makalah k3 klmpok 13

of 21 /21

Click here to load reader

Upload: diniaryani

Post on 31-Jul-2015

502 views

Category:

Documents


74 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Page 1: makalah k3 klmpok 13

MAKALAH KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA

“ CUACA KERJA ”

Disusun Oleh :

Kelompok 13

Irma Suryanti L2J008038

Khairul Amri L2J008040

Nurlita Harsanti L2J008051

Renita Muninggar L2J008061

Alfiza Fahmi L2J008080

Rani Andri L2J007045

Ichsan Luhur L2J605299

Program Studi Teknik Lingkungan

Fakultas Teknik

Universitas Diponegoro

2010

Page 2: makalah k3 klmpok 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja adalah dengan

memberikan perlindungan pada buruh selama dia bekerja. Perlindungan ini diberikan

dengan maksud agar buruh merasa aman dan nyaman bekerja di lingkungan kerjanya.

Perlindungan kepada buruh selama menjalankan pekerjaan dengan mengikutsertakan

buruh dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja menjadi kewajiban yang harus

dilaksanakan oleh Pengusaha. K3 diartikan sebagai bidang kegiatan yang ditujukan

untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan

situasi kerja. Secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan sebagai ilmu dan

penerapannya yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses

pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan

pekerjaan guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar

dari kecelakaan dan kerugian lainnya.

Keselamatan kerja juga meliputi penyediaan APD, perawatan mesin dan

pengaturan jam kerja yang manusiawi. Dalam K3 juga dikenal istilah Kesehatan Kerja,

yaitu : suatu ilmu yang penerapannya untuk meningkatkan kulitas hidup tenaga kerja

melalui peningkatan kesehatan, pencegahan Penyakit Akibat Kerja meliputi

pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan pemberian makan dan minum bergizi. Dalam

pelaksanaannya K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja

yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan.

1.2 Tujuan Penyusunan

Adapun penyusunan makalah ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pengertian dan penerapan K3 dalam lingkungan kerja

2. Mengetahui penerapan cuaca kerja dalam K3

3. Mengetahui studi kasus cuaca kerja yang ada di lapangan

4. Memenuhi tugas mata kuliah Keselamatan dan kesehatan kerja

Page 3: makalah k3 klmpok 13

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan

guna mencegah kemungkinan terjadinya    kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh

pekerjaan dan lingkungan kerja. Beberapa pengertian terkait kesehatan dan keselamatan kerja

1. Kesehatan Kerja

Upaya-upaya yang ditujukan untuk memperoleh kesehatan yang setinggi-tingginya

dengan cara mencegah dan memberantas penyakit yang diidap oleh pekerja,

mencegah kelelahan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

2. Keselamatan Kerja.

Upaya-upaya yang ditujukan untuk melindungi pekerja; menjaga keselamatan orang

lain; melindungi peralatan, tempat kerja dan bahan produksi; menjaga kelestarian

lingkungan hidup dan melancarkan proses produksi.

3. Tempat Kerja

Tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana pekerja

bekerja atau yang sering dimasuki untuk keperluan pekerjaan.

2.2 Pengertian Cuaca Kerja atau Iklim Kerja

Cuaca kerja atau Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban,

kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh

tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. Cuaca kerja dapat disebut juga dengan iklim kerja.

Cuaca kerja atau iklim kerja adalah kombinasi dari :

Suhu udara

Kelembaban udara

Page 4: makalah k3 klmpok 13

Kecepatan gerakan udara

Suhu radiasi

Dari keempat kombinasi di atas, jika dihubungkan dengan produksi panas oleh

tubuh akan menyebabkan tekanan panas (heat stress). Sumber panas di tempat kerja ada

tiga macam, yaitu :

Iklim kerja setempat

Keadaan udara di tempat kerja, ditentukan oleh faktor – faktor keadaan antara lain

suhu udara, penerangan, kecepatan gerakan udara dan sebagainya.

Proses produksi dan mesin

Mesin mengeluarkan panas secara nyata sehingga lingkungan kerja menjadi panas.

Kerja otot

Tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan memerlukan energi yang diperlukan dalam

proses oksidasi untuk menghasilkan energi berupa panas.

Setiap tenaga kerja satu dengan tenaga kerja yang lain memiliki perbedaan reaksi

jika terpapar lingkungan yang panas. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi

perbedaan tersebut :

1. Umur

Pada orang yang berusia lanjut akan lebih sensitif terhadap cuaca panas bila

dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Hal ini disebabkan oleh kemampuan

berkeringat orang yang berusia lanjut lebih lambat dibandingkan dengan orang yang

berusia lebih muda dan kemampuan orang yang berusia lebih muda biasanya lebih

cepat dalam mengembalikan suhu tubuhnya menjadi dibandingkan dengan orang yang

berusia lanjut.

2. Jenis kelamin

Pada dasarnya, kemampuan berkeringat laki-laki dan perempuan hampir sama

pada saat cuaca panas, namun yang membedakan adalah aklimatisasi wanita tidak

sebaik laki-laki. Wanita lebih tahan dengan suhu dingin daripada suhu panas. Hal itu

disebabkan karena kardiovosa wanita lebih kecil dibandingkan dengan pria.

3. Kebiasaan

Page 5: makalah k3 klmpok 13

Seorang tenaga kerja yang terbiasa dengan suhu panas tentu saja lebih bisa

menyesuaikan diri dibandingkan dengan tenaga kerja yang tidak terbiasa dengan suhu

panas.

4. Ukuran tubuh

Orang yang berbadan kecil mengalami tekanan panas yang lebih besar tingkatannya.

5. Aklimatisasi

Alkimatisasi terhadap suhu tingi merupakan hasil penyesuaian diri seseorang

terhadap lingkungan yang ditandai dengan menurunnya frekuensi denyut nadi dan

suhu mulut atau suhu badan akibat pembentukan keringat. Aklimatisasi juga dapat

diperoleh dengan bekerja pada suatu lingkungan kerja yang tinggi untuk beberapa

waktu yang lama. Biasanya aklimatisasi terhadap panas akan tercapai sesudah dua

minggu bekerja di tempat tersebut.

6. Suhu udara

Suhu yang pas sekitar 24 - 26⁰C. Bagi orang Indonesia suhu panas berakibat

menurunnya prestasi kerja, cara berfikir.

7. Masa kerja

Secara umum lamanya seseorang menjalani suatu pekerjaan akan

mempengaruhi sikap dan tindakan dalam bekerja. Semakin lama seseorang menekuni

pekerjaan, maka penyesuaian diri dengan lingkungan kerjanya semakin baik.

8. Lama kerja

Waktu kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan produktivitas. Segi

terpenting bagi persoalan waktu kerja meliputi:

Lamanya seseorang mampu bekerja dengan baik

Hubungan antara waktu bekerja dan istirahat.

Waktu bekerja sehari menurut periode yang meliputi siang dan malam hari.

2.3 Panas Tubuh

Page 6: makalah k3 klmpok 13

Panas tubuh manusia pada dasarnya diakibatkan oleh :

1. Proses panas dalam tubuh akibat proses metabolisme, kegiatan fisik, makanan dan

penyakit.

2. Proses fisika pertukaran panas. Granjean ( 1986 ) membagi proses fisika perpindahan

panas menjadi 4 yaitu :

a. Konduksi

Konduksi adalah transfer panas dari atom ke atom atau dari molekul ke

molekul melalui transfer berturut-turut dari energi kinetik. Kehilangan panas melalui

konduksi udara akan menyebarkan panas dari proses produksi yang cukup

besar walaupun dalam keadaan normal. Panas adalah suatu energi kinetik dari

molekul, dan molekul yang menyusun mesin terus-menerus mengalami gerakan

vibrasi. Sebagian besar energi dari gerakan ini dipindahkan ke udara bila

suhu udara lebih rendah dan mengakibatkan meningkatnya kecepatan

gerakan molekul udara. Suhu mesin yang berlekatan dengan udara

menjadikan suhu udara sama dengan suhu permukaan mesin. Jika suhu udara dan

permukaan mesin sama, maka tidak terjadi lagi kehilangan panas dari

permukaan mesin ke udara. Oleh sebab itu konduksi panas dari permukaan mesin ke

udara mempunyai keterbatasan kecuali udara yang dipanaskan bergerak

sehingga timbul udara baru (perpindahan panas melalui sentuhan atau kontak).

b. Konveksi

Udara yang tidak panas secara terus menerus disebarkan melalui

udara yang bergerak, fenomena semacam ini disebut konveksi udara.

Kehilangan panas melalui konveksi udara disebut konveksi. Panas dapat

didapatkan atau dihilangkan dengan jalan konveksi ke udara, air atau cairan

lain yang kontak dengan tubuh dan media lain yang berdekatan menghasilkan

perpindahan panas dengan konduksi sejalan atau sesuai dengan tingkat panas.

Jika media berpindah, panas akan berpindah dengannya. Hal tersebut adalah

pertukaran panas dengan cara konveksi, analog dengan pertukaran dari larutan melalui

besarnya aliran. Walaupun ketika kita diam tak bergerak, udara di sekitar

kita bergerak karena udara mengembang akibat menyerap panas dari tubuh kita.

Panas yang dihasilkan selama proses produksi akan menyebar ke

Page 7: makalah k3 klmpok 13

seluruh lingkungan kerja, sehingga mengakibatkan suhu udara di lingkungan kerja

juga meningkat (yaitu perpindahan panas oleh udara di sekitar sumber panas).

c. Radiasi

Perpindahan panas dari proses produksi ke lingkungan kerja terjadi secara

radiasi adalah proses perpindahan panas dimana permukaan obyek

seluruhnya secara konstan memancarkan panas dalam bentuk gelombang

elektromagnetik. Laju pancaran ditentukan oleh suhu dari permukaan radiasi.

d. Evaporasi

yaitu perpindahan panas karena menguapnya keringat.

Manusia harus mempertahankan panas tubuh selalu konstan yaitu 37 °C - 38°C

yang merupakan syarat agar organ vital seperti otak dan jantung dapat berfungsi normal.

Adapun proses pengaturan keseimbangan panas tubuh menurut Nurmianto ( 1996 ) yaitu

sel- sel syaraf hypothalamus menerima informasi temperatur tubuh melelui syaraf

sensorik di kulit. Kemudian pusat pengendali mengirim jawaban agar temperatur tubuh

tetap konstan. Panas tubuh dikendalikan dengan cara :

Mengatur aliran darah

Mengatur keluarnya keringat melalui pori- pori

Merubah tonus otot.

2.4 Karateristik Cuaca Kerja

Suhu ekstrim merupakan bahaya kesehatan di tempat kerja yang disebabkan

karena suhu sangat rendah atau suhu sangat tinggi. Keadaan ini biasa disebabkan oleh

iklim yang ada, juga dapat ditimbulkan karena dalam proses produksi memerlukan

temperatur ekstrim.

2.4.1 Suhu dingin

Untuk mengidentifikasi adanya bahaya temperatur dingin dapat ditemui pada

karyawan yang bekerja pada pabrik freezer, pengepalan daging, fasilitas cold storage

dan pertanian di daerah kutub. Terdapat kumpulan sinyal dari kulit dan core

(kumpulan organ-organ dalam tubuh) yang terintegrasi dengan porsi otak yaitu

hypothalamus. Hypothalamus berfungsi sebagai pengatur fungsi organ-organ tubuh

Page 8: makalah k3 klmpok 13

termasuk suhu tubuh dan bekerja seperti thermostat yang mengatur dan memelihara

suhu normal. Tetapi karena terdapat pengaruh suhu luar tubuh sangat dingin maka

kerja hyputhalamus menjadi terganggu dan hal ini mempengaruhu tubuh, diantaranya :

1. Mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku dan kurangnya koordinasi otot.

2. Chilblains, yaitu kelainan pada bagian-bagian tubuh menjadi bengkak, merah,

panas, dan sakit yang diselingi dengan gatal-gatal.

3. Trench foot, yaitu kerusakan anggota tubuh terutama pada kaki oleh kelembaban

yang dingin.

4. Frostbite

akibat terpapar temperature yang sangat dingin, dan dapat menimbulkan ganggren.

5. Hypothermia, yaitu perasaan yang sangat dingin sampai menggigil dan

menyebabkan denyut jantung pelan dan kadang-kadang tidak teratur, tekanan

darah lemah, kulit dingin, pernapasan tidak teratur, dan bisa terjadi koleps. Hal ini

terjadi pada temperature 2-10 oC. pengaruh tersebut juga tergantung dari keadaan

individu, yaitu tergantung dari daya tahan tubuh, keadaan fitness, umur, dan

budaya.

6. Raynuond’s phenomenon yaitu keadaan pucat pada daerah jari. Raynound’s

phenomenon ini dikaitkan dengan sejumlah penyakit termasuk sistemik

scleroderma, pulmonary hipertention, multiple sklerosis yang juga disebut

penyakit raynound’s.

2.4.2 Suhu panas

Bahaya suhu panas (heat stress) dapat ditemukan pada perusahaan yang

menggunakan peralatan yang memerlukan panas tinggi, misalnya pengecoran biji besi

atau baja, ruang pembakaran, ruang boiler, atau peralatan-peralatan lainnya yang

dalam operasinya memerlukan suhu tinggi. Pengaruh heat stress terhadap tubuh

adalah:

1. Heat Train

Serangkaian respon physilogis terhadap heat stress yang direfleksikan pada derajat

heat stress yang dapat menimbulkan gangguan perasaan tidak nyaman sampai

terjadi heat disolder.

Page 9: makalah k3 klmpok 13

2. Heat Cramp

Gangguan yang disebabkan oleh karena terpapar suhu yang sangat tinggi dapat

menyebabkan meningkatnya temperature tubuh, kekurangan cairan dalam tubuh

yang menyebabkan kekurangan garam natrium dalam tubuh.

3. Heat Exhaution

Terjadi karena pengaruh cuaca yang sangat panas, terutama bagi mereka yang

tidak teraklimitasi. Penderita keluar keringat sangat banyak, tetapi suhu badan

dalam keadaan normal atau sub normal, tekanan darah menurun dan nadi lebih

cepat, terasa lemah, dan bisa terjadi pingsan.

4. Heat stroke

Terjadi karena terpapar panas sangat tinggi, dan dengan pekerjaan yang sangat

berat dan belum teraklimatisasi. Gejalanya adalah suhu badan naik, kulit kering

dan panas , vertigo. Tremor, dan konvulsi.

Menurunnya prestasi kerja pikir

Mengurangi kelincahan kerja

Mengganggu kecermatan kerja otak

Mengganggu koordinasi syaraf sensoris

Dehidrasi

2.5 Undang- Undang Yang Berlaku Untuk Cuaca Kerja

Adapun peraturan pemerintah yang berlaku terkait dengan cuaca kerja yaitu

Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : KEP.51/MEN/1999

Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Di dalam Pasal 1 dijelaskan

beberapal yaitu :

1. Tenaga kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di

dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat.

2. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau

tetap, dimana tenaga kerja melakukan pekerjaan atau yang sering dimasuki

tenaga.

Page 10: makalah k3 klmpok 13

3. Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor

tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau

gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam

sehari atau 40 jam seminggu.

4. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika

yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang

mikro dan sinar ultra ungu.

5. Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara

dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai

akibat dari pekerjaannya.

6. Suhu kering (Dry Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukan oleh termometer

suhu kering.

7. Suhu basah alami (Natural Wet Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukan oleh

termometer bola basah alami (Natural Wet Bulb Thermometer).

8. Suhu bola (Globe Temperature) adalah suhu yang ditunjukan oleh

termometer bola (Globe Thermometer).

9. Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang

disingkat ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang

merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu

bola.

2.6 Pengukuran Iklim Kerja

Ada beberapa ukuran iklim kerja yang perlu diketahui :

Suhu kering

Suhu basah ( suhu basah alami, suhu basah psikometrik )

Suhu bola ( globe temperture)

Pengukuran suhu basah dan suhu kering menggunakan peralatan yang

sama yaitu thermometer suhu udara, perbedaannya terletak pada pemasangan kain

katun pada bola ( bulb) thermometer tersebut. Suhu basah menunjukkan keadaan uap

Page 11: makalah k3 klmpok 13

air dan angin di udara. Suhu bola atau suhu radiasi merupakan pengukuran

suhu akibat adanya radiasi panas di lingkungan. Radiasi panas bisa berasal

dari sinar matahari, proses produksi ataupun proses metabolisme tubuh.

Kelembaban udara mengukur banyaknyanya uap air yang berada di udara sedangkan

k ecepatan gerakan udara atau angin merupakan pengukuran terhadap gerakan udara. Di

Indonesia, parameter yang digunakan untuk menilai tingkat iklim kerja adalah Indeks Suhu

Basah dan Bola (ISBB).

Hal ini telah ditentukan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor:

Kep 51/MEN/1999, Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja, pasal 1

ayat 9 berbunyi : Indeks suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature

Index) yang disingkat ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim

kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami

dan suhu bola. Cara mengukur tekanan panas :

1. Indeks Tekanan Panas Belding Hatch ( BHI ): diukur berdasarkan banyaknya keringat

yang diperlukan untuk mengimbangi panas dan kapasitas maksimal tubuh berkeringat.

Dipengaruhi oleh suhu kering, suhu basah, kecepatan,, aliran udara dan produksi

panas tubuh.

2. Indeks suhu basah dan bola ( ISBB ) atau wet Bulb Globe Temperature ( WBGT ) :

Di dalam ruangan

0,7 Tnwb + 0,2 Tg + 0,1 Ta

0,7 Suhu basah + 0,2 Suhu radiasi/suhu bola + 0,1 suhu kering

Di luar ruangan

0,7 Tnwb + 0,3 Tg

Lingkungan kerja yang panas lebih banyak menimbulkan permasalahan

daripada lingkungan kerja yang dingin. Hal ini karena, umumnya manusia lebih mudah

melindungi dirinya dari pengaruh suhu udara yang rendah daripada suhu udara yang

tinggi.

Page 12: makalah k3 klmpok 13

Tabel 2.1

Nilai Ambang Batas Iklim Kerja

Indeks Suhu Basah dan Bola ( ISBB ) Yang Diperkenankan

Pengaturan Waktu kerja Setiap hari

ISBB

Beban kerja

Waktu Kerja Waktu Istirahat Ringan Sedang Berat

Bekerja terus menerus

( 8 jam per hari ) - 30 26,7 25

75 % kerja 25 % kerja 30,6 28 25,9

50 % kerja 50 % kerja 31,4 29,4 27,9

25 % kerja 75 % kerja 32,2 31,1 30

Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di luar ruangan dengan panas radiasi : ISBB : 0,7 suhu

basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering

Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di dalam atau di luar ruangan tanpa panas radiasi : ISBB

0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola.

Catatan : Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 – 200 Kilo kalori/jam

Beban kerja sedang membutuhkan kalori >200 – 350 Kilo kalori/jam

Beban kerja berat membutuhkan kalori > 350 – 500 Kilo kalori/jam

2.7 Studi Kasus Cuaca Kerja Pada Pekerjaan Konstruksi

Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang

memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama

kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan

dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang

berbeda-beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas,

dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan

Page 13: makalah k3 klmpok 13

tenaga kerja yang tidak terlatih. Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang

sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi

yang berisiko tinggi. Untuk memperkecil risiko kecelakaan kerja, sejaka awal

tahun 1980an pemerintah telah mengeluarkan suatu peraturan tentang

keselamatan kerja khusus untuk sektor konstruksi, yaitu Peraturan Menteri Tenaga

Kerja dan Transmigrasi No. Per-01/Men/1980.Peraturan mengenai keselamatan kerja

untuk konstruksi tersebut, walaupun belum pernah diperbaharui sejak dikeluarkannya

lebih dari 20 tahun silam, namun dapat dinilai memadai untuk kondisi minimal di Indonesia.

Hal yang sangat disayangkan adalah pada penerapan peraturan tersebut di

lapangan. Rendahnya kesadaran masyarakat akan masalah keselamatan kerja,

dan rendahnya tingkat penegakan hukum oleh pemerintah, mengakibatkan penerapan

peraturan keselamatan kerja yang masih jauh dari optimal, yang pada akhirnya

menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Penyebab dari kecelakaan

konstruksi ini yaitu karateristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi yang berbeda-

beda dan terbuka yang dipengaruhi oleh cuaca, keterbatasan waktu, ketahanan fisik tinggi,

tenaga kerja tidak terlatih. Hinze dan Bren (1997) mengestimasi jumlah kasus di Amerika

Serikat yang mencapai 100 kematian dan 7000 cacat tetap per tahun akibat tertimbun longsor

dinding galian serta kecelakaan- kecelakaan lainnya dalam pekerjaan galian, hal ini dipicu

oleh cuaca kerja dan keterbatasan waktu pengerjaan.

Page 14: makalah k3 klmpok 13

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu :

1. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan

guna mencegah kemungkinan terjadinya    kecelakaan dan penyakit yang disebabkan

oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.

2. Cuaca kerja atau Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban,

kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari

tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya

3. Sumber panas di tempat kerja ada tiga macam yaitu iklim kerja setempat, proses

produksi dan mesin dan kerja otot.

4. Peraturan pemerintah yang berlaku terkait dengan cuaca kerja yaitu Keputusan

Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : KEP.51/MEN/1999 Tentang Nilai

Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

5. Ada beberapa ukuran iklim kerja yang perlu diketahui yaitu suhu kering, suhu basah

( suhu basah alami, suhu basah psikometrik )dan suhu bola ( globe temperture).

Page 15: makalah k3 klmpok 13

DAFTAR PUSTAKA

Ridley, John. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta : Erlangga.

KEP.51/MEN/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

Jurnal Kesehatan Lingkungan – Penerapan ISSB Sebagai Upaya Pencegahan Terjadinya

Heat Strain akibat Paparan Heat Stress.