buku panduan skill lab1

of 59 /59
BUKU PANDUAN SKILL LAB BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE II (BLOK ECCE II) UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 1

Author: shofa-shabrina-henandar

Post on 03-Jan-2016

125 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BUKU PANDUAN SKILL LAB

BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE II(BLOK ECCE II)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEDOKTERAN

PURWOKERTO

2013

LEARNING OUTCOME

Mahasiswa mampu menjelaskan dan melakukan resusitasi jantung otak :

Mahasiswa mampu mengidentifikasi penderita henti napas dan henti jantung

Mahasiswa mampu melakukan tindakan untuk membebaskan jalan napas

Mahasiswa mampu melakukan pertolongan pertama pada henti napas dan henti jantung

TINJAUAN PUSTAKA

Penderita gawat darurat ialah penderita yang oleh karena suatu sebab (penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan anestesi ) yang bila tidak segera ditolong akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh, atau meninggal.

Dalam menghadapi penderita gawat darurat maka faktor waktu sangat memegang peranan yang penting (time saving is life saving / tindakan pada menit-menit pertama dalam menangani kegawatan medik tersebut, dapat berarti besar dan sangat menentukan hidup atau matinya penderita, karena itu harus dilakukan dengan cara yang tepat, cepat, dan cermat.

Dalam menangani penderita, kita kenal adanya initial assesmen, sehingga pengelolaan penderita berlangsung dengan tepat dan cepat. Initial assesmen ini meliputi :

1. Persiapan

2. Triase

3. Survey primer

4. Sesusitasi

5. Tambahan dari survey primer dan resusitasi

6. Survey sekunder ( head to toe dan anamnesa )

7. Tambahan dari survey sekunder

8. Pemantauan dan re-evaluasi lanjut

9. Penanganan definitive

Dalam praktek urutan di atas disajikan berurutan, namun kenyataannya memerlukan tindakan yang simultan. Triase adalah cara mendiagnosa dan memilah penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia. Survey primer mendiagnosa fungsi vital penderita, yang meliputi :Airway, Breathing, dan Circulation. Survey secunder dilakukan setelah fungsi vital telah selesai dan stabil.Survey secunder adalah pemeriksaan dari ujung kepala sampai kaki dengan pemeriksaan penunjang untuk melakukan terapi selanjutnya.

Prioritas penanganan penderita gawat darurat harus dilandaskan kenyataan bahwa terdapat urutan system yang dapat menyebabkan kematian lebih cepat, yaitu :

1. Breath : masalah dengan pernapasan

2. Bleed : masalah dengan circulasi

3. Brain : masalah dengan kesadaran dan susunan saraf

4. Bladder : masalah dengan urogenetal

5. Bowel : masalah dengan tractus digestivus

6. Bone : masalah dengan tulang

Keterlambatan penanganan sesuai pioritas dapat menyebabkan gangguan , cacat, sesuai dengan tingkat keterlambatan. Resusitai jantung paru otak merupakan tindakan awal untuk mencegah kematian akibat gangguan fungsi vital apapun penyebab ganggua fungsi vital tersebut. Kematian sendiri terdiri dari 3 tingkatan , yaitu kematian klinis (clinical death), kematian otak (brain death) dan kematian biologis (biological death). Kematian klinis ditandai dengan henti napas dan henti jantung. Usaha resusitasi dimaksudkan untuk mencegah tingkat kematian dari kematian klinis ke kematian otak.

Untuk kepentingan pengajaran resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase yaitu :

1. Bantuan hidup dasar (basic Life Support ) terdiri dari managemen : A (Airway), B (Breathing), C (Circulation)

2. Bantuan hidup lanjut (Advance Life Support ) terdiri dari managemen : D (Drug, Disability, Deferentipal Diagnosa ), E ( EKG, Eksposure ), F (Fibrilation terapi, Fluid),

3. Bantuan Hidup jangka Panjang (Prolonged Live Support) teridiri dari managemen G (gauging). H (human mentation), I (Intensive terapy)

AIRWAY

Sistem pernapasan mendukung metabolisme tubuh dengan jalan menyediakan oksigen untuk metabolisme sel. Ketidakmampuan sistem pernapasan untuk menyediakan oksigen, terutama ke otak dan organ vital lainnya akan mengakibatkan kematian yang cepat. Kematian-kematian akibat kesalahan airway managemen disebabkan karena :

Kegagalan mengetahui adanya gangguan terhadap aiway

Ketidakmampuan membuka airway

Kegagalan mengetahui pemasangan airway yang salah

Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi Aspirasi lambung, darah dan lain-lain.1. Identifikasi masalah

Gangguan pernapasan dapat timbul spontan oleh obstruksi tiba-tiba atau perlahan-lahan karena mekanisme lain. Napas cepat meupakan tanda awal terhadap kebutuhan tubuh akan oksigen. Ketakutan atau gelisah pada pasien tidak sadar harus dievaluasi berulang , apakah ini berhubungan dengan proses sakitnya atau beban psikologi. Kasus dengan melibatkan cedera kepala, pemakaian obat-obatan, alkohol, cedera thorak dapat menyebabkan gangguan airway.

2. Tanda objektif gangguan airway

Look ( pasien gelisah dan perubahan kesadaran. Menandakan gejala hipoksia dan hiperkarbia. Terlihat sianosis terutama pada kulit sekitar mulut dan kuku. Terlihat juga usaha napas dengan bantuan otot pernapasan tambahan. Lihat pula apakah ada pergerakan napas, retraksi iga,benda asing, dll.

Listen ( dengarkan apakah ada suara, ngorok, seperti berkumur, bersiul, yang mungkin berhubungan dengan sumbatan parsial dari laring.

Feel ( rasakan, apakah adaaliran udara yang keluar dari mulut, adakah getaran di leher akibat sumbatan parsial

3. Managemen

Harus diingat bahwa penanganan terhadap masalah airway harus senantiasa disertai dengan pengamanan terhadap cervical spine terutama pada penderita trauma. Pada penderita dengan masalah airway harus secara cepat diketahui apakah ada benda asing, cairan lambung, darah, di saluran cerna bagian atas., fraktur mandibula, fraktur laring atau.fraktur tulang wajah.Jika karena benda asing maka harus segera dicoba untuk dikeluarkan baik secara manual, dengan jari atau dengan bantuan suction. Jika sumbatan diakibatkan oleh makanan, maka dapat dilakukan abdominal thrust.

Dalam kecurigaan adanya fraktur servical harus dilakukan imobilisasi segaris (inline mobilitation). Pada penderita dengan obstruksi total karena benda asing, maka langkah yang harus diperhatikan adalah :

a. Jika pasien sadar meminta untuk membatukkannya, jika gagal minta untuk membuka mulut dan lakukan secara manual

b. Jika gagal, maka lakukan pukulan punggung 3-5 kali, diikuti hentakan pada bagian abdomennya, dan ulangi sampai keluar

c. Pada penderita tidak sadar, letakan paien pada posisi horizontal dan usahakan ventilai paru. Jika gagal, lakukan hentakan punggung, abdomen atau dada, dan penyapuan benda asing dengan jari, sambil menunggu perlatan langsung tiba. Selama melakukan hentakan, denyut nadi harus diperhatikan, jika tidak teraba, lakukan tindakan resusitasi jantung paru.

d. Tindakan terakhir adalah dengan cricotirotomi.

e. Jika terjadi pada anak, peganglah anak dengan muka menghadap ke bawah, topanglah dagu dan leher dengan satu tangan penolong.kemudian lakukan hentakan pada punggung secara lembut. Pada hentakan dada dilakukan dengan terlentang dan merendahkan kepala bayi, lakukan dengan dua atau tiga jari dengan lembut.tindakan hentakan perut jangan dilakukan pada anak atau bayi.

Pada pasien-pasien dengan gangguan kesadaran akan tetapi dapat bernapas spontan dan adekuat serta tidak ada sianosis maka sebaiknya diletakan dalam posisi mantap untuk mencegah aspirasi.

Teknik mempertahankan jalan napas

Pada penderita dengan kasus henti napas maka tindakan untuk membebaskan jalan napas dan memberikan ventilasi harus segera dilakukan.

1. Chin lift manuver

Empat jari salah satu tangan diletakan di bawah rahang, ibu jari di atas dagu, kemudian secara hati-hati diangkat ke depan,manuver ini tidak boleh menyebabkan posisi kepala hiperekstensi. Bila perlu ibu jari digunakan untuk membuka mulut atau bibir.

2. Jaw thrust

Mendorong angulus mandibula kanan dan kiri ke depan dengan jari-jari kedua tangan sehingga gigi bawah berada di depan gigi atas, kedua ibu jari membuka mulut dan kedua telapak tangan menempel pada kedua pipi penderita untuk imobilisasi kepala. Tindakan jaw thrust, buka mulut dan head tilt disebut triple airway manuver.

3. Pembersihan jalan napas

Dapat dengan manual memakai jari atau dengan penghisapan, gerakan menyilang : masukan jari telunjuk, tekan gigi bawah dengan ibu jari, tekan gigi atas dengan jari telunjuk. Gerakan jari di belakang gigi geligi : masukan jari telunjuk ke pipi dalam dan letakan sebagai pengganjal di molar III. Pembersihan jalan napas dapat juga dilakukan dengan bantuan alat penghisap dengan hati-hati.

4. Jalan napas orofaringeal

Alat ini dipasang lewat mulut ke faring sehingga menahan lidah tidak jatuh ke hipofaring. Ada 2 cara. Secara langsung dengan bantuan spatel lidah, atau tidak langsung dengan cara terbalik menyusuri palatum durum sampai palatum mole kemudian diputar 180 derajat.

5. Jalan napas nasofaringeal

Alat ini dipasang lewat salah satu lubang hidung sampai ke faring yang akan menahan jatuhnya pangkal lidah.Sebelum pemakain ini pelumas dan anestesi lokal dapat ditambahkan untuk mengurangi trauma di hidung.

6. Jalan napas definitive

adalah pipa dengan jalan napas yang dilengkapi dengan balon (cuff) yang dapat dikembangkan ada 2 macam cara yaitu :

a. Intubasi endotracheal : orotracheal atau nasotracheal

Dilakukan dengan bantuan laryngoskop, harus dilakukan oleh orang yang sudah ahli dengan cara :

pilihlah pipa sesuai dengan ukuran penderita, gunakan pelicin jika diperlukan.

Penderita terlentang dengan kepala ekstensi sehingga trakea dan daun laryngoskop berada dalam garis lurus.

Oksigenasi penderita, 2-3 menit

Bukalah mulut penderita dengan gerakan jari menyilang dengan tangan kanan.Pegang gagang laringoskop denagn tangan kiri dari sudut kanan mulut penderita, dorong lidahnya ke kiri sehingga lapang pandang tidak tertutupi, lindungi bibir dari cedera antar gigi dan laryngoskop

Masukan pipa endotracheal dengan tangan kanan sambil melihat melalui daun laringoskop, dan pastikan balon pipa di bawah laring.

Minta asisten untuk mmegang pipa dari sudit bibir penderita, dan segera kembangkan balon untuk cegah aspirasi.

Keluarkan daun laringoskop, dan masukan pipa orofaring, atau penahan gigitan.

Lakukan asukultasi di kedua paru untuk memastikan pipa tidak masuk ke salah satu parusaja.Kemudian plester.

b. Pembedahan (surgical airway)

Dilakukan jika tidak mungkin atau gagal melakukan intubasi endotracheal.

needle cricotiroidotomi ( dengan jarum) .Tusukan jarum atau kanul ke trachea ke arah distal memalui membrana cricotiroidea. Ukuran jarum 12-14G pada dewasa, 16-18 G pada anak-anak. Segera lakukan oksigenasi

surgical cricotiroidotomi : lakukan incisi pada membran cricotiroidotomi dan masukan kanula tracheostomi atau pipa endotracheal.

Tracheostomi : dilakukan dengan perencanaan.

BREATHING1. Terapi Suportif

Jalan napas dan ventilasi

Terapi suportif merupakan tindakan resusitasi yang dilakukan berdasar prioritas kegawatannya.Yaitu airway-breathing-circulatian dengan tujuan untuk mengatasi hipoksemia dan hiperkarbia.Pada keadaan terjadi hipoventilasi dengan PaCO2 > 50 mmHgatau henti napas maka perlu diberikan bantuan ventilasi. Bantuan dapat diberikan mouth to mouth,mouth to nose atau dengan bantuan alat mouth to faskmask, bag-valve-mask. Di rumah sakit pada umumnya menggunakan mask dan ambu bag. Dasar pemberian ventilasi bantuan adalah dengan tekanan positif berkala. Hal ini dituntut ketrampilan penolong karena bila tidak benar dapat terjadi resiko distensi lambung dan aspirasi lambung. Pemberian napas kita nilai cukup baik dengan melihat pengembangan dada yang adekuat, monitoring dengan ETCO2 dengan 25-35 mmHg dan analisa gas darah Pa CO2 35-45 mmHg.

Oksigenasi

Pemberian oksigen merupakan salah satu prioritas utama dengan tujuan menghilangkan hipoksemiayang terjadi. Fase awal sebaiknya dilakukan dengan oksigen murni 100 %. Dengan alat bag valve mask dengan aliran 12-15 liter kadar O2 hawa inspirasi mendekati 100 %. Untuk menilai pemberian oksigenasi dapat dilakukan dengan melihat saturasi Sa O2 lebih besar 95 % dan Pa O2 lebih besar 80 mmHg.2. Terapi causal

Sambil dilakukan resusitasi diupayakan mencari penyebab gawat napasnya.

CIRCULATION

Problem sirkulasi meliputi keadaan disaritmia kordis, krisis hipertensi, syok dan henti jantung. Disaritmia kordis merupakan perubahan abnormal dari denyut jantung, baik berupa gangguan denyut, keteraturan, sumber asal, cara penjalaran. Krisis hipertensi merupakan kedaruratan kardiovasculer, akibat peninggian tekanan darah secara tiba-tiba dan cepat mengganggu fungsi tanda vital. Syok adalah kegagalan organ kadiovasculer menyediakan perfusi untuk metabolisme sel.

Penderita dengan henti jantung

Penting pertama kali harus tahu keadaan dan tanda-tanda dari seorang yang henti jantung, seorang penolong harus mengenal tanda-tanda henti jantung. Tanda-tandanya meliputi :

1. Pasien tidak sadar, dengan detak jantung (-)

2. Tidak teraba denyut nadi besar, seperti arteri karotis, arteri femoralis

3. Pasien henti napas atau gasping

4. Pupil melebar

5. Death like appearance

6. Gambaran EKG dapat berupa : fibrilasi ventrikel, asistol, disosiasi.

Penanganan yang harus dilakukan adalah resusitasi dengan segera, tindakannya meliputi ;

1. Bebaskan dan bersihkan jalan napas.

2. Bantuan napas ( breathing support ).

3. Bantuan sirkulasi ( circulation support)

a. Lakukan ventilasi cepat dengan bantuan napas buatan 2 kali, kemudian lakukan pijat jantung luar.

b. RJP 1 orang operator :

Lakukan ventilasi cepat dengan mempertahankan ekstensi kepala, jika pelu ganjal leher dengan bantal, atau suatu benda. Perhatikan kemungkinan fraktur leher. Kemudian raba denyut karotis, jika tidak ada segera lakukan PJL.

Kompresikan dada dengan titik di atas proc xhypoideus 2 jari (sternum bagian bawah) dengan pangkal tangan pada sternum. Lakukan penekanan dengan berat badan dan posisi tangan lurus .

Lakukan 30 kali kompresi sternum dengan kecepatan 80 x / menit

Diselingi dengan 2 kali ventilasi paru

c. RJP dengan 2 operator.

Lakukan ventilasi cepat 2 kali sebelum pijat jantung luar, kemudian raba denyut karotis, jika tidak ada denyut segera lakukan PJL.

Satu orang operator bertindak sebagai kompresi jantung dengan kecepatan 60 x/ menit

Diselingi 2 kali ventilasi oleh operator yang satu, setiap 30 kali kompresi sternum tanpa menunggu kompresi lanjutan.

selama resusitasi operator ventilasi harus senantiasa memeriksa denyut karotis apakah spontan, atau belum.

Jika denyut teraba dan pasien masih henti napas, teruskan ventilasi paru sampai pendeita bernapas spontan.

Penghentian RJP dilakukan jika :

a. Penderita telah bernapas dan denyut spontan

b. Gagal

c. Penolong telah kelelahan

d. Datang peralatan atau orang yang lebih ahli

ADVANCE LIFE SUPPORT

Drug and Fluid, Disability, Deferential diagnosa

Merupakan usaha untuk mempertahankan dan mengembalikan sirkulasi spontan, dan stabilitas system kardiovasculer

a. dengan obat-obatan dan terapi cairan

adrenalin

natrium bikarbonat

lidokain

atropin

dopamine, dlll

b. pemberian cairan

Sesuai dengan penyebab dan tujuan pemberian terapi ( terapi cairan )

Manual Teknik Resusitasi Jantung Paru Otak

1. Pastikan kondisi dan situasi dalan kondisi aman. Jangan menolong ketika tempat tersebut dapat membahayakan penolong dan pendertia. Carilah tempat yang aman dan tidak mengganggu.

2. Segera periksa apakah penderita bernapas spontan dan denyut karotis teraba.

3. Jika pasien bernapas spontan tetapi tidak sadar, tempatkan pada posisi miring mantap dan segera cari bantuan.

4. Jika pasien henti napas dan henti jantung, segera meminta orang untuk mencari bantuan, dan segera kita lakukan resusitasi jantung paru otak.

5. Lakukan resusitasi sampai memenuhi kriteria untuk menghentikan resusitasi.

PENILAIAN RESUSITASI JANTUNG PARU

(BANTUAN HIDUP DASAR DENGAN SATU PENOLONG)

Nama :

NIM :

NoAspek yang dinilaiSkor

0123

AIRWAY

1Kaji respon klien (panggil, goyangkan bahu)

2Panggil bantuan, posisi menolong

3Atur posisi klien (terlentang dengan alas datar dan keras)

4Buka jalan napas dengan head tilt-chin lift manuver, jika ada trauma servikal dengan jaw thrust manuever

BREATHING

5Periksa napas, lakukan look, listen dan feel

6Bila tidak ada napas, berikan ventilasi 2 kali

CIRCULATION

7Raba nadi (5-10 detik)Dewasa/anak :karotis

8Tentukan titik kompresi dengan benarDewasa/anak : 2 jari atas prosesus xiphoideus *

9Berikan kompresi dada dengan kedalamanDewasa ; 1,5 - 2 inchi

10Lakukan kompresi dengan irama teratur, dilanjutkan ventilasi dengan perbandingan :Dewasa/anak : 80-100 x/menit, 30 : 2

11Cek nadiDewasa/anak :setelah 3 siklus

12Korban pulih, letakkan pada posisi stabil

Total skor

Keterangan:

0 = tidak dilakukan sama sekali

1 =dilakukan tapi jauh dari sempurna

2 = dilakukan tapi sedikit tidak sempurna

3 = dilakukan dengan sempurna

* =Critical point ( item yang harus dilakukan)

Nilai= Total skor (.) x 100 %

Penguji,

36

=

()

LEARNING OUTCOME

1. Mahasiswa mengetahui indikasi intubasi pipa endotrakeal (Endo tracheal Tube = ETT).

2. Mahasiswa trampil melakukan intubasi Endotrakeal pada penderita dewasa dan bayi atau anak

DASAR TEORI

Ventilasi melalui pipa endotrakeal merupakan cara yang sangat efektif . Jalan nafas yang terjaga menyebabkan pemberian ventilasi dan oksigen lebih terjamin. Kemungkinan aspirasi cairan lambung lebih kecil. Tekanan udara pernafasan juga menjadi mudah dikendalikan dan penggunaan Positive End Expiratory Pressure (PEEP) dapat dilakukan dengan mengatur katup ekspirasi

INDIKASI

1. Proteksi jalan nafas

Hilangnya refleks pernafasan ( cedera cerebrovascular, kelebihan dosis obat)

Obstruksi jalan nafas besar ( epiglotitis, corpus alienum, paralisis pita suara) baik secara anatomis maupun fungsional.

Perdarahan faring ( luka tusuk, luka tembak pada leher)

Tindakan profilaksis ( pasien yang tidak sadar untuk pemindahan ke rumah sakit lain atau pada keadaan di mana potensial terjadi kegawatan nafas dalam proses transportasi pasien)

2. Optimalisasi jalan nafas

saluran untuk pelaksanaan pulmanary toilet darurat (sebagai contoh : penghisapan atau bronchoscopy untuk aspirasi akut atau pun trakheitis bakterialis berat)

tindakan untuk memberikan tekanan positif dan kontinu yang tinggi pada jalan nafas ( respiratory distress syndrome pada orang dewasa dan penyakit membran hyalin)( Dibutuhkan tekanan inspirasi yang tinggi atau PEEP).3. Ventilasi mekanik.

Ventilasi mekanik pada kegagalan respirasi yang dikarenakan :

Pulmonar : penyakit asama, penyakit paru obstruktif kronik, emboli paru, pneumonia. (Work of breathing berlebihan)

Penyakit jantung atau edema pulmoner

Neurologi : berkurangnya dorongan respirasi (Gangguan kontrol pernafasan dari susunan saraf pusat)

Mekanik: disfungsi paru-paru pada flail-chest atau pada penyakit neuromuskuler

Hiperventilasi therapeutik untuk pasien pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial.

ALAT DAN BAHAN

a. Laryngoscope lengkap dengan handle dan blade-nya

b. Pipa endotrakeal ( orotracheal ) dengan ukuran : perempuan no. 7; 7,5 ; 8 . Laki-laki : 8 ; 8,5. Keadaan emergency : 7,5

c. Forceps (cunam) magill ( untuk mengambil benda asing di mulut)

d. Benzokain atau tetrakain anestesi lokal semprot

e. Spuit 10 cc atau 20 cc

f. Stetoskop, ambubag, dan masker oksigen

g. Alat penghisap lendir

h. Plester, gunting, jelli

i. Stilet

LARINGOSKOP

Ada 2 jenis laringoskop yang umum dipakai pada anak, yaitu laringoskop berdaun lurus (Miller) dan lengkung (MacIntosh) (gambar 1).

Gambar 1. Laringoskop berdaun lurus dan lengkung

Alat ini dirancang untuk menyingkirkan lidah, kemudian membuka dan melihat daerah laring.Sesuai dengan rancang bangunnya, laringoskop lurus digunakan dengan meletakkan ujung pada epiglottis, kemudian mengangkat seluruh daun laringoskop tegak lurus dengan tuasnya. Laringoskop lengkung digunakan dengan meletakkan ujung daun pada vallecula kemudian mengungkitnya dengan menggerkkan tuas ke belakang.

( gambar 2)

Gambar 2. Teknik penggunaan laringoskop daun lurus dan lengkung

Laringoskop daun lurus juga dapat diletakkan di vallecula.

Keuntungan bila diletakkan di epiglottis adalah seringkali dapat melihat pita suara dengan lebih jelas.Keuntungan bila diletakkan di vallecula adalah mengurangi rangsang epiglotis yang dapat berakibat spasme laring. Karena bentuk anatomis jalan nafas neonatus , laringoskop berdaun lurus lebih banyak digunakan pada neonatus. Sangat penting diingat bahwa dalam persiapan selalu disediakan lampu dan batu batere cadangan. Sebelum digunakan, laringoskop dirakit dahulu, disesuaikan dengan daun yang akan dipilih.

PIPA ENDOTRAKEAL

Pipa ET yang paling banyak digunakan untuk resusitasi adalah pipa plastik lengkung dengan kedua ujung yang terbuka.Pada bagian proksimalnya, pipa ET dihubungkan dengan adaptor yang berdiameter 15 mm, sesuai daengan adaptor balon resusitasi. Terdapat juga adapator dengan baku lain, yaitu 8,5 mm. Karena itu pada tas resusitasi, adaptor ini harus diseragamkan. Bagian distal pipa terdapat garis yang menunjukkan lokasi yang tepat setinggi pita suara agar posisi pipa setelah terpasang tepat pada trakea (Gambar 3)

Gambar 3. Pipa Endotrakeal dengan adaptor

Ada pula pipa ET yang memiliki lubang pada sisinya, dikenal dengan istilah Murphy eye. Lubang ini dirancang sebagai penyelamat bila terjadi obstruksi pada ujung pipa. Untuk anak di bawah usia 8 10 tahun atau lebih, biasanya tidak digunakan pipa yang menggunakan cuff ( balon) untuk mencegah edema setinggi rawan krikoid. Pipa karet merah tidak banyak lagi digunakan karena lebih sering menyebabkan edema.

Tabel 1. Pedoman ukuran laringoskop, pipa endotrakeal dan kateter penghisap

Pemilihan ukuran pipa yang tepat dapat diperkirakan dengan cara :

UsiaLaringoskopDiameter dalam pipa ET (mm)Jarak antara gigi seri/gusi ke bagian tengah trakea (cm)Kateter penghisap (F)

Neonatus < bulanMiller 02,5 ; 3,0 tanpa balon penyekat85 6

Neonatus cukup bulanMiller 0-13,0 ; 3,5 tanpa balon penyekat9 106 8

6 bulan3,5 ; 4,0 tanpa balon penyekat108

1 Tahun4,0 ; 4,5 tanpa balon penyekat118

2 TahunMiller 24,5 ; 5,0 tanpa balon penyekat128

4 Tahun5,0 ; 5,5 tanpa balon penyekat1410

6 Tahun5,5 tanpa balon penyekat1510

8 TahunMiller 2

MacIntosh 26,0 dengan atau tanpa balon penyekat1610

10 Tahun6,5 dengan atau tanpa balon penyekat1712

12 TahunMacIntosh 37,0 dengan balon penyekat1812

RemajaMacIntosh 3

Miller 37,0 ; 8,0 dengan balon penyekat2012

Diameter (dalam mm) = (usia /4) + 4

Panjang (cm) = (usia /2) + 12 (pipa oral)

= (usia /2) + 15 (pipa nasal)

Rumus di atas dapat berlaku untuk usia di atas 1 tahun. Neonatus umumnya menggunakan pipa berukuran 3 3,5 mm, kecuali bayi prematur yang mungkin memerlukan pipa berdiameter 2,5 mm. Cara lain untuk memperkirakan diameter pipa adalah dengan membandingkannya dengan diameter kelingking pasien atau diameter yang tepat dengan liang hidung. Pemilihan diameter yang tepat dapat diketahui bila dalam penggunaannya terjadi kebocoran udara melaui tepi pipa pada tekanan di atas 20 -30 cm H2O. Bila digunakan pipa dengan cuff, pengisian udara ke dalam cuff, juga harus dapat menghasilkan kebocoran udara melalui tepi cuff pada tekanan di atas 20 -30 cm H2O

CUNAM MAGILL

Cunam Magill adalah alat penjepit bersudut agar dalam penggunaannya tidak mengganggu lapangan pandang. Alat ini digunakan untuk menjepit pipa endotrakeal, terutama yang dimasukkan melalui liang hidung,dan mendorongnya hingga melewati pita suara. Cunam ini dapat juga untuk mengeluarkan benda asing dari jalan nafas atas.

TEKNIK PEMASANGAN ET PADA DEWASA

a. Beritahukan pada penderita atau keluarga mengenai prosedur tindakan yang akan dilakukan, indikasi dan komplikasinya, dan mintalah persetujuan dari penderita atau keluarga ( informed consent)

b. Cek alat yang diperlukan, pastikan semua berfungsi dengan baik dan pilih pipa endotrakeal ( ET) yang sesuai ukuran. Masukkan stilet ke dalam pipa ET. Jangan sampai ada penonjolan keluar pada ujung balon, buat lengkungan pada pipa dan stilet dan cek fungsi balon dengan mengembangkan dengan udara 10 ml. Jika fungsi baik, kempeskan balon. Beri pelumas pada ujung pipa ET sampai daerah cuff.

c. Letakkan bantal kecil atau penyangga handuk setinggi 10 cm di oksiput dan pertahankan kepala sedikit ekstensi. (jika resiko fraktur cervical dapat disingkirkan)

d. Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring dan berikan semprotan bensokain atau tetrakain jika pasien sadar atau tidak dalam keadaan anestesi dalam.

e. Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik melalui bag masker dengan Fi O2 100 % (gambar 4.a)

f. Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri memegang laringoskop.(gambar 4.b)

g. Masukkan bilah laringoskop dengan lembut menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. (gambar 4.c). Masukkan bilah sedikit demi sedikit sampai ujung laringoskop mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit di antara bilah dan gigi pasien. (gambar 4.d)

h. Angkat laringoskop ke atasdan ke depan dengan kemiringan 30 sampai 40 sejajar aksis pegangan. Jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu. (gambar 4.e)

i. Bila pita suara sudah terlihat (gambar 4.f), tahan tarikan / posisi laringoskop dengan menggunakan kekuatan siku dan pergelangan tangan. Masukkan pipa ET dari sebelah kanan mulut ke faring sampai bagian proksimal dari cuff ET melewati pita suara 1 2 cm atau pada orang dewasa atau kedalaman pipa ET 19 -23 cm (gambar 4.g).

j. Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi balon dengan udara 5 10 ml. Waktu intubasi tidak boleh lebih dari 30 detik.

k. Hubungan pipa ET dengan ambubag dan lakukan ventilasi sambil melakukan auskultasi ( asisten), pertama pada lambung, kemudian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan pengembangan dada.Bila terdengar gurgling pada lambung dan dada tidak mengembang, berarti pipa ET masuk ke esofagus dan pemasangan pipa harus diulangi setelah melakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik. Berkurangnya bunyi nafas di atas dada kiri biasanya mengindikasikan pergeseran pipa ke dalam bronkus utama kanan dan memerlukan tarikan beberapa cm dari pipa ET.

l. Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon cuff dengan menggunakan spuit 10 cc.

m. Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong atau tercabut (gambar 5.h).

n. Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit pipa ET jika mulai sadar.

o. Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % ( aliran 10 sampai 12 liter per menit).

Gambar 4.Teknik Pemasangan ETDAFTAR PUSTAKA

1. Kumpulan Materi pelatihan resusitasi Pediatrik Tahap Lanjut. Unit Kerja Koordinasi Pediatri Gawat Darurat Ikatan Dokter Anak Indonesia.Semarang.2001

2. Brigade Siaga Bencana (BSB) RS dr. Sardjito. Ed. Materi Pelatihan General emergency Life Support (GELS). Yogyakarta, 2004.

TEKNIK PEMASANGAN ETT PADA DEWASANama :

NIM :No.Aspek yang dinilaiSkor

0123

1. Beritahukan pada penderita atau keluarga mengenai prosedur tindakan yang akan dilakukan, indikasi dan komplikasinya, dan mintalah persetujuan dari penderita atau keluarga (informed consent)

2. Cek alat yang diperlukan, pastikan semua berfungsi dengan baik dan pilih pipa endotrakeal ( ET) yang sesuai ukuran.

3. Masukkan stilet ke dalam pipa ET. Jangan sampai ada penonjolan keluar pada ujung balon

4. Buat lengkungan pada pipa dan stilet

5. Cek fungsi balon dengan mengembangkan dengan udara 10 ml. Jika fungsi baik, kempeskan balon.

6. Beri pelumas pada ujung pipa ET sampai daerah cuff.

7. Letakkan bantal kecil atau penyangga handuk setinggi 10 cm di oksiput dan pertahankan kepala sedikit ekstensi. (jika resiko fraktur cervical dapat disingkirkan)

8. Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring dan berikan semprotan benzokain atau tetrakain jika pasien sadar atau tidak dalam keadaan anestesi dalam.

9. Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik melalui bag masker dengan Fi O2 100 %.

10. Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri memegang laringoskop.

11. Masukkan bilah laringoskop dengan lembut menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri.

12. Masukkan bilah sedikit demi sedikit sampai ujung laringoskop mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit di antara bilah dan gigi pasien.

13. Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan kemiringan 30 sampai 40 sejajar aksis pengangan. Jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu.

14. Bila pita suara sudah terlihat, tahan tarikan / posisi laringoskop dengan menggunakan kekuatan siku dan pergelangan tangan *

15. Masukkan pipa ET dari sebelah kanan mulut ke faring sampai bagian proksimal dari cuff ET melewati pita suara 1 2 cm atau pada orang dewasa atau kedalaman pipa ET 19 -23 cm.

16. Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi balon dengan udara 5 10 ml.

17. Hubungan pipa ET dengan ambubag dan lakukan ventilasi sambil melakukan auskultasi ( asisten), pertama pada lambung, kemudian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan pengembangan dada.

18. Bila terdengar gurgling pada lambung dan dada tidak mengembang, berarti pipa ET masuk ke esofagus dan pemasangan pipa harus diulangi setelah melakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik.

19. Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon cuff dengan menggunakan spuit 10 cc.

20. Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong atau tercabut

21. Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit pipa ET jika mulai sadar.

22. Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % ( aliran 10 sampai 12 liter per menit).

JUMLAH

Keterangan:

0 = tidak dilakukan sama sekali

1 =dilakukan tapi jauh dari sempurna

2 = dilakukan tapi sedikit tidak sempurna

3 = dilakukan dengan sempurna

* =Critical point ( item yang harus dilakukan)

Nilai= Total skor (.) x 100 %

66

Penguji,

=

1. Penderita Dewasa Empat orang dibutuhkan untuk melakukan prosedur modifikasi log roll dan imobilisasi penderita, seperti pada long spine board: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi segaris kepala dan leher penderita; (2) satu untuk badan (termasuk pelvis dan panggul); (3) satu untuk pelvis dan tungkai; dan (4) satu mengatur prosedur ini dan mencabut spine board. Prosedur ini mempertahankan seluruh tubuh penderita dalam kesegarisan, tetapi masih terdapat gerakan minimal pada tulang belakang.Saat melakukan prosedur ini, imobilisasi sudah dilakukan pada ekstremitas yang diduga mengalami fraktur.

1. Long spine board dengan tali pengikat dipasang pada sisi penderita. Tali pengikat ini dipasang pada bagian toraks, diatas krista iliaka, paha, dan diatas pergelangan kaki. Tali pengikat atau plester dipergunakan untuk memfiksir kepala dan leher penderita ke long spine board. 2. Dilakukan in line imobilisasi kepala dan leher secara manual, kemudian dipasang kolar servikal semirigid. 3. Lengan penderita diluruskan dan diletakkan di samping badan.

4. Tungkai bawah penderita diluruskan secara hati-hati dan diletakkan dalam posisi kesegarisan netral sesuai dengan tulang belakang. Kedua pergelangan kaki diikat satu sama lain dengan plester.

5. Pertahankan kesegarisan kepala dan leher penderita sewaktu orang kedua memegang penderita pada daerah bahu dan pergelangan tangan. Orang ke tiga memasukkan tangan dan memegang panggul penderita dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain memegang plester yang mengikat ke dua pergelangan kaki.

6. Dengan komando dari penolong yang mempertahankan kepala dan leher, dilakukan log roll sebagai satu unit ke arah ke dua penolong yang berada pada sisi penderita, hanya diperlukan pemutaran minimal untuk meletakkan spine board di bawah penderita. Kesegarisan badan penderita harus dipertahankan sewaktu menjalankan prosedur ini.

7. Spine board diletakkan dibawah penderita, dan dilakukan log roll ke arah spine board. Harap diingat, spine board hanya digunakan untuk transfer penderita dan jangan dipakai untuk waktu lama.

8. Untuk mencegah terjadinya hiperekstensi leher dan kenyamanan penderita, maka diperlukan bantalan yang diletakkan dibawah kepala penderita.

2. Bantalan, selimut yang dibulatkan atau alat penyangga lain ditempatkan di kiri dan kanan kepala dan leher penderita, dan kepala penderita diikat ke long spine board. Juga dipasang plester di atas kolar servikal untuk menjamin tidak adanya gerakan pada kepala dan leher. Penderita Anak-anakUntuk imobilisasi anak diperlukan long spine board pediatrik.Bila tidak ada, maka dapat menggunakan long spine board untuk dewasa dengan gulungan selimut diletakkan di seluruh sisi tubuh untuk mencegah pergerakan ke arah lateral.

Proporsi kepala anak jauh lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa, oleh karena itu harus dipasang bantalan dibawah bahu untuk menaikkan badan, sehingga kepala yang besar pada anak tidak menyebabkan fleksi tulang leher, sehingga dapat mempertahankan kesegarisan tulang belakang anak. Bantalan dipasang dari tulang lumbal sampai ujung bahu dan kearah lateral sampai di ujung board.

KomplikasiBila penderita dalam waktu lama (kurang lebih 2 jam atau lebih lama lagi) diimobilisasi dalam long spine board, penderita dapat mengalami dekubitus pada oksiput, skapula, sakrum, dan tumit.Oleh karena itu, secepatnya bantalan harus dipasang dibawah daerah ini, dan apabila keadaan penderita mengizinkan secepatnya long spine board dilepas.

1. Melepas Long Spine boardPergerakan penderita yang mengalami cedera tulang belakang yang tidak stabil akan menyebabkan atau memperberat cedera medula spinalisnya. Untuk mengurangi resiko kerusakan medula spinalis, maka diperlukan pencegahan secara mekanis untuk seluruh penderita yang mempunyai resiko.Proteksi harus dipertahankan sampai adanya cedera tulang belakang yang tidak stabil di singkirkan.

1. Seperti sebelumnya dibicarakan, melakukan imobilisasi penderita dengan long spine board adalah teknik dasar membidai (splinting) tulang belakang. Secara umum hal ini dilaksanakan pada saat penanggulangan prehospital dan penderita datang ke rumah sakit sudah dalam sarana transfer yang aman. Spine board tanpa bantalan akan menyebabkan rasa tidak nyaman pada penderita yang sadar dan mempunyai resiko terhadap terjadinya dekubitus pada daerah dengan penonjolan tulang (oksiput, skapula, sakrum, tumit ). Oleh karena itu penderita harus dipindahkan dari long spine board ke tempat dengan bantalan yang baik dan permukaan yang nyaman secepatnya bisa dilakukan secara aman. Sebelum dipindahkan dari spine board, pada penderita dilakukan pemeriksaan foto servikal, toraks, pelvis sesuai dengan indikasinya, karena penderita akan mudah diangkat beserta dengan spine boardnya. Sewaktu penderita di imobilisasi dengan spine board, sangat penting untuk mempertahankan imobilisasi kepala dan leher dan badan secara berkesinambungan sebagai satu unit. Tali pengikat yang dipergunakan untuk imobilisasi penderita ke spine board janganlah dilepas dari badan penderita sewaktu kepala masih terfiksir ke bagian atas spine board.2. Spine board harus dilepaskan secepatnya, waktu yang tepat untuk melepas long spine board adalah sewaktu dilakukan tindakan log roll untuk memeriksa bagian belakang penderita.

3. Pergerakan yang aman bagi penderita dengan cedera yang tidak stabil atau potensial tidak stabil membutuhkan kesegarisan anatomik kolumna vertebralis yang dipertahankan secara kontinyu. Rotasi, fleksi, ekstensi, bending lateral, pergerakan tipe shearing ke berbagai arah harus dihindarkan. Yang terbaik untuk mengontrol kepala dan leher adalah dengan imobilisasi inline manual. Tidak ada bagian tubuh penderita yang boleh melekuk sewaktu penderita dilepaskan dari spine board.4. Modifikasi teknik log roll,

Modifikasi tehnik log roll, dipergunakan untuk melepas long spine board. Diperlukan empat asisten: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi in line kepala dan leher; (2) satu untuk badan penderita ( termasuk pelvis dan panggul ); (3) satu untuk pelvis dan tungkai bawah; dan (4) satu untuk menentukan arah prosedur ini dan melepas long spine board.5. Tandu Sekop (Scoop Stretcher)

Alternatif melakukan modifikasi teknik log roll adalah dalam penggunaan scoop stretcher untuk transfer penderita. Penggunaan yang tepat alat ini akan mempercepat transfer secara aman dari long spine board ke tempat tidur. Sebagai contoh alat ini dapat digunakan untuk transfer penderita dari satu alat traspor ke alat lain atau ke tempat khusus misalnya meja ronsen.

Harap diingat, penderita harus tetap dalam imobilisasi sampai cedera tulang belakang disingkirkan. Setelah penderita ditransfer dari backboard ke tempat tidur dan scoop stretcher dilepas, penderita harus di reimobilisasi secara baik ke ranjang/tandu. Scoop stretcher bukanlah alat untuk imobilisasi penderita.Scoop stretcher bukanlah alat transport, dan jangan mengangkat scoop stretcher hanya pada ujung-ujungnya saja, karena akan melekuk di bagian tengah dengan akibat kehilangan kesegarisan dari tulang belakang.

Imobilisasi untuk penderita dengan kemungkinan cedera tulang belakang Penderita umumnya datang ke bagian gawat darurat dengan alat perlindungan tulang belakang.Alat ini menyebabkan pemeriksa harus memikirkan adanya cedera tulang vertebra servikal atau torakolumbal, berdasarkan dari mekanisme cedera.Pada penderita dengan cedera multipel dengan penurunan tingkat kesadaran, alat perlindungan harus dipertahankan sampai cedera pada tulang belakang disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan radiologis.Bila penderita diimobilisasi dengan spine board dan paraplegia, harus diduga adanya ketidakstabilan tulang belakang dan perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk mengetahui letak dari cedera tulang belakang.Bila penderita sadar, neurologis normal, tidak mengeluh adanya nyeri leher atau nyeri pada tulang belakang, dan tidak terdapat nyeri tekan pada saat palpasi tulang belakang, pemeriksaan radiologis tulang belakang dan imobilisasi tidak diperlukan.

Penderita yang menderita cedera multipel dan dalam keadaan koma harus tetap diimobilisasi pada usungan dan dilakukan tindakan log roll untuk mengetahui foto yang diperlukan untuk menyingkirkan adanya suatu fraktur. Kemudian penderita dapat ditransfer secara hati-hati dengan menggunakan prosedur tersebut di atas ke tempat tidur untuk bantuan ventilasi yang lebih baik.

Tabel 10 Panduan Skrining Penderita dengan Dugaan Cedera Servical1. Adanya paraplegia atau quadriplegia adalah bukti pendahuluan adanya instabilitas servikal

2. Penderita sadar, tidak mabuk, neurologis normal dan tanpa nyeri leher, atau nyeri tekan di bagian tengah leher:

Penderita seperti ini sangat jarang menderita cedera servikal akut atau instabilitas. Dengan penderita dalam posisi terlentang, lepaskan kolar dan lakukan palpasi tulang leher. Bila tidak ada nyeri tekan, mintalah penderita uuntuk melakukan latero-fleksi. Jangan memaksa menggerakkan leher penderita. Gerakan ini aman bila dilakukan oleh penderita sendiri. Bila gerakan ini tanpa nyeri, mintalah kembali agar penderita melakukan fleksi dan ekstensi lehernya. Bila inipun tanpa nyeri, tidak perlu dilakukan foto servikal.

3. Penderita sadar, neurologis normal, koperatif, namun ada nyeri leher atau nyeri tekan di bagian tengah leher.

Tugas dokter adalah untuk menyingkirkan adanya cedera servikal.Semua penderita seperti ini memerlukan foto servikal AP, Lateral dan Open mouth dengan aksial CT scan pada daerah yang dicurigai atau tulang leher bawah yang tidak dapat terlihat dengan baik hanya dengan foto polos saja. Yang dinilai pada foto cervical : (a). deformitas tulang, (b). fraktur korpus vertebra atau prosesus, (c). hilangnya kesegarisan(alignment ) aspek posterior korpus vertebra ( bagian anterior kanalis vertebralis), (d). meningkatnya jarak antar prosesus spinosus pada 1 level vertebra, (e). menyempitnya kanalis vertebralis dan (f). meningkatnya ruangan jaringan lunak prevertebral. Bila foto ini normal, lepaskan kolar, dan dibawah pengawasan seorang dokter yang menguasai masalah, lakukan fleksi dan ekstensi pada leher dan kemudian dilakukan foto fleksi lateral dari leher. Bila pada foto ini tidak ditemukan subluksasi, dianggap tidak ada cedera servikal dan kolar dapat dilepaskan. Bila salah satu dari foto di atas mencurigakan akan adanya cedera servikal, pasanglah kolar kembali, dan konsultasikan dengan seorang spesialis orthoped spine.

4. Penderita dengan gangguan kesadaran atau anak kecil yang tidak dapat menerangkan dengan jelas.

Semua penderita di atas memerlukan foto servikal lateral, AP dan open mouth disertai tambahan pemeriksaan CT scan pada daerah yang dicurigai (C1 dan C2, dan didaerah cervical bawah yang tidak dapat dinilai dengan tepat dengan foto polos) . Pemeriksaan CT pada anak adalah pemeriksaan tambahan. Bila seluruh vertebra servikal dapat terlihat, dan tanpa kelainan, maka setelah dilakukan pemeriksaan oleh ahli bedah syaraf atau ortopedi, kolar dapat dilepas.

5. Bila ragu-ragu pertahankan kolar.

6. Konsul:

Bila curiga atau menemukan cedera servikal selalu konsultasikan dengan dokter yang mempunyai keahlian dalam mengevaluasi serta melakukan tindakan terhadap penderita yang mengalami cedera vertebra.

7. Backboard

Penderita dengan deficit neurologis (kuadriplegia atau paraplegia) harus dievaluasi secara cepat dan dilepaskan dari backboard secepat mungkin. Penderita seperti ini bila tidur di atas backboard lebih dari 2 jam ber-resiko tinggi untuk dekubitus.

8. Keadaan gawat-darurat

Penderita cedera yang membutuhkan Bedah darurat sebelum pemeriksaan tulang belakang secara lengkap dikerjakan, harus ditranspor dan digerakkan secara hati-hati dengan asumsi terdapat cedera vertebra yang tidak stabil.Dalam keadaan ini kolar harus dipertahankan, penderita dipindahkan ke meja operasi dengan cara logroll. Team Bedah harus berhati-hati dalam memproteksi leher sewaktu melakukan tindakan operasi. Ahli Anestesi harus diberitahukan sejauh mana pemeriksaan untuk adanya cedera servikal sudah dilakukan.

LEARNING OUTCOME

Mahasiswa mampu melakukan keterampilan pemasangan infus.

Tujuan pemberian terapi intra vena melalui infus yaitu :

1.Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral.

2. Memperbaiki keseimbangan asam-basa.

3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah.

4. Memberikan jalan masuk untuk pemberianobat-obatan ke dalamtubuh.

5. Memonitor tekanan vena sentral (CVP).

6. Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan ketika diistirahatkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis berbagai kondisi medis. Terapi cairan intravena atau infus merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan perawatan pasien.

Berbagai cairan mempunyai manfaat dan tujuan yang berbeda-beda. Terapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 18--24 jam sesudah cedera luka bakar. Larutan parenteral pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid, dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.

Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio, dan sindroma syok. NaCl 0,45% dalam larutan Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel.

Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.

Secara sederhana, tujuan dari terapi cairan dibagi atas resusitasi untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk mengganti kebutuhan harian. Total cairan tubuh bervariasi menurut umur, berat badan dan jenis kelamin. Lemak tubuh juga berpengaruh terhadap cairan, semakin banyak lemak, semakin kurang cairannya. Ada dua bahan yang terlarut di dalam cairan tubuh yaitu elektrolit dan non-elektrolit.Tempat insersi jarum infus

Secara umum ada beberapa tempat untuk insersi jarum infus pada pemasangan infus yaitu :

a. Venapunctur perifer

1. vena mediana kubiti

2. vena sefalika

3. vena basilika

4. vena dorsalis pedis

b. Venapunctur central

1. vena femoralis

2. vena jugularis internal

3. vena subklavia.

Cara mengatur kecepatan tetesan

Pemberian cairan perinfus harus dihitung jumlah tetesan permenitnya untuk mendapatkan kebutuhan yang dijadwalkan. Jumlah ml cairan yang masuk tiap jam dapat digunakan rumus :

ml per jam = tetesan x faktor tetesanFaktor tetesan dihitung dengan 60 dibagi jumlah tetesan yang bisa dikeluarkan oleh infus set untuk mengeluarkan 1 ml. Misalnya, suatu infus set dapat mengeluarkan 1 ml cairan dalam 15 tetesan, berarti faktor tetesan (60:15) = 4. Jadi bila infus set tersebut memberikan cairan dengan kecepatan 25 tetes per menit berarti akan diberikan cairan sebanyak 25x4 = 100 ml perjam.

Tipe-tipe cairan:

1. IsotonikSuatu cairan yang memiliki tekanan osmotik yang sama dengan yang ada didalam plasma.

a. NaCI normal 0,9 %

b. Ringer laktat

c. Komponen -komponen darah (albumin 5 %, plasma)

d. Dextrose 5 % dalam air (D 5 W)

2. HipotonikSuatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih kecil daripada yang ada didalam plasma darah. Pemberian cairan ini umumnya menyebabkan dilusi konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan di intrasel dan ekstrasel, sel-sel tersebut akan membesar atau membengkak.a. Dextrose 2,5 % dalam NaCI 0,45 %b. NaCI 0,45%c. NaCI 0,2 %3. Hipertonik

Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih tinggi daripada yang ada di dalam plasma darah. Pemberian cairan ini meningkatkan konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan osmotik, sel kemudian akan menyusut.

a. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,9 %

b. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,45 % ( hanya sedikit hipertonis karena dextrose dengan cepat dimetabolisme dan hanya sementara mempengaruhi tekanan osmotik).

c. Dextrose 10 % dalam air

d. Dextrose 20 % dalam air

e. NaCI 3% dan 5%

f. Larutan hiperalimentasi

g. Dextrose 5 % dalam ringer laktat

h. Albumin 25

Kegagalan pemberian infus

Beberapa keadaan yang mengakibatkan kegagalan dalam pemberian cairan perinfus antara lain :

1. jarum infus tidak tepat masuk vena (ekstravasasi)

2. pipa infus tersumbat (karena jendalan darah atau terlipat)

3. pipa penyalur udara tak berfungsi

4. jarum infus atau vena terjepit karena posisi lengan fleksi

5. jarum infus bergeser atau menusuk ke luar vena

Komposisi Cairan

a. Larutan NaCl, berisi air dan elektrolit (Na+, Cl -),

b. Larutan Dextrose, berisi air atau garam dan kalori

c. Ringer laktat, berisi air dan elektrolit (Na+, K-, Cl -, Ca++, laktat)

d. Balans isotonik, isi bervariasi : air, elektrolit, kalori ( Na+,K Mg CI-.HCO3-.glukonat).

e. Whole blood (darah lengkap) dan komponen darah.

f. Plasma expanders, berisi albumin, dextran, fraksi protein plasma 5 % plasmanat), hespan yang dapat meningkatkan tekanan osmotik, menarik cairan dari interstisiall kedalam sirkulasi dan meningkatkan volume darah sementara.

g. Hiperalimentasi parenteral (cairan, elektrolit, asam amino, dan kalori).

Hal-hal yang harus diperhatikan dengan tipe-tipe infus tersebut:1. D5W (Dektrose 5% in Water)

a. Digunakan untuk menggantikan air (cairan hipotonik) yang hilang, memberikan suplai kalori, juga dapat dibarengi dengan pemberian obat-obatan atau berfungsi untuk mempertahankan vena dalam keadaan terbuka dengan infus tersebut.

b. Hati-hati terhadap terjadinya intoksikasi cairan (hiponatremia, sindroma pelepasan hormon antidiuretik yang tidak semestinya). Jangan digunakan dalam waktu yang bersamaan dengan pemberian transfusi (darah atau komponen darah).

2. NaCIO,9%

a. Digunakan untuk menggantikan garam (cairan isotonik) yang hilang, diberikan dengan komponen darah, atau untuk pasien dalam kondisi syok hemodinamik.

b. Hati-hati terhadap kelebihan volume isotonik (misal: gagaljantung.gagalginjal).

3. Ringer laktat

Digunakan untuk menggantikan cairan isotonik yang hilang, elektrolit tertentu, dan untuk mengatasi asidosis metabolik tingkat sedang.Tipe - tipe pemberian terapi intravena:A. IV pushIV push (IV bolus) adalah memberikanobat dari jarum suntik secaralangsung ke dalam saluran/jalan infus.

Indikasi :

1. Pada keadaan emergency resusitasi jantung paru, memungkinkan pemberian obat langsung ke dalam intravena.

2. Untuk mendapat respon yang cepat terhadap pemberian obat (furosemid, digoksin).3. Untuk memasukkan dosis obat dalam jumlah besar secara terus menerus melalui infus (lidocain, xylocain).4. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan akan injeksi intramuskuler.

5. Untuk mencegah masalah yang mungkin timbul apabila beberapa obat dicampur dalam satu botol.6. Untuk memasukkan obat yang tidak dapat diberikan secara oral (misal: pada pasien koma) atau intramuskuler (misal: pasien dengan gangguan koagulasi).

Hal-hal yang harus diperhatikan dan direkomendasikan1. Sebelum pemberian obat:

a. Pastikan bahwa obat sesuai dengan standar medik.

b. Larutkan obat sesuai indikasi. Banyak obat yang dapat mengiritasi vena dan memerlukan pengenceran yang sesuai.

c. Pastikan kecepatan pemberiannya dengan benar,

d. Jika akan memberikan obat melalui selang infus yang sama, akan lebih baik jika dilakukan pembilasan teriebih dahulu dengan cairan fisiologis (Na Cl 0,9 %).

e. Kaji kondisi pasien dan toleransinya terhadap obat yang diberikan.

f. Kaji kepatenan jalan infus dengan mengetahui keberadaan dari aliran darah.

1. Perlahankan kecepatan infus.

2. Lakukan aspirasi dengan jarum suntik sebelum memasukkan obat.

3. Tekan selang infus secara perlahan.

g. Perhatikan waktu pemasangan infus. Ganti tempat pemasangan infus apabila terdapat tanda-tanda komplikasi (misalnya: plebitis, ektravasasi, dll)2. Perhatikan respon pasien terhadap obat.

a. Adakah efek samping mayor yang timbul (anaphilaksis, respiratory distress, takhikardi, bradikardi, atau kejang)

b. Adakah efek samping minor yang timbul (mual, pucat, kulit kemerahan, atau bingung)

c. Hentikan pengobatan dan konsultasikan ke dokter apabila terjadi hal-hal tersebut.

b. Continous Infusion (infus berlanjut) menggunakan alat kontrol.Continous Infusion dapat diberikan secara tradisional melalui cairan yang digantung, dengan atau tanpa pengatur kecepatan aliran. Infus melalui intravena, intra arteri, dan intra thecal (spinal) dapat dilengkapi dengan menggunakan pompa khusus yang ditanam maupun yang ekstemal.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan :

A. Keuntungan

1. Mampu untuk menginfus cairan dalam jumlah besar dan kecil dengan akurat.

2. Adanya alarm menandakan adanya masalah seperti adanya udara di selang infus atau adanya penyubatan.

3. Mengurangi waktu perawatan untuk memastikan kecepatan aliran infus.

B. Kerugian

1. Memerlukan selang khusus.

2. Biaya lebih mahal.

3. Pompa infus akan dilanjutkan untuk menginfus kecuali ada infiltrasi.

c. Infus sementara (intermittent infusions)

Infus sementara dapat diberikan melalui" heparin lock", "piggybag" untuk infus yang kontinu, atau untuk terapi jangka panjang melalui perangkat infus.

ALAT DAN BAHAN

1. Infus set

2. Abocath

3. Cairan infus

4. Tornikuet/tensimeter

5. Kapas alkohol

6. Kasa steril

7. Betadin salep

8. plester, gunting,

9. spalk dan pembalut kalau perlu

10. tiang infus

11. perlak kecil dan alasnya

Pemasangan slang intravena :

1. Pertama lakukan verifikasi order yang ada untuk terapi IV.

2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien.

3. Pilih vena yang layak untuk dilakukan venipuncture.

a. Bagian belakang tangan - vena metakarpal. Jika memungkinkan jangan lakukan pada vena digitalis.

1. Keuntungan dilakukannya venipuncture diisi ini adalah memungkinkan lengan bergerak bebas.

2. Jika kemudian timbul masalah pada sisi ini, gunakan vena lain diatasnya.

b. Lengan bawah - vena basilica atau cephalica.

c. Siku bagian dalam - fossa antecubital - median basilic dan median cephalic untuk infus jangka pendek.

d. Ekstermitas bawah.

1. Kaki - vena pleksus dorsum, arkus vena dorsalis, vena medikal marginalis.

2. Mata kaki - vena saphena magma.

e. Vena sentralis digunakan:

1. Jika obat dan infus hipertonik atau sangat mengiritasi, membutuhkan kecepatan, dilusi volume yang tinggi untuk mencegah reaksi sistemik dan kerusakan vena lokal ( misal: kemoterapi, hiperalimentasi).

2. Jika aliran darah perifer dikurangi atau jika pembuluh darah perifer tidak dapat dimasuki ( misal pada pasien obersitas).

3. Jika diinginkan monitor CVP.4. Jika diinginkan terapi cairan jangka sedang atau jangka panjang.

Cara memunculkan vena:1. Palpasi daerah yang akan dipasang infus.

2. Anjurkan pasien untuk mengepalkan tangannya(jika yang akandigunakan lengan).

3. Pijattempat yang akan diinfus.

4. Gunakan torniket sedikitnya 5 -15 cm diatas tempatyang akan diinsersi, kencangkan torniket.

5. Alternatif lain adalah dengan menggunakan tensimeter, pasang tensimeter sedikit dibawah tekanan sistolik.

6. Raba vena tersebut, untuk meyakinkan keadaan vena

7. Biarkan ekstremitas tersebut selama beberapa menit.

8. Gunakan handuk hangat untuk melembabkan tempatyang akandiinsersi.

Komplikasi yang dapat timbul dari terapi IV:1. Infiltrasi (ektravasasi)

2. Trombophlebitis

3. Bakteremia

4. Emboli udara

5. Perdarahan

6. Trombosis

7. Imbalance elektroli,

8. Hematom, dll.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cummins, R.O. 1997. Advanced Cardiac Life Support.American Hearth Association. USA.

2. Muhiman, M. 1989. Penatalaksanaan pasien di Intensive Care Unit. Bagian Anestesiologi, FKUI. Jakarta. Daftar Pustaka.

3. Delp, MH. And Manning, RT. 1996. Major Diagnosis Fisik. EGC. Jakarta.

4. DeGowin, RL. And Brown, DD. 2000. Diagnostic Examination, 7th ed. Mc Graw-Hill Co. New York.

PENILAIAN PEMASANGAN INFUS

NAMA :

NIM :

NoAspek yang dinilaiSkor

0123

1Cek program terapi cairan/review keputusan pemberian terapi cairan

2Menanyakan keluhan utama/memeriksa adanya tanda kegawatan

3Cuci tangan

4 Memakai handscoen (prinsip APD)

5Siapkan alat - alat

6Berikan salam, panggil klien dengan sopan

7Jelaskan tujuan dan prosedur tindakannya

8Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan

9Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan.

10Bebaskan lengan pasien dari lengan baju/kemeja

11Letakkan manset 5-15 cm diatas tempat tusukkan

12Letakkan alas plastik dibawah lengan klien

13Periksa label pasien sesuai dengan kebutuhan cairan yang akan diberikan.

14Hubungkan cairan infus dengan infus set dan gantungkan.

15Alirkan cairan infus melalui selang infus sehingga tidak ada udara di dalamnya.

16Kencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan kesterilan.

17Kencangkan tournikuet/manset tensi meter (tekanan dibawah tekanan sistolik).

18Anjurkan pasien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk

19Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukkan atau sekali usap *

20Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tusukkan.

21Pegang jarum pada posisi 30 derajat pada vena yang akan ditusuk. setelah pasti masuk lalu tusuk perlahan dengan pasti.

22Rendahkan posisi jarum sejajar pada kulit dan tarik jarum sedikit lalu teruskan plastik iv catheter kedalam vena

23Tekan dengan jari ujung plastik iv catheter

24Tarik jarum infus keluar*

25Sambungkan plastik iv catheter dengan ujung selang infus.

26Lepaskan manset

27Buka klem infus sampai cairan mengalir lancar*

28Oleskan dengan salep betadin diatas penusukkan, kemudian ditutup dengan kassa steril

29Fiksasi posisi plastik iv catheter dengan plester.

30Atur tetesan infus sesuai ketentuan, pasang stiker yang sudah diberi tanggal.

31Evaluasi hasil kegiatan

32Bereskan alat-alat

33Cuci tangan

34Dokumentasi

TOTAL SKORE

Keterangan:

0 = tidak dilakukan sama sekali

1 =dilakukan tapi jauh dari sempurna

2 = dilakukan tapi sedikit tidak sempurna

3 = dilakukan dengan sempurna

* =Critical point ( item yang harus dilakukan)Batas lulus 66 , dengan tidak ada critical point yang bernilai = 0

Purwokerto, . 2013Nilai= Total skor (.) x 100 %

102

Penguji,

=

JADWAL SKILL LAB ECCE 2 (skill lab)

Hari/tanggal Ketrampilan Kelompok Trainer

Rabu/22 Mei 2013RJP - ET 1dr. Wiwiek Fatchurohmah

10.00 - 11.50RJP - ET 2dr. Tendi Novara, SpAn, Msi. Med

RJP - ET 3dr. Nur Signa Aini Gumilas, MSc.

RJP - ET 4dr. Pamela Kusuma Dewi Putri T

Pemasangan infus5dr. Afifah

Pemasangan infus6dr. Edy Priyanto, SpOG, M.Kes.

Pemasangan infus7dr. Fibi Niken Dwi Sari

Pemasangan infus8dr. Joko Setyono, MSc

Kamis/23Mei 2013RJP - ET 9dr. Wiwiek Fatchurohmah

13.00 - 14.50 RJP - ET 10dr. Tendi Novara, SpAn, Msi. Med

RJP - ET 11dr. Nur Signa Aini Gumilas, MSc.

RJP - ET 12dr. Pamela Kusuma Dewi Putri T

Pemasangan infus1dr. Afifah

Pemasangan infus2dr. Edy Priyanto, SpOG, M.Kes.

Pemasangan infus3dr. Fibi Niken Dwi Sari

Pemasangan infus4dr. Joko Setyono, MSc

Senin /27 Mei 2013RJP - ET 5dr. Wiwiek Fatchurohmah

11.00 - 12.50 RJP - ET 6dr. Tendi Novara, SpAn, Msi. Med

RJP - ET 7dr. Nur Signa Aini Gumilas, MSc.

RJP - ET 8dr. Pamela Kusuma Dewi Putri T

Pemasangan infus9dr. Afifah

Pemasangan infus10dr. Edy Priyanto, SpOG, M.Kes.

Pemasangan infus11dr. Fibi Niken Dwi Sari

Pemasangan infus12dr. Joko Setyono, MSc

RESUSITASI JANTUNG PARU DAN OTAK

PEMASANGAN ENDOTRACHEAL TUBE

PEMASANGAN ENDOTRACHEAL TUBE

PRINSIP MELAKUKAN IMOBILISASI TULANG BELAKANG DAN LOG ROLL

PEMASANGAN INFUS

42