obstruksi napas akper pemkab muna

Click here to load reader

Post on 22-Jun-2015

98 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. GANGGUAN SALURAN NAPAS AKIBAT OBSTRUKSI dr. Rasdiana

2. OBSTRUKSI SALURAN NAPAS ATAS Kongenital : atresia koana,stenosis supraglotis,glottis dan infraglotis, kista duktus tireoglosus, kista bronkiegen yang besar ,laringokel yang besar. Radang : laringotrakeitis, epiglotitis, hipertrofi adenotonsiler, angina ludwig, abses parafaring atau retrofaring 3. Traumatik :ingesti kaustik, patah tulang wajah atau mandibula,cedera laringotrakeal,intubasi lama: udem/stenosis, dislokasi krikoaritenoid, paralysis n. laringeus rekurens bilateral Tumor : hemangioma, higroma kistik, papiloma laring rekuren, limfoma, tumor ganas tiroid, karsinoma sel skuamosa laring, faring atau oesofagus Lain-lain :benda asing ,udem angioneurotik 4. KONGENGITAL Atresia koanae : Koane dapat menyumbat total atau sebagian, di satu atau dua sisi, akibat kegagalan absorpsi membran bukofaringeal. Obstruksi mungkin berupa membranatau tulang. Gejalanya ialah kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terusmenerus. Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu diam yangmenghilang pada waktu menangis, dan melihat sumbatan di belakang rongga hidung. Pengobatan dengan pembedahan 5. SELAPUT (WEB) GLOTIS DAN STENOSIS GLOTIS Pita suara terbentuk dari membran horizontal primordial yang terbelah padagaris tengah. Kegagalan pemisahan mengakibatkan berbagai derajat stenosis glotis,mulai dari selaput pada komisura anterior sampai atresia total glotis. Biasanya ditandai suara parau sedangkan pada bayi menifestasinya berupa suara serak dan menangis tidak keras. Derajat sesak dan disfonia tergantung dari luasnya kelainan. Pengobatan sementara pada bayi atau anak dengan businasi. Diperlukan tindakan bedah untuk memisahkan pita suara melalui tirotomi. Obstruksi di subglotis jarang ditemukan, yaitu berupa penyempitan jalan napas setinggi rawan krikoid. 6. TRAUMA Menelan bahan kaustik Larutan asam kuat seperti asam sulfat, nitrat dan hidroklorit, atau basa kuatseperti soda kaustik, potasium kaustik dan ammonium bila tertelan dapamengakibatkan terbakarnya mukosa saluran cerna. 7. Trauma trakea Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma tumpul tidak menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga mengakibatkan kelainan hebat berupa sesak napas, karena penekanan jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema kutis bila trakea robek. Trauma tumpul trakea jarang memerlukan tindakan bedah. Penderita diobservasi bila terjadi obstruksi jalan napas dikerjakan trakeotomi. Pada trauma tajam yang menyebabkan robekan trakea segera dilakukan trakeotomi di distal robekan. Kemudian robekan trakea dijahit kembali. 8. Trauma intubasi Pemasangan pipa endotrakea yang lama dapat menimbulkan udem laring dan trakea. Keadaan ini baru diketahui bila pipa dicabut karena suara penderita terdengar parau dan ada kesulitan menelan, gangguan aktivitas laring, dan beberapa derajat obstruksi pernapasan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian kortikosteroid. Bila obstruksi napas terlalu hebat maka dilakukan trakeotomi. 9. Dislokasi krikoaritenoid Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian krikoaritenoid yang mengakibatkan suara parau disertai obstruksi jalan napas bagian atas. Pada pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur laring, penyempitan jalan napas, dan udem jaringan lunak. Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi direposisi secara terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan penanganan dislokasi krikoaritenoid dapat mengakibatkan stenosis laring 10. Paralisis korda vokalis bilateral Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya paramedian dan cenderung bertaut satu sama lain waktu inspirasi. Penderita mengalami sesak napas hebat yang mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi. 11. TUMOR Papiloma laring rekuren (papilomatosis laring infantil) Tumor epithelial papiler yang multipel pada laring ini disebabkan oleh papovavirus yang banyak didapatkan di lembah sungai Missisipi (AS). Penderitanya sering mempunyai veruka kulit yang mengandung virus. Biasanya kelainan sudah mulai pada usia dua tahun. Jika si ibu mempunyai veruka vagina maka kelainan ini dapat terjadi pada bayi usia enam bulan. Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas yang bertambah hebat sampaiterjadi sumbatan total jalan napas. 12. Neoplasma tiroid Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi jalan napas. Adanya invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid tidak dapat digerakkan dari dasarnya, disertai suara parau dan gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen leher terlihat distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke lumen laring dan trakea. Tumor ini harus dieksisi dengan laringektomi. 13. LAIN-LAIN Udem angioneurotik Udem angiopneurotik mukosa laring adalah salah satu penyebab obstruksi laring yang disebabkan oleh alergi. Gejala berupa suara parau yang progresif setelah kontak dengan menghirup atau menelan alergen tanpa tanda infeksi. Kadang diperlukan trakeotomi untuk menyelamatkan jiwa 14. BEBERAPA PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENGETAHUI LETAK SUMBATAN Laringoskop Nasoendoskopi X-ray Foto polos sinus paranasal CT- Scan kepala & leher Biopsi 15. TRAKEOSTOMI Trakeostomi adalah suatu tindakan bedah dengan mengiris atau membuat lubang sehingga terjadi hubungan langsung lumen trakea dengan dunia luar untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas. 16. Indikasi trakeostomi adalah: 1.Mengatasi obstruksi laring. 2.Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran pernapasan atas. 3.Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus. 4.Untuk memasang alat bantu pernapasan (respirator) 5.Untuk mengambil benda asing di subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas bronkoskopi 17. PPOK Keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, dan biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik 18. ETIOLOGI Merokok Hiperresponsif sal.pernapasan Infeksi sal.pernapasan Asap pembakaran Partikel gas berbahaya 19. GEJALA KLINIS sesak napas progressif, memburuk dengan aktivitas, persisten. batuk kronik, produksi sputum kronik, 20. 1.2.3.4.Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2006, PPOK dibagi atas 4 derajat: PPOK Ringan: biasanya tanpa gejala, faal paru VEP1/KVP < 70% PPOK Sedang: VEP1/KVP < 70%, atau 50% =< VEP1 < 80% prediksi PPOK Berat: VEP1/KVP < 70%, atau 30%=