case obsgyn aji

Author: adtzjhiey-afpa-aji

Post on 06-Jul-2015

242 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Case Report Stase Obstetri Ginekologi

SEROTINUSPembimbing : dr. Ahmad Sutamat, Sp.OG

Akhmad Fajri Purna Aji J 500 05 0054

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

Case Report Stase Obstetri Ginekologi SEROTINUSPembimbing : dr. Ahmad Sutamat, Sp.OG

Akhmad Fajri Purna Aji J 500 05 0054

Disetujui : dr. Ahmad Sutamat, Sp.OG

`

(.) (.) (.)

Dipresentasikan : dr. Ahmad Sutamat, Sp.OG Disahkan Ketua Program Profesi : dr. Yuni Prasetyo, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

BAB I LAPORAN KASUS Pada laporan kasus ini akan dibahas salah satu kasus pasien dengan diagnosa, G2P1A0 hamil serotinus 42 minggu + 3 hari. A. IDENTITASy Nama y Umur y Pekerjaan y Alamat y Suami

: Ny. S W : 34 Tahun : Ibu Rumah Tangga : Joho, Sukoharjo : Tn. S

y No Register : 149142 y Agama y Suku y Masuk RS y Jam

: Islam : Jawa : 27 Juni 2011 : 05.42 WIB

B. KRONOLOGIS 27 JUNI 2011, JAM 05.42 pasien datang dari IGD Dilakukan Autoanamnesis dan Pemeriksaan di VK

ANAMNESIS 1. Keluhan utama Sudah lewat waktu perkiraan lahir (lebih sekitar 2 minggu) tapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan

2.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan G2P1A0 hamil 42+3 minggu tapi belum ada tandatanda melahirkan, kenceng-kenceng belum dirasakan, lendir (-), darah(-). Air ketuban rembes (-).

3.

Riwayat Menstruasi Haid pertama umur : 13 tahun. Siklus Banyaknya : teratur, 30 hari, lamanya 6-7 hari. : 1 hari ganti pembalut 2 kali : 3 September 2010 : 10 Juni 2011 : 42+3 minggu

HPMT (Hari Pertama Menstruasi Terakhir) HPL (Hari Perkiraan Lahir) Usia kehamilan 4.

Riwayat kehamilan dan kelahiran yang telah lalu Hamil pertama : usia 8 tahun, lahir spontan normal cukup bulan di bidan. jenis kelamin laki-laki, berat lahir 2600 gram,

5.

Riwayat KB Pasien menggunakan KB spiral selama 7 tahun

6.

Riwayat Penyakit Dahulu Tekanan darah tinggi disangkal Diabetes mellitus disangkal Alergi obat disangkal Alergi makanan disangkal Penyakit ginjal disangkal Tuberculosis disangkal

7.

Riwayat Penyakit Keluarga Tekanan darah tinggi disangkal Diabetes mellitus disangkal Alergi disangkal Penyakit ginjal disangkal Tuberculosis disangkal

8.

Status Perkawinan Menikah 1 kali, usia pernikahan 10 tahun

9.

Riwayat Operasi Pasien belum pernah operasi

10. Riwayat Ante Natal Care Waktu hamil periksa di bidan 1 bulan sekali, setelah umur 8 bulan 2 minggu sekali. 11. Kebiasaan sehari-hari : Konsumsi suplemen / vitamin : (-) Minum jamu Merokok Minum alkohol : (-) : (-) : (-)

PEMERIKSAAN 1. Status Generalis Keadaan umum : Gizi cukup. Kesadaran Tanda vital : Compos Mentis. : TD 110/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Respirasi : 16 x/menit, Suhu : 36 o C Berat Badan Tinggi badan Kepala Leher Thorak : 63 kg. : 155 cm : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-). : Pembesaran kelenjar limfe (-). : Bentuk normal, simetris D=S, Cor : bunyi jantung 1-2 reguler, bising (-) Pulmo : SDV+/+, Ronki (-/-), Whezing (-/-) Abdomen : Inspeksi : Perut membesar Auskultasi : Peristaltik (+) normal Perkusi Palpasi Ekstremitas : Supel (+), : nyeri tekan (-)

: akral hangat (+), edema (-).

2.

Status Obstetri

a. Pemeriksaan luar (Abdomen) Inspeksi : Ikterik tidak ditemukan Tampak pembesaran pada abdomen mulai dari sympisis os pubis sampai procesus Xyphoideus. ditemukan Palpasi : Teraba janin tunggal Tinggi fundus uteri 1 jari dibawah prosesus Xyphoideus (TFU : 33 cm, TBJ : 3410 gram). His (+) jarang 1x dalam 10 menit (15 detik) Leopold I : Teraba bagian lunak janin (bokong) Leopold II : Teraba panjang melengkung janin di bagian kanan (Punggung) . Teraba bagian kecil-kecil janin (ekstremitas) Leopold III : bagian terbawah janin bulat keras (kepala) Leopold IV : kepala sudah masuk panggul. Auskultasi : Denyut jantung janin 140 kali permenit b. Pemeriksaan dalam Vaginal toucher : Uretra dan Vulva : tenang Dinding vagina : dalam batas normal Portio : lunak, terbuka, pembukaan 2 jari KK (+), air ketuban (+). Presentasi : kepala. Lendir dan darah (-) Striae gravidarum

3.

Laboratorium Hb Eritrosit Hematokrit : 10,6 g% : 4,43 jt/mm3 : 30,8 %

Angka leukosit :15.200 Angka Trombosit : 254.000 HbsAg : (-)

GDS : 79,79 mg/dl Gol Darah : O

DIAGNOSIS G2P1A0 Hamil serotinus 42 minggu +3 hari

PENATALAKSANAAN Infus D5% + drip oxytocin 5 IU mulai 8 Tpm Observasi His dan DJJ

JAM 12.30 12.45 13.00 13.15 13.30 13.45 14.00 14.15 14.30 14.45 15.00

TPM 12 16 20 24 28 32 36 36 40 36 36

HIS 1X/10mnt, 20dtk 1X/10mnt, 20dtk 1X/10mnt, 15dtk 1X/10mnt, 20dtk 1X/10mnt, 25dtk 2X/10mnt, 20,25dtk 2X/10mnt, 20,15dtk 3X/10mnt, 20,20,20dtk 3X/10mnt, 25,20,20dtk 3X/10mnt, 20,20,20dtk 3X/10mnt, 20,25,25dtk

DJJ 136

140

140

136 140 132 120 120

Jam 15.00 drip oxytocin dilepas, pasien dimiringkan ke kiri. Di observasi dan di rencanakan sectio cesaria besok.

28 JUNI 2011 S : kenceng-kenceng(+) jarang, lendir darah (-), air ketuban rembes (-), puasa (+) O : Keadaan Umum : CM sedang , gizi cukup Kesadaran : Compos Mentis (GCS E 4 V5 M6)

Tanda Vital : Tekanan Darah : 120/80 mmhg Nadi Pernafasan Suhu Kepala Dada : CA (-/-), SI (-/-) : Paru : sonor, vesikuler, suara tambahan : Wheezing (-), Ronkhi (-) Cor Abdomen : BJ I-II reguler, bising jantung (-) : 80 x/menit : 16 x/menit : 36 oC

: Supel, peristaltik (+), nyeri tekan (-), TFU: 1 jari dibawah procesus xympoideus (33 cm)

Ekstremitas

: akral hangat, oedema (-), sianosis (-)

A : G2P1A0 hamil serotinus 42+4 minggu dengan ancaman fetal disstress P : sectio cecaria SC dimulai pada Jam 10.05 WIB, bayi lahir jam 10.11 WIB jenis kelamin laki-laki

29 JUNI 2011 S : perdarahan pervaginam (+) sedikit, perut mules(-), luka jahit perih, kentut (+), menyusui (-). O : Keadaan Umum : CM sedang , gizi cukup Kesadaran : Compos Mentis (GCS E 4 V5 M6)

Tanda Vital : Tekanan Darah : 100/70 mmHg Nadi Pernafasan Suhu Kepala Dada : CA (-/-), SI (-/-) : Paru : sonor, vesikuler, suara tambahan : Wheezing (-), Ronkhi (-). Cor Abdomen : BJ I-II reguler, bising jantung (-) : 80 x/menit : 16x/menit : 365 oC

: Supel, peristaltik (+), nyeri tekan (-), bekas jahitan masih basah

Ekstremitas

: akral hangat, oedema (-), sianosis (-)

A : post SC e/c serotinus dengan ancaman fetal disstress dph 1 P : infus RL/D5% + Drip antalgin Inj. Cefotaxime 2x1

30 JUNI 2011 S : perdarahan pervaginam (+) sedikit, perut mules(-), luka jahit perih,

makan/minum (+/+), menyusui (-).

O : Keadaan Umum : CM sedang , gizi cukup Kesadaran : Compos Mentis (GCS E 4 V5 M6)

Tanda Vital : Tekanan Darah : 100/70 mmHg Nadi Pernafasan Suhu Kepala Dada : CA (-/-), SI (-/-) : Paru : sonor, vesikuler, suara tambahan : Wheezing (-), Ronkhi (-). Cor Abdomen : BJ I-II reguler, bising jantung (-) : 80x/menit : 16 x/menit : 36 oC

: Supel, peristaltik (+), nyeri tekan (-),bekas jahitan masih basah

Ekstremitas

: Akral hangat, oedema (-), sianosis (-)

A : post SC e/c serotinus dengan ancaman fetal disstress dph 2 P : infus RL/D5% + Drip antalgin Inj. Cefotaxime 2x1 1 JULI 2011 S : perdarahan pervaginam (+) sedikit, perut mules(-), luka jahit perih,

makan/minum (+/+), menyusui (+). O : Keadaan Umum : CM sedang , gizi cukup Kesadaran : Compos Mentis (GCS E 4 V5 M6)

Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 80x/menit

Pernafasan Suhu Kepala Dada : CA (-/-), SI (-/-)

: 16 x/menit : 36 oC

: Paru : sonor, vesikuler, suara tambahan : Wheezing (-), Ronkhi (-). Cor : BJ I-II reguler, bising jantung (-)

Abdomen

: Supel, peristaltik (+), nyeri tekan (-),bekas jahitan sebagian agak mengering

Ekstremitas

: Akral hangat, oedema (-), sianosis (-)

A : post SC e/c serotinus dengan ancaman fetal disstress dph 3 P : infus RL/D5% + Drip antalgin Inj. Cefotaxime 2x1

2 JULI 2011 S : perdarahan pervaginam (+) sedikit, perut mules(-), luka jahit perih,

makan/minum (+/+), menyusui (+). O : Keadaan Umum : CM sedang , gizi cukup Kesadaran : Compos Mentis (GCS E 4 V5 M6)

Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/80 mmHg Nadi Pernafasan Suhu Kepala : CA (-/-), SI (-/-) : 80x/menit : 16 x/menit : 36 oC

Dada

: Paru : sonor, vesikuler, suara tambahan : Wheezing (-), Ronkhi (-). Cor : BJ I-II reguler, bising jantung (-)

Abdomen

: Supel, peristaltik (+), nyeri tekan (-),bekas jahitan sebagian mengering

Ekstremitas

: Akral hangat, oedema (-), sianosis (-)

A : post SC e/c serotinus dengan ancaman fetal disstress dph 4 P : cefadroxil 3X1 BLPL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah melebihi 42 minggu (>294 hari). Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan seperti rumus neagle. B. Insiden Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 -7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%. C. Etiologi Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta). Menurut dr. Bambang Fadjar, SpOG dari Rumah Sakit Asih, Jakarta Selatan, penyebab kehamilan lewat waktu adalah kelainan pada janin sehingga tidak ada kontraksi dari janin untuk memulai proses persalinan. Kelainan janin tersebut antara lain anensephalus, hipoplasia, kelenjar supra renal janin, dan janin tidak memiliki kelenjar hipofisa, kelainan pada plasenta yang berupa tali pusar

pendek dan kelainan letak kehamilan. keadaan klinis ini memberikan suatu gambaran unsur yaituy y

Penurunan kadar estrogen pada kehamilan normal umumnya tinggi Pada kasus insufisensi plasenta / andrenal janin, hormone procusor yaitu isoandrosteron sulfat dieksresikan dalam cukup tinggi, konversi menjadi estradiol dan secara langsung estriol di dalam plasenta, contoh klinik mengenai defiseiensi prekosor estrogen adalah anensefalus

y

Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitoksin berkurang.

y

Faktor lain adalah hereditas, karena post matur/ post date seiring dijumpai pada suatu keluarga tertentu

Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut:y y y y

Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering. Tidak diketahui. Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan. Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi.

y y

Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi. Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Jumlah kehamilan atau persalinan sebelumnya dan usia juga ikut mempengaruhi terjadinya kehamilan lewat waktu. Bahkan, ras juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan lewat waktu. Data menunjukkan, ras kulit putih lebih sering mengalami kehamilan lewat waktu ketimbang yang berkulit hitam. Di samping itu faktor obstetrik pun ikut berpengaruh. Umpamanya, pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau tidak adekuat (cukup), kehamilan sebelumnya yang lewat waktu, perdarahan pada trisemester pertama kehamilan, jenis kelamin

janin (janin laki-laki lebih sering menyebabkan kehamilan lewat waktu ketimbang janin perempuan), dan cacat bawaan janin. D. Resiko Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm1. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum. E. Diagnosis Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat.

Prognosis post date tidak seberapa sulit apabila siklus haid teratur dari haid pertama haid terakhir diketahui pasti. Dalam menilai apakah kehamilan matur atau tidak, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan 1. Berat badan ibu turun dan lingkaran perut mengecil air ketuban berkurang 2. Pemeriksaan rontgenologik dengan pemeriksaan ini pada janin matur dapat ditemukan pusat osifikosi pada oscubuid, bagian distal femus dan bagian proksimal tubia, diameter bipariental kepala 9.8 cm lebih. Keberatan pemeriksaan ini adalah kemungkinan pengaruh tidak baik sinar rongten terhadap janin. 3. Pemeriksaan dengan USG, Dengan pemeriksaan ini diameter biparental kepala janin dapat diukur dengan teliti tanpa bahaya. Pemeriksaan menurut ginekologi. 4. Pemeriksaan sitologik liquoramni, Amniostopi dan periksa pH nya dibawah 7.20 dianggap sebagai tanda gawat janin 5. Pemeriksaan sitologik vagina untuk menentukan infusiesi plasenta dinilai berbeda beda

Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan lewat waktu, antara lain : 1. HPHT jelas. 2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu. 3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu dengan fetoskop). 4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu.

5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan penilaian biometrik janin pada trimester I kehamilan dengan USG. Penyimpangan pada tes biometrik ini hanya lebih atau kurang satu minggu. Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik >20%) mempunyai sensitifitas 75% dan tes tanpa tekanan dengan KTG mempunyai spesifisitas 100% dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan. Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga stadium: 1. Stadium I. Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas. 2. Stadium II. Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. 3. Stadium III. Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat. Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan : 1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.

2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/ 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/ 20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu. 3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia. F. Penatalaksanaan Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS). Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain: 1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley. 2. Induksi dengan oksitosin. 3. Bedah seksio sesaria. Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis >5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus dimulai dengan 8

tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria. G. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal

ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu).

BAB III PEMBAHASAN Telah dilaporkan suatu kasus wanita 34 tahun dengan usia kehamilan 42+3 minggu dengan diagnosa G2P1A0 . H serotinus 42+3minggu. Tinggi fundus uterus 33 cm, taksiran berat janin 3410 gram. Diagnosis terhadap pasien diperkuat oleh tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT), yaitu tanggal 3 september 2010. Taksiran persalinannya ialah 10 juni 2011. Berdasarkan HPHT pasien, usia kehamilannya ialah 42+3 minggu. Syarat kehamilan lewat bulan ialah kehamilan yang telah lewat 42 minggu. Maka diagnosa untuk pasien ini sudah tepat. Prinsip dari kehamilan lewat bulan adalah terminasi kehamilan segera. Pada kasus ini terminasi secara induksi dilakukan, namun terjadi indikasi ancaman fetal distress sehingga induksi persalinan di hentikan, dan di rencanakan sectio cesaria. Faktor penyebab dari kehamilan lewat bulan ialah kelainan janin (anensephalus, hipoplasia, kelainan kelenjar suprarenal janin, janin tidak memiliki hipofisa), tali pusar pendek, dan kelainan letak janin. Faktor lain ialah kesalahan dalam penanggalan, primigravida, riwayat serotinus, jenis kelamin laki-laki, dan genetik. Pada kasus ini belum dapat dipastikan penyebab pasti dari kehamilan lewat waktu.

DAFTAR PUSTAKA Wiknjosastro H. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2005. Cunningham FG et al. Postterm Pregnancy. Williams Obstetric, 22st ed. Mc.Graw Hill Publishing Division, New York, 2005. Mansjoer Arif, et al. Induksi persalinan. Dalam kapita selekta kedokteran ed.3 cet.1. Media Aesculapius, Jakarta. 2000. Fouda Ashraf. Prolonged Pregnancy. Damietta specialized hospital. 2006. Chan, L.G. Post-Maturity. The Bulletin of Hongkong Chinese Medical Association. Department of Obstetrics & Gynaecology, University of Hongkong. Mochtar, Rustam. Postmatur. Dalam: Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi ed.2. EGC:Jakarta. 1998. Karkata, M. K., dkk. Kehamilan Postterm. Dalam: Pedoman Diagnosis Terapi Dan Bagan Alir Pelayanan Pasien. Smf obstetri dan ginekologi fk unud, RS Sanglah, Denpasar. 2003.