referat pneumotoraks e.c tb

Download Referat Pneumotoraks e.c TB

Post on 10-Aug-2015

1.034 views

Category:

Documents

128 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFERAT

PNEUMOTORAKS ET CAUSA TUBERKULOSIS

Oleh: Billy Tjoanatan (0210145)

Pembimbing: dr. Andre Suhendra, Sp.P

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM SUBBAGIAN PULMONOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG 20121

BAB I PENDAHULUAN Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada. Pnumotoraks dapat terjadi spontan atau traumatik. Pneumotoraks spontan dibagi menjadi primer dan sekunder. Primer jika penyebab tidak diketahui, sedangkan sekunder jika terdapat latar belakang penyakit paru sebelumnya. Pneumotoraks traumatik dibagi dua yaitu yang iatrogenik dan bukan iatrogenik. Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak dan tidak diketahui. Perbandingan pria dan wanita 5:1. Pneumotoraks spontan primer sering dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat paru sebelumnya., dan lebih sering pada pria dengan usia dekade 3 dan 4. Salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81% kasus pneumotoraks spontan primer berusia kurang dari 45 tahun. Pada referat ini akan dibahas terutama tentang pneumotoraks spontan sekunder yang terjadi pada pasien tuberkulosis. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacteria. Pada manusia kebanyakan yang menginfeksi adalah Mycobacterium tuberculosis. Biasanya tuberkulosis menyerang paru, namun dapat juga menyerang Central Nervus System, sistem limfatikus, sistem urinaria, sistem pencernaan, tulang, sendi dan lainnya. Karena penyakit TB bersifat kronis dan resistensi kuman terhadap obat cukup tinggi, maka tidak jarang menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah pneumotoraks. Di mana pnumotoraks yang terjadi adalah pneumotoraks spontan sekunder. Seaton dkk. Melaporkan bahwa pasien tuberkulosis aktif mengalami komplikasi pneumotoraks sekitar 1,4% dan jika terdapat kavitas paru, komplikasi meningkat lebih dari 90%.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacteria. Pada manusia kebanyakan yang menginfeksi adalah Mycobacterium tuberculosis. Selain itu terdapat juga Mycobacterium bovis, Mycobacterium africanum, Mycobacterium canetti, dan Mycobacterium microti. Biasanya tuberkulosis menyerang paru, namun dapat juga menyerang Central Nervus System, sistem limfatikus, sistem urinaria, sistem pencernaan, tulang, sendi dan lainnya. Mycobacterium hidup selama tuberculosis merupakan dalam bakteri berbentuk serta batang lambat pleomorfik gram positif, berukuran 0,4 3 , mempunyai sifat tahan asam, dapat berminggu-minggu keadaan kering, bermultiplikasi (setiap 15 sampai 20 jam). Bakteri ini merupakan salah satu jenis bakteri yang bersifat intracellular pathogen pada hewan dan manusia. Selain Mycobacterium tuberculosis, spesies lainnya yang juga dapat menimbulkan africanum, tuberkulosis dan adalah Mycobacterium microti bovis, Mycobacterium Mycobacterium (en.wikipedia.org,

www.microbiologybytes.com).

3

2.2 Patogenesis Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan mempermudah proses penularan dan berperan sekali dalam peningkatan jumlah kasus TB Penularan TB biasanya melalui udara, yaitu dengan inhalasi droplet nukleus yang mengandung basil TB. Hanya droplet nukleus ukuran 1-5 mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran napas sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus maupun alveolus.

Gambar 2. Tuberkulosis menyebar lewat udara Di bronkiolus dan alveolus inilah basil tuberkulosis berkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah tanpa perlawanan yang berarti dari pejamu karena belum ada kekebalan awal. Di dalam alveolus makrofag akan memfagositosis sebagian basil tuberkulosis tetapi belum mampu membunuhnya. Sebagian basil TB dalam makrofag umumnya dapat tetap hidup dan berkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe regional maupun melalui aliran darah sehingga dapat mencapai berbagai organ tubuh. Di dalam organ tersebut akan terjadi transfer antigen ke limfosit. Basil TB hampir selalu dapat bersarang di sumsum tulang, hepar dan limfe tetapi tidak selalu dapat berkembang biak secara luas. Basil TB di lapangan atas paru, ginjal, tulang, dan otak lebih mudah berkembang biak terutama sebelum imunitas spesifik terbentuk.

4

Imunitas spesifik yang terbentuk biasanya cukup kuat untuk menghambat perkembangbiakan basil TB lebih lanjut. Dengan demikian lesi TB akan sembuh dan tidak ada tanda dan gejala klinis. Pada sebagian kasus imunitas spesifik yang terbentuk tidak cukup kuat sehingga terjadi penyakit TB dalam 12 bulan setelah infeksi dan pada sebagian penderita TB terjadi setelah lebih dari 12 bulan setelah infeksi. Kurang lebih 10% individu yang terkena infeksi TB akan menderita penyakit TB dalam beberapa bulan atau beberapa tahun setelah infeksi. Kemungkinan menjadi sakit TB lebih besar pada balita, pubertas dan akil balik. Keadaan yang menyebabkan turunnya imunitas memperbesar kemungkinan sakit TB, misalnya karena infeksi HIV dan pemakaian kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya yang lama, demikian juga pada diabetes melitus. Hipersensitivitas terhadap beberapa komponen basil TB dapat dilihat pada uji kulit dengan tuberkulin yang biasanya terjadi 2-10 minggu setelah infeksi. Dalam waktu 2-10 minggu ini juga terjadi cell-mediated immune response. Setelah terjadi infeksi pertama, basil TB yang menyebar ke seluruh badan suatu saat di kemudian hari dapat berkembang biak dan menyebabkan penyakit. Penyakit TB dapat timbul dalam 12 bulan setelah infeksi, tapi dapat juga setelah 1 tahun atau lebih. Lesi TB paling sering terjadi di lapangan atas paru. Tuberkulosis post primer dimulai dengan serangan dini, yang umumnya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun anterior. Sarang dini mulamula berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan berikut : 1. Direabsorbsi kembali dan sembuh dengan tidak meninggalkan cacat. 2. Sarang tadi mula-mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri, menjadi lebih keras, terjadi perkapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga terjadi bahwa sarang tadi menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kavitas, bila jaringan keju dibatukan keluar.

5

3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kavitas mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya akan menjadi tebal (kavitas sklerotik). Yang kemudian akan terjadi : Mungkin belum kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru, sarang ini akan mengikuti perjalanan seperti yang disebutkan di atas. Dapat memadati dan membungkus diri (encapsulated) dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi mungkin juga aktif kembali mencair lagi dan menjadi kavitas lagi. Kavitas bisa juga menjadi bersih dan menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil. Mungkin berakhir sebagai kavitas yang terbungkus, dan menciut kelihatan seperti bintang (stellate shaped). Sarang-sarang aktif, eksudatif. Sarang-sarang yang terletak antara aktif dan sembuh.

Gambar 3. Tuberkel Apabila kavitas yang terbentuk ini pecah maka akan terjadi pneumotoraks di mana udara dari dalam paru akan masuk ke dalam rongga pleura sehingga paru menjadi kolaps.

6

Efusi pleura dapat terjadi setiap saat setelah infeksi primer. Efusi biasanya terjadi karena tuberkuloprotein dari paru masuk ke rongga pleura sehingga terjadi reaksi inflamasi dan terjadi pengumpulan cairan jernih di dalamnya. TB milier dapat terjadi pada masa dini, tetapi dapat juga terjadi setelah beberapa waktu kemudian akibat erosi fokus di dinding pembuluh darah. TB milier dapat mengenai banyak organ misalnya selaput otak, sehingga terjadi meningitis TB, dapat juga mengenai tulang, ginjal dan organ lain. Pada individu normal, respons imunologik terhadap infeksi tuberkulosis cukup memberi perlindungan terhadap infeksi tambahan berikutnya. Risiko terjadinya reinfeksi tergantung pada intensitas terpaparnya dan sistem imun individu yang bersangkutan. Pada pasien dengan infeksi HIV terjadi penekanan pada imun respons. Jadi kalau terkena TB sering terjadi TB yang berat dan sering gambaran klinik TB dengan HIV berbeda dengan TB biasa. 2.3 Klasifikasi Tuberkulosis 2.3.1 Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) 1. Tuberkulosis paru BTA (+) : a. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak hasilnya BTA(+) b. satu spesimen dahak BTA(+) dan radiologis menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif c. satu spesimen dahak BTA (+) dan biakan (+) 2. Tuberkulosis paru BTA (-) a. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA (-), gambaran klinis dan kelainan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif b. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA (-) dan biakan M. Tuberculosis (+)

7

2.3.2

Berdasarkan tipe pasien

a. Kasus baru Pasien belum pernah mendapat pengobatan OAT atau pernah mendapat OAT kurang dari 1 bulan. b. Kasus relaps Pasien sebelumnya sudah mendapat pengobatan tuberkulosis kemudian dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat karena BTA (+) atau biakan (+) c. Kasus drop out Pasien menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat dalam 2 bulan berturut-turut sebelum pengobatan selesai. d. Kasus gagal pengobatan Pasien BTA (+) yang masih (+) atau kembali menjadi (+) lagi pada akhir bulan ke-5 atau pada akhir pengobatan. e. Kasus kronik Pasien dengan BTA (+) setelai selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dan dengan pengawasan yang baik f. Kasus Bekas TB Hasil pemeriksaan BTA (-), biakan (-), gambaran radiologis TB tidak aktif atau foto serial menunjukan gambaran menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih menduk