referat selulitis palpebra chriss

Download Referat Selulitis Palpebra Chriss

Post on 09-Jul-2016

158 views

Category:

Documents

66 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

s

TRANSCRIPT

ReferatSelulitis Palpebra

Disusun Oleh:Christian Adiputra Wijaya 11.2014.084

Pembimbing:dr. Ernita Tantawi, Sp.M

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit MataFakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaRSPAD Gatot Subroto Jakarta PusatPeriode 18 April 2016 21 Mei 2016

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangSelulitis preseptal merupakan suatu inflamasi yang bila ditangani dengan tepat dapat sembuh dengan sempurna tanpa menimbulkan kerugian dalam pengelihatan pasien, tetapi bila penangan terlambat atau tidak tepat, inflamasi selulitis preseptal dapat menjalar ke retroseptal sehingga dapat menyebabkan selulitis orbital yang mempunyai komplikasi yang cukup membahayakan, dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan organ vital yaitu otak kita, sehingga dapat menyebabkan meningitis.

Selulitis preseptal dan selulitis orbita memiliki manifestasi klinis yang mungkin mirip, akan tetapi kedua kondisi tersebut harus dibedakan. Selulitis preseptal hanya melibatkan jaringan lunak di anterior septum orbital dan tidak melibatkan struktur di dalam rongga orbita. Selulitis preseptal dapat menyebar ke posterior septum orbita dan berprogresi selulitis orbita dan abses orbital atau subperiosteal. Infeksi pada orbita sendiri dapat menyebar secara posterior dan menyebabkan meningitis atau trombosis sinus kavernosus. Selulitis preseptal umumnya merupakan penyakit pediatrik dengan 80% pasien berusia di bawah 10 tahun dan kebanyakan di antaranya berusia di bawah 5 tahun. Pasien dengan selulitis preseptal memiliki kecenderungan lebih muda dibanding pasien yang menderita selulitis orbita. Bila penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan penurunan pada pengelihatan pasien sampai kebutaan, serta dapat menimbulkan kematian. Oleh sebab itu penangan selulitis preseptal haruslah efektif untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi dan mencegah terjadinya komplikasi yang berat.

BAB IIPEMBAHASAN

DefinisiPreseptal cellulitis didefinisikan sebagai suatu inflamasi dan infeksi yang terjadi pada kelopak mata dan struktur periorbital anterior sampai ke septum orbital. Dari septum ke sturkur orbital posterior tidak terinfeksi tetapi dapat terjadi inflamasi sekunder.1 Infeksi bacterial pada orbita atau jaringan periorbital terjadi melalui tiga jalan yaitu langsung menyebar dari sinusitis yang merupakan penyebab terbesar, inokulasi langsung setelah adanya trauma dan infeksi kulit, serta penyebaran bakteri dari focus-fokus seperti otitis media dan pneumonia.2

EtiologiPada dewasa sering kali penyebab preseptal cellulitis adalah karena trauma penetrasi atau adanya sumber infeksi kutaneus (kalazion yang terinfeksi, kista epidermal), pada anak-anak penyebab paling sering adalah sinusitis.1 Selulitis preseptal pada anak-anak dan balita kurang dari 5 tahun sering terjadi berkaitan dengan bakterimia, septisemia, dan meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae dan kokus gram positif. Pada remaja dan dewasa selulitis preseptal berasal dari sumber superfisial yaitu inokulasi traumatic, kalazion, atau kista epidermal dan berespon pada antibiotic oral. Antibiotic dipilih berdasar riwayat, manifestasi klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Staphylococcus aureus merupakan pathogen paling sering pada pasien dengan trauma.1,2Preseptal selulitis biasanya merupakan kondisi unilateral yang mungkin disebabkan kondisi-kondisi seperti:3 Trauma palpebralOrganisme yang paling sering adalah S. aureus, dan S. pyogenes. Organisme yang lebih jarang adalah anaerob dan polimikrobal. Infeksi kulit ekstraokularDapat ditemukan pada impetigo (karena S. aureus, S. pyogenes grup A); erysipelas (karena S. pyogenes grup A); atau ruam kulit akibat virus (HSV, HZV) Penyebaran infeksi dari traktus pernafasan atas atau telinga tengahPenyebab yang paling sering ditemukan adalah H. influenzae dan S. pneumoniae.

Anatomi Orbital3,4Orbita adalah sebuah rongga berbentuk segi empat seperti buah pir yang berada di antara fossa kranial anterior dan sinus maksilaris. Tiap orbita berukuran sekitar 40 mm pada ketinggian, kedalaman, dan lebarnya. Orbita dibentuk oleh 7 buah tulang:Gambar 1 anatomi orbita

Os. Frontalis Os. Maxillaris Os. Zygomaticum Os. Sphenoid Os. Palatinum Os. Ethmoid Os. Lacrimalis

Gambar 1 anatomi orbita

Secara anatomis orbita dibagi menjadi enam sisi, yaitu:1. Dinding medial, terdiri dari os maxillaris, lacrimalis, ethmoid, dan sphenoid. Dinding medial ini seringkali mengalami fraktur mengikuti sebuah trauma. Os ethmoid yang menjadi salah satu struktur pembangun dinding medial merupakan salah satu lokasi terjadinya sinusitis etmoidales yang merupakan salah satu penyebab tersering selulitis orbita.1. Dinding lateral, terdiri dari sebagian tulang sphenoid dan zygomaticum. 1. Langit- langit, berbentuk triangular, terdiri dari tulang sphenoid dan frontal. Defek pada sisi ini menyebabkan proptosis pulsatil.1. Lantai, terdiri dari os. Palatina, maxillaris, dan zygomaticum. Bagian posteromedial dari tulang maksilaris relatif lemah dan seringkali terlibat dalam fraktur blowout.1. Basis orbita, merupakan bukaan anterior orbita1. Apeks orbita, merupakan bagian posterior orbita dimana keempat dinding orbita bekonvergensi, memiliki dua orifisium yaitu kanal optikus dan fisura orbital superior

Septum orbital1,4Pada orbita terdapat suatu membran jaringan ikat yang tipis yang melapisi berbagai struktur. Membran tersebut terdiri dari fascia bulbi, muscular sheats, intermuscular septa, dan ligamen lockwood. Di dalam orbita terdapat struktur- struktur sebagai berikut: bagian n. optikus, muskulus ekstraokular, kelenjar lakrimalis, kantung lakrimalis, arteri oftalmika, nervus III, IV, dan VI, sebagian nervus V, dan fascia serta lemak.Inflamasi periorbital dapat diklasifikasikan menurut lokasi dan derajat keparahan. Salah satu pertanda anatomis dalam menentukan lokasi penyakit adalah septum orbital. Septum orbital adalah membran tipis yang berasal dari periosteum orbital dan masuk ke permukaan anterior lempeng tarsal kelopak mata. Septum memisahkan kelopak mata superfisial dari struktur dalam orbital dan membentuk barier yang mencegah infeksi dari kelopak mata menuju rongga orbita.1. Fisiologi gejala3Kakunya struktur tulang orbita menyebabkan lubang anterior menjadi satu- satunya tempat ekspansi. Setiap penambahan isi orbita yang terjadi di samping atau belakang bola mata akan mendorong organ tersebut ke depan, hal ini disebut dengan proptosis. Penonjolan bola mata adalah tanda utama penyakit orbita. Proptosis dapat disebabkan lesi- lesi ekspansif yang dapat bersifat jinak atau ganas, berasal dari tulang, otot, saraf, pembuluh darah, atau jaringan ikat. Selain itu dapat juga terjadi proptosis tanpa adanya penyakit orbita. Hal ini disebut dengan pseudoproptosis. Pseudoproptosis dapat terjadi pada miopia tinggi, buftalmos, dan retraksi kelopak mata. Proptosis sendiri tidak menimbulkan cedera kecuali membuat kelopak mata tidak bisa ditutup, akan tetapi penyebab proptosis itu sendiri seringkali berbahaya.Posisi mata ditentukan oleh lokasi massa. Ekspansi di dalam kerucut otot mendorong mata lurus ke depan(proptosis aksialis), sedangkan massa yang tumbuh di luar kerucut otot mendorong mata ke samping atau vertikal menjauhi masa tersebut(proptosis non aksialis). Kelainan bilateral umumnya mengindikasikan adanya penyakit sistemik misalanya penyakit graves. Istilah eksoftalmos sering dipakai untuk menggambarkan proptosis pada graves. Proptosis pulsatil dapat disebabkan oleh fistula karotiko kavernosa, malformasi pembuluh darah arteri orbita, atau transmisi denyut otak akibat tidak adanya atap orbita superior. Proptosis yang bertambah dengan penekukan kepala ke depan atau dengan perasat valsava merupakan suatu tanda adanya malformasi vena orbita atau meningokel.Pada perubahan posisi bola mata, terutama apabila terjadi dengan cepat, mungkin timbul interferensi mekanis terhadap gerakan bola mata yang cukup untuk membatasi pergerakan mata dan diplopia. Dapat timbul nyeri akibat ekspansi cepat, peradangan, atau infiltrasi pada saraf sensoris. Penglihatan biasanya tidak terpengaruh di awal ekcuali bila lesi berasal dari n. optikus atau langsung menekan saraf tersebut.Tanda lainnya dapat berupa edema kelopak mata dan periorbital, diskolorisasi kulit, ptosis, kemosis, dan injeksi epibulbar. Selain itu dapat juga terjadi perubahan fundus seperti pembengkakan cakram optik, atrofi optik, kolateral optikosiliaris, dan lipatan koroid.1. Inflamasi orbita4Penyakit inflamasi pada orbita dapat diklasifikasikan menjadi:1. Inflamasi orbita akut dan inflamasi terkait 0. Selulitis preseptal0. Selulitis orbita dan abses intraorbital0. Osteoperiostitis orbita0. Tromboflebitis orbita0. Tenonitis0. Trombosis sinus kavernosus1. Inflamasi orbita kronik1. Inflamasi spesifik0. Tuberkulosis0. Sifilis0. Actinomikosis0. Mukormikosis0. Infestasi parasit1. Inflamasi non spesifik1. Penyakit inflamasi orbital idiopatik1. Sindroma tolosa hunt1. Periostitis orbital kronik

Gambar 2 berbagai inflamasi orbita

EpidemiologiPredileksi terjadinya selulitis preseptal tidak dipengaruhi ras atau gender pada dewasa. Tetapi pada anak-anak ditemukan anak laki-laki 2 kali lebih sering terjadi seulitis preseptal dan orbital dibandingkan dengan perempuan. Rerata usia antara 7-12 tahun. Kondisi ini lebih sering terjadi pada musim dingin dikarenakan meningkatnya risiko terjadinya sinusitis5

Factor risikoPenyakit yang mungkin di derita sebelum terjadinya selulitis preseptal, antara lain:1 Sinusitis Hordeolum Kalazion Bug bites Lesi akibat trauma Lesi akibat bedah di dekat kelopak mata Dakriosistitis

Manifestasi klinisEdema palpebral, eritema, dan inflamasi berat mungkin terjadi. Biasanya melibatkan bola mata. Reaksi pupil, ketajaman pengelihatan, dan motilitas ocular tidak terganggu. Rasa nyeri pada pergerakan bola mata dan kemosis tidak ditemukan. 1,2Pasien dapat febris atau subfebris, dan pasien dapat mengeluhk