preskes peb-obsgyn

Download preskes PEB-OBSGYN

Post on 07-Dec-2015

240 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

presentasi kasus

TRANSCRIPT

RESPONSI

Presentasi Kasus

PREEKLAMPSIA BERAT PADA MULTIGRAVIDA HAMIL ATERM DALAM PERSALINAN KALA I FASE AKTIF

Oleh : M. Faiz K. AnwarG99141163M Rama AnshoorieG99141164Dwi Budi N.G99141166Dea Saufika N.G99142056Arwindya GalihG99142063

Pembimbing :Teguh Prakosa, dr., Sp. OG (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGANFAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD Dr. MOEWARDISURAKARTA2015BAB IPENDAHULUAN

Pre eklampsia merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya hipertensi dan proteinuria yang timbul karena kehamilan, sedangkan eklampsia mempunyai gambaran klinik seperti pre eklampsia, biasanya disertai kejang dan penurunan kesadaran (koma). Sampai sekarang etiologi pre eklampsia masih belum diketahui. Setelah perdarahan dan infeksi, pre eklampsia dan eklampsia merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal yang paling tinggi dalam ilmu kebidanan (POGI, 2005; Rustam Mochtar, 1998).Hipertensi Dalam kehamilan (HDK) adalah salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu di samping perdarahan dan infeksi. Pada HDK juga didapatkan angka mortalitas dan morbiditas bayi yang cukup tinggi. Di Indonesia pre eklampsia dan eklampsia merupakan penyebab dari 30-40% kematian perinatal, sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia telah menggeser perdarahan sebagai penyebab kematian maternal utama (Haryono, 2004).Mortalitas maternal pada pre eklampsia disebabkan oleh karena akibat komplikasi dari pre eklampsia dan eklampsianya seperti: Sindroma HELLP, solusio plasenta, hipofibrigonemia, hemolisis, perdarahan otak, gagal ginjal, dekompensasi kordis dengan oedema pulmo dan nekrosis hati. Mortalitas perinatal pada pre eklampsia dan eklampsia disebabkan asfiksia intra uterin, prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intrauterin. Asfiksia terjadi karena adanya gangguan perfusi uteroplasenta akibat vasospasme arteri spiralis (Sarwono, 2002).

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. PRE EKLAMPSIA 1. DefinisiPre eklampsia adalah penyakit hipertensi dan proteinuria yang didapatkan setelah umur kehamilan 20 minggu (POGI, 2005). Pre eklampsia didefinisikan sebagai penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini terjadi pada triwulan ke 3 kehamilan tetapi dapat juga terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa (Sarwono, 2002).Pada kasus yang diabaikan atau yang lebih jarang terjadi, pada kasus hipertensi karena kehamilan yang fulminan dapat terjadi eklampsia. Bentuk serangan kejangnya ada kejang grand mal dan dapat timbul pertama kali sebelum, selama, atau setelah persalinan. Kejang yang timbul lebih dari 48 jam setelah persalinan lebih besar kemungkinannya disebabkan lesi lain yang bukan terdapat pada susunan saraf pusat (Cunningham, et al., 1995).Eklampsia yang terjadi dalam kehamilan menyebabkan kelainan pada susunan saraf. Penyebab eklampsia adalah kurangnya cairan darah ke otak, hipoksik otak atau edema otak (Rustam Mochtar, 1998).PEB dapat menjadi impending eklampsia. Impending eklampsia ditandai dengan adanya hiperrefleksi. Gejala subyektif dari pasien yaitu jika pasien merasa kepalanya pusing, muntah, atau adanya nyeri epigastrik (Turn bull, 1995).

2. EtiologiPenyebab pre eklampsia sampai sekarang belum diketahui pasti. Teori yang dewasa ini dapat dikemukakan sebagai penyebab pre eklampsia ialah iskemia plasenta (Budiono, 1999).Vasospasme merupakan dasar patofisiologi pre eklampsia dan eklampsia. Konsep ini yang pertama kali diajukan oleh Volhard (1918) (Cunningham, et al., 1995).. Namun tetap banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit ini, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan.Sekarang ini tiga hipotesis menempati penyelidikan utama, hipotesis pertama menghubungkan pre eklampsia dengan faktor imunologi (ketidakcocokan berlebihan antara ibu dengan anak), hipotesis kedua menghubungkan sindrom prostalglandin yang menimbulkan ketidakseimbangan diantara vasodilator PG2 dan prostasiklin serta rangkaian vasokonstriktor PGF dan tromboksan, hipotesis ketiga menghubungkan pre eklampsia dengan iskemia uteroplasenta (Neville, et al., 2001).Rupanya tidak hanya satu faktor melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre eklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan seringkali sukar ditentukan mana yang sebab dan mana yang akibat (Sarwono, 2002).

3. PatofisiologiVasokonstriksi merupakan dasar patogenesis pre eklampsia. Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel, kebocoran arteriol disertai perdarahan mikro pada tempat endotel. Selain itu Hubel mengatakan bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi uteroplasenter yang selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksia/ anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu sendiri memerlukan peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan mengganggu metabolisme di dalam sel. Peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang menghasilkan peroksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan, maka akan timbul keadaan yang disebut stess oksidatif.Pada pre eklampsia serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil normal, serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel yang akan mengakibatkan rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut akan mengakibatkan antara lain: (a) adhesi dan agregasi trombosit, (b) gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma, (c) terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin sebagai akibat dari rusaknya trombosit, (d) produksi prostasiklin terhenti, (e) terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan, (f) terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.Gambar 1. Patofisiologi pre eklampsiaPATOLOGI Pre eklampsia ringan jarang sekali menyebabkan kematian ibu. Oleh karena itu, sebagian besar pemeriksaan anatomik-patologik berasal dari penderita eklampsia yang meninggal. Tidak ada perubahan histopatologik yang khas pada pre eklampsia dan eklampsia. Perdarahan, infark, nekrosis dan trombosis pembuluh darah kecil pada penyakit ini dapat ditemukan dalam berbagai alat tubuh. Perubahan tersebut mungkin disebabkan oleh vasospasme arteriola. Penimbunan fibrin dalam pembuluh darah merupakan faktor penting juga dalam patogenesis kelainan-kelainan tersebut.Perubahan patologi anatomiPlasenta: pada pre eklampsia terdapat spasme arteri spiralis desidua mengakibatkan menurunnya aliran darah ke plasenta. Proses penuaan plasenta seperti menipisnya sinsitium, menebalnya dinding pembuluh darah dalam vili karena fibrosis dan konversi mesoderm menjadi jaringan fibrotik, menjadi lebih cepat pada pre eklampsia.Ginjal: organ ini besarnya normal atau dapat membengkak. Pada pre eklampsia terdapat kelainan glomerolus, hiperplasi sel-sel jukstaglomerular, kelainan pada tubulus henle, dan spasme pembuluh darah ke glomerolus. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan proteinuria dan berhubungan dengan retensi garam dan air. Sesudah persalinan berakhir, sebagian besar perubahan yang digambarkan menghilang.Hati: organ ini besarnya normal dengan tempat perdarahan yang tidak teratur. Tidak ada hubungan antara beratnya penyakit pre eklampsia dan luasnya perubahan pada hati.Otak: pada penyakit yang belum lanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri, pada keadaan lanjut dapat ditemukan perdarahan.Retina: kelainan yang ditemukan pada retina ialah spasme pada arteriola dekat diskus optikus. Terlihat edema pada diskus optikus dan retina.Paru-paru: terdapat tanda edema perubahan karena bronkopneumonia sebagai akibat aspirasi. Jantung: pada eklampsia mengalami perubahan degeneratif pada miokardium. Sering ditemukan degenerasi lemak dan cloudy swelling serta nekrosis dan perdarahan.

4. EpidemiologiUntuk tiap negara berbeda karena banyak faktor yang mempengaruhinya; jumlah primigravida, kedaan sosial ekonomi, perbedaan dalam penentuan diagnosa. Dalam kepustakaan frekuensi di lapangan berkisar antara 3-10%.Pada primigravida frekuensi pre eklampsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida terutama primigravida muda, DM tipe I, diabetes gestasional, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, umur lebih dari 35 tahun, obesitas, riwayat pernah eklampsia, hipertensi kronik, dan penyakit ginjal, merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya pre eklampsia (Sarwono, 2002).

5. KlasifikasiPre eklampsia dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :a. Pre eklampsia ringanKriteria diagnostik : Tekanan darah 140/90 mmHg yang diukur pada posisi terlentang; atau kenaikan sistolik 30 mmHg; atau kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam. Proteinuria kuantitatif 0,3 gram/liter; kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau mid stream Oedema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik kecuali anasarka.b. Pre eklampsia beratPre eklampsia digolongkan berat bila terdapat satu atau lebih gejala:1. Tekanan sistole 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastole 110 mmHg atau lebih2. Proteinuria 5 gr atau lebih per jumlah urin selama 24 jam 3. Oliguria, air kencing kurang dari atau sama dengan 400 cc dalam 24 jam. 4. Kenaikan kreatinin serum5. Nyeri di daerah epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen6. Terjadi oedema paru-paru dan sianosis7. Te