abses leher dalam 1

Download Abses Leher Dalam 1

Post on 08-Jul-2016

241 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gtyfffffffffffff

TRANSCRIPT

ABSES SUBMANDIBULA DEXTRA DAN SINISTRA DENGAN PERLUASAN KE PARAFARING SINISTRA

ABSES LEHER DALAMOleh :Marhamah Hasnul0910312138Ayu andrian putri1010312079Anatomi Leher

Abses Leher DalamEtiologiPatogenesisDiagnosisTatalaksanaMedikamentosaAntibiotik secara empiris sebelum hasil kultur dan sensitivitas pus dari aspirasi atau drainaseAerob:AmpicillinEritromisinCefiximeCefotaximeAnerob:MetronidazoleKlindamisinCarbapenemsefoxitinKomplikasiAbses PeritonsilAbses Peritonsil Suatu timbunan nanah yg terletak diantara kapsul tonsilaris dan m. konstriktor superior faring

EtiologiKomplikasi dari tosilitis akut, infeksi yg bersumber dr kelenjar mukus weber di kutub atas tonsilKuman penyebab :- Aerob : streptococus pyogenes (Group A Beta-hemolitic Strepcocus), Staphy. Aureus, dan H. InfluenzaAnaerob : Fusubacterium, peptostreptococus, prevotella bakteoides Faktor Resiko :- Penderita tonsilitis akut- Penderita tonsilitis kronik yg rekuren- Keadaan Penurunan Imunitas tubuh- Infeksi gigi- ISPA yg didahului oleh infeksi virus- Pecandu alkohol- Pengguna kokain

PATOGENESISPada stadium permulaan (stadium infiltrat), tampak bengkak dan permukaannya hiperemisJika tidak diobati infeksi berulang pada ruang peritonsil atau infeksi kronik pada kelenjar Weber sistem saluran kelenjar tersebut membentuk pus absesDiagnosisMenegakkan diagnosis penderita dengan abses peritonsil dapat dilakukan berdasarkan anamnesis tentang riwayat penyakit, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik.Aspirasi dengan jarum(ukuran 16-18, syringe 10cc) pada daerah yg paling fluktuatif/pungsi merupakan tindakan diagnosis yang akurat untuk memastikan abses peritonsil dari pada hanya dengan usapan tenggorok.Selanjutnya material hasil aspirasi dapat dikirim untuk dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebab infeksi demi kepentingan terapi antibiotika.Pemeriksaan FisikDidapatkan Tonsilitis akut, asimetris faringDehidrasi, sepsisPada palpasi didapatkan pembesaran dan nyeri tekan pada KGB regionalPada pemeriksaan kavum oral terdapat eritema & asimetris palatum mole, eksudasi tonsil, pergesaran uvula kontralateralPada palpasi palatum mole teraba fluktuatifDirekomendasikan nasofaringoskopi dan laringoskopi pada pasien yang mengalami kesulitan bernafas.

Pemeriksaan PenunjangPada penderita abses peritonsil perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, yaitu:Hitung darah lengkap (complete blood count), kadar elektrolit (electrolyte level measurement), dan kultur darah (blood culture)Test Monospot (antibodi heterophile)Throat swab and culturePlain radiographsCT ScanUSG

Diagnosis BandingPenonjolan pada satu atau kedua tonsil atau penonjolan peritonsil harus dipertimbangan penyakit lain sebagai diagnosis banding dari abses peritonsil.Contohnya : infeksi mononukleosis, benda asing, tumor/kanker/limfoma, Hodgkin, adenitis servikal, aneurisma arteri karotis interna, dan infeksi gigi.Penyakit tersebut dibedakan dari abses peritonsil dengan pemeriksaan darah, biopsi, dll.

TATALAKSANATerapi AntibiotikInsisi dan DrainaseTonsilektomiTerapi AntibiotikTerapi antibiotik diberikan dalam dosis tinggiPenisilin staphylococcus.Metronidazol infeksi anaerob.Tetrasiklin antibiotika alternatifklindamisin antibiotik pilihan untuk menangani bakteri yang memproduksi beta laktamase. obat simtomatikkumur-kumur dengan cairan hangatkompres hangat pada leher

AntibiotikIntravenous therapyAmpicillin/sulbactam 3 gram setiap 6 jamPenicillin G 10 juta unit setiap 6 jam ditambah dengan metronidazole 500 mg setiap 6 jamJika alergi penisilin, berikan clindamycin (Cleocin) 900 mg setiap 8 jamOral therapyAmoxicillin/asam clavulanic 875 mg 2 kali sehariPenicillin VK 500 mg 4 kali sehari ditambah dengan metronidazole 500 mg 4 kali sehariClindamycin 600 mg 2 kali sehari atau 300 mg 4 kali sehariInsisi dan DrainaseLokasi insisi:Pembengkakan di daerah pilar-pilar tonsil atau dipalpasi pada daerah yang paling fluktuatifPada titik 2/3 dari garis khayal antara dasar uvula dengan molar terakhirPertengahan garis horizontal antara pertengahan basis uvula dan M3 atasPertemuan garis vertikal melalui titik potong pinggir medial pilar anterior dengan lidah dengan garis horizontal melalui basis uvulaPertemuan garis vertikal melalui pingir medial M3 bawah dengan garis horizontal melalui basis uvulaDilakukan penghisapan pus untuk mencegah aspirasi.Kumur dengan antiseptik dan diberi antibiotikKeuntungan aspirasi jarum dibandingkan insisi dan drainase:Mudah untuk dilakukan, sederhana, aman, dan murahKonfirmasi diagnosis dengan trauma minimalDapat ditoleransi (ditahan) oleh penderita / tidak menakutkanTidak / kurang mencederai struktur jaringan sekitarLebih memudahkan untuk mengumpulkan spesimen / pus guna pemeriksaan mikroskopis dan tes kultur / sensitifitas.Memberikan penyembuhan segera, mengurangi kesakitan.Mencegah prosedur bedah dan anestesi umum. Merupakan prosedur yang dapat dipercaya untuk abses peritonsilKerugian terapi dengan drainase dengan aspirasi jarum adalahBila pus terkumpul kembali dapat menyebabkan infeksi yang berulang.Tidak dapat melakukan pembersihan kantung pus secara maksimal.Pus yang tersisa tidak maksimal keluar sehingga dapat menyebabkan proses penyembuhan lamaLokasi aspirasi : pada titik atau daerah paling fluktuatif atau pada tempat pembengkakan maksimum. Bila tidak ditemukan pus, aspirasi kedua dapat dilakukan 1 cm dibawahnya atau bagian tengah tonsil

TonsilektomiWaktu pelaksanaan tonsilektomi:Tonsilektomi a chaud: dilakukan segera / bersamaan dengan drainase abses.Tonsilektomi a tiede : dilakukan 3-4 hari setelah insisi dan drainase.Tonsilektomi a froid : dilakukan 4-6 minggu setelah drainasePasien harus dilakukan operasi 2-3 hari setelah infeksi terkontrol jika ukuran luka pada abses yang pecah spontan kurang dari 2,5 cm. Namun, bila ukuran luka pada abses yang pecah spontan lebih dari 2,5 cm maka tindakan operasi harus dilakukan segeraKomplikasiSumbatan jalan napasPneumonitis aspirasi atau abses paru akibat ruptur absesKematian akibat perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotisPerluasan infeksi hingga ke jaringan leher dalam atau medistinum posteriorInfeksi SGA glomerulonephritis, demam rematikAbses SubmandibulaTerbentuknya abses pada ruang potensial di regio submandibula yang disertai dengan nyeri tenggorok, demam dan terbatasnya gerakan membuka mulut.

Abses leher dalam terbentuk di ruang potensial di antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher.

Kuman penyebab infeksi terbanyak adalah golongan Streptococcus, Staphylococcus, kuman anaerob Bacteroides atau kuman campur.

EtiologiInfeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjer liur atau kelenjer limfa submandibula. Sebagian lain dapat merupakan kelanjutan infeksi ruang leher dalam lainnya.

Sebagian besar kasus infeksi leher dalam disebabkan oleh berbagai kuman, baik aerob maupun anaerob.

Kuman aerob yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Neisseria sp, Klebsiella sp, Haemophillus sp. Pada kasus yang berasal dari infeksi gigi, sering ditemukan kuman anaerob Bacteroides melaninogenesis, Eubacterium Peptostreptococcus dan yang jarang adalah kuman Fusobacterium.

PatogenesisBeratnya infeksi tergantung dari virulensi kuman, daya tahan tubuh dan lokasi anatomi.

Infeksi dari submandibula dapat meluas ke ruang mastikor kemudian ke parafaring. Perluasan infeksi ke parafaring juga dapat langsung dari ruang submandibula. Selanjutnya infeksi dapat menjalar ke daerah potensial lainnya.

Penyebaran abses leher dalam dapat melalui beberapa jalan yaitu limfatik, melalui celah antara ruang leher dalam dan trauma tembus.

Gejala Klinispembengkakan di bawah dagu atau di bawah lidah baik unilateral atau bilateralrasa demamnyeri tenggorokTrismusRiwayat infeksi atau cabut gigiPembengkakan dapat berfluktuasi atau tidak.

DiagnosisAnamnesisPemeriksaan fisikPemeriksaan Penunjang :Foto polosCT Scan dengan kontrasMRIUSGFoto panoramik gigiPemeriksaan darah rutinAnalisa gas darahPemeriksaan kultur dan resistensi kumanTatalaksanaAntibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara parenteral. Hal yang paling penting adalah terjaganya saluran nafas yang adekuat dan drainase abses yang baik.

Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi.

Adanya trismus menyulitkan untuk masuknya pipa endotrakea peroral. Pada kasus demikian diperlukan tindakan trakeostomi dalam anastesi lokal. Jika terdapat fasilitas bronkoskop fleksibel, intubasi pipa endotrakea dapat dilakukan secara intranasal.

Insisi abses submandibula untuk drainase dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os hyoid, tergantung letak dan luas abses.KomplikasiPenjalaran infeksi ke daerah selubung karotis dapat menimbulkan erosi sarung karotis atau menyebabkan trombosis vena jugularis interna.

Infeksi yang meluas ke tulang dapat menimbulkan osteomielitis mandibula dan vertebra servikal. Dapat juga terjadi obstruksi saluran nafas atas, mediastinitis, dehidrasi dan sepsis.

Abses ParafaringEtiologiLangsung, yaitu akibat tusukan jarum pada saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia. Peradangan terjadi karena ujung jarum suntik yang telah terkontaminasi kuman menembus lapisan otot tipis (m. konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris.

Proses supurasi kelenjar limfa leher bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus paranasal, mastoid dan vertebra servikal.Gejala KlinisTrismusIndurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibulaDemam tinggiPembengkakan dinding lateral faring, sehingga menonjol ke arah medialMalaiseDisfagiaPenurunan intake peroral mengakibatkan dehidrasi sekunder.

DiagnosisRiwayat penyakitGejala dan tanda klinikPem