telaah jurnal fix

Click here to load reader

Post on 02-Jun-2018

487 views

Category:

Documents

56 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    1/19

    TELAAH JURNAL

    SENIN, 4 AGUSTUS 2014

    FIRST URINARY TRACT INFECTION IN NEONATES, INFANTS AND

    YOUNG CHILDREN: A COMPARATIVE STUDY

    Oleh:

    Sintia Eka Aprilia, S.Ked

    Annisa Nanda Putri, S.Ked

    Arzi Larga Ghupta, S.Ked

    Pembimbing:

    dr. Eka Intan, SpA

    BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FK UNSRI

    DEPARTEMEN KESEHATAN ANAK RSMH PALEMBANG

    2014

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    2/19

    TELAAH KRITIS JURNAL

    1. Judul Artikel Jurnal :

    First Urinary Tract Infection in Neonates, Infants and Young Children:

    Comparative Study

    2. Gambaran Umum

    a. Latar Belakang

    Infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit infeksi yang paling

    sering terjadi pada anak, dan prevalensinya sangat dipengaruhi oleh jenis

    kelamin dan usia. ISK sering terjadi pada neonatus dan bayi, dengan

    prevalensi yang dilaporkan dari 0,1 sampai 1% pada neonatus, dan

    meningkat menjadi 14% dan 5,3% pada neonatus dengan demam dan bayi.

    Bakteriuria terdeteksi 0,3% sampai 0,4% dari bayi asimptomatik yang

    dipilih secara acak. Selama periode neonatus dan bulan-bulan pertama

    kehidupan terdapat pengaruh prevalensi ISK untuk jenis kelamin, yang

    sejalan menurun dengan bertambahnya usia. Faktor predisposisi ISK

    mencakup obstruksi kongenital, disfungsi katup ureterovesica, phimosis,

    belum maturnya atau menurunnya pertahanan tubuh terhadap patogen

    yang dapat memasuki saluran kemih.

    Meskipun neonatus memperlihatkan prevalensi ISK yang lebih

    besar dibandingkan dengan bayi / anak dan neonatus meningkatkan

    kerentanan ginjal untuk terjadinya ISK, namun hanya ada sedikit

    penelitian mengenai ISK selama periode neonatal. Tujuan dari penelitian

    ini adalah untuk membandingkan temuan klinis, laboratorium dan temuan

    pencitraan pada neonatus dan bayi yang dirawat di rumah sakit untuk

    mendokumentasikan kejadian ISK serangan pertama.

    b. Tujuan

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan temuan

    klinis, laboratorium dan temuan pencitraan pada neonatus dan bayi yang

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    3/19

    dirawat di rumah sakit untuk mendokumentasikan kejadian ISK serangan

    pertama.

    c.

    Tempat dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak dari

    Januari 1998 sampai Desember 2005

    d. Metode

    Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : (a) tidak ada riwayat

    ISK, (b) tidak ada pengobatan antibiotik sebelum sampel urin diperoleh

    untuk biakkan, (c) demam (38C) dan atau peningkatan C-reactive

    protein (CRP) atau laju endap darah (LED) pada pasien di luar periode

    neonatal, (d) sampel urin untuk kultur kuantitatif yang diperoleh dari

    kateterisasi kandung kemih atau aspirasi kandung kemih suprapubik, (e)

    pertumbuhan spesies bakteri tunggal di dalam kultur urin, (f) usia pasien

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    4/19

    Cystograms diperoleh berdasarkan teknik radiografi dengan bahan

    kontras iodin dan dievaluasi dengan menggunakan sistem penilaian

    internasional. Renal parenchyma radionuclide scintigraphy menggunakan

    99mTc-DMSA dilakukan sesuai dengan guidelines dari European

    Association of Nuclear Medicine untuk skintigrafi ginjal. Scan ginjal

    dengan 99mTc-DMSA dianggap abnormal untuk lesi akut ketika satu atau

    lebih area fokal mengalami penurunan uptake kortikal atau penurunan

    uptake difus dalam 99mTc-DMSA dan bentuk luar ginjal dipertahankan.

    Pasien dengan lesi akut dalam scanning ginjal dengan 99mTc DMSA

    dianggap memiliki pielonefritis akut.

    Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 12.0

    (SPSS Inc, USA). Uji chi-square dengan koreksi kontingensi, Fishers

    exact test, MannWhitney U test dan unpaired t-test digunakan untuk

    penentuan statistik.

    e.

    Hasil

    Pasien dibagi dalam dua kelompok: (a) kelompok "neonatus", yang

    termasuk 62 pasien yang berusia dibawah 30 hari dan (b) kelompok "bayi /

    anak-anak" yang terdiri dari 234 pasien, yang termasuk usia 30 hari sampai

    usia 24 bulan. Terdapat 181 bayi (1 bulan sampai 12 bulan) dan 53 anak

    (13 bulan sampai 24 bulan). Semua neonatus cukup bulan dan sebelumnya

    tidak pernah dirawat di rumah sakit untuk kondisi apapun.

    Di antara 296 pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini, 166

    (56%) adalah laki-laki dan 130 (44%) adalah perempuan. Terdapat 51

    (82%) laki-laki dan 11 (18%) anak perempuan di antara 62 neonatus dan

    115 (49%) laki-laki dan 119 (51%) anak perempuan di antara 234 bayi /

    anak-anak (odds ratio 4,8, 95% confidence interval 2,4 sampai 9,7). Tak

    satu pun dari neonatus laki-laki dalam penelitian ini telah disirkumsisi.

    Usia rata-rata episode ISK serangan pertama, pada neonatus

    laki-laki dan wanita masing-masing adalah 19,5 hari dan 18,0 hari, (z =

    -0,27, P = 0.79), sedangkan pada bayi laki-laki dan perempuan / anak-

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    5/19

    anak adalah 4 bulan dan 8,5 bulan. Masing-masing, terdapat

    perberbedaan signifikan secara statistik (z = -5,6, P 0,05).

    ISK untuk serangan pertama, tidak ada perbedaan signifikan secara

    statistik dalam kejadian refluks, kelainan saluran kemih selain refluks atau

    pielonefritis pada neonatus dan bayi / anak-anak. Pada perbandingan

    neonatus, bayi di luar periode neonatal (1 bulan sampai 12 bulan) dan anak-

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    6/19

    anak (13 bulan sampai 24 bulan) menunjukkan tidak ada perbedaan yang

    signifikan dalam kejadian refluks, kelainan saluran kemih selain refluks

    atau pielonefritis; Namun, ada sedikit penurunan dalam tingkat refluks

    (24%, 21% dan 17%, masing-masing) dan sedikit peningkatan dalam

    tingkat pielonefritis (39%, 39% dan 43%, masing-masing) dengan

    bertambahnya usia.

    Refluks vesicoureteral (VUR) terdeteksi pada 14 dari 51 (27%)

    neonatus laki-laki dan satu dari 11 neonatus perempuan (Fisher exact test P

    = 0.27). Pada kelompok bayi / anak-anak ada 22 dari 115 (19%) anak laki-

    laki dan 25 dari 119 (21%) anak perempuan dengan refluks (x2 = 0,038, P

    = 0,845). Dari 62 pasien dengan refluks, 29 dengan refluks bilateral (24

    bayi / anak-anak dan lima neonatus) dan 33 dengan refluks unilateral (23

    bayi dan sepuluh neonatus). terdapat 20 refluks ureter pada neonatus (dua

    grade II, delapan grade III, tiga grade IV dan tujuh grade V) dan 71 pada

    bayi / anak-anak (lima grade I, 22 grade II, 23 grade III, 16 grade IV dan

    lima grade V). Refluks berat (grade III atau lebih) dalam satu ureter

    terdapat pada 30 pasien (sepuluh neonatus dan 20 bayi / anak-anak),

    sedangkan dua reflux ureter berat terdapat pada 16 pasien (empat neonatus

    dan 12 bayi / anak-anak). Peningkatan keparahan VUR tidak berhubungan

    dengan penyakit bilateral (x2 = 0.00, P> 0.999).

    Kelainan saluran kemih muncul dengan frekuensi yang sama antara

    neonatus, bayi / anak-anak berjenis kelamin pria dan wanita. Kelainan

    saluran kemih terdeteksi empat dari 51 (8%) laki-laki dan satu dari 11

    neonatus perempuan (Fisher exact test P> 0.999). Pada kelompok bayi /

    anak-anak, 11 dari 115 (10%) anak laki-laki dan sembilan dari 119 (8%)

    perempuan memiliki kelainan saluran kemih (P = 0,754). Tingkat

    keseluruhan kelainan saluran kemih adalah 9% untuk anak laki-laki dan 8%

    untuk anak perempuan (P = 0.84). Kelainan saluran kemih: derajat variabel

    hidronefrosis pada 13 pasien, uretero-hidronefrosis satu, pelvocaliectasis

    empat, double collecting system sembilan,posterior urethral valve dua dan

    divertikula kandung kemih dua. Empat pasien memiliki dua atau lebih

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    7/19

    kelainan secara bersamaan. Congenital dysplastic kidneys terdeteksi pada

    satu neonatus dan empat bayi / anak-anak (dua laki-laki dan tiga

    perempuan). VUR grade IV atau V terdapat di sisi homolateral dari empat

    pasien dengan ginjal displastik, dan uretero-hidronefrosis, satu.

    Pielonefritis lebih sering terjadi pada neonatus dan bayi / anak

    perempuan. meskipun perbedaan antara neonatus tidak signifikan secara

    statistik. Pielonefritis terdapat pada 19 dari 51 (37%) laki-laki dan lima dari

    11 neonatus perempuan (Fisher exact test P = 0.74). Pada kelompok bayi /

    anak-anak ada 37 dari 115 (32%) anak laki-laki dan 57 dari 119 (48%)

    perempuan dengan pielonefritis (P = 0.020). Secara keseluruhan, 34% dari

    anak laki-laki dan 47% anak perempuan dengan pielonefritis (P = 0.038).

    Selain itu, pielonefritis terdeteksi pada 40 (65%) dari 62 pasien dengan

    VUR (dalam sembilan dari 15 neonatus dan 31 dari 47 bayi / anak-anak)

    dan 78 (33%) dari 234 pasien tanpa VUR (dalam 15 dari 47 neonatus dan

    63 dari 187 bayi / anak-anak) (P

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    8/19

    grade III atau lebih) bakteri gram negatif selain E. coli diidentifikasi. Tabel

    4 menunjukkan bahwa agen penyebab pielonefritis pada neonatus lebih

    sering jenis bakteri gram-negatif selain E. coli (tidak signifikan secara

    statistik) dan spesies bakteri yang diisolasi pada neonatus dan bayi / anak-

    anak dengan atau tanpa kelainan urologi selain refluks tidak berbeda secara

    signifikan (P> 0,05).

    Pengobatan pada semua pasien dimulai sebelum hasil kultur urin

    diperoleh, diikuti dengan adaptasi terhadap tes kerentanan antibiotik.

    Digunakan kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau generasi ke3

    sefalosporin (cefotaxime atau ceftriaxone) diikuti dalam banyak kasus oleh

    antibiotik oral, biasanya cefixime. Kerentanan terhadap ampisilin,

    aminoglycosida dan sefalosporin generasi ketiga masing-masing adalah

    51%, 98% dan 96%. Semua pasien kecuali dua pasien, mendapat

    setidaknya satu dari agen ini dan tidak membutuhkan perubahan antibiotik.

    Dua pasien dengan antibiotik diganti menjadi imipenem-cilastatin,

    berdasarkan profil kerentanan. Neonatus menerima antibiotik, secara total,

    selama rata-rata SD dari 13,9 4,1 hari (kisaran 9 hari sampai 24 hari)

    dan secara intravena untuk 10,9 2,8 hari (kisaran 5 hari sampai 22 hari).

    Bayi diobati dengan antibiotik untuk total 14,8 4,3 hari (kisaran 7 hari

    sampai 28 hari) dan intravena untuk 9,6 3,3 (kisaran 0-24 hari) hari.

    Semua pasien, neonatus dan bayi / anak-anak, cepat berespon terhadap

    terapi antibiotik.

    f.

    Diskusi

    Dari data diatas menunjukkan bahwa infeksi saluran kemih pada

    neonatus memiliki perbedaan penting dibandingkan dengan infeksi saluran

    kemih pada bayi dan anak-anak. Hal ini juga ditetapkan bahwa infeksi

    saluran kemih selama periode neonatal dan bayi muda memiliki prevalensi

    bermacam-macam yang dibandingkan dengan bayi muda dan anak-anak,

    dengan dominan laki-laki. Wettergren et al. mengamati bahwa anak-anak di

    bawah usia 2 bulan, bakteriuria secara signifikan lebih sering terjadi pada

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    9/19

    anak laki-laki dari pada anak perempuan, sedangkan, ketika anak-anak

    berusia antara 6 bulan dan 12 bulan frekuensi bakteriuria lebih tinggi pada

    anak perempuan. Anak perempuan dengan usia < 2 bulan lebih rentan

    terhadap ISK daripada anak laki-laki. Hasil ini menunjukkan anak laki-laki

    dominan mengalami ISK selama periode neonatal namun rasio hampir

    sama antara anak laki-laki untuk anak perempuan selama masa bayi dan

    masa anak- anak.

    Peningkatan insiden refluks dan kelainan saluran kemih pada anak

    laki-laki selama periode neonatal telah dilaporkan sebagai alasan penting

    Namun, pada penelitian ini kejadian refluks sama antara neonatus pria dan

    wanita serta pada bayi laki-laki dan perempuan / anak-anak, meskipun

    jumlah neonatus perempuan rendah. Selain itu, tidak ada perbedaan yang

    signifikan secara statistik yang ditemukan antara neonatus dan bayi laki-

    laki dan perempuan / anak-anak tentang kejadian kelainan saluran kemih

    selain refluks. Hal ini sesuai dengan penelitian Clepper et al. yang juga

    melaporkan kejadian refluks pada neonatus laki-laki dan perempuan sama.

    Jantunen et al juga menyatakan bahwa kejadian kelainan saluran kemih

    secara signifikan sama antara bayi laki-laki dan perempuan yang lebih tua

    dari 1 bulan. Hasil ini menunjukkan bahwa kejadian ISK lebih dominan

    terjadi pada laki-laki selama periode neonatal. Phimosis menjadi faktor

    predisposisi penting untuk ISK pada neonatus laki-laki. Tak satu pun dari

    neonatus laki-laki dalam penelitian ini telah disirkumsisi.

    Pada penelitian ini, tingkat VUR adalah 24% pada neonatus dan 20%

    pada bayi / anak-anak. Sementara itu, tingkat kelainan saluran kemih adalah

    8% pada neonatus dan 9% pada bayi / anak-anak yang menderita ISK

    serangan pertama. Hal ini sesuai dengan penelitian Wang et al., Gerard et

    al., dan Clepper et al., yang melaporkan refluks atau malformasi saluran

    kemih terjadi sebesar 20%-33% pada neonatus. Hasil ini menunjukkan

    bahwa peningkatan insiden ISK selama bulan-bulan pertama kehidupan

    bukan karena peningkatan terjadinya refluks dan kelainan saluran kemih.

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    10/19

    Namun, hal ini berlawanan dengan penelitian lain yang melaporkan bahawa

    tingkat VUR sekitar 50% pada neonatus dengan bakteriuria atau ISK.

    Demam adalah gejala utama pada neonatus dan bayi / anak-anak

    dengan ISK, dan turunnya demam adalah penanda klinis yang penting

    untuk menandakan adanya perbaikan. Meskipun terjadinya demam pada

    bayi baru lahir dan bayi / anak-anak tidak berbeda secara signifikan, namun

    demam pada bayi / anak-anak secara signifikan lebih tinggi dan lebih lama

    dibandingkan pada bayi baru lahir. Waktu sampai terjadinya apyireksia

    pada neonatus adalah 0,7 hari dan pada bayi / anak-anak 1,2 hari. Namun,

    durasi yang lebih singkat pada neonatus yang demam mungkin disebabkan

    akibat kecemasan dan kewaspadaan orang tua baru yang memberi

    perawatan kepada neonatus lebih cepat daripada bayi / anak-anak. Terdapat

    perbedaan yang signifikan dalam durasi demam setelah awal pengobatan

    antara penelitian Bachur dan penelitian Dayan et al. Perbedaan ini terjadi

    akibat populasi diteliti berbeda atau cara pengukuran temperatur yang

    berbeda-beda. Selain itu, gejala non-spesifik, seperti susah makan, letargi,

    grunting dan ikterus, muncul lebih sering pada bayi baru lahir dibandingkan

    pada bayi / anak-anak.

    Dalam sebuah penelitian terbaru dilaporkan bahwa bakteri Gram-

    negatif selain E. Coli jarang ditemui pada ISK. Pada penelitian ini kultur

    urine dengan bakteri Gram-negatif selain E. coli tumbuh terutama pada

    bayi laki-laki. Hal ini sesuai dengan penelitian Jantunen et al. yang juga

    menemukan bahwa bakteri E. coli selain menyebabkan pielonefritis akut

    secara signifikan lebih sering pada anak laki-laki dari pada anak perempuan.

    Selain itu patogen dalam kultur urin selain E. coli merupakan faktor risiko

    untuk adanya kelainan saluran kemih yang signifikan, terutama VUR, pada

    bayi yang lebih tua dari 1 bulan dan lebih muda dari 24 bulan. Selain itu,

    Honkinen et al. Melaporkan bahwa, ISK serangan pertama pada anak-anak

    disebabkan oleh Klebsiella atau spesies enterokokus, namun tingkat VUR

    hampir dua kali lipat pada mereka yang terinfeksi oleh E. coli. Pada

    penelitian ini bakteri gram negatif selain E. Coli lebih sering ditemukan

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    11/19

    pada bayi / anak-anak yang lebih tua dari 1 bulan dengan VUR grade

    apapun, tetapi perbedaannya secara statistik tidak signifikan. Namun, pada

    bayi / anak-anak dengan refluks dilatasi refluks, bakteri Gram-negatif selain

    E. coli mendominasi. Hal ini sesuai dengan temuan dari studi dari Hansson

    et al. yang telah menunjukkan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri non-

    E. coli di 6% dari anak-anak tanpa VUR, 7% dengan nilai VUR grade I- II

    dan 22% dengan grade VUR III-V. Dalam penelitian ini, dari semua

    neonatus dengan VUR tidak ada kelainan saluran kemih lain kecuali satu

    orang neonatus, namun bakteri Gram-negatif selain E. coli mendominasi.

    Meskipun jumlah neonatus rendah, perbedaannya signifikan secara statistik,

    menunjukkan bahwa hasil positif dalam kultur urin neonatus dengan bakteri

    Gram-negatif selain E. coli merupakan faktor risiko untuk VUR. Temuan

    ini sesuai dengan peneilitian dari Clepper et al , yang melaporkan bahwa

    VUR didiagnosis empat kali lebih tinggi pada neonatus dengan ISK yang

    disebabkan oleh spesies yang Klebsiella dibanding E.coli

    Beberapa penelitian mengevaluasi hubungan usia dan temuan kelainan

    scan ginjal DMSA. Menurut Tappin et al. dan Ditchfield et al.

    menunjukkan bahwa anak-anak usia di bawah 2 tahun lebih mungkin untuk

    memiliki temuan abnormal pada scan ginjal DMSA daripada anak-anak

    yang lebih tua. Namun, kelainan scan ginjal lebih sering ditemukan pada

    anak-anak >1 tahun dibandingkan dengan mereka yang lebih muda, dimana

    populasi penelitian ini hanya dibatasi untuk anak-anak ISK dengan

    demam. Pada penelitian ini neonatus dan bayi / anak-anak (

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    12/19

    statistik) meskipun jenis kelamin tidak memiliki perbedaan yang signifikan

    pada penelitian lain

    Scanning ginjal dengan 99mTc-DMSA selama ISK serangan pertama

    menunjukkan lesi ginjal pyelonephritic pada 39% dari neonatus dan 40%

    bayi / anak-anak. Kerusakan ginjal terdeteksi lebih sering pada pasien

    dengan VUR atau kelainan pada saluran kemih. Hal ini sesuai dengan

    temuan Caione et al. yang menemukan bahwa VUR umumnya terkait

    dengan kerusakan ginjal dan penurunan fungsi parenkim yang semakin

    menurun sesuai dengan tingkat keparahan VUR. Selain itu, scanning ginjal

    dengan 99mTc-DMSA selama ISK serangan pertama mengungkapkan

    bahwa lima pasien dengan high-grade refluks atau uretero-hidronefrosis

    memiliki ginjal displastik.

    Perjalanan penyakit pada semua pasien neonatus dan bayi / anak-

    anak dengan ISK serangan pertama tidak rumit, dan tidak satupun dari

    pasien yang dipindahkan ke perawatan lebih tinggi

    g. Kesimpulan

    Penelitian ini mengevaluasi karakteristik dasar neonatus dan bayi /

    anak yang dirawat di rumah sakit dengan ISK serangan pertama. Terdapat

    banyak kemiripan penting antara ISK pada neonatus dan pada bayi / anak,

    seperti : patogen yang sama, kejadian sebanding pielonefritis, refluks dan

    kelainan saluran kemih lainnya, serta outcome dari penyakit. Di sisi lain,

    terdapat perbedaan yang signifikan, seperti peningkatan kejadian ISK, laki-

    laki mendominasi, tanda dan gejala lebih ringan pada periode neonatus, dan

    peningkatan terjadinya bakteri Gram-negatif selain E. coli pada neonatus

    dengan refluks. Studi pencitraan setelah kejadian ISK serangan pertama

    dianjurkan, terutama jika terinfeksi bakteri selain E. coli untuk mendeteksi

    kelainan saluran kemih dan kerusakan ginjal.

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    13/19

    3.

    Telaah Kritis

    Berdasarkan jurnal Critical Appraisal on Journal of Clinical Trials:2012,

    critical appraisal merupakan bagian dari kedokteran berbasis bukti

    (evidence-based medicine) diartikan sebagai suatu proses evaluasi secara

    cermat dan sistematis suatu artikel penelitian untuk menentukan reabilitas,

    validitas, dan kegunaannya dalam praktik klinis. Komponen utama yang

    dinilai dalam critical appraisal adalah validity, importancy, dan

    applicability. Tingkat kepercayaan hasil suatu penelitian sangat

    bergantung dari desain penelitian dimana uji klinis menempati urutan

    tertinggi. Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian

    dimulai dari komponen pendahuluan, metodologi, hasil dan diskusi.

    Masing-masing komponen memiliki kepentingan yang sama besarnya

    dalam menentukan apakah hasil penelitian tersebut layak atau tidak

    digunakan sebagai referensi.

    Evaluasi Jurnal

    Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian dimulai dari

    komponen pendahuluan, metodologi, hasil dan diskusi. Masing-masing

    komponen memiliki kepentingan yang sama besarnya dalam menentukan

    apakah hasil penelitian tersebut layak atau tidak digunakan sebagai

    referensi.

    a.

    Latar Belakang

    Komponen-komponen yang harus dipenuhi pada latar belakang jurnal

    antara lain:

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    14/19

    Secara garis besar, latar belakang jurnal ini telah memenuhi

    komponen-komponen yang harusnya terpapar dalam latar belakang. Pada

    latar belakang jurnal, telah dijelaskan bahwa belum ada data mengenai

    penelitian sejenis. Pada jurnal tidak dipaparkan hipotesis penelitian

    namun sudah dipaparkan mengenai tujuan dari penelitian.

    b. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitan ini sudah cukup baik karena peneliti telah

    memaparkannya secara jelas dilakukannya penelitian ini, yaitu untuk

    membandingkan klinis, laboratorium dan temuan pencitraan pada neonatus

    dan bayi yang dirawat di rumah sakit untuk mendokumentasikan kejadian

    ISK untuk yang pertamakalinya.

    c. Metode Penelitian

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    15/19

    Pada metode jurnal djelaskan secara detail mengenai populasi dan

    sampel serta kriteria inklusi namun kriteria eksklusi tidak dijelaakan secara

    rinci. Pada jurnal ini disebutkan mengenai desain penelitian namun peneliti

    tidak menjelaskan secara detail desain penelitian yang akan dilakukan,

    cara mengolah data, metode analisis data. Variabel yang akan digunakan

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    16/19

    dalam penelitian ini cukup jelas dipaparkan namun tidak menjelaskan

    secara detail pembagiannya.

    d. Hasil Penelitian

    Hasil penelitian dalam jurnal ini, telah memenuhi komponen-komponen

    yang harus ada dalan hasil penelitian jurnal. Dalam hasil penelitian, telah

    dipaparkan jumlah dan persentasi masing-masing variabel, apakah data di

    bandingkan dengan data yang didapatkan sebelumnya, bagaimana hasil

    keluaran, apakah angka yang didapat signifikan secara statistik.

    e. Diskusi

    Pada jurnal, terdapat hasil penelitian, perbandingan dengan penelitian

    sebelumnya dan sesuai dengan tujuan penelitian.

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    17/19

    Penilaian VIA (Validity, Importancy, Applicability)

    I. Study validity

    Research question

    --Is the research question well-defined that can be answered using this study

    design?

    Ya, penelitian dengan menggunakan design penelitian pada jurnal ini dapat

    menjawab tujuan dari dilakukannya penelitian.

    Does the author use appropriate methods to answer their questions?

    Ya, peneliti menggunakan metode deskriptif analitik yang dapat menjawab tujuan

    dari penelitian.

    Is the data collected in accordance with the purpose of research?

    Ya sesuai, karena data yang dikumpulkan melalui rekam medik dapat menjawab

    tujuan dari penelitian.

    Randomization

    --Was the randomization list concealed from patients, clinicians and researchers?

    Ya, pada jurnal disebutkan bahwa peneliti mengambil data dari rekam medik oleh

    karena itu sampel pada penelitian ini tidak diketahui oleh pasien, klinisi, maupun

    peneliti itu sendiri.

    Interventions and co-interventions

    --Were the performed interventions described in sufficient detail to be followed by

    others?

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    18/19

    Pada penelitian ini tidak ada intervensi dari peneliti karena peneliti

    menggunakan data dari rekam medik.

    --Other than intervention, were the two groups cared for in similar way of

    treatment?

    Tidak ada intervensi dalam perlakuan terhadap kedua kelompok karena peneliti

    menggunakan data dari rekam medik.

    II. Applicability

    Using results in your own setting

    --Are your patient so different from those studied that the results may not apply to

    them?

    Tidak, karena untuk menegakkan diagnosis ISK terlebih dahulu dari anamnesis,

    pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan penelitian

    ini seperti demam, gejala simptomatis lain dan temuan lab yang khas dan jika

    diperlukan menggunakan pemeriksaan penunjang lainnya.

    --Is your environment so different from the one in the study that the methods could

    not be use there?

    Ya, karena untuk menegakkan diagnosis ISK cukup berdasarkan anamnesis,

    temuan klinis, temuan laboratorium. Pemeriksaan penunjang yang digunakan

    adalah USG dan MSU rutin, dan bila perlu dilakukan pemeriksaan sintigrafi

    radionuklid atas indikasi tertentu.

    III. Importance

    --Is this study important?

  • 8/10/2019 Telaah Jurnal Fix

    19/19

    Ya, penelitian ini penting karena hasil penelitian ini dapat membantu dokter

    untuk mempertimbangkan diagnosis ISK pada neonatus, bayi, dan anak

    berdasarkan epidemiologi, temuan klinis dan temuan laboratorium.

    Kesimpulan : Penelitian pada jurnal ini Valid, Important dan Applicable.