refreat limfoma

Download REFREAT LIMFOMA

Post on 17-Jul-2016

91 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

limfoma

TRANSCRIPT

REFERATLIMFOMA MALIGNA ORBITA

Pembimbing:dr. Agah Gadjali, SpMdr. Gartati Ismail, SpMdr. Henry A. W, SpMdr. Hermansyah, SpMdr. Mustafa K. Shahab, SpM

Disusun oleh:A.Deza Farista 1102011001Brenda Karina1102010052

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATARUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. 1 RADEN SAID SUKANTOPERIODE 25 MEI 2015 28 JUNI 2015 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSIKATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah swt atas selesainya referat yang berjudul Limfoma maligna orbita. Juga kepada dr. Agah Gadjali, Sp. M, dr. Gartati Ismail, Sp. M, dr. Henry A. Wibowo, Sp. M, dr. Hermansyah, Sp. M, dan dr. Mustafa K. Shahab, Sp. M, selaku dosen pembimbing, kami ucapkan terimakasih banyak atas bimbingannya selama kepaniteraan kami di Bagian Ilmu Penyakit Mata RS Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto.Dalam referat ini kami akan mencoba membahas mengenai Limfoma maligna orbita. Semoga pembahasan kami ini dapat membantu membuka wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa klinik atupun dokter umum mengenai Limfoma maligna pada mata.

Penulis,

Jakarta, 11 Juni 2015

BAB IPENDAHULUAN

Limfoma maligna merupakan transformasi neoplastik dari sel yang terdapat pada jaringan limfoid, yang meliputi limfosit, histiosit dan precursor serta derivatnya. Sering terdapat pada kelenjar limfe, namun dapat ditemui pada ekstranodal misalnya kulit, sumsum tulang, orofaring dan mata.Neoplasma limfoproliferatif menempati lebih dari 20% dari seluruh tumor orbita dan tumor limfoid merupakan keganasan orbita primer terbanyak yang ditemui pada dewasa. Sebagian besar limfoma malignum orbita adalah tipe Non-Hodgkin yang muncul terutama pada kelompok umur 50 70 tahun.Saat ini 70% 80% lesi limfoproliferatif orbita dianggap sebagai limfoma malignum berdasarkan marker permukaan sel monoklonal, sedangkan berdasarkan penelitian genetik ditemukan sebesar 90%. Adanya massa limfoid pada orbita dianggap abnormal karena pada jaringan lunak orbita yang normal, tidak terdapat limfosit dan kelenjar limfe. Limfoma pada orbita dapat berupa limfoma primer atau sekunder. Dikatakan limfoma primer bila orbita merupakan satu-satunya tempat terdapatnya limfoma ekstranodal, sedangkan pada limfoma orbita sekunder, limfoma timbul pada pasien yang sebelumnya sudah terdiagnosa sebagai limfoma Non-Hodgkin atau limfoma orbita yang muncul bersamaan dengan ditemukannya limfoma sistemik.Limfoma non Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat. Lebih dari 45.000 pasien didiagnosis sebagai limfoma non Hodgkin (LNH) setiap tahun di Amerika Serikat.Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan Limfoma Hodgkin dan leukemia menduduki urutan keenam tersering.LNH mungkin dijumpai dengan massa ekstranodul sebagai gejala utama. Saluran gastrointestinal (GI) adalah tempat yang paling sering terjadi penyakit ekstranodul, diikuti oleh organ non limfatik lain di daerah kepala dan leher. Limfoma non-Hodgkin sering dijumpai dengan penyakit ekstranodul di cincin Waldeyer.Tempat yang jarang terlibat adalah kelenjar tiroid, orbital, dan kelenjar parotis.Lebih dari 20% kasus tumor orbita disebabkan oleh gangguan lymphoproliferative dan gangguan lymphoproliferative tersebut adalah LNH. Insidensi LNH pada orbita meningkat 3-4% setiap tahunnya dan diperkirakan meningkat 50% dalam waktu 15 tahun ke depannya. Bahan-bahan kimia/asing yang mengenai mata pekerja merupakan salah satu faktor risiko yang meningkatkan insidensi penyakit ini.Terdapat limfoma lain pada mata yaitu limfoma intraokuler primer. Limfoma intraokuler primer sering terjadi pada retina dan vitreous. Gejala yang seing muncul yaitu pandangan kabur, floaters, fotofobia dan nyeri pada mata.Patogenesis dari limfoma ini tidak diketahui perjalanan penyakitnya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI MATAORBITA

Rongga orbita

Orbita digambarkan sebagai piramid berdinding empat yang berkonvergensi ke arah belakang.Dinding medial orbita kiri dan kanan terletak paralel dan dipisahkan oleh hidung. Pada setiap orbita, dinding lateral dan medial membentuk sudut 45 derajat.Tulang-tulang pembentuk orbita : Os. Frontal Os. Spenoidal Os. Zygomaticus Os. Palatinum Os. Maxila Os. Ethmoidales Os. Lakrimalis

Tulang Orbita tampak medial

Orbita berbentuk buah pir, dengan nervus optikus sebagai tangkainya. Lingkaran anterior lebih kecil sedikit dari pada lingkaran di bagian dalam tepiannya yang merupakan pelindung yang kuat.Volume orbita kira-kira 30cc dan bola mata hanya menempati seperlima bagian ruangan, selebihnya diisi lemak dan otot.Pada bagian anterior, terdapat septum orbitae (pemisah antara palpebra dan orbita).Orbita berisi : Otot penggerak bola mata N. Optikus Glandula Lakrimalis Lemak

Orbita berhubungan dengan sinus frontalis di atas, sinus maksilaris di bawah, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoid di medial.Dasar orbita yang tipis mudah rusak oleh trauma langsung terhadap bola mata sehingga menimbulkan 'fraktur blow-out' dengan herniasi isi orbita ke dalam antrum maksilaris.Infeksi pada sinus ethmoidalis dan sphenoid dapat mengikis dinding medialnya yang setipis kertas (lamina papyracea) dan mengenai orbita. Defek pada atapnya (misal : neurofibromatosis) dapat berakibat timbulnya pulsasi pada bola mata yang berasal dari otak.

Dinding Orbita:

1. Atap orbita : terdiri dari facies orbitalis osis frontalis. Di bagian anterior lateral atas, terdapat fosa lakrimalis yang berisi kelenjar lakrimal. Di posterior atap, terdapat ala parva osis sphenoid yang mengandung kanalis optikus.2. Dinding lateral : dipisahkan dari bagian atap oleh fisura ortalis superior yang memisahkan ala parva dan ala magna osis sphenoidalis. Bagian anterior dinding lateral dibentuk oleh facies orbitalis osis zygomatici (malar), merupakan bagian terkuat orbita.3. Dasar orbita : dipisahkan dari dinding lateral oleh fisura orbitalis inferior. Bagian dasar yang luas terbentuk dari pars orbitalis osis maksilaris (merupakan tempat yang paling sering terjadinya fraktur). Processus orbitalis osis platini membentuk daerah segitiga kecil pada dasar posterior.

Apeks Orbita merupakan tempat masuknya semua saraf dan pembuluh darah ke mata serta merupakan tempat asal semua otot ekstraokuler kecuali obliquus inferior.1. Fisura orbitalis superior : vena ophthalmika superior, nervus lakrimalis, frontalis, dan trabekularis => berjalan di bagian lateral fisura (di luar anulus Zinn) Ramus superior dan inferior nervus okulomotorius, nervus abducens dan nasosiliaris => berjalan di bagian medial fisura (di dalam anulus Zinn) Vena ophthalmika superior sering bergabung dengan vena ophthalmika inferior sebelum keluar dari orbita.

2. Kanalis Optikus (di dalam anulus Zinn) => dilalui nervus optikus dan arteri ophthalmika

Perdarahan

Arteri Carotis Interna => Arteri Ophtalmika (berjalan dengan nervus optikus menuju orbita dan bercabang) Arteri Retina Sentralis (cabang intraorbita pertama, memasuki nervus optikus sekitar 8-15mm di belakang bola mata. Arteri Lakrimalis => perdarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas. Arteri Siliaris Posterior Longa dan Brevis (cabang muskularis ke berbagai otot orbita)Longa => perdarahi korpus siliare dan beranastomose dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.Brevis => perdarahi khoroid dan bagian nervus optikus Arteri Siliaris Anterior (cabang muskularis menuju muskuli recti) => perdarahi sklera, episklera, limbus, konjungtiva. Arteri Palpebralis (cabang ke kelopak mata)

ACPL (Artery Cyliaris Posterior Longus) + ACA (Artery Cyliaris Anterior) => di pangkal iris membentuk sirkulus arteriosus mayor.

Bola Mata

Bola mata dewasa normal hampir mendekati bulat dengan diameter anteroposterior sekita 24,5 mm. Pada saat bayi, panjangnya 16,5 mm.

Bola Mata

Konjungtiva

Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus : Permukaan posterior kelopak mata => konjungtiva palpebralisK. Palpebralis melekat erat ke tarsus Permukaan anterior sklera => konjungtiva bulbarisK. bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-kali.Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik.Kecuali di limbus (tempat kapsul tenon menyatu dengan konjungtiva sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris melekat longgar dengan kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Konjungtiva fornikPerdarahan konjungtiva versal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis.Persarafannya berasal dari cabang pertama N. V.

Kapsula Tenon (Fascia Bulbi)Kapsula Tenon merupakan membran fibrosa yang membungkus bola mata dari limbus sampai ke nervus optikus.Di dekat limbus, konjungtiva-kapsula tenon-dan episklera menyatu. Segmen bawah kapsula tenon tebal dan menyatu dengan fasia muskulus rektus inferior dan muskulus obliquus inferior membentuk ligamentum suspensorium bulbi (Ligamentum Lock-wood), tempat terletaknya bola mata.

Sklera dan Episklera

SkleraSklera merupakan 5/6 bagian dinding bola mata berupa jaringan kuat yang berwarna putih.Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh lapisan tipis jaringan elastik halus yang disebut episklera.Dibagian anterior, sklera bersambung dengan kornea dan dibagian belakang bersambung dengan duramater nervus optikus.Beberapa sklera berjalan melintang bagian anterior nervus optikus sebagai Lamina Cribrosa.Persarafan sklera berasal dari saraf-saraf siliaris.Episklera banyak mengandung pembuluh darah.

Lapisan pembungkus mata bagian luar : Episklera Sklera Lamina Fusca: lapisan berpigmen coklat pada permukaan dalam sklera yang membentuk lapisan luar ruang suprakoroid.KorneaKornea merupakan lapisan transparan yang melapisi 1/3 depan bola mata. Permukaannya licin dan mengkilat.Lebih tebal di bagian pinggir dari pada sentral.Indeks biasnya 1,337 dengan daya refraksi + 42 dioptri.