refkas fifian

Download refkas fifian

Post on 27-Jan-2016

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

apend

TRANSCRIPT

PRESENTASI KASUS

I. IDENTITASNama : Ny. M Umur: 33 tahunJenis kelamin: PerempuanAgama : IslamAlamat: Pondok rejo, Tempel, SlemanTgl MRS: No.RM: 055295

II. ANAMNESISa. Keluhan utama: b. Riwayat Penyakit Sekarang

c. Riwayat Penyakit DahuluDiabetes Melitus : Disangkal Asma : Disangkal Hipertensi : Disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga

III. PEMERIKSAAN FISIK (3-11-2015)Status Generalis Keadaan Umum : Kesadaran : GCS: Vital Sign: TD= N = RR = S = SpO2 = Berat Badan: Tinggi Badan:

KepalaBentuk:Normal simetrisRambut:Hitam dengan distribusi yang merata dan tidak mudah dicabut.Mata:Konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak ikterikPupil isokor kanan dan kiri samaRefleks cahaya positifTelinga:Bentuk normal, simetris, tidak ada cairan yang keluar dari telinga.Hidung:Bentuk normal, tidak ada deviasi septum, tidak krepitasi, tidak hiperemis dan tidak ada sekret yang keluar dari hidung.Tenggorokan:Faring tidak hiperemisMulut:Bentuk normal, tidak sianotik.

Leher Inspeksi: Tidak terlihat benjolan atau massaPalpasi: Kelenjar getah bening teraba tidak membesar, tidak nyeri, Tidak ada deviasi trakhea.

Pemeriksaan ThoraxParu-ParuInspeksi : Bentuk dada normal atau simetris, pergerakan nafas tidakada yang tertinggal, tidak terlihat massa di daerah dada sebelah kanan dan kiriPalpasi : Fremitus taktil dan vokal kanan dan kiri samaPerkusi: Suara sonor pada seluruh lapang paruAuskultasi: Suara dasar paru vesikuler, tidak terdapat ronkhi basah kasar, tidak terdapat ronkhi basah halus pada basal paru, tidak terdapat wheezing pada paru kanan dan kiri maupun depan dan belakangJantungInspeksi: Tidak terlihat pulsasi iktus cordisPalpasi: Teraba iktus kordis di SIC V, linea mid clavikula sinistra, tidak kuat angkat, thrill (-)Perkusi: - Batas kiri atas : ICS II linea parasternal sinistra - Batas kiri bawah : ICS V linea midclavikula sinistra - Batas kanan atas : ICS II linea parasternal dekstra - Batas kanan bawah : ICS IV linea parasternal dekstraAuskultasi : S1 > S2, murni, reguler, bising (-), gallop (-)

Pemeriksaan abdomen Inspeksi: Datar, dinding perut tidak tegang, ikterik tidak ada Auskultasi: Bunyi usus (+) normal Palpasi: Perut supel Hepar tidak teraba pembesaran Lien dalam batas normal, Perkusi: Timpani pada seluruh regio abdomen Nyeri ketok kostovertebrae kanan dan kiri (-)

KulitTurgor kulit baik, kulit tidak mengelupas, tidak pucat dan tidak gatal.

Ekstremitas Superior : Deformitas (-/-), jari tabuh (-/-), sianosis (-/-), tremor (-/-), edema (-/-), akral dingin (-/-), kesemutan (-/-), sensorik dan motorik baik Inferior : Deformitas (-/-), edema (-/-), akral dingin (-/-), sianosis (-/-), kesemutan, (-/-), sensorik dan motorik baik Status lokalis:Mamae sinistraInspeksi : Palpasi :

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANGLaboratorium 28-12-2015

Glukosa Darah 115 mg/dL70-115 mg/dL

Foto : AppendicogramKesan : Gambaran non filling appendix

V. DIAGNOSISAppendicitis

VI. PENATALAKSANAAN Operatif :

Medikamentosa :Infus RL Ceftriaxone 1x1 grKalnex 3x500 mgKetorolac 2x30 mgVII. PROGNOSISQuo ad vitam: dubia ad bonamQuo ad sanationam: dubia ad bonamQuo ad fungsionam: dubia ad bonam

RIWAYAT RAWAT INAPFollow Up Pre- Operatif (3 November 2015)SubyektifKeluhan: benjolan pada payudara kiri, nyeri (+), mual (-), muntah (-) Buang air kecil dan besar dalam batas normal, nyeri kepala (-), demam (-) puasa (+).Obyektif Kesadaran/GCS : compos mentis/ E4M6V5 Tanda Vital : Tekanan darah: 120/80 mmHg Nadi : 88 x/menit Laju nafas : 18 x/menit Suhu : 36 C. Status Generalis : Kepala : Normocephal Mata: Cekung (-/-), Konjungtiva Pucat(-), pupil bulat isokor, diameter 2 mm ki = ka THT: Faring tdk hiperemis, tonsil T1-T1 tdk hiperemis Leher: tdk ada pembesaran KGB Toraks : Paru : pergerakan dinding dadasimetris, retraksi (-), Suara nafas vesikuler (+/+), rh (-/-), wh(-/-), Jantung : BJ I-II reg, murmur (-), gallop (-) Abdomen: datar , nyeri tekan epigastrium (+), BU (+), hepar dan lien tidak teraba pembesaran, nyeri ketok CVA (-) Ekstremitas: akral hangat, CRT 3cm. Biopsi insisional untuk tumor Operabel ukuran > 3 cm operasi definitif. Inoperable.d. LaboratoriumPemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis.II.8. Diagnosa Banding1 GalaktokelMerupakan massa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran atau duktus laktiferus. Tumor ini terdapat pada ibu yang baru atau sedang menyusui.

MastitisAdalah infeksi pada payudara dengan tanda radang lengkap, bahkan dapat berkembang menjadi abses. Biasanya terdapat pada ibu yang menyusui.

II.9. Penatalaksanaan1.Pembedahan11a.Mastectomy radikal yang dimodifikasiPengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.b.Mastectomy totalSemua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding dada tidak diangkat.c.Lumpectomy/tumorPengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada di sekitar tumor tersebut.d.Wide excision/mastektomy parsial. Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.e.Ouadranectomy.Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis mayor.2.Radiotherapy 3Merupakan terapi utama untuk kanker payudara stadium IIIb (locally advanced),dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu terapi hormonal dan kemoterapi. Radiasi terkadang diperlukan untuk paliasi di daerah tulang weight bearing yang mengandung metastase atau pada tumor bed yang berdarah difus dan berbau yang mengganggu sekitarnya. Prinsip dasar radiasi adalah memberikan stress fisik pada sel kanker yang berada pada keadaan membelah sehingga terjadi kerusakan DNA dan menyebabkan terbentuknya radikal bebas dari air yang dapat merusak membran, protein, dan organel sel. Tingkat keparahan radiasi tergantung pada oksigen. Sel yang hipoksia akan lebih resisten terhadap radiasi dibandingkan dengan sel yang tidak hipoksia. Hal ini terjadi karena radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel berasal dari oksigen. Oleh karena itu, pemberian oksigen dapat meningkatkan sensitivitas radiasi.Radioterapi dapat diberikan dengan tiga cara, yaitu :1. TeleteraphyTeknik ini berupa pemberian sinar radiasi yang memiliki jarak yang cukup jauh dari tumor. Teknik ini dapat digunakan sendirian atau kombinasi dengan kemoterapi untuk memberikan kesembuhan terhadap tumor atau kanker yang lokal dan mengkontrol tumor primer. Teleterapi paling sering digunakan dalam radioterapi.1. BachytherapyTeknik ini berupa implantasi sumber radiasi ke dalam jaringan kanker atau jaringan disekitarnya.1. Systemic therapyTeknik ini berupa pemberian radionuklida ke dalam masa tumor atau kanker.3.Chemotherapy7Terapi ini bersifat sistemik dan bekerja pada tingkat sel. Terutama diberikan pada kanker payudara yang sudah lanjut, bersifat paliatif, tapi dapat pula diberikan pada kanker payudara yang sudah dilakukan operasi mastektomi, yang bersifat adjuvant. Kanker payudara stadium IV, pengobatan yang primer adalah bersifat sistemik. Terapi ini berupa kemoterapi dan terapi hormonal. Radiasi kadang diperlukan untuk paliatif pada daerah-daerah tulang yang mengandung metastasis. Pilihan terapi sistemik dipengaruhi pula oleh terapi lokal yang dapat dilakukan, keadaan umum pasien, reseptor hormon dan penilaian klinis. Karena terapi sistemik bersifat paliatif, maka harus dipikirkan toksisitas yang potensial terjadi. Kanker payudara dapat berespons terhadap agen kemoterapi, antara lain anthrasikin, agen alkilasi, taxane, dan antimetabolit. Kombinasi dari agen tersebut dapat memperbaiki respon namun hanya memilki efek yang sedikit untuk meningkatkan survival rate. Pemilihan kombinasi agen kemoterapi tergantung pada kemoterapi adjuvant yang telah diberikan dan jenisnya. Jika pasien telah mendapat kemoterapi adjuvant dengan agen Cyclophosphamide, Methotrexat dan 5-Fluorouracil (CMF), maka pasien ini tidak mendapat agen yang sama dengan yang didapat sebelumnya. Untuk pasien dengan kanker payudara dapat diberikan kemoterapi intravena (IV). Cara pemberian kemoterapi IV bervariasi, tergantung pada jenis obat. Adapun jenis-jenis kombinasi kemoterapi yang diberikan adalah :

FEC (Fluorourasil, Eprubisin, Cyclophosphamide) IndikasiTerapi adjuvant, neoadjuvant maupun pada kanker payudara yang sudah metastasis. Hal-hal yang perlu diperhatikan : Pasien dengan usia di atas 60 tahun atau ada riwayat penyakit jantung, sebelum kemoterapi harus dilakukan pemeriksaan echocardiogram atau multiple gated acquisition test of cardiac output (MUGA) untuk menjamin bahwa fungsi ventrikel kiri masih baik. Periksa fungsi hati. Jika ada insufisiensi hati, maka dosis 5-FU di kurangi. Periksa fungsi ginjal. Jika ada insufisiensi ginjal, dosis epirubisin dikurangi. Periksa darah rutin lengkap. Jika netrofil < 1500/mm3, atau AT < 100.000/mm3, maka kemoterapi ditunda. Berikan antiemetik yang kuat sebelum kemoterapi. Kontrol dosis epirubisin, untuk menghindari kardiotoksisitas bila dosis kumulatif epirubisin >900 mg/m2 Beritahu pasien tentang kemungkinan rambut dapat rontok akibat kemoterapi. Dosis 5-FU 500 mg/m2 pada hari 1. Epirubisin 60 mg/m2 pada hari 1 Siklofosfamid 500 mg/m22 Cara Pemberian 5-FU dan siklofosfamid disuntikan secara IV pelan-pelan atau dilarutkan dalam NaCl 0,9% 100 ml dan diinfuskan dalam 10-20 menit. Epirubisin disuntikan lewat selang infus salin. Siklus dan Jumlah siklus Lama siklus 21 hari Jum