katarak senilis matur- ho

55
LAPORAN KASUS KATARAK SENILIS MATUR – HIPERTENSI OKULI Diajukan kepada pembimbing : Dr. Achmad C. Siregar, Sp. M. Disusun oleh : Mutiara Sundasari 1420221122 Annizada Intan P. 1420221103 SMF ILMU PENYAKIT MATA RSUP PERSAHABATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

Upload: mutiara-sundasari

Post on 26-Jan-2016

123 views

Category:

Documents


11 download

DESCRIPTION

presus

TRANSCRIPT

Page 1: Katarak Senilis Matur- HO

LAPORAN KASUS

KATARAK SENILIS MATUR – HIPERTENSI OKULI

Diajukan kepada pembimbing :

Dr. Achmad C. Siregar, Sp. M.

Disusun oleh :

Mutiara Sundasari 1420221122

Annizada Intan P. 1420221103

SMF ILMU PENYAKIT MATA RSUP PERSAHABATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA 2015

Page 2: Katarak Senilis Matur- HO

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

KATARAK SENILIS MATUR – HIPERTENSI OKULI

Diajukan sebagai syarat memenuhi Ujian Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu

Penyakit Mata RSUP Persahabatan

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal :

Juni 2015

Disusun oleh :

Mutiara Sundasari 1420221122

Annizada Intan P. 1420221103

Mengetahui,

Dokter Pembimbing,

Dr. Achmad C. Siregar, Sp.M.

2 | L a p o r a n K a s u s

Page 3: Katarak Senilis Matur- HO

KATA PENGANTAR

Puja serta puji syukur terhadap kehadiran Allah SWT, karena atas izinnya

lah kami dapat menyelesaikan makalh laporan kasus yang berjudul Katarak

Senilis Matur – Hipertensi Okuli ini sesuai pada waktunya. Laporan ini kami buat

untuk memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik

Pendidikan Profesi Dokter SMF Ilmu Penyakit Mata di Rumah Sakit Umum Pusat

Persahabatan. Kami ucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Pradnya Pramita, Sp.M sebagai ketua koordinator mahasisiwa

kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di Rumah Sakit Umum Pusat

Persahabatan

2. Dr. Achmad C. Siregar, Sp.M. yang telah membimbing kami,

memberikan banyak motivasi, arahan, serta saran baik dalam

pembelajaran

3. Teman-teman seperjuangan di Ilmu Penyakit Mata Rumah Sakit

Umum Pusat Persahabatan periode 25 Mei – 27 Juni 2015

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak

kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Demikian laporan ini kami buat, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi

kami khususnya dan semua pihak yang berkepentingan bagi pengembangan ilmu

kedokteran pada umumnya.

Jakarta, Juni 2015

Tim penyusun

3 | L a p o r a n K a s u s

Page 4: Katarak Senilis Matur- HO

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................

KATA PENGANTAR....................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I LAPORAN KASUS............................................................................

I.I Identitas Pasien....................................................................................

I.2 Anamnesa............................................................................................

I.3 Pemeriksaan Fisik...............................................................................

I.4 Pemeriksaan Fisik Khusus..................................................................

I.5 Resume................................................................................................

I.6 Diagnosis Banding..............................................................................

I.7 Diagnosis Kerja...................................................................................

I.8 Usulan Pemeriksaan............................................................................

I.9 Usulan Terapi.....................................................................................

I.10 Prognosis.............................................................................................

I.11 Edukasi................................................................................................

BAB II ANALISA KASUS............................................................................

BAB III TINJAUAN PUSTAKA...................................................................

III. 1 Anatomi Bulbus Oculi........................................................................

III.2 Anatomi Lensa dan Histologi.............................................................

III.3 Fisiologi Lensa....................................................................................

III.4 KATARAK.............................................................................................

III.5 Katarak Senilis....................................................................................

III. 6 HIPERTENSI OKULI..........................................................................

BAB IV KESIMPULAN................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

1

2

3

4

5

5

5

6

6

9

10

10

10

11

11

11

12

16

16

18

19

20

22

30

36

37

4 | L a p o r a n K a s u s

Page 5: Katarak Senilis Matur- HO

BAB I

LAPORAN KASUS

I.I Identitas Pasien

Nama : Tn.S

Umur : 77 tahun

Pekerjaan : Pensiunan

Alamat : Bekasi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

No.RM : 553403

I.2 Anamnesa

Keluhan utama : Pandangan kabur pada mata sebelah kanan.

Keluhan tambahan : Penglihatan silau pada kedua mata.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Tn. S mulai merasakan pandangan kabur seperti melihat kabut pada mata

sebelah kanan sejak 3 bulan yang lalu. Semula keluhan dapat diabaikan, namun

semakin lama pandangan semakin kabur. Saat masuk poliklinik pada tanggal 11

Juni 2015 pasien datang dengan keluhan pandangan sangat kabur pada mata

sebelah kirinya. Pasien mangaku tidak mampu membaca dengan jarak dekat dan

tidak mampu membaca tulisan berjalan.

Selain itu Tn.S mengeluhkan penglihatan silau semenjak 3 bulan lalu juga.

Tidak disertai rasa sakit atau pusing di daerah sekitar mata. Mata merah (-), rasa

mengganjal (-), mata berair (-), mengeluarkan kotoran/belekan (-), terasa gatal (-),

mual(-), muntah (-), deman (-).

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Pasien pernah mengalami hal serupa (pandangan kabur) pada mata sebelah

kirinya saat 2 tahun lalu dan telah dilakukan operasi ekstraksi katarak.

- Riwayat alergi disangkal.

5 | L a p o r a n K a s u s

Page 6: Katarak Senilis Matur- HO

- Riwayat trauma disangkal.

- Sebelumnya menggunakan kaca mata baca.

- Riwayat penyakit hipertensi disangkal.

- Terdapat riwayat diabetes melitus sejak 20 tahun lalu.

Riwayat Penggunan Obat :

- Pasien sedang mengkonsumsi ADO ( Anti-Diabetik Oral ) diantaranya

Metformin dan Glukodeks

Riwayat Penyakit Keluarga :

- Keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit/ keluhan serupa.

- Terdapat riwayat DM dikeluarganya.

- Riwayat hipertensi di keluarga disangkal.

- Ayah meninggal karena DM.

Riwayat kebiasaan : Makan teratur, jarang melakukan olahraga. Tidak

mengkonsumsi rokok, alkohol dan obat/ramuan jamu .

I.3 Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

I.4 Pemeriksaan Fisik Khusus

Status Oftalmologis

6 | L a p o r a n K a s u s

OS

Lensa keruh merata

OD

Page 7: Katarak Senilis Matur- HO

Pemeriksaan Okuli Dekstra (OD) Okuli Sinistra (OS)

Visus

Koreksi

Cyl

Axis

Add

1/60

(-)

(-)

(-)

3,00

6/10

S + 3,00

(-)

(-)

3,00

Kedudukan bola mata Ortoforia Ortoforia

Gerakan bola mata

Bebas ke segala arah

tanpa hambatan

Bebas ke segala arah

tanpa hambatan

Supracilia

- Madarosis

- Trikiasis

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Palpebra Superior

- Edema

- Hiperemi

- Ektropion

- Entropion

- Massa

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Palpebra Inferior

- Edema

- Hiperemi

- Ektropion

- Entropion

- Massa

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Konjungtiva palpebra

superior

- Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

7 | L a p o r a n K a s u s

Page 8: Katarak Senilis Matur- HO

- Hiperemi

- Folikel

- Papil

- Sikatriks

- Massa

- Lain-lain

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Konjungtiva palpebra inferior

- Sekret

- Hiperemi

- Folikel

- Papil

- Sikatriks

- Massa

- Lain-lain

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Konjungtiva bulbi

- Kemosis

- Injeksi Konjungtiva

- Injeksi Silier

- Perdarahan

Subkonjungtiva

- Pterigium

- Pingueula

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Kornea

- Sikatriks

- Infiltrat

- Ulkus

- Keratik presifitat

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Bilik mata depan

- Kedalaman

- Hifema

- Hipopion

Dalam

Tidak ada

Tidak ada

Dalam

Tidak ada

Tidak ada

8 | L a p o r a n K a s u s

Page 9: Katarak Senilis Matur- HO

Iris - Pupil

- Bentuk

- Letak

- Warna

- Refleks cahaya

langsung

- Reflek cahaya tidak

langsung

- RAPD

Bulat dan reguler, Ø

3mm

Ditengah

Coklat Kehitaman

(+)

(+)

(-)

Bulat dan reguler, Ø

3mm

Ditengah

Coklat kehitaman

(+)

(+)

(-)

Lensa

- Subluksasi

- Dislokasi

- Shadow test

Keruh

Tidak ada

Tidak ada

(-)

Jernih, Mirror refleks

(+) (IOL)

Tidak ada

Tidak ada

(-)

Vitreous humor Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tonometri

- Tensi Okuli

- Tonometri Schiotz

Hipertensi Okuli

6/7,5 = 21,9 mmHg

Hipertensi Okuli

6/7,5 = 21,9 mmHg

I.5 Resume

Pasien laki-laki usia 77 tahun, datang ke poliklinik mata dengan keluhan

pandangan kabur pada mata sebelah kananya sejak 3 bulan yang lalu. Semakin

lama pasien merasakan keluhan yang semakin berat. Serta mengeluhkan

pandangan silau pada kedua matanya. Mata merah (-), rasa mengganjal (-), mata

berair (-), mengeluarkan kotoran/belekan (-), terasa gatal (-), mual(-), muntah (-),

deman (-). Riwayat trauma, hipertensi, dan alergi disangkal. Terdapat riwayat

Diabetes Melitus sejak 20 tahun lalu dan mengkonsumsi obat ADO ( Anti-

Diabetik Oral ) diantaranya Metformin dan Glukodeks. Terdapat riwayat DM

pada keluarganya dan ayah pasien meninggal karena DM. Keluarga pasien tidak

ada yang mengalami keluhan pandangan kabur serupa dengan keluhan Tn.S.

9 | L a p o r a n K a s u s

Page 10: Katarak Senilis Matur- HO

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Status Oftalmologis :

OD OS

1/60 Visus 6/10

Normal Palpebra Normal

Tenang Konjungtiva Tenang

Tenang Sklera Tenang

Normal Kornea Normal

Dalam BMD Dalam

Bulat, reguler, Ø 3mm

shadow test (-)

Iris Bulat, reguler, Ø 3mm

Refleks Pupil (+) Pupil Refleks Pupil (+)

Keruh Lensa Jernih

21,9 mmHg TIO 21,9 mmHg

I.6 Diagnosis Banding

- Retinopati Diabetikum

- Glaukoma

I.7 Diagnosis Kerja

- OS Pseudoafakia

- OD Katarak Senilis Matur

- Hipertensi Okuli

I.8 Usulan Pemeriksaan

- Funduskopi - USG

- Lab. Darah Lengkap - Bometri

- GDS, GD 2 jam PP

10 | L a p o r a n K a s u s

Page 11: Katarak Senilis Matur- HO

I.9 Usulan Terapi

- OD Ekstraksi Lensa

- Adrenergik antagonis : Timolol OD OS

I.10 Prognosis

OD OS

Quo ad vitam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad cosmeticam Ad bonam

I.11 Edukasi

1. Menjelaskan pada pasien bahwa pandangan mata yang kabur disebabkan

katarak pada lensa mata sebelah kananya dan terdapat peningkatan tekanan

intraokuler pada matanya,

2. Menjelaskan pada pasien bahwa katarak tidak dapat diobati dengan obat

tetapi dapat disembuhkan dengan operasi dan pemberian lensa tanam pada

mata sedangkan pada peningkatan tekanan intraokular diberikan obat

Timolol untuk menurunkan pruduksi cairan mata di bilik mata depannya,

3. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya operasi ekstraksi katarak,

jenis tindakan, persiapan, kelebihan dan kekurangan,

4. Menjelaskan tentang komplikasi yang akan terjadi apabila tidak dioperasi,

kemungkinan lensa akan mencair, isi lensa akan keluar, menimbulkan

reaksi peradangan dan peningkatan tekanan bola mata,

5. Menjelaskan tentang komplikasi yang mungkin timbul selama operasi dan

pascaoperasi.

11 | L a p o r a n K a s u s

Page 12: Katarak Senilis Matur- HO

BAB II

ANALISA KASUS

Pasien laki-laki usia 77 tahun, datang ke poliklinik mata dengan keluhan

pandangan kabur pada mata sebelah kananya sejak 3 bulan yang lalu.

Semakin lama pasien merasakan keluhan yang semakin berat. Serta mengeluhkan

pandangan silau pada kedua matanya. Mata merah (-), rasa mengganjal (-),

mata berair (-), mengeluarkan kotoran/belekan (-), terasa gatal (-), mual(-),

muntah (-), deman (-). Riwayat trauma, hipertensi, dan alergi disangkal. Terdapat

riwayat Diabetes Melitus sejak 20 tahun lalu dan mengkonsumsi obat ADO

( Anti-Diabetik Oral ) diantaranya Metformin dan Glukodeks. Terdapat

riwayat DM pada keluarganya dan ayah pasien meninggal karena DM.

Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan pandangan kabur serupa

dengan keluhan Tn.S.

1. Menganalis keluhan utama dan keluhan tambahan untuk dikelompokan dalam

5 klasifikasi kelainan mata

Pada pemeriksaan visus didapatkan visus OS kurang dari 6/6 yaitu 1/60

dan didapatkan kekeruhan pada lensa mata sebelah kanan. Hal ini berarti pasien

mengalami penurunan visus dimana sesuai dengan kepustakaan bahwa pada

pasien katarak visusnya akan menurun. Tn.S hanya dapat menghitung jari

pemeriksa pada jarak 1 meter yang orang normal mampu menghitung jari

pemeriksa pada jarak 60 meter. Dan keluhan pandangan kabur dirasakan semakin

berat. Pada orang normal tidak diemukan kekeruhan pada lensa mata sehingga

sinar dapat masuk tanpa ada yang dipantulkan. Tidak ditemukan mata merah

sehingga kelainan pada pasien terletak pada kelompok mata tenang visus turun

perlahan. Selain itu, penyakit katarak merupak suatu penyakit yang berhubungan

erat dengan peningkatan usia (degeneratif), dimana pada pasien ini usianya sudah

mencapai 77 tahun.

12 | L a p o r a n K a s u s

Page 13: Katarak Senilis Matur- HO

Pada mata kiri pasien visus dinilai 6/10 dimana pasien hanya dapat

membaca sampai dengan barisan kedua yang pada orang normal dapat dilihat

pada 10 meter sedangkan pada pasien melihat dengan jarak 6 meter. Penurunan

visus ini dapat dikoreksi dengan lensa sferis. Pada lensa mata kiri pasien dinilai

jernih dan terdapat mirror refleks sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien

menggunakan lensa tanam. Selain mengeluhkan pandangan kabur, pasien

mengeluhkan pandangan silau pada kedua matanya. Keluhan ini juga dapat

disebabkan karena penyakit katarak yang diderita atau kelainan mata tenang visus

turun perlahan lainnya seperti glaukoma atau retinopati. Kedua hal ini sangat

mungkin karena pasien memiliki penyakit diabetes melitus sebagai faktor resiko

sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk memeriksa keadaan

saraf mata, namun saat ini pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan karena tertutup

oleh lensa yang keruh. Selain itu juga pasien mengkonsumsi obat anti-diabetik

oral jangka panjang dan terdapat riwayat DM dikeluarganya.

2. Menentukan jenis katarak

Untuk menentukan jenis katarak pada pasien ini harus dilakukan

pemeriksaan pada lensa dengan menggunakan pen light yang sinarnya diarahkan

150 dari arah temporal untuk melihat bayangan iris pada lensa / shadow test.

Berikut merupakan perbedaan jenis-jenis katarak :

Tabel 1. Perbedaan stadium katarak senilis

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik Mata

Depan

Normal Dangkal Normal Normal

Sudut Bilik

Mata

Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif

13 | L a p o r a n K a s u s

Page 14: Katarak Senilis Matur- HO

Pada Tn.S didapatkan pemeriksaan lensa yang keruh seluruhnya pada mata

kanan dan shadow test yang negatif sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien ini

didiagnosis katarak senilis matur.

3. Peningkatan TIO

Setelah diukur dengan Tonometri Schiotz dengan hasil OD 6/7,5 dan OS

6/7,5 lalu dikonversikan dan didapatkan hasil OD 21,9 mmHg dan OS 21,9

mmHg (n= 10 – 21 mmHg). Terdapat peningkatan tekanan intraokular/ hipertensi

okuli, hal inilah yang menjadi kemungkinan timbulnya keluhan silau pada mata

pasien selain karena katarak. Hal ini bisa terjadi karena pasien memeliki faktor

resiko salah satunya DM. Namun untuk tidak menutup kemungkinan ada kelainan

pada saraf/retina pasien sehingga diperlukan pemeriksan funduskopi lebih lanjut

untuk menyingkiran DD retinopati diabetikum.

Usulan pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah

lengkap, GDS dan GD 2 jam PP untuk memastikan kondisi pasien agar tidak

terjadi komplikasi intra operasi. Karena penatalaksaan untuk penyakit kataraka

adalah dengan pembedahan. Pemeriksaan USG dan Biometri untuk mengetahui

kondisi vitreous dan kekuatan lensa yang akan dipasang. Sedangkan setelah

pembedahan dapat dinilai visus ulang untuk penggunaan kacamata dan

pemeriksaan funduskopi untuk menilai keadaan retina.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada mata kanan yang mengalami katarak

matur adalah dengan pembedahan atau ekstraksi lensa.Ekstraksi lensa dapat

dilakukan dengan berbagai metode antara lain ECCE + IOL, ICCE + IOL, SICS +

IOL atau Fakoemulsifikasi + IOL. Pemilihan teknik operasi dipilih oleh pasien

dan menjadi keputusan pasien dengan melakukan edukasi dan penjelasan terlebih

dahulu dengan teknik dan cara yang akan dilakukan. Selain itu hipertensi okuli

pada pasien diobati dengan memberikan medikamentosa adrenergik antagonis

yaitu timolod diteteskan 2 kali setiap hari masing-masing 1 tetes untuk mata kiri

dan kanan saat pagi dan sore hari. Timolol mampu menurunkan hipertensi okuli

dengan cara kerjanya mengurangi produksi aqueos humor dan dilakukan kontrol 1

minggu kemudian untuk menilai apa terdapat penurunan tekanan atau tidak.

14 | L a p o r a n K a s u s

Page 15: Katarak Senilis Matur- HO

Prognosis :

OD OS

Quo ad vitam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad cosmeticam Ad bonam

15 | L a p o r a n K a s u s

Page 16: Katarak Senilis Matur- HO

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III. 1 Anatomi Bulbus Oculi

Mata merupakan salah satu alat indera yang terdiri dari susunan yang

kompleks. Mata terletak dalam suatu rongga orbita berbentuk limas dalam

kerangka wajah. Di dalam orbita terdiri dari bulbus oculi, nervus opticus, musculi

bulbi, fascia, saraf, pembuluh, lemak dan glandula lacrimalis serta saccus

lacrimalis. 1

Bulbus oculi orang dewasa normal hampir bulat dengan diameter

anteroposterior sekitar 24.2 mm. Terdiri dari 3 lapis yaitu sklera, koroid beserta

corpus siliare dan retina. 2

1. Sklera

Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar yang

hampir seluruhnya terdiri atas kolagen. Pita kolagen dan jaringan elastin

membentang di sepanjang foramen sklera posterior membentuk lamina

cribosa, diantarana dilalui oleh berkas akson nervus optikus. 2

2. Limbus

Jaringan yang membatasi antara kornea dan konjungtiva. Didekatnya

terdapat sel punca yang mempunyai karakteristik dimana sel tersebut dapat

beregenerasi.4

3. Konjungtiva

Lapisan transparan dan tipis yang menutupi sklera dan mempunyai

pembuluh darah yaitu arteri konjungtiva. Konjungtiva yang menutupi

kelopak mata bagian dalam atas dan bawah disebut konjungtiva palpebra,

menutupi sklera disebut konjungtiva bulbi dan perlihan diantaranya

disebut konjungtiva forniks.4

4. Kornea

16 | L a p o r a n K a s u s

Page 17: Katarak Senilis Matur- HO

Adalah selaput bening mata yang tembus cahaya mempunyai beberapa

lapisan. Lapisan pertama terdiri 5-6 lapisan epitel, lapisan kedua adalah

membran Bowman, lapisan ketiga adalah stroma, lapisan keempat adalah

membran Descement dan dibawah itu terdapat lapisan endotel.3

5. Iris

Bagian mata yang berwarna berdasarkan jumlah pigmen. Berfungsi untuk

menyaring cahaya dengan cara melebarkan dan mengecilkan pupil.

Permukaan anterior iris berkripta sedangkan permukaan posterior iris

dilapisi oleh sel epitel. 4

6. Pupil

Bagian dari tepi iris dengan pembukaan secara sirkular untuk

menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk. 4

7. Bilik mata depan

Ruangan yang berada diantara posterior kornea dan anterior iris. 4

8. Lensa

Adalah suatu struktur bikonveks, avaskular dan tak berwarna. Terlihat

hampir transparan. Lensa tergantung pada zonula zinii yang

menghubungkannya dengan corpus siliaris. Lensa mampu menebal dan

menipis untuk berakomodasi. 2

Gambar 1. Lapisan Bola Mata5

17 | L a p o r a n K a s u s

Page 18: Katarak Senilis Matur- HO

Gambar 2. Anatomi Bola Mata1

III.2 Anatomi Lensa dan Histologi

Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin

terletak di antara iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10 mm

dengan ketebalan 3,5 mm – 5 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat

zonula yang berasal dari badan siliar. Serat zonula tersebut menempel dan

menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa.

Kapsul merupakan membran dasar yang melindungi nukleus, korteks, dan epitel

lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa memiliki beda kelengkungan,

dimana permukaan anterior lensa lebih melengkung dibandingkan bagian

posterior. Kedua permukaan ini bertemu di bagian ekuator. Sebagai media

refraksi, lensa memiliki indeks refraksi sebesar 1,39, dan memilki kekuatan

hingga 15-16 dioptri. Dengan bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa

akan berkurang, sehingga kekuatan lensa pun akan menurun.1,2,3

Struktur lensa dapat diurai menjadi :1,2,3,6

1. Kapsul lensa

Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa

tersusun dari kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul

berfungsi untuk mempertahankan bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa

18 | L a p o r a n K a s u s

Page 19: Katarak Senilis Matur- HO

paling tebal pada bagian anterior dan posterior zona preekuator (14 um,) dan

paling tipis pada bagian tengah kutub posterior (3um).

2. Epitel anterior

Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior.

Merupakan selapis sel kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa

dan regenerasi serat lensa. Pada bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif

untuk membentuk serat lensa baru.

3. Serat lensa

Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa

yang matur adalah serat lensa yang telah keihlangan nucleus, dan membentuk

korteks dari lensa. Serat-serat yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang

baru dibentuk ke tengah lensa.

4. Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)

Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya

lensa, sehingga lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium

menempel pada lensa di bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum

suspensorium merupakan panjangan dari corpus silliaris.

III.3 Fisiologi Lensa

1. Transparansi lensa

Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Untuk

mempertahankan kejernihannya, lensa harus menggunakan aqueous humour

sebagai penyedia nutrisi dan sebagai tempat pembuangan produknya. Namun

hanya sisi anterior lensa saja yang terkena aqueous humour. Oleh karena itu, sel-

sel yang berada ditengah lensa membangun jalur komunikasi terhadap lingkungan

luar lensa dengan membangun low resistance gap junction antar sel.2,6

2. Akomodasi lensa

Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk

mengubah fokus dari benda jauh ke benda dekat yang bertujuan untuk

menempatkan bayangan yang terbentuk tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi

akubat perubahan lensa oleh badan silluar terhadap serat zonula. Saat m. cilliaris

berkontraksi, serat zonular akan mengalami relaksasi sehingga lensa menjadi lebih

19 | L a p o r a n K a s u s

Page 20: Katarak Senilis Matur- HO

cembung dan mengakibatkan daya akomodasi semakin kuat. Terjadinya

akomodasi dipersarafi ole saraf simpatik cabang nervus III. Pada penuaan,

kemampuan akomodasi akan berkurang secara klinis oleh karena terjadinya

kekakuan pada nukelus. 2,6

Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi sebagai berikut:

Gambar 3. Akomodasi lensa6

III.4 KATARAK

III.4.1 Definisi

Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak memiliki derajat kepadatan yang

sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagi hal, tetapi biasanya berkaitan

dengan penuaan 2

Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan

bening menjadi keruh. Asal kata katarak dari kata Yunani cataracta yang berarti

air terjun. Hal ini disebabkan karena pasien katarak seakan-akan melihat sesuatu

seperti tertutup oleh air terjun didepan matanya 3

III.4.2. Jenis-jenis katarak

1. Katarak terkait usia (katarak senilis)

Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Satu –

satunya gejala adalah distorsi penglihatan dan penglihatan yang semakin

kabur 2,3

2. Katarak anak- anak

a. Katarak kongenital, yang terdapat sejak lahir

20 | L a p o r a n K a s u s

Page 21: Katarak Senilis Matur- HO

Banyak katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Mungkin

terdapat faktor genetik, infeksi atau sindrom 2,3

b. Katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya terkait dengan

sebab - sebab spesifik. Katarak didapat terutama disebabkan oleh trauma,

baik tumpul maupun tembus. Penyebab lain adalah uveitis, infeksi mata

didapat, diabetes dan obat 2,3

3. Katarak traumatik

Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di

lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi

putih setelah masuknya benda asing, karena lubang pada kapsul lensa

menyebabkan humor aquos dan kadang - kadang korpus vitreum masuk

kedalam struktur lensa 2,3

III.4.3. Etiologi

Penyebab utama katarak adalah proses penuaan. Anak bisa mengalami

katarak yang biasanya merupakan penyakit yang diturunkan, peradangan di dalam

kehamilan, keadaan ini disebut sebagai katarak kongenital. Lensa mata

mempunyai bagian yang disebut pembungkus lensa atau kapsul lensa, korteks

lensa yang terletak antara nukleus lensa atau inti lensa dengan kapsul lensa. Pada

anak dan remaja nukleus bersifat lembek sedang pada orang tua nukleus ini

menjadi keras. Katarak dapat mulai dari nukleus, korteks, dan subkapsularis lensa 2,3,4

Dengan menjadi tuanya seseorang maka lensa mata akan kekurangan air

dan menjadi lebih padat. Lensa akan menjadi keras pada bagian tengahnya,

sehingga kemampuannya memfokuskan benda dekat berkurang. Hal ini mulai

terlihat pada usia 45 tahun dimana mulai timbul kesukaran melihat dekat

(presbiopia). Pada usia 60 tahun hampir 60% mulai mengalami katarak atau lensa

keruh 2,4

Berbagai faktor dapat mengakibatkan tumbuhnya katarak lebih cepat.

Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan lensa

seperti diabetes melitus, obat tertentu, sinar ultra violet B dari cahaya matahari,

efek racun dari merokok, dan alkohol, gizi kurang vitamin E, dan radang menahun

21 | L a p o r a n K a s u s

Page 22: Katarak Senilis Matur- HO

di dalam bola mata. Obat tertentu dapat mempercepat timbulnya katarak seperti

betametason, klorokuin, klorpromazin, kortison, ergotamin, indometasin,

medrison, neostigmin, pilokarpin dan beberapa obat lainnya. Penyakit infeksi

tertentu dan penyakit seperti diabetes melitus dapat mengakibatkan timbulnya

kekeruhan lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata 2

III.5 Katarak Senilis

III.5.1 Definisi Katarak Senilis

Katarak senilis merupakan kekeruhan lensa yang terjadi pada usia diatas

40 tahun. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif

ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Kekeruhan

lensa ini mengakibatkan lensa tidak transparan sehingga mengganggu fungsi

penglihatan.7

III.5.2 Epidemiologi

Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang

usia 60 tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat

kekeruhan lensa. Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-

80%. Prevalensi katarak congenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000

kelahiran. Frekuensi katarak laki-laki dan perempuan sama besar. Di seluruh

dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan akibat katarak.7

III.5.3 Etiologi

Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang

menyebabkan lensa mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat

dipercepat oleh faktor risiko seperti merokok, paparan sinar UV yang tinggi,

alkohol, defisiensi vit E, radang menahun dalam bola mata, dan polusi asap

motor/pabrik yang mengandung timbal. Cedera pada mata seperti pukulan keras,

tusukan benda, panas yang tinggi, dan trauma kimia dapat merusak lensa sehingga

menimbulkan gejala seperti katarak.7

22 | L a p o r a n K a s u s

Page 23: Katarak Senilis Matur- HO

III.5.4 Patofisiologi

A. Proses penuaan

Katarak terkait usia paling sering ditemukan, patogenesis yang

multifaktorial ini belum sepenuhnya dimengerti. Berdasarkan usia lensa,

terjadi peningkatan berat dan ketebalan serta menunrunnya kemampuan

akomodasi. Sebagai lapisan baru, serat kortikal berbentuk konsentris,

akibatnya nukleus dari lensa mengalami penekanan. Kristalisasi adalah

perubahan yang terjadi akibat modifikasi kimia dan agregasi protein

menjadi high-molecular-weight-protein. Hasil dari agregasi protein secara

tiba-tiba mengalami fluktuasi refraktif index pada lensa, cahaya yang

menyebar dan penurunan pandangan. Pada jenis posterior subcapsular

katarak kekeruhan terletak di sisi belakang lensa. Biasanya katarak ini

menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang serta

pandangan baca yang menurun. Kondisi ini banyak ditemukan pada pasien

diabetes, pasca radiasi dan trauma.2,8,9

B. Obat yang menginduksi perubahan lensa2,3,8

- Kortikosteroid

Penggunaan kortikosterois jangka panjang menginduksi terjadinya

posterior subcapsular katarak.

- Phenotiazine

Merupakan golongan mayor dari psikotropik medikasi, dapat terjadi

deposit pigmen pada anterior epitelium lensa pada konfigurasi axial.

Deposit tersebut dapat terjadi tergantung dari dosis dan lama pemberian.

- Miotics

Antikolinesterase dapat menginduksi katarak. Biasanya, tahap awal

terbentuknya vakuola kecil dalan dan posterior menuju anterior dari kapsul

lensa dan epithelium.

C. Trauma

Trauma tumpul, peradangan tanpa perforasi dapat menyebabkan

lensa menjadi keruh pada tahap akut atau sequel. Katarak akibat kontusio

dapat melibatkan sebagian atau seluruh dari bagian lensa. Manifestasi awal

dari kontusio katarak adalah stellate atau rosette-shaped opacification.

23 | L a p o r a n K a s u s

Page 24: Katarak Senilis Matur- HO

Pada trauma perforasi biasanya progesivitas sangat cepat. Trauma elektrik

juga dapat menginduksi katarak.2,8,9

D. Kondisi metabolik

Diabetes melitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, relatif

index dan kemampuan akomodasilensa. Jika glukosa darah meningkat,

komposisi glukosa di humor aqueous juga meningkat yang akan berdifusi

masuk ke dalam lensa. Glukosa akan di konversi oleh enzim aldose

reduktase menjadi sorbitol yang akan menetap didalam lensa dan tidak

dimetabolisme lagi. 2,8,9

E. Efek dari nutrisi

Defisiensi nutrisi dinilai mampu menyebabkan katarak sehingga

konsumsi multivitamin, vitamin A, vitamin C, niacin, thiamin, riboflavin,

betacarotene dan konsumsi tingggi protein dapat melindungi terjadinya

katarak. 2,8,9

Gambar 4. Penglihatan pada mata normal dan mata katarak8

24 | L a p o r a n K a s u s

Page 25: Katarak Senilis Matur- HO

III. 5.5 Klasifikasi

Tabel 2. Klasifikasi Katarak2,8

1. Katarak insipien

Mulai terjadi kekeruhan baik di tepi korteks atau nukleus lensa. Pada

umumnya kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju

korteks anterior dan posterior, vakuol mulai terlihat di dalam korteks.2,3

2. Katarak imatur

Sebagian korteks dan nucleus mengalami kekeruhan. Keadaan lensa

mencembung, maka iris terdorong ke depan, bilik mata depan menjadi

dangkal dan sudut bilik mata depan sempit. Pada keadaan ini dapat

menyebabkan glaucoma sekunder akibat adanya hambatan di pupil.

Shadow test positif.2,3,4

3. Katarak matur

Seluruh korteks mengalami kekeruhan. Bila katarak imatur tidak dioperasi,

maka cairan akan keluar sehingga ukuran lensa kembali normal dan terjadi

kalsifikasi lensa sehingga massa lensa menjadi lebih padat. Shadow test

negatif 3

Gambar 5. Katarak Matur10

25 | L a p o r a n K a s u s

Morfologi Maturitas Onset

Kapsular Insipien Kongenital

Subkapsular Intumesen Infantile

Kortikal Immatur Juvenile

Supranuklear Matur Presenile

Nuklear Hipermatur Senile

Polar Morgagni

Page 26: Katarak Senilis Matur- HO

4. Katarak hipermatur

Korteks dan nukleus sangat keruh atau mencair (katarak Morgagni).

Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras

atau lembek dan mencair 3

Gambar 6. A. Katarak Nuklear, B. Katarak Brunescens, C. Katarak Rubra10

III. 5.6 Gejala

Tajam penglihatan kabur secara perlahan seperti silau, melihat kabut atau

asap, lebih dirasakan pada siang hari dibandingkan malam hari. Bila kekeruhan

sudah menyeluruh, maka pasien mengalami kebutaan 3,7,8

Katarak tipe sclerosis nuclear dapat menyebabkan myopia lentikuler

karena terjadi peningkatan kekuatan refraksi dari nucleus yang lebih padat. 2,3

Katarak tipe subskapsular posterior dapat mengalami penurunan tajam

penglihatan yang lebih cepat, silau, pandangan kabur. Katarak tipe ini biasanya

berhubungan dengan penyakit sistemik, seperti diabetes militus, kortikosteroid.2,3

III. 5.7 Diagnosa

a. Pemeriksaan tajam penglihatan untuk penglihatan jarak jauh dan jarak

dekat. Ketika pasien mengeluh silau, harus diperiksa di kamar dengan

cahaya yang terang 2,3

b. Pemeriksaan slit lamp 2,3

c. Pemeriksaan oftalmoskop indirect dan direct 2,3

III. 5.8 Pembedahan

Sebelum dilakukan tindakan pembedahan, berikut merupakan tehnik

anastesi yang digunakan :10

26 | L a p o r a n K a s u s

Page 27: Katarak Senilis Matur- HO

1. Anestesi Umum

Digunakan pada orang dengan kecemasan yang tinggi, tuna rungu, atau

retardasi mental, juga diindikasikan pada pasien dengan penyakit

Parkinson, dan reumatik yang tidak mampu berbaring tanpa rasa nyeri.

2. Anestesi Lokal :

Peribulbar block

Paling sering digunakan. Diberikan melalui kulit atau konjungtiva dengan

jarum 25 mm. Efek : analgesia, akinesia, midriasis, peningkatan TIO,

hilangnya refleks Oculo-cardiac (stimulasi pada n.vagus yang diakibatkan

stimulus rasa sakit pada bola mata, yang mengakibatkan bradikardia dan

bisa menyebabkan cardiac arrest)

Komplikasi :

o Perdarahan retrobulbar

o Rusaknya saraf optik

o Perforasi bola mata

o Injeksi nervus opticus

o Infeksi

Subtenon Block

Memasukkan kanula tumpul melalui insisi pada konjungtiva dan kapsul

tenon 5 mm dari limbus dan sepanjang area subtenon. Anestesi

diinjeksikan diantar ekuator bola mata.

Topical-intracameral anesthesia

Anestesi permukaan dengan obat tetes atau gel (proxymetacaine 0.5%,

lidocaine 2%) yang dapat ditambah dengan injeksi intrakamera atau infusa

larutan lidokain 1%, biasanya selama hidrodiseksi.

Penatalaksanaan katarak adalah ekstraksi lensa, dengan metode 3,4,10 :

1. Ekstraksi katarak ekstra kapsular (EKEK)

Dilakukan dengan merobek kapsul anterior, mengeluarkan

nukleus dan korteks. Sebagian kapsul anterior dan seluruh kapsul

posterior ditinggal. Cara ini umumnya dilakukan pada katarak dengan

lensa mata yang sangat keruh sehingga sulit dihancurkan dengan teknik

fakoemulsifikasi. Selain itu, juga dilakukan pada tempat-tempat di mana

27 | L a p o r a n K a s u s

Page 28: Katarak Senilis Matur- HO

teknologi fakoemulsifikasi tidak tersedia. Teknik ini membutuhkan

sayatan yang lebar, karena lensa harus dikeluarkan dalam keadaan utuh.

Setelah lensa dikeluarkan, lensa buatan/ Intra Ocular Lens (IOL)

dipasang untuk menggantikan lensa asli, tepat di posisi semula. Lalu

dilakukan penjahitan untuk menutup luka. Teknik ini dihindari pada

penderita dengan zonulla zinii yang rapuh.3,4,10

a. Keuntungan :7,10

- Luka insisi lebih kecil (8-12 mm) dibanding EKIK

- Karena kapsul posterior utuh maka :

- Mengurangi resiko hilangnya vitreus durante operasi

- Posisi anatomis yang lebih baik untuk pemasangan IOL

- Mengurangi insidensi ablasio retina, edema kornea, perlengketan

vitreus dengan iris dan kornea

- Menyediakan barier yang menahan pertukaran beberapa molekul

antara aqueous dan vitreus

- Menurunkan akses bakteri ke kavitas vitreus yang dapat

menyebabkan endofthalmitis.

b. Kerugian : 7,10

Dapat timbul katarak sekunder.

28 | L a p o r a n K a s u s

Page 29: Katarak Senilis Matur- HO

Gambar 7. Ekstraksi katarak ekstra kapsular (EKEK) 10

2. Ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK)

Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.

Dapat dilakukan pada zonula zinn telah rapuh atau berdegenerasi. Teknik

ini sudah jarang digunakan setelah adanya teknik EKEK. Pada EKIK

dilakukan pengangkatan seluruh lensa, termasuk kapsul lensa. Pada teknik

ini dilakukan sayatan 12-14 mm, lebih besar dibandingkan dengan teknik

EKEK. Dapat dilakukan pada zonula zinn yang telah rapuh/ berdegenerasi/

mudah diputus.2,3,4,10

a. Keuntungan : 7,10

- Tidak timbul katarak sekunder

- Diperlukan instrumen yang tidak terlalu canggih (lup operasi,

cryoprobe, forsep kapsul)

b. Kerugian : 7,10

Insisi yang lebih besar dapat mengakibatkan :

- Penyembuhan dan rehabilitasi visual tertunda

- Astigmatisma yang signifikan

- Inkarserasi iris dan vitreus

- Lebih sering menimbulkan penyulit seperti glaukoma, uveitis,

endolftalmitis.

Gambar 8. Ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK) 10

29 | L a p o r a n K a s u s

Page 30: Katarak Senilis Matur- HO

3. Fakoemulsifikasi10

Pembedahan dengan menggunakan menggunakan vibrator

ultrasonic untuk menghancurkan nucleus yang kemudian di aspirasi

melalui insisi 2,5-3 mm, dan kemudian dimasukkan lensa intraocular yang

dapat dilipat

Gambar 8. Fakoemulsifikasi10

4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)

Melakukan insisi pada sklera dengan ukuran insisi 5-8 mm, teknik

ini diselesaikan tanpa jahitan, penutupan luka pada insisinya terjadi dengan

sendirinya (self-healing). Teknik ini dapat dilakukan di stadium katarak

imatur, matur dan hipermatur. 7,10

III. 6.1 HIPERTENSI OKULI

III. 6.2 Anatomi dan Fisiologi Sudut Filtrasi

30 | L a p o r a n K a s u s

Page 31: Katarak Senilis Matur- HO

Sudut filtrasi merupakan bagian yang penting dalam pengaturan cairan bilik

mata. Sudut ini terdapat di dalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang

dibatasi oleh garis yang menghubungkan akhir dari membran Descemet dan

membran Bowman. Akhir dari membran Descemet disebut garis Schwalbe.

Limbus terdiri dari 2 lapisan yaitu epitel dan stroma. Epitelnya 2 kali ketebalan

epitel kornea. Di dalam stromanya terdapat serat-serat saraf dan cabang akhir dari

arteri siliaris anterior. 1,2,3

Bagian terpenting dari sudut filtrasi adalah trabekular, yang terdiri dari : 1,2,3

1. Trabekula korneoskleral

2. Trabekula uveal

3. Serabut yang berasal dari akhir membran Descemet (garis Schwalbe)

4. Ligamentum pektinatum rudimenter

Gambar 9. Anatomi Sudut Filtrasi10

Humor aqueous (HA) adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera

anterior dan posterior mata. Volumenya adalah sekitar 250 uL, dan kecepatan

pembentukannya, yang bervariasi diurnal, adalah 1,5-2 uL/menit. Tekanan

osmotik sedikit lebih tinggi daripada plasma. Komposisi humor akueus serupa

dengan plasma kecuali bahwa cairan ini memiliki konsentrasi askorbat, piruvat

dan laktat yang lebih tinggi dan protein, urea, dan glukosa yang lebih rendah.1

Sekresi HA 80% oleh epitel siliaris non pigmentasi melalui proses metabolik aktif

yang bergantung pada banyaknya sistem enzimatik (enzim karbonik anhidrase)

dan 20% oleh proses pasif dari ultrafiltrasi dan difusi.1,2,6

31 | L a p o r a n K a s u s

Page 32: Katarak Senilis Matur- HO

Gambar 10. Aliran Aqueous Humor6

III. 6.3 Definisi Hipertensi Okular

Hipertensi okuli adalah suatu keadaan dimana tampak kriteria seperti 10:

1. Tekanan intra okuli lebih besar dari 21 mmHg pada satu atau kedua mata

seperti yang diukur dengan tonometer applansi pada 2 atau lebih

kunjungan pemeriksaan

2. Tidak ada efek glaucomatous pada pemeriksaan lapang pandangan

3. Penampakan normal pada optik diskus dan lapisan serabut saraf

4. Sudut-sudut terbuka pada gonioscopy, tanpa ada riwayat sudut tertutup

5. Tidak adanya penyakit mata lain yang dapat menyebabkan tekanan

III. 6.4 Epidemiologi 12

1. Sekitar 4%-10% populasi usia diatas 40 tahun

2. Sering pada wanita

III. 6.5 Tiga Faktor Yang Menentukan Tekanan Intraokuli

1. Rata-rata produksi aquos humor oleh badan siliar 11

2. Resistensi dari outflow cairan aquos melintasi system trabecular

meshwork canalis schlemm 11

3. Level dari tekanan vena-vena episclera 11

III. 6.6 Faktor resiko 12

1. Denyut jantung

2. Respirasi

3. Latihan/olahraga

4. Intake cairan

32 | L a p o r a n K a s u s

Page 33: Katarak Senilis Matur- HO

5. Pengobatan sistemik

6. Obat-obat topical

7. Usia

8. Faktor genetik

III. 6.7 Patofisiologi

Penyebab TIO yang meninggi adalah menurunnya fasilitas outflow cairan

aqueous melalui trabecular 10:

1. Obstruksi trabecular meshwork oleh benda-benda asing

2. Hilangnya sel-sel endotel dari trabecular

3. Mengecilnya densitas dan ukuran pori-pori trabekula pada dinding bagian

dalam endothelium canalis schlemm

4. Hilangnya giant vacuoles pada dinding bagian dalam endhotelium canalis

schlemm

5. Gangguan dari mekanisme feedback neurologis

III.6.8 Tonometri

TIO bervariasi dari jam ke jam pada setiap invidu, ritme sircadian dari

TIO biasanya menyebabkan sebagian besar kenaikan terjadi di pagi hari. Lakukan

pengukuran minmanl 2 kali agara didapatkan hasil yang akurat. Pengukuran

tonometri yang paling mudah adalah dengan pengukuran tonometri Schiotz.10

Gambar 11. A. Tonometri Schiotz, B. Prinsip alat tonometri Schiotz10

33 | L a p o r a n K a s u s

Page 34: Katarak Senilis Matur- HO

III. 6.9 Penatalaksanaan

1. Penuntun penatalaksanaan menurut resiko terjadinya kerusakan :

a. Faktor-faktor resiko tinggi 10,12

- Defek kerusakan lapisan serabut saraf retina

- TIO > 30 Mmhg

- Perubahan parapapillary

Obati pasien dan kontrol 1 bulan kemudian untuk melihat apakah

pengobatan efektif atau tidak ada efek yang merugikan. Jika tujuan

pengobatan terpenuhi, lakukan follow up setiap 3-4 bulan.

b. Faktor-faktor resiko sedang 10,12

- TIO 22-23 mmhg

- Riwayat keluarga dengan sudut terbuka primer

- Myopia tinggi

- Ratio vertical cup-disc >0,7

Follow up pemeriksaan secara lengkap dalam waktu 2-3 minggu

untuk cek ulang tekanan. Jika TIO masih tetap diatas 3 mmhg

diatas batas, teruskan follow up pemeriksaan terus sampai 3-4

minggu dengan pemeriksaan lapang pandang dan evaluasi saraf

optik setidaknya setahun sekali

c. Faktor-faktor resiko rendah 10,12

- TIO 22-23 mmhg, lakukan follow up dalam 2-3 bulan kemudian

2. Medikamentosa10,11,12

a. Carbonic anhydrase inhibitors (CAIs)

- Menurunkan sekresi aquos humor : memperlambat pembentukan

ion-ion bikarbonat, kemudian mengurangi transport sodium dan

cairan sehingga menghambat carbonic anhydrase (CA) di prosesus

ciliaris

- Contoh : Asetazolamide, metazolamide

b. Kombinasi beta blocker dan carbonic anhydrase inhibitors

- Mengurangi produksi aquos humor

- Contoh : timolol

34 | L a p o r a n K a s u s

Page 35: Katarak Senilis Matur- HO

c. Adrenergics agonist

- Menurunkan produksi aquos humor : alpha 2-adrenergic agonis

d. Prostaglandin analog

- Meningkatkan outflow uveoscleral

- Contoh : latanoprost

3. Tindakan Operasi

Jika kontrol tidak dapat dicapai dengan 1-2 kali pengobatan

pertimbangkan diagnose hipertensi okuli dengan kemungkinan glaucoma

sudut terbuka primer tahap awal.

a. Screral Expansion Band Prosedure

Terapi untuk hipertensi okuli dan glaucoma sudut terbuka primer.

Prosedur ini dapat memperbesar ukuran dari pori-pori trabecular

meshwork. Prosedur operasinya dengan menjahitkan belt loops yang

terbuat dari polymethylmethacrylate ke sclera 3 mm posterior dari

limbus. Insisi parallel yang panjangnya 1,5 mm, dalamnya 300 micron,

berjarak 4 mm, dibuat dengan menggunakan pisau intan lamella yang

panjangnya 5 mm. bagian dari scleral expansion band dimasukkan ke

dalam scleral belt loops sehingga ujungnya menonjol keluar dari setiap

sisi belt loops. Proses ini diulang pada keempat kuadran oblique dari

mata13

III. 6.10 Prognosis dan Komplikasi

Sangat baik untuk hipertensi okuli. Dengan follow up yang baik, ditambah

dengan obat-obatan, kebanyakan pasien hipertensi okuli tidak berkembang

menjadi glaukoma sudut terbuka primer, dan penglihatan yang bagus. Dengan

control tekanan intra okuli yang jelek, berlanjut dengan timbulnya perubahan pada

saraf optik dan lapang pandang.11,12

35 | L a p o r a n K a s u s

Page 36: Katarak Senilis Matur- HO

BAB IV

KESIMPULAN

Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak memiliki derajat kepadatan yang

sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagi hal, tetapi biasanya berkaitan

dengan penuaan. Katarak senilis merupakan kekeruhan lensa yang terjadi pada

usia diatas 40 tahun. Pasien Tn.S usia 77 tahun mengalami katarak senilis matur

selain itu juga setelah diperiksa pengukuran tekanan bola mata terdapat tekanan

yang meningkat, sehingga didiagnosis sebagai hipertensi okuli. Hipertensi okuli

adalah suatu keadaan dimana tampak kriteria seperti salah satunya adalah tekanan

intra okuli lebih besar dari 21 mmHg pada satu atau kedua mata seperti yang

diukur dengan tonometer applansi pada 2 atau lebih kunjungan pemeriksaan.

Keadaan Tn.S yang mempunyai DM semenjak 20 tahun lalu merupakan

faktor resiko dan hal yang perlu dipertimbangkan untuk melakukan pembedahan.

Pada penyakit katarak tidak ada pengobatan medikamentosa yang mampu

mengobatinya sehingga harus dilakukan pembedahan. Pembedahan katarak

terbagi dalam beberapa teknik antara lain EKKE, EKKI, Fakoemulsifikasi dan

SICS. Keadaan hipertensi okuli perlu dikontrol ketat dan diberikan

medikamentosa contohnya pada kasus ini diberikan timolol untuk mengurangi

produksi aqueous humor. Hal ini dilakukan untuk mencegah progresivitas lebih

lanjut terjadinya glaukoma dan sudah terjadi defek lapang pandang.

36 | L a p o r a n K a s u s

Page 37: Katarak Senilis Matur- HO

DAFTAR PUSTAKA

1. Keith LM, Anne MR. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates. 2002. p

367 – 378

2. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Oftalmologi Umum. Edisi 17.

Jakarta :Widya Medika. 2000: 12 – 4

3. Sidarta I. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Penerbit FKUI. 2010:300-1

4. Widya A, Johan AH, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Jakarta:

Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSCM FKUI. 2011;107

5. Junqueira,et.all. Histologi Dasar, Teks dan Atlas. Edisi 10. Jakarta : EGC.

2007

6. Guyton AC, Hall EH. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Philadelphia : W.B.

Saunders Company ; 2006.

7. Ocampo VVD. Cataract, Senile : Differential Diagnosis and Workup. 2009. Diakses dari

http://emedicine.medscape.com/article/1210914-overview, diakses tanggal 12 Juni 2015

8. Said Alfin, K. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis. Version 1.

2010. p. 15-1

9. Zorab, A.R, Straus H, Dondrea L, et all. Lens and Cataract Pathotolgy.

Chapter 5. American Academy of Oftamology: San Fransisco. p.69-45

10. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 7th ed. China:

Elsevier : 2011. (e-book)

11. American Academy Of Ophtalmology. Introduction to Glaukoma :

Terminology, epidemiology, and heredity. Dalam : glaucoma. Section 10.

Basic and clinical science course

12. Bell Jerald A. Ocular Hypertension. Diakses dari (http

//www.emedicine.com/oph/topic578.htm, diakses tanggal 12 Juni 2015

13. Schachar, R. Screlar Expansion Procedure In Ocular Hypertension and

Primary Open Angle Glaucoma. Di akses :

http//www.emedicine.com/oph/topic730.htm, diakses tanggal 12 Juni 2015

37 | L a p o r a n K a s u s