refreat usus (digestive)

Download refreat usus (digestive)

Post on 23-Nov-2015

28 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Hemaliny A. SipahutarFK UKRIDA

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam permulaan perkembangannya, saluran cerna hanya berupa suatu tabung sederhana dengan beberapa benjolan. Bakal lambung, pada saat ini berupa suatu pelebaran berbentuk kerucut, sedangkan bakal sekum ditandai oleh suatu pelebaran yang asimetris. Duktus vitelinus masih berhubungan dengan saluran kolon usus ini. Pada usia janin bulan kedua dan ketiga terjadi suatu proses yang dapat menerangkan timbulnya cacat bawaan pada bayi dikemudian hari. Usus tumbuh dengan cepat dan berada di dalam tali pusat. Sewaktu usus menarik diri masuk kembali ke dalam rongga perut, duodenum, dan sekum berputar dengan arah berlawanan jarum jam. Duodenum memutar di dorsal arteri dan vena mesenteria superior, sedangkan sekum terletak di fossa iliaka kanan. Secara embriologik, kolon kanan berasal dari usus tengah, sedangkan kolon kiri sampai dengan rectum berasal dari usus belakang. Lapisan otot longitudinal kolon membentuk tiga buah pita yang disebut tenia yang lebih pendek dari kolom itu sendiri sehingga kolon berlipat-lipat dan berbentuk seperti sakulus yang disebut haustra. Kolon transversum dan kolon sigmoideum terletak intraperitoneal dan dilengkapi dengan mesenterium. Dalam perkembangan embriologik kadang terjadi gangguan rotasi usus embrional sehingga kolon kanan dan sekum mempunyai mesenterium yang bebas. Keadaan ini memudahkan terjadinya putaran atau volvulus sebagian besar usus yang sama halnya dapat terjadi dengan mesenterium yang panjang pada kolon sigmoid dengan radiksnya yang sempit. Batas antara kolom dan rectum tampak jelas karena pada rectum ketiga dan tenia tidak tampak lagi. Batas ini terletak di bawah ketinggian promontorium, kira-kira 15 cm dari anus. Pertemuan ketiga tenia di daerah sekum menunjukan pangkal apendiks bila appendiks tidak jelas karena perlengketan.

Sekum, kolon asendens, dan bagian kanan kolon tranversum didarahi oleh cabang a.mesenterika superior yaitu oleh a.ileokolika, a.kolika dextra, dan a.kolika media. Kolon tranversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid, dan sebagian besar rectum didarahi oleh a.mesenterika inferior melalui a.kolika sinistra, a.sigmoid, dan a.hemoroidalis superior.Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ectoderm, sedangkan rectum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rectum ini maka perdarahan, persarafan, serta pengaliran vena dan limfenya berbeda juga, demikian pula epitel yang menutupinya. Rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Sedangkan anus tidak ada mukosa.BAB IIUSUS HALUS2.1 Fisiologi

2.1.1 Cairan dan Elektrolit

Cairan yang terdapat pada saluran cerna berjumlah 6-8 liter yang berasal dari makanan, minuman, air ludah, cairan lambung, empedu, secret pancreas, dan cairan usus halus. Cairan akan diserap kembali melalui katup ileosaecal sehingga hanya setengah liter cairan saja yang akan diteruskan ke kolon. Keluar masuknya cairan melalui sel ini terjadi dengan cara difusi, osmotic, atau dibawah pengaruh tekanan hidrostatik.

2.1.2 Peristalsis, Digesti, dan Absorpsi

Fungsi dari usus halus adalah sebagai transportasi, dan absorpsi cairan, elektrolit, atau unsur makanan. Setiap hari beberapa liter cairan dan puluhan gram makanan yang terdiri atas karbohidrat, lemak, dan protein akan diserap di usus halus, kemudian masuk ke dalam aliran darah. Proses ini sangat efisien karena hampir seluruh makanan terserap, kecuali yang mengandung selulosa yang tidak dapat dicerna. Hampir semua bahan makanan diabsorpsi dalam yeyunum, kecuali vitamin B12 dan asam empedu yang diserap dalam ileum terminale. Isi usus digerakan oleh peristaltik yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu segmental dan longitudinal. Gerakan intestinal ini diatur oleh system saraf autonom dan hormone.

2.2 Pemeriksaan

Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk menegakan diagnosis. Pada pemeriksaan fisik, inspeksi sangatlah penting. Contohnya pada Meteorismus yang mungkin merupakan tanda awal peritonitis atau ileus paralitik, dengan gambaran perut kembung pada posisi berbaring terlentang. Perut yang salah satunya tertinggal atau tidak ikut bergerak pada proses pernafasan mungkin menjadi tanda adanya rangsangan peritoneum karena peradangan. Palpasi sangat berguna untuk menemukan massa dan auskultasi untuk menentukan aktivitas peristaltic. Pemeriksaan khusus rotgen dengan enteroklisis menggunakan cairan kontras encer berguna untuk menentukan diagnosis karena memberikan gambaran seluruh panjang usus halus. Enteroskopi yaitu meneropong usus dapat dilakukan melewati bagian ligamen Treitz sampai ke permukaan yeyunum. Dalam endoskopi ini dapat sekaligus dilakukan biopsi .

2.3 Kelainan Bawaan

2.3.1 Divertikulum Meckel

Regresi yang kurang sempurna pada omfalomesenterikus (duktus vitelinus) dapat meninggalkan bermacam-macam kelainan antara lain divertikulum Meckel. Divertikulum Meckel merupakan divertikulum yang sering ditemukan di usus halus dan berasal dari bagian intraabdomen duktus vitelinus. Gejala yang ditunjukan tidak khas, biasa gejala atau keluhan mirip sekali dengan appendisitis akut walaupun letak nyeri dapat berbeda. Pengobatannya sendiri juga sama appendisitis akut yaitu divertikulektomi segera setelah diagnosis ditegakkan untuk mendahului terjadinya perforasi. 2.3.2 Malrotasi usus halus

Pada tahap perkembangan usus dapat terjadi gangguan rotasi dan fiksasi usus pada peritonuem dinding belakang. Malrotasi dapat mengakibatkan gangguan passae dan vaskularisasi. Gambaran klinis berupa gangguan passase usus halus yaitu tanda obstruksi, muntah hijau, dan perut kembung setelah lahir. Tindakan bedah dilakukan apabila terjadi obstruksi usus yang lengkap, parsial maupun berulang yaitu dengan laparatomi dan mengembalikan usus agar tidak berputar dan a. Mesenterika superior tidak terjepit. Sebaiknya tidak mengembalikan usus ke anatomi normal.

2.4 Hambatan Pasase Usus

Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau oleh gangguan peristaltik. Obstruksi usus disebut juga obstruksi mekanik misalnya oleh strangulasi, invaginasi, atau sumbatan di dalam lumen usus. Ileus dinamik dapat disebabkan oleh kelebihan dinamik seperti spasme. Ileus adinamik dapat disebabkan oleh paralisis pada peritonitis umum. Pada obstruksi harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dari obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah terjepit sehingga terjadi iskemik yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangrene. Jadi strangulasi memperlihatkan kombinasi gejala obstruksi dan gejala sistemik akibat adanya toksin dan sepsis.

Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau askaris adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi. 2.4.1 Gambaran Klinis Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi artinya, disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit, baik dalam lumen usus bagian oral dari obstruksi maupun oleh muntah. Pada anamnesa obstruksi tinggi sering dapat ditemukan penyebab, misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia. Pada pemeriksaan ditemukan tanda dan gejala yang bergantung pada tahap perkembangan obstruksi. Gejala umum berupa syok, oliguri, dan gangguan elektrolit. Selanjutnya ditemukan meteorismus dan kelebihan cairan di usus, hiperperistaltik berkala berupa kolik yang disertai mual dan muntah. Kolik tersebut terlihat pada inspeksi usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltik kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan setelah satu dua kali defekasi tidak ada lagi flatus atau defekasi.

Pemeriksaan laboratorium umumnya tidak dapat dijadikan pedoman untuk menegakan diagnosis. Pada foto polos rontgen perut, tampak kelok-kelok usus halus yang melebar, mengandung cairan dan banyak udara sehingga member gambaran batas Air Fluid Level yang jelas.

2.4.2 Diagnosis

Ada tidaknya obstruksi tinggi tidak sulit ditentukan asal cukup sabar menantikan timbulnya kolik sehingga dapat melihat gejala kolik yang khas. Pada strangulasi terdapat jepitan atau lilitan yang menyebabkan gangguan peredaran darah sehingga terjadi iskemia, nekrosis, dan gangren. Gangren menyebabkan tanda toksik seperti yang terjadi pada sepsis yaitu takikardia, syok septic, dengan leukositosis.

2.4.3 Penatalaksanaan Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau lilitan harus dihilangkan segera setelah keadan umum diperbaiki. Tindakan umum sebelum dan sewaktu pembedahan meliputi tata laksana dehidrasi, perbaikan, keseimbangan elektrolit, dan dekompresi pipa lambung. Pada strangulasi tidak ada waktu untuk memperbaiki keadaan umum, strangulasi harus segera di operasi.

2.4.4 Bermacam Penyebab Obstruksi Usus

Adhesi. Ileus karena adhesi umumnya tidak disertai strangulasi. Adhesi umumnya berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau umum, atau pascaoperasi. Adhesi dapat berupa perlengketan atau mungkin dalam bentuk tunggal atau multiple, mungkin setempat maupun luas. Sering juga ditemukan bentuk pita dipotong agar pasase usus pulih kembali. Adhesi yang kambuh mungkin akan menjadi masalah besar. Setelah berulang tiga kali, resiko kambuh menjadi 50%. Pada kasus seperti ini., ditiadakan pendekatan konservatif karena walaupun pembedahan akan memberikan perbaikan pasase usus, kemungkinan besar obstruksi akan kambuh lagi dalam waktu singkat.

Hernia Inkarserata. Obstruksi akib