fiky kolesistitis

Author: fiky-rahman

Post on 10-Feb-2018

273 views

Category:

Documents


11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    1/27

    1

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah yangdilimpahkanNya, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah

    yang berjudul Cholecystitis dan aspek radiologisnya.

    Tak ada gading yang tak retak, begitu pula penulis menyadari bahwa

    tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena

    itu, dengan hati terbuka penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat

    membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

    Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

    besarnya kepada dr. Herman W.H, Sp. Rad,yang telah banyak memberikan ilmu

    dan bimbingannya selama siklus kepaniteraan radiologi di Rumah Sakit Royal

    Taruma periode 28 November31 Desember 2011.

    Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan dasar bahan-bahan

    kuliah dari dosen pengajar di Universitas Tarumanagara, juga menyertakan

    wacana-wacana yang berkaitan dengan Cholecystitis dan aspek radiologisnya juga

    gambar-gambar yang diambil dari situs internet.

    Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga makalah

    ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

    Jakarta, 15 Desember 2011

    Penulis

    Rorica Tixson (406101017)

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    2/27

    2

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1DAFTAR ISI ................................................................................................................ 2

    PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3

    ANATOMI dan FISIOLOGI KANDUNG EMPEDU ................................................. 5

    1. Anatomi ........................................................................................................... 52. Fisiologi .......................................................................................................... 73. Pengosongan kandung empedu ...................................................................... 84. Komposisi Cairan Empedu ............................................................................. 9

    CHOLECYSTITIS ...................................................................................................... 101. Kolesistitis Akut ............................................................................................. 10

    A. Pengertian .......................................................................................... 10B. Etiologi dan Patogenesis .................................................................... 10C. Gejala Klinis ...................................................................................... 10D. Pemeriksaan Fisik .............................................................................. 11E. Laboratorium ..................................................................................... 11F. Radiologi ........................................................................................... 11G. Diagnosis .......................................................................................... 12H. Penatalaksanaan ................................................................................ 12I. Prognosis ........................................................................................... 13

    2. Kolesistitis Kronik ......................................................................................... 14A. Pengertian ......................................................................................... 14B. Etiologi ............................................................................................ 14C. Gejala Klinis .................................................................................... 14D. Radiologi ......................................................................................... 15E. Diagnosis ......................................................................................... 15F. Penatalaksanaan .............................................................................. 15G. Pencegahan ...................................................................................... 16

    RESUME ................................................................................................................ 17

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 19

    LAMPIRAN ............................................................................................................ 20

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    3/27

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    4/27

    4

    Tiap tahun 500.000 kasus baru dari batu empedu ditemukan di Amerika

    Serikat. Kasus tersebut sebagian besar didapatkan di atas usia pubertas, sedangkan

    pada anak-anak jarang. Orang gemuk ternyata mempunyai resiko tiga kali lipat

    untuk menderita batu empedu. Avni Sali membuktikan bahwa diet tidak

    berpengaruh terhadap pembentukan batu, tetapi secara tidak langsung

    mempengaruhi jenis batu yang terbentuk. Hal ini disokong oleh peneliti dari

    Jepang yang menemukan bukti bahwa orang dengan diet berat biasanya menderita

    batu jenis kolesterol, sedangkan yang dietnya tetap biasanya menderita batu jenis

    pigmen. Faktor keluarga juga berperan dimana bila keluarga menderita batu

    empedu kemungkinan untuk menderita penyakit tersebut dua kali lipat dari orang

    normal.

    Batu kandung empedu biasanya baru menimbulkan gejala dan keluhan bila

    batu menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus. Oleh karena itu, gambaran

    klinis penderita batu kandung empedu bervariasi dari yang berat atau jelas sampai

    yang ringan atau samar bahkan seringkali tanpa gejala (silent stone).

    Banyak penderita batu kandung empedu tanpa gejala dan ditemukan secara

    kebetulan pada waktu dilakukan foto polos abdomen, USG, atau saat operasi untuk

    tujuan yang lain.

    Dengan perkembangan peralatan dan teknik diagnosis yang baru USG

    maka banyak penderita batu kandung empedu yang ditemukan secara dini sehingga

    dapat dicegah kemungkinan terjadinya komplikasi. Semakin canggihnya peralatan

    dan semakin invasifnya tindakan pengobatan sangat mengurangi morbiditas dan

    moralitas.

    Diagnosis kolesistitis atau kolelitiasis didasarkan dari hasil kolesistografi

    atau ultrasonografi menunjukkan adanya batu atau malfungsi kandung empedu.

    Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu dalam

    kandung empedu dan bisa menunjukkan penebalan pada dinding kandung empedu.

    Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi hepatobilier,

    yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu, kandung empedu, dan

    bagian atas usus halus.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    5/27

    5

    ANATOMI dan FISIOLOGI KANDUNG EMPEDU

    1. Anatomi

    Kandung empedu (vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang

    terletak pada permukaan visceral hepar. Vesica fellea dibagi menjadi fundus,

    corpus, dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol di bawah

    pinggir inferior hepar, dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior

    abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan. Corpus merupakan bagian terbesar

    dari kandung empedu. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan

    arahnya ke atas, belakang, dan kiri. Collum adalah bagian yang sempit dari

    kandung empedu. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam

    omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis

    membentuk duktus koledokus. Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea

    dengan sempurna menghubungkan corpus dan collum dengan permukaan visceral

    hati.

    Pembuluh arteri kandung empedu adalah A. cystica, cabang A. hepatica

    kanan. V. cystica mengalirkan darah langsung ke dalam vena porta. Sejumlah arteri

    yang sangat kecil dan venavena juga berjalan antara hati dan kandung empedu.

    Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak

    dekat collum vesica fellea. Dari sini, pembuluh limfe berjalan melalui nodi

    lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan A. hepatica menuju ke nodi lymphatici

    coeliacus. Saraf yang menuju ke kandung empedu berasal dari plexus coeliacus.

    Variasi anatomik misalnya double folded atau double twisted sangat sering

    ditemukan, juga kandung empedu yang besar, non obstruktif, sering dijumpai pada

    penderita alkoholisme atau diabetes melitus.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    6/27

    6

    2. Fisiologi

    Vesica fellea berperan sebagai reservoir empedu dengan kapasitas sekitar

    50 ml. Vesica fellea mempunyai kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk

    membantu proses ini, mukosanya mempunyai lipatanlipatan permanen yang satusama lain saling berhubungan. Sehingga permukaanya tampak seperti sarang

    tawon. Sel - sel thorak yang membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli.

    Empedu dibentuk oleh sel-sel hati yang ditampung di dalam kanalikuli.

    Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum

    interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan

    dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini

    sebelum mencapai duodenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus

    sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan

    ke duodenum.

    Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan

    absorpsi air dan natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang

    kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi

    volumenya 80-90%.

    Menurut Guyton & Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu:

    Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsilemak, karena asam empedu melakukan dua hal antara lain: asam empedu

    membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi

    partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan

    dalam getah pankreas. Asam empedu membantu transpor dan absorpsi

    produk akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa

    intestinal.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    7/27

    7

    Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produkbuangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir

    dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk

    oleh sel- sel hati.

    3. Pengosongan kandung empedu

    Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial

    kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak ke

    dalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari

    mukosa duodenum, hormon kemudian masuk ke dalam darah, menyebabkan

    kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada

    ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan

    masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garam garam empedu

    dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan

    membantu pencernaan dan absorbsi lemak.

    Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu :

    - Hormonal : Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampaiduodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin

    akan terlepas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi

    kandung empedu.

    - Neurogen: Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan

    lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan

    kontraksi dari kandung empedu.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    8/27

    8

    Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum danmengenai Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu

    lumpuh, cairan empedu akan tetap keluar walaupun sedikit.

    Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan hormonal maupun

    neurologis memegang peran penting dalam perkembangan inti batu.

    4. Komposisi Cairan Empedu

    Komponen Dari Hati Dari Kandung Empedu

    Air 97,5 gm % 95 gm %

    Garam Empedu 1,1 gm % 6 gm %

    Bilirubin 0,04 gm % 0,3 gm %

    Kolesterol 0,1 gm % 0,30,9 gm %

    Asam Lemak 0,12 gm % 0,31,2 gm %

    Lecithin 0,04 gm % 0,3 gm %

    Elektrolit - -

    Garam EmpeduAsam empedu berasal dari kolesterol. Asam empedu dari hati ada dua

    macam yaitu : Asam Deoxycholat dan Asam Cholat.

    Fungsi garam empedu adalah :

    - Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat dalammakanan, sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah menjadi

    partikel-partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut.

    - Membantu absorbsi asam lemak, monoglycerid, kolesterol, dan vitaminyang larut dalam lemak.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    9/27

    9

    Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-kuman

    usus diubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. Sebagian besar (90 %) garam

    empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh mukosa usus sedangkan

    sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk lithocholat. Absorbsi garam

    empedu tersebut terjadi di segmen distal dari ilium. Sehingga bila ada gangguan

    pada daerah tersebut misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi

    garam empedu akan terganggu.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    10/27

    10

    CHOLECYSTITIS

    1. Kolesistitis Akut

    A. Pengertian

    Radang kandung empedu (Kolesistitis akut) adalah reaksi inflamasi akut

    dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan,

    dan demam.

    B. Etiologi dan Patogenesis

    Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah

    statis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu.

    Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak

    di duktus sistikus yang menyebabkan statis cairan empedu, sedangkan sebagian

    kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).

    Bagaimana statis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut, masih

    belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang berpengaruh, seperti kepekatan

    cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, dan prostaglandin yang merusak lapisan

    mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.

    Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup

    lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan

    kandung empedu, batu di saluran empedu, atau merupakan salah satu komplikasi

    penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes melitus.

    C. Gejala KlinisKeluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik perut

    di sebelah kanan atas epigastrium dan nyeri tekan serta kenaikan suhu tubuh.

    Kadang-kadang rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat

    berlangsung sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya keluhan sangat bervariasi

    tergantung dari adanya kelainan inflamasi ringan sampai dengan gangren atau

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    11/27

    11

    perforasi kandung empedu. Penderita kadang mengalami demam, mual, dan

    muntah, Pada orang lanjut usia, demam sering kali tidak begitu nyata dan nyeri

    lebih terlokalisasi hanya pada perut kanan atas.

    D. Pemeriksaan Fisik

    Teraba masa kandung empedu, nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis

    lokal (tanda Murphy).

    E. Laboratorium

    Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    12/27

    12

    tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tanpa

    adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral

    atau scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.

    CT Scan abdomen kurang sensitif dan mahal tapi mampu memperlihatkanadanya abses perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat

    pada pemeriksaan USG.

    Kolangiografi transhepatik perkutaneous: Pembedahan gambaran denganfluoroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pankreas (bila

    ikterik ada).

    MRI

    G. Diagnosis

    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari pemeriksaan

    tertentu.

    Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu dalam

    kandung empedu dan bisa menunjukkan penebalan pada dinding kandung empedu,

    dan cairan peradangan disekitar empedu. ERCP (endoscopic retrograd

    cholangiopancreatography) juga dapat dilakukan untuk melihat anatomi saluran

    empedu, sekaligus untuk mengangkat batu apabila memungkinkan.

    Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi

    hepatobilier, yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu, kandung

    empedu dan bagian atas usus halus.

    H. Penatalaksanaan

    Penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat di rumah sakit,

    diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak diperbolehkan makan maupun

    minum. Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar lambung

    tetap kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung empedu.

    Antibiotik diberikan sesegera mungkin jika dicurigai kolesistitis akut.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    13/27

    13

    Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan

    pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau kedua.

    Jika penderita memiliki penyakit lainnya yang meningkatkan resiko pembedahan,

    operasi ditunda dan dilakukan pengobatan terhadap penyakitnya. Jika serangannya

    mereda, kandung empedu bisa diangkat 6 minggu kemudian atau lebih. Jika

    terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren atau perforasi kandung empedu),

    diperlukan pembedahan segera.

    Sebagian kecil penderita akan merasakan episode nyeri yang baru atau

    berulang, yang menyerupai serangan kandung empedu, meskipun sudah tidak

    memiliki kandung empedu.

    Penyebab terjadinya episode ini tidak diketahui, tetapi mungkin merupakan akibat

    dari fungsi sfingter Oddi yang abnormal. Sfingter Oddi adalah lubang yang

    mengatur pengaliran empedu ke dalam usus halus. Rasa nyeri ini mungkin terjadi

    akibat peningkatan tekanan di dalam saluran yang disebabkan oleh penahanan

    aliran empedu atau sekresi pankreas.

    Untuk melebarkan sfingter Oddi bisa digunakan endoskopi. Hal ini

    biasanya akan mengurangi gejala pada penderita yang memiliki kelainan sfingter,

    tetapi tidak akan membantu penderita yang hanya memiliki nyeri tanpa disertai

    kelainan pada sfingter.

    I. Prognosis

    Penyembuhan spontan didapatkan 85% kasus, sekalipun kandung empedu

    menjadi tebal, fibrotik, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidak jarang

    menjadi kolesistitis rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut berkembang secara

    cepat menjadi gangren, empiema dan perforasi kandung empedu, fistel, abses hati

    atau peritonitis umum. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang

    adekuat pada awal serangan. Tindakan bedah akut pada pasien tua (>75th)

    mempunyai prognosis jelek di samping kemungkinan banyak timbul komplikasi

    pasca bedah.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    14/27

    14

    2. Kolesistitis Kronik

    Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat

    hubungannya dengan litiasis dan lebih sering timbulnya perlahan-lahan.

    A. Pengertian

    Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung

    empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan

    hebat.

    B. EtiologiKolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,

    yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan

    kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung

    empedu.

    Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya

    meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis

    adalah adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.

    C. Gejala Klinis

    Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejalanya

    sangat minimal dan tidak menonjol, seperti dispepsia, rasa penuh di epigastrium,

    dan nausea khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi, yang kadang-

    kadang hilang setelah bersendawa.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    15/27

    15

    D. Radiologi

    Kolesistografi oral, ultrasonografi, dan kolangiografi dapat memperlihatkankolelitiasis dan afungsi kandung empedu. Pada USG, dinding menjadi

    sangat tebal dan eko cairan lebih terlihat hiperekoik. Sering terdapat pada

    kolesistitis kronik lanjut dimana kandung empedu sudah mengisut. Kadang-

    kadang hanya eko batunya saja yang terlihat.

    Endoscopic retrograde choledochopancreaticography (ERCP) sangatbermanfaat untuk memperlihatkan adanya batu di kandung empedu dan

    duktus koledokus.

    Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik): Menyatakan batu pada sistemempedu.

    CT Scan: Dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatasi duktusempedu, dan membedakan antara ikterik obstruksi /non obstruksi.

    MRI

    E. Diagnosis

    Diagnosis kolesistitis kronik sering sulit ditegakkan. Riwayat penyakit batu

    kandung empedu di keluarga, ikterus dan kolik berulang, nyeri lokal di daerah

    kandung empedu disertai tanda Murphy positif dapat menyokong menegakkan

    diagnosis.

    F. Penatalaksanaan

    Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan. Kolesistektomi bisa

    dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui laparoskopi. Penderita yang

    memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya, dianjurkan

    untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan. Bisa diberikan

    antasid dan obat-obat antikolinergik.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    16/27

    16

    G. Pencegahan

    Seseorang yang pernah mengalami serangan kolesistitis akut dan kandung

    empedunya belum diangkat, sebaiknya mengurangi asupan lemak dan menurunkan

    berat badannya.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    17/27

    17

    RESUME

    Radang kandung empedu (Kolesistitis akut) adalah reaksi inflamasi akut

    dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan,dan demam. Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat

    hubungannya dengan litiasis dan lebih serinng timbulnya perlahan-lahan. Batu

    empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu yang disebut

    kolelitiasis. Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak

    menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kantong empedu.Yang lebih

    sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke

    dalam saluran empedu.

    Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu, maka

    penderita akan merasakan nyeri. Nyeri cenderung hilang-timbul dan dikenal

    sebagai nyeri kolik. Nyeri timbul secara perlahan dan mencapai puncaknya,

    kemudian berkurang secara bertahap. Nyeri bersifat tajam dan hilang-timbul, bisa

    berlangsung sampai beberapa jam. Lokasi nyeri berlainan, tetapi paling banyak

    dirasakan di perut atas sebelah kanan dan bisa menjalar ke bahu kanan. Penderita

    seringkali merasakan mual dan muntah.

    Pemeriksaan radiologis merupakan cara pemeriksaan sekaligus cara

    evaluasi, yang memegang peranan penting di samping pemeriksaan laboratorium,

    dan pemeriksaan klinis lainnya.

    Pemeriksaan radiologis yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

    Foto polos abdomen Ultrasonografi (USG) Kolesistografi oral Skintigrafi saluran empedu CT Scan abdomen Kolangiografi transhepatik perkutaneous Endoscopic retrograde choledochopancreaticography (ERCP) Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik) Magnetic Resonance Cholangiopancreatography (MRCP)

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    18/27

    18

    Tomografi Komputer MRI

    Penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat di rumah sakit,

    diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak diperbolehkan makan maupun

    minum. Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar lambung

    tetap kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung empedu.

    Antibiotik diberikan sesegera mungkin jika dicurigai kolesistitis akut.

    Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan

    pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau kedua.

    Jika penderita memiliki penyakit lainnya yang meningkatkan resiko pembedahan,

    operasi ditunda dan dilakukan pengobatan terhadap penyakitnya. Jika serangannya

    mereda, kandung empedu bisa diangkat 6 minggu kemudian atau lebih. Jika

    terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren atau perforasi kandung empedu),

    diperlukan pembedahan segera.

    Penderita dengan kolesistitis kronik pada umumnya dilakukan

    kolesistektomi. Sedangkan pada penderita dengan kolelitiasis dilakukan

    kolesistektomi, terapi disolusi, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi (ESWL),

    ERCP untuk kalkulus duktus bilier komunis, empiema dapat didrainase secara

    perkutan di bawah pemantauan ultrasonografi, dan dietetik.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    19/27

    19

    DAFTAR PUSTAKA

    Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas

    Kedokteran Universitas Indonesia.

    Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes : Radiologi. Edisi Kedua. (diterjemahkan

    oleh Penerbit Erlangga), Jakarta : Penerbit Erlangga.

    Richard S. Snell. 2002.Anatomi klinik.Edisi Ketiga. Jakarta : EGC.

    Sudoyo, Aru W dkk. 2010. Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi

    Kelima. Jakarta : InternaPublishing.

    Sherlock S, Dooley J. 1993.Disease of the Liver and Biliary Sistem 9 th. London :

    Blackwell Scientific Publication.

    Sjamsuhidajat R, Wim de jong. 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta : EGC.

    Altun et al . 2007.GASTROINTESTINAL IMAGING:MRImaging of Acute and

    ChronicCholecystitis.

    http://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-

    2a98aa6374aa(diakses 15 Desember 2012)

    __________ . 2010. Cholecystitis.http://en.wikipedia.org/wiki/Cholecystitis

    (diakses 15 Desember 2012)

    __________ . 2010. Gallstone.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Gallstone(diakses 15 Desember 2012)Mayoclinicstaff. 2009. Cholecystitis.

    http://www.mayoclinic.com/health/cholecystitis/DS01153(diakses 15 Desember 2012)

    __________ . 2008. Gallstones.

    http://www.medicinenet.com/gallstones/page11.htm(diakses 15 Desember 2010)

    William K Chiang,dkk. 2010. Cholelithiasis.

    http://emedicine.medscape.com/article/774352-overview(diakses 15 Desember 2012)

    http://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-

    kandung-empedu.html(diakses 15 Desember 2012)

    http://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-2a98aa6374aahttp://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-2a98aa6374aahttp://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-2a98aa6374aahttp://en.wikipedia.org/wiki/Cholecystitishttp://en.wikipedia.org/wiki/Cholecystitishttp://en.wikipedia.org/wiki/Cholecystitishttp://en.wikipedia.org/wiki/Gallstonehttp://en.wikipedia.org/wiki/Gallstonehttp://www.mayoclinic.com/health/cholecystitis/DS01153http://www.mayoclinic.com/health/cholecystitis/DS01153http://www.medicinenet.com/gallstones/page11.htmhttp://www.medicinenet.com/gallstones/page11.htmhttp://emedicine.medscape.com/article/774352-overviewhttp://emedicine.medscape.com/article/774352-overviewhttp://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-kandung-empedu.htmlhttp://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-kandung-empedu.htmlhttp://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-kandung-empedu.htmlhttp://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-kandung-empedu.htmlhttp://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/461-kolesistitis-radang-kandung-empedu.htmlhttp://emedicine.medscape.com/article/774352-overviewhttp://www.medicinenet.com/gallstones/page11.htmhttp://www.mayoclinic.com/health/cholecystitis/DS01153http://en.wikipedia.org/wiki/Gallstonehttp://en.wikipedia.org/wiki/Cholecystitishttp://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-2a98aa6374aahttp://radiology.rsna.org/content/244/1/174.full.pdf+html?sid=ddd041b4-7a1a-410a-ac3d-2a98aa6374aa
  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    20/27

    20

    LAMPIRAN

    Anatomi kandung empedu

    Anatomi sekitar kandung empedu

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    21/27

    21

    Variasi normal bentuk double folded

    Kandung empedu normal. Terlihat kontur, besar, dan batas yang normal. Dinding tidak

    menebal. Terletak di antara parenkim hati lobus kanan pada fossa vesika felea.

    Ekocairan homogen.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    22/27

    22

    Kolelitiasis

    Gejala Klinis Kolelitiasis

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    23/27

    23

    USG pada kandung empedu mendemonstrasikan kalkulus tunggal besar (tanda panah).

    Perhatikan bayangan akustik di bagian posterior dari batu empedu.

    Kolelitiasis (Terlihat 2 buah gambaran sangat hiperekoik dengan bayangan akustik

    di bawahnya : AS)

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    24/27

    24

    Kolelitiasis (Kontur dan batas kandung empedu tidak jelas lagi, karena terisi oleh batu

    yang massif. Tampak ekocairan empedu sedikit saja pada sebelah atasnya.)

    Poikolelitiasis (Tampak batu multipel dengan bayangan akustik yang khas dengan

    ekopadat di atasnya.)

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    25/27

    25

    USG Kolelitiasis

    Gambaran Patologi Anatomi Kolesistitis

    USG Kolesistitis Akut

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    26/27

    26

    Kolesistitis akut ditandai dengan penebalan dinding dan adanya ekocairan di sekelilingnya(merupakan ciri khas) sebagai reaksi perikolesistitis.

    Kolesistitis kronik (Ekocairan menjadi hiperekoik dengan dinding kandung empedu

    yang ireguler. Terlihat batu multipel dengan bayangan akustik yang khas pada bagian

    kiri. Pada gambar sebelah kanan, kandung empedu sangat mengecil (contracted) dan

    yang terlihat hanya eko batunya saja.

  • 7/22/2019 Fiky Kolesistitis

    27/27

    27

    Kolesistografi

    Kolesistektomi