kes dr. nanda (katarak matur)

39
KASUS KATARAK MATUR Pembimbing: Dr. Nanda Lessi Sp.M Disusun oleh: Mohammad Rusydan Bin Abdul Fattah 11.2012.050 KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN KRISTEN KRIDA WACANA PERIODE 21 OKTOBER - 23 NOVEMBER 2013 RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI, BOGOR

Upload: alexandro-ivan-cahyadi

Post on 26-Nov-2015

48 views

Category:

Documents


2 download

DESCRIPTION

MT

TRANSCRIPT

KASUS KATARAK MATUR

Pembimbing:

Dr. Nanda Lessi Sp.M

Disusun oleh:

Mohammad Rusydan Bin Abdul Fattah

11.2012.050

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN KRISTEN KRIDA WACANA

PERIODE 21 OKTOBER - 23 NOVEMBER 2013

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI, BOGORI. IDENTITAS

Nama

: Tn. BUmur

: 47 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Tanggal pemeriksaan: 4 November 2013

II. ANAMNESIS

Auto anamnesis pada tanggal 4 November 2013 jam 12.00 WIB

Keluhan utama

Mata kanan tidak dapat melihat dan penglihatan mata kiri meremang.Keluhan tambahanKedua-dua bola mata terasa silau saat melihat cahaya.

Riwayat Penyakit Sekarang

Menurut os, mata kanan tidak dapat melihat sudah hampir satu tahun. 2 tahun SMRS, os mengaku merasa penglihatan sebelah kanan semakin menurun. Penglihatan os seperti berkabut (berwarna putih ) dan sedikit kabur. Tetapi os tidak pernah merasa terganggu dengan keadaan tersebut dan masih dapat bekerja, dan ia tidak pernah berobat ke puskesmas ataupun rumah sakit dan tidak pernah diobati.

1 tahun SMRS, penglihatan sebelah kanan makin lama makin tidak enak. Menurut os, mata kanan sudah tidak dapat melihat dan cuma dapat merasakan adanya cahaya sahaja. Sejak Jumat kemaren, os mengatakan penglihatan mata sebelah kiri mulai tidak enak. Menurut os, penglihatan mata kiri meremang tapi masih dapat melihat walaupun agak buram dan berkabut. Os mengatakan penglihatan mata kirinya lebih baik daripada mata kanannya.Os mengatakan saat melihat sesuatu benda menjadi kabur dan seperti ada kabut berwarna putih pada kedua matanya. Mata sebelah kanan terasa lebih buram dan os sudah tidak dapat untuk melihat jauh maupun dekat, sedangkan mata kirinya masih dapat untuk melihat lebih baik berbanding mata kanannya. Jika melihat cahaya yang terang seperti matahari, os terasa silau. Mata merah pun tidak ada. Tidak ada riwayat trauma benda asing. Jika di malam hari ia melihat lampu, sinar lampu seakan-akan pecah dalam pandangannya dan sulit melihat di malam hari. Os tidak merasakan sakit pada kedua matanya, hanya penglihatan os yang semakin menurun. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa seperti ini sebelumnya. Tidak ada riwayat hipertensi, diabetes melitus maupun asma atau alergi sebelumnya.Riwayat Penyakit KeluargaTidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa.III. PEMERIKSAAN FISIK

Status GeneralisKeadaan umum: Tampak sakit ringan.

Kesadaran

: Compos mentisTanda Vital: Tekanan Darah: 110/80 mmHg

Frekuensi Nadi: 80 kali/menit Frekuensi Nafas: 18 kali/menitKepala/leher

: pembesaran KGB preauriukuler (-)

Thorax, Jantung: dalam batas normal

Paru

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

STATUS OPHTALMOLOGIS

KETERANGANODOS

1. VISUS

Visus jauh1/1/60

Koreksi --

Addisi --

Kaca mata lama--

Persepsi warna++

2. KEDUDUKAN BOLA MATA

Ukuran 60/62mm60/62mm

Eksoftalmus --

Endoftalmus --

Deviasi--

Gerakan Bola MataBaik ke segala arahBaik ke segala arah

Strabismus--

Nystagmus --

3. SUPERSILIA

WarnaHitamHitam

SimetrisNormalNormal

Tanda peradangan--

Rontok --

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR

GERAKAN

Gerakan abnormal--

Membuka mata++

Menutup mata++

Ptosis--

TEPI KELOPAK

Ankiloblefaron--

Ektropion- -

Entropion --

KULIT

Perubahan warna --

Tanda peradangan--

Perdarahan --

Edema -+

Nyeri tekan--

Befarospasme--

Trikiasis --

Sikatriks --

5. APPARATUS LAKRIMAL

SEKITAR GLANDULA LAKRIMALIS

Perubahan warna--

Perubahan bentuk--

Tanda peradangan--

Pembesaran --

Nyeri tekan--

SEKITAR SACCUS LAKRIMALIS

Perubahan warna--

Tanda peradangan--

Nyeri tekan--

Fistula --

Uji flouresensiTidak dilakukanTidak dilakukan

Uji regurgitasiTidak dilakukanTidak dilakukan

Test AnelTidak dilakukanTidak dilakukan

6. KONJUNGTIVA PALBEBRAE SUPERIOR

Hiperemis--

Simblefaron--

Korpus alienum--

7. KONJUNGTIVA PALBEBRAE INFERIOR

Hiperemis --

Penonjolan --

Eksudat --

Anemis --

Litiasis --

8. KONJUNGTIVA BULBI

Sekret--

Injeksi Konjungtiva--

Injeksi Siliar--

Perdarahan Subkonjungtiva/kemosis--

Pterigium--

Pinguekula--

Flikten --

Nevus Pigmentosus--

Kista Dermoid--

9. SKLERA

WarnaMerahMerah

Ikterik- -

Nyeri Tekan--

10. KORNEA

KejernihanJernihJernih

PermukaanRataRata

Ukuran12 mm12 mm

SensibilitasBaikBaik

Infiltrat--

Keratik Presipitat--

Sikatriks--

Ulkus--

Perforasi--

Arcus senilis--

Edema--

Uji FlouresceinsTidak dilakukanTidak dilakukan

Test PlacidoTidak dilakukanTidak dilakukan

11. BILIK MATA DEPAN

KedalamanSedang Sedang

Kejernihan JernihJernih

Hifema--

Hipopion--

Efek Tyndall--

12. IRIS

WarnaHitamHitam

Kripte--

Sinekia--

Kolobama--

13. PUPIL

Letak Tengah Tengah

Bentuk Isokor Isokor

Ukuran3 mm3 mm

Refleks Cahaya Langsung++

Refleks Cahaya Tidak Langsung++

14. LENSA

KejernihanKeruhSebagian Keruh

LetakTengahTengah

Test ShadowNegatifPositif

15. BADAN KACA

KejernihanJernihJernih

16. PALPASI

Nyeri tekan--

Massa tumor--

Tensi okuliN/palpasiN/palpasi

Tonometer schiotzTidak dilakukanTidak dilakukan

17. KAMPUS VISI

Tes konfrontasiBaik Baik

18. BADAN KACA

Kejernihan Jernih, merah membayangJernih, merah membayang

19. FUNDUS OKULI

Reflex fundusPositif Positif

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Retinometri USG Biometri Tonometri Keratometri

Pemeriksaan Laboratorium : Darah rutin, Bleeding time, Clotting time, GDS

V. RESUME

Tuan B, usia 47 tahun, mata kanan tidak dapat melihat sudah hampir satu tahun. 2 tahun SMRS, os mengaku merasa penglihatan sebelah kanan semakin menurun. Penglihatan os seperti berkabut (berwarna putih ) dan sedikit kabur. Tetapi os tidak pernah merasa terganggu dengan keadaan tersebut dan masih dapat bekerja, dan ia tidak pernah berobat ke puskesmas ataupun rumah sakit dan tidak pernah diobati.

1 tahun SMRS, penglihatan sebelah kanan makin lama makin tidak enak. Menurut os, mata kanan sudah tidak dapat melihat dan cuma dapat merasakan adanya cahaya sahaja. Sejak Jumat kemaren, os mengatakan penglihatan sebelah kiri mulai tidak enak. Menurut os, penglihatan mata kiri meremang tapi masih dapat melihat walaupun agak buram dan berkabut. Os mengatakan penglihatan mata kirinya lebih baik daripada mata kanannya.Os mengatakan saat melihat sesuatu benda menjadi kabur dan seperti ada kabut berwarna putih pada kedua matanya. Mata sebelah kanan terasa lebih buram dan os sudah tidak dapat untuk melihat jauh maupun dekat, sedangkan mata kirinya masih dapat untuk melihat lebih baik berbanding mata kanannya. Jika melihat cahaya yang terang seperti matahari, os terasa silau. Mata merah pun tidak ada. Tidak ada riwayat trauma benda asing. Jika di malam hari ia melihat lampu, sinar lampu seakan-akan pecah dalam pandangannya dan sulit melihat di malam hari. Os tidak merasakan sakit pada kedua matanya, hanya penglihatan os yang semakin menurun. VI. DIAGNOSIS KERJA

Katarak Matur ODKeluhan penglihatan kabur seperti ditutup kabut pada lapang penglihatan, bayangan double, silau (+), penglihatan jarak jauh dan malam hari memburuk. Dari pemeriksaan fisik : Visus menurun perlahan-lahan dan progresif, mata tidak merah, lensa OD keruh, shadow test OD (+), lensa keruh. Katarak imatur OS

Dasar diagnosis: Mata tenang, VOS : 1/60, visus turun perlahan, lensa keruh, keluhan buram seperti kabut, second sight (+). Lensa sebagian keruh.VII. DIAGNOSIS BANDING

1. Katarak traumatika.

2. Katarak komplikata ec. patologi polus posterior (tumor intraokuler, ablasi retina lama, uveitis kronik, iskemia retina).

VIII. PENATALAKSANAAN

Non- bedah :

Tatalaksana non-bedah hanya efektif dalam memperbaiki fungsi visal untuk sementara waktu dan memperlambat pertumbuhan katarak :

1) Pemberian aspirin

2) Antioksidan vitamin C dan E.

Bedah:

Preoperasi :

1) Edukasi pasien tentang prosedur operasi

2) Baju operasi, inform consent

3) Midriatika tetes : Epinephrine 1 %, 2 tetes OD

4) Antibiotik profilaksis preoperasi: Ciprofloxacin 4 X 1 tetes OD (Ulceri)

Operasi: Ektraksi katarak ekstrakapsular (EKEK) dengan Fakoemulsifikasi

Post operasi:

1) Ciprofloxacin 4 X 1 tetes OD2) Edukasi pasien agar mata tidak terkena air kurang lebih 3 bulan.

3) Kontrol ke poli setelah seminggu untuk menilai perbaikan luka, pemeriksaan visus dan komplikasi pasca operasi.

IX. PROGNOSIS

OKULO DEXTRA (OD)

OKULO SINISTRA (OS)Ad Vitam

: Bonam

Bonam

Ad Fungsionam: Bonam

Bonam

Ad Sanationam: Bonam

Bonam

BAB I

PENDAHULUAN

I.A. Latar Belakang

Katarak berasal dari bahasa Yunani,yaitu Katarrhakies, Inggris yaitu Cataract dan Latin yaitu Cataracta yang artinya air terjun. Sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut pula bular, berupa penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. 1Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penahanan cairan ) lensa, denatuasi protein lensa atau akibat kedua-duanya. Kekeruhan lensa ini biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif atau tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu yang lama. 1Katarak adalah penyakit yang terdapat pada usia lanjut, akan tetapi juga akibat kelainan kongenital atau penyakit mata lokal menahun,antara lain glaukoma, ablasi, uveitis, dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat juga berhubungan pada proses penyakit intraokuler lainnya. 1Katarak dapat juga disebabkan oleh hal lain,seperti bahan toksik khusus (kimia dan fisika). Sedang yang lainnya berupa keracunan obat dapat menimbulkan katarak,misalnya: eserin (0,25% - 0,5 %), kortikosteroid, ergot, antikolinestrerase topikal. 1Pada kelainan sistemik atau metabolik yang dapat menyebabkan katarak, antara lain diabetes mellitus, galaktosemia, distrofi miotonik. 1Keluhan pada pasien katarak biasanya terjadi penglihatan yang berasap dan tajam penglihatan yang menurun secara progresif dan kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa menjadi tidak transparan, sehingga pupil akan bewarna putih atau abu-abu. 1I.B. Klasifikasi Katarak

Pembagian katarak berdasarkan usia, antara lain :

Katarak kongenital yang terlihat pada usia dibawah 1 tahun.

Katarak juvenile , katarak yang terlihat pada usia diatas 1 tahun.

Katarak senil, yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. 1Berdasarkan penyebab terjadinya kekeruhan lensa, dapat dibagi menjadi :

Primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar lensa.

Sekunder akibat tindakan pembedahan lensa.

Komplikata penyakit lokal ataupun umum. 1I.C. Anatomi dan Fisiologi Lensa

Anatomi Lensa

Lensa mata merupakan struktur globular yang transparan, tidak mengandung pembuluh darah. Jaringan lensa berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram bikonveks yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadi akomodasi. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameter 9 mm. 2Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa terus menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian central lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian central lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal, dewasa. 2Di bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Korteks lensa yang teretak di sebelah depan nukleus lensa disebut korteks anterior, sedangkan di belakang nucleus disebut korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibandingkan korteks lensa. 2Kapsul lensa adalah membran yang semipermeabel yang menyebabkan air dan elektrolit masuk. Didepan lensa terdapat selapis tipis epitel supkapsuler. Semakin bertambahnya usia laminar epitel supkapsuler terus diproduksi sehingga lensa semakin besar dan kehilangan elastisitas. 2Ke anterior berhubungan dengan cairan bilik mata (humor aquos), ke posterior berhubungan dengan badan kaca (humor viterus). Dibelakang iris, posisi lensa tergantung pada zonula zinn yang melekat pada prossesus siliaris. 2

Fisiologis Lensa

Lensa dapat membiaskan cahaya karena indeks bias - biasanya sekitar 1,4 pada sentral dan 1,36 pada perifer. Hal ini berbeda dari dengan aqueous dan vitreus yang mengelilinginya. Pada tahap tidak berakomodasi, lensa memberikan kontribusi sekitar 15-20 dioptri (D) dari sekitar 60 D kekuatan konvergen bias mata manusia rata-rata. 2Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu yaitu kenyal dan lentur karena memegang peranan penting dalam akomodasi, jernih dan transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, terletak pada tempatnya. 2Lensa berfungsi untuk refraksi. Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh m. ciliaris berelaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukuran terkecil dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya akan terfokus pada retina. 2Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat m.ciliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang, artinya lensa yang elastis menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerja sama fisiologis antara korpus siliaris, zonula dan lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina dikenal dengan akomodasi. Hal ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia.2Metabolisme Lensa

Lensa terdiri dari 65% air dan 35% protein (tertinggi kandungan nya di antara seluruh tubuh) dan sedikit sekali mineral. 2Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase. 2Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehidrogenase. 2KATARAK SENILIS

A. Definisi

Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia diatas 40 tahun. Jenis katarak yang paling sering dijumpai. Kedua mata dapat terlihat dengan derajat kekeruhan yang sama ataupun berbeda. Satu-satunya gejala adalah distorsi penglihatan yang semakin kabur. Katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi biasanya berkaitan dengan penuaan. 1

Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan lahan. Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur angsur hingga tinggal proyeksi sinar saja. Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses penuaan. 1B. Epidemiologi

Penelitian mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10% pada orang amerika, dan prevalensi ini meningkat sampai sekitar 50% untuk meraka yang berusia antara 65 dan 74 tahun dan sampai sekitar 70% untuk meraka yang berusia lebih dari 75 tahun. 3C. EtiologiPenyebabnya sampai sekarang belum diketahui secara pasti, diduga terjadi karena :

Hidrasi cairan lensa: penimbunan air diantara serabut serabut lensa / absorpsi intraseluler yang biasanya ditentukan oleh tekanan osmotik. Denaturasi protein lensa: perubahan kimiawi dari kandungan protein lensa, dimana protein yg semula larut dlm air menjadi tidak larut dalam air. 3

Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Pada katarak senile sebaiknya singkirkan penyakit mata local dan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. 1D. Patofisiologi

Proses pada nucleus :

Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong kearah tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium, dan sklerosis. Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. 4Proses pada korteks :

Timbulnya celah-celah diantara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan calcium sehingga lensa menjadi lebih padat, lebih cembung dan membengkak. 4E. Perubahan lensa pada usia lanjut :

Kapsul

Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak), mulai presbiopia, bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur,dan terlihat bahan granular. 1 Epitel

Epitel semakin tipis. Sel epitel (germinatif) pada equator bertambah besar dan berat , bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata. 1 Serat lensa :

Lebih irregular, pada korteks jelas kerusakan serat sel, brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nukleus ( histidin, triptofan, metionin, sistein, tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan disbanding normal. Korteks tidak berwarna karena kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi foto oksidasi, disini juga timbul celah-celah yang akan diisi air sehingga terjadi hidrasi dan lensa akan mencembung1F. Gejala Katarak

Akibat kekeruhan lensa maka penglihatan berangsur-angsur berkurang, pada katarak matur mula-mula penglihatan kabur, ganda dan berkabut, retina hanya dapat mengenali sinar yang datang. Merasa silau terhadap sinar matahari, sukar melihat benda yang menyilaukan. Dan kadang merasa seperti ada film didepan mata seperti ada titik gelap di depan mata. 5Pada pupil akan terlihat gambaran kekeruhan lensa yang biasanya berwarna putih. Warna pupil dapat berwarna kuning atau coklat. Penglihatan malam atau pada penerangan kurang sangat menurun. Pada penerangan yang keras atau sinar matahari kuat akan sangat sukar akibat adanya rasa silau. Malam disaat melihat cahaya terang dapat terlihat adanya halo atau warna pelangi disekitar sumber cahaya. 5G. Stadium Katarak Senilis

Katarak senilis secara klinik dibagi dalan 4 stadium yaitu 1. Stadium insipien

2. Stadium imatur

3. Stadium matur

4. Stadium hipermatur

Stadium Insipien

Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan visus. Dengan koreksi visus dapat menjadi 6/6. Kekeruhan lensa berbentuk bercak bercak kekeruhan yang tidak teratur, kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai korteks anterior, sedang aksis relatif masih jernih. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. Pada stadium yang lanjut baji dapat dilihat pula pada pupil yang normal. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata kedalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai kekeruhan ringan pada lensa. 1Stadium Imatur

Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Kekeruhan ini terutama terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Pada stadium ini lensa yang berdegeneratif mulai menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Pada stadium ini terjadi pembengkakan lensa yang disebut katarak intumesen. 1Pada stadium ini dapat terjadi miopisasi akibat lensa yang cembung.Akibat lensa yang bengkak, iris terdorong ke depan, bilik mata dangkal, dan sudut bilik mata akan sempit atau tertutup. Keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder. Pada uji bayangan iris atau shadow test akan terlihat bayangan iris pada lensa sehingga shadow test (+).1

Stadium Matur

Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini biasa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Tekanan cairan di dalam lensa sudah seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Bilik mata depan kedalaman normal kembali. Pada uji bayangan iris pada lensa tidak ada atau shadow test (-).1

Stadium Hipermatur

Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa berdegerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nucleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni. Pada stadium ini juga terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa atau korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat bahan lensa keluar dari kapsul, maka akan timbul reaksi jaringan uvea berupa uveitis. Bahan lensa ini juga dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata sehingga menimbulkan glaucoma fakolitik. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil dari normal, yang akan mengakibatkan iris tremulans dan bilik mata depan terbuka. Pada uji bayangan iris terlihat positif walaupun seluruh lensa telah keruh sehingga pada stadium ini disebut uji bayangan iris pseudopositif. Bayangan iris yang terbentuk pada kapsul lensa anterior yang telah keruh dengan lensa yang mengecil. 1

Perbedaan stadium katarak senile

InsipienImmaturMaturHipermatur

KekeruhanRinganSebagianSeluruhMasif

Besar lensaNormalLebih BesarNormalKecil

Cairan LensaNormalBertambah

( Air masuk)NormalBerkurang

(Air + massa lensa keluar)

Iris NormalTerdorongNormalTremulans

Bilik depanNormalDangkalNormalDalam

Sudut bilik mataNormalSempitNormalTerbuka

Penyulit-Glukoma-Uveitis,glaucoma

Visus(+)