crs apendisitis

of 22 /22

Click here to load reader

Author: luthfi1008

Post on 13-Aug-2015

41 views

Category:

Documents


2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

CRS Appendisitis Akut

TRANSCRIPT

Keterangan umum Nama Umur Alamat Pekerjaan Status Pendidikan Tanggal masuk RS : Ny. DK : 27 tahun : Jl. Sukahaji, Sukarasa- Bandung. : Ibu Rumah Tangga : Menikah : SLTP : 18 Juli 2007

Tanggal pemeriksaan : 24 Juli 2007 Anamnesis Keluhan utama: Nyeri perut kanan bawah Sejak 2 hari SMRS, penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah yang dirasakan semakin bertambah nyeri. Keluhan tersebut didahului oleh nyeri ulu hati, yang kemudian nyeri berpindah dan menetap di perut kanan bawah. Keluhan nyeri perut kanan bawah disertai mual, muntah, demam ringan. BAB tidak ada kelainan. BAK tidak ada kelainan. Riwayat keluhan serupa sebelumnya tidak ada. Karena keluhannya penderita berobat ke Puskesmas, diberi obat penurun panas dan anti nyeri, kemudian dirujuk ke RSHS. Pemeriksaan fisik Status generalis Kesadaran Keadaan umum Tanda vital : Compos mentis : Tampak sakit sedang :T N R S Kulit Kepala Leher Dada Paru : 130/80 mmHg : 104 x/menit : 24 x/menit : 37,5oC

: Turgor baik : Simetris, konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik, pupil bulat, isokor, 3 mm, RC +/+ : JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar : Bentuk dan gerak simetris : Sonor, VBS kiri = kanan, Rh -/-, wh -/1

Jantung Perut

: BJ murni reguler, S1S2 (+), S3S4 () : Datar lembut, BU (+) N H/L tidak teraba (lain-lain: pada status lokalis)

Ekstremitas Status lokalis :

: Edema -, akral hangat, capilary refill < 2

Inspeksi : Pasien tidur terlentang menghindarkan perubahan posisi, terkadang paha kanan fleksi. a/r abdomen :

a/r Kuadran Bawah Kanan: teraba massa yang relatif lunak, nyeri tekan (+), nyeri lepas (+), defence muskular (). Perkusi : Pekak Pindah (+) Auskultasi : Bising Usus (+) normal Colok Dubur: Sphincter kuat, mukosa licin, ampulla tidak kolaps, NT(+) arah jam 9-11, ST: darah(-), feces (+).

Resume Keluhan utama: Nyeri perut kanan bawah Sejak 2 hari SMRS, penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah yang semakin bertambah, didahului nyeri epigastrium yang berpindah dan menetap di abdomen kuadran bawah kanan. Mual +, muntah +, demam + (ringan). Miksi dan defekasi tidak ada kelainan. Riwayat keluhan serupa sebelumnya -. Karena keluhannya penderita ke Puskesmas, diberi obat antipiretik dan analgetik, kemudian dirujuk ke RSHS. Diagnosis Klinis Suspek Appendisitis Akut DD/ Appendisitis komplikata Usul Pemeriksaan

Laboratorium : Hb, Leukosit, BT, CT, Trombosit, ureum, kreatinin, CEA Urin rutin / sedimen

2

Rontgen: thorax foto Foto polos abdomen USG abdomen Kolon in Loop

Tatalaksana

Tirah Baring posisi Fowler Monitor tanda-tanda peritonitis Ceftriaxon 2x1000mg per 24 jam Ranitidin 3x500mg per 24 jam Asam mefenamat 3 x 500 mg per 24 jam (Rncn) apendektomi Diet rendah serat

Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

3

PEMBAHASAN PENDAHULUAN Apendisitis adalah suatu peradangan dari appendiks vermiformis yang oleh masyarakat awam sering disebut sebagai radang usus buntu dan ini merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai. Meskipun sebagian besar pasien dengan apendisitis akut dapat dengan mudah didiagnosis tetapi tanda dan gejalanya cukup bervariasi sehingga diagnosis secara klinis dapat menjadi sulit untuk ditegakkan, untuk itu dokter harus mempunyai pengetahuan yang baik untuk mengenal apendisitis. Pada tahun 1736, apendektomi pertama kali dilaporkan oleh Amyand, seorang ahli bedah di Westminster dan St. Georges Hospitals yang mengangkat appendiks yang telah mengalami perforasi dari suatu kantong hernia dari anak laki-laki yang berusia 11 tahun. Sampai akhir abad ke 19 peradangan dan perforasi pada appendiks diberi istilah typhlitis dan pertyphlitis, namun pada tahun 1886 oleh Reginald Fitz seorang professor dari Harvard University memperkenalkan istilah apendisitis dan deskripsi yang lebih akurat tentang appendicitis serta terapi pembedahannya. Setelah itu Mc Burney menjabarkan manifestasi klinis dari appendicitis akut dini sebelum mengalami rupture, termasuk titik maksimal dari nyeri tekan abdomen dan suatu insisi dibuat pada dinding abdomen pada kasus appendiks. Appendicitis merupakan penyebab tersering dari nyeri abdomen yang progresif dan menetap pada semua golongan umur. Kegagalan menegakkan diagnosa dan keterlambatan penatalaksanaannya akan menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Obstruksi lumen merupakan factor awal dalam terjadinya appendicitis akut. Obstruksi dapat disebabkan oleh fecolith, plug, benda asing, parasit, tumor atau hyperplasia jaringan limfoid. Akibat obstruksi tersebut akan mengganggu pengeluaran secret mucus sehingga di bagian distal dari obstruksi akan terjadi distensi dan inflamasi yang akan memperparah obstruksi tersebut. Distensi dan inflamasi merangsang serabut saraf nyeri visceral aferen sehingga menimbulkan ketegangan

4

dan nyeri difus pada daerah abdomen atau dibawah epigastrium. Peristaltik juga merangsang distensi yang mendadak, sehingga terjadi nyeri kram yang mendadak tumpang tindih dengan nyeri visceral akibat appendicitis. Distensi terus berlanjut bukan hanya karena sekresi mukosa tetapi juga akibat multiplikasi yang cepat dari bakteri residen pada appendiks. Keadaan tersebut akan mengakibatkan tekanan intra lumen meningkat yang dapat menyebabkan penekanan pembuluh darah dari appendiks sehingga dapat menyebabkan perforasi. Hal tersebut di atas biasanya menyebabkan reflex mual dan muntah serta nyeri visceral yang difus menjadi semakin berat. Proses peradangan kemudian akan melibatkan lapisan serosa dan peritoneum parietal pada daerah tersebut, hal ini ditandai dengan nyeri yang beralih ke daerah kuadran kanan bawah yang bila sudah terjadi perforasi nyeri akan menyebar ke seluruh perut.

INSIDENSI Appendisitis akut merupakan suatu keadaan akut abdomen tersering yang membutuhkan tindakan pembedahan. Dapat terjadi pada semua golongan umur, tetapi yang tersering pada dekade kedua dan ketiga. Jarang terjadi pada usia yang sangat muda, karena konfigurasi dari appendiks pada usia ini sulit mengalami obstruksi. Sex rasio appendiks akut pada sebelum masa pubertas adalah 1 : 1. Pada masa pubertas frekwensi laki-laki meningkat dengan rasio 2 : 1 pada usia 15 25 tahun. Setelah itu rasio kembali berimbang. Insidensi appendicitis yang akan membutuhkan tindakan appendektomi secara signifikan menurun pada usia diatas decade ketiga dan keempat.

MANIFESTASI KLINIS Nyeri abdomen Nyeri abdomen merupakan gejala utama dari appendicitis akut. Secara klasik diawali dengan nyeri yang difus ditengah bagian bawah epigastrium atau daerah 5

umbilicus, cukup berat menetap, kadang-kadang disertai rasa kram yang intermiten. Setelah periode 42 jam, tetapi biasanya antara 4-6 jam, terlokalisir di daerah kuadran kanan bawah. Variasi local anatomis dan appendiks menghasilkan berbagai variasi lokasi fase nyeri somatic. Sebagai contoh, appendiks yang panjang dimana ujung yang mengalami inflamasi berada di kuadran kiri bawah menyebabkan nyeri pada daerah tersebut, letak retrocaecal menyebabkan nyeri pada daerah pinggang atau punggung, appendiks letak pelvic nyerinya pada supra pubik dan appendiks letak retroileal dapat menyebabkan nyeri pada testis, diduga karena iritasi dari arteri spermatikus dan ureter. Anoreksia dan Vomitus Anoreksia hampir selalu menyertai appendicitis. Vomitus terjadi pada kirakira 75% pasien tetapi tidak terus menerus, sebagian besar pasien mengalami vomitus hanya 1-2 kali. Obstipasi atau Diare Sebagian besar pasien mengalami obstipasi sebelum nyeri abdomen dan merasa bahwa defekasi dapat mengurangi nyeri abdomennya. Diare dapat terjadi pada beberapa pasien. Tanda-tanda vital Tanda-tanda vital tidak mengalami perubahan yang banyak pada appendicitis yang simple. Kenaikan temperature jarang melebihi 1C (mild elevated). Kecepatan nadi dapat normal atau sedikit meningkat. Nyeri tekan dan nyeri lepas Secara klasik terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas di kuadran kanan bawah pada appendiks letak anterior yang mengalami inflamasi. Nyeri tekan yang maksimal terletak pada atau dekat titik Mc Burney.

6

Psoas sign Psoas sign mengindikasikan suatu focus iritasi di bawah muskulus psoas. Tes dilakukan dengan cara pasien berbaring terlentang secara perlahan tungkai kanan diekstensikan kearah kiri pasien sehingga menyebabkan peregangan m.psoas. Rasa nyeri akibat maneuver ini menandakan tes positif. Obturator sign Suatu obturator sign yang positif dari nyeri hipogastrik pada peregangan m.obturator internus menandakan iritasi pada daerah tersebut. Tes dilakukan dengan cara pasien berbaring terlentang, tungkai kanan difleksikan dan dilakukan rotasi interna secara pasif. Rovsings sign Dilakukan penekanan pada kuadran kiri bawah menyebabkan refleksi nyeri pada daerah kuadran kanan bawah.

LABORATORIUM Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam menegakkan diagnosis appendicitis akut tetapi temuan laboratorium dapat membantu, sebagian besar pasien mengalami leukositosis berkisar antara 10.000-20.000/mm3. Pada pasien yang leukositnya normal umumnya didapatkan hitung jenis lekosit yang bergeser ke kiri, mengindikasikan suatu inflamasi akut. Bila jumlah lekosit lebih dari 20.000/mm3 atau terdapat pergeseran ke kiri yang ekstrim pada hitung jenis, kemungkinan telah terjadi appendicitis perforasi. Dalam urinalisi dapat terlihat beberapa sel darah merah dan sel darah putih pada appendiks terinflamasi yang letaknya dekat dengan ureter atau kandung kemih. Bila terdapat darah merah dan sel darah putih dalam jumlah yang ekstrim menandakan penyakit primer traktus urinarius.

7

Radiografi Pemeriksaan radiologis tidak diindikasikan pada kasus appendicitis akut yang klasik tetapi dapat berguna jika ada keraguan diagnosis atau untuk diagnosis banding atau memperlihatkan appendicitis yang mengalami komplikasi. Foto polos abdomen memperlihatkan dilatasi caecum fluid level serta kadang-kadang suatu fecolith terkalsifikasi atau benda asing. Barium dapat berguna untuk pasien tertentu khususnya anak-anak. Jika tampak pengisian kontras pada appendiks dan tidak terdapatnya perubahan mukosa appendiks maupun daerah ileocecal, appendicitis akut dapat disingkirkan. Pemeriksaan ultrasonografi kadang-kadang dapat membantu, memperlihatkan pembesaran appendiks atau suatu abses. Begitu juga dengan CT Scan abdomen dapat membantu memperlihatkan suatu abses. DIAGNOSIS Diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Untuk memudahkan mendiagnosa ada beberapa sistem skoring yang dipergunakan. Sistem skoring tersebut sebagai berikut: Alvarado ScoreYang dinilai Gejala Nyeri beralih pada fossa illiaca kanan Anoreksia Mual/muntah Nyeri tekan fossa illiaca Tanda Nyeri lepas fossa illiaca kanan Kenaikan temperatur Laboratorium Lekositosis Netrofil bergeser ke kiri Skor total Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 10

Bila

skor 1-6 skor 5-6

: Tidak dipertimbangkan mengalami appendisitis akut : Dipertimbangkan kemungkinan diagnosis

8

appendisitis akut, tetapi tidak membutuhkan tindakan operasi segera dan dinilai ulang skor 7-8 : dipertimbangkan kemungkinan mengalami appendisitis akut skor 9-10 : hampir definitive mengalami appendisitis akut dan dibutuhkan tindakan bedah

Ohman ScoreVariabel Nyeri tekan kuadran kanan bawah Nyeri lepas Tidak ada kesulitan berkemih Nyeri yang menetap Hitung lekosit > 10.000/mm2 Usia