laporan kasus obsgyn

Download LAPORAN KASUS OBSGYN

Post on 22-Oct-2015

19 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kasus obsgyn

TRANSCRIPT

LAPORAN KASUS OBSGYNMYOMA UTERI DAN KISTA OVARIUM

Disusun Oleh:Donna I. V. Patty, S.KedNIM : 09700065

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA2013BAB ILAPORAN KASUS OBSGYNMYOMA UTERI DAN KISTA OVARIUM

I. IDENTITAS PENDERITANama Penderita: Ny. SutiniUmur: 44 tahunJenis Kelamin: perempuanAgama: IslamSuku: Pekerjaan: karyawan swastaPendidikan: SLTAStatus: menikahAlamat: Kandangan RT 12 RW 06, KrembangTanggal MRS: 24 Juni 2013Tanggal Pemeriksaan: 24 Juni 2013Tanggal KRS:No. Rekam Medik: 1-33-79-17

II. ANAMNESISAnamnesis dilakukan terhadap pasien.A. Keluhan utama:B. Anamnesis khusus: pasien kiriman dari poli kandungan dengan myoma uteri + kista ovarium pro laparotomi. Pasien mengeluh perdarahan pervaginam 2x/bulan, lama 7 hari. P1001 ATK 22 tahun. Menikah 23 tahun.C. Riwayat Menikah : 23 tahunD. Riwayat Persalinan : 8bulan/spt/P/2600gr/hidup/22tahunIII. PEMERIKSAAN UMUM1. Pemeriksaan UmumSTUa. Keadaan umum: composmentisb. A/I/C/D: (-)c. Tanda Vital: TD: 120/80 mmHg N: 88x/menit RR: 18x/menitd. Cor/Pulmo: dbnKesan : didapatkan keadaan umum pasien cukup

STGa. v/v : flx (+) flr (-)b. P: tertutup, licinc. CU: AF, membesard. Adneksa D: massa (+)e. Adneksa S: massa (-), nyerif. CD: tidak ada kelainan

2. Pemeriksaan Khususa. KepalaBentuk: bulat, simterisRambut: -Mata: -Hidung: tidak ada secret, tidak ada bau, tidak perdarahanTelinga: tidak ada secret, tidak ada bau, tidak perdarahanMulut: tidak sianosisLidah: tidak kotor, tidak hiperemib. LeherInspeksi: simetris, tidak tampak pembesaran KGBPalpasi: tidak teraba pembesaran KGB leherKaku kuduk: tidak adac. DadaRH: -/-WH: -/-S1 S2: Tunggal

ParuKananKiri

DepanI : simetris, retraksi (-)I : simetris, retraksi (-)

P : fremitus raba (+) normalP : fremitus raba (+) normal

P : sonorP : sonor

A : Rh (-); Wh (-)A : Rh (-); Wh (-)

BelakangI : simetris, retraksi (-)I : simetris, retraksi (-)

P : fremitus raba (+) normalP : fremitus raba (+) normal

P : sonorP : sonor

A : Rh (-); Wh (-)A : Rh (-); Wh (-)

d. Abdomen : dbne. Ekstremitas Superior: akral hangat +/+, edema -/-Inferior: akral hangat +/+, edema -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG1. Hasil LaboratoriumTidak dilakukan pemeriksaan laboratorium2. ElektrokardiogramTidak dilakukan pemeriksaan ECG.

V. DIAGNOSIS KERJA MYOMA UTERI + KISTA OVARIUMDitegakkan diagnosis ini dilihat dari hasil pemeriksaan dalam ginekologi dan hasil USG.VI. PLANNING1. Planning terapia. Medikamentosa : pro laparotomi2. Planning Edukasia. Menjelaskan pada pasien mengenai penyakitnyab. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya menghindari faktor-faktor pencetusc. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya berobat dan control

VII. PROGNOSISDubia ad bonam.

BAB IIPEMBAHASAN

A. TINJAUAN PUSTAKA1. MYOMA UTERINeoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dalam kepustakan dikenal juga istilah fibromioma, leiomioma, atau pun fibroid. Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah (dilaporkan) terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat.

Patogenesis Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast. Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progresteron atau testosteron. Puukka dan kawan-kawan menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mloma lebih banyak didapati dari pada miometrium normal. Menurut Meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan dari selaput otot yang matur.

Patologi anatomi Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpus uterus. Menurut letaknya, mioma dapat kita dapati sebagai: a. mioma submitkosHm: berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. b. mioma intramnral: mioma terdapat di dinding uterus di antara serabut miometnum. c. mioma subserosum: apabila tumbuh keluar dindlng uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadl pollp, kemudian dilahirkan melalui saluran ser^iks (myomgeburt). Mioma subserosum dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mloma intraligamenter. Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain misahaya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari ucerus, sehingga disebut wandering/parasitic fihroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga ostium uteri ekstemum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dlbelah maka tampak bahwa mioma terdiri atas berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde/ pusaran air (whorl like pattern), dengiin pseudocapsule yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini. Pemah ditemukan 200 sarang mioma dalam satu uterus, namun biasanya hanya 5-20 sarang saja. Dengan pertumbuhan mioma dapat mencapai berat lebih dari 5 kg. Jarang sekali mioma ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, paling banyak pad aumur 35-45 tahun (kurang lebih 25%). Pertumbuhan mioma diperkirakan memerlukan waktu 3 tahun agar dapat mencapal ukuran sebesar tinju, akan tetapi beberapa kasus ternyata tumbuh cepat. Setelah menopause banvak mioma meniadi lisut, hanya 10% saja yang masih dapat tumbuh lebih lanjut. Mioma uteri ini lebih sering didapati pada wanita nulipara atau yang kurang subur. Faktor keturunan juga memegang peran. Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan sekunder 1. Atrofi: scsudah monopause atau pun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil. 2. Degenerasi hialin: pcrubahan ini scring terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kchilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya. 3. Degenerasi kistik: dapat meliputi dacrah kecil maiipun luas, di mana sebagian dari mioma menjadi cair, schlngga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan. 4. Degenerasi membatu (caldreous degeneration): terutama terjadi pada wanita berusia lanjut olch karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dcngan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma mcnjadi keras mcmberikan bayangan pada foto Rontgen. 5. Degenerasi merah (cameous degeneration): perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesls: diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkin oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinis seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai. 6. Degenerasi lemak: jarang terjadi, merupakan kelanjutan degencrasi hialin.

Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan sirkulasl darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang jilahirkan hingga perdarahan berupa metroragia atau menoragla disertai leukore dan gangguan-gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.

Gejala dan tanda Hampir separuh kasus mloma uteri dkemykan secara kebetulan pada pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak menggangu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks, intramurai, submukus, subserus), besamya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagal berikut. Perdarahan abnormal. Gangguan perdai-ahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah: pengaruh ovarlum sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium. permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa. atrofi endometrium di atas mioma submukosum. miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma di antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

Rasa nyeri. Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disenai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis'dapat mcnyebabkan juga dismenore. Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari bcsar dan tcmpat mioma utcri. Pcnckanan pada kandung kemih akan menycbabkan poliuri, pada uretra dapat mcnyebabkan retensio urine, pada urctcr dapat menycbabkan hidrouretcr dan hidroncfrosis, pada rektum dapat mcnyebabkan obsupasi dan tcncsmia, pada pembuluh darah dan pcmbuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nycri panggul.

Infertilitas dan abortus Infertilitas dapat terjadl apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis tuba, sedangkan mioma submuksum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena dlstorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain infertilltas