askep ards akper pemkab muna

Click here to load reader

Post on 14-Apr-2017

315 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ICU GBPT

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah ungkapan yang patutu dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, kasih sayang dan pertolongan Nya sehingga makalah yang berjudul Askep pada klien dengan gangguan pernafasan Bawah ( Kelaianan pada parenkmim paru / ARDS ) ini dapat terselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Shalawat dan Taslim kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Adalah penting bagi manasiswa memahami serta menginterprestaikan suatu asuhan keperawatan sehingga nanti dilapangan dalam hal mempraktekan segala tindakan yang berhubungan dengna penyakit ini dapat melakukannya dengan baik. Oleh karena itu, penyusun merasa perlu penyajian makalah yang dapat mendukung salah satu indikator pembelajaran Etika Keperawatan itu sendiri.

Dengan segala kerendahan hati, penyusun menyampaikan bahwa makalah ini masih banyak kekurang sehingga diperlukan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini. Namun terlepas dari kekurangan yang ada, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para penggunanya Mahasiswa AKPER PEMKAB MUNA.

Raha, Februari 2013

PenyusunDAFTAR ISI

SAMPUL HALAMAN .....................................................................................................

KATA PENGANTAR......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang....................................................................................................... Tujuan.................................................................................................................... Rumusan Masalah..................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP PENYAKIT Defenisi ARDS....................................................................................................... Etiologi ARDS....................................................................................................... Dampak terhadapt tubuh. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM ARDS......................................................

Tanda dan gejala......................................

Prosedur diagnosik..........................................

Penatalaksanaan Medik.......................................................................................... Komplikasi..............................................................................................................B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATANBAB III PENUTUP

Kesimpulan............................................................................................................. Saran........................................................................................................................DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

ARDS adalah suatu sindrom gagal napas akut akibat kerusakan sawar membran kapiler alveoli sehingga menyebabkan edema paru akibat peningkatan permeabilitas. Hal ini dapat timbul sebagai komplikasi pada berbagai penyakit interna dan bedah. Harus dibedakan antara ARDS dengan acute lung injury (ALI) yaitu suatu bentuk ARDS yang lebih ringan. Edema paru biasanya disebabkan peningkatan tekanan pembuluh kapiler paru (misalnya pada gagal jantung kiri), tapi edema paru pada ARDS timbul akibat peningkatan permeabilitas kapiler alveolar.Pada keadaan normal terdapat keseimbangan antara tekanan onkotik (osmotik) dan hidrostatik antara kapiler paru dan alveoli. Tekanan hidrostatik yang pada gagal jantung menyebabkan edema paru. Sedangkan pada gagal ginjal terjadi retensi cairan yang menyebabkan volume overload dan diikuti edema paru. Hipoalbuminemia pada sindrom nefrotik atau malnutrisi menyebabkan tekanan onkotik sehingga terjadi edema paru. Pada tahap awal terjadinya edema paru terdapat peningkatan kandungan cairan di jaringan interstisial antara kapiler dan alveoli.Pada ARDS dipikirkan bahwa kaskade inflamasi timbul beberapa jam kemudian yang berasal dari suatu fokus kerusakan jaringan tubuh. Neutrofil yang teraktivasi akan beragregasi dan melekat pada sel endotel yang kemudian menyebabkan pelepasan berbagai toksin, radikal bebas, dan mediator inflamasi seperti asam arakidonat, kinin, dan histamin. Proses kompleks ini dapat diinisiasi oleh berbagai macam keadaan atau penyakit dan hasilnya adalah kerusakan endotel yang berakibat peningkatan permeabilitas kapiler alveolar. Alveoli menjadi terisi penuh dengan eksudat yang kaya protein dan banyak mengandung neutrofil dan sel inflamasi sehingga terbentuk membran hialin. Karakteristik edema paru pada ARDS/ALI adalah tidak adanya peningkatan tekanan pulmonal (hipertensi pulmonal). Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan Swan-Ganz cathether. Tekanan baji paru menggambarkan tekanan atrium kiri dan pada ARDS < 18 mmHg. ARDS/ALI merupakan suatu respons terhadap berbagai macam injuri atau penyakit yang mengenai paru-paru baik itu secara langsung atau tidak langsung. Berbagai keadaan dan penyakit dasar yang dapat menyebabkan timbulnya ARDS/ALI yaitu: Langsung antara lain: Aspirasi asam lambung, Tenggelam, Kontusio paru, Pnemonia berat, Emboli lemak, Emboli cairan amnion, Inhalasi bahan kimia dan Keracunan oksigen. Sedangkan Tidak langsung, terdiri dari Sepsis, Trauma berat, Syok hipovolemik, Transfusi darah berulang, Luka bakar, Pankreatitis, Koagulasi intravaskular diseminata dan Anafilaksis. Sekitar 12-48 jam setelah penyebab atau faktor pencetus timbul, mula-mula pasien terlihat sesak (takipnea) dan takikardia. Analisis gas darah (AGD) memperlihatkan hipoksemia berat yang kurang respons dengan terapi oksigen Foto toraks memperlihatkan gambaran infiltrat bilateral yang difus tanpa disertai oleh gejala edema paru kardiogenik. b. Fenomena penyakit yang ada : Walaupun banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui mekanisme ARDS, perbaikan pengobatan dan teknik ventilator tapi mortalitas pasien dengan ARDS masih cukup tinggi yaitu > 50%. Beberapa pasien yang bertahan hidup akan didapatkan fibrosis pada parunya dan disfungsi pada proses difusi gas/udara Sebagian pasien dapat pulih kembali dengan cukup baik walaupun setelah sakit berat dan perawatan ICU yang lama.B. Tujuan.

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :

a. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah KMB IIb. Untuk mengetahui tentang ARDS.c. Sebagai bahan bacaan atau bahan perbandingan dalam pengembangan tentang KMB IC. Batasan Masalah

1. Konsep Penyakit

Pengertian

Etiologi

Patofsiologi dan Penyimpangan KDM

Tanda dan Gejala

Prosedur Diagnosik

Manajemen Medik

Komplikasi

2. Konsep Askep

Pengkajian

Dianosa

Intervensi

Implementasi

EvaluasiBAB IIPEMBAHASAN

A. Konsep Penyakit 1. DefinisiGangguan paru yang progresif dan tiba-tiba ditandai dengan sesak napas yang berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua belah paru.

2. EtiologiARDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung.Faktor Resikoa. Trauma langsung pada paru

Pneumoni virus,bakteri,fungal

Contusio paru

Aspirasi cairan lambung

Inhalasi asap berlebih

Inhalasi toksin

Menghisap O2 konsentrasi tinggi dalam waktu lama

b. Trauma tidak langsung

Sepsis

Shock

DIC (Dissemineted Intravaskuler Coagulation)

Pankreatitis

Uremia

Overdosis Obat

Idiophatic (tidak diketahui)

Bedah Cardiobaypass yang lama

Transfusi darah yang banyak

PIH (Pregnand Induced Hipertension)

Peningkatan TIK

Terapi radiasi3. Dampak terhadap tubuhA. Sistem pernafasan

Kerusakan pada mekanisme pertahanan saluran pernafasan ( Tidak efektifnya jalan nafas )

B. Sistem Muskuloskeletal

Kelemahan otot

Mudah Lelah ( Intoleransi Aktifitas )

C. Sistem pencernaan

Penurunan nafsu makan

Penurunan berat bada ( Gangguan pemenuhan nutrisi )4. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

5. Manifestasi KlinikARDS merupakan suatu respons terhadap berbagai macam injuri atau penyakit yang mengenai paru-paru baik itu secara langsung atau tidak langsung. berbagai keadaan dan penyakit dasar yang dapat menyebabkan timbulnya ards/ali yaitu: langsung antara lain: aspirasi asam lambung, tenggelam, kontusio paru, pnemonia berat, emboli lemak, emboli cairan amnion, inhalasi bahan kimia dan keracunan oksigen. sedangkan tidak langsung, terdiri dari sepsis, trauma berat, syok hipovolemik, transfusi darah berulang, luka bakar, pankreatitis, koagulasi intravaskular diseminata dan anafilaksis.

Sekitar 12-48 jam setelah penyebab atau faktor pencetus timbul, mula-mula pasien terlihat sesak (takipnea) dan takikardia. analisis gas darah (agd) memperlihatkan hipoksemia berat yang kurang respons dengan terapi oksigen foto toraks memperlihatkan gambaran infiltrat bilateral yang difus tanpa disertai oleh gejala edema paru kardiogenik. Peningkatan jumlah pernapasan

Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis

Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan

6. Pemeriksaan diagnostik Chest X-Ray

ABGs/Analisa gas darah

Pulmonary Function Test

Shunt Measurement (Qs/Qt)

Alveolar-Arterial Gradient (A-a gradient)

Lactic Acid Level

7. PenatalaksanaanPenatalaksanaan ARDS terdiri atas penatalaksanaan terhadap penyakit dasar yang dikombinasi dengan penatalaksanaan suportif terutama mempertahankan oksigenasi yang adekuat dan optimalisasi fungsi hemodinamik sehingga diharapkan mekanisme kompensasi tubuh akan bekerja dengan baik bila terjadi gagal multiorgan.

Penatalaksanaan penyakit dasar sangat penting, misalnya penatalaksanaan hipotensi dan eradikasi sumber infeksi pada sepsis.

Khas pada ARDS, hipoksemia yang terjadi refrakter terhadap terapi oksigen dan hal ini kemungkinan diakibatkan adanya shunting (pirau) darah melalui daerah paru yang tidak terventilasi yang disebabkan alveoli terisi eksudat protein dan terjadi atelektasis.

Continous positive airway pressure (CPAP) dapat mencegah atelektasis alveolar, mengurangi disfungsi ventilasi/perfusi dan membantu kerja pernapasan. Kebutuhan untuk intubasi dan ventilasi mekanik mungkin akan semakin besar sehingga pasien harus dirawat di unit perawatan intensif. Positive end expiratory pressure (PEEP) 25-15 mmH2O dapat digunakan untuk mencegah alveoli menjadi kolaps. Tekanan jalan napas yang tinggi yang terjadi pada ARDS dapat menyebabkan penurunan cairan jantung dan peningkatan risiko barotrauma (misalnya pneumotoraks).

Tekanan tinggi yang dikombinasi dengan konsentrasi O2 yang tinggi sendiri dapat menyebabkan kerusakan mikrovaskular dan mencetuskan terjadinya permeabilitas yang meningkat hingga timbul edema paru. Salah satu bentuk teknik ventilator yang lain yaitu inverse ratio ventilation dapat memperpanjang fase inspirasi sehingga transport oksigen dapat berlangsung lebih lama dengan tekanan yang lebih rendah. extra corporeal membrane oxygenation (ECMO) menggunakan membran eksternal artifisial untuk membantu transport oksigen dan membuang CO2. Strategi terapi ventilasi ini tidak begitu banyak memberikan hasil yang memuaskan untuk memperbaiki prognosis secara umum tapi mungkin bermanfaat pada beberapa kasus.

Optimalisasi fungsi hemodinamik dilakukan dengan berbagai cara. Dengan menurunkan tekanan arteri pulmonal berarti dapat membantu mengurangi kebocoran kapiler paru. Caranya ialah dengan restriksi cairan, penggunaan diuretik dan obat vasodilator pulmonar (nitric oxide/NO). Pada prinsipnya penatalaksanaan hemodinamik yang penting yaitu mempertahankan keseimbangan yang optimal antara tekanan pulmoner yang rendah untuk mengurangi kebocoran ke dalam alveoli, tekanan darah yang adekuat untuk mempertahankan perfusi jaringan dan transport O2 yang optimaI. Kebanyakan obat vasodilator arteri pulmonal seperti nitrat dan antagonis kalsium juga dapat menyebabkan vasodilatasi sistemik sehingga dapat sekaligus menyebabkan hipotensi dan perfusi organ yang terganggu. Obat-obat inotropik dan vasopresor seperti dobutamin dan noradrenalin mungkin diperlukan untuk mempertahankan tekanan darah sistemik dan curah jantung yang cukup terutama pada pasien dengan sepsis (vasodilatasi sistemik). Inhalasi NO telah digunakan sebagai vasodilator arteri pulmonal yang selektif. Karena diberikan secara inhalasi sehingga terdistribusi pada daerah di paru-paru yang menyebabkan vasodilatasi. Vasodilatasi yang terjadi pada alveoli yang terventilasi akan memperbaiki disfungsi ventilasi/perfusi sehingga dengan demikian fungsi pertukaran gas membaik. NO secara cepat diinaktivasi oleh hemoglobin mencegah reaksi sistemik.

8. Komplikasi

Infeksi paru dan abdomen merupakan komplikasi yang sering dijumpai. Adanya edema paru, hipoksia alveoli, penurunan surfaktan dan daya aktivitas surfaktan akan menurunkan daya tahan paru terhadap infeksi. Komplikasi PEEP yang sering adalah penurunan curah jantung, emfisema subkutis, pneumothoraks dan pneumomediastinum. Tingkat kemaknaan ARDS sebagai kedaruratan paru ekstrim dengan rata-rata mortalitas 50%-70% dapat menimbulkan gejala sisa pada penyembuhan, prognosis jangka panjang baik. Abnormalitas fisiologik dari ringan sampai sedang yaitu abnormalitas obstruktif terbatas (keterbatasan aliran udara), defek difusi sedang dan hipoksemia selama latihan. Hasil positif pada pasien yang sembuh dari ARDS paling mungkin fungsi tiga dari kemampuan tim kesehatan untuk melindungi paru dari kerusakan lebih lanjut selama periode pemberian dukungan hidup, pencegahan toksisitas oksigen dan perhatian terhadap penurunan sepsis. B. Konsep Asuhan Keperawatan1. Pengkajian

Keadaan-keadaan berikut biasanya terjadi saat periode latent saat fungsi paru relatif masih terlihat normal (misalnya 12 24 jam setelah trauma/shock atau 5 10 hari setelah terjadinya sepsis) tapi secara berangsur-angsur memburuk sampai tahapan kegagalan pernafasan. Gejala fisik yang ditemukan amat bervariasi, tergantung daripada pada tahapan mana diagnosis dibuat.Pengumpulan Data

A. Biodata

Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status, suku/bangsa, diagnosa, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no. medical record, dan alamat.

Identitas penanggung jawab

Meliputi nama, umur, alamat, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan klien.

Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan sekarang

RSMRS

Kaji apakah klien sebelum masuk rumah sakit memiliki riwayat penyakit yang sama ketika klien masuk rumah sakit.

Keluhan utama : Nyeri

Riwayat keluhan utama

P: nyeri

Q: Terus menerus

R: seluruh persendian,dada, dan perut

S : 4(0-5)

T : saat beraktifitas Riwayat kesehatan dahulu

Kaji apakah klien pernah menderita riwayat penyakit yang sama sebelumnya.

Riwayat pemakaian obat-obatanB. Pengkajian primer

Airway

a. Pengkajian Primer

1) Airway

Jalan napas tidak normal

Terdengar adanya bunyi napas ronchi

Tidak ada jejas badan daerah dada

2) Breathing

Peningkatan frekunsi napas

Napas dangkal dan cepat

Kelemahan otot pernapasan

Kesulitan bernapas : sianosis

3) Circulation

Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia

Sakit kepala

Pingsan

berkeringat banyak

Reaksi emosi yang kuat

Pusing, mata berkunang kunang4) Disability

Dapat terjadi penurunan kesadaran Triase : merahC. Pengkajian Sekunder Aktivitas / istrahat

Gejala : Klien mengeluh mudah lelah

Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas

Tanda : Klien nampak gelisah

Kelemahan otot

Sirkulasi

Tanda : Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya hipoksemia)

Hipotensi terjadi pada stadium lanjut (shock).

Heart rate : takikardi biasa terjadi

Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin. Cyanosis biasa terjadi (stadium lanjut)

Integritas egoGejala : Klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakit

Klien mengatakan takut akan kondisi penyakitnya

Tanda : Cemas

Ketakutan akan kematian

Makanan dan cairan

Gejala : Klien mengatakan nafsu untuk makan kurang

Tanda : Perubahan berat badan

Porsi makan tidak dihabiskan

Pernapasan

Gejala : Klien mengatakan kesulitan untuk bernapas

Klien mengatakan merasakan sesak

Tanda : Peningkatan kerja napas (penggunaan otot pernapasan)

Bunyi napas mungkin crakles, ronchi, dan suara nafas bronchial

Napas cepat

Perkusi dada : Dull diatas area konsolidasi

Penurunan dan tidak seimbangnya ekpansi dada

Peningkatan fremitus (tremor vibrator pada dada yang ditemukan dengan cara palpasi.

Sputum encer, berbusa

Pallor atau cyanosis

a. Pengelompokan data

Data subyektif

Klien mengeluh mudah lelah

Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas

Klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakit

Klien mengatakan takut akan kondisi penyakitnya

Klien mengatakan nafsu untuk makan kurang

Klien mengatakan kesulitan untuk bernapas

Klien mengatakan merasakan sesak

Data obyektif

Peningkatan kerja napas (penggunaan otot pernapasan)

Bunyi napas mungkin crakles, ronchi, dan suara nafas bronchial

Napas cepat

Perkusi dada : Dull diatas area konsolidasi

Penurunan dan tidak seimbangnya ekpansi dada

Peningkatan fremitus (tremor vibrator pada dada yang ditemukan dengan cara palpasi.

Sputum encer, berbusa

Pallor atau cyanosis

Perubahan berat badan

Porsi makan tidak dihabiskan

Cemas

Ketakutan akan kematian

Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya hipoksemia)

Hipotensi terjadi pada stadium lanjut (shock).

Heart rate : takikardi biasa terjadi

Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin.

Cyanosis biasa terjadi (stadium lanjut)

Klien nampak gelisah

Kelemahan otot

Klien nampak mudah lelah bila beraktivitasAnalisa data

DataPenyebabMasalah

Ds :

Klien mengatakan kesulitan untuk bernapas

Klien mengatakan merasakan sesak

Do :

Bunyi napas mungkin crakles, ronchi, dan suara nafas bronchial

Perkusi dada : Dull diatas area konsolidasi

Peningkatan fremitus (tremor vibrator pada dada yang ditemukan dengan cara palpasi.

Sputum encer, berbusaTrauma langsung / tak langsung pada paru

Mengganggu mekanisme pertahanan saluran napas

Kehilangan fungsi silia jalan napas

Tidak efektifnya jalan napasTidak efektifnya jalan napas

Ds :

Klien mengatakan kesulitan untuk bernapas

Klien mengatakan merasakan sesak

Do :

Peningkatan kerja napas (penggunaan otot pernapasan)

Napas cepat

Penurunan dan tidak seimbangnya ekpansi dada

Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin.

Cyanosis biasa terjadi (stadium lanjut)

Trauma langsung / tak langsung pada paru

Toksik terhadap epithelium asleolar

Kerusakan membrane kapiler alveoli

Kerusakan epithelium alveolar

Kebocoran cairan dalam alveoli

Edema alveolar

Wolume dan compliance paru menurun

Ketidak seimbangan ventilasi perfusi hubungan arterio venus dan kelainan difusi alveoli kapiler

Kerusakan pertukaran gasGangguan pertukaran gas

Ds :

Klien mengeluh mudah lelah

Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas

Do :

Kelemahan otot

Klien nampak mudah lelah bila beraktivitas

Trauma pada paru

Kerusakan membrane kapiler alveoli

Edema alveolar dan interstitial

Sesak

Kelemahan otot

Mudah lelah

Intoleransi aktivitasIntoleransi aktivitas

Ds :

Klien mengatakan nafsu untuk makan kurang

Do :

Perubahan berat badan

Porsi makan tidak dihabiskan

Trauma pada paru

Kerusakan membrane kapiler alveoli

Edema alveolar dan interstitial

Sesak

Menurunan nafsu makan

Intake nutrisi kurang

Penurunan berat badan

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Gangguan pemenuhan nutrisi

Ds :

Klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakit

Klien mengatakan takut akan kondisi penyakitnya

Do :

Cemas

Ketakutan akan kematian

Gangguan pernapasan

Perubahan status kesehatan

Koping individu tak efektif

Kurang informasi tentang penyakitnya

Stress psikologis

Ansietas Ansietas

Prioritas masalah

1) Tidak efektifnya jalan nafas

2) Gangguan pertukaran gas.

3) Gangguan pemenuhan nutrisi

4) Intoleransi aktivitas

5) Ansietas 2. Diagnosa keperawatana. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli

c. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot

e. Cemas/takut berhubungan dengan perubahan status kesehatan3. Rencana tindakan keperawatan dan Impementasia. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas

Tujuan : Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-)

Pasien bebas dari dispneu

Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan

Memperlihatkan tingkah laku mempertahankan jalan nafasTindakan :

Independen

Catat perubahan dalam bernafas dan pola nafasnya

Penggunaan otot-otot interkostal/abdominal/leher dapat meningkatkan usaha dalam bernafas

Observasi dari penurunan pengembangan dada dan peningkatan fremitus

Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan dan adanya cairan dapat meningkatkan fremitus

Catat karakteristik dari suara nafas

Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang tracheo branchial dan juga karena adanya cairan, mukus atau sumbatan lain dari saluran nafas

Catat karakteristik dari batuk

Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada penyebab dan etiologi dari jalan nafas. Adanya sputum dapat dalam jumlah yang banyak, tebal dan purulent

Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala dan gunakan jalan nafas tambahan bila perlu

Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas dengan paten

Kaji kemampuan batuk, latihan nafas dalam, perubahan posisi dan lakukan suction bila ada indikasi

Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi perkembangan atelektasis dan infeksi paru

Peningkatan oral intake jika memungkinkan

Peningkatan cairan per oral dapat mengencerkan sputum

Kolaboratif

Berikan oksigen, cairan IV ; tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi

Mengeluarkan sekret dan meningkatkan transport oksigen

Berikan therapi aerosol, ultrasonik nabulasasi

Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan sekret

Berikan fisiotherapi dada misalnya : postural drainase, perkusi dada/vibrasi jika ada indikasi

Meningkatkan drainase sekret paru, peningkatan efisiensi penggunaan otot-otot pernafasan

Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin, albuteal dan mukolitik

Diberikan untuk mengurangi bronchospasme, menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli

Tujuan :

Pasien dapat memperlihatkan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat dengan nilai ABGs normal

Bebas dari gejala distress pernafasan

Tindakan :

Independen

Kaji status pernafasan, catat peningkatan respirasi atau perubahan pola nafas

Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan usaha nafas

Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles, dan wheezing

Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli kapiler. Wheezing terjadi karena bronchokontriksi atau adanya mukus pada jalan nafas

Kaji adanya cyanosis

Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut, bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik, cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas adalah vasokontriksi.

Observasi adanya somnolen, confusion, apatis, dan ketidakmampuan beristirahat

Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardium

Berikan istirahat yang cukup dan nyaman

Menyimpan tenaga pasien, mengurangi penggunaan oksigenKolaboratif

Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika ada indikasi

Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus dengan tekanan yang sesuai

Berikan pencegahan IPPB

Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasi

Review X-ray dada

Memperlihatkan kongesti paru yang progresif

Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti steroids, antibiotik, bronchodilator dan ekspektorant

Untuk mencegah ARDS

c. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat

Tujuan :

Dapat meningkatkan nafsu makan klien, porsi makan dihabiskan, peningkatan berat badan.

Tindakan

Independen

Evaluasi kemampuan makan

Mengetahui nafsu makan klien

Observasi penurunan otot umum, kehilangan lemak subkutan

Gejala ini indikasi penurunan energy otot dan dapat menurunkan fungsi otot pernapasan

Timbang berat badan sesuai indikasi

Kehilangan berat badan bermakna dan pada saat ini dan masukan makanan buruk memerikan petunjuk tentang katabolisme, simpanan glikogen otot dan sensitivitas kemudian ventilator

Berikan makan lembut sering dalam jumlah kecil / mudah dicerna bila mampu menelan

Mencegah kelelahan berlebihan, meningkatkan pemasukan dan penurunan resiko distress gaster

Kolaboratif

Pastikan diet memenuhi kebutuhan pernapasan sesuai indikasi

Tinggi karbohidrat, protein dan kalori diperlukan selama ventilasi untuk memperbaiki fungsi otot pernpaasan, karbohidrat mungkin menurun dan lemak kadang meningkat sebelum penyapihan upaya untuk mencegah produksi CO2 berlebihan dan menurunkan kemudi pernapasan

Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh serum, transferin, BUN/kreatinin, glukosa

Memberikan informasi tentang dukungan nutrisi adekuat / perlu perubahan

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot Tujuan

Membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien

Tindakan

Independen

Evaluasi respons pasien terhada aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan / kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas

Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi

Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajemen stress dan pangalihan yang tepat

Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istrahat

Jelaskan pentingnya istrahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istrahat

Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernapasan

Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istrahat dan tidur

Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk kedepan meja atau bantal

Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

e. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.

Tujuan :

Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya secara verbal

Mengakui dan mau mendiskusikan ketakutannya, rileks dan rasa cemasnya mulai berkurang

Mampu menanggulangi, mampu menggunakan sumber-sumber pendukung untuk memecahkan masalah yang dialaminya.Tindakan

Independen:

Observasi peningkatan pernafasan, agitasi, kegelisahan dan kestabilan emosi.

Hipoksemia dapat menyebabkan kecemasan.

Pertahankan lingkungan yang tenang dengan meminimalkan stimulasi. Usahakan perawatan dan prosedur tidak menggaggu waktu istirahat.

Cemas berkurang oleh meningkatkan relaksasi dan pengawetan energi yang digunakan.

Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi.

Memberi kesempatan untuk pasien untuk mengendalikan kecemasannya dan merasakan sendiri dari pengontrolannya.

Identifikasi persepsi pasien dari pengobatan yang dilakukan

Menolong mengenali asal kecemasan/ketakutan yang dialami

Dorong pasien untuk mengekspresikan kecemasannya.

Langkah awal dalam mengendalikan perasaan-perasaan yang teridentifikasi dan terekspresi.

Membantu menerima situsi dan hal tersebut harus ditanggulanginya.

Menerima stress yang sedang dialami tanpa denial, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

Sediakan informasi tentang keadaan yang sedang dialaminya.

Menolong pasien untuk menerima apa yang sedang terjadi dan dapat mengurangi kecemasan/ketakutan apa yang tidak diketahuinya. Penentraman hati yang palsu tidak menolong sebab tidak ada perawat maupun pasien tahu hasil akhir dari permasalahan itu.

Identifikasi tehnik pasien yang digunakan sebelumnya untuk menanggulangi rasa cemas. Kemampuan yang dimiliki pasien akan meningkatkan sistem pengontrolan terhadap kecemasannya

Kolaboratif

Memberikan sedative sesuai indikasi dan monitor efek yang merugikan.

Mungkin dibutuhkan untuk menolong dalam mengontrol kecemasan dan meningkatkan istirahat. Bagaimanapun juga efek samping seperti depresi pernafasan mungkin batas atau kontraindikasi penggunaan4, Evaluasi

Mengecek keefektifan dari jalan nafas pasien

Memastikan tidak ada penimbunan cairan dipermukaan alveoli

Memastikan pemenuhan nutrisi klien tetap terjaga

Menilai status psikologis klien yang berhubungan dengan ansietasBAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan DefinisiGangguan paru yang progresif dan tiba-tiba ditandai dengan sesak napas yang berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua belah paru.

EtiologiARDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung.B. SaranDapat membuka cakrawala pemikiran serta pengetahuan Mahasiswa AKPER PEMKAB MUNA dalam pembahasan mata kuliah KMB II Tentang Gangguan Sistem Pernafasan Bawah ( Parencym Paru ) ARDSDAFTAR PUSTAKA

BUKU :

PATOFISIOLOGI ,Edisi 6 .Penerbit SYLVIA A,PRICE dan LORRAINE M,WILSON

INTERNET :

Barbara C, Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Yayasan Alumni Keperawatan Padjajaran : Bandung.

Brunner & Suddart, 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol 2. EGC : Jakarta.

Carpenito L, J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Kinilis, Edisi 6. EGC : Jakarta. Di Akses tanggal 13 Februari 2013

Trauma langsung / trauma tidak langsung pada paru

Toksik terhadap epithelium alveolar

Kerusakan membrane kapiler alveoli

Kerusakan epithelium alveolar

Gangguan endothelium kapiler

Kebocoran cairan ke dalam alveoli

Kebocoran cairan kearah interstitial

Volume dan compliance paru menurun

Ketidakseimbangan ventilasi perfusi hubungan arterio venus dan kelainan difusi alveoli - kapiler

Kerusakan pertukaran gas

Penurunan nafsu makan

Sesak napas

Edema alveolar Atelektaksis Edema Interstitial

Mengganggu mekanisme pertahanan saluran napas

Kehilangan fungsi slia jalan napas

Tidak efektifnya jalan napas

Intake nutrisi tak adekuat

Penurunan berat badan

Gangguan pemenuhan nutrisi

Kelemahan otot

Mudah lelah

Intoleransi aktivitas

Perubahan status kesehatan

Koping individu tak efektif

Kurang info tentang penyakit

Stress psikologis

Ansietas