandung kadar protein yang meningkat dan jumlah leukositnya lebih dari 300/mm3, lebih dari diantaranya adalah leukosit polimorfonuklear. Pewarnaan gram dan kultur cairan sebaiknya dilakukan untuk memberikan terapi antimikroba yang tepat. 5d.PengobatanPasien dengan peritonitis memerlukan pemantauan ketat status cairan dan elektrolit. Di samping itu, sebaiknya diberikan terapi antimikroba parenteral. Terapi kombinasi dengan ampisilin, gentamisin, dan klindamisin merupakan terapi awal dengan jangkauan yang tepat. Terapi anti mikroba sebaiknya dimodifikasi berdasarkan pada hasil kultur dan pewarnaan gram. Evaluasi bedah sebaiknya segera dilakukan karena eksplorasi bedah mungkin diperlukan untuk mengevaluasi adanya organ dalam yang mengalami perforasi. 53.Demam TifoidTifus abdominalis(demam tifoid) adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang diawali di selaput lendir usus dan, jika tidak diobati, secara progresif menyerbu jaringan di seluruh tubuh. Aspek paling penting dari infeksi ini ialah kemungkinan terjadinya perforasi usus, karena satu kali organisme memasuki rongga perut, pasti timbul peritonitis yang mengganas. Bila ini terjadi, prognosisnya sangat jelek. Komplikasi lain ialah pendarahan per anum dan infeksi terlokalisis (meningitis, dll). 6Kuman penyebabnya ialah Salmonella typhi (basil-gram negatif) yang memasuki tubuh melalui mulut dengan perantaraan makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Singkatnya kuman ini terdapat dalam tinja, kemih atau darah. Masa inkubasinya sekitar 10 hari. Salah satu sebab mengapa pasien tifus dianjurkan dirawat di rumah sakit adalah karena relatif mudah menular kepada anggota keluarga lain. Perawat yang menangani pasien ini harus ekstra hati-hati mencuci tangannya, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi agar jangan menularkan kuman ini kepada pasien lain.Gejala klinis infeksi ini berupa demam (biasanya > 5 hari, terutama malam hari, makin tinggi; rambut pasien tertentu bisa rontok), menggigil, nyeri/ kembung abdomen, lidah kotor dengan tepian merah, sering konstipasi selama beberapa hari. 6

a.Tifoid PerforasiKomplikasi infeksi dapat terjadi perforasi atau pendarahan. Kuman Salmonella typhi terutama menyerang jaringan tertentu, yaitu jaringan atau organ limfoid, seperti limpa yang membesar. Juga jaringan limfoid di usus kecil, yaitu plak Peyeri, terserang dan membesar. Membesarnya plak Peyeri ini tidak berarti ia tambah kuat; sebaliknya, jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak oleh gesekan makanan yang melaluinya. Inilah sebabnya mengapa kepada pasien tifus harus diberikan makanan lunak, yaitu agar konsistensi bubur yang melalui liang usus, tidak sampai merusak permukaan plak Peyeri ini. Bila tetap juga rusak, maka dinding usus setempat, yang memang sudah tipis, makin menipis, sehingga pembuluh darah setempat ikut rusak dan timbul pendarahan, yang kadang-kadang cukup hebat. Bila ini berlangsung terus, ada kemungkinan dinding usus itu tidak tahan dan pecah (perforasi), diikuti peritonitis yang dapat berakhir fatal. 6

Pembahasan1.SkenarioSeorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke UGD RS dengan keluhan nyeri perut hebat pada seluruh perutnya sejak 6 jam yang lalu. Orang tua pasien tersebut mengatakan, sejak 10 hari yang lalu, pasien demam yang naik turun terutama pada malam hari, disertai mual, konstipasi dan anoreksia. Sejak 3 hari yang lalu, keadaan pasien semakin melemah dan biasanya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum lemah, tekanan darah 130/90mmHg, nadi 95X/menit, frekuensi napas 24x/menit, suhu 38,5C. Pada pemeriksaan fisik abdomen, tampak distensi abdomen. 2.Mind Map3.PembahasanDari kasus kita mengetahui bahwa pasien merasa nyeri yang hebat pada seluruh perutnya sejak 6 jam yang lalu. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa pasien mengalami nyeri akut abdomen. Dari data anamnesis diperoleh bahwa sejak 10 hari yang lalu, pasien demam yang naik turun terutama pada malam hari, disertai mual, konstipasi dan anoreksia, dan sejak 3 hari yang lalu keadaan pasien semakin melemah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dari data tersebut kita dapat mengetahui bahwa pasien sudah mengalami suatu penyakit sebelum ia merasakan nyeri yang hebat pada perutnya, dari sini kita dapat menduga bahwa ada keterkaitan antara gejala penyakit yang dialami sebelumnya dan nyeri perut yang baru saja dialaminya.Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil keadaan umum lemah, tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 95x/menit, RR 24x/menit, suhu 38,5C dan pada pemeriksaan fisik abdomen didapatkan distensi abdomen. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan gejala yang dialami pasien diduga pasien mengalami demam tifoid, karena umumnya penyakit ini memiliki gejala yang khas yaitu demam naik turun pada malam hari dan konstipasi, untuk meyakinkan hal ini tentu peru diadakan adanya pemeriksaan penunjang. Selain itu, nyeri perut yang dialaminya mungkin saja disebabkan karena adanya peritonitis et causa perforasi tifoid. Hal ini dapat terjadi apabila demam tifoid yang dialami pasien sebelumnya tidak mendapat penanganan yang tepat dan adekuat sehingga dapat menimbulkan perforasi tifoid akibat pecahnya dinding usus karena infeksi berulang di plak peyeri oleh kuman salmonella typhi yang menyebabkan melemahnya dinding usus sehingga menjadi mudah pecah.Penanganan utama pada pasien ini adalah pemberian antibiotik yang tepat untuk eradikasi kuman, pemberian cairan serta transfusi darah apabila telah terjadi pendarahan intestinal. Pemilihan antibiotik sebaiknya yang berspektrum luas agar tidak hanya mengatasi bakteri salmonella typhi tetapi juga mengatasi kemungkinan adanya bakteri-bakteri lain yang memperberat infeksi, Umumnya dapat diberikan kombinasi kloramfenikol dan ampisilin secara intravena. Untuk kontaminasi usus dapat diberikan gentamisin dan metronidazol. Kecukupan cairan dan darah juga harus diperhatikan.

PenutupI.KesimpulanKesimpulan dari makalah ini adalah laki-laki berusia 20 tahun tersebut diduga mengalami peritonitis et causa tifoid perforasi.

Daftar Pustaka1.Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3 Ed 5. Jakarta: Interna Publishing,2009.h. 444-5.2.Isselbacher,Braunwald,Wilson,Martin,Fauci,Kasper. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Vol 1. Jakarta: EGC 2002.h. 76-7.3.Janis LW, Henry s, Paula SA. Diagnosis fisik: evaluasi diagnosis dan fungsi di bangsal. Jakarta: EGC, 2003.h. 146.4.Schlossberg. Clinical infectious disease. Cambridge University.h. 397-400.5.Schwartz MW. Pedoman klinis pediatri. Jakarta : EGC, 2004.h. 146.6.Tambayong J. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC, 2000.h. 143-4.BLOK 16Page 15