makalah klmpok 4.docx

35
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya. Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman yang telah lalu. Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup bersama dalam suatu terutama yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponenya. Maupun oleh kombinasi dan struktur sifat-sifatnya yang

Upload: romansa-tan

Post on 17-Feb-2015

145 views

Category:

Documents


3 download

TRANSCRIPT

Page 1: makalah klmpok 4.docx

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi

alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh

manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula

kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya.

Dalam abad ke XX usaha-usaha diarahkan untuk menyederhanakan eskripsi dari vegetasi dengan

tujuan untuk untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan standart dasar dalam

evaluasi secara kuantitaif. Berbagai metode analisis vegetasi dikembangkan, dengan penjabaran

data secara detail melalui cara coding dan tabulasi. Berbagai metode yang digemari dan banyak

diterima oleh banyak pakar adalah dari Raun kiaer (1913, 1918), Clements (1905, 1916), Du

Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun Bienquet (1928). Deskripsi umum dari vegetasi dan

komunitas tumbuhan melalui bentuk hidup dan species dominan adalah tekanan pada zaman

yang telah lalu.

Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa

vegetasi merupakan suatu pengelompokan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup bersama dalam

suatu terutama yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponenya. Maupun

oleh kombinasi dan struktur sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara

umum atau fungsional. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk

menganalisis dan juga sintesis sehingga akan membantu dan mendiskripsikan suatu vegetasi

sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan.

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi

secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi

adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi

diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari

penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi

kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan

pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu (1)

Page 2: makalah klmpok 4.docx

pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan

dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang

keragaman jenis dalam suatu areal; dan (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan

faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik

sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode

Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kwadran, Metode titik sentuh, Metode garis

sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).

Berdasarkan model geometrik yang dihasilkan dari hasil analisis, dapat ditarik suatu

kesimpulan bahwa titik yang saling berdekatan merupakan unit-unit sampling yang mempunyai

pola kesamaan dalam komunitas, sedangkan titik-titik yang saling berjauhan adalah unit-unit

sampling yang mempunyai perbedaan komunitas. Berdasarkan perbedaan tersebut hasil analisis

ordinasi dapat dilanjutkan dengan mengkorelasikan pola komunitas pada unit-unit sampling

dengan faktor lingkungan dari unit-unit sampling tersebut, sehingga dapat diketahui penyebab

perbedaan pola komunitas di antara unit-unit sampling tersebut .

Ada berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya

dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering

sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutrhkan plot dengan ukuran

tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup

tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan

membutuhkanwaktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk

hutan atau vegetasi kompleks lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Kajian Komunitas Tumbuhan?

2. Bagaimana Analisis vegetasi?

3. Apa Tehknik pencuplikan vegetasi tumbuhan?

Page 3: makalah klmpok 4.docx

1.3 Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui :

1. Kajian Komunitas Tumbuhan

2. Analisis vegetasi

3. Tehknik pencuplikan vegetasi tumbuhan

Page 4: makalah klmpok 4.docx

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kajian Komunitas Tumbuhan

Struktur komunitas vegetasi ditentukan oleh kerapatan, dominansi, frekuensi dan

keanekaragaman vegetasi (Nursal et al., 2005). Setiap vegetasi menunjukkan bentuk

pertumbuhan, ukuran dan bentuk tajuk, fungsi, ukuran dan tekstur daun yang berbeda-beda.

Kerapatan, keanekaragaman dan bentuk vegetasi akan menghasilkan bentuk asosiasi dalam

sistem perakaran dan tajuk yang akan menentukan perbedaan fungsi. Sistem perakaran akan

menangkap sedimen dan membersihkan zat-zat pencemar. Kanopi dapat mengatur suhu,

kelembaban udara, meredam energi gelombang dan angin sehingga dapat menahan abrasi dan

akresi. Vegetasi dapat menyumbang seresah sebagai penghasil bahan organik dan meningk

Struktur komunitas vegetasi juga mempengaruhi kondisi kualitas lingkungan atmosfer dan

hidrologis (Mazda et al., 2007; Saparinto, 2007)

A.    Pengertian Komunitas Tumbuhan

            Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan

daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Makhluk hidup

ataupun organisme di alam ini tidak bisa hidup secara terpisah atua sendiri-sendiri, individu-

individu ini akan berhimpun kedalam suatu kelompok membentuk populasi yang kemudian

populasi-populasi ini akan membentuk suatu asosiasi yang dinamakan dengan komunitas. Jadi

komunitas tumbuhan adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan

daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

            Komunitas dalam arti ekologi mengacu kepada kumpulan populasi yang terdiri dari

spesies yang berlainan, yang menempati suatu daerah tertentu. sedangkan pengertian komunitas

secara umum sendiri adalah kumpulan populasi makhluk hidup yang saling berinteraksi dan

tinggal di suatu habitat. Setiap komunitas tidak harus menempati daerah yang luas, artinya

komunitas dapat mempunyai ukuran berapa pun. Misalnya dalam  suatu aquarium yang terdiri

dari ikan, siput, hydrilla sebagai komponen biotik, serta air, bebatuan sebagai komponen abiotik

dapat disebut sebagai suatu komunitas. Komunitas tumbuhan di daerah trofik biasanya bersifat

Page 5: makalah klmpok 4.docx

rumit dan tidak mudah diberi nama menurut satu atau dua spesies yang paling berkuasa

sebagaimana yang umum di daerah yang beriklim sedang.

            Dalam tingkatan komunitas ciri, sifat dan kemampuannya lebih tinggi dari populasi

misalnya dalam hal interaksi. Dalam komunitas bisa terjadi interaksi antar populasi, tidak hanya

antar individu atau spesies seperti pada populasi. Hubungan antar populasi ini menggambarkan

berbagai keadaan yaitu bisa saling menguntungkan sehingga terwujud suatu hubungan timbal

balik yang positif bagi kedua belah pihak (mutualisme). Sebaliknya bisa juga terjadi hubungan

salah satu pihak dirugikan (parasitisme).

            Apabila suatu komunitas sudah terbentuk, maka populasi-populasi yang ada haruslah

hidup berdampingan atau bertetangga satu sama lainnya. Dalam biosistem komunitas ini

berasosiasi dengan komponen abiotik membentuk suatu ekosistem.

Ada beberapa definisi tentang komunitas yang disampaikan oleh beberapa ahli ekologi sebagai

berikut.

1.    Danseraeu

Danseraeu mendefinisikan komunitas adalah organisasi organisme secara spatial dan temporal

dengan perbedaan derajat integrasi, dan yang jelas komunitas mempunyai level organisasi yang

lebih kompleks dari organisme sendiri.

2.     Walter

Walter menyampaikan bahwa komunitas tumbuhan sebagai suatu kombinasi spesies yang tetap

yang terdapat secara alami, dan dalam keseimbangan ekologi baik diantara tumbuhan sendiri

maupun dengan lingkungannya.

3.    Oosting

Oosting membuat definisi kerja tentang komunitas tumbuhan yaitu: komunitas adalah kumpulan

(aggregration) berbagai organisme hidup yang mempunyai hubungan timbal balik (mutual

relationship) baik diantara mereka sendiri maupun dengan lingkungannya

4.    Mc Nauchton & Wolf

Mc Nauchton & Wolf mendeskripsikan populasi yang terjadi bersamaan dalam ruang dan waktu,

secara fungsional berhubungan satu sama lain membentuk unit ekologi yaitu komunitas.

5.    Kendeigh

Page 6: makalah klmpok 4.docx

Kendeigh (1980), menuliskan bahwa ekologi tumbuhan berhubungan dengan kajian komunitas

tumbuhan atau asosiasi tumbuhan. Satuan dasar di dalam sosiologi tumbuhan adalah asosiasi,

yaitu komunitas tumbuhan dengan komposisi floristik tertentu. Bagi ahli sosiologi tumbuhan,

suatu asosiasi adalah seperti suatu spesies.

            Kelompok tumbuhan secara bersama atau komunitas tumbuhan sering juga disebut

sebagai masyarakat tumbuhan atau vegetasi. Vegetasi atau komunitas tidak setara dengan flora

suatu daerah. Flora dalam bentuk sederhana mengacu kepada daftar spesies atau taksa tumbuhan

yang hidup didaerah tersebut. Flora biasanya tidak memberi informasi mengenai kelimpahan,

nilai penting dan keunikan yang terdapat pada suatu komunitas.

Vegetasi pada dasarnya terbentuk sebagai akibat dari adanya dua fenomena penting, yaitu :

1.      Adanya perbedaan dalam toleransi terhadap lingkungan

2.      Adanya heterogenitas dari lingkungan

Berdasarkan kedua fenomena itu, vegetasi sering juga didefenisikan sebagai lapisan hijau

penutup bumi, untuk membedakannya dengan tanah yang biasa disebut lapisan merah.

Vegetasi di ala mini terbentuk sebagai hasil interaksi secara tital dari berbagai factor lingkungan.

Dengan demikian secara matematis vegetasi bisa dinyatakan sebagai fungsi dari tanah, iklim,

hewan dan flora.

B. Klasifikasi Komunitas

Odum, 1993 (dalam Ngurah Rai, 1999), menyampaikan bahwa komunitas dapat disebut

dan diklasifikasikan menurut:

 (1) Bentuk atau sifat struktur utama, misalnya jenis dominan, bentuk-bentuk hidup atau

indikator-indikator,

(2)  Habitat fisik dari komunitas, atau

(3) Sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional seperti misalnya tipe metabolisme komunitas.

Tidak ada peraturan yang pasti untuk penamaan komunitas yang telah dirumuskan, seperti

yang telah diperbuat untuk penamaan atau pengklasifikasian organismee. Klasifikasi yang

didasarkan pada sifat-sifat struktural agak spesifik untuk lingkungan tertentu, tetapi usaha-usaha

untuk membuat klasifikasi yang bersifat universal berdasarkan dasar ini sebagian besar belum

Page 7: makalah klmpok 4.docx

memuaskan. Sifat-sifat fungsional memberikan dasar yang lebih baik untuk membandingkan

semua komunitas dalam habitat yang sangat berbeda, misalnya daratan, laut, atau air tawar.

   Klasifikasi komunitas yang dilakukan oleh Whittaker bersifat hirarki, tingkat tertinggi

adalah pembagian dari vegetasi dunia ke dalam kategori fisiognomi yang dapat dikenal atau

bioma, yang distribusinya terutama diatur oleh pola iklim global. Bioma tak dapat dikenal

dengan komposisi jenis, sebab berbagai jenis biasanya dominan di berbagai bagian dunia. Suatu

klasifikasi tingkat terendah dari bioma terestrial berdasarkan suhu dan curah hujan. Holdridge

dan sejawatnya, 1971 (dalam Ngurah Rai, 1999), telah menyusun suatu skema yang lebih terinci,

yang dikembangkan terutama untuk klasifikasi hutan-hutan tropika. Metode Holdridge

menggunakan variabel iklim yang lebih kompleks dan mencakup gradasi lintang dan elevasi.

Klasifikasi Holdridge menunjukkan bioma dengan jumlah yang lebih besar pada lintang yang

lebih rendah dan hal ini mungkin saja menyebabkan keanekaragaman regional yang lebih besar

di daerah tropika.

   Suatu metode klasifikasi pelengkap adalah klasifikasi bentuk hidup (growth form), yang

mengkategorikan tumbuhan menurut pola pertumbuhan dan pola perkembangbiakannya. Sistem

Raunkiaer yang didasarkan atas jaringan/organ bertahunan (perenneting tissue) bervariasi

terhadap lintang.

   Unesco (1973) dan Elten (1968) membuat klasifikasi tipe vegetasi yang didasarkan pada

persentase kehadiran herba, perdu dan pohon disuatu bentuk vegetasi. Metode ini tidak membuat

klasifikasi dari dunia tumbuhan tetapi langsung menganalisis bentuk atau tipe vegetasi di suatu

kawasan didasarkan pada penutupan perdu dan pohon, juga bisa diperhitungkan pula penutup

herbanya.

   Hasil akhir bentuk vegetasi diklasifikasikan dalam:

Vegetasi (semi) alami Vegetasi binaan

-       Hutan padat/ rapat -   Hutan tanaman

-       Hutan renggang -   Perkebunan

-       Hutan sangat renggang (woodland) -   Pertanian lahan kering (ladang)

-       Savanna -   Sawah

-       Semak belukar

-       Vegetasi rumput

Page 8: makalah klmpok 4.docx

 Keanekaragaman/ Diversitas Jenis

Soetjipta, 1993 (dalam Ngurah Rai, 1999), menyebutkan ada lima ciri komunitas yang telah

diukur dan dikaji adalah:

1.      Keragaman spesies, dapat dipermasalahkan spesies hewan dan tumbuhan yang manakah yang

hidup dalam suatu komunitas tertentu. Deskripsi spesies semacam ini merupakan ukuran

sederhana bagi kekayaan spesies atau keragaman spesies/ diversitas spesies.

2.      Bentuk dan struktur pertumbuhan. Tipe komunitas dapat diberikan dengan kategori utama

bentuk pertumbuhan: pohon, perdu atau lumut selanjutnya ciri ini dapat di rinci ke dalam

kategori bentuk pertumbuhan lebih kecil misalnya pohon yang berdaun lebar dan pohon berdaun

jarum. Bentuk pertumbuhan ini dapat menentukan stratifikasi.

3.      Dominansi. Dapat diamati bahwa tidak semua spesies dalam komunitas sama penting

menentukan sifat komunitas. Dari beratus spesies yang mungkin ada di dalam suatu komunitas,

secara nisbi hanya beberapa saja yang berpengaruh mampu mengendalikan komunitas tersebut.

Spesies dominan adalah spesies yang secara ekologik sangat berhasil dan yang mampu

menentukan kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhannya.

4.      Kelimpahan nisbi. Proporsi spesies yang berbeda dalam spesies dapat ditentukan.

5.      Struktur tropik. Hubungan makanan spesies dalam komunitas akan menentukan arus energi

dan bahan dari tumbuhan ke herbivora ke karnivora.

     Barbour et al, 1987 (dalam Ngurah Rai, 1999) menyebutkan ada delapan sifat/atribut

komunitas tumbuhan seperti tampak pada tabel di bawah ini.

1.    Fisiognom

-       Arsitek

-       Life form

-       Cover, leaf area index (LAI)

-       Fenologi

5.    Daur nutrient

-       Kebutuhan nutrien

-       Kapasitas penyimpanan

-       Laju kembalinya nutrien ke tanah

-       Efisiensi penahanan nutrien pada daur

nutrien.

2.    Komposisi spesies

-       Spesies karakteristik

-       Spesies umum dan kebetulan

-       Arti penting relatif (cover, densitas dll)

6.    Perubahan atau perkembangan

-       Menurut waktu

-       Suksesi

-       Stabilitas

Page 9: makalah klmpok 4.docx

-       Tanggapan terhadap perubahan klimatik

-       Evolusi (?)

3.    Pola spesies

-       Spatial/ ruang

-       Luas niche dan tumpang tindih

7.    Produktivitas

-       Biomassa

-       Produktivitas bersih tahunan

-       Efesiensi produktivitas bersih

-       Alokasi produksi bersih

4.    Diversitas spesies

-       Kekayaan

-       Kerataan

-       Diversitas (dalam stand dan diantara

stand)

8.    Kreasi dan pengendalian lingkungan

mikro

C. Interaksi Dalam Komunitas

Interaksi Antar Organisme

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu

akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam

satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di

sekitar kita.Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang

erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.

1.    Netral

Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak

menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara

capung dan sapi.

2.    Predasi

Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat

sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai

pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung

hantu dengan tikus.

Page 10: makalah klmpok 4.docx

3.   Parasitisme

Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme

hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat

merugikan inangnya.contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan

benalu dengan pohon inang.

4.  Komensalisme

Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk

kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies

lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.

5.  Mutualisme

Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling

menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar

kacang-kacangan.

Interaksi Antar populasi

Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau

tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang

dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans)

jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik.

Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp.

dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang

sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan

antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.

Page 11: makalah klmpok 4.docx

Interaksi Antar Komunitas

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling

berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah

disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma.

Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer.

Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air

sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.

Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi

juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur

karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

Interaksi Antara Komponen Biotik dengan Abiotik

Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara

organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain

aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman

biotik, serta siklus materi.

Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan

keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas

suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya

dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru

2.2     Analisis Vegetasi

Vegetasi tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai

keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat

1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang

dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi

secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi

adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi

Page 12: makalah klmpok 4.docx

diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari

penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi

kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.

Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3

kategori yaitu

(1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan

membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda

(2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal

(3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau

beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik

sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode

Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kuadran, Metode titik sentuh, Metode garis

sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).

Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang

ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada

dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa

vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh

yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva

Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum

suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar

hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode

jalur.

Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Mueller-Dombois dan

E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau

secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu. Untuk memperoleh informasi vegetasi

secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar

koefisien uketidaksamaan. Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola

vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang

sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta

kelimpahannya akan mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda

Page 13: makalah klmpok 4.docx

akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis-

jenis dengan perubahan faktor lingkungan.

Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan,

dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan

untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis

yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh

individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis

yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi

diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar

(Rohman, 2001).

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu

vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya.

Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam

bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada

(Syafei, 1990).

2.3 Teknik Pencuplikan

1) Kuadrat

Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh

(plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang,

contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka

disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika

tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai

anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).

Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi,

dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan

untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering sekali

disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu,

area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar

sehingga untuk melakukan analisa dengan melakukan perhitungan satu persatu akan

Page 14: makalah klmpok 4.docx

membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk

hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan

dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam

menentukan struktur komunitas.

Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai

ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat

persegi, persegi panjang atau lingkaran. Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat

berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa

bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk

analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel

kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990).

Metode kuadrat juga ada beberapa jenis:

a.       Liat quadrat: Spesies di luar petak sampel dicatat.

b.      Count/list count quadrat: Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada

beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies

yang ada di daerah yang diselidiki.

c.       Cover quadrat (basal area kuadrat): Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah yag tertutup

vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang

diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari

vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman.

d.      Chart quadrat: Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini ter-utama

berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap-tiap

spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan pantograf dan planimeter.

Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu

persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan

pengukuran yang relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting

dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).

Page 15: makalah klmpok 4.docx

Suatu contoh untuk suatu vegetasi hutan alami atau yang berbentuk seperti hutan luas kuadrat

minimal 200 m2, kemudian vegetasi semak belukar 2 – 5 m2, dan vegetasi sederhana sperti

rumput cukup dengan ukuran kuadrat seluas 1 meter persegi.

Sistem Analisis dengan metode kuadrat:

Kerapatan,

ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area

tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis

tumbuhan. Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai

dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N),

biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990).

Keragaman spesies

dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai

jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapaat

dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah spesies

dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya

bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1994)

.

Nilai penting

merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relative dari sejumlah

variabel yangb telah diukur (kerapatan relative, kerimbunan relative, dan frekuensi relatif). Jika

disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:

Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:

Kerapatan   (K)  =  Jumlah individu  

Luas petak ukur

Kerapatan relatif (KR)   = Kerapatan satu jenis     x 100% 

Kerapatan seluruh jenis

Frekwensi     (F)   =  Jumlah petak penemuan suatu jenis 

Jumlah seluruh petak

Page 16: makalah klmpok 4.docx

Frekwen Frekwensi relatif  (FR)      =  Frekwensi suatu jenis  x 100%

Frekwensi seluruh jenis

Dominansi    (D)   = Luas Bidang Dasar suatu jenis    

Luas petak ukur

Domina Dominansi Relative (DR)    = Dominansi suatu jenis  x 100% 

Dominansi seluruh jenis

Nilai Penting               =  Kr + Dr + Fr

Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang

didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat,

dikalikan 100% dalam table. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai

penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis tumbuhan yang memiliki harga

nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut

(Surasana, 1990).

Cara kuadran ini memiliki keunggulan yaitu terlanjur lebih mudah dan sedehana. Cara

pengambilan datanya yaitu sebagai berikut :

1. Cara kuadran point

Buat garis kompas

Tentukan titik pengamatan (plat)

Buat garis silang yang tegak lurus sehingga terbagi empat kuadran (daerah)

Pilih satu pohon yang terldekat dari titik pengamatan untuk masing-masing kuadran sesuai dengan

criteria (pohon,poles/tiang,sapling)

Ukur diameternya

Ukur jaraknnya terhadap titik pengamatan

Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah

tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada.

Hubungan ini dapaat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai

penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena

keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1994).

Page 17: makalah klmpok 4.docx

Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuarter

(Rugayah et al., 2005). Sebanyak 100 petak ukur dibuat secara berurutan dalam satu baris

dengan jarak antar petak ukur sepanjang 10 m. Petak-petak ukur dibuat memotong garis kontur

agar perubahan komposisi jenis tumbuhan dapat teramati (Shukla dan Chandel, 1996).

Berikut langkah-langkah kerja jika anda akan melakukan penelitian/analisis vegetasi metode

kudrat:

1.    Menyebarkan 5 kuadrat ukuran 1 m2 secara acak di suatu vegetasi tertentu.

2.    Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan

frekuensi.

3.   Melakukan perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap tumbuhan.

4.   Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis tumbuhan.

5.  Menyusun harga nilai penting yang sudah diperoleh pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa

tumbuhan yang nilai pentingnya tertinggi diletakkan pada tempat teratas.

6.  Memberi nama vegetasi yang telah digunakan berdasarkan 2 jenis / spesies yang memiliki nilai

penting terbesar (Anonymous, 2010).

2) Garis

Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis.

Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut.

Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek.

Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk

vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan

pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).

Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan,

dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan

untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis

yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh

individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis

yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi

Page 18: makalah klmpok 4.docx

diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar

(Rohman, 2001).

·         Metode Garis

1.      Menyebarkan 10 garis masing-masing sepanjang 1 meter secara acak atau sistematis.

2.      Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan

frekuensi.

3.      Melakukan perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap tumbuhan.

4.      Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis tumbuhan.

5.      Menyusun harga nilai penting yang sudah diperoleh pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa

tumbuhan yang nilai pentingnya tertinggi diletakkan pada tempat teratas.

6.      Memberi nama vegetasi yang telah digunakan berdasarkan 2 jenis / spesies yang memiliki nilai

penting terbesar (Anonymous,2010).

3) Titik

Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan

cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan

yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-

titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah

kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).

Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu

persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan

pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP.

Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-

sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas

(Michael, 1994).

·         Metode Intersepsi Titik

1.      Membuat 10 titik yang masing-masing titik berjarak 10 cm pada seutas tali raffia.

2.      menancapkan kawat atau lidi pada setiap titik dan menebar tali raffia tersebut secara acak atau

sistematis.

3.      Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan

frekuensi pada setiap tumbuhan yang mengenai setiap kawat atau lidi tersebut.

Page 19: makalah klmpok 4.docx

4.      Melakukan 10 kali pengamatan, sehingga akan diperoleh 10 seri titik.

5.      Melakukan perhitungan untuk mencari harga relatif dari setiap variabel untuk setiap tumbuhan.

6.      Melanjutkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dari setiap jenis tumbuhan.

7.      Menyusun harga nilai penting yang sudah diperoleh pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa

tumbuhan yang nilai pentingnya tertinggi diletakkan pada tempat teratas.

8.      Memberi nama vegetasi yang telah digunakan berdasarkan 2 jenis / spesies yang memiliki nilai

penting terbesar

4)      Kuarter

Analisa vegetasi dengan metode kuarter merupakan analisa vegetasi yang

mana dalam pelaksanaannya tidak menggunakan plot atau area sebagai alat bantu. Akan tetapi

cuplikan yang digunakan hanya berupa titik sehingga sering juga metode tanpa plot. Hal ini

karena pada metode ini tidak menggambarkan luas area tertentu, sama halnya dengan metode

kuadrat yaitu dalam memperoleh nilai penting harus terlebih dahulu dihitung kerapatan,

dominasi, dan frekuensinnya. Metode ini sering dipakai untuk vegetasi berbentuk hutan atau

vegetasi kompleks lainnya (Kusmana, 1997).

Komunitas adalah sejumlah mahluk hidup dari berbagai macam jenis yang hidup bersama

pada suatu daerah. Komposisi suatu komonitas ditentukan dengan tumbuhan dan hewan yang

kebetulan mampu hidup di tempat tersebut. Anggota komonitas ini tergantung pada penyesuaian

diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologis yang ada ditempat tersebut. Ada dua

konsep yang ditentukan dalam mengamati peta komonitas yaitu gradasi komonitas( populasi)

dan gradiasi lingkungan yaitu menyangkut jumlah factor lingkungantambak secara bersama-

sama. (Soedjiran,1989). Pada metode ini tumbuhan yang dianalisa bisa berupa empat tumbuhan

yang paling dekat dengan titik pengamatan yang masing-masing tumbuhan berada pada empat

sektor daerah dengan titik tadi sebagai pusat.

·         Daerah I adalah daerah barat – utara

·         Daerah II adalah daerah utara – timur

·         Daerah III adalah daerah timur – selatan

·         Daerah IV adalah daerah selatan – barat

Page 20: makalah klmpok 4.docx

Tumbuhan yang dianalisis (dicuplik datanya) disetiap sektor daerah pengamatan adalah hanya

satu pohon yang paling dekat dengan pusat pengamatan tadi (titik pusat). Data yang

dikumpulkan adalah jarak pohon ke titik pusat, diameter pohon.

Sistem Analisis dengan metode kuadran:

·         Jarak pohon rata-rata (d )=       jumlah semua jarak yang terukur

4 x jumlah titik pusat (n)

·         Kerapatan relatif =       jumlah individu sejenis x 100%

4 x n

·         Dominasi relatif     =      jumlah luas basal individu sejenis x 100%

jumlah total luas basal terukur

   Frekuensi relative = jumlah titik pusat yang mengandung suatu tumbuhan x 100%

jumlah titik pusat dari seluruh jenis tumbuhan

·         Luas rata-rata penguasaan area oleh suatu pohon = d2

·         Jumlah individu pohon untuk luas tertentu (L) = L / d2

·         Luas dari total = luas basal rata-rata x kerapatan

·         Nilai penting = Kr + Dr + Fr

5) Teknik Ordinasi

Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Mueller-Dombois dan

E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau

secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu. Untuk memperoleh informasi vegetasi

secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar

koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya.

Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa

sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan

mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling

berjauhan.Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis-jenis dengan

perubahan faktor lingkungan.

Ordinasi mencoba untuk meringkas data sampling dalam suatu lebih sederhana, lebih

sedikit cara pemakaian ruang dibanding metoda tabel. Bahkan suatu agak kecil perbedaan table

Suatu ordinasi data yang sama bisa menjadi satu grafik kecil yang menunjukan 19 poin-poin

Page 21: makalah klmpok 4.docx

penyebaran ruang. Masing-Masing titik mewakili suatu letak, dan jarak antara poin-poin

mewakili derajat tingkat perbedaan atau persamaannya. Sekilas, seseorang dapat melihat lihat

jika ada pola dalam hubungan.

Sasaran ordinasi bukanlah untuk menggambarkan bentuk di sekitar label dan letak

mereka yang sama bagian dari suatu asosiasi melainkan, untuk menunjukkan suatu pola

hubungan kontinue. Sungguh, sebagian besar informasi memuat data asli yang hilang dalam

ordinasi diagram, tetapi kehilangan ini akibat banyak bentuk dari reduksi data, tidak hanya

ordinasi (Anonymous, 2010).

Page 22: makalah klmpok 4.docx

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

     Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa

jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat (Marsono, 1977).

       Analisis vegetasi atau studi komunitas adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis)

dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan,

1978).

        Macam-macam metode analisis vegetasi yaitu metode destruktif, metode nondestruktif, metode

floristik, dan metode nonfloristik.

        Tehnik Pencuplikan dalam analisis vegetasi diantaranya Kuadrat, Garis, Titik, Kuarter, Teknik

ordinasi. Masing-masing Tehnik ini memiliki ketentuan masing-masing.

3.2 Saran

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai penuis

mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk membantu penyempurnaan makalah ini.

Page 23: makalah klmpok 4.docx

DAFTAR PUSTAKA

Hardjosuwarn, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM:

Yogyakarta.

Heriyanto, N.M dan Garsetiasih, R. 2004. Potensi Pohon Kulim (Scorodocarpus borneensis

Becc). Kelompok Hutan Gelawan Kampar: Riau.

Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta.

Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian: Bogor

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press:

Jakarta.

Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.

JICA: Malang

Soerianegara, I  dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor:

Bogor.

Suprianto, Bambang. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. UPI: Bandung.