presus obsgyn

of 41 /41
BAB I A. IDENTITAS PASIEN - Nama Pasien : Ny. SM - Usia : 31 tahun - Pekerjaan : Buruh - Pendidikan terakhir : SD - Alamat : Butuh 5/8 Kutowinangun, Tingkir Salatiga - Agama : Islam - Masuk RS :11 Oktober 2013 pukul 23.30 wib B. ANAMNESIS Keluhan utama : G1P0A0 merasa kencang-kencang sering sejak pukul 10.00 wib tanggal 11/10/13. Ketuban terasa ngepyok sejak pukul 16.00 HPHT: 18 Februari 2013. HPL: 25 November 2013 Umur kehamilan: 33 + 4 mggu Riwayat persalinan: pasien merasakan kencang- kencang sejak jam 10.00 wib 11/10/2013, 1

Author: zulhida-yuni

Post on 13-Sep-2015

243 views

Category:

Documents


10 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

T

TRANSCRIPT

BAB IA. IDENTITAS PASIEN Nama Pasien: Ny. SM Usia: 31 tahun Pekerjaan: Buruh Pendidikan terakhir: SD Alamat: Butuh 5/8 Kutowinangun, Tingkir Salatiga Agama: Islam Masuk RS:11 Oktober 2013 pukul 23.30 wibB. ANAMNESIS Keluhan utama : G1P0A0 merasa kencang-kencang sering sejak pukul 10.00 wib tanggal 11/10/13. Ketuban terasa ngepyok sejak pukul 16.00HPHT: 18 Februari 2013. HPL: 25 November 2013Umur kehamilan: 33+4 mggu Riwayat persalinan: pasien merasakan kencang-kencang sejak jam 10.00 wib 11/10/2013, lendir/darah (-), keluar rembesan air ketuban pukul 16.00, gerak janin aktif. Sebelumnya pasien dibawa ke bidan setempat pukul 23.00. Setelah diperiksa dibidan ternyata sudah ada pembukaan 5 cm. Kemudian pasien dirujuk oleh bidan ke RSUD Salatiga. Di IGD RSUD Salatiga pasien dikirim ke ruang ponek pukul 23.30 wib. Ibu merasakan kencang-kencang, badan terasa demam, sesak napas, ingin mengejan. Pukul 02.00 pasien diperiksa pemeriksaan dalam ternyata sudah ada pembukaan 7 cm. Pukul 02.45 pembukaan sudah lengkap dan dipimpin persalinan. Riwayat pijat perut (-), riwayat hubungan suami istri (+), riwayat trauma (-), BAB (+) normal, BAK normal, anyang-anyangan (+), warna BAK kekuningan jernih (+), nyeri punggung belakang (+), demam (-), nyeri perut bawah (+). RPD: Hipertensi (-), DM (-), alergi (-), asma (+) RPK: Hipertensi (-), DM (+), alergi (-), asma (-) Riw. Obstetri: hamil pertama belum pernah keguguran, hamil ini kontrol ke bidan ANC 3x, kontrol ke dokter (-), USG (-), suntik TT (-) Keluhan trimester awal: mual/muntah (+), pusing (+), riw.pijat (-), trauma (-), flek2 (-). Keluhan trimester kedua: mual/muntah (-), pusing (+/-), nyeri perut bawah (-), ppv (-), trauma (-), pandangan kabur (-), udem ekstremitas bawah (+/+). Keluhan trimester ketiga: kenceng-kenceng (+), pandangan kabur (-), udem ekstremitas bawah (+/+) Riw.Ginekologi: keputihan (+), kista ovarium (-), myoma uteri (-), operasi kandungan (-). Riw. KB: (-) Riw.menarkhe: usia 13 tahun, teratur, siklus 28 hari, lamanya 7 hari, 2-3x ganti pembalut/hari, dismenore (-). Riw.pernikahan: menikah 1x, lamanya 4 bulan, usia saat menikah 31 tahunC. PEMERIKSAAN FISIKKeadaan Umum:Baik

Kesadaran:Compos Mentis

Vital Sign:T : 130/90 mmHg

RR : 20 x/menit

N : 84 x/menit, reguler.

S : 37 O C

Status Gizi:Cukup

1.Kulit: Hiperpigmentasi (-), Ikterik (-), turgor baik

2.Pemeriksaan Kepala

-Bentuk Kepala:Bentuk dalam batas normal, simetris.

-Rambut:Warna hitam, distribusi merata, tidak rontok

-Nyeri Tekan:(-)

3.Pemeriksaan Mata

-Palpebra:Edema (-/-), ptosis (-/-)

-Konjunctiva:Anemis (-/-)

-Sklera:Ikterik (-/-)

-Pupil:Reflek cahaya (+/+)

4. Pemeriksaan Telinga:nyeri tekan (-/-), discharge (-)

5.Pemeriksaan Hidung:Nafas cuping hidung (-/-), epistaksis (-), deviasi septum (-)

6.Pemeriksaan Tenggorokan:Faring tidak hiperemis, epistaksis posterior (-)

7.Pemeriksaan Leher

-Trakea:Deviasi trakea (-)

-Kelenjar Tiroid:Membesar (-)

-Kelenjar lnn:Tidak membesar, nyeri (-)

-JVP:Tidak meningkat

8.Pemeriksaan Dada :simetris, spider naevi (-), pembesaran kelenjar limfe aksila (-), payudara simetris, areola hiperpigmentasi, tidak terdapat benjolan di payudara, tidak ada retraksi, papilla mamae menonjol.

Paru-paru Dx/sn: inspeksi: simetris (+), sikatrik (-), ketinggalan gerak (-), retraksi dada (-).Palpasi: Nyeri tekan (-), massa (-), krepitasi (-), suara paru dx=sn.Perkusi: sonor +/+Auskultasi: vesikuler +/+, wheezing -/-, ronki -/-

Jantung: S1-S2 reguler, bising jantung (-), gallop (-)

9.Pemeriksaan Abdomen

-Inspeksi:Datar

-Auskultasi:Peristaltik usus (+) normal

-Palpasi:Supel, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran organ.

-Perkusi:Tymphani, undulasi (-), pekak sisi (-), nyeri ketok kostovertebra (-)

10.Pemeriksaan Ekstremitas

SuperiorInferior

Edema- / -- / -

Clubing finger- / -- / -

Eritem palmaris- / -- / -

Sianosis- / -- / -

AkralHangatHangat

D. PEMERIKSAAN OBSTETRI Leopod 1 : TFU 4 jari di atas pusar, 26 cm, bagian teratas teraba bokong. Leopod 2 : janin tunggal, memanjang, teraba tahanan memanjang di sebelah kanan kesan PUKA. Leopod 3 : presentasi kepala Leopod 4 :divergen, 4/5 DJJ: 156x/menit HIS: 3x/10/30detik. VT: vulva/uretra tenang, dinding vagina licin, portio tebal lunak, posisi di depan, pembukaan 7 cm, kulit ketuban (-), air ketuban (+), STLD (+).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG USG: janin tunggal memanjang. Preskep, DJJ (+), gerakan (+), placenta di fundus, air ketuban cukup. Taksiran berat janin: 2325 gr. Lab: Hasil hasil

AL 15,5 AT 277

AE 4,28 MCV 83,9

HB 12 MCH 27,9

HMT 35,9 MCHC 33,3

HbsAg (-) Golongan darah A Protein urin (-)

F. DIAGNOSIS Partus Prematurus IminensG. PENATALAKSANAAN Obs.His, tanda-tanda vital, dan DJJ Inj. Cefotaxim 2x1 gram Inj. Dexamethason 1 seri ( 4x6 mg i.m dengan jarak pemberian 12 jam) Inf.RL 1 flabot 20 tpm Pasang O2 4 liter

H. FOLLOW UP11/10/2013 pukul 23.30SOAP

Kenceng2 (+), gerak janin (+) air ketuban ngepyok (+), keluar lendir darah (-).Ku:cukup Kesadaran: CMTD: 130/90HR: 80x/mntRR: 20x/mntt: 37,5Palpasi Abd: janin tunggal memanjang, preskep, Puka.Djj: 156x/mnt, His: 3x/10/30TFU: 23 cmTBJ: 1705 grVT: pembukaan 7 cm, portio tebal, KK (-), kep turun di H1 STLD (+)Inpartu K1FA partus prematurus imminens Manajemen ekspektatif Obs.his dan Djj, KU, dan ttv Inj. Cefotaxim 2x1 gram Pasang O2 4 liter Inj. Dexamethasone 6 mg im Cek lab Pasang infus RL20 tpm

11/10/2013 pukul 02.45SOAP

Kenceng2 (-), gerak janin (+) aktif, ibu ingin mengejanKu:CMTD:130/80HR:84x/mntRR:20x/mntT:37,4Djj: 129x/mnt, His 3x/10/30VT: pembukaan lengkap pimpin persalinan02.55 BBL hidup, jenis kelamin: perempuan,BB/PB: 2000 gr/40 cmLK/LD/LILA: 33 cm/32 cm/7,5 cmAS : 8-8-9Cacat (-), anus (+)HR bayi :128x/mnt AK: hijau lumpur03.00Plasenta lahir lengkap, ketuban utuh, eksplorasi uterus bersih, kateterisasi, perineum episiotomyHeacting (+)PPP : 250 ccTD post patum: 110/70Inpartu K II dengan Partus prematurus iminens- induksin 1 ampul IM- lidocain 2 A-posphargin 1A- infuse RL+oksitosin 5 IU drip- KB (-)Bayi : vit K (+), diberi kehangatan, tetes mata (+)

12/10/2013 pukul 09.00SOAP

PPV (+), asi belum keluar, nyeri jahit episiotomy (+), lemes (-), BAK(-)Ku: baik CMTD:120/80mmHgHR: 70 x/mntRR: 20 x/mntT: 36,7Lochea: dbnTFU: 2 jr dbwh pusatPost partum spontan dengan partus prematurus imminens H1 Observasi KU, ttv, ppv Diit tktp Anjuran menyusui Anjuran mobilisasi aktif

13/10/2013 pukul 09.00SOAP

PPV (+), asi sudah keluar, nyeri jahit episiotomy (+), lemes (-), BAK(+)Ku: baik CMTD: 110/80mmHgHR: 80 x/mntRR: 20 x/mntT: 36,6Lochea: dbnTFU: 2 jr di bwah pusatPost partum spontan dengan partus prematurus imminens H2 Observasi KU, ttv, ppv Diit tktp Anjuran menyusui Anjuran mobilisasi aktif BLPL

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Partus Prematurus Imminens

Menurut Oxorn (2010), partus prematurus atau persalinan prematur dapat diartikan sebagai dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang disertai pendataran dan atau dilatasi servix serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari) sejak hari pertama haid terakhir. Menurut Nugroho (2010) persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram. Partus preterm adalah kelahiran setelah 20 minggu dan sebelum kehamilan 37 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir (Benson, 2012).Berdasarkan beberapa teori diatas dapat diketahui bahwa Partus Prematurus Iminens (PPI) adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan dimana timbulnya tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum aterm (20 minggu-37 minggu) dan berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gram.

B. Etiologi dan Faktor PredisposisiPersalinan prematur merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi keadaan obstetric, sosiodemografi, dan faktor medik mempengaruhi terjadinya persalinan premature. Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu:1. Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis adrenal baik pada ibu maupun janin, akibat stress pada ibu atau janin2. Inflamasi desidua-koriamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari traktus genitourinaria atau infeksi sistemik3. Perdarahan desidua4. Peregangan uterus patologik5. Kelainan pada uterus atau seviksTerdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan partus prematurus iminens, yakni: a. Faktor resiko mayorKehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, dan iritabilitas uterus.b. Faktor resiko minorPenyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.

Faktor predisposisi partus prematurus adalah sebagai berikut:a. Faktor ibu Gizi saat hamil kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit menahun ibu seperti; hipertensi, jantung, ganguan pembuluh darah (perokok), faktor pekerjaan yang terlalu berat, infeksi saluran kemih, riwayat coitus.b. Faktor kehamilan Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum, komplikasi hamil seperti pre eklampsi dan eklampsi, ketuban pecah dini.c. Faktor janin Cacat bawaan, infeksi dalam rahim, kehamilan ganda/gemelli dan polihidramnion

C. PatofisiologiInfeksi koriamnion diyakini merupakan salah satu sebab terjadinya ketuban pecah dini dan persalinan preterm. Patogenesis infeksi ini masih belum jelas benar. Kemungkinan diawali dengan aktivasi fosfolipase A2 yang melepaskan asam arakhidonat dari selaput amnion janin , sehingga asam arakhidonat bebas meningkat untuk sintesis prostaglandin. Endotoksin dalam air ketuban akan merangsang sel desidua untuk menghasilkan sitokin dan prostaglandin yang dapat menginisiasi proses persalinan. Proses persalinan preterm yang dikaitkan dengan infeksi diperkirakan diawali dengan pengeluaran produk sebagai hasil dari aktivasi monosit. Berbagai sitokin, termasuk interleukin 1, Tumor Necrosing Factor, dan interleukin 6 adalah produk sekretorik yang dikaitkan dengan persalinan preterm. Sementara itu, Platelet Activating Factor (PAF) yang ditemukan dalam air ketuban terlibat secara sinergik dalam mengawali proses persalinan preterm yang disebabkan oleh infeksi. Bakteri sendiri mungkin menyebabkan kerusakan membrane lewat pengaruh langsung dari protease.Vaginosis Bakterialis adalah kondisi ketika flora normal vagina predominan-laktobasillus yang menghasilkan hydrogen peroksida digantikan oleh bakteri anaerob, Gardnerella vaginalis, dan mikoplasma hominis. Keadaan ini telah lama dikaitkan dengan ketuban pecah dini, persalinan preterm, dan infeksi amnion, terutama bila pada pemeriksaan PH vagina lebih dari 5,04.Pada hipertensi dan preeklamsia, penolong persalinan cenderung mengakhiri kehamilan. Hal ini menimbulkan prevalensi preterm meningkat. Kondisi medic lain yang sering menimbulkan persalinan preterm adalah inkompetensi serviks.

D. Manifestasi klinisa.Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3 sampai 5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam.b.Pada fase aktif, intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas.c. Tanya dan cari gejala yang termasuk faktor risiko mayor dan minor d. Usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggue.Taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggu.f.Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan preterm

E. Diagnosis a. Kriteria 1)HIS/ kontraksi berulang 2-3 kali/10 menit /selama 30 detik, atau sedikitnya 7-8 menit sekali2)Dilatasi serviks sedikitnya 2 cm3)Pendataran serviks >50-80%4)Perdarahan bercak5)Perasaan menekan daerah servix6)Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda persalinan preterm7)Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

b. Penapisan untuk Persalinan Preterm1) Indikator klinik: timbulnya kontraksi dan pemendekan serviks (secara manual dan ultrasonografi). Terjadi ketuban pecah dini juga meramalkan akan terjadinya persalinan preterm.2) Indikator laboratorik : jumlah leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih) dan pemeriksaan leukosit dalam serum ibu (>13.000)3) Indikator biokimia: Fibronektin janin : peningkatan kadar fibronektin janin pada vagina, serviks, dan air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada hubungan korion dan desidua. Pada kehamilan 24 minggu atau lebih, kadar fibronektin janin 50 ng/ml atau lebih mengindikasikan risiko persalinan preterm. Corticotrophin releasing hormone (CRH): peningkatan CRH dini atau pada trimester 2 merupakan indicator kuat untuk terjadinya persalinan preterm Sitokin inflamasi: seperti IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF- telah diteliti sebagai mediator yang mungkin berperan dalam sintesis prostaglandin. Isoferitin plasenta: pada keadaan normal (tidak hamil) kadar isoferitin sebesar 10 U/ml. Kadarnya meningkat secara bermakna selama kehamilan dan mencapai puncak pada trimester akhir yaitu 54,8 53 U/ml. Penurunan kadar dalam serum akan berisiko terjadinya persalinan preterm. Feritin: Rendahnya kadar feritin merupakan indicator yang sensitive untuk keadaan kurang zat besi. Peningkatan ekspresi feritin berkaitan dengan berbagai keadaan fase akut termasuk kondisi inflamasi. Beberapa peneliti menyatakan hubungan antara peningkatan kadar feritin dan kejadian penyulit kehamilan, termasuk persalinan pretermc. USG untuk mengetahui1) Usia gestasi,Jumblah Janin,besar janin, kativitas Biofisik2) Cacat Kongenital3) Letak dan Maturasi Plasenta 4) Volume cairan tuba dan kelainan Uterusd.CTG guna menilai1) Kesejahteraan Janin2) Frekuensi dan kekuatan kontraksi

F. Penanganan Umum Managemen persalinan preterm bergantung pada beberapa factor: Keadaan selaput ketuban. Pada umumnya persalinan tidak dihambat bilamana selaput ketuban sudah pecah. Pembukaan serviks. Persalinan akan sulit dicegah bila pembukaan mencapai 4 cm Umur kehamilan. Makin muda usia kehamilan, upaya mencegah persalinan makin perlu dilakukan. Persalinan dapat dipertimbangkan berlangsung bila TBJ > 2000 atau kehamilan > 34 minggu Penyebab atau komplikasi persalinan preterm Kemampuan neonatal intensive care facilities

G. Penatalaksanaana.Segera lakukan penilaian tentang1) Usia gestasi ( untuk prognosis)2) Demam ada/tidak, awasi tanda infeksi3)Kondisi janin (jumlah, letak,TB) Hidup/gawat janin/mati,atau kelainan Kongenital dll4) Letak plasenta untuk mengetahui irisan section cesarea5) Kesiapan Untuk Menangani bayi prematurb.Tentukan kemungkinan penanganan selanjutnya (ada 3)1) Pertahankan Janin hingga kelahiran aterm2)Tunda persalinan 2-3 hari untuk memberikan obat pematangan paru janin3) Biarkan terjadi persalinan

Obat-obat yang sering digunakan dalam penatalaksanaan preterm:a. Agen tokolitikAgen Tokolitik yang sering digunakan untuk memperlama kehamilan meliputi ; agonis, ritrodin, kalsium kanal bloker contohnya nifedipin, antagonis oksitosin (atosiban), NSAID contohnya indometasin, atau inhibitor kerja otot uterus (prostaglandin). Pada keadaan dimana terjadi dilatasi serviks < 4 cm, sebaiknya persalinan dimulai setelah 24-48 jam memberikan waktu untuk pemberian steroid pada ibu.Kontraindikasi tokolitik : 1. Kontraindikasi absolute : penyakit tiroid, penyakit jantung, hipertensi berat (160/110 mmHg), penyakit sel sabit, korioamnionitis, kematian intrauterin2. Kontraindikasi relative : Persalinan berlanjut bila dilatasi serviks > 4 cm, perdarahan antepartum, diabetes mellitus maternal3. Efek samping : takikardi, hiperglikemia, edema pulmonerTokolitik baru atosiban diperkenalkan. Atosiban merupakan antagonis oksitosin. Golongan lain seperti ; NSAID (indometasin) dan gliseril trinitrat (GTN). NSAID dapat menyebabkan oligohidramnion dan penutupan duktus arteriosus pada fetus bila digunakan lebih dari 48 jam.

b. Kortikosteroid Berikan kortikosteroid bilamana usia kehamilan kurang dari 35 minggu untuk memperbaiki kematangan paru janin Berikan betamethason 2x12 mg i.m/24 jam (atau berikan deksamethason 4x6mg i.m/12 jam) Pemberian steroid ini tidak diulang karena resiko terjadinya pertumbuhan janin terhambat. Efek optimal terjadi 24 jam setelah pemberian terakhir, mencapai puncak dalam waktu 48 jam dan bertahan sampai 7 hari.d. AntibiotikTerapi antibiotika pada kasus persalinan preterm diperkirakan oleh sebagian besar ahli tidak memberikan manfaat dalam menghambat persalinan preterm. Antibiotik hanya diberikan apabila kehamilan mengandung resiko terjadinya infeksi seperti pada kasus KPD. Terapi utama pilihan adalah penisilin dan ampisilin. Kombinasi Obat yang dianjurkan yaitu: eritromisin 3x500 mg oral, selama 3 hari. Obat pilihan lain, ampisilin 3x500 mg selama 3 hari.

Ada dua prinsip penatalaksanaan persalinan preterm yaitu menghentikan kontraksi uterus/melakukan penundaan persalinan atau persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya. a. Penundaan persalinanObat-obat tokolitik hanya dapat menunda persalinan sementara, diikuti dengan pemberian kortikosteroid yang ditujukan untuk menginduksi maturitas paru pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu. Intervensi ini bertujuan untuk menunda kelahiran sampai bayi cukup matang. Penundaan persalinan dilakukan bila : umur kehamilan < 35 minggu; pembukaan serviks kurang dari 3 cm; tidak ada amnionitis, perdarahan yang aktif, dan preeklamsia; tidak ada gawat.Ibu yang dirawat inap dilakukan evaluasi his dan pembukaan. Kemudian untuk mempercepat kematangan paru dan janin diberikan kortikosteroid dengan 2 dosis bethametason 12 mg IM, selang 12 jam (atau berikan 4 dosis deksamethason tiap 12 jam. Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi yang jelas.

b. Persalinan berlanjutBila tokolisis tidak berhasil, lakukan persalinan dengan upaya optimal. Jangan menyetop kontraksi uterus bila : Umur kehamilan > 35 minggu Serviks membuka > 3 cm Perdarahan aktif Janin mati dan adanya kelainan congenital yang kemungkinan hidup kecil Adanya korioamnionitis Preeklamsia Gawat Janin

H.Cara persalinanLakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala atau dilakukan episiotomi dan lakukan perlindungan forceps terutama pada kehamilan 35 minggu. Lakukan persalinan dengan seksio sesarea bila janin letak sunggsang, gawat janin dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi, janin letak lintang, placenta previa dan taksiran berat janin 1.500 gram.Pimpinan partus prematurus bertujuan untuk menghindari trauma bagi anak yang masih lemah : a.Partus tidak boleh berlangsung terlalu lama tapi sebaliknya jangan pula terlalu cepat b. Jangan memecah ketuban sebelum pembukaan lengkapc. Buatlah episiotomi mediolateralis.I.PrognosisPada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi yang lahir dengan berat 2.000 sampai 2.500 gram mempunyai harapan hidup lebih dari 97 persen. 1500 sampai 2.000 gram lebih dari 90 persen dan 1.000 sampai 1.500 gram sebesar 65-80 persen.Prematurnya masa gestasi akan dapat mengakibatkan ketidakmatangan pada semua sistem organ. Baik itu pada sistem pernapasan (organ paru-paru), sistem peredaran darah (jantung), sistem pencernaan dan sistem saraf pusat (otak). Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah yang membuat bayi prematur cenderung mengalami kelainan dibandingkan bayi normal. Kelainan itu bisa berupa :a.Sindroma gangguan pernapasan.Kelainan ini terjadi karena kurang matangnya paru-paru, sehingga jumlah surfaktan (cairan pelapis paru-paru) kurang dari normal. Ini menyebabkan paru-paru tidak dapat berkembang sempurna.b.Perdarahan otakBiasanya terjadi pada minggu pertama kelahiran, terutama pada bayi prematur yang lahir kurang dari 34 minggu. Pendarahan otak ini menyebabkan bayi prematur tumbuh menjadi anak yang relatif kurang cerdas, dibanding anak yang lahir normal.c.Kelainan jantungYang sering terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus, yaitu adanya hubungan antara aorta dengan pembuluh darah jantung yang menuju paru-paru.d.Kelainan ususIni disebabkan akibat imaturitas atau kurang mampu dalam menerima nutrisi.e.Anemia dan infeksiBelum matangnya fungsi semua organ tubuh, membuat bayi prematur menghadapi berbagai masalah. Seperti mudah dingin, lupa napas, mudah infeksi karena sensor otaknya belum sempurna, pengosongan lambung terhambat (refluks), kuning dan kebutaan.J. Komplikasi Pada ibu persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi. Bayi yang lahir dari ibu yang amnionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distress pernapasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis, dan perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih besar. K. Pencegahan Hindari kehamilan pada ibu terlalu muda Hindari jarak kehamilan terlalu dekat Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal yang baik Anjuran tidak merokok maupun mengonsumsi obat-obatan terlarang Hindari bekerja berat dan perlu cukup istirahat Obati penyakit yang dapat menyebabkan persalinan preterm Kenali dan obat infeksi genital Deteksi dan pengamanan factor risiko terhadap persalinan preterm

BAB IIIPEMBAHASAN

Untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan premature, harus dicermati beberapa kondisi yang dapat menimbulkan kontraksi uterus. Pada pasien ini terdapat beberapa kondisi yang bisa memacu terjadinya persalinan preterm, diantaranya :1. Ketuban pecah dini2. Kemungkinan infeksi saluran kemih yang ditandai dengan meningkatnya leukosit, demam, dan keputihan yang banyak3. Perdarahan trimester awalFaktor predisposisi yang didapatkan pada pasien ini adalah: Golongan sosial dan ekonomi rendahFenomena ini terjadi kerana pada wanita-wanita hamil dengan ekonomi yang rendah seringkali kekuranga makan, tempat tinggal yang kurang nyaman dan kurang mendapatkan layanan prenatal. Stres psikologikPada pasien mengalami stress psikologik karena sudah terjadi hamil di luar nikah. Hal tersebut menjadi beban mental pasien karena kehamilannya tidak diinginkan. Stress psikologik bisa menyebabkan persalinan preterm. Hormone stresss pada maternal adalah CRH, jika ibu stress maka CRH akan naik sehingga terjadi dilatasi serviks, dan peningkatan kontraksi uterus, akibatnya risiko persalinan preterm pun meningkat. CRH bekerja dengan memblokade progesterone memungkinkan inisiasi mekanisme persalinan preterm. Riwayat infeksi genetalia dengan manifestasi klinis keputihan yang banyak sejak usia kehamilan trimester pertama, berbau, gatal dan jernih. Pasien tidak pernah mengobati keputihannya. Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur. Selama kehamilan pasien memeriksakan kehamilan ke bidan sebanyak 3 kali, tidak pernah kontrol ke dokter dan tidak pernah di USG. Hal ini mempersulit deteksi dini risiko tinggi pada kehamilan.Pasien didiagnosis partus premature karena ditemukan beberapa criteria yang sesuai dengan penegakan diagnosis partus prematurus imminens, diantaranya:1. Kontraksi yang berulang 3 kali dalam 10 menit selama 30 detik2. Adanya nyeri punggung bawah3. Pembukaan serviks menunjukan pembukaan 5 cm4. Selaput ketuban pecah5. Terjadi pada usia kehamilan 33+4 mggu

Penatalaksanaan pada pasien ini adalah: Bedrest, yakni istirahat total di tempat tidur yang merupakan upaya medis untuk menyelamatkan kehamilan agar janin lahir tepat pada waktunya serta mengurangi aktivitas fisik yang dapat memicu kontraksi uterus. Obs.His, tanda-tanda vital, dan DJJ Inj. Cefotaxim 1 gram. Pasien diberi antibiotic cefotaxim karena pasien mengandung risiko terjadinya infeksi akibat ketuban pecah dini. Obat ini sangat aktif terhadap berbagai kuman Gram-positif maupun Gram-negatif aerobic. Amoxicillin 500 mg 3x1. Pasien diberi antibiotic amoxicillin karena pasien juga memiliki risiko terjadinya infeksi saluran kemih atau infeksi genital. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan AL 15.500. Infeksi genitalia dapat menyebar secara ascending ke dalam cairan amnion. Adanya bakteri pada cairan amnion memicu produksi sitokin-sitokin inflamasi. Sittokin ini akan mengaktivasi fosfolipase A, yang memecah asam arakidonat dari dalam selaput ketuban, sehingga membuat asam arakidonat bebas tersedia untuk sintesis prostaglandin. Sintesis prostaglandin ini akan merangsang kontraksi uterus dan terjadinya persalinan premature. Asam mefenamat 3x1. Pasien diberi asam mefenamat karena untuk mengurangi nyeri setelah persalinan Inf.RL 1 flabot 20 tpm. Pasien diberi infuse RL karena RL merupakan cairan isotonis yang berfungsi mengganti cairan tubuh yang hilang akibat perdarahan saat melahirkan. Injeksi Dexamethason. Pasien diberi injeksi dexamethason karena efek fisiologi dexamethasone adalah untuk perkembangan paru dan meningkatkan surfaktan paru. Selain dari efek surfaktan, glukokortikoid juga dapat meningkatkan compliance paru dan volume maksimal paru. Pemberian dexamethasone juga berguna untuk menurunkan frekuensi respiratory distress syndrome, dengan cara enzim antioksidan dan menginduksi protein yang terlibat dalam clearance cairan paru janin dan berlanjut memfasilitasi transisi dalam pernapasan setelah kelahiran.

2