tugas tht loni

Author: braincheats

Post on 05-Jul-2015

287 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ABSES LEHER DALAM

Pembimbing : dr. Supriyono, Sp.THT

Disusun oleh : I Gede Ardy Surya 02 70 0190 Rizky Amelia N. 04 70 0231

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER MUDA LAB / SMF TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUD dr.R. KOESMA - TUBAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan kasus "Abses Leher Dalam", sebagai salah satu bagian dalam program pendidikan dokter muda serta salah satu syarat untuk ujian di bidang studi Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok ( THT ) di RSUD dr.Koesma Tuban. Tugas ini juga dibuat sebagai salah satu cara pembelajaran bagi kami dan teman sejawat dokter muda untuk lebih memahami berbagai penyakit yang ada pada bidang THT pada umumnya, terutama mengenai Abses Leher Dalam. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada: 1. Pembimbing : Supriyono, dr, Sp THT selaku kepala bagian Ilmu Telinga Hidung dan Tenggorok di RSUD dr. R. Koesma Tuban2. Semua pihak (Staf dan Perawat) serta teman sejawat Dokter Muda yang telah

membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan, sehingga kami sangat berterima kasih atas saran dan kritik yang bersifat membangun untuk menyempurnakannya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Tuban, September 2009

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Makalah : Abses Leher Bidang Studi : Telinga, Hidung dan Tenggorok

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing Tuban,.........................................2009

dr. Supriyono, Sp.THT

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR ISI BAB I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Maksud dan Tujuan BAB II. DASAR TEORI 2.1. Anatomi 2.2. Pernafasan Laring 2.3. Vaskularisasi 2.4. Pembuluh Limfe 2.5. Fisiologi Laring 2.6. Pembentukan Suara BAB III. PEMBAHASAN 3.1. Definisi 3.2. Klasifikasi dan Etiologi 3.3. Diagnosa 3.3.1. Anamnesa 3.3.2. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang 3.4. Penatalaksanaan 3.5. Prognosa

BAB

I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH. Abses leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang potensial, dianta fascia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN. Tujuan dipilihnya judul Abses Leher Dalam adalah: 1. Memperdalam pengetahuan akan penyakit - penyakit Abses Leher Dalam beserta patologi dan penangannya. 2. Mempelajari gejala - gejala penyakit Abses Leher Dalam sehingga dapat mempermudah kita dalam mengananmnesa dan mendiagnosa di poliklinik. 3. Memiliki kemampuan dalam menangani dan menerapi penyakit Abses Leher Dalam. 4. Sebagai salah satu syarat dalam menjalankan kepaniteraan klinik di SMF Telinga Hidung Tenggorok ( THT ).

BAB II TINJAUAN I. ANATOMI leher adalah daerah tubuh yang terletak di antara pinggir bawah mandibula disebelah atas dan incisura suprasternalis serta pinggir atas clavicula di sebelah bawah. Leher dibagi menjadi trigonum anterior dan trigonum posterior oleh m.sternocleidomastoideus. PUSTAKA

Trigonum anterior terletak di depan otot ini, dan trigonum posterior terletak di belakangnya.

1.Trigonum Colli Anterior Trigonum anterior dibatasi di anterior oleh garis tengah leher, di posterior oleh pinggir anterior m.sternocleidomastoideus, dan superior oleh margo inferior mandibulae. Trigonum anterior terbagi menjadi : a.trigonum submentale terletak di bawah dagu dan dibatasi di anterior oleh garis tengah leher, di lateral oleh venter anterior m.digastricus, dan di inferior oleh corpus hyoideus. lantainya dibentuk oleh m.mylohyoideus. Di dalamnya terdapat nodi lymphoidei submentalis. b.trigonum digastricus terletak di bawah corpus mandibulae. di anterior trigonum ini dibatasi oleh venter anterior m.digastricus dan di posterior oleh venter posterior m.digastrici dan m.stylohyoideus. di atas dibatasi oleh margo inferior corporis mandibulae. lantainya dibentuk oleh m.mylohyoideus dan hyogossus. pada bagian anterior terdapat glandula submandibularis,dengan a.facialis terletak di profundanya dan v.facialis dan nodi lymphoidei submandibularis terletk superficial terhadapnya.bagian bawah glandula parotidea menonjol ke trigonum ini. c.trigonum caroticum

terletak di belakang os hyoideum. di superior dibatasi oleh venter posterior m.digastrici, di inferior oleh venter superior m.omohyoidei, dan di posterior oleh pinggir anterior m.sternocleidomastoideus. lantainya dibentuk oleh sebagian m.thyrohyoideus, m.hyoglossus, dan m.constrictor pharyngis medius serta inferior. berisi selubung carotis beserta a.carotis communis yang bercabang menjadi A.Carotis interna dan externa,sejumlah cabang a.carotis externa, v.jugularis interna dan cabangcabangnya, n.hypoglosus serta ramus descendensnya, n.laryngeus internus dan externus, n.acessorius, n.vagus, dan rantai nodi lymphoidei cervicalis profundi. d.trigonum musculare terletak di bawah os hyoideum. dibatasi di anterior oleh garis tengah leher,di superior oleh venter superior m.omohyoideus, dan di inferior oleh pinggir anterior m.sternocleidomastoideus. oesophagus. 2.Trigonum collli posterior dibatasi di anterior oleh pinggir posterior m.sternocleidomastoideus, di posterior oleh pinggir anterior m.trapezius, dan di inferior oleh sepertiga tengah clavicula. dasar trigonum dibentuk oleh m.semispinalis capitis, m.splenius capitis, m.levator scapulae, dan m.scalenus medius. isi trigonum colli posterior adalah : arteri : a.subclavia, a.cervicalis superficialis, a.suprascapularis, a.occipitalis. vena : v.jugularis externa dan cabang-cabangnya, v.subclavia.s saraf : plexus brachialis, pars spinalis n.acessorii, cabang-cabang plexus cervicale. lantainya dibentuk oleh m.sternohyoideus dan sternothyroideus. di bawah lantai terletak glandula thyroidea, larynx, trachea, dan

PHARYNX terletak di belakang cavum nasi, mulut dan larynx. bentuknya mirip corong dengan bagian atasnya yang lebarterletak dibawah cranium dan bagian bawahnya yang

sempit dilanjutkan sebagai oesophagus setinggi vertebra cervicalis enam. Dinding pharynx terdiri atas 3 lapis yaitu lapisan mukosa, lapisan fibrosa dan lapisan muskular. pharynx dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

a.Nasopharynx Terletak di belakang rongga hidung, di atas palatum molle. Bagian atap dibentuk oleh corpus ossis sphenoidalesdan pars basilaris ossis occipitalis. di daerah ini terdapat tosila pharyngealis. Bagian dasar dibentuk oleh permukaan atas palatum molle yang miring. Bagian anterior dibentuk oleh apertura nasalis posterior, dipisahkan oleh pinggir posterior septum nasi. Dinding posterior membentuk permukaan miring yang berhubungan dengan atap. Dinding lateral pada tiap-tiap sisi mempunyai muara tuba auditiva ke pharynx. Terdapat kumpulan jaringan lymfoid di belakang muara tuba auditiva yang disebut tonsila tubaria. b.Oropharynx Terletak di belakang cavum oris dan terbentang dari palatum molle sampai ke pinggir atas epiglotis. Bagian atap dibentuk oleh permukaan bawah palatum molle dan ishtmus pharyngeus. Bagian dasar dibentuk oleh sepertiga posterior lidah dan

permukaan anterior epiglotis, di bagian dasar ini terdapat tonsila linguae. Dinding anterior terbuka ke dalam rongga mulut melalui ishtmus oropharynx. Dinding posterior disokong oleh corpus vertebra cervicalis kedua dan ketiga. di dalam oropharynx terdapat tonsila palatina yang terletak pada dinding lateral didalam fossa tonsiliaris. Setiap tonsil diliputi oleh membrana mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol ke dalam pharynx. c.Laryngopharynx terletak di belakang aditus larynges dan permukaan posterior larynx dan terbentang dari pinggir atas epiglotis sampai dengan pinggir bawah cartilago cricoidea. Dinding anterior dibentuk oleh aditus laryngis dan membrana mukosa. Dinding posterior disokong oleh corpus vertebra cervicalis ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Dinding lateral disokong oleh cartilago thyroidea dan membrana thyroidea.

LARYNX merupakan organ khusus yang mempunyai sphincter pelindung pada pintu masuk jalan nafas dan berfungsi dalam pembentukan suara. Di atas larynx terbuka ke dalam laryngopharynxdan di bawah larynx berlanjut sebagai trachea. Larynx dibentuk oleh beberapa cartilago yang dihubungkan oleh membrana dan ligamentum yang digerakkan oleh otot. ada 3 ruangan yang terdapat pada larynx yaitu : 1.Vestibulum laryngis (cavum laryngis superior)

2.Ventriculus laryngis (cavum laryngis medius) 3.Infragottic cavity (cavum laryngis inferior) ORGAN-ORGAN DI DALAM REGIO CERVICALIS A.Thymus Merupakan massa jaringan berwarna keabu-abuan, bentuk tidak teratur, terletak sebagian dalam thorax dan sebagian dalam leher. Terdiri dari 2 lobus yaitu dextra dan sinistra dan terbungkus jaringan ikat tipis. Pars cervicalis thymus terletak ventral dan lateral trachea, dorsal m.sternohyoideus dan m.sternothyroideus. Thymus menghasilkan lymfosit yang disebut thymosit. B.Glandula Thyroidea terdiri atas lobus kanan dan kiri yang dihubungkan oleh isthmus. melekat pada larynx dan trachea, basisnya terletak setinggi cincin trachea keempat atau kelima. C.Glandula Parathyroidea merupakan organ berbentuk lonjong yang ukuran diameternya paling panjang adalah 6 mm. biasanya terdapat 4 buah dan berhubungan erat dengan pinggir posterior glandula thyroidea. D.Trachea Merupakan tabung membranosa dan cartolaginosa yang dapat bergerak. Di thorax, trachea berakhir dengan bercabang menjadi dua bronchus setinggi discus antara vertebra thoracica keempat dan kelima. E.Oesophagus Adalah tabung muscular dengan panjang 25-30 cm, Terbentang dari pharynx sampai ke gaster. Berada setinggi vertebra cervicalis VI sampai vertebra thorachalis XI. F.Tonsilla Palatina

Merupakan kumpulan jaringan lymphoid isi noduli lymphatici dan tertutup jaringan epitel. Berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Ada dua buah yang masing-masing terletak di dalam sinus tonsiliaris yang dibatasi arcus palatoglossus dan palatopharyngeus dan lidah. Difiksasi oleh lig.suspensorium yang terletak di depan capsula tonsillaris dan lidah. II. PERSARAFAN 1. N.GLASSOPHARENGEUS (N. IX) Mengandung serat afferent lidah dan pharynx dan serat efferent untuk stylopharyngeus dan glandula parotis. Keluar dari cranium melalui foramen jugulare pars nervosa bersama N. X dan XI. Ada dua ganglion yaitu superior dan inferior. Cabangcabangnya adalah : - N.tympanicus, untuk glandula parotis - R.communicans - R.caroticuss - R.pharyngeus, memberi inervasi general sensorik untuk mucosa pharynx - R.motorius untuk m.stylopharyngeus - Rr.tonsillaris, inervasi general sensoris untuk mukosa tonsilla palatina dan palatum molle - R.lingualis, inervasi general sensoris untuk mukosa tonsilla palatina dan palatum molle 2. N.VAGUS (N. X) Tersusun atas serabut motorik dan sensorik. Mempunyai dua buah ganglion sensorik yaitu ganglion superior dan ganglion inferior. Cabang-cabang N.vagus di daerah leher : - R.meningealis - R.auricularis - Rr.pharyngealis, merupakan saraf motorik untuk pharynx dan palatum molle - N.laryngeus superior - R.carotici

- R.cardiaci - N.laryngeus recurrens, memelihara mukosa larynx di bawah plica vocalis dan semua otot larynx kecuali m.cricothyroideus 3. N.ACCESORIUS (N. XI) Tersusun atas serabut-serabut motorik. Saraf ini dibentuk dari gabungan radix cranialis dan radix spinalis. Berjalan melalui foramen jugulare pars nervosa. Radix cranialis, berhubungan dengan N. X setinggi ganglion inferior N. X. berisi serat motorik untuk inervasi otot-otot bergaris. Radix spinalis, inervasi m.sternocleidomastoideus dan m.trapezius. 4. N.HYPOGLOSSUS (N. XII) Merupakan saraf motorik untuk lidah. Berasal dari medulla oblongata dan meninggalkan tengkorak melalui canalis nervi hypoglossi os occipitale. cabang-cabangnya adalah : - Rr.meningeales - R.descendens - R.thyroideus, memelihara m.thyrohyoideus - Rr.lingualis, memelihara otot intrinsik dan extrinsik lidah 5. PLEXUS CERVICALIS Plexus cervicalis dibentuk oleh rami anterior C1 sampai dengan C4. Plexus ini ditutupi oleh lamina prevertebralis fasciae colli profundae dan berbatasan dengan v.jugularis interna di dalam selubung carotis. cabang-cabangnya adalah : - cabang superficialis : n.occipitalis minor, n.auricularis magnus, n.cutaneus colli, n.supraclavicularis cabang profundus, memelihara m.trapezius, m.sternocleidomastoideus, m levator scapulae, m.scalenus, m.prevertebralis, m.infrahyoideus dan diafragma. 6. TRUNCUS SYMPHATICUS (PARS CERVICALIS)

Serat saraf simpatis yang memelihara daerah kepala dan leher. Terdidri atas 4 ganglia : - ganglion cervicalis superior - ganglion cervicalis medius - ganglion cervicalis vertebrale - ganglion cervithoracicum III. VASKULARISASI 1. ARTERIALISASI 1.1 A.CAROTIS COMMUNIS Ada dua yaitu dextra dan sinistra, yang dextra merupakan cabang dari tryncus brachiocephalicus, dan sinistra adalah cabang dari arcus aorta. a.carotis communis bercabang menjadi a.carotis externa dan a.carotis interna setinggi os hyoideum atau tepi atas lamina cartilago thiroidea (setinggi vertebra C III - IV). 1.2 A.CAROTIS EXTERNA Adalah salah satu cabang terminal a.carotis communis. Pembuluh ini mensuplai struktur-struktur di leher, wajah, dan kulit kepala. A.carotis externa juga mendarahi lidah dan maxilla. Cabang-cabangnya adalah : A.thyroidea superior A.pharyngea ascendens A.lingualis A.facialis A.occipitalis A.auricularis temporalis A.temporalis superficialis A.maxillaris

1.3 A.CAROTIS INTERNA Merupakan cabang terminal a.carotis communis. Pembuluh ini terbungkus di dalam selubung carotis bersama dengan v.jugularis interna dan n.vagus. A.carotis interna

tidak memberikan cabang di daerah leher. Pembuluh ini mendarahi otak, mata, dahi, dan sebagian hidung.

2. VENA Terdiri dari vena superficialis dan vena profundus. Vena superficialis antara lain v.jugularis externus dan v.jugularis anterior. Vena profundus antara lain v.jugularis internus.

IV. PEMBULUH LIMFA Aliran lymfe regio ccolli antara lain : Lnn. submentalis, menerima lymfe dari bibir bawah, dagu, depan lidah. Lnn. submandibularis, terletak superficial dari glandula submandibularis. Menerima lymfe dari regio facei. Lnn. cervicalis superficialis, terletak sekitar v.jugularis externa. Menerima lnn.regio facei, anterior lnn.parotis, lnn buccalis, lnn.occipitalis, dan lnn retroauicularis. Lnn. cervicalis anterior, tidak selalu ada, biasanya pada trachea dan larynx atau v.jugularis anterior. Lnn. cervicalis profundus, membentuk rantai sepanjang permukaan anterolateral v.jugularis interna. nodi ini terdapat di dalam selubung carotis dan menampung pembuluh limfe aferen dari struktur yang ada di dekatnya dan dari seluruh kelompok nodi lymphoidei lainnya di leher dan kepala. Pembuluh limfe eferen dari nodi bergabung untuk membentuk truncus lymphaticus, yang bermuara ke

ductud thoracicus, ductus lymphaticu dextra, atau truncus lymphaticus subclavius, atau bermuara langsung ke v.brachiocephalica.

BAB III PEMBAHASAN

III.1. DEFINISI III.2. KLASIFIKASI. III.2.1. ABSES PERITONSIL (QUINSY) Etiologi. Proses ini terjadi sebagai komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman penyebab samma dengan penyebab tonsilitis, dapat ditemukan aerob dan anaerob.

Patologi. Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Walaupun sangat jarang, abses peritonsil dapat terbentuk dibagian inferior. Pada stadium permulaan (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak permukaannya hiperemis. Bila proses berlanjut, terjadi supurasi sehingga daerah tersebut lebih lunak. Pembengkakakn peritonsil akan mendorong tonsil dan uvula ke arah kontralateral. Bila proses berlangsung terus, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m. pterigooid interna, sehingga timbul trismus. Abses pecah spontan , mungkin dapat terjadi aspirasi paru. Gejala dan tanda. Selain gejala dan tanda tonsilitis akut, juga terdapat odinofagia (nyeri menelan) yang hebat, biasanya pada sisi yang sama juga terjadi nyeri telinga (otalgia), mungkin terdapat muntah (regurgitasi), mulut berbau (foetoer ex ore), banyak ludah (hipersalivasi), suara gumam (hot potato voice) dan kadang - kadang sukar membuka mulut (trismus), serta pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan.

Pemeriksaan. Kadang - kadang sukar memeriksa seluruh faring, karena trismus. Palatum mole tampak membengkak dan menonjol ke depan, dapat teraba fluktuasi. Uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Tonsil bengkak, hiperemis, mungkin banyak detritus dan terdorong ke arah tengah, depan dan bawah.

Terapi. Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika golongan penisilin atau klindamisin, dan obat simptomatik. Juga perlu kumur - kumur dengan cairan hangat dan kompres dingin pada leher. Bila terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah. Tempat insisi ialah didaerah yang paling menonjol dan lunak, atau pada pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas terakhir pada sisi yang sakit. Kemudian pasien dianjurkan untuk operasi tonsilektomi. Bila dilakukan bersama sama tindakan drainase abses, disebut tonsilektomi "a' chaud". Bila tonsilektomi dilakukan 3 - 4 hari sesudah drainase abses, disebut tonsilektomi "a' tied", dan bila tonsilektomi 4 - 6 minggu sesudah drainase abses, disebut tonsilektomi "a' froid" Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2 - 3 minggu sesudah drainase abses. Komplikasi. (1) Abses pecah spontan, dapat mengakibatkan perdarahan, aspirasi paru atau piema. (2) Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring. Pada penjalaran selanjutnya, masukl ke mediastinum, sehingga terjadi mediastinitis. (3) Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat mengakibatkan trombus sinus kavernosus, meningitis dan abses otak. III.2.2. ABSES RETROFARING Penyakit ini biasanya ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfa, masing - masing 2 - 5 buah pada sisi kanan dan kiri. Kelenjar ini menampung aliran limfa dari hidung, sinus paranasal, nasofaring, faring, tuba Eustachius dan telinga tengah. Pada usia di atas 6 tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi.

Etiologi. Keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya abses ruang retrofaring ialah (1) infeksi saluran nafas atas yang menyebabkan limfadenitis retrofaring. (2) trauma dinding belakang faring oleh benda asing seperti tulang ikan atau tindakan medis, seperti adenoidektomi, intubasi endotrakea dan endoskopi. (3) Tuberkulosis vertebra servikalis bagian atas (abses dingin). Gejala dan tanda. Gejala abses retrofaring ialah rasa nyeri dan sukar menelan. Pada anak kecil, menyebabkan anak menangis terus (rewel) dan tidak mau makan atau minum. Juga terdapat demam, leher kaku dan nyeri. Dapat timbul sesak nafas karena sumbatan jalan nafas, terutama di hipofaring. Bila proses peradangan berlanjut sampai mengenai laring dapat timbul stridor. Sumbatan oleh abses juga dapat mengganggu resonansi suara, sehingga terjadi perubahan suara. Pada dinding belakang faring tampak benjolan yang teraba lunak, biasanya unilateral. Diagnosa. Diagnosa ditegakkan berdasarkan adanya riwayat infeksi saluran nafas bagian atas atau trauma. Gejala dan tanda klinik serta pemeriksaan penunjang foto rontgen jaringan lunak leher lateral, akan tampak pelebaran ruang retrofaring dan berkurangnya lordosis kolumna vertebra servikalis. Diagnosis banding. 1. Adenoiditis. 2. Tunor 3. Aneurisma aorta. Terapi. Terapi abses retrofaring ialah dengan medikamentosa dan tindakan bedah. Sebagai terapi medikamentosa diberikan antibiotik dosis tinggi, untuk kuman aerob

dan anaerob, diberikan secara parenteral. Selain itu dilakukan pungsi dan insisi abses dengan laringoskopi langsung dalam posisi pasien berbaring Trendlenburg. Pus yang keluar segera dihisap, agar tidak terjadi aspirasi. Tindakan dapat dilakukan dalam analgesia lokal atau anestesia umum. Pasien dirawat inap sampai gejala dan tanda infeksi reda. Komplikasi. Komplikasi yang mungkin terjadi ialah (1) penjalaran keruang parafaring, ruang vaskuler viscera, (2) mediastinitis, (3) obstruksi jalan nafas sampai asfiksia (4) bila pecah spontan , dapat menyebabkan pneumonia aspirasi dan abses paru. III.2.3. ABSES PARAFARING. Etiologi. Ruang parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara (1) Langsung, yaitu akibat tusukan jarum pada saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia. Peradangan terjadi karena ujung jarum jarum suntik yang telah terkontaminasi kuman menembus lapisan otot tipis (m. konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris. (2) Proses supurasi kelenjar limfe leher bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus paranasal, mastoid dan vertebra servikalis dapat merupakan sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang parafaring. (3) Penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring atau submandibula. Gejala dan tanda. Gejala dan tanda yang utama ialah trismus, indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula, demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring, sehingga menonjol kearah medial. Diagnosa.

Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gejala dan tanda klinik. Bila meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto Rontgen jaringan lunak AP atau CT scan. Komplikasi. Proses peradangan dapat menjalar secara hematogen, limfogen atau langsung( perkontinuitatum) ke daerah sekitarnya. Penjalaran keatas dapat mengakibatkan peradangan dengan intrakranial, ke bawah menyusuri selubung karotis mencapai mediastinum. Abses juga dapat menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah. Bila pembuluh karotis mengalami nekrosis, dapat terjadi ruptur, sehingga terjadi perdarahan hebat. Bila terjadi periflebitis atau endoflebitis, dapat timbul tromboflebitis dan septikemia. Terapi. Untuk terapi diberi antibiotika dosis tinggi secara parenteral terhadap kuman aerob dan ananerob. Evakuasi abses harus segera dilakukan bila tidak ada perbaikan dengan antibiotika dalam 24 - 48 jam dengan cara eksplorasi dalam narkosis. Caranya melalui insisi dari luar dan intra oral. Insisi dari luar di lakukan 21/2 jari dari bawah dan sejajar mandibula. Secara tumpul eksplorasi dilanjutkan dari batas anterior m.sternokleidomastoideus ke arah atas belakang menyusuri bagian medial mandibula dan m.pterigoid interna mencapai ruang parafaring dengan terabanya mencapai ruang parafaring dengan terabanya prosesus stiloid. Bila nanah terdapat didalam selubung karotis , insisi dilanjutkan vertikal dari pertengahan insisi horizontal kebawah didepan m.sternoklidomastoideus (cara Mosher). Insisi intraoral dilakukan pada dinding lateral faring. Dengan memakai klem arteri eksplorasi dilakukan dengan menembus m.konstriktor laring superior kedalam ruang parafaring. anterior. Insisi intraoral dilakukan bila perlu dan sebagai terapi tambahan terhadap insisi eksternal. Pasien dirawat inap sampai gejala dan tanda infeksi reda.

III.2.4. ABSES SUBMANDIBULA. Ruang submandibula terdiri dari ruang sublingua dan submaksila. Ruang sublingual dari ruang submaksila oleh otot milohioid. Ruang submaksila selanjutnya dibagi lagi atas ruang submental dan ruang submaksila (lateral) oleh otot digastrikus anterior. Namun ada pembagian lain yang tidak menyertakan ruang sublingua ke dalam ruang submandibula, dan membagi ruang submandibula atas ruang submental dan ruang submaksila saja. Abses dapat dibentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah kepala leher. Etiologi. Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfe submandibula. Mungkin juga sebagai kelanjutan infeksi ruang leher dalam lain. Kuman penyebab biasanya campuran, dapat anaerob atau aerob. Gejala dan tanda. Nyeri leher disetrai pembengkakan dibawah mandibula dan atau di bawah lidah, mungkin berfluktuasi.

Terapi. Antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara parenteral. Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anestesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os. hioid, tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda. III.2.5. ANGINA LUDOVICI. Angina Ludovici ialah infeksi ruang submandibula berupa selulitis dengan tanda khas berupa pembengkakan seluruh ruang submandibula, tidak membentuk abses, sehingga keras pada perabaan submandibula. Etiologi. Sumber infeksi seringkali berasal dari gigi atau dasar mulut, oleh kuman aerob dan anaerob.

Gejala dan tanda. Terdapat nyeri tenggorok dan leher, disertai pembengkakan di daerah submandibula, yang tampak hiperemis dan keras pada perabaan. Dasar mulut membengkak, dapat mendorong lidah ke belakang, sehingga menimbulkan sesak napas, karena sumbatan jalan nafas. Diagnosis. Diagnosis di tegakkan berdasarkan riwayat sakit gigi, mengorek atau mencabut gigi, gejala dan tanda klinik. Pada "Pseudo Angina Ludovici", dapat terjadi fluktuasi.

Terapi. Sebagai terapi diberikan antibiotik dengan dosis tinggi, untuk kuman aerob dan anaerob, dan diberikan secara parenteral. Selain itu dilakukan eksplorasi yang dilakukan untuk tujuan dekompresi (mengurangi ketegangan) dan evakuasi pus (pada angina Ludovici jarang terdapat pus) atau jaringan nekrosis. Insisi dilakukan di garis tengah secara horizontal setinggi os hioid ( 3-4 jari dibawah mandibula). Perlu dilakukan pengobatan terhadap penyebab infeksi (gigi), untuk mencegah kekambuhan. Pasien dirawat inap sampai infeksi reda. Komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi ialah (1) Sumbatan jalan nafas (2) Perjalanan abses ke ruang leher dalam lain dan mediastinum, dan (3) Sepsis.

(Etiologi, Patologi, Gejala, Pemeriksaan, Terapi) BAB IV KESIMPULAN BAB V DAFTAR PUSTAKA