laporan praktikum kimia organik (tpk18225)

of 15 /15
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225) PERCOBAAN II PENENTUAN SIFAT FISIK DARI SENYAWA ORGANIK Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Organik (TPK18225) Dosen Pengampu: Ratna Kartika Irawati, S.Pd., M.Pd. Asisten Dosen: Rahmiati Raudatul Janah Disusun Oleh: Ema Amilia 180101090170 PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ANTASARI BANJARMASIN FEBRUARI 2020

Upload: others

Post on 26-Mar-2022

17 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

(TPK18225)

PERCOBAAN II

PENENTUAN SIFAT FISIK DARI SENYAWA ORGANIK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Organik (TPK18225)

Dosen Pengampu:

Ratna Kartika Irawati, S.Pd., M.Pd.

Asisten Dosen:

Rahmiati

Raudatul Janah

Disusun Oleh:

Ema Amilia

180101090170

PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN ANTASARI BANJARMASIN

FEBRUARI 2020

Page 2: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

I. LANDASAN TEORI

Senyawa organik merupakan senyawa yang terdapat pada organisme yang

bervariasi jumlah atom dan strukturnya. Setiap atomnya selalu mengandung

karbon sebagai unsur utamanya, senyawa hidrokarbon kurang diganti dengan

gugus fungsional. (Sukmaria, 1999)

Contoh dari senyawa organik atau molekul adalah asam nukleat, lemak,

protein, gula, enzim, metana, dan beberapa bahan bakar. Sedangkan contoh dari

senyawa anorganik yaitu: NaCI, logam, dan berilium. Zat yang terbuat dari

elemen tunggal dan senyawa lain yang tidak mengandung ikatan karbon-

halogen (Hart, 2003).

Sifat fisik dan kimia senyawa organik dapat dibedakan satu dengan yang

lainnya. Ketika beberaa sufat fisik dan kimia senyaw-senyawa organik dan

anorganik sederhana yang menceritakan apakah senyawa termasuk dalam

senyawa organik atau anorganik antara lain pemanasan, komduktifitas, dan

ionisasi (disosiasi) serta kelarutan (Natsir, 2003).

Alkana, alkena, dan alkuna merupakan senyawa hidrokarbon alifatik.

Alkana adalah senyawa hidrokarbon jenuh, sedangkan alkena dan alkuna adalah

senyawa hidrokarbon tak jenuh (Day dan Underwood, 2002). Alkana, alkena,

dan alkuna memiliki fungsi dan kegunaan sangat luas. Tentunya sangat

dibutuhkan bagi manusia terutama sebagai bahan bakar minyak (misalnya

kerosin, bensin, dan solar) dan bahan bakar gas (LPG) sebab alkana merupakan

komponen utama gas alam serta minyak bumi. Selan itu juga, alkana digunakan

sebaga pelapis jalan atau aspal, lilin (paraffin), dan pelumas. Sedangkan alkena

dan alkuna seringkali digunakan untuk pereaksi awal pada saat mmensintesis

senyawa karena pada senyawa alkena dan alkuna terdapat ikatan rangkap

(Riswiyantoro, 2009).

Sifat fisik hidrokarbon terjadi karena dia bersifat non polar. Biasanya

hidrokarbon tidak dapat bercampur dengan pelarut yang bersifat pola seperti air.

Namun senyawa hidrokarbon cenderung larut pada pelarut yang bersifat

nonpolar juga seperti pada CCI4 atau kloroform. Kereaktifan senyawa

hidrokarbon bergantung pada jenis ikatan yang dimiliki oleh senyawa

hidrokarbon tersenut. Senyawa yang termasuk golongan alkana cenderung sulit

atau tidak reeaktif terhadap sebagan besar pereaksi. Namun, pada senyawa

golongan alkena dan alkuna dia cenderung lebih reatif saat mengalami suatu

reaksi yang biasa di sebut dengan reaksi adisi pada ikatan rangkap dua oleh

alkena dan rangkap tiga oleh alkuna. Sedangkan senyawa aromatik dia

cenderung juga bersifat reaktif saat senyawa tersebut mengalami reaksi subtitusi

(Anonim, 2012).

Alkohol adalah merupakan senyawa yang mempunyai gugus hidroksil yang

terikat pada atom jenuh. Alkohol mempunyai rumus umum ROH, dimana R

Page 3: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

adalah alkil, alkil tersubtitusi hidrokarbonsikli. Alkohol tidak memiliki gugus

fenol (gugus hidroksil berikatan dengan aromatic), enol (gugus hidroksil

berikatan dengan karbon vinilik) sifat-sifatnya berbeda. Alkohol digolongkann

menjadi 3 kelompok, yaitu alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol

tersier (Riswayanto, 2009).

Alkohol dapat dibedakan dengan senyawa lain, misalnya hidrokarbon, eter,

dan ester dengan natrium reaktifnya. Adapun cara mendeteksinya dengan uji

hidrogen aktif pada hidroksil. Oleh sebab itu hidrogen aktif lainnya akan ikut

tercampur, terutama air (Bailey dkk, 1978).

Alkohol dapat bereaksi dengan logam reaktif melepaskan gas hidroge.

Sementara eter tidak dapat bereaksi. Contoh logam reaktif adalah Natrium.

Alkohol: 2R-OH +2Na → 2R-ONa +H2

Eter: R-O-R- + Na → tidak dapat bereaksi

berikut adalah reaksi contoh etanol yang berisomer fungsi dengan di dimetil eter

2C2H5-OH etanol + 2Na → 2C2H5-ONa + H2

CH3 – O – CH3 dimetil eter + Na → tidak terjadi reaksi (Safrizaln, 2011).

Etanol disebut juga dengan etil alkohol, alkohol solute, alkohol murni atau

alkohol. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH. Etanol merupakan suatu

alkohol primer, etanol memiliki dua sifat yaitu sifat kimia dan sifat fisika.

Berdasarkan sifat kimianyayatu reaksi asam dan basa, halogenasi, pembuatan

ester, dehidrasi, oksdidasi serta pembakaran. Dan sifat fisiknya dipengaruhi

oleh keberadaan gugus hidroksil, pendeknya rantai karbon etanol, gugus

hidroksilterdapat pada ikatan hidrogen, ikatan hidrogen itulah yang membuat

etanol sulit untuk menguap dengan massa molekul yang sama. Kegunaan dari

etanol biasanya untuk industri dan pelarut. (Bettelheim, 2005).

Aldehid adalah senyawa yang memiliki gugus karbonil terikat pada satu

atau dua atom hidrogen. Aldehid lebih reatif daripada alkohol dan bisa

mengalami reaksi adisi dan oksidasi. Aldehid dioksidasi menjadi asam dan bisa

mengalami reeaksi polimerisasi. Aldehid nenpunyai struktur serta unsur karbon

(C), hidrogen (H), dan oksigen (O). struktur aldehid adalah R-CHO, dengan –

R adalah alkil dan –CHO merupakan gugus fungsi aldehida (Hart, 1998).

Salah satu contoh dari senyawa organik golongan aldehid adalah formalin

atau formaldehida. Rumus molekul dari formaldehida adalah CH2O, dan

memiliki, massa molekul 30,03 g/mol. Formaldehida merupakan cairan tak

berwarna dengan densitas sebesar 1 kg/m3 memiliki titik didih -19,30 C.

formaldehida larut dalam air.

Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai gugus karbonil yang

berikatan dengan dua gugus alkil. Keton bersifat polar karena gugus

karbonilnya besifat polar dan keton merupakan senyawa organik yang mudah

menguap (volatile) daripada alkohol dan asam karboksilat, keton memiliki

Page 4: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

struktur sama dengan aldehid yaitu R-CO-R’, di mana R alkil dan –CO-

merupakan gugus fungsi dari keton (Fessenden, 1997).

Salah satu contoh dari senyawa organik golongan keton yaitu aseton. Aseton

memiliki rumus molekul C3H6O dan merupakan zat cair tidak berwarna, berbau

tajam, mudah menguap, mudah tebakar, serta mudah larut dalam pelarut polar.

Aseton memiliki massa molar sebesar 58,08 g/mol, densitas 0,79 g/cm3,

memiliki titik leleh -94,90C, dan titik didih 56,530C.

Suatu senyawa dikatakan senyawa organik tidak hanya ketika senyawa tesebut

mengandung unsur C, H, dan O. tetapi ada beberapa senyawa organik yang

mengandung unsur golongan halogen contohnya yaitu kloroform. Di mana

kloroform memiliki rumus kimia CH3CI. Kloroform memiliki titik didih pada

suhu 61,20C, titik beku -6,40C, tetek leleh -620C, densitas 1,48 g/cm3, serta

kloroform merupakan senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air.

II. HIPOTESIS

Etanol, kloroform, aseton dan iso-propopil memiliki sifat fisik yang berbeda

dibuktikan dengan:

1. Penentuan titik didih yaitu nilai titik didih etanol sebesar = 78,290 C,

kloroform = 61,150 C, aseton = 56,530C, dan Isopropanol = 82,60 C.

2. Penetuan berat jenis yaitu nilai ρetanol= 0,7893 g/cm3 , ρkloroform =

1,48 g/cm3 , ρaseton= 0,79g/cm3, ρisopropanol= 82,6 g/cm3.

3. Penentuan kelarutan: kelarutan etanol = larut, kloroform = tidak larut,

aseton =larut, isopropanol = larut.

4. Uji nyala: etanol = biru, kloroform = tidak terbakar, aseton = biru, dan

isopropanol = biru.

III. ALAT DAN BAHAN

1. Alat

a. Tabung reaksi 5 buah

b. Rak tabung reaksi 1 buah

c. Gelas arloji 2 buah

d. Gelas beker 100 ml 1 buah

e. Gelas beker 500 ml 1 buah

f. Botol semprot 1 buah

g. Kassa asbes 1 buah

h. Klem 1 buah

i. Penjepit tabung reaksi 1 buah

2. Bahan

a. Etanol

b. Air

Page 5: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

c. Kloroform

d. Aseton

e. Formaldehida

IV. PROSEDUR KERJA

1. Penentuan Titik Didih

a. Memasukkan etanol dalam tabung reaksi sebanyak 8-10 mm dari

dasarnya.

b. Mengikat tabung reaksi yang berisi etanol dengan termometer

c. Ujung tabung reaksi sejajar dengan ujung bawah thermometer

d. Isi gelas kimia dengan aquades secukupnya, kemudian meletakkan di

atas pemanas.

e. Pasang termometer pada standar dengan bantuan klem, kemudian

celupkan termometer pada pemanas air.

f. Memanaskan pemanas.

g. Mengamati perubahan yang terjadi dalam tabung reaksi hingga

membentuk gelombang kontinu.

2. Penentuan Berat Jenis

a. Menimbang gelas ukur 10 ml yang kering dan bersih

b. Mengisi gelas ukur dengan 10 ml sampel (kloroform, etanol aseton, dan

formaldehida.

c. Menghitung berat 10 ml cairan tersebut kemudian hitunglah berat

jenisnya.

d. Mencatat beratnya

3. Uji Kelarutan

a. Masukkan 2 ml aquades dalam tabung reaksi pada masing-masing 4

tabung reaksi

b. Menetesi tabung reaksi berisi air dengan etanol, kloroform,

formaldehida dan aseton pada masing-masing tabung reaksi.

c. Mengocok tabung reaksi yang telah ditetesi sampel.

d. Mengamati perubahan yang terjadi dan mencatat pada lembar

pengamatan.

4. Uji Nyala

a. Meneteskan sampel (etanol, formaldehida, kloroform, aseton) sebanyak

5 tetes ke dalam gelas arloji.

b. Membakar sampel menggunakan korek api.

c. Mencatat pengamatan kalian.

V. HASIL PENGAMATAN

1. Penentuan titik didih

Page 6: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

No perlakuan Hasil pengamatan

1 Memasukkan sampel (etanol,

kloroform, aseton, dan

formaldehida) ke dalam tabung

reaksi sebanyak 8-10 mm dari

dasarnya.

Sampel (etanol, kloroform, aseton,

dan formaldehida) tidak berwarna

dalam taung reaksi

2 Mengikat tabung reaksi yang

berisi etanol dengan termometer

Tabung reaksi dan termometer

terikat.

3 Memasang termometer pada

standar dengan bantuan klem,

kemudian mencelupkan

thermometer pada pemanas air.

Termometer terpasang pada klem

dan tercelum ke dalam pemanas air.

4. Mengisi gelas kimia dengan

aquades secukupnya, kemudian

meletakkan di atas spiritus.

Gelas kimia berisi aquades dan

terletak di atas spiritus

5. Memanaskan pemanas dengan

pembakar spiritus

Pemanas dipanaskan.

6. Mengamati perubahan yang

temperature yang terdapat pada

tabung reaksi hingga

membentuk gelombang kontinu.

Titik didih yang diperoleh:

Etanol = 790 C

Kloroform = 7850 C

Aseton = 750 C

Formaldehida = 970 C

2. Penentuan Berat Jenis

No Perlakuan Hasil pengamatan

1 Menimbang gelas ukur 10 ml

yang kering dan bersih

Berat gelas ukur yang ditimbang

sebesar 29,21 g

2 Mengisi gelas ukur dengan 10

ml sampel (kloroform, etanol,

aseton dan formaldehida).

Etanol + gelas ukur = 39,00 g

Kloroform + gelas ukur = 43,90 g

Aseton = 37,35 g

Formaldehida = gelas ukur = 38,77

3 Menghitung berat 10 ml sampel

tersebut, kemudian menghitung

berat jenisnya.

- Berat 10 ml sampel

Etanol = 9,79 g

Kloroforrm = 14,69 g

Aseton = 8,54 g

Formaldehida = 9,56 g

- Berat jenis

Etanol = 0,979 g/ml

Kloroforrm = 1,469 g/ml

Aseton = 0,854 g/ml

Page 7: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

Formaldehida = 0,956 g/ml

3. Uji Kelarutan

No Perlakuan Hasil pengamatan

1 Memasukkan 2 ml aquades

dalam tabung reaksi pada

masing-masing 4 tabung reaksi

2 ml aquades dalam 4 tabung reaksi

2 Menetesi tabung reaksi berisi air

dengan etanol, kloroform,

formaldehida, dan aseton pada

masing-masing tabung reaksi

Tabung reaksi yang ditetesi dengan

kloroform.

3 Mengocok tabung reaksi yang

telah ditetesi sampel.

- Etanol larut dalam air

- Kloroform tidak tercampur

dengan air

- Aseton larut dalam air

- Formaldehida larut dalam

airr

4. Uji Nyala

No perlakuan Hasil pengamatan

1 Meneteskan sampel (etanol,

fermaldehida, kloroform,

aseton) sebanyak 5 tetes ke

dalam sebuah gelas arloji

Sampel (etanol, fermaldehida,

kloroform, aseton) terdapat pada

gelas arloji.

2 Membakar sampel dengan

menggunakan korek api.

- Etanol: terbakar, nyala api

biru, serta mudah mengup

- Kloroform: tidak terbakar,

dan mengeluarkan asap

- Aseton : menyala, nyala api

biru, dan mudah menguap.

- Formaldehida : tidak

menyala

VI. ANALISIS DATA

1. Penentuan titik didih

Pada uji penentuan titik didih di panaskan sampel pada penangas air

sampa terdapat gelembung pada tabung reaksi dan sambil diukur suhunya

dengan thermometer. Pada pemanasan etanol dia mendidih pada suhu 790C,

dan ketika menguji titik didih aseton diperoleh, aseton mendidih pada suhu

Page 8: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

750C, kloroform mendidih pada suhu 850C, dan formalin mendidih pada

suhu 970 C.

2. Penentuan Berat Jenis

Pada penentuan berat jenis ini ditimbang berat dari gelas ukur kosong

dan juga kering dan diperoh berat gelas ukur sebesar 29,21 g, lalu setelah

itu mengukur berat gelas ukur + sampel dimana sampelnya itu adalah etanol,

kloroform, aseton dan juga formalin. Hasil dari masing-masing timbangan

sampel + gelas ukur tersebut adalah

a. 10 ml etanol + gelas ukur = 39,00 g

b. 10 ml kloroform + gelas ukur = 43,90 g

c. 10 ml aseton + gelas ukur = 37,75 g

d. 10 ml formalin + gelas ukur = 38,77 g

Untuk mendapatkan berat jenis dari senyawa-senyawa tesebut maka kita

harus mencari berat bersih dari 10 ml sampel tersebut baru setelah dibagi

dengan volume sampel yaitu 10 ml. setelah itu baru didapt berat jenisnya

sebagai berikut:

a. Etanol = 0,979 g/ml

b. Kloroform = 1,469 g/ml

c. Aseton = 0,854 g/ml

d. Formalin = 0,956 g/ml

2. uji kelarutan

Pada sampel, bahan pelarut yang digunakan adalah air, di mana

sampel yang digunakan adalah etanol, kloroform, aseton dan juga formalin

atau disebut dengan formaldehida. Sebanyak 2 ml sampel tersebut

dilarutkan dalam air dan diperoleh hasil, aseton, etanol, dan formalin larut

dalam air sedangkan kloroform dia tidak larut dalam air tetapi kloroform

dan air membentuk dua lapisan yaitu lapisan pertama air dan lapisan kedua

kloroform.

3. Uji Nyala api

Percobaan terakhir yang digunakan untuk mengetahui sifat fisik

senyawa organik yaitu dengan uji nyala api pada sampel, sampel yang

digunakan yaitu, etanol, aseton, kloroform, dan formalin. Pada uji nyala,

sampel yang dapat menghasilnya nyala api adalah etanol dan aseton. Pada

etanol dia terbakar menghasilkan nyala api biru, serta etanolnya cepat sekali

menguap, dan pada aseton juga menghasilkan nyala api biru serta cepat

menguap bahkan penguapannya lebih cepat daripada etanol untuk menguap.

VII. PEMBAHASAN

1. Penentuan Titik Didih

Page 9: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

Pada pecobaan penentuan titik didih, ini sampel yang digunakan

adalah etanol, kloroform, aseton, dan juga formalin yang mempunyai wujud

cair dan tidak berwarna. Dalam teori titik didih dari etanol yatu sebesar

78,290C, kloroform sebesar 61,20C, aseton sebesar 56,530C, dan formalin

sebesar -19,30C.

Pada saat percobaan titik didih dari etanol yaitu sebesar 790C, pada

kloroform sebesar 850C, aseton 750C, dan formalin 970C suatu sampel

mencapai titik didih ketika didapat gelembung-gelembung yang kontinu.

Pada percobaan titik didih yang dihasilkan dari sampel-sampel yang diujika

memiliki perbedaan dengan titik didih yang ada pada teori terlebih pada titik

formalin yang memiliki perbedaan sangat tampak yaitu dari teori sebesar -

19,30C dan pada percobaan titik didih ini dihasilkan didih sebesar 970C. hal

itu terjadi karena pada saat melakukan praktikum tidak dilakukan

pengadukan selama pemanasan sehingga memperlambat proses kloroform

untuk mendidih serta hal itu juga dikarenakan volume air saat memanaskan

terlalu banyak pada penangas hal itu juga menghambat proses pendidihan

apada formalin sehingga pada suhu 970C dia baru bisa mendidih.

Pada sampel yang digunakan setiap sampel memiliki titik didih yang

berbeda hal itu dikarenakan adanya gaya antar molekul seperti pada etanol

dia memiliki ikatan hidrogen yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan

gaya van deer waals yang dimiliki oleh molekul lain seperti aseton,

kloroform, ataup formalin. Karena itu di teori disebutkan bahwa titik didih

etanol lebih tinggi dari golongan hidrokarbon lainnya.

Selan itu ada faktor-faktor yang mempengaruhi titik didih sehingga

apa yang kita praktikumkan tidak sesuai dengan teori yang ada:

a. Tekanan, bila tekanan eksternal:

a) tekanan yang kurang dari satu atmosfer, titik didih cairan akan

lebih rendah daripada titik didih normalnya.

b) Tekanan sama dengan satu atmosfer, titik didih cairan disebut

juga dengan titik didih normal.

c) Tekanan lebih besar dari satu atmosfer, titik didih cairan akan

lebih besar dari titik didih normalnya.

b. Jenis Molekul, jika gaya antarmolekulnya adalah:

a) Gaya antar molekul relative kuat maka titik didih akan cenderung

tinggi

b) Gaya antar molekul relative rendah maka titik didih cenderung rendah.

Perbedaan titik didih yang dihasilkan dengan teori yang ada juga

dapat dikarenakan sanpel yang digunakan tidak memiliki kemurnian,

melainkan terkontaminasi dengan zat lain.

2. Penentuan Berat Jenis

Page 10: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

Percobaan ini betujuan untuk menentukan berat jenis dari senyawa

organik yang diujikan, adapun senyawa organik yang digunakan yaitu

etanol, kloroform, aseton dan juga formalin. pada percobaan ini pula metode

yang digunakan adalah dengan menimbang gelas ukur kosong ukuran 10

ml, kemudian menimbang lagi gelas ukur + sampel yang diujikan, lalu untuk

mendapakan massa dari sampel itu makam berat gelas ukur dan sampel lalu

dikurang dengan berat gelas ukur kosong, dan setelah itu ketika kia ingin

memperoleh berat massanya maka berat sampel tersebut dibagi 10.

Pada percobaan ini didapatkan berat jenis dari etanol sebesar 0,979

g/ml. kloroform sebesar 1,469 g/ml, aseton sebesar 0,854 g/ml, dan formalin

0,956 g/ml. Berat jenis yang dihasilkan hampir mendekati dengan massa

jenis pada teori, adapun pada teori berat jenis dari etanol adalah 0,7893

g/cm3, kloroform sebesar 1,48 g/cm3, aseton sebesar 0,79 g/cm3, dan

formalin sebesar 1 kg/m3. Pebedaan tersebut bisa tejadi karena pada saat

penimbangan pada timbangan yang digunakan tekontaminasi atau terdapat

zat pengotor pada timbangan sehingga mempengaruh hasil dari timbangan

tersebut.

Selain itu ada beberapa faktor lagi yang menyebabkan perbedaan

berat jenis antara teori dengan percobaan yang dilakukan

a. Temperature

Pada suhu yang tinggi sampel akan lebih cepat menguap hal itu bisa

mengakibatkan kesulitan dalam mengukur berat jenisnya, demikian juga

jika suhunya telalu rendah akan menyebabkan sampel membeku hal itu

juga menyebabkan kesulitan dalam mengukur berat jenisnya, oleh

karena itu diperlukan suhu yang biasa membuat senyawa stabil yaitu

pada suhu kamar (250C)

b. Massa sampel

Jika massa sampel yang digunakan besar maka hasil perhitungan dari

berat jenisnya juga akan besar.

c. Volume sampel

apabila volume dari sampel besar maka penentuan berat jenisnya

akan berpengaruh, juga berat jenis bergantung pada ukuran partikel

dari sampel, berat sampel, dan kekentalan dari sampel.

3. Uji Kelarutan

Pada uji kelarutan senyawa organik dari sampel yang digunakan yaitu

etanol, klroform, aseton, dan formalin. dilakukan uji kelarutan dengan

menggunakan pelarut air.

Hasil yang didapat pada percobaan ini adalah etanol, aseton, dan

formalin larut dalam air hal itu terjadi karena etanol, aseton, dan formalin

merupakan senyawa polar sehingga dia dapat larut dalam pelarut polar yaitu

Page 11: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

air, berbeda dengan kloroform dia tidak dapat larut dalam air dan

membentuk dua lapisan yaitu lapisan pertama air dan lapisan kedua

kloroform, kloroform tidak dapat larut dalam air karena dia termasuk

senyawa non polar sehingga dia tidak dapat larut pelarut polar seperti air.

Persamaan reaksinya adalah:

C₂H₅OH + H₂O ⇒ C₂H₅OH + H₂O (persamaan reaksi etanol dan air)

C3H6O + H₂O ⇒ C3H6O + H₂O ( persamaan reaksi aseton dan air)

CH2O + H₂O ⇒ CH2O + H₂O ( persamaan reaksi formalin dan air)

4. Uji Nyala Api

Pada uji nyala api digunakan sampel berupa etanol, kloroform, aseton dan

juga alkohol. Dimana sampel tesebut dibakar diatas kaca arloji dan diamati

warna api yang dihasilkan.

Pada uji etanol menghasilkan api berwarna biru serta alkohol yang sangat

mudah menguap daripada air hal itu dikarenakan terjadi karena pada alkohol

terdapat gugus hidroksil atau ikatan hidrogen. Adapun persamaan reaksinya

adalah: C₂H₅OH (g) + 3O₂ (g) -> 2CO₂ (g) + 3H₂O (g).

Uji yang kedua yaitu uji pada kloroform tidak terjadi proses pembakaran

namun pada sampel mengeluarkan asap

Pada uji terhadap aseton menghasilkan nyala api juga berwarna biru

serta mudah mengalami penguapan, hal itu terjadi karena pada pada aseton

dia tidak memiliki gugus hidroksil atau ikatan hidrogen seingga dia mudah

menguap. Persamaan reaksinya adalah:

C₃H₆O + 4O₂ ⇒ 3CO₂ + 3H₂O

Dan yang terakhir adalah uji terhadap formalin, dimana ketika

diuji formalin tidak terbakar namun mengeluarkan asap, Pada etanol dan

aseton, nyala api lebih biru karena jumlah atom C nya hanya 2 atau 3,

seingga enegi yang dipelukan untuk memutuskana ikatan makin kecil, dan

enegi yang dibebaskan saat pembentukan ikatan baru makin besar.

Pembakaran etanol aseton melepas banyak kalor sehingga panas api lebih

besar. Karena pembakaran etanol dan aseton adalah pembakaran

sempurna. Jadi warna nyala api biru, dan aseton bir agak oranye. Warna

biru yang dihasilkan dari etanol dan aseton disebabkan karena dibawah

2000oC.

Pembakaran sempurna menghasilkan CO2 dan H2O, sedangkan

pada pembakaran tidak sempurna menghasilkan CO dan H2O atau jelaga

(partikel karbon)

Page 12: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

Kloroform dan formalin tidak terbakar karena tidak mengalami

pembakaran sempurna.

VIII. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan sifat fisik etanol, kloroform, aseton, dan

formalin berbeda yaitu:

Sampel Titik didih Berat jenis kelarutan Uji nyala

Etanol 790C 0,979 g/ml Larut Nyala

Kloroform 850C 1,469 g/ml Tidak larut Tidak nyala

Aseton 750C 0,854 g/ml Larut Menyala

Formalin 970C 0,956 g/ml Larut Tidak

menyala

Page 13: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

DAFTAR PUSTKA

Bailey, dkk. (1978). Organic Chemistry. Boston: Atlantic Inc.

Bettelheim. (Pengantar kimia Organik dan Hayati). 2005. Bandung: ITB.

Fessenden, R.J. dan Joan, S.F. (1997). Dasar-dasar Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Hart,Harold. (1998). Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Riswayanto. (2009). Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Page 14: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

LAMPIRAN

Penentuan Titik Didih

mengukur sampel sebanyak 8 mm

mengikat tabung reaksi dengan

thermometer

memanaskan air dalam penangas

Menunggu sampai terbentuk

gelumbung secara kontinu

Uji Nyala

Nyala api pada etanol Uji nyala pada aseton

Uji nyala pada kloroform Uji Nyala pada formalin

Uji Kelarutan

Page 15: LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (TPK18225)

Uji Kelarutan pada aseton Uji kelarutan pada formalin

uji kelarutan pada kloroform uji kelarutan pada etanol

Penentuan Berat Jenis

mengukur berat etanol mengukur berat formalin

mengukur berat kloroform mengukur berat aseton