lapsus katarak matur

Upload: lindaaa

Post on 18-Oct-2015

547 views

Category:

Documents


2 download

DESCRIPTION

mata

TRANSCRIPT

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Nama

: Tn. AJenis Kelamin

: Laki-lakiUmur

: 76 tahunAlamat

: Kelayan APekerjaan

: tukang ojekNo. RM

: 107Tgl. Pemeriksaan: 23 desember 2013

B. Anamnesis

1. Keluhan Utama

: Mata kiri tidak dapat melihat2. Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang ke Poliklinik mata RSUD Ulin dengan keluhan utama mata kiri tidak dapat melihat. Keluhan dirasa sejak 1 tahun yang lalu dan memberat 2-3 bulan terakhir. Penurunan penglihatan terjadi secara perlahan, awalnya pasien masih dapat melihat dengan kedua mata, namun terlihat berbayang pada mata sebelah kiri. Sekarang pasien merasa pada penglihatannya terhalang kabut putih tebal sehingga tidak dapat melihat sama sekali. Pasien juga mengeluhkan mata silau pada sebelah kiri. Selain keluhan tersebut, tidak ada keluhan lain seperti merah, berair, mengeluarkan sekret, melihat lingkaran pelangi saat melihat lampu, maupun rasa mengganjal. Tidak ada keluhan pada mata sebelah kanan. Pasien juga mengaku tidak mual dan muntah serta tidak memiliki penyakit diabetes maupun hipertensi. 3. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat keluhan mata (kabur,nyeri,merah,dll) sebelumnya : (-)

Riwayat Diabetes Melitus

: (-)

Riwayat hipertensi

: (-)

Riwayat penggunaan kacamata

: (-)

Riwayat trauma pada mata

: (-)

Riwayat penggunaan steroid jangka lama : (-)

Riwayat alergi makanan dan obat

: (-)4. Riwayat penyakit keluarga

Riwayat penyakit serupa

: (-)

Riwayat Hipertensi

: (-)

Riwayat Cancer

: (-) Riwayat Diabetes Melitus

: (-)

Riwayat alergi

: (-)

C. Keadaan Umum

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan Darah: 130/90 mmHg.

Nadi

: 88x/menit.

Suhu

: 36,7oC.

Respirasi Rate

: 20x/ menit

D. Status Oftalmologi

PemeriksaanOkuli sinistraOkuli dextra

VISUS1/~5/24

PALPEBRAEdema superior (-)

Hiperemis (-)

Blefarospasme (-)

Lagoftalmus (-)

Ekropion (-)Entopion (-)Edema superior (-)

Hiperemis (-)

Blefarospasme (-)

Lagoftalmus (-)

Ekropion (-)

Entopion (-)

BULBUS OKULIGerak mata normal Enoftalmus (-)

Eksoftalmus (-)

Strabismus (-)Gerak mata normal

Enoftalmus (-)

Eksoftalmus (-)

Strabismus (-)

KONJUNGTIVAHiperemis (+, minimal)

Injeksi silier (-)

Injeksi konjungtiva (+)

Bangunan patologis (-)

Secret (-)Hiperemis (-)

Injeksi silier (-)

Injeksi konjungtiva (-)

Bangunan patologis (-)

Secret (-)

SCLERAWarna keruh kekuninganWarna putih keruh

KORNEAArcus senilis (+)

Permukaaan licin (+)

Edema (-)Arcus senilis (+)

Permukaaan licin (+)

Edema (-)

COADangkal, jernihDangkal, jernih

IRIS & PUPILIris normal, pupil sentral, diameter 3mm, reflek cahaya direk/indirek (+/+)Iris normal, pupil sentral, diameter 3mm, reflek cahaya direk/indirek (+/+)

LENSAKeruh padatJernih

FUNDUS MEDIA Sulit dievaluasiSulit dievaluasi

PAPILSulit dievaluasiSulit dievaluasi

MAKULA & RETINASulit dievaluasiSulit dievaluasi

TIONN

Proyeksi SINAR dan Proyeksi WarnaBaikBaik

SHADOW TESTNegativePositif

E. Diagnosis Banding (berdasarkan penurunan visus dan leukokoria)OS katarak sinilisOS katarak komplikata

F. Diagnosis KerjaOS katarak senilis matur

G. Penatalaksanaan

1. Katarak Senilis Matur

Dilakukan rencana operasi :

Extra Capsular Cataract Extraction (ECEC) + IOL (Intra Okuler Lens). Phacoemulsifikasi + IOL (Intra Okuler Lens)

H. Prognosis

QuoOkuli DextraOkuli Sinistra

Ad Vitamad bonamad bonam

Ad cosmeticanad bonamad bonam

Ad fungsionamDubia ad bonamDubia ad bonam

Ad visamDubia ad bonamDubia ad bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAI. Anatomi Lensa

Lensa adalah suatu struktur biconvex, avaskular, tidak bewarna, dan hampir transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. lensa tergantung pada zonula dibelakang iris; zonula menghubungkannya dengan corpus cilliare. Disebelah anterior lensa terdapat aquos humor, disebelah posteriornya vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membrane semipermeabel (sedikit lebih permeable daripada dinding kapiler) yang melewatkan air dan elekrolit untuk makanannya.1,2

Lensa terdiri dari kapsul lensa, nucleus dan korteks lensa. Kapsul lensa merupakan membrane basalis elastic yang dihasilkan epithelium lensa. Pada bagian anterior dibentuk sel epitel dan di posterior oleh serabut kortikal. Sintesa kapsul posterior berlangsung sepanjang kehidupan sehingga ketebalannya meningkat, sedangkan kapsul posterior relative konstan.

Epitel lensa yaitu pada kapsul anterior berperan dalam mengatur metabolik aktifitas sel termasuk DNA, RNA, protein dan biosintesa lemak dan untuk menghasilkan ATP yang berguna untuk menghasilkan energi yang diperlukan lensa. Nukleus dan korteks lensa terbuat dari lamellar kosentris yang memanjang, serabut-serabut lamellar terus berproduksi sesuai usia..1,2KatarakII.1 Definisi

Kata katarak berasal dari bahasa latin- Cataracta yang berarti air terjun, karena orang yang menderita katarak mempunyai penglihatan yang kabur seolah-olah penglihatannya dihalangi air terjun.3 Katarak adalah kekeruhan atau opasifikasi dari lensa mata atau kapsula lensa yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan.4,5,6 Kekeruhan ini terjadi akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa. Katarak dapat terjadi pada saat perkembangan serat atau sesudah serat lensa berhenti dalam perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.7

Kekeruhan lensa dapat mengenai satu atau kedua mata dan tampak kekeruhan lensa yang mengakibatkan lensa tidak transparan, sehingga pupil akan berwarna putih. Walaupun demikian, jika karatak mengenai satu mata tidak berarti akan menularkan ke mata lain.8II.2 Klasifikasi Katarak

Klasifikasi katarak yakni berdasarkan : 1,2,3

a. Waktu terjadi (katarak didapat dan congenital)b. Maturitas

c. Morfologi.Klasifikasi katarak menurut waktu terjadinya yaitu : 1,2,31. Katarak didapat (acquired cataracts) , yakni > 99% katarak.

a. Katarak senilis ( lebih dari >90% katarak)

b. Katarak dengan penyakit sistemik

c. Katarak sekunder dan komplikata

1. Katarak dengan heterochromia

2. Katarak dengan iridosiklitis kronik

3. Katarak dengan vasculitis retinal

4. Katarak dengan renitis pigmentosa

d. Katarak ikutan (post-operasi katarak)e. Katarak traumatik

1. Kontusio atau perforasi rosette

2. Radiasi infrared (katarak glassblower)

3. Injury electrical

4. Radiasi ionisasi

f. Katarak toksik

1. Korticosteroid yang menginduksi katarak (lebih sering)

2. Chlorfromazin, miotik agen, busulfan jarang digunakan. b. Katarak congenital (kurang dari 1 %)

1. Katarak Herediter

a. Autosom-dominan

b. Autosom perifer

c. Sporadic

d. X-linked.32. Katarak berkaitan dengan kerusakan embrionik awal (transplacental)

a. Rubella (40-60%)

b. Mumps (10-22%)

c. Hepatitis (16%)

d. Toxoplasmosis (5%).3

II.3 Katarak Senilisa. Definisi

Katarak senilis adalah katarak primer yang terjadi pada usia lebih dari 50 tahun.2,8 Namun, jika disertai dengan penyakit lainnya seperti diabetes mellitus yang akan terjadi lebih cepat. Kedua mata dapat terlihat derajat kekeruhan yang sama atau berbeda.9

b. Epidemiologi Katarak senilis

Penuaan merupakan penyebab katarak yang terbanyak. Katarak akibat penuaan merupakan penyebab umum gangguan penglihatan. Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50%; prevalensi ini meningkat hingga 70% pada individu diatas 75 tahun.5

Tidak ada perbedaan ras dan jenis kelamin terhadap penurunan penglihatan5c. Klasifikasi Katarak Senilisa. Berdasarkan maturitas yakni sebagai berikut :

1. Stadium insipient

2. Stadium imatur

3. Stadium matur

4. Stadium hipermatur

b. Berdasarkan morfologisnya, yakni sebagai berikut :

1. Katarak subcapsular

2. Katarak nuclear

3. Katarak kortikal

4. Christmas tree cataract12d. Etiologi Katarak SenilisPenyebab katarak senilis belum diketahui secara pasti. Diduga terjadi karena :

1. Proses pada nucleus

Oleh karena serabut- serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong kearah tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium dan sclerosis. Pada nucleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa menjadi lebih hipermetrop. Lama-kelamaan nucleus lensa yang pada mulanya bewarna putih, menjadi kekuning-kuningan.2

2. Proses pada korteks

Timbulnya celah-celah diantara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan calcium, sehingga lensa menjadi lebih tebal, lebih cembung, dan membengkak, menjadi lebih miop.berhubung adanya perubahan refraksi kea rah myopia pada katarak kortikal, penderita seolah-olah mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.2

e. Patofisiologi Katarak Senilis

Patofisiologi terjadinya katarak senilis terjadi sangat kompleks. Dan belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara karakteristik terdapat agregrat-agregat protein yang menghamburkan cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.. temuan tambahan mungkin berupa vesikel diantara serat-serat lensa atau migrasi epitel dan pembesaran epite-epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari proses radikal bebas) sinar UV, dan malnutrisi.1,5f. Diagnosis

Berdasarkan maturitasnya, katarak diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Stadium insipient

Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda, dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerang cairan mata kedalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa. Tajam penglihatan pasien belum terganggu.9

Dengan koreksi, visus masih dapat 5/5-5/6. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai korteks anterior, sedang aksis relative masih jernih. Gambaran inilah yang disebut spokes of a wheel, yang nyata bila pupil dilebarkan. Pada stadium lanjut, gambaran baji dapat dilihat pula pada pupil yang normal.2b. Stadium imatur 1,2

Pada stadium ini lensa yang degenerative mulai menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Pada stadium ini terjadi pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada stadium ini dapat terjadi miopisasi akibat lensa mata menjadi cembung, sehingga pasien merasa tidak perlu kacamata sewaktu membaca dekat. Akibat lensa yang bengkak, iris terdorong ke depan, bilik mata dangkal dan sudut bilik mata akan sempit atau tertutup. Pada stadium ini dapat terjadi glaucoma sekunder.9

Kalau tidak ada kekeruhan dilensa, maka sinar dapat masuk kedalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan sehinnga pada pemeriksaan, terlihat dipupil, ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut iris shadow test (+).2c. Stadium Matur

Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. Pada stadium ini terjadi kekeruhan seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam lensa sudah dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Pada pemeriksaan terlihat iris dalam posisi normal, bilik mata depan normal, sudut bilik mata depan terbuka normal, dan uji bayangan iris negative. Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi sinar positif.9

Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara. Iris shadow test membedakan stadium matur dari imatur dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika.10 Dengan melebarkan pupil akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil saja. Kadang-kadang, walaupun masih stadium imatur (iris shadow test (+)), dengan koreksi, visus tetap buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk lagi 1/300 atau satu tak hingga, hanya ada persepsi cahaya, walaupun lensanya belum keruh seluruhnya. Keadaan ini disebut stadium vera matur.2

d. Stadium Hipermatur

Dimana pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nucleus lensa tenggelam didalam korteks lensa (kataraks morgagni). Pada stadium ini terjadi juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan masuk kedalam bilik mata depan.

Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil daripada normal, yang akan mengakibatkan iris tremulans, dan bilik mata depan terbuka. Pada uji bayangan iris terlihat positif walaupun seluruh lensa telah keruh sehingga keluar dari kapsul, lalu masuk bilik mata depan maka akan timbul reaksi jaringan uvea berupa uveitis.

Bahan lensa ini juga dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata sehingga disebut glaucoma fakolitik

g. Penyulit Katarak 4,71. Glaucoma , melalui proses : - Fakotopik

Fakolitik

Fakotoksik

2. Dislokasi Lensah. Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

a. Preparat iodine

b. Protein lensa

c. Hormone

d. Zat yang berkurang pada kekeruhan lenda missal : vitamin, ATP, mineral

Pengobatan medikamentosa pada katarak belum memperlihatkan hasil yang jelas hanya untuk psikologis pasien

2. Bedah katarak 4,8,9Ada beberapa teknik pada operasi katarak senilis, berikut ini dapat dilihat keuntungan dan kerugian dari beberapa teknik bedah katarak tersebut :

Jenis bedah katarakKeuntunganKerugian

Intra capsular cataract extraction (ICCE)Semua komponen lensa diangkat Insisi lebih besar

Edema pada macula

Komplikasi pada vitreus

Sulit pada usia