refkas pterygium 1.docx

Download refkas pterygium 1.docx

Post on 30-Oct-2015

120 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fsfs

TRANSCRIPT

OD PTERIGIUM SIMPLEK GRADE 3 DISERTAI ODS KATARAK IMATUR

REFLEKSI KASUS

Disusun Guna memenuhi Syarat Salah Satu Tugas Formatif Kepanitraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Mata RST Dr. Soejono Magelang

Disusun Oleh :Ady Try Himawan Zen01208581Pembimbingdr. Dwidjo Pratiknjo, SpMdr. Hari Trilunggono, SpM

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATAFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG2012

BAB ISTATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIENNama lengkap: Ny. SAUmur: 60 tahunJenis Kelamin: PerempuanAgama: IslamPekerjaan: PetaniAlamat: Ds. Ngadirejo 14/06 Secang MagelangNo. RM: 075464Tanggal pemeriksaan: 8 Oktober 2012

II. ANAMNESISDilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 8 Oktober 2012 jam 10.30.

Keluhan Utama: Mata Kanan terasa ngganjel, gatal, dan perih disertai pandangan penglihatan kurang jelas.

Riwayat Penyakit Sekarang:Pasien datang dengan keluhan mata kanan ngganjel, gatal, perih dan pandangan kedua mata kurang jelas. Pasien juga mengeluhkan kadang-kadang mata merah dan berair. Sekitar +1 tahun yang lalu, pasien merasa timbul benjolan seperti daging tumbuh berwarna putih di mata sebelah kanan dan benjolan tersebut dirasakan semakin lama semakin besar. Pasien adalah seorang petani, pasien mengaku jarang menggunakan topi dan tidak pernah menggunakan kacamata saat bekerja di sawah. Oleh karena pasien sering terpapar angin dan debu, pasien sering kali merasa ada sesuatu yang masuk ke matanya. Sebelumnya penderita belum pernah menggunakan kacamata untuk memperbaiki penglihatannya. Baik saat malam maupun siang hari penglihatannya tetap saja tidak terlalu jelas. Sebelumnya penderita pernah memeriksakan gejala tersebut ke dokter dan diberikan obat namun hasilnya kurang begitu memuaskan. Karena dirasakan sangat mengganggu aktifitas kemudian pasien datang ke poli mata RST Magelang untuk memeriksakan diri.Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat terpapar sinar matahari terus menerus, angin dan debu (+) Riwayat penyakit mata disangkal Riwayat penyakit gula (DM) disangkal Riwayat darah tinggi (hipertensi) disangkal Riwayat memakai kacamata disangkal Riwayat Operasi yang berhubungan dengan mata disangkal Riwayat kelainan mata sejak lahir disangkal Riwayat adanya trauma pada mata seperti mata terkena bahan-bahan kimia, terbentur benda tumpul atau benda tajam disangkalRiwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita sakit seperti pasienRiwayat Sosial Ekonomi: Pasien adalah seorang petani. Biaya pengobatan ditanggung Jamkesmas. Kesan ekonomi kurang.

III. PEMERIKSAAN FISIKA. STATUS GENERALISKeadaan Umum: BaikKesadaran: ComposmentisTanda VitalTekanan Darah: 140/80 mmHgNadi: 70 kali/menitPernapasan: 24 kali/menitSuhu: 36C Status gizi: Baik

B. STATUS OFTALMOLOGIGambar: OD OS

1

332Keterangan: 1. OD Injeksi konjungtiva (+)2. OD pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva berwarna putih, di nasal, bentuk segitiga, puncak ke arah kornea.3. ODS kekeruhan pada lensa

OCULUS DEXTER (OD)PEMERIKSAANOCULUS SINISTER (OS)

6/20 S-1,50 6/12Visus6/15 S-1,25 6/12

NBCKoreksiNBC

Gerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-)Bulbus okuliGerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-)

Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-),blefarospasme (-), lagoftalmus (-),ektropion (-),entropion (-)

PalpebraEdema (-), hiperemis(-), nyeri tekan (-), blefarospasme (-), lagoftalmus (-),ektropion (-),entropion (-)

Edema (-), injeksi konjungtiva (+), bangunan patologis (+) penonjolan jaringan ikat bentuk segitiga, infiltrat (-)KonjungtivaEdema (-),injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-), bangunan patologis (-), infiltrat (-)

Warna putih dan tidak ikterikSkleraWarna putih dan tidak ikterik

Bulat, edema (-), infiltrat (-), sikatriks (-)KorneaBulat, edema (-), infiltrat (-), sikatriks (-)

Jernih, kedalaman cukup, hipopion (-), hifema (-)Camera Oculi Anterior (COA)Jernih, kedalaman cukup, hipopion (-), hifema (-)

Kripta (+), warna coklat, edema (-), sinekia (-), atrofi (-), iris shadow (+)IrisKripta (+), warna coklat, edema (-), sinekia (-), atrofi (-), iris shadow (+)

Reguler, letak sentral, diameter: 3mm, refleks pupil L/TL: +/+PupilReguler, letak sentral, diameter: 3mm, refleks pupil L/TL: +/+

Keruh LensaKeruh

Tidak dapat dinilaiVitreusTidak dapat dinilai

Tidak dapat dinilaiRetinaTidak dapat dinilai

+ (Suram)Fundus Refleks+ (Suram)

Tidak dilakukanTIOTidak dilakukan

Epifora (-),lakrimasi (+)Sistem LakrimasiEpifora (-),lakrimasi (-)

V. DIAGNOSA DIFFERENSIALOCULUS DEXTER (OD)OCULUS SINISTER (OS)

i. OD pterigium simpleksii. OD pseudopterigium iii. OD pannusiv. OD pinguekula

i. OD Katarak Imaturii. OD Katarak Matur

i. OS Katarak Imaturii. OS Katarak Matur

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG1. Pemeriksaan Laboratoriuma. Pemeriksaan Darah Lengkapb. Pemeriksaan GDS, GDP, GDPPVII. DIAGNOSA KERJAOD pterigium simpleks grade 3Dasar diagnosis: OD jaringan Fibrovaskuler menjalar dari nasal ke arah temporal, bentuk segitiga, puncak ke arah kornea, warna lebih merah dibanding jaringan sekitarnya. Jaringan fibrovaskuler menjalar hingga melebihi 2 mm dari kornea namun belum menutupi pupil. OD Injeksi konjungtiva (+), OD lakrimasi (+), Riwayat terpapar debu, angin, sinar matahari terus menerus (+)ODS katarak imaturDasar diagnosis: Terdapat kekeruhan pada sebagian besar lensa dan terjadi pembengkakan lensa sehingga iris terdorong kedepan dan COA menjadi dangkal. Hasil iris shadow test (+). Pada stadium ini terjadi miopisasi akibat lensa mata menjadi cembung hal ini ditandai dengan penderita dapat melihat dengan lebih jelas saat dipakaikan S (-). VIII. TERAPIa. Terapi medikamentosa Inmatrol ED BT IS 3 dd gtt I ODS. Ciprofloxacin 500mg S 2 dd tab 1 Neurodex tabS 1 dd tab 1b. Terapi operatifa. Bare Sklerab. Mc Reynold Opperationc. Amnion Graft / Konjungtiva Graftd. Fibrin Tissue Adhesive (GLUE)e. EKEKf. EKIKg. FACOIX. PROGNOSIS OCULUS DEXTER (OD) OCULUS SINISTER (OS)Quo Ad Visam:Dubia Ad bonamDubia Ad bonamQuo Ad Sanam:Dubia Ad bonamDubia Ad bonamQuo Ad Functionam: Ad bonam Ad bonam Quo Ad Kosmetikam:Ad bonam Ad bonamQuo Ad Vitam:Ad bonamAd bonam

X. USUL DAN SARAN Pasien sebaiknya menggunakan topi dan kacamata saat bekerja untuk mengurangi paparan terhadap sinar matahari. Pasien disarankan untuk kembali lagi berobat apabila masih terasa gejala-gejala (ngganjel dan sepet) pada mata kanan. Memotivasi pasien untuk dilakukan ekstirpasi pterygium. Berikan penjelasan bahwa pada Katarak tidak ada jalan lain selain Operasi agar dapat membantu dalam perbaikan penglihatan kembali. Obat-obatan hanya diberikan sementara untuk mengurangi gejala-gejala yang ada tanpa membantu dalam perbaikan penglihatan kembali.

XI. KOMPLIKASIa. Sebelum operasii. Penurunan penglihatanii. Kemerahan pada mataiii. Iritasiiv. Diplopiab. Setelah operasii. Sikatrik pada korneaii. Pengeringan fokal kornea mata (hal ini sangat jarang terjadi)iii. Infeksiiv. Reaksi material jahitanv. Diplopiavi. Komplikasi yang jarang terjadi, meliputi: perforasi bola mata, perdarahan vitreus atau retinal detachment.XII. RUJUKANDalam kasus ini tidak dilakukan Rujukan ke Disiplin Ilmu Kedokteran Lainnya, karena dari pemeriksaan klinis dan laboratorium tidak ditemukan kelainan yang berkaitan dengan Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISIPterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterygium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterygium akan berwarna merah. Pterygium dapat mengenai kedua mata (Ilyas, 2009).Pterygium merupakan konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan penebalan, berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke dalam kornea, dengan puncak segitiganya di kornea, kaya akan pembuluh darah yang menuju ke arah puncak Pterygium. Kebanyakan Pterygium ditemukan di bagian nasal, dan bilateral. Pada kornea penjalaran Pterygium mengakibatkan kerusakan epitel kornea dan membran Bowman (Perdami, 2002).

B. EPIDEMIOLOGIUmumnya terjadi pada usia 20-30 tahun pada daerah yang beriklim tropis. Di seluruh dunia, terdapat penurunan insidensi pada daerah bagian atas lintang utara dan relatif terjadi peningkatan di bawah garis lintang utara. Hubungan ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya meningkat yaitu daerah-daerah elevasi yang terkena penyinaran ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini (Juliansyah, 2009).

C. ETIOLOGIPterygium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi (Ilyas, 2009).

D. FAKTOR RISIKOFaktor risiko yang mempengaruhi antara lain : 1. Usia Prevalensi Pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa, tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak (Hamurwono et al., 1984). Tan berpendapat Pterygium terbanyak pada usia 2 dekade dua dan tiga (Tan, 2002). Di RSUD AA tahun 2003-2005 didapatkan usia terbanyak 31 40 tahun, yaitu 27,20%.2. Pekerjaan Pertumbuhan Pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV (Raihana, 2007).3. Tempat tinggal Gambaran yang paling mencolok dari Pterygium adalah distribusi geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian Pterygium yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama kehidupannya pada garis lintang kurang da