ipd kolesistitis

of 47 /47
1 BAB I STATUS PENDERITA A. PENDAHULUAN Kolesistitis adalah inflamasi akut dan kronis dari kandung empedu, biasanya berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus sistikus dan menyebabkan distensi kandung empedu. Kasus kolesistitis ditemukan pada sekitar 10% populasi, sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu, sedangkan 10% sisnya tidak. Kasus minorotas yang disebut juga dengan istilah acalculous cholecystitis ini, biasanya berkitan dengan pasca bedah umum, cedera berat, sepsis (infeksi berat). Individu yang beresiko terkena kolesistitis adalah jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan kehamilan, dan suku bangsa tertentu. B. IDENTITAS PASIEN Nama : Tn. D Umur : 40 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Swasta Pendidikan : SMA Agama : Islam Alamat : Jl. Bayam Dalam, Bumi Ayu Status Perkawinan : Menikah Suku : Jawa

Upload: cumi-cumi-cinta

Post on 05-Aug-2015

447 views

Category:

Documents


6 download

TRANSCRIPT

Page 1: IPD kolesistitis

1

BAB I

STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN

Kolesistitis adalah inflamasi akut dan kronis dari kandung empedu, biasanya

berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus sistikus

dan menyebabkan distensi kandung empedu. Kasus kolesistitis ditemukan pada

sekitar 10% populasi, sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu,

sedangkan 10% sisnya tidak. Kasus minorotas yang disebut juga dengan istilah

acalculous cholecystitis ini, biasanya berkitan dengan pasca bedah umum, cedera

berat, sepsis (infeksi berat). Individu yang beresiko terkena kolesistitis adalah

jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan kehamilan, dan suku bangsa

tertentu.

B. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. D

Umur : 40 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Alamat : Jl. Bayam Dalam, Bumi Ayu

Status Perkawinan : Menikah

Suku : Jawa

Tanggal MRS : 21 November 2012

C. ANAMNESA

1. Keluhan Utama : Nyeri perut sebelah kanan

2. Keluhan Tambahan : mual, nafsu makan menurun, demam.

Page 2: IPD kolesistitis

2

3. Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri didaerah perut kanan menjalar ke pinggang sejak tadi sore,

nyeri terus menerus seperti ditusuk-tusuk. Pasien juga mengeluh mual (+),

nafsu makan menurun, demam (+), muntah (-), buang air besar dan buang

air kecil tidak ada keluhan.

1 bulan yang lalu (16-10-2012) pasien datang ke rumah sakit

dengan keluhan badan meriang dan nyeri pinggang kanan. Oleh dokter

disarankan untuk melakukan USG. Dokter mendiagnosa cholelithiasis.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Penyakit Serupa : dibenarkan

Riwayat Mondok : disangkal

Riwayat Sakit Gula : disangkal

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat Hipertensi : disangkal

Riwayat Sakit Kejang : disangkal

Riwayat Alergi Obat : disangkal

Riwayat Alergi Makanan : disangkal

Riwayat Keganasan : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat Keluarga dengan penyakit serupa : disangkal

Riwayat Hipertensi : ibu memiliki riwayat

hipertensi

Riwayat Sakit Gula : disangkal

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat keganasan : disangkal

5. Riwayat Kebiasaan :

Page 3: IPD kolesistitis

3

Riwayat Merokok : dibenarkan, sejak SMA, baru

berhenti semenjak sakit

Riwayat Minum Alkohol : disangkal

Riwayat Olahraga : jarang

Riwayat Pengisian Waktu Luang : menata taman.

6. Riwayat Sosial-Ekonomi :

Penderita aktif dalam kegiatan di masyarakat. Penghasilan

perbulan tidak tetap, namun cukup untuk menghidupi keluarganya.

7. Riwayat Gizi :

Makan sehari-hari dengan nasi, lauk, sayur, buah jarang. Makan

tidak teratur.

A. ANAMNESIS SISTEM

1. Kulit : kulit gatal (-),

2. Kepala : pusing (-),

3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-/-), penglihatan

kabur (-/-), ketajaman penglihatan dalam batas normal

4. Hidung : tersumbat (-/-), mimisan (-/-)

5. Telinga : pendengaran berkurang (-/-), berdengung (-/-), keluar cairan

(-/-)

6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (+), lidah terasa pahit (+)

7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)

8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk lama (-)

9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)

10. Gastrointestinal : nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), diare (-),nafsu

makan menurun (+),

11. Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal

12. Neurologik : kejang (-), lumpuh (-), kesemutan dan rasa tebal pada

kedua kaki (-)

13. Psikiatri : emosi stabil, mudah marah (-)

Page 4: IPD kolesistitis

4

14. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri/linu-linu pada lutut kanan-kiri (-),

nyeri otot (-)

15. Ekstremitas :

o Atas kanan : bengkak (-), sakit (-), luka (-)

o Atas kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)

o Bawah kanan : bengkak (-), sakit (-),luka (-)

o Bawah kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)

D. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum :

kesadaran Compos Mentis, tampak lemah (GCS E4V5M6)

2. Tanda Vital

Tensi : 130/80 mmHg

Nadi : 80x/menit

Pernafasan : 20x/menit

Suhu : 38oC

TB : 165 cm

BB : 55 kg

BMI : 20,2

1. Kulit :

turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), venektasi (-), petechie (-),

spider nevi (-).

2. Kepala :

Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-),

nodula (-), kelainan mimic wajah / bells palsy (-).

3. Mata :

Page 5: IPD kolesistitis

5

Mata tidak cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil

isokor (+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat

kehitaman).

4. Hidung :

Nafas cuping hidung (-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung

(-), hiperpigmentasi (-).

5. Mulut :

Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi

lidah hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-).

6. Telinga :

Nyeri tekan mastoid (-/-), secret (-/-), pendengaran berkurang (-/-), cuping

telinga dalam batas normal.

7. Tenggorokan :

Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-)

8. Leher :

Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).

9. Toraks :

Normochest, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi (-),

spidernevi (-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)

Cor

Inspeksi : ictus cordis tidak tampak

Palpasi : ictus cordis kuat angkat

Perkusi : Batas kiri atas : ICS II linea para sternalis sinistra

Batas kanan atas : ICS II linea para sternalis dekstra

Batas kiri bawah : ICS V linea medio clavicularis

sinistra

Batas kanan bawah : ICS IV linea para sterna dekstra

Pinggang jantung : ICS II linea para sternalis sinistra

(kesan jantung tidak melebar)

Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas normal, regular, bising (-)

Page 6: IPD kolesistitis

6

Pulmo

Inspeksi : Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-),

luka (-)

Palpasi : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-),

krepitasi (-)

Perkusi :

Sonor SonorSonorSonor Sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler

Suara tambahan :

Ronkhi wheezing

10. Sistem Collumna Vertebralis :

Inspeksi : Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)

Palpasi : Nyeri tekan (-)

Perkusi : NKCV (-)

11. Ektremitas : palmar eritema (-/-)

Akral dingin Odem

- - - -

- - - -

12. Pemeriksaan Neurologik :

Kesadaran : GCS E4V5M6

Fungsi luhur : dalam batas normal

Fungsi vegetative : dalam batas normal

Fungsi sensorik : N N

+ +

+

+ +

- -

-

- -

- -

-

- -

Page 7: IPD kolesistitis

7

N N

Fungsi motorik : 5 5 N N 2 2 - -

5 5 N N 2 2 - -

Kekuatan Tonus RF RP

13. Pemeriksaan Psikiatrik :

Penampilan : Perawatan diri baik

Kesadaran : Kualitatif tidak berubah, kuantitatif compos mentis

Afek : Appropriate

Psikomotor : Normoaktif

Proses piker : Bentuk : realistik

Isi : waham (-), hausinasi (-), ilusi (-)

Arus : koheren

Insight : Baik

Status Lokalis :

Abdomen :

Inspeksi : datar

Auskultasi : Bising usus 6x/menit,

Palpasi :dinding abdomen supel, nyeri tekan pada kanan

bawah, hepar lien tidak teraba, rovsing sign (-), psoas sign

(-), obturator sign (-)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tgl 22-November-2012

Darah Lengkap

Item periksa Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Satuan

Hemoglobin 14,6 12 – 16 g/dl

Leukosit 11.500 4 – 10 Ribu/mm3

LED 7 2 – 20 mm/jam

Trombosit 315.000 150 – 400 Ribu/mm3

PCV/HCT 45,5 37 – 48 %

Eritrosit 4,89 4 – 5 Juta/mm3

Page 8: IPD kolesistitis

8

Diff.count

Hitung jenis Eosinofil 1 1 – 3

Hitung jenis Basofil 1 0 – 1

Hitung jenis N.Stab. 0 2 – 6

Hitung jenis N.Segmen 85 50 – 70

Hitung jenis Lymphosit 6 20 – 40

Hitung jenis Monosit 7 2 – 8

Kimia Darah

Item periksa Hasil

Pemeriksaan

Nilai Normal Satuan

Gula darah sesaat 85 <105 mg/dl

Cholesterol total 172 123 – 240 mg/dl

Trigliserida 136 30 – 150 mg/dl

Ureum/urea 15 15 – 39 mg/dl

Creatinin 0,7 <1,3 mg/dl

Uric acid/asam urat 2,3 2,6-7,2 mg/dl

Bilirubin total dewasa 0,76 <1,0 mg/dl

Bilirubin direct 0,33 <0,20 mg/dl

Bilirubin indirect 0,43 <0,80 mg/dl

SGOT 20 <40 u/L

SGPT 15 <41 u/L

Albumin 3,71 2,8-4,8 g/dl

Urinalisis

Item periksa Hasil

Pemeriksaan

Nilai Normal Satuan

Warna Kuning jernih

Albumin negatif negatif

Reduksi negatif negatif

Bilirubin negatif negatif

Urobilin negatif negatif

Page 9: IPD kolesistitis

9

Keton negatif negatif

Nitrit negatif negatif

Erytrosit 0-1 0-2 /LPB

Leukosit 0-1 0-4 /LPB

Epithel 0-1 0-1 /LPB

Kristal negatif

Bakteri negatif

Serologi

Thypi O NEGATIVE

Thypi H NEGATIVE

Parathypi OA NEGATIVE

Parathypi OB (+)1/80

F. RESUME

Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri didaerah perut

kanan sejak sore tadi, nyeri terus menerus seperti ditusuk-tusuk. Pasien juga

mengeluh mual (+), nafsu makan menurun, demam(+). Dari pemeriksaan

fisik pasien didapatkan keadaan umum tampak lemah, compos mentis, status

gizi kesan cukup. Tanda vital T:130/80 mmHg, N: 80x/menit, S: 38oC, RR :

20x/menit. Status lokalis abdomen nyeri tekan bagian kanan. Dari

pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan leukosit, neutrofil segmen,

dan parathypi OB dan penurunan limfosit dan asam urat, serta didapatkan

gambaran batu ginjal pada pemeriksaan USG abdomen.

G. DIAGNOSA KERJA

Cholelhitiasis

Cholesistitis

H. DIAGNOSA BANDING

Apendisitis

Kolitis

Page 10: IPD kolesistitis

10

I. PENATALAKSANAAN

Non medika mentosa

promotif yaitu edukasi pada pasien dan keluarga untuk kontrol rutin ke

dokter, preventif menjaga pola makan,

Medikamentosa

Tanggal 21-11-2012

Infus RA 20 tpm

Inj. Terfacet 2 x 1 g iv

Inj. Ladex 500 3 x 1

Inj. Norages 3 k/p

p.o urdahex 250 2 x 1

PLANNING DIAGNOSA

Cek DL, UL,

USG abdomen

B. FOLLOW UP

Tanggal 21 November 2012

S : pusing

O : KU cukup, kesadaran: CM, BP: 130/80mmHg, N: 80x/menit S:

38°C.

Abdomen : nyeri tekan (+),

A : MTS

P : Infus RA 20 tpm

Inj. Terfacet 2 x 1 g iv

Inj. Ladex 500 3 x 1

Inj. Norages 3 k/p

p.o urdahex 250 2 x 1

Tanggal 22 November 2012

S : nyeri (+)

Page 11: IPD kolesistitis

11

O : KU cukup, kesadaran: CM, GCS: 456 T: 110/80, N: 80, S: 38°C.

Abdomen : nyeri tekan (+),

A : MTS

P : Infus RA 20 tpm

Inj. Terfacet 2 x 1 g iv

Inj. Ladex 500 3 x 1

Inj. Norages 3 k/p

p.o urdahex 250 2 x 1

C. FLOW SHEET

No. Tanggal Vital Sign Status

Lokalis

Keluhan Rencana

1. 21-11-

20112

T : 130/80

S : 38oC

N : 80x/m

Abd : nyeri

tekan (+),

panas (+),

perut sakit

(±), mual

(+),

Terapi

medikamentosa

dilanjutkan

2. 22-11-

2012

T : 110/80

S : 38oC

N : 80x/m

Abd :

nyeri tekan

(+)

panas (+),

perut sakit

(±), mual

(-)

Terapi

medikamentosa

dilanjutkan,

J. DIAGNOSTIK HOLISTIK

1. Diagnosis dari Segi Biologis

Cholelhitiasis

Cholesistitis

2. Diagnosis dari Segi Psikologis

Hubungan dengan keluarga baik, pasien memiliki 1 istri dengan 3 anak.

Page 12: IPD kolesistitis

12

3. Diagnosis dari Segi Sosial

Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat,

hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Hubungan pasien dengan masyarakat

sekitar baik, pasien aktif dalam beberapa kegiatan.

1. Aspek Personal

Keluhan utama : nyeri perut.

Harapan : ingin cepat sembuh

Kekhawatiran : penyakitnya bertambah parah, dan tidak sembuh-

sembuh

2. Aspek Klinis

Cholelitiasis

3. Aspek Resiko Internal

Laki-laki, jarang olahraga, suka makan jeroan, pengetahuan pasien

tentang penyakitnya kurang.

4. Aspek Resiko Ekternal

Hubungan dengan masyarakat baik. Aktif dalam berbagai kegiatan.

Hubungan keluarga dalam satu rumah terjalin dengan baik.

5. Aspek Fungsional

Derajat fungsionalnya dengan score 1 karena pasien mampu melakukan

pekerjaan seperti sebelum sakit.

Page 13: IPD kolesistitis

13

BAB II

IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI DALAM KELUARGA

A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Tn.D

Alamat Lengkap : Malang

Bentuk Keluarga : nuclear family

Daftar Anggota Keluarga

No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien

Klinik

Ket.

1. Tn. D Suami

(kepala

keluarga)

L 40 thn SMA Wiraswasta Ya Cholelithiasis

2. Ny. S Istri P 39 thn SMA Wiraswasta Tidak sehat

3. An.A Anak P 18 thn SMA Pelajar Tidak sehat

5. An.N Anak L 11 thn SD Pelajar Tidak sehat

6. An.R Anak P 6 thn TK Pelajar Tidak sehat

B. FUNGSI HOLISTIK

1. Fungsi Biologis : Keluarga terdiri dari pasien (Tn.D 40 tahun), 1 istri

dengan 3 anak. Diagnosis klinis Tn.D adalah

cholelithiasis.

2. Fungsi Psikologis :

Hubungan keluarga terjalin dengan baik, pasien mempunyai 1

istri dengan 3 anak. Interaksi dan komunikasi terjalin dengan

baik antara orang tua dan anak.

3. Fungsi Sosial :

Hubungan pasien dengan masyarakat sekitar baik, pasien aktif

dalam beberapa kegiatan.

Kesimpulan : Fungsi holistik keluarga Tn.D baik.

Page 14: IPD kolesistitis

14

B. FUNGSI FISIOLOGIS

ADAPTATION

Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota

keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota

keluarga yang lain.

PARTNERSHIP

Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara

anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga

tersebut.

GROWTH

Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan

anggota keluarga tersebut.

AFFECTION

Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota

keluarga.

RESOLVE

Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu

yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

APGAR Terhadap Keluarga Tn.D

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga

saya bila saya menghadapi masalah

2

P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan

membagi masalah dengan saya

2

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan

mendukung keinginan saya untuk melakukan

kegiatan baru atau arah hidup yang baru

2

A Saya puas dengan cara keluarga saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon

emosi saya seperti kemarahan, perhatian, dll

2

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya

membagi waktu bersama-sama

2

SKOR 10

Page 15: IPD kolesistitis

15

APGAR skor = Fungsi fisiologis keluarga baik

Keterangan :

Skoring :

Hampir selalu : 2 poin

Kadang – kadang : 1 poin

Hampir tak pernah : 0 poin

Total APGAR score keluarga Tn.D adalah = (10)

Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Tn.D baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS DENGAN ALAT SCREEM

SCREEM

SUMBER PATHOLOGY KET

Social Tn.D berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya -

Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat

dari sikap pasien dan keluarga yang menghargai adat istiadat.

-

Religius Pemahaman terhadap ajaran agama baik, demikian juga dalam

ketaatannya dalam beribadah dan pasien sering mengikuti

kegiatan keagamaan.

-

Economy Menengah ke atas -

Education Tn.D lulusan SMA, namun tingkat pemahaman tentang

kesehatanya kurang.

+

Medical Jika sakit pergi ke pelayanan kesehatan terdekat -

Kesimpulan : fungsi patologis pada keluarga ini terletak pada fungsi

education.

Page 16: IPD kolesistitis

16

D. GENOGRAM :

Bentuk Keluarga : nuclear Family

Keterangan :

: pasien

: perempuan

: laki-laki

E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

Pola interaksi keluarga Tn.M

Keterangan :

: Hubungan baik

Kesimpulan :

Hubungan antara anggota keluarga di keluarga ini baik

Page 17: IPD kolesistitis

17

BAB III

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU

KELUARGA

1. Faktor Perilaku Keluarga

a. Pengetahuan

Keluarga kurang memahami kesehatan penderita.

b. Sikap

Keluarga ini peduli terhadap kesehatan penderita

c. Tindakan

keluarga membawa Tn.D ke pelayanan kesehatan terdekat

2. Faktor Non Perilaku

a. Lingkungan

Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memenuhi standar

kesehatan. Kebersihan lingkungan terjaga dengan baik dengan

pencahayaan ruangan dan ventilasi rumah yang cukup memadai.

Untuk kebutuhan air sehari-hari diperoleh dari PDAM

b. Keturunan

tidak ada faktor keturunan.

c. Pelayanan Kesehatan

Keluarga Tn.D biasanya pergi kerumah sakit sebagai sarana untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan.

Page 18: IPD kolesistitis

18

Kesimpulan :

Faktor perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan Tn.D karena pengetahuan keluarga tentang kesehatan sudah baik terutama tentang penyakit yang diderita.

Faktor non-perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan Tn.D.

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH

Lingkungan Luar Rumah

Keluarga tinggal di rumah berukuran ±56 m2 yang berdempetan

disebuah perampungan. Memiliki pekarangan rumah dan terdapat pagar

pembatas. Saluran pembuangan limbah sudah tersalur ke got. Pembuangan

sampah di rumah diangkut oleh petugas kebersihan.

Lingkungan Dalam Rumah

Dinding rumah terbuat dari batu bata yang di cat, sedangkan lantai

rumah sudah menggunakan keramik. Rumah ini terdiri dari Lima ruangan

yaitu ruang tamu, 4 kamar tidur, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah ini

hanya mempunyai satu pintu untuk keluar masuk (di bagian depan) serta dua

jendela kaca. Keluarga ini sudah mempunyai fasilitas MCK keluarga dan

fasilitas air dari PDAM. Ventilasi udara cukup baik karena terdapat jendela

pada tiap ruangan.

Faktor Perilaku

Keluarga Tn.DKeluarga Tn.D

Sikap: keluarga sudah peduli terhadap

penyakit penderita

Lingkungan : rumah cukup memenuhi syarat

kesehatan

Tindakan: keluarga ikut mengantarkan

Tn.D untuk berobat

Faktor Non Perilaku

Pemahaman: keluarga memahami penyakit penderita

Keturunan : Tidak ada faktor keturunan

Pelayanan Kesehatan : Jika sakit ke dokter

praktek

Page 19: IPD kolesistitis

19

Denah Rumah Tn.D

Keterangan :

Indoor- Luas rumah 56 m2.

- Lantai sudah menggunakan keramik.

- Pencahayaan dan ventilasi baik.

Outdoor- Sumber air bersih dari PDAM.

- Saluran pembuangan air langsung menuju selokan.

- Saluran jamban menuju septic tank.

kamar

kamar

Kamar

kamar

Ruang Keluarga + Tamu

7 m U

Kamar mandi

8m

Dapur

Kamar mandi

Page 20: IPD kolesistitis

20

BAB IV

DAFTAR MASALAH

A. MASALAH MEDIS :

a. Cholesistitis

B. MASALAH NON MEDIS :

1. Rendahnya tingkat pengetahuan kesehatan

2. Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang

C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

2. Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang

Tn.DKolesistitis

1. Rendahnya pengetahuan tentang

kesehatan

Page 21: IPD kolesistitis

21

BAB V

KOLESISTITIS

Definisi dan Epidemiologi

Kolesistitis adalah inflamasi akut dan kronis dari kandung empedu,

biasanya berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus

sistikus dan menyebabkan distensi kandung empedu. Kasus kolesistitis ditemukan

pada sekitar 10% populasi, sekitar 90% kasus berkaitan dengan batu empedu,

sedangkan 10% sisnya tidak. Kasus minorotas yang disebut juga dengan istilah

acalculous cholecystitis ini, biasanya berkitan dengan pasca bedah umum, cedera

berat, sepsis (infeksi berat). Individu yang beresiko terkena kolesistitis adalah

jenis kelamin wanita, umur tua, obesitas, obat-obatan kehamilan, dan suku bangsa

tertentu.

Kolelitiasis adalah terdapatnya batu dalam kandung empedu. Kedua

penyakit diatas dapat terjadi sendiri saja, tapi sering kali dijumpai bersamaan

karena saling berkaitan. Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut

memiliki batu empedu.

Batu empedu yang menyumbat saluran empedu akan membuat kandung

empedu meregang, sehingga aliran darah dan getah bening akan berubah,

terjadilah kekurangan oksigen dan kematian jaringan empedu. Sedangkan kasus

tanpa batu empedu, kolesistitis lebih disebabkan oleh faktor keracunan empedu

(endotoksin) yang membuat garam empedu tidak dapat dikeluarkan dari kandung

empedu.

Page 22: IPD kolesistitis

22

Anatomi dan Fisiologi

Anatomi

Kandung empedu (vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang

terletak pada permukaan visceral hepar. Vesica fellea dibagi menjadi fundus,

corpus, dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah

pinggir inferior hepar, dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior

abdomen setinggi ujung costa IX kanan. Corpus merupakan bagian terbesar dari

kandung empedu. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hepar dan

arahnya keatas, belakang, dan kiri. Collum adalah bagian yang sempit dari

kandung empedu. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan

dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis

membentuk duktus koledokus. Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea

dengan sempurna menghubungkan corpus dan collum permukaan viscera hati.

Pembuluh arteri kandung empedu adalah A. cystica cabang A. hepatica

kanan. V. cystic mengalirkan darah langsung ke vena porta. Sejumlah arteri yang

sangat kecil dan vena-vena juga berjalan antara hati dan kandung empedu.

Pembuluh limfe berjalan menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak

dekat collum vesic fellea. Disini pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici

hepaticum sepanjang perjalanan A. hepatica menuju ke nodi lymphatici coeliacus.

Saraf yang menuju ke kandung empedu berasal dari plexus coeliacus.

Variasi anatomi misalnya double folded atau double twisted sangat sering

ditemukan, juga kandung empedu yang besar, non obstruktif, sering dijumpai

pada penderita alkoholisme atau diabetes mellitus.

Page 23: IPD kolesistitis

23

Fisiologi

Vesica fellea berperan sebagai reservoir empedu dengan kapasitas sekitar

50ml. vesica fellea memiliki kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk

membantu proses ini, mukosanya memiliki lipatan-lipatan yang satu sama lain

saling berhubungan. Sehingga permukaannya tampak seperti sarang tawon. Sel-

sel thorak membatasinya juga mempunyai banyak mikrofili

Empedu dibentuk oleh sel-sl hati yang ditampung di dalam kanalikuli.

Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum

interlobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan

dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran

ini sebelum mencapai duodenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu

duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum

disalurkan ke duodenum.

Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan

absorbs air dan natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang

kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi

volumenya 80-90%.

Menurut Guyton & Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu :

a. Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorbsi lemak,

karena asam empedu melakuakn dua hal antara lain: asam empedu membantu

mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang

lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah

pankreas. Asam empedu membantu transport dan absorbsi produk akir lemak

yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal.

b. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk

buangan yang penting dari darah, antara bilirubin, suatu produk akhir dari

penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang dibentuk oleh sel-

sel hati.

Pengosongan Kandung Empedu

Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial

kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak ke

Page 24: IPD kolesistitis

24

dalam duodenum. Lemak meyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari

mukosa duodenum, hormone kemudian masuk dalam darah, menyebabkan

kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot polos yang terletak pada

ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan

masuknya emepdu yang kental ke dalam duodenum. Garam-garam empedu dalam

cairan emepdu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu

pencernaan dan absorbs lemak.

Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu:

1. Hormonal

Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan

merangsang mukosa sehingga hormone cholecystokinin akan terlpas.

Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung

empedu.

2. Neurogen:

- Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase cephalik dari sekresi

cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan

menyebabkan kontraksi dari kandung empedu

- Rangsangan langsung dari mkanan yang masuk sampai ke duodenum

dan mengenai Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana

kandung empedu akan tetap keluar walaupun sedikit.

Pengosongan empedu yang lambat akibat gangguan hormonal mauapun

neurologis memegang peran penting dalam perkembangan inti batu.

Komposisi Cairan Empedu

Komponen Dari hati Dari kandung empedu

Air

Garam empedu

Bilirubin

Kolesterol

Asam lemak

Lecithin

Elektrolit

97,5 gm%

1,1 gm%

0,04 gm%

0,1 gm%

0,12 mg%

0,04 mg%

-

95 mg%

6 mg%

0,3 mg%

0,3-0,9 mg%

0,3-1,2 mg%

0,3 mg%

-

Page 25: IPD kolesistitis

25

Garam empedu

Asam empedu berasal dari kolesterol. Asam empedu dari hati ada dua

macam yaitu: Asam Deoxcycholat dan Asam Cholat.

Fungsi garam empedu adalah :

- Menurunkan tegangan permukaan dari partikel lemak yang terdapat

dalam makanan, sehingga partikel lemak yang besar dapat dipecah

menjadi partikel-partikel kecil untuk dapat dicerna lebih lanjut.

- Membantu absorbsi lemak, monoglycerid, kolesterol, dan vitamin yang

larut dalam lemak.

Garam empedu yang masuk ke dalam lumen usus oleh kerja kuman-

kuman usus diubah menjadi deoxycholat dan lithocholat. Sebagian besar

(90%) garam empedu dalam lumen usus akan diabsorbsi kembali oleh

mukosa usus sedangkan sisanya akan dikeluarkan bersama feses dalam

bentuk lithocholat. Absorbsi garam empedu tersebut terjadi di segmen

distal dari ilium. Sehingga bila ada gangguan pada daerah tersebut

misalnya oleh karena radang atau reseksi maka absorbsi garam empedu

akan terganggu.

Kolesistitis

1. Kolesistitis akut

A. Pengertian

Radang kandung empedu (kolesistitis akut) adalah reaksi inflamasi akut

dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri

tekan, dan demam.

B. Etiologi dan Patogenesis

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah

statis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu.

Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang

terletak di duktus sistikus yang menyebabkan statis cairan empedu, sedangkan

sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut

alkalkulus). Bagaimana statis di duktus sistikus dapat menyebabkan

Page 26: IPD kolesistitis

26

kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang

berpengaruh, seperti kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, dan

prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti

oleh reaksi inflamasi dan supurasi.

Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup

lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan

kandung empedu, batu disaluran emepdu, atau merupakan salah satu

komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes mellitus.

C. Gejala klinis

Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik

perut disebelah kanan atas epigastrium dan nyeri tekan serta kenaikan suhu

tubuh. Kadang-kadang rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan

dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya keluhan

sangat bervariasi tergantung dari adanya kelaianan inflamasi ringan sampai

dengan gangrene atau perforasi kandung empedu. Penderita kadang menderita

demam, mual, dan muntah. Pada orang lanjut usia, demam sering kali tidak

begitu nyata dan nyeri lebih terlokalisasi hanya pada perut kanan atas.

D. Pemeriksaan fisik

Teraba masa kandung empedu, nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis

lokal (Murphy sign).

E. Laboratorium

Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin

<4,0mg/dl). Apabila konsentrasi bilirubin tinggi, perludiperkirakan adanya

batu disaluran empedu ekstrahepatik.

Leukositosis .

Peningkatan enzim-enzim hati (SGOT,SGPT,alkali fosfatase,dan

bilirubin).

Peninggian transaminase dan fosfatase alkali.

F. Radiologi

Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran kolesistitis

akut. Hanya pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat batu tidak

Page 27: IPD kolesistitis

27

tembus pandang (radioopak) oleh karena mengandung kalsium cukup

banyak.

Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung

empedu bila ada obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat

untuk kolesistitis akut.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan secara rutin dan

sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding

kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstrahepatik. Nilai kepekaan

dan ketepatan USG mencapai 90-95%.

Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau

99nTc6 Iminodiacetic acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah dari USG

tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledukus tanpa

adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral

atau scintigrafi sangat menyokong kolesititis akut.

CT scan abdomen kurang sensitive dan mahal tapi mampu

memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang

mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG.

Kolangiografi transhepatik perkutaneos : pembedahan gambaran dengan

fluroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker pancreas (bila

ikterik ada).

MRI

G. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari pemeriksaan

tertentu. Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu

dalam kandung empedu, dan cairan peradangan disekitar empedu. ERCP

(endoscopic retrograde cholangiopancreatography) juga dapat dilakukan untuk

melihat anatomi saluran empedu, sekaligus untuk mengangkat batu apabila

memungkinkan.

Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi

hepatobilier, yang memberikan gambaran dari hati, saluran empedu, kandung

empedu dan bagian atas usus halus.

Page 28: IPD kolesistitis

28

H. Penatalaksanaan

Penderita dengan kolesistitis akut pada umumnya dirawat dirumah sakit,

diberikan cairan dan elektrolit intravena dan tidak diperbolehkan makan

mupun minum. Mungkin akan dipasang pipa nasogastrik untuk menjaga agar

lambung tetap kosong sehingga mengurangi rangsangan terhadap kandung

empedu. Antibiotik diberikan sesegera mungkin dicurigai kolesistitis akut.

Jika diagnosis sudah pasti dan resikonya kecil, biasanya dilakukan

pembedahan untuk mengangkat kandung empedu pada hari pertama atau

kedua. Jika penderita memiliki penyakit lainnya yang meningkatkan resiko

pembedahan, operasi ditunda dan dilakkan pengobatan terhadap penyakitnya.

Jika serangan mereda, kandung empedu bisa diangkat 6 minggu kemudian

atau lebih. Jika terdapat komplikasi (misalnya abses, gangren, atau perforasi

kandung empedu), diperlukan pembedahan segera.

Sebgian kecil penderita akan merasakan episode nyeri yang baru atau

berulang, yang menyerupai serangan kandung empedu, meskipun sudah tidak

memiliki kandung empedu. Penyebab terjadinya episode ini tidak diketahui,

tetapi mungkin merupakan akibt dari fungsi sfingter oddi yang abrnormal.

Sfingter Oddi adalah lubang yang mengatur pengaliran empedu kedalam usus

halus. Rasa nyeri ini mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan didalam

saluran yang disebabkan oleh penahanan aliran empedu atau sekresi pankreas.

Untuk melebarkan sfingter Oddi dapat menggunakan endoskopi. Hal ini

biasanya akan mengurangi gejala pada penderita yang memiliki kelainan

sfingter, tapi tidak akan membantu penderita yang memiliki nyeri tanpa

disertai kelaianan pada sfingter.

I. Prognosis

Penyembuhan spontan didapatkan 85% kasus, sekalipun kandung empedu

menjadi tebal, fibrotic, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidak

jarang menjadi kolesititis rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut

berkembang secara cepat menjadi gangren, empiema, dan perforasi kandung

empedu, fistel, abses hati atau peritonitis umum. Hal ini dapat dicegah dengan

pemberian antibiotic yang adekuat pada awal serangan. Tindakan bedah akut

Page 29: IPD kolesistitis

29

pada pasien tua (>75tahun) memiliki prognosis jelek disamping kemungkinan

timbul komplikasi pasca bedah.

2. Kolesistitis kronik

Kolesistits kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat

hubungannya dengan litiasis dan lebih sering timbulnya perlahan-lahan.

A. Pengertian

Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung

empedu, yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam

dan hebat.

B. Etiologi

Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,

yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan

penciutan kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu

menampung empedu.

Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya

meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor resiko terjadinya kolesistitis

kronis adalah adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.

C. Gejala klinis

Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejalanya

sangat minimal dan tidak menonjol, seperti dyspepsia, rasa penuh di

epigastrium, dan nausea khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi,

yang kadang-kadang hilang setelah bersendawa.

D. Radiologi

Kolesistografi oral, ultrasonografi, dan kolangiografi dapat

memperlihatkan kolelitiasis dan afungsi kandung emepdu. Pada USG,

dinding menjadi sangat tebal dan eko cairan lebih terlihat hiperekoik.

Sering terdapat pada kolesistitis kronik lanjut dimana kandung empedu

susah mengisut. Kadang-kadang hanya eko batunya saja yang terlihat.

Endoskopi retrograde choledochopancreaticography (ERCP) sangat

bermanfaat untuk memperlihatkan adanya batu di kandung empedu dan

duktus koledokus.

Page 30: IPD kolesistitis

30

Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik): menyatakan batu pada sistem

empedu.

CT scan: dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatsi duktus empedu,

dan membedakan antara ikterik obstruksi / non obstruksi.

MRI

E. Diagnosis

Diagnosis kolesistits kronik sering sulit ditegakkan. Riwayat penyakit batu

kandung empedu di keluarga, ikterus dan kolik berulang, nyeri local di daerah

kandung empedu disertai tanda Murphy positif dapat menyokong

menegakkan diagnosis.

F. Penatalaksanaan

Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan. Kolesistektomi bisa

dilakukan melalui pembedahan perut maupun laparoskopi. Penderita yang

memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya, dianjurkan

untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan. Bisa

diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik.

G. Pencegahan

Seorang yang pernah mangalami serangan kolesistitis akut dan kandung

empedunya belum diangkat, sebaiknya mengurangi asupan lemak dan

menurunkan berat badannya.

Page 31: IPD kolesistitis

31

BAB VI

I. KESIMPULAN HOLISTIK

Diagnosis Holistik:

Tn.D usia 40 tahun datang dengan mengeluh nyeri perut. Tn.D tinggal

dalam bentuk keluarga nuclear family. Hubungan Tn.D dengan

keluarganya harmonis. Tn.D adalah anggota masyarakat biasa dalam

kehidupan kemasyarakatan.

1. Diagnosis dari segi biologis:

Cholesistitis

2. Diagnosis dari segi psikologis:

Hubungan Tn.D dengan keluarganya harmonis.

3. Diagnosis dari segi sosial:

Hubungan mereka dengan anggota masyarakat yang lain (tetangga) baik.

Aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan di rumahnya.

Page 32: IPD kolesistitis

32

DAFTAR PUSTAKA

Rasad, Sjahriar. 2010. Radilogi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia

Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes : Radiologi Edisi Kedua.

(diterjemahkan oleh penerbit Erlangga), Jakarta : Penerbit Erlangga

Richard S. Snell. 2002. Anatomi Klinik. Edisi Ketiga. Jakarta : EGC

Sudoyo, Aru W dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi

Kelima. Jakarta ; Interna publishing

Sherlock S, Dooley J. 1993. Disease of the liver and biliary sistem 9 th.

London : Blackwell Scientific Publication

Sjamsuhidajat R, Wim de jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta :

EGC