laporan pendahuluan struma nodosa non toksik(snnt)

of 38 /38

Click here to load reader

Author: farida

Post on 13-Feb-2016

185 views

Category:

Documents


23 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SNNT

TRANSCRIPT

LAPORAN PENDAHULUAN STRUMA NODOSA NON TOKSIK undefinedundefined. undefined

STRUMA NODOSA NON TOKSIK

PENGERTIAN Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul ,tanpa disertai tanda tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : Struma mononodosa non toksik Struma multinodosa nontoksik

Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas,

Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi ;nodul lunak ,nodul kistik, nodul keras,nodul sangat keras,

DIAGNOSISAnamnesis : Sejak kapan benjolan timbul Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap Cara membesarkanya : cepat atau lambat Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja Riwayat keluarga Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil/muda Perubahan suara Gangguan menelan ,sesak nafas Penurunan berat badan Keluhan tirotoksikosis

Pemeriksaan fisik ; Umum Local ;o Nodul tunggal atau majemuk,atau difuso Nyeri tekano Konsistensio Permukaano Perlekatan pada jaringan sekitarnya o Pendesakan atau pendorongan trakeao Pembesaran kelenjar getah bening regionalo Pembertons sign

Penilaian risiko keganasan :Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak ,tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun, Gejala hipo atau hipertiroidisme Nyeri berhubungan dengan nodul Nodul lunak, mudah degerakan Multinodul tanpa nodul yang dominant ,dan konsistensi sama.

namnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid : Umur < 20 tahun atau > 70 tahun Gender laki- laki Nodul disertai disfagi ,serak atau obstruksi jlan napas Pertumbuhan nodul cepat ( beberapa minggu bulan ) Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak anak atau dewasa ( juga meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) Riwayat keluarga kanker tiroid meduler Nodul yang tunggal ,berbatas tegas ,keras,irregular dan sulit digerakan Paralysis pita suara Temuan limpadenofati servikal Metastasis jauh ( paru-paru ),DLL

Langkah diagnosis I :TSHs FT4Hasil : non toksis langkah diagnostic H :BAJAH nodul tiroidHasil ; A ganasB curiga C jinakD tak cukup /sediaan tak representative

DIAGNOSIS BANDING Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan ,pubertas laktasi,menstruasi,kehamilan menopause,infeksi,stes lain . Tiroiditis akut Tiroiditis subakut Tiroiditis kronis,limpositik (hashimoto),fibrous-invasif ( riedel ) Simple goiter Struma endemic Kista tiroid,kista degenerasi Adenoma Karsinoma tiroid primer,metastatik Limfoma

PEMEIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : T4 atau T3, dan TSHs Biosi aspirasi jarum halus ( BAJAH ) nodul tiroido Bila hasil laboratorium; non toksiko Bila hasil lab,(awal ) toksik,tetapi hasil scan : cold nodule syrat sudah menjadi eutiroid, USG tiroido Pemantau kasus nodul yang tidak diopersi o Pemendu pada BAJAH Sidik tiroid :o Bila klinis ganas,tetapi hasil sitologi dengan BAJAH ( 2 X );jinakm ,o Hasil sitologi dengan BAJAH : curiga ganas Petanda keganasan tiroid ( bila ada riwayat keluarga dengan karsinoma tiroid medular,diperiksakan kalsitonik) Pemeriksaaan antitiroglobulin bila TSHs meningkat,curiga penyakit hashimotoDefinisiStruma adalah tumor (pembesaran) pada kelenjar tiroid. Biasanya dianggap membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran normal. Pembesaran kelenjar tiroid sangat bervariasi dari tidak terlihat sampai besar sekali dan mengadakan penekanan pada trakea, membuat dilatasi sistem vena serta pembentukan vena kolateral. Pada struma gondok endemik, Perez membagi klasifikasi menjadi: Derajat 0: tidak teraba pada pemeriksaan Derajat I: teraba pada pemeriksaan, terlihat hanya kalau kepala ditegakkan Derajat II: mudah terlihat pada posisi kepala normal Derajat III: terlihat pada jarak jauh.Pada keadaan tertentu derajat 0 dibagi menjadi: Derajat 0a: tidak terlihat atau teraba tidak besar dari ukuran normal. Derajat 0b: jelas teraba lebih besar dari normal, tetapi tidak terlihat bila kepala ditegakkan.2Dari aspek fungsi kelenjar tiroid, yang tugasnya memproduksi hormon tiroksin, maka bisa dibagi menjadi: Hipertiroidi; sering juga disebut toksik (walaupun pada kenyataannya pada penderita ini tidak dijumpai adanya toksin), bila produksi hormon tiroksin berlebihan. Eutiroid; bila produksi hormon tiroksin normal. Hipotiroidi; bila produksi hormon tiroksin kurang. Struma nodosa non toksik; bila tanpa tanda-tanda hipertiroidiBerdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif, nodul dibedakan menjadi:- nodul dingin (cold nodule)- nodul hangat (warm nodule)- nodul panas (hot nodule)Berdasarkan konsistensinya dibagi menjadi:(-) nodul lunak(-) nodul kistik(-) nodul keras(-) nodul sangat keras3,6EtiologiPenyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma nodosa tidak diketahui, namun sebagian besar penderita menunjukkan gejala-gejala tiroiditis ringan; oleh karena itu, diduga tiroiditis ini menyebabkan hipotiroidisme ringan, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan sekresi TSH (thyroid stimulating hormone) dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang. Keadaan inilah yang dapat menjelaskan mengapa kelenjar ini biasanya nodular, dengan beberapa bagian kelenjar tumbuh namun bagian yang lain rusak akibat tiroiditis.Pada beberapa penderita struma nodosa, di dalam kelenjar tiroidnya timbul kelainan pada sistem enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroid. Di antara kelainan-kelainan yang dapat dijumpai adalah:1. Defisiensi mekanisme pengikatan iodida, sehingga iodium dipompakan ke dalam sel jumlahnya tidak adekuat.2. Defisiensi sistem peroksidase, di mana iodida tidak dioksidasi menjadi iodium.3. Defisiensi penggandengan tirosin teriodinasi di dalam molekul tiroglobulin, sehingga bentuk akhir dari hormon tiroid tidak terbentuk.4. Defisiensi enzim deiodinase, yang mencegah pulihnya iodium dari tirosin teriodinasi, yang tidak mengalami penggandengan untuk membentuk hormon tiroid, sehingga menyebabkan defisiensi iodium.3Akhirnya, ada beberapa makanan yang mengandung substansi goitrogenik yakni makanan yang mengandung sejenis propiltiourasil yang mempunyai aktifitas antitiroid sehingga juga menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid akibat rangsangan TSH. Beberapa bahan goitrogenik ditemukan pada beberapa varietas lobak dan kubis.DiagnosisDiagnosis struma nodosa non toksik ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian resiko keganasan, dan pemeriksaan penunjang.Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipo- atau hipertiroidisme. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan.Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah kontra lateral. Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan pernafasan. Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar.2,Keluhan yang ada ialah rasa berat di leher. Sewaktu menelan trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi pada trakea.Pemeriksaan pasien dengan struma dilakukan dari belakang kepala penderita sedikit fleksi sehingga muskulus sternokleidomastoidea relaksasi, dengan demikan tiroid lebih mudah dievaluasi dengan palpasi. Gunakan kedua tangan bersamaan dengan ibu jari posisi di tengkuk penderita sedang keempat jari yang lain dari arah lateral mengeveluasi tiroid serta mencari pole bawah kelenjar tiroid sewaktu penderita disuruh menelan.Pada struma yang besar dan masuk retrosternal tidak dapat di raba trakea dan pole bawah tiroid. Kelenjar tiroid yang normal teraba sebagai bentukan yang lunak dan ikut bergerak pada waktu menelan. Biasanya struma masih bisa digerakkan ke arah lateral dan susah digerakkan ke arah vertikal. Struma menjadi terfiksir apabila sangat besar, keganasan yang sudah menembus kapsul, tiroiditis dan sudah ada jaringan fibrosis setelah operasi.Untuk memeriksa struma yang berasal dari satu lobus (misalnya lobus kiri penderita), maka dilakukan dengan jari tangan kiri diletakkan di mediall di bawah kartilago tiroid, lalu dorong benjolan tersebut ke kanan. Kemudian ibujari tangan kanan diletakkan di permukaan anterior benjolan. Keempat jari lainnya diletakkan pada tepi belakang muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba tepi lateral kelenjar tiroid tersebut.Pada pemeriksaan fisik nodul harus dideskripsikan:- lokasi: lobus kanan, lobos kiri, ismus- ukuran: dalam sentimeter, diameter panjang- jumlah nodul: satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa)- konsistensinya: kistik, lunak, kenyal, keras- nyeri: ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi- mobilitas: ada atau tidak perlekatan terhadap trakea, muskulus sternokleidomastoidea- pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid: ada atau tidak2.Sekitar 5% struma nodosa mengalami keganasan. Di klinik perlu dibedakan nodul tiroid jinak dan nodul ganas yang memiliki karakteristik: Konsistensi keras pada beberapa bagian atau menyeluruh pada nodull dan sukar digerakkan, walaupun nodul ganas dapat mengalamii degenerasi kistik dan kemudian menjadi lunak. Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak, walaupun nodul yang mengalami kalsifikasi dapat dtemukan pada hiperplasia adenomatosa yang sudah berlangsung lama. Infiltrasi nodul ke jaringan sekitarnya merupakan tanda keganasan, walaupun nodul ganas tidak selalu mengadakan infiltrasi. Jika ditemukan ptosis, miosis dan enoftalmus (Horner syndrome) merupakan tanda infiltrasi atau metastase ke jaringan sekitar. 20% nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multipel jarang yang ganas, tetapi nodul multipel dapat ditemukan 40% pada keganasan tiroid Nodul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurgai ganas terutama yang tidak disertai nyeri. Atau nodul lama yang tiba-tiba membesar progresif. Nodul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional atau perubahan suara menjadi serak. Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang muskulus sternokleido mastoidea karena desakan pembesaran nodul (Berrys sign)2Pemerikasaan laboratorium yang digunakan dalam diagnosa penyakit tiroid terbagi atas:a. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroidPemerikasaan hormon tiroid dan TSH paling sering menggunakan radioimmuno-assay (RIA) dan cara enzyme-linked immuno-assay (ELISA) dalam serum atau plasma darah. Pemeriksaan T4 total dikerjakan pada semua penderita penyakit tiroid, kadar normal pada orang dewasa 60-150 nmol/L atau 50-120 ng/dL; T3 sangat membantu untuk hipertiroidisme, kadar normal pada orang dewasa antara 1,0-2,6 nmol/L atau 0,65-1,7 ng/dL; TSH sangat membantu untuk mengetahui hipotiroidisme primer di mana basal TSH meningkat 6 mU/L. Kadang-kadang meningkat sampai 3 kali normal.b. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid.Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun.- antibodi tiroglobulin- antibodi mikrosomal- antibodi antigen koloid ke dua (CA2 antibodies)- antibodi permukaan sel (cell surface antibody)- thyroid stimulating hormone antibody (TSA)Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga, foto rontgen leher [posisi AP dan Lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya, bahkan tidak jarang intuk konfirmasi diagnostik tersebut sampai memelukan CT-scan leher.USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk:- Dapat menentukan jumlah nodul- Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik,- Dapat mengukur volume dari nodul tiroid- Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap iodium, yang tidak terlihat dengan sidik tiroid.- Pada kehamilan di mana pemeriksaan sidik tiroid tidak dapat dilakukan, pemeriksaan USG sangat membantu mengetahui adanya pembesaran tiroid.- Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah- Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan.Pemeriksaan tiroid dengan menggunakan radio-isotop dengan memanfaatkan metabolisme iodium yang erat hubungannya dengan kinerja tiroid bisa menggambarkan aktifitas kelenjar tiroid maupun bentuk lesinya.Penilaian fungsi kelenjar tiroid dapat juga dilakukan karena adanya sistem transport pada membran sel tiroid yang menangkap iodida dan anion lain. Iodida selain mengalami proses trapping juga ikut dalam proses organifikasi, sedangkan ion pertechnetate hanya ikut dalam proses trapping. Uji tangkap tiroid ini berguna untuk menentukan fungsi dan sekaligus membedakan berbagaii penyebab hipertiroidisme dan juga menentukan dosis iodium radioaktif untuk pengobatan hipertiroidisme.Uji tangkap tiroid tidak selalu sejalan dengan keadaan klinik dan kadar hormon tiroid.Pemeriksaan dengan sidik tiroid sama dengan uji angkap tiroid, yaitu dengan prinsip daerah dengan fungsi yang lebih aktif akan menangkap radioaktivitas yang lebih tinggi.Pemerikasaan histopatologis dengan biopsi jarum halus (fine needle aspiration biopsy FNAB) akurasinya 80%. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja. Berikut ini penilaian FNAB untuk nodul tiroid.- Jinak (negatif)Tiroid normalNodul koloidKistaTiroiditis subakutTiroiditis Hashimoto- Curiga (indeterminate)Neoplasma sel folikulerNeoplasma HurthleTemuan kecurigaan keganasan tai tidak pasti- Ganas (positif)Karsinoma tiroid papilerKarsinoma tiroid medulerKarsinoma tiroid anaplastik.5Pemeriksaan potong beku (VC = Vries coupe) pada operasi tiroidektomi diperlukan untuk meyakinkan bahwa nodul yang dioperasi tersebut suatu keganasan atau bukan.Lesi tiroid atau sisa tiroid yang dilakukan VC dilakukan pemeriksaan patologi anatomis untuk memastika n proses ganas atau jinak serta mengetahui jenis kelainan histopatologis dari nodul tiroid dengan parafin block.PenangananPilihan terapi nodul tiroid:- Terapi supresi dengan hormon levotirosin- Pembedahan- Iodium radioaktif- Suntikan etanol- US Guided Laser Therapy- Observasi, bila yakin nodul tidak ganas.Indikasi operasi pada struma adalah:- struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa- struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan- struma dengan gangguan tekanan- kosmetik.Kontraindikassi operasi pada struma:- struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya- struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik yang lain yang belum terkontrol- struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya karena karsinoma. Karsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosanya. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukan reseksi trakea atau laringektomi, tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik.- struma yang disertai dengan sindrom vena kava superior. Biasanya karena metastase luas ke mediastinum, sukar eksisinya biarpun telah dilakukan sternotomi, dan bila dipaksakan akan memberikan mortalitas yang tinggi dan sering hasilnya tidak radikal.2,3,6Pengertian struma nodosa non toksikStruma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme.(Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 1987).1. Anatomi kelenjar tyroidKelenjar tyroid mempunyai dua lobus, struktur yang kaya vaskularisasi, lobus terletak di sebelah lateral trakea tepat dibawah laring dan dihubungkan dengan jembatan jaringan tiroid, yang disebut isthmus, yang terlentang pada permukaan anterior trakea. Secara mikroskopik, tiroid terutama terdiri atas folikel steroid, yang masing masing menyimpan materi koloid dibagian pusatnya. Folikel memproduksi, menyimpan dan mensekresi kedua hormon utama T3 (triodotironin) dan T4 (tiroksin). Jika kelenjar secara aktif mengandung folikel yang besar, yang masing masing mempunyai jumlah koloid yang disimpan dalam jumlah besar sel selnya, sel sel parafolikular mensekresi hormon kalsitonin. Hormon ini dan dua hormon lainnya mempengaruhi metabolisme kalsium. Hormon hormon ini akan dibicarakan kemudian.1. EtiologiAdanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :1. 1. Defisiensi iodiumPada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.1. 1. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai).Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).1. PatofisiologiIodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.1. Gejala-gejalaPada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.1. DiagnosisDiagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dan tidak toksik, melalui :1. 1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal.Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal.Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul.Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsi yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman.Pencegahan2.PenatalaksanaanDengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat.EdukasiProgram ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.Penyuntikan lipidolSasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc 0,8 cc.1. 1. Tindakan operasiPada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai.Konsep Asuhan KeperawatanDalam melaksanakan asuhan keperawatan, penulis menggunakan pedoman asuhan keperawatan sebagai dasar pemecahan masalah pasien secara ilmiah dan sistematis yang meliputi tahap pengkajian, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.1. PengkajianPengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi :1. 1. Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter.Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia.Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis).Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.Langkah selanjutnya adalah penentuan diagnosa keperawatan yang merupakan suatu pernyataan dan masalah pasien secara nyata maupun potensial berdasarkan data yang terkumpul. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut ;Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal.Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.1. Perencanaan keperawatan/intervensiPerencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas, maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut :1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal.Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil :Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.Rencana tindakan/intervensiPantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.Rasional :Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan.Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.Rasional :Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.Rasional :Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher, menyokog kepala dengan bantal.Rasional :Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan.Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi.Rasional :Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan nafas.Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.Rasional :Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri.Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur, terutama pada bagian posteriorRasional :Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung.Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.Rasional :Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan sekitar daerah operasi.Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien.Rasional :Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang darurat.Pembedahan tulangRasional :Mungkin sangat diperlukan untuk penyambungan/perbaikan pembuluh darah yang mengalami perdarahan yang terus menerus.1. 1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan saraf laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami.Rencana tindakan/intervensiKaji fungsi bicara secara periodik.Rasional :Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea.Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.Rasional :Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar.Rasional :Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur.Rasional ;Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias.Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera.Rasional :Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan.Pertahankan lingkungan yang tenang.Rasional :Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan.1. 1. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol.Rencana tindakan/intervensiPantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas (pembengkakan paru).Rasional :Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid.Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia.Rasional :Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan.Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur pada posisi yang rendah.Rasional :Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.Memantau kadar kalsium dalam serum.Rasional :Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti.KolaborasiBerikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat).Rasional ;Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen.1. 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan paska operasi.Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi.Rencana tindakan/intervensi :Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 10) dan lamanya.Rasional :Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil.Rasional :Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan.Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher.Rasional :Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot.Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah.Rasional :Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.Rasional :Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif.Rasional :Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif.KolaborasiBeri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai kebutuhannya.Berikan es jika ada indikasiRasional :Menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi terhadap nyeri.1. 1. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak mengungkapkan secara terbuka/mengingat kembali, setelah menginterpretasikan konsepsi.Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan dan penanganannya, berpartisipasi dalam program pengobatan, melakukan perubahan gaya hidup yang perlu.Rencana tindakan/intervensi :Tinjau ulang prosedur pembedahan dan harapan selanjutnya.Rasional ;Member pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat keputusan sesuai informasi.Diskusikan kebutuhan diet yang seimbang, diet bergizi dan bila dapat mencakup garam beriodium.Mempercepat penyembuhan dan membantu pasien mencapai berat badan yang sesuai dengan pemakaian garam beriodium cukup.Hindari makanan yang bersifat gastrogenik, misalnya makanan laut yang berlebihan, kacang kedelai, lobak.Rasional :Merupakan kontradiksi setelah tiroidiktomi sebab makanan ini menekan aktivitas tyroid.Identifikasi makanan tinggi kalsium (misalnya : kuning telur, hati)Rasional :Memaksimalkan suplay dan absorbsi jika fungsi kelenjar paratiroid terganggu.Dorong program latihan umum progresifRasional :Latihan dapat menstimulasi kelenjar tyroid dan produksi hormon yang memfasilitasi pemulihan kesejahteraan.1. Pelaksanaan keperawatanPelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.1. EvaluasiEvaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada :1. Apakah jalan nafas pasien efektif?2. Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar?3. Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi?4. Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi?5. Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta tindakan perawatan dan pengobatannya?

Disusun Oleh: Dodo Pebriansyah (P

STRAUMA NODUSA NON TOKSIK

A. PengertianStrauma adalah pembesaran pada kenlenjar tiroid yang biasanya terjadi karena folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahuna tahun folikel tumbuh semkin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler.Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. (Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam,jilid I, hal. 461, FKUI, 1987).B. EtiologiAdanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :a. Defisiensi iodiumPada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.a. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai).b. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).c. Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid.Pada umumnya ditemui pada masa pertumbuan, puberitas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lainnya. Dimana menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arseitektur yang dapat bekelanjutan dengan berkurangnya aliran darah didaerah tersebut.

C. PatofisiologiIodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid..Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3).Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif.Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroidD. Manifestasi KlinisPada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.Klien tidak mempunyai keluhan karena tidak ada hipo atau hipertirodisme. Benjolan di leher. Peningkatan metabolism karena klien hiperaktif dengan meningkatnya denyut nadi. Peningkatan simpatis seperti ; jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan.Pada pemeriksaan status lokalis struma nodosa, dibedakan dalam hal :1. Jumlah nodul; satu (soliter) atau lebih dari satu (multipel)2. Konsistensi; lunak, kistik, keras atau sangat keras.3. Nyeri pada penekanan; ada atau tidak ada4. Perlekatan dengan sekitarnya; ada atau tidak ada.5. Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada atau tidak ada.

E. Pemeriksaan Penunjang1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal.2. Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)3. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal. Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-114. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul.5. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsy aspirasi jarum halus yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman6. Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil dapat dibedakan 3 bentuk yaitu :a. Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah.b. Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.c. Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.

F. Penatalaksanaan1. Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat.2. EdukasiProgram ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.3. Penyuntikan lipidolSasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc 0,8 cc.4. Tindakan operasi (strumektomi)Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai.5. L-tiroksin selama 4-5 bulanPreparat ini diberikan apabila terdapat nodul hangat, lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid ulng. Apabila nodul mengecil, terapi dianjutkan apabila tidak mengecil bahkan membesar dilakukan biopsy atau operasi.6. Biopsy aspirasi jarum halusDilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang dari 10mm.

G. Pengakajian Keperawatan1. Pengumpulan Dataa. Identifikasi klien.b. Keluhan utama klien.Pada klien pre operasi mengeluh terdapat pembesaran pada leher. Kesulitan menelan dan bernapas. Pada post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.c. Riwayat penyakit sekarangBiasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.d. Riwayat penyakit dahuluPerlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, sebelumnya pernah menderita penyakit gondok.e. Riwayat kesehatan keluargaAda anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.f. Riwayat psikososialAkibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.2. Pemeriksaan Fisika. Keadaan umumPada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.

b. Kepala dan leherPada klien dengan pre operasi terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Pada post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.c. Sistim pernafasanBiasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.d. Sistim NeurologiPada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.e. Sistim gastrointestinalKomplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.f. Aktivitas/istirahatInsomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.g. EliminasiUrine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.h. Integritas egoMengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.i. Makanan/cairanKehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.

j. Rasa nyeri/kenyamananNyeri orbital, fotofobia.k. KeamananTidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.

H. Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan1. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal.a. Tujuan:Jalan nafas klien efektifb. Kriteria:Tidak ada sumbatan pada trakheac. Rencana tindakan:1) Monitor pernafasan dan kedalaman dan kecepatan nafas.2) Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.3) Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.4) Atur posisi semifowler5) Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.6) Melakukan suction pada trakhea dan mulut.7) Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.

d. Rasional1) Mengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.2) Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.3) Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.4) Memberikan suasana yang lebih nyaman.5) Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilsassi6) Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.7) Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.

2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.a. Tujuan :Klien dapat komunikasi secara verbalb. Kriteria hasil:Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.c. Rencana tindakan:1) Kaji pembicaraan klien secara periodik2) Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.3) Kunjungi klien sesering mungkin4) Ciptakan lingkungan yang tenang.d. Rasionalisasi:1) Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.2) Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.3) Mengurangi kecemasan klien4) Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan klien3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.a. Tujuan :Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol.b. CriteriaTidak terdapat cederac. Rencana tindakan/intervensi1) Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas (pembengkakan paru).2) Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia.3) Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur pada posisi yang rendah.4) Memantau kadar kalsium dalam serum.5) KolaborasiBerikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat).d. Rasional1) Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid.2) Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan.3) Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.4) Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti.5) Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.a. Tujuan:Rasa nyeri berkurangb. Kriteria hasil:Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.c. Rencana tindakan1) Atur posisi semi fowler, ganjal kepala /leher dengan bantal keci.2) Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.3) Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih posisi .4) Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.5) Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.d. Rasionalisasi1) Mencegah hyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.2) Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.3) Mengurangi ketegangan otot.4) Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.5) Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri5. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.a. TujuanPengetahuan klien bertambah.b. Kriteria hasil:Klien berpartisipasi dalam program keperawatanc. Rencana tindakan:1) Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.2) Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut, kedelai, Lobak cina dll.3) Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.d. Rasionalisasi1) Mempertahankan daya tahan tubuh klien.2) Kontraindikasi pembedahan kelenjar thyroid.3) Memaksimalkan suplai dan absorbsi kalsium.6. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.a. TujuanPerdarahan tidak terjadi.b. Kriteria hasilTidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.

c. Rencana tindakan1) Observasi tanda-tanda vital.2) Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.3) Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).d. Rasionalisasi1) Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui perdarahan secara dini.2) Dengan adanya balutan yang basah berarti adanya perdarahan pada luka operasi.3) Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L Y, 2001, Hand Book of Nursing Diagnosis, Edisi 8, EGC : JakartaDoengoes, dkk, 2000, Nursing Care Plans : Guideline For Planning And DokumentatingCare. EGC : Jakarta.Hidayat, Syamat, dkk, 1997. Edisi Revisi Buku Ilmu Ajar Bedah,EGC : Jakarta.Manjoer, Arief, dkk, 2000.Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Media Aesculapius :