abses paru fix

Download Abses Paru Fix

Post on 16-Jul-2015

583 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENDAHULUANAbses paru didefinisikan sebagai semua lesi di parenkim paru dengan proses supurasi dan nekrosis jaringan.(1) Dahulu abses paru, dan infeksi di daerah thorak lainnya, utamanya disebabkan oleh operasi thorak dan tindakan anestesi. Namun berkat teknologi antibiotik dan kemajuan teknik operasi thoraks serta anestesi, jika dibandingkan dengan masa lalu, kejadian abses paru sekarang telah turun drastis. Beberapa faktor resiko yang menyebabkan abses paru antara lain, pasien-pasien dengan muntah yang berlarut-larut, kelainan neurologik seperti epilepsi, overdosis obat, alkoholisme, dan lain-lain. Kejadian abses paru sering juga berkaitan kejadiannya dengan infeksi periodontal dan hygiene gigi dan mulut yang buruk.(2,3)

EPIDEMIOLOGIMortalitas/Morbiditas Kebanyakan pasien dengan abses paru primer dapat sembuh dengan antibiotic, dengan tingkat kesembuhan rata-rata sebanyak 90-95%. faktor host yang menyebabkan prognosis memburuk antara lain usia lanjut, kekurangan tenaga, malnutrisi, infeksi HIV atau bentuk lain imunosupres, keganasan, dan durasi gejala lebih dari 8 minggu. Tingkat kematian untuk pasien dengan status imunocompromised mendasar atau obstruksi bronkial yang kemudian membentuk abses paru dapat mencapai 75%. Organisme aerobik, yang biasanya didapat di rumah sakit, juga dapat menghasilkan prognisa yang buruk. Sebuah studi retrospektif melaporkan tingkat kematian abses paru-paru yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan gram negatif digabungkan adalah sekitar 20%. Seks Laki-laki mempunyai prevalensi yang dominan dalam kejadian abses paru yang dilaporkan dalam beberapa seri kasus yang sudah dipublikasikan. Umur Abses paru pada umumnya terjadi pada pasien usia lanjut dikarenakan meningkatnya penyakit periodontal dan peningkatkan prevalensi disfagi dan 1

aspirasi pada usia ini. Namun, serangkaian kasus dari warga yang tinggal di pusat perkotaan dengan prevalensi alkoholisme tinggi melaporkan usia rata-rata yang mengalami abses paru adalah 41 tahun.(4)

ETIOLOGIPenyebab abses paru diantaranya adalah: Pneumonia nekrotikans, aspirasi benda asing, emboulus septik atau infeksi pada infark paru, obstruksi bronkial oleh tumor, infeksi kista atau bula, perluasan bronkiektasis ke parenkim, luka tembus dada, dan perluasan infeksi transdiafragmatika seperti abses subfrenik dan amebik. (5,6,7,8) Bakteri anaerob terdapat di hampir semua abses paru, kadang-kadang dalam jumlah yang sangat banyak. Pada 89% kasus, penyebab abses paru adalah bakteri anaerob. Yang paling sering adalah Peptostreptococcus, Bacteroides, Fusobacterium dan Microaerophilic streptococcus. (6) Kebanyakan abses paru yang terjadi pada anak-anak disebabkan oleh adanya aspirasi benda asing. (5) Abses paru dapat muncul sebagai komplikasi dari pneumonia aspirasi akibat bakteri anaerob di mulut. Penderita abses paru biasanya memiliki masalah periodontal (jaringan di sekitar gigi). Sejumlah bakteri yang berasal dari celah gusi sampai ke saluran pernafasan bawah dan menimbulkan infeksi. Tubuh memiliki sistem pertahanan terhadap infeksi semacam ini, sehingga infeksi hanya terjadi jika sistem pertahanan tubuh sedang menurun, seperti yang ditemukan pada: - seseorang yang berada dalam keadaan tidak sadar atau sangat mengantuk karena pengaruh obat penenang, obat bius atau penyalahgunaan alkohol. - penderita penyakit sistem saraf. Organisme lainnya yang tidak terlalu sering menyebabkan abses paru adalah: - Staphylococcus aureus - Streptococcus pyogenes - Streptococcus pneumoniae - Klebsiella pneumoniae 2

- Haemophilus influenzae - spesies Actinomyces dan Nocardia - Basil gram negatif. (9,10,11) Penyebab non-bakteri juga bisa menyebabkan abses paru, diantaranya: - Parasit (Paragonimus, Entamoeba) - Jamur (Aspergillus, Cryptococcus, Histoplasma, Blastomyces, Coccidioides)

ANATOMIRongga thoraks atau cavitas thoracis terbagi menjadi tiga ruangan yaitu dua rongga pleura dan sebuah rongga mediastinum. Paru-paru dan pleura mengisi sebagian besar rongga thoraks dengan jantung diantaranya. (12)

Saluran napas bagian atas mempunyai fungsi utama sebagai penghantar udara dari dan ke alveolus sebagai tempat pertukaran udara yang sebenarnya. Trachea, (dari bahasa latin trachia, pipa udara) dimulai dari laring dan memanjang hingga +/12 cm hingga percabangan trachea. Selanjutnya trachea bercabang menjadi main bronchus. Main bronchus dari masing-masing paru-paru bercabang lagi menjadi lobar dan segmental bronchi. Paru kanan mempunyai 3 lobus yaitu lobus atas, tengah, dan bawah. Paru kiri mempunyai 2 lobus yaitu lobus atas (termasuk lingula) dan lobus bawah. (12)

3

Gambar 1 Dikutip dari kepustakaan 12 Tiap paru-paru masing-masing mempunyai membran serosa berlapis dua yang disebut pleura (dari bahasa latin, berarti rusuk). Pleura terdiri dari 2 lapisan penyusun, lapisan viscera (dari bahsa latin, viscus, bagian dalam tubuh) dan lapisan parietal (dari bahasa latin, yang berarti dinding). Pleura parietalis merupakan selaput tipis dari membrana serosa yang melapisi rongga pleura. Pleura parietalis dibagi menjadi pars costalis yang melapisi permukaan dalam dinding thorax, pars mediastinalis yang membungkus mediastinum dan sisi rongga pericardium, pars diaphragmatica yang melapisi permukaan atas dari diaphragma. Sedangkan pleura visceralis membungkus paru-paru dan melekat erat pada permukaannya. Permukaan pleura ini tipis dan halus sehingga mudah bergeser dengan pleura parietalis.(12) Lobus dari paru-paru dipisahkan oleh invaginasi dari pleura visceral, yang disebut fissura. Paru-paru kanan mempunyai dua fissura, fisurra mayor yang memisahkan lobus superior dan lobus medial, dan fissura minor yang memisahkan lobus medial dan lobus inferior. Sedangkan paru-paru kiri hanya mempunyai satu fissura, yaitu fissura mayor yang memisahkan lobus superior dan lobus inferior.

4

Lobus kemudian dibagi lagi menjadi segmen, dimana setiap segmen terdapat bronchi segmentalis dan arteri serta vena segmentalis. (13) Pembuluh darah dalam paru paru, arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari partikel kanan jantung ke paru paru ; cabang cabangnya menyentuh saluran bronkial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriola halus ; arteriola itu membelah belah dan membentuk jaringan kapiler dan kapiler kapiler itu menyentuh dinding alveoli atau gelembung udara. Kapiler itu hanya dapat memuat sedikit maka praktis dapat dikatakan sel sel darah merah membuat garis tunggal. Alirannya bergerak lambat dan dipisahkan dari udara dalam alveoli hanya oleh dua membran yang sangat tipis, maka pertukaran gas berlangsung dengan difusi, yang merupakan fungsi pernafasan. Kapiler paru paru bersatu sampai menjadi pembuluh darah lebih besar dan akhirnya dua vena pulmonalis meninggalkan setiap paru paru membawa darah berisi oksigen ke atrium kiri jantung untuk didistribusikan keseluruh tubuh melalui aorta. Pembuluh darah yang dilukiskan sebagai arteri bronkialis membawa darah berisi oksigen langsung dari aorta torasika ke paru paru guna memberi makan dan mengantarkan oksigen kedalam jaringan paru paru sendiri. Cabang akhir arteri arteri ini membentuk plexus kapiler yang tampak jelas dan terpisah, terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonalis ,tetapi beberapa dari kapiler ini akhirnya bersatu kedalam vena pulmonalis. Sisa darah itu diantarkan dari setiap paru paru oleh vena bronkialis dan ada yang dapat mencapai vena cava superior. Maka dengan demikian paru paru mempunyai persediaan darah ganda.(13)

PATOFISIOLOGIAspirasi sering merupakan sumber infeksi organisme campuran gram-negatif dan anaerob. Ini bisa merupakan akibat dari aspirasi subklinis dan disebut dengan pneumonia gravitasional. Terutama harus dicurigai terdapat aspirasi apabila kavitas terjadi di bagian paru yang berada di bawah. Keadaan klinis seperti hygiene mulut yang jelek, alkoholisme, atau tumor nasofaring, laring atau mulut

5

akan menyokong diagnosa. Pasien biasanya akan menderita demam dengan batuk produktif. (5) Faktor predisposisi terjadinya abses paru seorang pasien: 1. Ada sumber infeksi saluran pernafasan. Infeksi mulut, tumor laring yang terinfeksi, bronkitis, bronkiektasis dan kanker paru yang terinfeksi. 2. Daya tahan saluran pernafasan yang terganggu Pada paralisa laring, aspirasi cairan lambung karena tidak sadar, kanker esofagus, gangguan ekspektorasi, dan gangguan gerakan sillia. 3. Obstruksi mekanik saluran pernafasan karena aspirasi bekuan darah, pus, bagian gigi yang menyumbat, makanan dan tumor bronkus. Lokalisasi abses tergantung pada posisi tegak, bahan aspirasi akan mengalir menuju lobus medius atau segmen posterior lobus inferior paru kanan, tetapi dalam keadaan berbaring aspirat akan menuju ke segmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus interior paru kanan, hanya kadangkadang aspirasi dapat mengalir ke paru kiri. (1)

DIAGNOSISUntuk menentukan diagnosis pasti dari abses paru haruslah menyingkirkan kavitas yang ditimbulkan oleh karsinoma ataupun tuberculosis. Diagnosis abses paru dapat ditegakkan berdasarkan: 1. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise, penurunan berat badan, panas badan yang ringan, dan batuk yang produktif. 2. Riwayat penyakit sebelumnya. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi, trauma atau serangan epilepsi. 3. Gambaran radiologis abses paru menunjukkan adanya kavitas berdinding dengan air fluid level di dalam kavitas(dibahas pada bab selanjutnya). 4. Bronkoskopi. Untuk mengetahui adanya obstruksi pada bronkus. Obstruksi bronkial skunder biasanya disebabkan oleh karsinoma. 5. Kultur sputum dapat mengidentifikasi penyebab dari abses paru (5,6,7,14) 6

GAMBARAN KLINISGejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: o Panas badan o Batuk Pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex