lapsus pterigium

of 27 /27
BAB I PENDAHULUAN 1. Definisi Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterigium tumbuh berbentuk sayap pada kunjungtiva bulbi. 1 Pertumbuhan ini bersifat invasif dan degeneratif. 2 2. Epidemiologi Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Prevalensi 1 Gambar 1. Pterigium

Author: wina-jie-kodong

Post on 05-Dec-2015

24 views

Category:

Documents


8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterigium tumbuh berbentuk sayap pada kunjungtiva bulbi.1 Pertumbuhan ini bersifat invasif dan degeneratif.Pterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat kathulistiwa. Berdasarkan studi epidemiologi dunia, diperoleh prevalensi dari pterigium secara keseluruhan mencapai 37% Tergantung kondisi iklim, paparan sinar matahari, faktor usia, jenis kelamin, dan situasi ekonomi.3

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN1. Definisi Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterigium tumbuh berbentuk sayap pada kunjungtiva bulbi.1 Pertumbuhan ini bersifat invasif dan degeneratif.2

Gambar 1. Pterigium

2. EpidemiologiPterigium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat kathulistiwa. Berdasarkan studi epidemiologi dunia, diperoleh prevalensi dari pterigium secara keseluruhan mencapai 37% Tergantung kondisi iklim, paparan sinar matahari, faktor usia, jenis kelamin, dan situasi ekonomi.3

3. Faktor ResikoAdapun beberapa faktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu pterigium antara lain4;1. Paparan sinar matahari atau ultravioletBanyak penelitian yang membahas mengenai pengaruh paparan sinar ultraviolet dengan frekuensi sering dapat menyebabkan kerusakan jaringan ikat subepitelial. Radiasi sinar ultraviolet memegang peran utama dalam masalah ini.32. UsiaBerbagai penelitian juga menyebutkan salah satu faktor resiko peningkatan terjadinya pterigium adalah faktor usia. Insiden terjadinya pterigium kebanyak pada usia 60-70 tahun jika dibandingkan dengan usia 40-50 tahun. mereka meyakini, pterigium terjadi jika semakin bertambahnya usia.33. Jenis KelaminFaktor resiko jenis kelamin sebetulnya masih menimbulkan perdebatan. Ada penelitian menyebutkan bahwa, wanita lebih beresiko terkena pterigium dibandingan dengan pria. Namun penelitian lainnya juga menyebutkan pria lebih beresiko dibanding wanita.4. Level Pendidikan dan Sosial EkonomiKelompok level pendidikan dan social ekonomi rendah lebih beresiko terkena pterigium karena tingkat pengetahuan dan gaya hidup yang sering kali tidak sesuai dengan standar kesehatan.35. Gejala dan tanda mata keringDi Indonesia, kebanyakan ditemukan pasien pterigium dengan keadaan mata kering.34. Etiologi Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas, tetapi penyakit ini lebih sering terjadi pada orang yang tidanngal di daerah beriklim panas. Oleh karena itu,yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap sinar matahari (ultraviolet), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan berdebu atau bahan iritan lainnya.5. Patofisiologi Sinar ultraviolet, angin, dan debu dapat mengiritasi permukaan mata, hal ini akan mengganggu proses regenerasi jaringan konjungtiva dan diganti dengan pertumbuhan berlebih dari jaringan fibrous yang mengandung pembuluh darah. Pertumbuhan ini biasanya bersifat progresif dan melibatkan sel-sel kornea sehingga menyebabkan timbulnya pterigium. Radiasi sinar termasuk cahaya tampak dan sinar ultraviolet yang tidak tampak itu sangat berbahaya bisa mengenai bagian tubuh. Permukaan luar mata diliputi oleh lapisan sel yang disebut epitel. Epitel pada mata lebih sensitif dibanding dengan epitel bagian tubuh lain khususnya terhadap respon kerusakan jaringan akibat paparan ultraviolet karena epitel pada lapisan mata tidak mempunyai lapisan luar yang disebut keratin. Jika sel-sel epitel dan membran dasar terpapar oleh ultraviolet secara berlebihan maka radiasi tersebut akan merangsang pelepasan enzim yang akan merusak jaringan dan menghasilkan faktor pertumbuhan yang akan menstimulasi pertumbuhan jaringan baru. Jaringan baru yang tumbuh ini akan menebal dari konjungtiva dan menjalar ke arah kornea. Kadar enzim tiap individu berbeda, hal inilah yang menyebabkan terdapatnya perbedaan respon tiap individu terhadap paparan radiasi ultraviolet yang mengenainya.5 Ditemukan epitel konjungtiva ireguler, kadang-kadang berubah menjadi epitel gepeng berlapis. Pada puncak pterigium, epitel kornea meninggi dan pada daerah ini membran Bowman menghilang. Terdapat degenerasi stroma yang berproliferasi sebagai jaringan granulasi yang penuh pembuluh darah. Degenerasi ini menyebuk ke dalam kornea serta merusak membran Bowman dan stroma kornea bagian atas. Pterigium juga dapat muncul sebagai degenerasi stroma konjungtiva dengan penggantian oleh serat elastis yang tebal dan berliku-liku. Fibroblas aktif pada ujung pterigium menginvasi lapisan Bowman kornea dan diganti dengan jaringan hialin dan elastis. Pterigium sering muncul pada pembedahan. Lesi muncul sebagai luka fibrovaskuler yang berasal dari daerah eksisi. Pterigium ini mungkin tidak ada hubungannya dengan radiasi sinar ultraviolet, tetapi kadang dikaitkan dengan pertumbuhan keloid di kulit. Kondisi pterygium akan terlihat dengan pembesaran bagian putih mata, menjadi merah dan meradang. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bisa mengganggu proses cairan mata atau yang disebut dry eye syndrome. Sekalipun jarang terjadi, namun pada kondisi lanjut atau apabila kelainan ini didiamkan lama akan menyebabkan hilangnya penglihatan si penderita.86. Gambaran KlinisPterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif, merah dan mungkin menyebabkan astigmat yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis punctate atau Dellen (penipisan kornea akibat mata kering), dan garis besi atau iron line yang terletak di ujung pterigium.9 Secara klinis, pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fisura interpalpebra. Biasanya terjadi pada bagian nasal, tetapi juga dapat terjadi pada bagian temporal.107. KlasifikasiBerdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi dua yaitu;1. Pterigium progresif: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrate di kornea di depan kepala pterigium (cap)2. Pterigium regresif: tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.Berdasarkan stadiumnya, Grade pada Pterygium dibagi menjadi 4: 1. Grade 1: jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea2. Grade 2: jika sudah melewati libus kornea tetapi tidak lebih dari 2mm melewati kornea3. Grade 3: sudah melewati grade 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm)4. Grade 4: pertumbuhan pterigium melewati pupil hingga melewati penglihatan.

Gambar 2. Stadium pterigium

8. Diagnosis Diagnosis pterigium dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Melalui anamnesis akan kita dapatkan keluhan-keluhan pasien seperti adanya ganjalan pada mata yang semula dirasakan didekat kelopak namun lama-kelamaan semakin ke tengah (kornea), mata merah dan tidak disertai belek(sekret). Dari anamnesis ini kita juga akan dapatkan informasi mengenai pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan kebiasaan hidupnya karena hal ini berhubungan dengan besarnya paparan sinar ultraviolet yang mengenainya. Pemeriksaan fisik pada pasien pterigium akan didapatkan adanya suatu lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh dari kelopak baik bagian nasal maupun temporal yang menjalar ke kornea, umumnya berwarna putih, namun apabila terkena suatu iritasi maka bagian pterigium ini akan berwarna merah. Pemeriksaan penunjang dalam menentukan diagnosis pterigium tidak harus dilakukan, karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik kadang sudah dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pterigium. Pemeriksaan histopatologi dilakukan pada jaringan pterigium yang telah diekstirpasi. Gambaran pterigium yang didapat adalah berupa epitel yang irreguler dan tampak adanya degenerasi hialin pada stromanya.39. Diagnosis bandingDiagnosis banding pterigium adalah pseudopterigium dan pinguekula. Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat, yang sering ditemukan pada proses penyembuhan ulkus kornea sehingga konjungtiva menutupi kornea. Untuk membedakan dengan pterigium dapat dilakukan dengan tes sonde. Sedangkan penguekula merupakan bernjolan pada konjungtiva bulbi yang ditemukan pada orang tua, terutama yang matanya sering terpapar sinar matahari. Letak berkas ini pada celah kelopak mata terutama di bagian nasal. Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. Pembulu darah tidak masuk ke dalam pinguekula, akan tetapi bisa meradang atau terjadi iritasi, maka sekitar bercak degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang melebar.

10. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pterigium bersifat konservatif atau dilakukan pembedahan jika telah terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya atigmatisme ireguler atau pterigium yang telah menutupi area penglihatan. Bila terjadi proses inflamasi dapat diberikan steroid topikal untuk menekan proses peradangan. Pemberian vasokonstriktor perlu dikontrol dalam dua minggu dan pengobatan dihentikan jika sudah ada perbaikan. Perlindungan terhadap mata dengan pterigium dapat dilakukan dengan penggunaan kacamata untuk menghindari paparan sinar mata hari, debu dan udara kering. Obat-obatan yang sering digunakan pada kasus pterigium adalah :1. Pemakaian air mata artifisial (obat tetes topikal untuk membasahi mata) untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air. Obat ini merupakan obat tetes mata topikal atau air mata artifisial (air mata penyegar, Gen Teal (OTC)air mata artifisial akan memberikan pelumasan pada permukaan mata pada pasien dengan permukaan kornea yang tak teratur dan lapisan permukaan air mata yang tak teratur. Keadaan ini banyak terjadi pada keadaan pterygium.2. Salep untuk pelumas topikal suatu pelumas yang lebih kental pada permukaan okular. alep untuk pelumas mata topikal (hypotears,P.M penyegar (OTC). Suatu pelumas yang lebih kental untuk permukaan mata. Sediaan yang lebih kental ini akan cenderung menyebabkan kaburnya penglihatan sementara; oleh karena itu bahan ini sering dipergunakan pada malam hari terkecuali bila pasien merasakan sakit dalam pemakaiannya.3. Obat tetes mata anti inflamasi untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan pterygia yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada permukaan okular di dekat jejasnya. Prednisolon asetat (Pred Forte 1%) suatu suspensi kortikosteroid topikal yang dipergunakan untuk mengu-rangi inflamasi mata. Pemakaian obat ini harus dibatasi untuk mata dengan inflamasi yang sudah berat yang tak bisa disembuhkan dengan pelumas topikal lain.

Indikasi eksisi pterigium sangat bervariasi. Eksisi dilakukan pada kondisi adanya ketidaknyamanan yang menetap, gangguan penglihatan bila ukuran 3-4 dan pertumbuhan yang progresif ke tengah kornea atau aksis visual, serta adanya gangguan pergerakkan bola mata.Eksisi pterigium bertujan untuk mencapai gambaran permukaan mata yang licin. Suatu teknik yang sering digunakan untuk mengangkat perigium dengan menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus. Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan. Beberapa teknik operasi yang dapat menjadi pilihan yaitu6,8;a. Bare Sclera: tidak ada benang atau jahitan, benang absorbable digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke sclera di depan insersi tendon rektus. Meninggalkan suatu daerah sclera yang terbuka.b. Simple Closure: tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif hanya jika defek konjungtiva sangat kecil)c. Sliding flaps: suatu insisi berbentuk L dibuat sekitar luka flap konjungtiva digeser untuk menutupi defek.d. Rotational flap: Insisi berbentuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah konjungtiva yang dirotasi di tempatnya.e. Conjunctival graft: Suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan dijahit.f. Amnion membrane transplantation: mencegah kekambuhan pterigium. Mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bolamata pada penelitian baru mengungkapkan menekan TGF pada konjungtiva pada fibroblast pterigium.

Gambar 3. Teknik insisi Pterigium

11. PrognosisPterigium merupakan suatu neoplasma konjungtiva benigna, umumnya prognosisnya baik secara kosmetik maupun penglihatan, namun hal itu juga tergantung dari ada tidaknya infeksi pada daerah pembedahan. Untuk mencegah kekambuhan pterigium (sekitar 50-80 %) sebaiknya dilakukan penyinaran dengan Strontium yang mengeluarkan sinar beta, dan apabila residif maka dapat dilakukan pembedahan ulang. Pada beberapa kasus pterigium dapat berkembang menjadi degenerasi ke arah keganasan jaringan epitel.

BAB IILAPORAN KASUS

A. IDENTITASNama : Ny. P CUmur : 65 tahunJenis Kelamin : Perempuan Alamat : Rumah TigaAgama : Kristen ProtestanNomor Register: 07-49-94Waktu Pemeriksaan : 2 September 2015Ruang Pemeriksaan : Ruang Poliklinik Mata RSUD Dr. M. Haulussy Ambon

B. AUTOANAMNESIS 1. Keluhan utama :Mata kanan terasa gatal2. Anamnesis terpimpin :Pasien datang dengan keluhan mata terasa gatal pada mata kanan dirasakan awalnya sejak 3 bulan sejak setelah operasi katarak dilakukan, mata keluhan disertai rasa nyeri pada mata kanan dan kadang mata sering memerah. Pusing (-), mual (-), muntah (-)3. Riwayat penyakit dahulu : pasien pernah memiliki katarak pada mata kanan, Hipertensi (+), Diabetes Melitus (+), trauma (-).4. Riwayat keluarga : Tidak ada.5. Riwayat pengobatan : pernah operasi katarak mata kanan 6 bulan lalu lalu.6. Riwayat sosial : Tidak bekerja, rumah pasien terletak di tepi jalan raya7. Riwayat pemakaian kacamata : Pemakaian kacamata baca sejak 8 bulan yang lalu.

C. PEMERIKSAAN FISIK1. Status GeneralisKesadaran: Compos Mentis (GCS : E4V5M6)Tekanan darah : 130/90 mmHgNadi: 82 x/menitRespirasi: 22 x/menitSuhu: Afebris2. Status Oftalmologia. Visus OD : visus 6/20 dengan PH 6/7OS : 6/15 dengan PH 6/6b. Segmen anterior ODS : dengan pen lightODSegmen AnteriorBola MataOS

Edema (-), blefarospasme (-), eritema (-), ektropion (-), entropion (-), sekret (-), hematom (-)PalpebraEdema (-), blefarospasme (-), eritema (-), ektropion (-), entropion (-), sekret (-), hematom (-)

Kemosis (-), subconjunctival bleeding (-), hiperemis (+), anemis(-), pterigium (+), injeksi konjungtiva (+)KonjungtivaKemosis (-), Subconjunctival bleeding (-), hiperemis(-), anemis(-), pterigium (-), injeksi konjungtiva (-)

Jernih, infiltrat (-), arcus sinilis (-), edema (-), ulkus (-)KorneaJernih, Infiltrat (-), arcus sinilis (-), edema (-), ulkus (-)

Dalam, hipopion (-), hifema(-)Bilik Mata DepanDalam, hipopion (-), hifema(-)

Warna coklat tua, radier, sinekia (-)IrisWarna coklat tua, radier, sinekia(-)

Bulat, 3 mmPupilBulat, 3 mm

Keruh (-), Iris shadow (+), IOL (+)LensaKeruh (-), Iris shadow (-)

Gambar Skematik

Pterigium tumbuh dan sudah mendekati pupil

c. Tekanan Intra Okuli :OD: Teraba normalOS : Teraba normal

d. Pergerakan Bola Mata : Pergerakan ODS normal (bisa ke segala arah).

e. Funduskopi ODS : Tidak dilakukan

D. Pemeriksaan Penunjang : -Foto Pasien :

E. Diagnosis KerjaOD pterigium grade III

F. Diagnosis Banding1. Pseudopterygium 2. PenguekulaG. Perencanaan1. Diagnosa : Tidak ada rencana pemeriksaan untuk menunjang diagnosis2. Terapi (tata laksana) : Dexametasone, Polimixin B Sulfate, Neomicin eye drop 4 gtt 1 ODS Carboxymethyl Cellulose Sodium 5 mg 4 gtt 1 ODS Pro OD ekstraksi pterigium3. Monitoring: Keluhan saat ini Visus Segmen anterior Bola mata4. Edukasi Penjelasan mengenai kondisi mata pasien saat ini Menganjurkan pasien untuk melakukan terapi operatif Modifikasi gaya hidup dengan mengurangi faktor risiko. Menggunakan kacamata pelindung mata dari debu dan sinar matahari langsung

H. PROGNOSISODPrognosisOS

BonamQuo ad VitamBonam

Dubia ad BonamQuo ad VitamDubia ad Bonam

Dubia ad BonamQuo ad SanasionamDubia ad Bonam

BAB IIIDISKUSI

Pasien perempuan usia 65 tahun, datang ke Poliklinik Mata RSUD Dr. M. Haulussy dengan keluhan gatal pada mata kanan, dirasakan awalnya sejak 3 bulan yang lalu dan semakin memberat, keluhan disertai rasa nyeri dan rasa tidak nyaman pada mata. Pasien mengaku sering terpapar udara yang panas. Sesuai kepustakaan, gejala-gejala yang dialami pasien ini mengarah pada diagnosis pterigium. Usia pasien yang > 50 tahun (65 tahun) juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya pterigium.Pada pemeriksaan fisik mata VOD: 6/15 (Ph 6/7), VOS: 6/15 (P 6/6), dan dengan menggunakan pen light didapatkan OD didapatkan massa berwarna kemerahan berbentuk segitiga yang berada pada mata telah menutupi limbus dan ujungnya berada pada tepi pupil. Berdasarkan teori yang telah dibahas, Pemeriksaan fisik pada pasien pterigium akan didapatkan adanya suatu lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh dari kelopak baik bagian nasal maupun temporal yang menjalar ke kornea, umumnya berwarna putih, namun apabila terkena suatu iritasi maka bagian pterigium ini akan berwarna merah.Penatalaksanaan pada pasien ini, adalah pembedahan pterigium, hal ini mengingat, pertumbuhan pterigium yang sudah mencapai grade III. Pembedahan perlu dilakukan agar pterigium tidak tumbuh menutupi pupil dan menghalangi pandangan mata. Prognosis pada pasien ini umumnya baik.

DAFTAR PUSTAKA1. Ilyas S, 2008, Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta2. Ilyas S, Mailangkay H.B., Taim H, 2002, Ilmu Penyakit Mata, Edisi ke-2, Sagung Seto, Jakarta3. Anonim, 2008, Conjungtivitis with Pseudomembrane, www. Revoptom.com/handbook/SEC14.HTM4. Wijaya N, 1993, Ilmu Penyakit Mata, Edisi rev, cet ke-16, Abadi Tegal, Jakarta5. Al-Ghozi M, 2002, Handbook of Ophtalmology ; a Guide to Medical Examination. FK UMY. Yogyakarta. 6. Fisher J.P., Trattler W, 2001, Pterygium, www. Emedicine.com [Medline]7. Coroneo M.T., Digerolamo N, Wakefield D,1999, The Pathogenesis of Pterygium, curr Opin Ophthalmol; 10(4): 282-8 [Medline]8. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology. Fifth ed. London: Elsevier Science Limited; 20039. Aminlari A, Singh R, Liang D. Management of Pterygium. Ophthalmic Pearls (online) 2010. Available from: http://www.aao.org/eyemet/article/management-of-pterygium-2?November-2010 10. Fisher JP. Pterygium. 2011 [cited 2015 Sept 8]; available from: http://emedicine.medscape.com/aricle/1192527-followup#e4

117