refreat gbs stase saraf

Download Refreat Gbs Stase Saraf

Post on 05-Feb-2016

37 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

guallian bare syindrom referat adalah

TRANSCRIPT

REFERAT

Tatalaksana

Guillain-Barre Syndrome

Disusun Oleh:

ANGGIA FITRI WIDYANI

1102010023

Pembimbing :

dr. Mukhdiyar Kasim, Sp.S

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

KEPANITERAAN BAGIAN ILMU SARAF RSUD CILEGON

MEI 2014

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, penyusun menampilkan referat yang berjudul Tatalaksana Guillain Barre Syndrome. Adapun referat ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian kepanitraan klinik di bagian syaraf RSUD Cilegon.

Terwujudnya referat ini merupakan berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Mukhdiyar Kasim, Sp.S selaku konsulen pembimbing referat, yang telah meluangkan waktu dalam membimbing dan memberi masukan-masukan kepada penyusun dan juga kepada seluruh dokter lainnya yang turut membantu membimbing penyusun serta kepada seluruh koass lainnya selama kepaniteraan di bagian Saraf. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang sebesar-besarnya atas bantuan yang diberikan selama ini.Penyusun menyadari referat ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga penyusunan referat ini dapat menjadi lebih baik dan sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Akhir kata dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu meridhoi kita dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Cilegon, 8 April 2014

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR 2DAFTAR ISI .3BAB I. PENDAHULUAN ..4BAB II. PEMBAHASAN 52.1 DEFINISI 52.1 KLASIFIKASI 62.3 GEJALA KLINIS ..72.4 DIAGNOSIS .82.5. TATALAKSANA ..132.6 KOMPLIKASI .192.7 PROGNOSIS ..19BAB III. KESIMPULAN .20DAFTAR PUSTAKA 21BAB I

PENDAHULUAN

Guillain-Barre Syndrome (GBS) adalah salah satu penyakit demyelinating saraf dan merupakan salah satu polineuropati, karena hingga sekarang belum dapat dipastikan penyebabnya. Kebanyakan kasus GBS terjadi sesudah proses infeksi, diduga karena sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi. Gejalanya adalah kelemahan otot (parese hingga plegia), biasanya perlahan, mulai dari bawah ke atas. Jadi gejala awalnya tidak bisa berjalan, atau gangguan berjalan. Sebaliknya penyembuhannya diawali dari bagian atas tubuh ke bawah, sehingga bila ada gejala sisabiasanya gangguan berjalan.Guillain-Barre Syndrome (GBS) merupakan penyebab kelumpuhan yang cukup sering dijumpai pada usia dewasa muda. GBS ini seringkali mencemaskan penderita dan keluarganya karena terjadi pada usia produktif, apalagi pada beberapa keadaan dapat menimbulkan kematian, meskipun pada umumnya mempunyai prognosa yang baik.

Beberapa nama lain untuk penyakit ini, yaitu Idiopathic polyneuritis, Acute Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy, Guillain Barre Strohl Syndrome, Landry Ascending paralysis, dan Landry Guillain Barre Syndrome.

Penyakit ini disebabkan oleh autoimun dan muncul akibat dipicu oleh infeksi sebelumnya (antecedent infections). Dalam dua pertiga dari kasus, penyebab yang paling sering disebabkan oleh infeksi pernapasan dan infeksi saluran pencernaan (Pieteret al., 2008). Semua kelompok usia dapat terkena penyakit ini, namun paling sering terjadi pada dewasa muda dan usia lanjut. Laki-laki cenderung lebih mudah terkena yaitu sebesar 1,5 : 1 dibanding wanita(Burns, 2008). Insidensi kasus Sindrom Guillain Barre yang berkaitan dengan infeksi akut non spesifik sekitar antara 56% - 80%, yaitu 1 sampai 4 minggu sebelum gejala neurologi timbul seperti infeksi saluran pernafasan atas atau infeksi gastrointestinal. Kelainan ini juga dapat menyebabkan kematian, pada 3 % pasien, yang disebabkan oleh gagal napas dan aritmia. Sekitar 30 % penderita memiliki gejala sisa kelemahan setelah 3 tahun. Tiga persen pasien dengan SGB dapat mengalami relaps yang lebih ringan beberapa tahun setelah onset pertama. Bila terjadi kekambuhan atau tidak ada perbaikan pada akhir minggu IV maka termasuk Chronic Inflammantory Demyelinating Polyradiculoneuropathy (CIDP). Pengobatan secara simtomatis dan perawatan yang baik dapat memperbaiki prognosisnya.BAB IIPEMBAHASAN

I. DEFINISI

Guillain Barre syndrome ( GBS ) adalah suatu kelainan sistem kekebalan tubuh manusia yang menyerang bagian dari susunan saraf tepi dirinya sendiri dengan karekterisasi berupa kelemahan atau arefleksia dari saraf motorik yang sifatnya progresif. Kelainan ini kadang kadang juga menyerang saraf sensoris, otonom,maupun susunan saraf pusat. GBS merupakan Polineuropati akut, bersifat simetris dan ascenden, yang biasanya terjadi 1 3 minggu dan kadang sampai 8 minggu setelah suatu infeksi akut.

Guillain Barre syndrome ( GBS ) merupakan Polineuropati pasca infeksi yang menyebabkan terjadinya demielinisasi saraf motorik kadang juga mengenai saraf sensorik. Guillain Barre syndrome ( GBS ) adalah polineuropati yang menyeluruh, dapat berlangsung akut atau subakut, mungkin terjadi spontan atau sesudah suatu infeksi.

Mikroorganisme penyebab belum pernah ditemukan pada penderita dan bukan merupakan penyakit yang menular juga tidak diturunkan secara herediter. Penyakit ini merupakan proses autoimun. Tetapi sekitar setengah dari seluruh kasus terjadi setelah penyakit infeksi virus atau bakteri seperti dibawah ini :

Infeksi virus : Citomegalovirus (CMV), Ebstein Barr Virus (EBV), enterovirus, Human Immunodefficiency Virus (HIV). Infeksi bakteri : Campilobacter Jejuni, Mycoplasma Pneumonie. Pasca pembedahan dan Vaksinasi. 50% dari seluruh kasus terjadi sekitar 1-3 minggu setelah terjadi penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan Infeksi Saluran Pencernaan.Mekanisme bagaimana infeksi, vaksinasi, trauma, atau faktor lain yang mempresipitasi terjadinya demielinisasi akut pada SGB masih belum diketahui dengan pasti. Banyak ahli membuat kesimpulan bahwa kerusakan saraf yang terjadi melalui mekanisme imunologi.8II. KLASIFIKASI

1. Acute Motor-Sensory Axonal Neuropathy (AMSAN)

Sering muncul cepat dan mengalami paralisis yang berat dengan perbaikan yang lambat dan buruk. Seperti tipe AMAN yang berhubungan dengan infeksi saluran cerna C jejuni. Patologi yang ditemukan adalah degenerasi akson dari serabut saraf sensorik dan motorik yang berat dengan sedikir demielinisasi.

2. Acute Motor-Axonal Neuropathy (AMAN)

Berhubungan dengan infeksi saluran cerna C jejuni dan titer antibody gangliosid meningkat (seperti, GM1, GD1a, GD1b). Penderita tipe ini memiliki gejala klinis motorik dan secara klinis khas untuk tipe demielinisasi dengan asending dan paralysis simetris. AMAN dibedakan dengan hasil studi elektrodiagnostik dimana didapatkan adanya aksonopati motorik. Pada biopsy menunjukkan degenerasi wallerian like tanpa inflamasi limfositik. Perbaikannya cepat, disabilitas yang dialami penderita selama lebih kurang 1 tahun.

3. Miller Fisher Syndrome

Variasi dari SGB yang umum dan merupakan 5 % dari semua kasus SGB. Sindroma ini terdiri dari ataksia, optalmoplegia dan arefleksia. Ataksia terlihat pada gaya jalan dan pada batang tubuh dan jarang yang meliputi ekstremitas. Motorik biasanya tidak terkena. Perbaikan sempurna terjadi dalam hitungan minggu atau bulan

4. Chronic Inflammatory Demyelinative Polyneuropathy (CIDP)

CIDP memiliki gambaran klinik seperti AIDP, tetapi perkembangan gejala neurologinya bersifat kronik. Pada sebagian anak, kelainan motorik lebih dominant dan kelemahan otot lebih berat pada bagian distal.

5. Acute pandysautonomia

Tanpa sensorik dan motorik merupakan tipe SGB yang jarang terjadi. Disfungsi dari sistem simpatis dan parasimparis yang berat mengakibatkan terjadinya hipotensi postural, retensi saluran kemih dan saluran cerna, anhidrosis, penurunan salvias dan lakrimasi dan abnormalitas dari pupil.III. GEJALA KLINIS

Guillain-Barre Syndrome (GBS) ditandai dengan timbulnya suatu kelumpuhan akut yang disertai hilangnya refleks-refleks tendon dan didahului parestesi dua atau tiga minggu setelah mengalami demam disertai disosiasi sitoalbumin pada likuor dan gangguan sensorik dan motorik perifer. Ciri-ciri klinis GBS ialah:

1.Kelumpuhan Manifestasi klinis utama adalah kelumpuhan otot-otot ekstremitas tipe lower motor neurone. Pada sebagian besar penderita kelumpuhan dimulai dari kedua ekstremitas bawah kemudian menyebar secara asenderen ke badan, anggota gerak atas dan saraf kranialis. Kadang-kadang juga bisa keempat anggota gerak dikenai secara serentak, kemudian menyebar ke badan dan saraf kranialis. Kelumpuhan otot-otot ini simetris dan diikuti oleh hiporefleksia atau arefleksia. Biasanya derajat kelumpuhan otot-otot bagian proksimal lebih berat dari bagian distal, tapi dapat juga sama beratnya, atau bagian distal lebih berat dari bagian proksimal.1,42.Gangguan Sensibilitas

Parestesi biasanya lebih jelas pada bagian distal ekstremitas, muka juga bisa dikenai dengan distribusi sirkumoral. Defisit sensoris objektif biasanya minimal dan sering dengan distribusi seperti pola kaus kaki dan sarung tangan. Sensibilitas ekstroseptif lebih sering dikenal dari pada sensibilitas proprioseptif. Rasa nyeri otot sering ditemui seperti rasa nyeri setelah suatu aktifitas fisik. 1,43.Saraf KranialisSaraf kranialis yang paling sering dikenal adalah N.VII. Kelumpuhan otot-otot muka sering dimulai pada satu sisi tapi kemudian segera menjadi bilateral, sehingga bisa ditemukan berat antara kedua sisi. Semua saraf kranialis bisa dikenai kecuali N.I dan N.VIII. Diplopia bisa terjadi akibat terkenanya N.IV atau N.III. Bila N.IX dan N.X terkena akan menyebabkan gangguan berupa sukar menelan, disfonia dan pada kasus yang berat menyebabkan kegagalan pernafasan karena paralisis n. laringeus 4.4.Gangguan Fungsi Otonom

Gangguan fungsi otonom dijumpai pada 25 % penderita GBS4.