bab ii tinjauan pustaka 2.1 konsep apendisitis 2.1.1 ... ii.pdf · berkembang menjadi peritonitis...

of 37 /37
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Apendisitis 2.1.1 Pengertian Apendisitis Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis atau peradangan infeksi pada usus buntu (apendiks) yang terletak di perut kuadran kanan bawah (Smeltzer, 2002). Apendisitis dapat terjadi pada setiap usia. Namun, apendisitis paling sering terjadi pada remaja dan dewasa awal, angka mortalitas penyakit ini tinggi sebelum era antibiotik (Sylvia & Loraine, 2005). Menurut Mansjoer, Arif, dkk, (2001), penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering laki-laki yang berusia antara 10-30 tahun. 2.1.3 Patofisiologi Secara patogenesis faktor penting terjadinya apendisitis adalah adanya obstruksi lumen apendiks yang biasanya disebabkan oleh fekalit. Obstruksi lumen apendiks merupakan faktor penyebab dominan pada apendisitis akut. Peradangan pada apendiks berawal di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam. Obstruksi pada bagian yang lebih proksimal dari lumen menyebabkan stasis bagian distal apendiks, sehingga mukus yang terbentuk secara terus menerus akan terakumulasi. Selanjutnya akan menyebabkan tekanan intraluminal meningkat, kondisi ini akan memacu proses translokasi kuman dan terjadi peningkatan jumlah kuman didalam lumen

Author: dinhanh

Post on 31-Jan-2018

222 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Konsep Apendisitis

    2.1.1 Pengertian Apendisitis

    Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis atau

    peradangan infeksi pada usus buntu (apendiks) yang terletak di perut kuadran

    kanan bawah (Smeltzer, 2002). Apendisitis dapat terjadi pada setiap usia. Namun,

    apendisitis paling sering terjadi pada remaja dan dewasa awal, angka mortalitas

    penyakit ini tinggi sebelum era antibiotik (Sylvia & Loraine, 2005). Menurut

    Mansjoer, Arif, dkk, (2001), penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki

    maupun perempuan, tetapi lebih sering laki-laki yang berusia antara 10-30 tahun.

    2.1.3 Patofisiologi

    Secara patogenesis faktor penting terjadinya apendisitis adalah adanya

    obstruksi lumen apendiks yang biasanya disebabkan oleh fekalit. Obstruksi lumen

    apendiks merupakan faktor penyebab dominan pada apendisitis akut. Peradangan

    pada apendiks berawal di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan

    dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam. Obstruksi pada bagian yang lebih

    proksimal dari lumen menyebabkan stasis bagian distal apendiks, sehingga mukus

    yang terbentuk secara terus menerus akan terakumulasi. Selanjutnya akan

    menyebabkan tekanan intraluminal meningkat, kondisi ini akan memacu proses

    translokasi kuman dan terjadi peningkatan jumlah kuman didalam lumen

  • 9

    apendiks. Selanjutnya terjadi gangguan sirkulasi limfe yang menyebabkan edema.

    Kondisi ini memudahkan invasi bakteri dari dalam lumen menembus mukosa dan

    menyebabkan ulserasi mukosa apendiks maka terjadi keadaan yang disebut

    apendiks fokal. (Pieter, 2005; Jaffe & Berger, 2005)

    Obstruksi yang terus menerus menyebabkan tekanan intraluminer semakin

    tinggi dan menyebabkan terjadinya gangguan sirkulasi vaskuler. Keadaan ini akan

    menyebabkan edema bertambah berat, terjadi iskemia, dan invasi bakteri semakin

    berat sehingga terjadi penumpukan nanah pada dinding apendiks atau disebut

    dengan apendisitis akut supuratif. Pada keadaan yang lebih lanjut, dimana tekanan

    intraluminer semakin tinggi, edema menjadi lebih hebat, terjadi gangguan

    sirkulasi arterial. Hal ini menyebabkan terjadi gangren. Gangren biasanya di

    tengah-tengah apendiks dan berbentuk ellipsoid, keadaan ini disebut apendisitis

    gangrenosa. Bila tekanan terus meningkat, maka akan terjadi perforasi yang

    mengakibatkan cairan rongga apendiks akan tercurah ke rongga peritoneum dan

    terjadilah peritonitis lokal (Bedah UGM)

    2.1.4 Manifestasi Klinis

    Nyeri kuadran bawah terasa dan disertai oleh demam ringan, mual, muntah

    dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc Burney bila dilakukan

    tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan

    dilepaskan) mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah

    terdapat atau tidaknya konstipasi dan diare tidak tergantung dari beratnya infeksi

    dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri

  • 10

    tekan dapat terasa di daerah lumbar bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini

    dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan

    ujung apendiks berada dekat dengan rektum. Sedangkan nyeri pada saat berkemih

    menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter.

    Adanya kekakuan pada bagian bawah otot rektus dapat terjadi.

    Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi daerah kuadran

    bawah kiri , yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran

    kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar;

    distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik, dan kondisi pasien memburuk.

    Pada pasien lansia tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-

    tanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukan obstruksi usus atau penyakit

    infeksi lainnya. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami

    ruptur apendiks. Insiden perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia karena

    banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan kesehatan tidak secepat

    pasien-pasien yang lebih muda (Brunner & Suddarth, 2002)

    2.1.5 Evaluasi Diagnostik

    Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik lengkap dan tes laboratorium

    dan sinar x. Hitung darah lengkap akan dilakukan dan akan menunjukkan

    peningkatan jumlah darah putih. Jumlah leukosit mungkin lebih besar dari

    10.000/mm3 dan pemeriksaan ultrasound dapat menunjukkan densitas kuadran

    kanan bawah atau kadar aliran udara terlokalisasi.

  • 11

    2.1.5 Penatalaksanaan

    Menurut Brunner & Suddarth (2002) pembedahan diindikasikan bila

    diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai

    pembedahan dilakukan. Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.

    Appendectomy (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera

    mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Appendectomy dapat dilakukan

    dibawah anastesi umum maupun spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan

    laparoskopi, yang memberikan metode baru yang sangat efektif.

    2.1.6 Komplikasi Apendisitis

    Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat

    berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah sampai 10%

    sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara

    umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu

    37,70C atau lebih tinggi, penampilan toksik dan nyeri atau nyeri tekan abdomen

    yang kontinyu (Brunner & Suddarth, 2002)

    2.2 Konsep Perioperatif

    Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk

    menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan

    pengalaman pembedahan pasien. Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan

    yang mencangkup tiga fase pengalaman pembedahan yaitu pre operasi, intra

    operasi, dan pasca operasi ( Keperawatan medikal-bedah, 2001)

  • 12

    2.2.1 Fase Pre Operasi

    a. Pengertian

    Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh. Fase

    pre operasi adalah fase dimulai ketika keputusan untuk menjalani operasi atau

    pembedahan dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi

    (Smeltzer and Bare, 2002 ).

    b. Tipe Pembedahan

    Menurut fungsinya (tujuannya), Potter & Perry ( 2005 ) membagi menjadi:

    1) Diagnostik : biopsi

    2) Kuratif (ablatif) : tumor, appendectomy

    3) Reparatif : memperbaiki luka multiple

    4) Rekonstruktif : mamoplasti, perbaikan wajah.

    5) Paliatif : menghilangkan nyeri,

    6) Transplantasi : penanaman organ tubuh untuk menggantikan organ atau

    struktur tubuh yang malfungsi (cangkok ginjal, kornea).

  • 13

    c. Persiapan Pasien Sebelum Menjalani Tindakan Pembedahan

    a) Persiapan Fisik

    Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum

    operasi menurut Majid ( 2011 ), antara lain :

    1) Status kesehatan fisik secara umum

    Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status

    kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti

    kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap,

    antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi

    ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain.

    2) Status Nutrisi

    Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat

    badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan

    globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus

    dikoreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk

    perbaikan jaringan.

    3) Keseimbangan cairan dan elektrolit

    Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan

    output cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang

    normal. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal.

    Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit

    obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan

    baik.

  • 14

    4) Kebersihan lambung dan kolon

    Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Intervensi

    keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan. Lamanya

    puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam, yang bertujuan untuk menghindari aspirasi

    dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan

    terjadinya infeksi pasca pembedahan. Pada pasien yang membutuhkan operasi

    segera, maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan

    NGT (naso gastric tube).

    5) Pencukuran daerah operasi

    Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya

    infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan. Tindakan harus dilakukan

    dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka. Daerah yang dilakukan

    pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi.

    6) Personal Hygine

    Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena

    tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan

    infeksi pada daerah yang dioperasi.

    7) Pengosongan kandung kemih

    Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan

    kateter. Selain untuk pengsongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperlukan

    untuk mengobservasi balance cairan.

  • 15

    b) Persiapan Mental/Psikis

    Menurut Long B.C (2001), operasi merupakan ancaman yang potensial

    maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi

    fisiologis maupun psikologis. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan

    pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain :

    1) Takut nyeri setelah pembedahan

    2) Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi

    normal.

    3) Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti).

    4) Takut mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai

    penyakit yang sama.

    5) Takut menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.

    6) Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.

    7) Takut operasi gagal.

    Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan pasien adalah:

    1) Pengalaman operasi sebelumnya.

    2) Pengertian pasien tentang tujuan operasi.

    3) Pengetahuan pasien tentang persiapan operasi baik fisik maupun

    penunjang.

    4) Pengetahuan pasien tentang situasi kamar operasi dan petugas kamar

    operasi.

    5) Pengetahuan pasien tentang prosedur (pre, intra, dan pasca operasi)

  • 16

    6) Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi

    dan harus dijalankan setelah operasi seperti latihan nafas dalam, batuk

    efektif, range of motion(ROM) dan lain-lain.

    d. Informed consent

    Izin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien diperlukan

    sebelum suatu pembedahan dilakukan. Izin tertulis seperti ini melindungi pasien

    terhadap pembedahan yang lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari

    suatu lembaga hukum. Tanggung jawab perawat adalah memastikan bahwa

    informed consent telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter.

    Sebelum menandatangani formulir consent, ahli bedah harus memberi

    penjelasan yang jelas dan sederhana tentang apa yang diperlukan dalam

    pembedahan. Ahli bedah juga harus menginformasikan tentang alternatif-

    alternatif yang ada, kemungkinan risiko, komplikasi, perubahan bentuk tubuh,

    kecacatan, ketidakmampuan, dan pengangkatan bagian tubuh, juga tentang apa

    yang diperkirakan terjadi pada periode pasca operasi awal dan lanjut.

    Persetujuan tindakan medik diperlukan ketika :

    1) Prosedur tindakan adalah invasif, seperti insisi, bedah, biopsi, sistoskopi,

    atau parasentesis.

    2) Menggunakan anastesi.

    3) Prosedur non bedah yang dilakukan dimana risikonya pada pasien lebih

    dari sekadar risiko ringan, seperti arteriogram.

  • 17

    4) Prosedur yang dilakukan yang mencakup terapi radiasi atau kobalt. (Majid,

    2011)

    e. Pendidikan Pasien Pra Operasi (Preoperative Teaching)

    Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha

    untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau

    individu sehingga sasaran memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih

    baik yang akan berpengaruh pada prilakunya (Notoatmodjo, 2007). Mubarak dan

    Chayatin (2009) dalam Wartini (2011) menyatakan pendidikan kesehatan dapat

    mendorong prilaku yang menunjang kesehatan, mencegah penyakit, mengobati

    penyakit dan membantu pemulihan. Melalui pendidikan kesehatan akan terjadi

    proses belajar untuk mengembangkan pengertian dan sikap yang benar dan positif

    dari individu atau kelompok terhadap kesehatan agar yang bersangkutan

    menerapkan cara hidup sehat sebagai bagian dari cara hidupnya sehari-hari atas

    kemauannya sendiri

    Secara teori perubahan perilaku dalam kehidupan melalui tiga tahap :

    1) Pengetahuan (Knowledge)

    Pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan

    pengindraan terhadap suatu objek tertentu melalui panca indra manusia

    yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

    2) Sikap (Attitude)

    Sikap merupakan suatu respon yang masih tertutup dari seseorang

    terhadap suatu stimulus atau obyek. Dengan kata lain bahwa sikap itu

  • 18

    merupakan penilaian (bias berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus

    atau obyek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan

    tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.

    3) Praktik atau tindakan (Practice)

    Setelah seseorang mengetahui stimulus atau obyek kesehatan, kemudian

    mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, dan

    sebagai proses selanjutnya diharapkan melaksanakan atau mempraktekkan

    apa yang diketahui.

    Lebih lanjut Notoatmodjo (2007) dalam Wartini (2011) menguraikan

    bahwa terdapat beberapa teori lain mencoba mengungkap faktor penentu prilaku,

    khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antara lain teori

    Snehandu B. Kar (1983) dan WHO (1984)

    a. Teori Snehandu B. Kar

    Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa

    perilaku itu merupakan fungsi dari :

    1) Niat untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan

    kesehatannya (behavior intention)

    2) Dukungan sosial dari sekitarnya (social support)

    3) Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas

    kesehatan (accessibility of information).

    4) Otonomi pribadi yang bersangkutan dengan pengambilan keputusan

    (personal autonomy)

  • 19

    5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak

    (action situation)

    b. Teori WHO

    WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berprilaku

    tertentu karena adanya empat alasan pokok yaitu :

    1) Pemikiran dan perasaan seseorang (thoughts and feeling)

    2) Orang yang menjadi referensi (personal reference)

    3) Sumber-sumber daya (resource)

    4) Kebudayaan (culture)

    a) Pengertian Preoperative Teaching

    Preoperative teaching atau pendidikan pre operasi didefinisikan sebagai

    tindakan suportif yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam

    meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. Tuntutan

    klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan,

    tambahan pengetahuan, keterampilan,dan perubahan perilaku (Smith et al ;

    Carpenito, 1995 dalam Ayu Ningsih, 2011).

    Penyuluhan atau pendidikan kesehatan pada pasien yang akan dilakukan

    tindakan pembedahan diberikan dengan tujuan meningkatkan kemampuan

    adaptasi pasien dalam menjalani rangkaian prosedur pembedahan sehingga klien

    diharapkan lebih kooperatif dalam perawatan pasca operasi, dan mengurangi

    resiko komplikasi pasca operasi (Ignativicius, 1996 dalam Ayu Ningsih, 2011).

  • 20

    b) Tujuan

    Menurut Effendy (1998) dalam Gustina (2010) tujuan penyuluhan

    kesehatan adalah mengubah prilaku perorangan dan masyarakat dalam bidang

    kesehatan sehingga masyarakat dapat menanamkan prinsip-prinsip hidup sehat

    dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

    Preoperative teaching atau penyuluhan pre operasi bertujuan untuk

    memberikan informasi dan menambah pengetahuan klien tentang mobilisasi dini

    sehingga pasien mampu mengaplikasikan latihan-latihan yang diajarkan pada saat

    pasca operasi. Hal ini berarti diharapkan terjadi perubahan pada prilaku atau

    pelaksanaan mobilisasi dini pasien.

    Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

    seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Mubarak dkk (2007)

    menyatakan beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan individu yaitu

    umur, minat, lingkungan, social budaya, pendidikan, informasi, dan pengalaman

    Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2002) membagi prilaku manusia

    dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor Menurut Notoadmodjo

    (2007), tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif mencakup enam

    tingkatan, yaitu :

    1) Tahu (know)

    Merupakan tingkatan pengetahuan paling rendah. Tahu artinya dapat

    mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa

    seseorang itu tahu, adalah ia dapat menyebutkan, mneguraikan

    mendefinisikan dan menyatakan.

  • 21

    2) Memahami (Comprehension)

    Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak

    hanya sekedar menyebutkan tetapi orang tersebut harus dapat

    menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

    3) Aplikasi (Application)

    Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang

    dimaksud dapat menggunakan dan mengaplikasikan prinsip tersebut.

    4) Analisis (Analysis)

    Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau

    memisahkan, kemudian mencari komponen yang terdapat dalam suatu

    masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang

    itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah

    dapat membedakan atau memisahkan, mengelompokkan, membuat

    diagram terhadap pengetahuan objek tersebut.

    5) Sintesis (Syntesis)

    Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi sebelumnya.

    6) Evaluasi (Evaluation)

    Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

    justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.

  • 22

    c) Manfaat Preoperative teaching

    Menurut Potter Perry (2005) preoperative teaching atau penyuluhan pre

    operasi yang terstruktur mempunyai pengaruh yang positif bagi pemulihan klien.

    Pada penyuluhan ini diajarkan mengenai mobilisasi dini klien pasca operasi. Hal

    ini bertujuan untuk mempersiapkan pasien sehingga siap untuk meningkatkan

    proses kesehatannya sebelum, selama dan khusunya sesudah pembedahan.

    Penyuluhan pre operasi yang terstruktur dapat mempengaruhi beberapa faktor

    pasca operasi seperti :

    1) Fungsi pernafasan. Penyuluhan meningkatkan kemampuan klien untuk

    batuk dan nafas dalam secara efektif.

    2) Kapasitas fungsi fisik. Penyuluhan meningkatkan kemampuan klien

    melakukan ambulasi dan melaksanakan aktivitas sehari-hari secara lebih

    awal.

    3) Perasaan sehat. Klien yang telah dipersiapkan untuk mengalami

    pembedahan memiliki kecemasan yang rendah dan menyatakan rasa sehat

    secara psikologis yang lebih besar.

    4) Lama rawat inap di rumah sakit. Penyuluhan pre operasi secara terstruktur

    dapat mempersingkat waktu rawat inap klien di rumah sakit.

    5) Ansietas tentang nyeri dan jumlah obat-obatan anti nyeri yang diperlukan

    untuk kenyamanan. Klien yang telah diberikan penyuluhan tentang nyeri

    dan cara untuk menghilangkannya memiliki kecemasan tentang nyeri yang

    lebih rendah

  • 23

    Diskusi yang terperinci dan demonstrasi latihan merupakan hal yang vital.

    Apabila klien memahami alasan pentingnya latihan untuk memulihkan kondisi

    pada pasca operasi dan klien melakukannya dengan benar, maka komplikasi pada

    tahap pemulihan akan berkurang.

    d) Waktu Pemberian Preoperative Teaching

    Sebuah penelitian menemukan bahwa klien lebih suka menerima informasi

    perioperatif pada waktu antara kedatangan pasien ke rumah sakit sampai sebelum

    klien menjalani pembedahan, walaupun rentang waktunya hanya beberapa jam

    (Schoessler (1989) dalam Potter and Perry, 2006). Jika perawat memberi

    penyuluhan pada klien sejak satu atau dua hari sebelum pembedahan, klien

    mungkin akan mempelajarinya dengan lebih baik. Rasa cemas dan takut adalah

    hambatan dalam belajar, dan kedua emosi ini akan meningkat jika waktu

    pembedahan semakin dekat (Potter & Perry, 2006).

    Anggota keluarga dianjurkan ikut terlibat dalam persiapan perioperatif.

    Seringkali anggota keluarga menjadi pelatih klien dalam melakukan latihan pasca

    operasi saat klien selesai menjalani pembedahan. Keluarga klien yang cemas

    karena tidak memahami proses rutin yang terjadi pada masa pasca operasi,

    tampaknya akan meningkatkan rasa takut atau khawatir klien. Persiapan

    perioperatif bagi anggota keluarga sebelum pembedahan akan meminimalkan

    kecemasan dan kesalahpahaman keluarga. Apabila klien mampu untuk menerima

    pelajaran, perawat memberi informasi dengan cara yang logis, dimulai dari proses

    pre operasi, intra operasi sampai pasca operasi. Penyuluhan pre operasi yang

  • 24

    menyeluruh tidak hanya meningkatkan pemahaman klien tetapi juga mempercepat

    kembalinya fungsi fisiologis yang normal (Potter & Perry, 2006).

    e) Komponen Preoperative Teaching

    Setiap program penyuluhan preoperatif terdiri dari penjelasan dan

    demonstrasi latihan-latihan pasca operasi. Latihan-latihan ini akan sangat

    berpengaruh pada pengetahuan dan kemampuan pasien untuk melaksanakan

    mobilisasi dini pasca operasi. Klien juga perlu untuk mengetahui tentang

    mobilisasi dini baik pengertian, manfaat, waktu untuk memulai serta latihan

    mobilisasi yang harus mereka lakukan. Latihan tersebut sebaiknya diberikan

    sebelum pasien menjalani pembedahan, sehingga pasien tahu dan mampu untuk

    melaksanakan mobilisasi pasca operasi secara maksimal. Apabila pasien

    memahami alasan pentingnya penyuluhan ini, maka komplikasi pada tahap

    pemulihan akan berkurang. Latihan yang diberikan pada pasien pre operatif antara

    lain latihan nafas dalam, latihan batuk efektif dan latihan tungkai (Potter and

    Perry, 2006).

    f) Metode dan Media Pendidikan Kesehatan

    Metode merupakan cara untuk melaksanakan pendidikan kesehatan kepada

    sasaran, sedangkan teknik adalah segala upaya tertentu agar cara yang

    dilaksanakan dapat terwujud secara baik dan sempurna. Dalam Achjar (2010),

    dikatakan perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh peran perawat dalam

    menyampaikan pesan tersebut sampai pada pasien dengan memperhatikan

  • 25

    berbagai aspek, diantaranya kesesuaian metode dan alat peraga/ alat bantu yang

    digunakan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemilihan metode pendidikan kesehatan

    disesuaikan dengan tujuan pendidikan, kemampuan sasaran, tingkat pendidikan

    sasaran, serta waktu penyampaian pendidikan kesehatan. Berkaitan dengan tujuan

    pendidikan kesehatan yaitu terjadinya perubahan prilaku. Berikut diuraikan

    beberapa metode pendidikan kesehatan untuk merubah masing-masing unsure

    prilaku yang diharapkan seperti :

    1) Perubahan pengetahuan/ knowledge, dapat menggunakna metode ceramah,

    seminar, studi kasus, curah pendapat, panel dan symposium.

    2) Perubahan sikap/attitude, dapat menggunakan metode diskusi kelompok,

    Tanya jawab, roleplay, pemutaran film, siaran terprogram

    3) Perubahan tindakan/practice, dapat menggunakan metode demonstrasi,

    bengkel kerja, latihan mandiri, dan eksperimen.

    Dalam penjelasan sebelumnya dikatakan bahwa faktor yang

    mempengaruhi proses pendidikan kesehatan salah satunya tergantung pada media

    dan alat bantu/peraga yang digunakan. Alat peraga menurut Achjar (2010)

    berfungsi untuk membantu agar pesan yang disampaikan lebih jelas dan pasien

    dapat menerima pesan secara jelas pula dengan memanfaatkan panca indra

    sehingga mempermudah menerima pesan yang disampaikan. Semakin banyak

    indra yang digunakan, semakin banyak dan jelas pula pengertian/pengetahuan

    yang diperoleh.

    Manfaat alat peraga (Depkes, 2006) yaitu; menimbulkan minat sasaran,

    mencapai sasaran lebih banyak, membantu dalam mengatasi hambatan, membantu

  • 26

    sasaran untuk belajar lebih banyak dan cepat, mempermudah penyampaian

    informasi oleh sasaran, merangsang sasaran untuk menginformasikan pesan-pesan

    yang didapat kepada orang lain. Ada berbagai macam jenis alat peraga (Achjar,

    2010) antara lain adalah leaflet, poster, papan tulis, flipchart, buletin, flash card,

    buku cerita bergambar, chart, diorama dan flannel graph. Dalam proses

    pembelajaran media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

    menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian,

    minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan

    belajar (Santyasa, 2007:3). Dalam penyampaian pendidikan kesehatan, leaflet

    merupakan alat peraga sederhana yang sering digunakan. Leaflet/Brosur adalah

    media berbentuk selembar kertas yang diberi gambar dan tulisan (biasanya lebih

    banyak tulisan) pada kedua sisi kertas serta dilipat sehingga berukuran kecil dan

    praktis dibawa. Biasanya ukuran A4 dilipat tiga. Media ini berisikan suatu

    gagasan secara langsung ke pokok persoalannya dan memaparkan cara melakukan

    tindakan secara pendek dan lugas. Media ini yang banyak kita temui biasanya

    bersifat memberikan langkah-langkah untuk melakukan sesuatu (instruksional).

    Media ini sangat efektif untuk menyampaikan pesan yang singkat dan padat

    2.2.2 Fase Intra Operasi

    Keperawatan intra operasi merupakan bagian dari tahap keperawatan

    perioperatif. Aktivitas ini dilakukan oleh perawat di ruang operasi yang berfokus

    pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi atau

    menghilangkan masalah-masalah fisik yang mengganggu pasien (Majid,2011).

  • 27

    a. Prinsip-Prinsip Asepsis

    Antisepsis dan asepsis adalah suatu usaha untuk mencapai keadaan yang

    memungkinkan untuk meminimalkan atau meniadakan kuman-kuman patogen,

    baik secara kimiawi, mekanis maupun fisik.

    Prinsip-prinsip asepsis yang harus diterapkan pada fase intra operasi

    meliputi :

    1) Prinsip asepsis ruangan : mencakup tindakan asepsis alat-alat bedah,

    seluruh sarana kamar operasi, semua implantasi, alat-alat yang dipakai

    personal operasi dan juga cara membersihkan atau melakukan desinfeksi

    dari kulit dan tangan.

    2) Prinsip asepsis personel : meliputi tiga tahap, yaitu scrubbing (teknik cuci

    tangan steril), gowning (teknik memakai gaun operasi), dan gloving

    (teknik memakai sarung tangan steril). Disamping sebagai cara

    pencegahan terhadap infeksi nosokomial, teknik tersebut juga diberikan

    untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap bahaya

    yang didapatkan akibat prosedur tindakan.

    3) Prinsip asepsis pasien : pasien yang akan menjalani pembedahan harus

    diasepsiskan. Prosedur tersebut antara lain adalah kebersihan pasien,

    desinfeksi area operasi dan tindakan drapping.

    4) Prinsip asepsis instrumen : instrumen bedah yang digunakan untuk

    pembedahan pada pasien harus benar-benar berada dalam keadaan steril.

    Tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah perawatan dan

    sterilisasi alat, mempertahankan kesterilan alat pada saat pembedahan

  • 28

    dengan menggunakan teknik tanpa singgung dan menjaga agar tidak

    bersinggungan dengan benda-benda non steril (Majid, 2011)

    b. Peran dan Fungsi Perawat Intra Operasi

    Peran perawat intra operasi adalah selain sebagai kepala advokat pasien

    dalam kamar operasi yang menjamin kelancaran jalannya operasi dan menjamin

    keselamatan pasien selama tindakan pembedahan. Sedangkan fungsinya di dalam

    kamar operasi seringkali dijelaskan dalam hubungan aktivitas-aktivitas sirkulasi

    dan scrub. Aktivitas keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operasi

    meliputi empat hal yaitu :

    1) Safety Management : merupakan suatu bentuk jaminan keamanan bagi

    pasien selama prosedur pembedahan. Tindakan yang dilakukan untuk

    jaminan keamanan diantaranya adalah pengaturan posisi. Hal-hal yang

    dilakukan oleh perawat terkait dengan pengaturan posisi pasien meliputi

    kesejajaran fungsional, pemajanan area pembedahan, mempertahankan

    posisi sepanjang prosedur operasi, memasang alat grounding ke pasien,

    memberikan dukungan fisik dan psikologis serta memastikan bahwa

    semua peralatan yang dibutuhkan telah siap.

    2) Monitoring fisiologis : pemantauan fisiologis yang dilakukan oleh perawat

    melliputi memantau keseimbangan cairan, memantau kondisi

    kardiopulmonal dan memantau perubahan tanda-tanda vital.

    3) Monitoring dan dukungan psikologis.

  • 29

    4) Pengaturan dan koordinasi nursing care: tindakan yang dilakukan meliputi

    mengelola keamanan fisik, mempertahankan prinsip dan teknik aseptik

    (Majid, 2011)

    2.2.3 Fase Pasca Operasi

    Keperawatan pasca operasi adalah periode akhir dari keperawatan

    perioperatif. Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada upaya untuk

    menstabilkan kondisi pasien pada keadaan keseimbangan fisiologis pasien,

    menghilangkan nyeri dan pencegahan komplikasi. Upaya yangdapat dilakukan

    pada fase pasca operasi disarankan untuk mengantisipasi dan mencegah masalah

    yang kemungkinan muncul pada tahap ini. Pengkajian dan intervensi yang cepat

    dan akurat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang dapat

    memperpanjang lama perawatan di rumah sakit atau membahayakan diri pasien

    (Majid,2011)

    a. Tahapan Keperawatan Pasca Operasi

    Perawatan pasien pasca operasi meliputi beberapa tahapan, diantaranya

    pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca operasi.

    Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit

    perawatan pasca operasi memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus.

    Pertimbangan itu diantaranya adalah letak insisi bedah, perubahan vaskuler dan

    pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali pasien

    pasca bedah dipindahkan.

  • 30

    Selanjutnya pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Ketika pasien

    sudah mencapai ruang perawatan, maka hal yang harus dilakukan yaitu:

    1) Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainase,

    tube/selang, dan komplikasi

    2) Manajemen luka. Pastikan luka tidak mengalami perdarahan yang

    abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

    Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan

    meminimalkan komplikasi dan biaya perawatan.

    3) Mobilisasi dini berupa nafas dalam, batuk efektif dan ROM yang penting

    untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskular dan mengeluarkan

    sekret serta lendir. Hampir semua pasien pasca bedah dianjurkan untuk

    melakukan mobilsasi dini. Mobilisasi dini dapat mempertahankan fungsi

    tubuh, memperlancar peredaran darah, membantu pernapasan menjadi

    lebih baik, mempertahankan tonus otot, memperlancar eliminasi BAB dan

    BAK, mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali

    normal dan memenuhi kebutuhan gerak harian. Fase pre operasi

    memegang peranan penting dalam memaksimalkan pelaksaanaan

    mobilisasi dini pasca operasi. Latihan-latihan tentang mobilisasi dini perlu

    diajarkan sebelum pasien menjalani proses pembedahan sehingga pasien

    tahu dan paham apa yang harus mereka lakukan pasca operasi.

    4) Penanganan nyeri. Pengontrolan nyeri dilakukan dengan menggunakan

    analgetik intravena atau intratrakea utamanya untuk pembedahan abdomen

    terbuka.

  • 31

    5) Posisi tempat tidur. Biasanya pasien ditempatkan pada posisi miring untuk

    mengurangi inhalasi muntah atau mukus.

    6) Penggantian cairan. Pemberian cairan baik secara intravena maupun secara

    oral sangat dibutuhkan. Penentuannya diambil berdasarkan faktor-faktor

    jumlah seperti kehilangan cairan intra operasi, output urine, waktu

    pembedahan dan jumlah cairan yang diterima pada waktu pemulihan.

    7) Nutrisi. Tujuan pemberian nutrisi adalah untuk meningkatkan fungsi imun

    dan mempercepat penyembuhan luka sehingga akan meminimalisir

    ketidakseimbangan metabolik.

    b. Komplikasi Pasca Operasi

    Menurut Majid (2011), komplikasi pasca operasi yaitu : syok, perdarahan,

    trombosis vena prufunda, retensi urine, infeksi luka operasi, sepsis, embolisme

    pulmonal dan komplikasi gastrointestinal. Apabila pasien pasca operasi tidak

    melaksanakan mobilisasi dini komplikasi yang didapat antara lain pemanjangan

    waktu pemulihan peristaltik usus, pemanjangan waktu penyembuhan luka yang

    akan berpengaruh pada pemanjangan lama rawat inap pasien di rumah sakit dan

    tentunya akan berdampak pada bertambahnya biaya yang dikeluarkan pasien.

  • 32

    2.3 Konsep Mobilisasi Dini

    2.3.1 Pengertian Mobilisasi Dini

    Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di

    tempat tidur dengan melatih bagian-bagian tubuh untuk peregangan atau belajar

    berjalan (Soelaiman, 2000). Mobilisasi dini merupakan tahapan kegiatan yang

    dilakukan segera pada pasien pasca operasi dimulai dari bangun duduk sampai

    pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai

    dengan kondisi pasien (Craven, 2000).

    Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan

    menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, mendorong untuk

    menggerakkan kaki tungkai bawah sesegera mungkin biasanya dalam waktu 6 jam

    setelah pasien sadar dari pengaruh anastesi secara penuh / compos mentis

    (Gallagher, 2004).

    2.3.2 Prinsip dan Manfaat Mobilisasi

    Menurut Dombovy ML dikutip oleh Rismalia (2010), mengemukakan

    bahwa beberapa prinsip dalam melakukan mobilisasi yaitu mencegah dan

    mengurangi komplikasi sekunder seminimal mungkin, menggantikan hilangnya

    fungsi motorik, memberikan rangsangan lingkungan, memberi dorongan

    bersosialisasi, memberi kesempatan untuk dapat berfungsi dan melakukan

    aktivitas sehari-hari serta memungkinkan melakukan pekerjaan seperti

    sebelumnya.

  • 33

    Menurut Kozier, et.al. (2004) dalam buku Fundamentals of Nursing,

    keuntungan yang dapat diperoleh dari mobilisasi bagi sistem tubuh adalah sebagai

    berikut :

    a. Sistem Muskuloskeletal

    Ukuran, bentuk, tonus, dan kekuatan rangka dan otot jantung dapat

    dipertahankan dengan melakukan latihan yang ringan dan dapat ditingkatkan

    dengan melakukan latihan yang berat. Dengan melakukan latihan, tonus otot dan

    kemampuan kontraksi otot meningkat. Dengan melakukan latihan atau mobilisasi

    dapat meningkatkan fleksibilitas tonus otot dan range of motion.

    b. Sistem Kardiovaskular

    Dengan melakukan latihan atau mobilisasi yang adekuat dapat

    meningkatkan denyut jantung (heart rate), menguatkan kontraksi otot jantung,

    dan menyuplai darah ke jantung dan otot. Jumlah darah yang dipompa oleh

    jantung (cardiac output) meningkat karena aliran balik dari aliran darah. Jumlah

    darah yang dipompa oleh jantung (cardiac output) normal adalah 5 liter/menit,

    dengan mobilisasi dapat meningkatkan cardiac output sampai 30 liter/ menit.

    c. Sistem Respirasi

    Jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan oleh paru (ventilasi)

    meningkat. Ventilasi normal sekitar 5-6 liter/menit. Pada mobilisasi yang berat,

    kebutuhan oksigen meningkat hingga mencapai 20x dari kebutuhan normal.

    Aktivitas yang adekuat juga dapat mencegah penumpukan sekret pada bronkus

    dan bronkiolus, menurunkan usaha pernapasan.

  • 34

    d. Sistem Gastrointestinal

    Dengan beraktivitas dapat memperbaiki nafsu makan dan meningkatkan

    tonus saluran pencernaan, memperbaiki pencernaan dan eliminasi seperti

    kembalinya mempercepat pemulihan peristaltik usus dan mencegah terjadinya

    konstipasi serta menghilangkan distensi abdomen.

    e. Sistem Metabolik

    Dengan latihan dapat meningkatkan kecepatan metabolisme, dengan

    demikian peningkatan produksi dari panas tubuh dan hasil pembuangan. Selama

    melakukan aktivitas berat, kecepatan metabolisme dapat meningkat sampai 20

    kali dari kecepatan normal. Berbaring di tempat tidur dan makan diit dapat

    mengeluarkan 1.850 kalori per hari. Dengan beraktivitas juga dapat meningkatkan

    penggunaan trigliserid dan asam lemak, sehingga dapat mengurangi tingkat

    trigliserid serum dan kolesterol dalam tubuh.

    f. Sistem Urinary

    Karena aktivitas yang adekuat dapat menaikkan aliran darah, tubuh dapat

    memisahkan sampah dengan lebih efektif, dengan demikian dapat mencegah

    terjadinya statis urin. Kejadian retensi urin juga dapat dicegah dengan melakukan

    aktivitas.

    2.3.3 Tahap-Tahap Mobilisasi pada Pasien Pasca Operasi

    Mobilisasi pasca operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca

    pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan pernapasan,

    latihan batuk efektif, dan menggerakkan tungkai) sampai dengan pasien bisa turun

  • 35

    dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan keluar kamar (Smeltzer,

    2001).

    Tahap-tahap mobilisasi pada pasien pasca operasi meliputi (Cetrione, 2009

    dalam Rismalia 2010) :

    a. Pada saat awal (6 sampai 8 jam setelah operasi), pergerakan fisik bisa

    dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tungkai yang bisa

    ditekuk dan diluruskan, mengkontraksikan otot-otot termasuk juga

    menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau ke kanan.

    b. Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi badan

    sudah bisa diposisikan duduk, baik bersandar maupun tidak dan fase

    selanjutnya duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang dijatuhkan atau

    ditempatkan di lantai sambil digerak-gerakkan.

    c. Pada hari kedua pasca operasi, rata-rata untuk pasien yang dirawat di

    kamar atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan,

    semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar atau

    keluar kamar, misalnya ke toilet atau kamar mandi sendiri. Pasien harus

    diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin, hal ini

    perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien pasca operasi untuk

    mengembalikan fungsi pasien kembali normal.

    Gerakan-gerakan tersebut antara lain:

    1. Latihan Nafas Dalam

    Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk

    mengurangi nyeri pasca operasi dan dapat membantu pasien relaksasi

  • 36

    sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat

    meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan

    ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan

    melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien

    dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan

    kondisi dan kebutuhan pasien (Majid, 2011). Latihan nafas dalam dapat

    dilakukan dengan cara sebagai berikut :

    1) Lakukan dalam posisi yang sama seperti posisi anda di tempat tidur nanti

    setelah pembedahan: posisi semi-fowler, berbaring di tempat tidur dengan

    punggung dan bahu tersangga baik dengan bantal

    2) Dengan tangan dalam posisi genggaman kendur, biarkan tangan berada di

    atas iga paling bawah, jari-jari tengan menghadap dada bagian bawah

    untuk merasakan gerakan

    3) Keluarkan nafas dengan perlahan dan penuh bersamaan dengan gerakan

    iga menurun dan kedalam mengarah pada garis tengah

    4) Kemudian ambil nafas dalam melalui hidung dan mulut anda, biarkan

    abdomen mengembang bersamaan dengan paru-paru terisi oleh udara.

    Tahan nafas ini dalam hitungan kelima.

    5) Hembuskan dan keluarkan semua udara melalui hidung dan mulut anda

    6) Ulangi 15 kali dengan istirahat singkat setelah setiap lima kali.

  • 37

    Gambar 1. Pernafasan Diafragmatik

    2. Latihan Batuk Efektif

    Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama

    klien yang mengalami operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan

    mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranestesi.

    Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada

    tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan

    batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien pasca operasi untuk

    mengeluarkan lendir atau sekret tersebut (Majid, 2011). Pasien dapat

    dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :

    1) Condong sedikit kedepan dari posisi duduk di tempat tidur, jalinkan jari-

    jari tangan, dan letakkan tangan melintang letak insisi untuk bertindak

    sebagai bebat ketika batuk

    2) Dengan mulut agak terbuka, hirup nafas dengan penuh

    3) Hak-kan keluar dengan keras dengan tiga kali nafas pendek

    4) Kemudian dengan mulut tetap terbuka, lakukan nafas dalam dengan cepat

    dan dengan cepat batuk dengan kuat satu atau dua kali. Hal ini membantu

  • 38

    membersihkan sekresi dari dada. Hal ini dapat menyebabkan

    ketidaknyamanan tetapi tidak akan membahayakan insisi.

    Gambar 2. Latihan batuk

    3. Latihan Gerak Sendi

    Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien

    sehingga pasca operasi pasien dapat segera melakukan berbagai

    pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan.

    Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru

    tentang pergerakan pasien pasca operasi. Banyak pasien yang tidak berani

    menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka

    operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru

    jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih

    cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat

    kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir

    pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya

    dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah

    stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan

  • 39

    pada perubahan posisi tubuh dan juga range of motion (ROM). Latihan

    perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif

    namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka

    pasien diminta melakukan secara mandiri.

    Menurut Smeltzer and Bare (2002 ), latihan gerak sendi dilakukan

    secara bertahap meliputi:

    a) Latihan Tungkai

    1. Berbaring dalam posisi semi-fowler dan lakukan latihan sederhana

    berikut ini untuk memperbaiki sirkulasi

    2. Bengkokkan lutut dan naikkan kaki tahan selama beberapa detik,

    kemudian luruskan tungkai dan turunkan ke tempat tidur

    3. Lakukan lima kali untuk tiap tungkai, kemudian ulang pada tungkai

    lainnya.

    4. Kemudian buat lingkaran dengan kaki dengan membengkokkannya ke

    bawah , kedalam mendekat satu sama lain, ke atas, dan kemudian

    keluar

    5. Ulangi gerakan ini lima kali

    Gambar 3. Latihan tungkai

  • 40

    Gambar 4. Latihan kaki

    b) Miring

    1. Miring ke salah satu sisi dengan bagian paling atas tungkai fleksi dan

    disangga di atas bantal.

    2. Raih pagar tempat tidur sebagai alat bantu untuk manuver ke samping.

    3. Lakukan pernafasan diafragmatik dan batuk ketika anda miring.

    c) Turun dari Tempat Tidur

    1. Miring ke salah satu sisi.

    2. Dorong tubuh anda ke atas dengan satu tangan ketika mengayunkan

    tungkai anda turun dari tempat tidur.

    2.3.4 Rentang Gerak dalam Mobilisasi

    Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi ada tiga rentang gerak, yaitu :

    a. Rentang gerak pasif

    Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan

    persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat

    mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.

  • 41

    b. Rentang gerak aktif

    Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara

    menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya pasien berbaring sambil

    menggerakkan kakinya.

    c. Rentang gerak fungsional

    Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan

    aktivitas yang diperlukan.

    2.3.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini

    Menurut Lauro (1985) dalam Rismalia (2010), mobilisasi dini dapat

    dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

    a. Pengetahuan

    Pengetahuan adalah suatu ilmu tentang suatu bidang yang disusun secara

    bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk

    menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu (Kurnia, 2002 yang

    dikutip oleh Purwanto tahun 2007). Pengetahuan individu terhadap sesuatu dan

    yakin akan manfaat menyebabkan seseorang untuk mencoba menerapkan dalam

    bentuk perilaku. Pengetahuan tersebut dapat didapatkan dari informasi, membaca,

    dan melalui pendidikan formal. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh

    terhadap perilaku individu tersebut.

    Pengetahuan mengenai mobilisasi dini pasca operasi bisa didapatkan dari

    informasi atau pendidikan kesehatan yang diberikan oleh seorang perawat kepada

    pasien yang akan menjalani tindakan operasi seperti appendectomy. Pendidikan

  • 42

    kesehatan tersebut dapat diberikan sebelum tindakan operasi dilakukan yaitu pada

    fase pre operasi. Sehingga setelah tindakan operasi selesai dilaksanakan, pasien

    telah mengetahui manfaat dari mobilisasi dan hal itu dapat mempengaruhi pasien

    tersebut untuk melakukan mobilisasi dini tanpa rasa takut.

    b. Emosi

    Menurut Goleman, 2000 yang dikutip oleh Hanum (2006) emosi merujuk

    pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan

    psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Berikut ini adalah

    beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu, yaitu :

    1) Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil

    yang didapat.

    2) Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan

    sebagai puncak dari keadaan ini adalah timbulnya rasa putus asa (frustasi).

    3) Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang

    mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup

    (nervous) dan gagap dalam berbicara.

    4) Terganggu dalam penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri

    hati.

    5) Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecil akan

    mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya maupun

    orang lain.

    Hospitalisasi merupakan stressor bagi seseorang yang dirawat dirumah

    sakit. Perasaan yang dialami pasien pasca operasi appendectomy terhadap luka

  • 43

    operasi yang belum sembuh akan menimbulkan rasa takut untuk melakukan

    mobilisasi, sehingga rasatakut tersebut dapat menjadi penghambat bagi mereka

    untuk melakukan mobilisasi.

    c. Sosial

    Sosial adalah hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat dan

    kebersamaan, kekuatan masyarakat tersebut berada di sekitar individu tersebut

    dalam berinteraksi (Yusuf, 2008). Adanya interaksi antara individu yang satu

    dengan individu yang lain dapat memberikan kekuatan pada individu tersebut.

    (Nurdin, 2006). Interaksi yang dilakukan pasien dengan keluarga dan orang-orang

    di sekitar akan mempengaruhi pasien tersebut untuk melakukan mobilisasi pasca

    operasi, sehingga dengan mobilisasi tersebut akan memotivasi pasien untuk

    sembuh.

    d. Fisik

    Fisik adalah postur tubuh, kesehatan, keutuhan tubuh, keberfungsian organ

    tubuh seseorang (Yusuf, 2008). Pada pasien yang baru saja menjalani operasi

    seperti operasi appendectomy, keadaan fisik pasien tersebut belum kembali pulih

    pada keadaan sebelumnya. Hal tersebut dapat membuat pasien merasa enggan

    untuk melakukan mobilisasi, selain itu rasa nyeri yang dirasakan juga membuat

    pasien merasa lemah dan hanya ingin berbaring di tempat tidur.

    e. Stimulus Lingkungan

    Stimulus lingkungan adalah rangsangan dari luar yang mempengaruhi dan

    menggerakkan individu untuk berbuat (Handoko, 1997 dalam Rismalia, 2010).

    Stimulus lingkungan tersebut dapat berupa dukungan perawat atau keluarga.

  • 44

    Adanya dukungan dan dorongan dari perawat serta keluarga dapat menimbulkan

    motivasi pada pasien yang dirawat untuk melakukan aktivitas, seperti pasien yang

    baru saja menjalani operasi. Aktivitas yang dapat dilakukan yaitu berupa

    mobilisasi sehingga dengan melakukan mobilisasi dapat mempercepat

    penyembuhan pasien.

    f. Sarana atau fasilitas ruang rawat

    Peran serta perawat, peran serta keluarga yang mendukung dan tidak

    mendukung agar pasien berinisiatif dan mau melakukan mobilisasi. Suasana

    lingkungan yang nyaman juga dapat mendukung terhadap aktivitas seseorang

    yang dilakukan.