kimia percobaan

Author: ayok-saga

Post on 15-Oct-2015

221 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kimia

TRANSCRIPT

Cara Mengisi Aki Baru dengan Accu Zuur

Pada saat membeli aki yang baru, sebaiknya pilih aki yang belum terisi dengan larutan accu zuur (H2SO4).Jadi kita lebih yakin dengan kualitas accu zuur yang kita beli dan tuang sendiri. Di mana accu zuur yang diharapkan adalah yang mempunyai berat jenis 1,26 dan kadar impurity yang rendah.Mengisi aki baru

1.Siapkan accu zuur ( H2SO4 ) dengan berat jenis 1.260 pada temperatur 20C2.Tuang accu zuur ke dalam 6 sel aki hingga standar level yang tertera atau 5 mm diatas separator.3.Setelah itu aki jangan langsung dipakai, sebaiknya diamkan dulu minimal 3 jam.Tujuannya adalah agar accu zuur telah cukup meresap (penetrasi) ke dalam plataki.4.Jika ada peningkatan suhu pada aki (badan aki tersa hangat), berarti terjadioksidasi pada plat. Untuk itu perlu menyetruman (charging), sampai mencapaivoltase yang diharapkan.5.Pastikan lubang pada dop (tutup aki) tidak tertutup, agar penguapan tak tertahan.Catatan :Jangan sekali kali menambah elektrolit (accu zuur), karena akan mengakibatkanberat jenis elektrolit terlalu tinggi dan akan mengurangi umur accu.Accu yang telah diisi elektrolit (accu zuur) harus selalu di jaga dalam keadaanbermuatan listrik. Karena berbagai gangguan seperti sulfatasi, akan terjadi jukaaccu di diamkan lama dalam keadaaan tidak bermuatan listrik. (discharge). Kalau punya adaptor tegangan variabel, dan aki belum rusak, aki bisa diisi sendiri.Kecepatan pengisian tergantung adi arus maksimal yang mampu disediakan adaptor.Misalnya jika pada aki tertulis 12v 60 AH (ampere-hour), dengan adaptor 5 ampere membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Dalam keadaan setengah isi berarti kira-kira setengahnya. Tapi karena efisiensi pengisian tidak 100% biasanya membutuhkan waktu lebih lama.Caranya:1. Pastikan air aki cukup.2. Buka tutup aki selama pengisian, agar gelembung gas yang terbentuk bisa keluar.3. Set tegangan adaptor pada 14.5 volt (untuk aki 12v).4. Tunggu sekian jam sesuai perkiraan di atas.Jika aki sudah lemah, selama belum parah, sebenarnya bisa direkondisi lagi. Caranyadicas dengan pulsating voltage. Tapi ini perlu peralatan dan keahlian khusus.

Cara Mengisi Ulang (Recharge) Aki (Accumulator) Kendaraan *image: http://enokusuma.wordpress.com Sumber Artikel: http://maruzar.blogspot.com/2012/03/cara-mengisi-ulang-recharge-aki.html SATURDAY, MARCH 17, 2012 Mengisi-ulang (recharge) atau secara awam dikenal dengan sebutan cas aki (charge), adalah usaha atau upaya untuk membalik reaksi kimia pada aki (accu, accumulator). Saat mengeluarkan daya listrik, cairan asam di dalam aki bereaksi dengan sel-sel aki. Produk dari reaksi tersebut adalah arus listrik. Produk sampinganya adalah terbentunya endapan pada sel-sel aki. Lama kelamaan produk endapan semakin menumpuk, air aki berkurang keasamannya atau menjadi tawar, sel-sel tidak lagi bersentuhan dengan air aki, maka tegangan dan arus aki jadi menurun. Mengisi-ulang aki adalah usaha atau upaya melepas endapan pada sel-sel aki sehingga endapan tersebut kembali larut dalam air aki dan meningkatkan keasaman air aki. Jika endapan pada sel-sel aki sudah terlalu banyak menumpuk dalam waktu yang lama maka aki tidak dapat diisi-ulang lagi dan harus diganti baru. Ada pendapat menyatakan bahwa sel-sel aki bisa dibersihkan endapannya dengan mengisi aki dengan air panas untuk mencuci dan menguras sel-sel aki. Tapi cara ini beresiko merusak sel-sel aki. Ada juga cara kimia untuk mengurangi endapan pada sel-sel aki, yaitu dengan cara menambahkan produk zat kimia setiap satu bulan sekali. Menurut saya, sebenarnya aki tidak didesain untuk diperbaharui dengan cara kimia ini, tapi saya serahkan kepada para pembaca untuk menganalisa, mencoba, dan menyimpulkannya. Pada saat normal, reaksi kimia aki adalah sebagai berikut: Reaksi kimia aki saat mengeluarkan arus listrik (discharge) Negative plate reaction: Pb(s) + HSO4(aq) PbSO4(s) + H+(aq) + 2-e Positive plate reaction: PbO2(s) + HSO4(aq) + 3H+(aq) + 2-e PbSO4(s) + 2H2O(l) Reaksi kimia aki saat diisi-ulang (recharge) Negative plate reaction: PbSO4(s) + H+(aq) + 2-e Pb(s) + HSO4(aq) Positive plate reaction: PbSO4(s) + 2H2O(l) PbO2(s) + HSO4(aq) + 3H+(aq) + 2-e Jelas terlihat bahwa reaksi kimia saat discharge adalah kebalikan dari reaksi kimia saat recharge. Selama sel-sel aki tidak rusak, dan tidak ada zat lain yang dapat mengganggu, maka kedua reaksi tersebut akan selalu dapat dilakukan. Jika discharge dan recharge selalu dilakukan pada saat yang tepat dan dengan prosedur yang tepat, maka umur aki dapat diperpanjang. Untuk mengisi-ulang aki dibutuhkan tegangan yang sedikit lebih tinggi dari tegangan aki. Untuk aki 12 volt, maka tegangan pengisian adalah 14 volt. Menurut spesifikasi, aki 12 volt akan terisi penuh jika tegangannya mencapai 14.4 volt, beberapa dapat diisi-ulang sampai 15 volt tanpa merusak aki tersebut. Jadi sebagai patokan umum, 14 volt adalah tegangan pengisian aki, dan jika aki sudah penuh maka tegangannya akan sama dengan tegangan pengisian yaitu 14 volt tersebut. Pada saat diisi-ulang, aki dapat mengeluarkan gas dan uap air. Maka sebelum diisi-ulang, bersihkan dulu bagian atas aki dengan lap basah agar kotoran tidak masuk ke cairan aki, lalu kendurkan tutup-tutup sel aki. Tujuannya adalah agar gas mudah keluar dan mencegah aki meledak. Sebenarnya tutup sel aki mempunyai ventilasi, tapi ada kemungkinan ventilasi itu tersumbat atau kurang mampu mengeluarkan gas. Tambahkan air destilasi (air murni) jika air aki kurang dari level maximal. Battery charger dapat berupa adaptor yang merubah arus listrik bolak-balik (AC) dari jaringan kota atau rumah menjadi arus searah (DC). Adaptor jenis ini banyak tersedia dipasaran, pilih yang bertegangan 13.8 Volt, yang biasanya digunakan oleh radio amatir dan biasanya disebut sebagai power supply untuk radio komunikasi. Menurut istilah yang biasa digunakan sehari-hari di pasaran di Jakarta, adaptor adalah suatu alat untuk merubah arus bolak-balik jaringan listrik kota atau rumah, menjadi arus searah. Sedangkan power supply, adalah suatu adaptor yang mempunyai stabilisator tegangan. Dari sisi harga, adaptor lebih murah dari power supply. Sedangkan Battery charger dengan kapasitas arus besar, diatas 40 ampere, yang dapat digunakan untuk jump start, harganya sangat mahal. Arus pengisian battery adalah sekitar 10% dari arus maximal yang dapat keluarkan aki. Misal, suatu aki berkapasitas arus 40AH (ampere hour) maka aki tersebut mampu mengeluarkan arus 40 ampere selama satu jam, jadi arus pengisiannya adalah 10% dari 40A yaitu 4 ampere. Untuk mengisi-ulang aki 40AH dibutuhkan battery charger atau power supply berkapasitas 8 ampere, atau 2 kali arus pengisian. Jika kurang dari 8 ampere maka ada kemungkinan battery charger atau power supply tersebut menjadi terlalu panas dan dapat terbakar. Arus pengisian ditentukan oleh selisih tegangan. Arus pengisian aki akan membesar jika selisih tegangan aki dengan tegangan charger besar. Misal: aki diisi-ulang saat tegangannya sudah serendah 11 volt, dengan battery charger bertegangan 14 volt, maka arus pengisiannya akan lebih besar dibanding jika aki yang sama diisi-ulang saat tegangannya 13 volt. Arus pengisian yang besar akan menyebabkan panas yang tinggi dan gas lebih banyak terbentuk. Pada sistem Pengisi Aki Pintar (Smart Battery Charger), tegangannya dapat diatur secara automatis guna mencegah terbentuknya gas dalam jumlah besar. Prinsip pada pengisian aki adalah mirip dengan 2 bejana berhubungan sebagaimana gambar dibawah. Bejana A berisi air lebih tinggi dan berhubungan dengan bejana B dengan selisih tinggi air S. Air akan mengalir dari A ke B, air akan berhenti mengalir jika tidak ada selisih ketinggian A-B atau S=0. Aliran akan semakin besar jika selisih ketinggian air semakin besar. Jika tegangan aki sudah kurang dari 12 volt, maka dibutuhkan sekitar 8 -10 jam untuk mengisi aki tersebut agar tegangannya naik menjadi 14 volt. Jika adaptor atau power supply anda dapat disetel tegangannya menjadi 12 volt, maka untuk mencegah terbentuknya banyak gas saat mengisi aki yang sudah sangat rendah tegangannya, sebaiknya aki diisi-ulang dengan tegangan 12 volt dulu, baru kemudian diisi-ulang dengan tegangan 14 volt. Ada juga battery charger yang dapat disetel arusnya, bukan tegangannya, maka gunakan arus yang rendah terlebih dulu untuk aki yang sudah sangat rendah tegangannya, agar mengurangi pembentukan gas. Aki tidak perlu dilepas koneksinya dari kendaraan, juga tidak perlu dilepas dari dudukannya di kendaraan, sehingga dapat dilakukan di garasi rumah anda. Lihat foto dibawah, tampak aki masih terpasang dan terhubung dengan dengan sistem elektrik mobil, saat aki diisi-ulang. Terlihat juga bagian atas aki yang bersih, dengan semua tutup aki sudah dikendurkan agar gas dapat keluar, tapi tutup-tutup tetap berada pada lubangnya guna mencegah kotoran masuk. Penyambungan kabel charger adalah positif charger ke positif aki, dan negatif charger ke negatif aki. Sambung kabel positif terlebih dahulu. Kabel negatif dapat disambungkan ke bodi kendaraan.

Proses pengisian accumulatorJudul : Laporan Proses Pengisian accumulator.Tujuan : Mengetahui dan mempelajari proses pengisian accumulator (aki)Alat Dan Bahan : Buku tulis Alat tulis Informasi dari tempat pengisian aki.Cara Kerja :1. Siapkan alat dan bahan.2. Kunjungi bengkel atau tempat pengisian accumulator terdekat.3. Lakukan wawancara dengan salah satu teknisi di bengkel tersebut mengenai proses pengisian (penyetruman accumulator).4. Catatanlah hasil wawancaramu dalam sebuah laporan tertulis.5. Revisilah hasil wawancaramu.6. Ketiklah hasil wawancaramu dan buatlah kesimpulan atas laporan tersebut.Analisis Data Hasil PengamatanAKI (ACCUMULATOR)Aki adalah jenis battery yang banyak digunakan untuk kendaraan bermotor. Aki menjadi pilihan praktis karena dapat menghasilkan listrik yang cukup besar dan dapat diisi kembali. Aki berasal dari kata accumulator atau biasa disingkat accu.Aki dapat memberikan aliran listrik bila dihubungkan dengan suatu rangkaian luar. Sel aki terdiri dari anoda atau lempeng negatif Pb (timbal = timah hitam) dan katode atau lempeng positif PbO2 (timbal oksida), keduanya merupakan zat padat, yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat. Kedua elektroda tersebut, juga hasil reaksinya, tidak larut dalam larutan asam sulfat, sehingga tidak perlu memisahkan anoda dan katoda dan dengan demikian tidak perlu jembatan garam, yang perlu dijaga adalah jangan sampai kedua elektroda tersebut saling bersentuhan.Aliran listrik pada aki terjadi karena reaksi kimia dari asam sulfat dengan Pb dari anoda dan PbO2 dari katoda yang merupakan bahan aktifnya. Reaksi redoks spontan ini bersifat dapat balik (reversible) antara proses pengisian muatan (charging) dan pelepasan muatan (discharging). Pada pelepasan muatan listrik, oksigen dari PbO2 bereaksi dengan hidrogen dari H2SO4 sehingga terbentuk air. Pada saat yang sama Pb dari PbO2 bereaksi dengan ion sulfat membentuk PbSO4, demikian pula Pb dari anoda akan menjadi PbSO4.

Proses Pengisian Accumulator (aki)Alat dan Bahan : Accumulator Jepitan (-)dan (+) Amperemeter Terapo

Cara Kerja: 1.Siapkan alat bahan.2.Nyalakan terapo ke listrik.3.Jepitkan jepitan hitam ke aki muatan positif (+) dan jepitan merah ke aki bermuatan negative (-).4.Perbesar dan perkecil volume aki tersebut dengan terapo dan amperemeter.5.Apabila proses selesai accumulator tersebut pun akan siap dipakai untuk kendaraan bermotor.

Jenis-jenis accumulatorAccumulator atau aki terdiri atas 2 jenis, yaitu :A. Aki basah (lead acid battery)Penggunaannya memakai air.Keunggulan : 1. Harganya lebih murah daripada aki kering.B. Aki kering (dry battery)Penggunaannya menggunakan gel. Timbal dari aki kering di desain sempurna.Keunggulan : 1. bebas perwatan dibandingkan aki basah .2. Lebih tahan lama.Keadaan aki 1. Keadaan accu normal Voltasenya saat tidak dipasang pada kendaraan 12.63 Ah. Saat start voltasenya 11.36 Ah. Saat tanpa beban voltasenya 14.27 Ah. Saat beban penuh voltasenya 13.69 Ah.2. Keadaan accu kurang bagus Voltasenya saat tidak dipasang pada kendaraan di bawah 0.9 Ah. Saat start voltasenya09.26 Ah. Saat tanpa beban voltasenya 12.01 Ah. Saat beban penuh voltasenya 11.26 Ah.Setiap kendaraan memerlukan accumulator untuk menghidupkan dinamostater pada kendaraan tersebut. Setiap kendaraan pada umumnya melakukan pengisian aki dalam jangka waktu satu setengah tahun.

Kesimpulan Accumulator (aki) merupakan jenis battery yang digunakan pada kendaraan bermotor. Accumulator dapat di isi ulang dengan cara menyetrum accumulator tersebut.

Charger Accu 6-24V untuk Aki Basah dan Kering Produk Jonas di Kategori Aksesoris Mobil & Motor, Charger dan Power Supply

Charger aki ini bisa digunakan untuk mengisi aki basah dan kering. Dan dapat digunakan untuk mengisi baterai aki 6volt, 12volt, 18volt dan 24 volt.

Cara pemakaian charger accu:1. Pastikan alat ini berada pada posisi off, ketika akan digunakan.2. Putar knop volt pada posisisesuai dengan volt aki yang akan diisi.3. Hubungan kabel merah kutub (+) dengan kutub (+). Kabel hitam pada kutub (-) hubungkan dengan kutub (-) dari aki Anda. Jangan sampai terbalik.4. Posisikan saklar dari hi-low ke arah low5. Pasangkan sumber listrik dan baru nyalakan power ON.6. Setelah proses pengisian dimulai, apabila Anda ingin mempercepat proses pengisian Anda dapat memindahkan ke posisi HI. Namun cara pengisian accu ke posisi HI secara terus menerus, dapat mengurangi usia accu Anda.

Percobaan Korosi Pada Logam ( Paku )

A. Judul: Percobaan Korosi Pada Logam ( Paku )Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya korosi dan faktor-faktor apa saja yang dapat mempercepat korosiLandasan Teori:

Menurut Roberge, Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya, sedangkan menurut Gunaltun, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam, Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan..Dalam kehidupan sehari - hari, besi yang teroksidasi disebut dengan karat dengan rumus Fe2O3xH2O. Proses perkaratan termasuk proses elektrokimia, di mana logam Fe yang teroksidasi bertindak sebagai anode dan oksigen yang terlarut dalam air yang ada pada permukaan besi bertindak sebagai katode.Reaksi perkaratan:Anode : Fe Fe2+ + 2 eKatode : O2 + 2H2O 4e + 4 OHKorosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.

Fe(s) Fe2+(aq) + 2e E = +0.44 V

Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.

O2(g) + 2H2O(l) + 4e 4OH-(aq) E = +0.40 VatauO2(g) + 4H+(aq) + 4e 2H2O(l) E = +1.23 VIon besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3 . xH2O, yaitu karat besi. Korosi Besi memerlukan oksigen dan air. a. KerugianBesi ( Paku ) yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau jembatan. Senyawa karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa digunakan sebagai alat-alat masak, alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.b. PencegahanPencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.1) Proses pelapisanBesi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan dengan cara dicat atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan adalah logam yang terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi lebih negatif dari besi). Contohnya: logam perak, emas, platina, timah, dan nikel.

2) Proses katode pelindung (proteksi katodik)Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan sebagai anode. Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah teroksidasi, yaitu logam di sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan potensial reduksi lebih positif dari besi).Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa digunakan karena kedua logam tersebut mudah teroksidasi, tetapi oksida yang terbentuk (A12O3/ZnO) bertindak sebagai inhibitor dengan cara menutup rapat logam yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu masuk dan tidak teroksidasi. Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa digunakan karena akan bereaksi dengan adanya air. Logam yang paling sesuai untuk proteksi katodik adalah logam magnesium (Mg). Logam Mg di sini bertindak sebagai anode dan akan terserang karat sampai habis, sedang besi bertindak sebagai katode tidak mengalami korosi.. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut.Reaksinya : Fe 2 Fe2+ + 4e- Dengan kata lain ion-ion besi Fe++ akan melarut dan elektron-elektron e- tetap tinggal pada logam. Katode adalah bagian permukaan logam dimana elektron-elektron 4e- yang tertinggal akan menuju kesana (oleh logam) dan bereaksi dengan O2 dan H2O. O2 + H2O + 4e- > 4 OH-Ion-ion 4 OH- di anode bergabung dengan ion 2 Fe2+ dan membentuk 2 Fe(OH)2. Oleh kehadiran zat asam dan air maka terbentuk karat Fe2O3.

Reaksi perkaratan besia.Anoda: Fe(s) Fe2+ + 2e Katoda: 2 H+ + 2 e- H22 H2O + O2 + 4e- 4OH-

b.2H+ + 2H2O + O2 + 3Fe 3Fe2+ + 4OH- + H2 Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O

Penyebab KorosiFaktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.

Faktor yang mempengaruhi KorosiKorosi pada permukaan suatu logam dapat dipercepat oleh beberapa faktor, antara lain:1. Oksigen terlarut ( DO = Dissolved oxygen ) DO berperan dalam sebagian proses korosi, bila konsentrasi DO naik, maka kecepatan korosi akan naik. 2. Zat padat terlarut jumlah ( TDS = total dissolved solid ) konsentrasi TDS sangatlah penting, karena air yang mengandung TDS merupakan penghantar arus listrik yang baik dibandingkan dengan air tanpa TDS. Aliran listrik diperlukan untuk terjadinya korosi pada pipa logam, oleh karena itu jika TDS naik, maka kecepatan korosi akan naik. 3. pH dan Alkalinitas mempengaruhi kecepatan reaksi, pada umumnya pH dan alkalinitas naik, kecepatan korosi akan naik. Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar, karena adanya reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode yaitu: 2H+(aq) + 2e- H24. Temperatur makin tinggi temperatur, reaksi kimia lebih cepat terjadi dan naiknya temperatur air pada umumnya menambah kecepatan korosi. 5. Tipe logam yang digunakan untuk pipa dan perlengkapan pipa logam yang mudah memberikan elektron atau yang mudah teroksidasi, akan mudah terkorosi. 6. Aliran listrik Aliran listrik yang diakibatkan oleh korosi sangat lemah dan isolasi dapat menghalangi aliran listrik antara logam-logam yang berbeda, sehingga korosi galvanis dapat dihindari. Bilamana aliran listrik yang kuat melewati logam yang mudah terkorosi, maka akan menimbulkan aliran nyasar dari sistem pemasangan listrik di pelanggan yang tidak menggunakan aarde, hal ini menyebabkan korosi cepat terjadi. 7. B a k t e r i tipe bakteri tertentu dapat mempercepat korosi, karena mereka akan menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), selama masa putaran hidupnya. CO2 akan menurunkan pH secara berarti sehingga menaikkan kecepatan korosi. H2S dan besi sulfida, Fe2S2, hasil reduksi sulfat (SO42) oleh bakteri pereduksi sulfat pada kondisi anaerob, dapat mempercepat korosi bila sulfat ada di dalam air. Zat-zat ini dapat menaikkan kecepatan korosi. Jika terjadi korosi logam besi maka hal ini dapat mendorong bakteri besi (iron bacteria) untuk berkembang, karena mereka senang dengan air yang mengandung besi.

B.METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum dilaksanakan di Kelas XII IPA U2, pada tanggal 14 November 2012 Alat dan Bahan Praktikum1) Percobaan korosi paku a. Alat 5 buah gelas plastik Plastik 3 biji Paku ukuran besar yang masih mengkilap. Karet

b. Bahan Air suling Larutan NaCl ( air garam) Minyak Goreng Air panas

Prosedur Kerja1) Menyelidiki Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Korosi 1. Siapkan alat dan bahan sebagai berikut :Alat : 5 buah gelas plastik, kapas, paku ukuran besar yang masih mengkilap.Bahan : Air suling, larutan NaCl, air panas2. Beri label setiap gelas dengan tulisan : Gelas 1 (udara kosong) Gelas 2 (air garam) Gelas 3 (air suling) Gelas 4 ( air panas)Gelas 5 (minyak goring)3. Menuangkan semua larutan ke dalam gelas dengan tinggi kira-kira 3 cm. Gelas I : memasukan paku ke dalam gelas yang kosong dan ditutup oleh Plastik Gelas II : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi larutan NaCl dan ditutup oleh plastik , dengan posisi semua terkena larutan Gelas III : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi H2O ( air suling ) , dengan posisi semua bagian terkena air dengan keadaan terbuka. Gelas IV : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi H2O( air) mendidih dengan posisi semua bagian terkena air dan ditutup oleh plastik Gelas V : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi minyak goreng , dengan posisi semua bagian terkena air dalam keadaan terbuka4. Simpan tabung ( gelas aqua) tersebut selama 7 hari 5. Amati perubahan yang terjadi pada paku-paku tersebut6. Buat Kesimpulan dari percobaan.

Hasil Pengamatan

Nama GelasPerubahan pada gelasKet.

Sebelum Setelah 7 hari

1Paku masih mengkilat dan air masih jernihTidak ada karatUdara kosong ( tertutup)

2Paku menghitam dan ada serbuk kuning yang melekat di paku.Air tidak berubah warna tetapi menjadi agak keruhPaku dalam air garam(NaCl)( tertutup)

3Paku menghitam dan ada serbuk kuning yang melekat di paku.Air menjadi berwarna kuningPaku dalam aqua ( bening)( terbuka)

4Sedikit serbuk kuning Paku dalam air panas ( tertutup)

5Paku masih mengkilatTidak ada karatPaku dalam minyak goring ( terbuka)

Hasil Pengamatan:

1. Paku yang dimasukan ke dalam wadah kosong tertutup mengalami korosi sedikit karena adanya suhu.

2. Paku yang dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air garan yang tertutup mengalami korosi karena larutan air garam terdapat O2 dan H2O3. Paku yang dimasukkan kedalam wadah yang berisi air bening yang terbuka mengalami korosi karena adanya O2 dan H2O4. Paku yang dimasukkan kedalam wadah yang berisi air panas dalam keadaan tertutup mengalami korosi karena terdapat H2 O

5. yang dimasukkan ke dalam wadah yang berisi minyak dalam keadaan terbuka tidak mengalami korosi karena tidak ada O2.

Korosi yang terjadi pada PakuPembahasan1. Paku yang paling mudah mengalami korosi terdapat pada gelas( III ) yang berisi air dan paku serta wadah yang terbuka2. Selanjutnya paku yang mengalami korosi terdapat pada gelas ( II ) yang berisi air garam dan paku serta wadah yang tertutup tetapi korosi pada gelas II lebih banyak.3. Selanjutnya paku yang mengalami korosi terdapat pada gelas ( IV ) yang berisi air panas dan paku dengan wadah yang tertutup4. Paku yang mengalami sedikit korosi terdapat pada wadah kosong karena pengaruh suhu5. Paku dalam wadah minyak tidak mengalami korosi karena tidak ada air dan oksigen.

Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilaksanakan, dapat ditariksuatu kesimpulan jika KOROSI terjadi karena adanya satu pengaruh lingkungan terhadap suatu benda, dan adanya beberapa factor yang menyebabkan korosi terjadi , adapun factor itu adalah : Udara O2 : Korosi terjadi lebih mudah jika suatu logam berekasi dengan udara disekitarnya, jadikorosi akan lebih cepat terjadi jika oksigen bereaksidengan mengoksidasi logam tertentu yang cukup reaktif, seperti besi (Fe). Air H2O : Korosi juga akan terjadi jika pereduksinyaadalah air (H2O) , sehingga jika lebih mudah suatu logam cukup reaktif jika telah berinteraksi dengan air (O2 ) Jenis Pereduksi : tidak semua pereduksi mampu menyebabkan korosi, contohnya HCl, dan larutan lainya dari asam halida. Jenis Logam : Logam yang sangat reaktif dapat mencegah logam lain untuk bereduksi sehingga kejadian korosi dapat dicegah Ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bilamasih bersih dari oksida.I.

Beranda AboutgigirapihThis WordPress.com site is the cats pajamas ImagePUISI Laporan Praktikum Korosi Pada PakuNovember 29, 2012 //01. TUJUAN Mengetahui terjadinya korosi pada besi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.2. TEORI Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya. Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam.3. ALAT DAN BAHAN 4 buah paku 4 buah gelas plastik Air Larutan garam Larutan cuka4. WAKTU PENGAMATAN Sabtu 10 November 2012 sampai Kamis 15 November 20125. CARA KERJA1. Sediakan 4 buah gelas plastik.2. Lalu beri label A, B, C dan D.3. Gelas A diisi paku.4. Gelas B diisi paku dengan air.5. Gelas C diisi paku dengan larutan garam.6. Gelas D diisi paku dengan larutan cuka.7. Letakan gelas-gelas tersebut di tempat yang aman8. Amati perubahan-perubahan yang terjadi.6. HASIL PENGAMATANLarutanBahanKesimpulan

-PakuTidak berkarat

AirPakuSedikit Berkarat

Air & GaramPakuBerkarat dan airnya berwarna kekuningan

Air & CukaPakuSemuanya berkarat dan airnya berwarna kemerahan

7. PEMBAHASAN1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KorosiAda beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat terkorosi dan kecepatan laju korosi suatu logam. Suatu logam yang sama belum tentu mengalami kasus korosi yang sama pula pada lingkungan yang berbeda. Begitu juga dua logam pada kondisi lingkungan yang sama tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami korosi yanga sama. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi korosi suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan faktor lingkungan.1. Faktor MetalurgiFaktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu logam dapat tahan terhadap korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat terjadi pada suatu kondisi, jenis korosi apa yang paling mudah terjadi, dan lingkungan apa yang dapat menyebabkan terkorosi, ditentukan dari faktor metalurgi tersebut.Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :a. Jenis logam dan paduannyaPada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi. Sebagai contoh, aluminium dapat membentuk lapisan pasif pada lingkungan tanah dan air biasa, sedangkan Fe, Zn, dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah terkorosi.b. Morfologi dan homogenitasBila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka paduan tersebut akan memiliki karakteristik ketahanan korosi yang berbeda-beda pada tiap daerahnya.c. Perlakuan panasLogam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur kristal atau perubahan fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500-800 0C terhadap baja tahan karat akan menyebabkan terbentuknya endapan krom karbida pada batas butir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi intergranular pada baja tersebut. Selain itu, beberapa proses heat treatment menghasilkan tegangan sisa. Bila tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan, maka dapat memicu terjadinya korosi retak tegang.d. Sifat mampu fabrikasi dan pemesinanMerupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik setelah proses fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi memiliki tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan terjadinya retak.2. Faktor LingkunganFaktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:a. Komposisi kimiaIon-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan jenis korosi yang berbeda-beda. Misalkan antara air laut dan air tanah memiliki sifat korosif yang berbeda dimana air laut mengandung ion klor yang sangat reaktif mengakibatkan korosi. Gambar berikut menunjukkan pengaruh komposisi elemen paduan terhadap ketahan korosi terhadap paduan tembaga.b. KonsentrasiKonsentrasi dari elektrolit atau kandungan oksigen akan mempengaruhi kecepatan korosi yang terjadi. Pengaruh konsentrasi elektrolit terlihat pada laju korosi yang berbeda dari besi yang tercelup dalam H2SO4 encer atau pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan mudah larut dibandingkan dalam H2SO4 pekat. Pengaruh konsentrasi terhadap laju korosi dapat dilihat pada gambar berikut.Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan O2 yang berbeda akan terbagi menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik. Daerah anodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang rendah dan katodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang tinggi.c. TemperaturPada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi kinetika reaksi kimia akan meningkat.Gambarberikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju korosi pada Fe. Semakin tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin meningkat, namun menurunkan kelarutan oksigen. Sehingga pada suatu sistem terbuka, diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami penurunan karena oksigen akan keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju korosi akan terus menigkat karena adanya oksigen yang terlarut.d. Gas, cair atau padatKandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda. Misalkan pada gas, bila lingkungan mengandung gas asam, maka korosi akan mudah terjadi (contohnya pada pabrik pupuk). Kecepatan dan penanganan korosi ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda. Untuk korosi di udara, proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan pada medium cair dan padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi katodik.e. Kondisi biologisMikroorganisme seperti bakteri dan jamur dapat menyebabkan terjadinya korosi mikrobial terutama sekali pada material yang terletak di tanah. Keberadaan mikroorganisme sangat mempengaruhi konsentrasi oksigen yang mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu material.2. Teori Ion Svante August ArrheniusMengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik? Penjelasan tentang permasalahan di atas pertama kali dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859 1927) dari Swedia saat presentasi disertasi PhD-nya di Universitas Uppsala tahun 1884.Menurut Arrhenius, zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel-partikel yang berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion. Ion yang bermuatan positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif dinamakan anion.Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi. Ion-ion zat elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion-ion inilah yang sebenarnya menghantarkan arus listrik melalui larutannya. Sedangkan zat nonelektrolit ketika dilarutkan dalam air tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik.Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:1. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.2. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik. Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik. Zat nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul.8. KESIMPULAN Dari hasil percobaan atau hasil pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang cepat terkena faktor korosi ialah paku yang diberi air dan larutan cuka.Karena, jenis logam dan paduannya, perlakuan panas, morfologi dan homogenitas, sifat mampu fabrikasi dan pemesinan, komposisi kimia, konsentrasi, temperature, kondisi biologis, gas, cair atau padat. Serta keasaman atau kebasaan merupakan suatu faktor penyebab korosi. Namun pada percobaan justru asam memperlambat korosi walaupun pada akhirnya paku mengalami korosi.