kasus ujian abses hepar

Download Kasus Ujian Abses Hepar

Post on 23-Jun-2015

1.630 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Kasus Ujian

ABSES HEPAR

Disusun Oleh : MUHAMMAD EKO ANDARU 1102005164

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI Pembimbing :

Dr. Hami Zulkifli Abbas Sp.PD, MH.Kes Dr. Sianne A. Wahyudi, Sp.PD Dr. Sunhadi

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RSUD ARJAWINANGUN

1

BAB I

KASUSI. Identitas PasienNama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan Agama Status Perkawinan Tgl. Masuk Tgl. Keluar : Tn. S : Laki-laki : 65 Tahun : Plered Kab. Cirebon : Petani : Islam : Menikah : 30-05-2010 : 02-06-2010

II. AnamnesisKeluhan Utama: Nyeri perut kanan atas Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke RSUD Arjawinangun dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 2 minggu sebelum masuk RS. Nyeri dirasakan terus menerus terasa sepeti ditusuktusuk dan semakin lama keluhan nyeri yang dirasa semakin memberat. Rasa sakit akan bertambah bila penderita berubah posisi atau batuk. Penderita merasa lebih enak jika membungkuk saat duduk ataupun berjalan untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu kadang-kadang sakit dada kanan bawah atau sakit bahu juga dirasakan pasien. Demam juga dirasakan timbul bersamaan dengan keluhan nyeri perut yaitu 2 minggu sebelum MRS. Demam yang dirasakan terus menerus tanpa disertai rasa menggigil. Pasien juga mengeluhkan batuk-batuk tanpa dahak dan darah serta rasa mual yang tidak disertai muntah. Makan dan minum berkurang bila dibandingkan saat 2

penderita sehat. Buang air besar normal bewarna kuning kecoklatan konsistensi padat tanpa disertai darah dan lendir. Buang air kecil yang tidak nyeri dan berwarna kuning bening. Pasien mengaku tidak suka mengkonsumsi jamu ataupun minum-minuman keras dari sejak dulu. Riwayat penggunaan jarum suntik ataupun obat-obatan terlarang disangkal. Riwayat kontak seksual dengan multipatner disangkal. Pasien memiliki kebiasaan makan makanan yang dibelinya di luar rumah dan jarang memperhatikan kebersihan makanan yang dimakannya. Pasien belum pernah berobat ke dokter untuk mengobati penyakitnya. Pasien mengaku membeli obat-obatan warung untuk mengatasi rasa nyeri di perutnya tetapi setelah minum obat-obatan tersebut nyeri masih dirasakan oleh pasien. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku tidak pernah menderita penyakit ini sebelumya. Riwayat hipertensi, DM, dan batuk-batuk lama disangkal. Riwayat peyakit usus buntu disangkal. Pasien mengaku tidak pernah menderita mencret yang disertai darah dan lendir. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengaku tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

III. PEMERIKSAAN FISIKKesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu Ikterus Oedema Cyanotik Anemia : : : : : : : : : Compos mentis 120/80 mmHg 82 x / menit, reguler 20 x /menit 37,50 C -/-/-/-/3

-

Ptechia Turgor kulit Tinggi Badan Berat badan

: : : :

Baik 165 cm 55 Kg

KEPALA

-

Bentuk Rambut Mata

: : :

Normal, simetris Hitam, tidak mudah tercabut Konjungtiva tidak anemis Sklera tidak ikterik edema palpebra (-) pupil isokor kanan = kiri, Refleksi cahaya (+).

-

Telinga Hidung Mulut

: : :

Bentuk normal, simetris, membran timpani intak Bentuk normal, septum di tengah, tidak deviasi Bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor, tidak

hiperemis, tidak ada nyeri menelan. LEHER Bentuk normal, deviasi trakhea (-), Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan KGB , JVP tidak meningkat (5-2 cmH2O). THORAKS Inspeksi : Bentuk dada kanan kiri simetris pergerakan napas kanan = kiri. Iktus kordis tidak tampak Spider naevi (-) Palpasi Perkusi Batas Jantung 4 : : Fremitus taktil kanan = kiri Iktus kordis teraba di sela iga V garis midclaviculla kiri Sonor pada kedua lapang paru

Batas atas Batas kanan Batas kiri

: : :

sela iga III garis sternalis kanan sela iga IV garis parasternalis kanan sela iga V garis midklavikula kiri sela iga V garis midklavikula kanan negatif Pernapasan vesikuler, rhonki -/- , wheezing -/bunyi jantung I-II murni, reguler

Batas paru hati : Peranjakan hati: Auskultasi :

ABDOMEN Inspeksi : Perut sedikit membuncit simetris vena kolateral (-) caput Medussae (-) umbilikus tidak menonjol Palpasi : Nyeri tekan pada regio hipochondrium kanan (+) Hepar membesar 3 jari di bawah arcus costae dengan permukaan datar konsistensi kenyal sudut tumpul. Lien tidak teraba Perkusi : Nyeri ketok pada regio hipochondrium kanan Redup pada kuadran kanan atas Shifting dullnes (-) Auskultasi : Bising usus (+) normal, bruits hepatic (-)

GENITALIA T.A.K EKSTREMITAS Superior : Hangat Eritema palmaris (-/-) Sianosis (-/-) Clubbing finger (-/-) edema (-/-) 5

-

Inferior

:

Hangat edema (-/-) Sianosis (-/-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan Laboratorium Darah Rutin Hemoglobin Leukosit Limfosit Monosit Granulosit Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit GDS Kimia klinik Fungsi Ginjal Ureum Kreatinin Uric Acid Fungsi Hati - Protein total - Albumin - Globulin - Bilirubin total : 7,74 : 2,81 : 4,93 : 0,51 g/dl g/dl g/dl mg/dl 7,0 9,0 3,5 5,0 1,5 3,0 0,1 1,2 6 : 27,8 : 0,75 : 4,35 mg/dl 10 -50 mg/dl 0,6 1,38 mg/dl 3,34 7,0 : 11,6 : 12,7 : 2,3 : 2,1 : 6,0 : 35,6 : 91,8 : 29,9 : 32,6 : 398 : 111 mg/dl H H g/dl 103/l 103/l 103/l 103/l % m3 pg g/dl 103/l 11,0 17,0 4,0 10,0 1,0 5,0 0,1 1,0 2,0 8,0 35,0 55,0 80,0 100,0 26,0 34,0 31,0 35,5 150 - 400

- Bilirubin direk - Bilirubin indirek - SGOT - SGPT - Alkali phospatase Urine rutin Warna pH Berat jenis Nitrit Protein Glukosa Keton Bilirubin Urobilinogen Sedimen Leukosit Eritrosit Epitel Kristal Silinder Pemeriksaan Serologi HbsAg Resume: : 0,201 N/ reac

: 0,14 : 0,37 : 28 : 25 : 129 : kuning : 7.0 : 1.020 : negatif : negatif : negatif : negatif : negatif : negatif

mg/dl mg/dl U/l U/l U/l

0,0 0,25 - 0,75 0 - 38 0 - 41 0 258

: +0-1/LPB : negative : +0-1/LPB : negatif : negatif

Seorang Pria berusia 65 tahun datang ke RS dengan nyeri perut kanan atas sejak 2 minggu yang lalu disertai dengan demam, batuk, malaise, dan mual. Pasien juga tidak memperhatikan kebersihan makanan.

7

Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan dan ketok pada perut kanan atas dan hepatomegali membesar 3 jari BAC dengan permukaan rata, konsistensi lunak dan tepi tumpul. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan leukosit , pemeriksaan fungsi hati albumin turun, globulin naik,bilirubin, SGOT, SGPT normal. Tes serologi HbsAg (-) DIAGNOSIS KERJA Susp. Abses Hepar Amoebiasis DIAGNOSIS BANDING Abses Hepar Pyogenik Hepatoma Fatty Liver PROGNOSIS : Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : Bonam : Bonam : Bonam

V. PENATALAKSANAAN1. Istirahat 2. Diit : Tinggi kalori = 1900 Kcal Tinggi protein = 55 gr 3. Medikamentosa : D 5 % 20 tetes/ menit Anti Amoeba : Metronidazol 3 x 500-750 mg tablet selama 5 -10 hari Antibiotik Sefalosporin generasi III : Cefotaxim 3 x 1 gram IV Untuk mengatasi peningkatan asam lambung : Antasida : Dexanta 3 x CI, Antagonis reseptor H-2 : Ranitidin 3x 1 amp 8

4. Edukasi : Menganjurkan banyak makan yang manis-manis untuk meningkatkan kalori Menganjurkan banyak makan putih telur untuk meningkatkan asupan protein Menjaga higienis dan sanitasi diri dan lingkungan Memakan masakan yang matang

5. Rencana terapi lain Konsul bagian bedah untuk punksi drainase abses hepar dengan indikasi : 1. abses yang dikhawatirkan akan pecah 2. respon terhadap medikamentosa setelah 5 hari tidak ada. 3. abses di lobus kiri karena abses disini mudah pecah ke rongga perikerdium atau peritoneum.

VI. PEMERIKSAAN ANJURAN1. Fungsi Hati 2. Fungsi Ginjal 3. Pemeriksaan Serologi amoeba 4. Pemeriksaan feses lengkap 5. HbsAg 6. Foto Thoraks 7. USG Abdomen 8. Aspirasi Abses Hati dan kultur cairan pus

9

PENGKAJIAN MASALAH

A. PENDAHULUAN (2) Insiden dan jenis penyakit infeksi pada hati yang bersumber dari system gastrointestinal sangat bervariasi dari satu negara ke negara lainnya. Infeksi ini dapat disebabkan oleh bakteri, parasit atau jamur. Selama kurun waktu satu abad terakhir ini, telah banyak perubahan dalam hal epidemiologi, etiologi, bakteriologi, cara diagnostik, pengelolaan maupun prognosis abses hati. Di negara-negara yang sedang berkembang, abses hati amoebik didapatkan secara endemic dan jauh lebih sering disbanding abses hati piogenik. Dalam makalah ini akan dibicarakan abses hati amoebik yaitu penyakit infeksi pada hati yang bersumber dari system gastrointestinal yang sering terjadi. B. DEFINISI (1) Amoebiasis hati masih merupakan masalah kesehatan dan social di daerah seperti Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin. Terutama di daerah yang banyak didapatkan strain virulen Entamoeba histolytica yang tinggi dan dimana keadaan sanitasi buruk, status sosio-ekonomi rendah serta status gizi yang kurang baik. C. EPIDEMIOLOGI (1) Hampir 10% penduduk dunia terutama di negara berkembang terinfeksi E. histolytica, tetapi hanya sepersepuluh yang memperlihatkan gejala. Insiden amoebiasis hati di RS di Indonesia berkisar antara 5-15 pasien pertahun. Penelitian epidemiologi di Indonesia menunjukkan perbandingan pria : wanita berkisar 3:1 sampai 22:1, yang tersering pada decade IV. Penularan pada umumnya melalui jalur oral-fekal dan dapat juga oral-anal-fekal. Kebanyakan amoebiasis hati yang dikenai 10

adalah pria. Usia yang dikenai berkisar antara 20-50 tahun terutama dewasa muda dan lebih jarang pada anak. D. ETIOLOGI (1,2) Didapatkan beberapa spesies amoeba yang dapat hidup sebagai parasit non-patogen dalam mulut dan usus, tetapi hanya E. histolytica yang dapat menyebabkan penyakit. Hanya sebagian kecil individu yang terinfeksi E. histolytica yang memberi gejala invasive, sehingga diduga ada 2 jenis E. histolytica yaitu strain patogen dan non-patogen. Bervariasinya virulensi strain ini berbeda bedasarkan kemampuannya menimbulkan lesi pada hati. E.histolytica didalam feses