gambaran histologis dan tinggi vili usus halus bagian ... · sampel usus diambil pada akhir...

Click here to load reader

Post on 01-Jan-2020

19 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    GAMBARAN HISTOLOGIS DAN TINGGI VILI USUS HALUS BAGIANILEUM AYAM RAS PEDAGING YANG DI BERI TEPUNG DAUN

    KELOR (Moringa oleifera) DALAM RANSUM

    SKRIPSI

    Oleh:

    YESSY ANATALIA SIAGIANI 111 12 905

    PROGRAM STUDI PETERNAKAN

    FAKULTAS PETERNAKAN

    UNIVERSITAS HASANUDDIN

    MAKASSAR

    2016

  • ii

    GAMBARAN HISTOLOGIS DAN TINGGI VILI USUS HALUSBAGIAN ILEUM AYAM RAS PEDAGING YANG DI BERI TEPUNG

    DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM RANSUM

    SKRIPSI

    Oleh:

    YESSY ANATALIA SIAGIANI 111 12 905

    Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana FakultasPeternakan Universitas Hasanuddin

    PROGRAM STUDI PETERNAKAN

    FAKULTAS PETERNAKAN

    UNIVERSITAS HASANUDDIN

    MAKASSAR

    2016

  • iii

  • iv

  • v

    KATA PENGANTAR

    Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan

    yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya yang selalu melimpah kepada umat-

    Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian hingga penyusunan tugas

    akhir yang berjudul “Gambaran Histologis dan Tinggi Vili Usus Halus bagian

    Ileum Ayam Ras Pedaging yang diberi Tepung Daun Kelor (Moringa

    oleifera) dalam Ransum” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana

    pada Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Tak lupa pula penulis

    mengucapkan syukur kepada Ibunda Maria yang senantiasa memberi

    perlindungan dan hantaran doa kepada anak-Nya Yesus Kristus atas segala

    kesehatan dan berkat selama penyusunan tugas akhir ini hingga selesai.

    Penulis mengakui banyak hambatan dan kesulitan yang dialami dalam

    menyelesaikan tugas akhir ini. Tetapi berkat kerja keras, semangat, dorongan,

    bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat

    menyelesaikan tugas akhir ini.

    Tibalah saat yang paling dinantikan sekaligus mengharukan bagi penulis,

    yaitu menyampaikan ucapan terimakasih yang setulus, seindah, dan sebanyak

    mungkin kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini,

    antara lain kepada:

    1. Ibu drh. Hj. Farida Nur Yuliati selaku pembimbing utama dan Bapak Ir.

    Mustakim Mattau, MS selaku pembimbing anggota yang telah banyak

  • vi

    meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan dan pengarahan serta

    nasehat dari awal penelitian hingga selesainya penulisan tugas akhir ini.

    2. Bapak Dr. Muhammad Ihsan Andi Dagong, S.Pt., M.Si., Ibu Prof. Dr. drh.

    Hj. Ratmawati Malaka, M.Sc., dan Bapak Prof. Dr. Ir. Djoni Prawira

    Rahardja, M.Sc. sebagai pembahas yang telah memberikan masukan dalam

    proses perbaikan tugas akhir ini.

    3. Bapak Ir.Mustakim Mattau, MS selaku Pembimbing Akademik, Bapak Dr. Ir.

    Wempie Pakiding, M.Sc selaku pembimbing Seminar Pustaka dan Ibu Dr.

    Nahariah, S.Pt., M.P. selaku pembimbing Praktek Kerja Lapangan terima

    kasih atas bimbingan dan masukan selama ini.

    4. Dekan, Pembantu Dekan I, II dan III dan seluruh Bapak/Ibu Dosen Fakultas

    Peternakan yang telah melimpahkan ilmunya kepada penulis selama berada

    dibangku perkuliahan, serta Bapak/Ibu Staf Pegawai Fakultas Peternakan

    Universitas Hasanuddin yang telah membantu dalam proses akademik.

    5. Bapak Dr. Ir.Wempie Pakiding. M.Sc Kepala Laboratorium Ilmu Ternak

    Unggas dan Ibu drh. Hj. Farida Nur Yuliati, M.Si selaku Kepala

    Laboratorium Mikrobiologi Ternak.

    6. Bapak Muhammad Yunus, Nuraeni, S.Pt dan Tri Astuti, S.Pt selaku teman

    penelitian yang telah banyak mengajarkan arti kerjasama, kebersamaan dan

    pengertian selama proses penelitian.

    7. Kanda Rachman Hakim S.Pt., M.P., Azhar S.Pt, Urfiana Sara S.Pt, Rajma

    Fastawa S.Pt, Yusri S.Pt, Trianta Tahir S.Pt, Sem S.Pt, Ridwan S.Pt, Sulkifli,

  • vii

    Nasrun, Auliya S.Pt, Takim dan Makmur yang telah banyak membantu di

    laboratorium Ilmu Ternak Unggas hingga penelitian selesai.

    8. Teman berbagi cerita selama dibangku perkuliahan Tika, Rita, Fatma, Reski,

    Nis dan Mela sukses selalu dan tetap menjadi diri sendiri.

    9. Team Kunyit: Jihad, Kandi dan Rahim, team umbi : Nesma, Wahyu dan

    Rahmat Burhan, serta team bahan pakan: Fatma, Mela, Dita dan Nis yang

    telah banyak membantu dan memotivasi penulis selama ini.

    10. Widy Wing Tandililing selaku teman dekat, teman berbagi cerita, teman

    mengadu, teman pelampiasan kemarahan dan kesedihan yang selalu

    memberikan semangat, dukungan serta doa bagi penulis dari awal hingga

    semua tahap bisa terlewati. Mengenalmu yang cukup lama menjadi kesan

    tersendiri bagi penulis, semangat mengerjakan tugas akhirnya dan cepat

    nyusul yah!!!!

    11. Partner PKL (Mega dan Hasrah) di Teaching Industry Fakultas Peternakan

    Universitas Hasanuddin yang telah mengajarkan arti kebersamaan dan

    kerjasama selama PKL berlangsung.

    12. Teman-teman KKN gel. 90 UNHAS khususnya Posko Kalosi Alau Kec. Dua

    Pitue Kab. Sidrap yaitu Khaerani, Anti, Kak Lenny, Mail dan Kak Erwin

    yang pernah tinggal seatap kurang lebih 2 bulan lamanya, meski berbeda

    agama, suku dan ras tetapi sudah dianggap seperti keluarga sendiri yang telah

    membantu, memberikan semangat , kerjasama yang tinggi. Kompak terus dan

    sukses selalu buat kalian

  • viii

    13. Teman-Teman yang telah banyak membantu selama dikampus : Wendy

    Natalia, Kasmita, Tenri, Incess Appe, Ica, Imu, Kanzul, Aswar Raden, Erick,

    Akbar, Zuhal, Kartina desember, Cica , Rismawati, Isnawati, Bambang serta

    teman- teman semua yang tidak sempat disebutkan satu per satu terima kasih

    dan sukses selalu.

    14. Teman angkatan Flock Mentality 012 terlebih khusus kelas D salam kompak

    selalu, Larva 013, solandeven 011, Lion 010, Merpati 09, Bakteri 08 dan

    Rumput 07.

    15. Lembaga Tercinta Himaprotek_UH, Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan

    Universitas Hasanuddin yang telah banyak memberi wadah terhadap penulis

    untuk berproses dan belajar.

    16. Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Unhas sebagai sarana dalam menjalin

    keakraban dan tempat menumbuhkan iman persaudaraan kepada sesama

    mahasiswa katolik lainnya khususnya buat kalian : Advin, Jabet, Marlin,

    Okta, Johan, Gedo, Kak Pius, Kak Vian, Kak Didi, Kak Vivi dan teman-

    teman KMK Unhas yang tak dapat disebukan satu per satu.

    17. Tempat kediaman selama penulis menimba ilmu di kota daeng “ Kost Oma at

    Kampung Rama Lor.5, Perm. Puri Yuhan Permai, Ramsis Unhas Putri dan

    Rumah BTP Blok B/252 terima kasih karena sudah menjadi tempat yang

    mengajarkan arti hidup mandiri.

    18. Green Office Bawakaraeng (Kantor Oriflame) dan Jaringan Drelin.biz yang

    telah memberikan peluang bagi penulis untuk mengejar impian dan bisa

    menghasilkan secara materiil.

  • ix

    19. Semua keluarga besar khususnya buat Oma Emming, Opa Miner, Oma

    Theresia, Om Teo, Om deon, Tante Puji, Tante Rian, Tante Iin, Bunda

    Kristin, Tante Ike yang telah banyak mendoakan dan mensupport penulis

    selama ini.

    Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua malaikat yang menjadi titipan

    Tuhan yakni kedua orang tua yang tercinta, Ayahanda Antonius Sanda Rupa dan

    Ibunda Damaris Bumbungan. Terima kasih atas setiap tetasan keringat, air mata,

    canda tawa, suka duka, semangat dan doa setiap hari yang tak henti-hentinya

    kalian panjatkan kepada Tuhan yang selalu menjadi kekuatan dalam diri penulis

    sehingga penulisan tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Papa dan

    Mama gelar ini kupersembahkan untuk kalian orang terhebatku, dan kepada

    saudara-saudariku: Adris, Liga, Hedwig, Monica, Ella dan si bungsu (Edo)

    serta kedua sepupu Indriani dan Novi yang sudah dianggap seperti saudara

    sendiri terima kasih atas doa dan support yang berlimpah yang diberikan hingga

    penulis mampu menyelesaikan studi ini

    Dengan sangat rendah hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih

    jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik serta saran pembaca sangat

    diharapkan adanya oleh penulis demi perkembangan dan kemajuan ilmu

    pengetahuan nantinya, terlebih khusus di bidang peternakan. Semoga makalah

    skripsi ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca terutama bagi saya sendiri.

    Makassar, November 2016

    Penulis

  • x

    ABSTRAK

    YESSY ANATALIA SIAGIAN. I111 12 905. Gambaran Histologis dan TinggiVili Usus Halus Bagian Ileum Ayam Ras Pedaging yang Diberi Tepung DaunKelor (Moringa oleifera) dalam Ransum. Di bawah bimbingan: Farida NurYuliati dan Mustakim Mattau.

    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui atau mengevaluasi pengaruhpemberian tepung daun kelor dalam ransum terhadap gambaran histologis usushalus bagian ileum. Sebanyak 72 ekor ayam ras pedaging umur 15 hari strainLohmann dipelihara secara intensif sampai umur 35 hari berdasarkan RancanganAcak Lengkap yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 3 ulangan dan 8 ekor sebagaisub ulangan. Perlakuan berupa penambahan tepung daun kelor dalam pakan basaldengan level yang berbeda (masing-masing 0, 2%, dan 4 %). Sampel usus diambilpada akhir penelitian untuk menganalisis parameter histologis. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa gambaran histologis pada usus halus bagian ileum denganpemberian tepung daun kelor dengan level 2% dan 4% dalam ransum mengalamikerusakan sel yaitu hiperplasia epitel, nektrotik epitel, peradangan danpendarahan. Semakin tinggi level pemberian tepung daun kelor dalam pakansemakin pendek vili usus halus bagian ileum.

    Kata kunci: Ayam Pedaging, Histologis, Vili, Ileum, Tepung Daun Kelor

  • xi

    ABSTRACT

    YESSY ANATALIA SIAGIAN. I111 12 905. Histological and height villiileum in small intestine of broilers fed dietary of Moringa oleifera Leaf Meal(MOLM). Supervised by: Nur Farida Yuliati and Mustakim Mattau.

    An experiment was carried out evaluate the effects of broilers fed dietaryMoringa oleifera Leaf Meal (MOLM) on the histological ileum of small intestine.A total of 72 Lohmann strain of broilers chickens 15 days reared intensively up to35 days rondomly divided into 3 treatments with 3 replication of 8 broilers. Thetreatments were he addition of Moringa leaf powder in the basal feed withdifferent levels (respectively 0, 2%, and 4%). Intestinal samples taken at the endof the study to analyze the parameters histological. The results showed that feddietary Moringa oleifera Leaf Meal (MOLM) 2% dan 4% damaged cells in ileumof small intestine like as hyperplasia epithel, necrotic epithel, inflamation, andbleed. The higher the level of Moringa oleifera Leaf Meal (MOLM) in fed gettingshorter villi of small intestine in ileum

    Key words: Broilers, histological, villi, ileum, Moringa oleifera Leaf Meal(MOLM)

  • xii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN SAMPUL...................................................................................... i

    HALAMAN JUDUL ......................................................................................... ii

    PERNYATAAN KEASLIAN........................................................................... iii

    HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... iv

    KATA PENGANTAR....................................................................................... v

    ABSTRAK ......................................................................................................... x

    ABSTRACT....................................................................................................... xi

    DAFTAR ISI...................................................................................................... xii

    DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv

    DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xv

    DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi

    PENDAHULUAN.............................................................................................. 1

    TINJAUAN PUSTAKA

    Gambaran Umum Tanaman Kelor (Moringa oleifera) ............................. 5

    Penggunaan Daun Kelor sebagai Bahan Pakan Unggas............................ 9

    Sistem Pencernaan pada Unggas ............................................................... 11

    Usus Halus........................................................................................ 12

    Histologis Usus Halus (Vili) ............................................................ 13

    Gambaran Histopatologi ............................................................................ 14

    METODOLOGI PENELITIAN

    Waktu dan Tempat..................................................................................... 16

    Materi Penelitian........................................................................................ 16

  • xiii

    Rancangan Penelitian................................................................................. 17

    Pemeliharaan.............................................................................................. 18

    Preparasi Sampel Histologi ....................................................................... 21

    Paramater yang Diukur .............................................................................. 21

    Analisis Data.............................................................................................. 21

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Gambaran Histologis Usus Halus bagian Ileum........................................ 23

    Histologis Usus Halus bagian Ileum (Tinggi Villi) Ayam Pedaging ........ 28

    KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 31

    DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 32

    LAMPIRAN....................................................................................................... 36

    DOKUMENTASI .............................................................................................. 42

    RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... 44

  • xiv

    DAFTAR TABEL

    No. Halaman

    1. Komposisi Kimia dan Nutrisi Daun Kelor ................................................ 7

    2. Komposisi Senyawa Anti-Nutrisi Daun Kelor .......................................... 8

    3. Komposisi Ransum Finisher (Umur 15-35 Hari) ...................................... 17

    4. Komposisi Nutrisi Tepung Daun Kelor..................................................... 18

    5. Komposis Nutrisi Pakan Komersil Starter (Umur 1-14 hari) Ayam Pedaging

    ................................................................................................................... 19

    6. Komposisi Nutrisi Pakan Basal Finisher (15-35 hari) ............................. 20

    7. Konsumsi Pakan, Tepung Daun Kelor dan Air Minum Umur 15-35 Hari

    .................................................................................................................. 20

    8. Tinggi Vili Usus Halus bagian Ileum Ayam Ras Pedaging yang diberi

    Tepung Daun Kelor dalam Ransum ......................................................... 28

  • xv

    DAFTAR GAMBAR

    No. Halaman

    1. Gambaran Histologis Usus Halus tanpa perlakuan (Kontrol) ................... 23

    2. Gambaran Histologis Usus Halus sdengan Penambahan Tepung Daun Kelor

    2% dalam ransum ...................................................................................... 24

    3. Gambaran Histologis Usus Halus dengan Penamabahan Tepung Daun Kelor

    4% dalam ransum ...................................................................................... 25

  • xvi

    DAFTAR LAMPIRAN

    No. Halaman

    1. Prosedur Preparasi Sampel Histologis....................................................... 36

    2. Istilah-Istilah Kesehatan ............................................................................ 41

  • 1

    PENDAHULUAN

    Ayam ras pedaging adalah salah satu ternak yang berkembang di Indonesia

    yang dipelihara dengan tujuan pemenuhan protein hewani. Peningkatan jumlah

    penduduk dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan bernilai gizi

    tinggi, menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan dan kebutuhan protein

    hewani. Salah satu cara alternatif dalam memenuhi permintaan mayarakat akan

    kebutuhan protein adalah pengembangan usaha peternakan ayam ras pedaging

    secara kontinu.

    Pengembangan usaha peternakan ayam ras pedaging sering mengalami

    berbagi kendala seperti rendahnya produktifitas dikarenakan lambatnya

    pertumbuhan. Pertumbuhan ayam dapat dipengaruhi oleh efisiensi pakan. Ayam

    yang memiliki pertumbuhan cepat efisiensi pakannya akan lebih baik daripada

    ternak yang pertumbuhannya lambat (Nursjamsiah, 1994 ; Rahmanto 2012). Hal

    ini dipengaruhi oleh proses pencernaan pakan, yang berkaitan dengan kondisi

    histologis dan kemungkinan terjadi perbedaan kondisi pada setiap organ

    pencernaan.

    Salah satu organ pencernaan yang berfungsi dalam proses penyerapan

    nutrisi adalah usus halus. Usus halus merupakan organ utama tempat

    berlangsungnya pencernaan dan absorbsi produk pencernaan dan mempunyai

    peranan penting dalam transfer nutrisi (Suprijatna, et al., 2008). Usus halus

    terletak antara lambung dan usus besar yang merupakan tempat utama terjadinya

    pencernaan secara kimia dan penyerapan nutrisi. Secara anatomis, usus halus

  • 2

    dibagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Ileum yang

    merupakan bagian paling ujung dari usus halus berfungsi dalam proses

    penyerapan nutrisi dikarenakan penyerapan nutrisi terbesar terjadi dalam ileum.

    Ileum memiliki peranan mengabsorbsi nutrisi seperti asam amino, vitamin, dan

    monosakarida.

    Setiap bagian usus halus terdiri dari empat selaput atau lapisan yaitu

    mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan adventisia atau serosa. Pada lapisan

    mukosa usus halus terdapat suatu bentuk khusus berupa vili-vili. Vili berfungsi

    untuk memperluas permukaan area lumen serta mengefisienkan proses absorbsi.

    Pertambahan bobot badan setiap ternak dipengaruhi oleh seberapa besarnya

    penyerapan (absorbsi) zat-zat makanan dalam saluran cerna. Kemampuan usus

    dalam memanfaatkan nutrisi ditentukan oleh perkembangan organ saluran

    pencernaan. Salah satu tanaman herba yang dapat digunakan sebagai pakan ternak

    adalah tanaman kelor yang dapat memberikan konstribusi dalam meningkatkan

    kinerja saluran pencernaan ayam pedaging.

    Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tumbuhan perdu yang

    ketersediaannya di Indonesia cukup banyak dan kemungkinkan dapat

    dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Suplementasi kelor dalam pakan selain

    meningkatkan performa, juga memperbaiki karakteristik kimia darah, dan

    meningkatkan respon imun tubuh terutama dalam menurunkan kandungan asam

    urat, trigliserida, dan rasio albumin/globulin pada serum ayam pedaging (Du et

    al., 2007). Selain itu, pemberian kelor juga meningkatkan performa ayam melalui

    pengaruhnya terhadap kondisi usus halus.

  • 3

    Penelitian Aderinola dkk., (2013) melaporkan bahwa pemberian daun kelor

    sebagai pakan tambahan pada level rendah (0-2%) pada ayam pedaging fase

    starter dan finisher (ad libitum) menunjukkan adanya penurunan nilai pada

    beberapa parameter hematologis, menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol

    serum, dan menurunkan kadar lemak pada daging. Berbeda dengan Aderinola et

    al. (2013), Banjo (2012) dan Teteh dkk., (2013) melaporkan bahwa pemberian

    tepung daun kelor hingga 2% dan 3% dalam pakan selama 4 minggu, tidak

    menunjukkan dampak negatif pada ayam pedaging. Berdasarkan pada kedua

    penelitian tersebut, maka penelitian ini direkomendasikan pemberian tepung daun

    kelor 2% dalam pakan untuk meningkatkan pertumbuhan ayam pedaging sebagai

    pengganti penggunaan antibiotik yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan.

    Performa dari usus halus berkolerasi dengan morfologi dari vili-vili usus

    yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis bahan pakan, zat kimia

    pakan, dan feed additif serta gangguan pertumbuhan villi usus halus yang

    kemungkinan bisa terjadi yang digambarkan melalui perbedaan gambaran

    histopatologi. Tetapi efisiensi penggunaan tepung daun kelor dalam ransum belum

    memberikan informasi yang cukup mengenai sejauh mana pengaruh yang

    diberikan terhadap performa ayam pedaging khususnya dalam proses penyerapan

    nutrisi. Oleh karena itu, perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai gambaran

    histopatologi dan tinggi vili usus bagian ileum ayam pedaging yang diberi tepung

    daun kelor dalam ransum.

    Berdasarkan uraian tersebut maka permasalahan yang dapat diidentifikasi

    pada penelitian ini ialah tepung daun kelor (Moringa oleifera) diketahui

  • 4

    mengandung zat aktif yang mampu mencegah atau meminimalkan kerusakan

    jaringan pada saluran cerna dan meningkatkan kinerja usus dalam proses absorbsi

    zat-zat nutrisi. Sehingga melalui pengamatan gambaran histologis dari usus halus

    bagian ileum ayam pedaging daun kelor dapat berpengaruh baik terhadap

    peningkatan metabolisme dan penyerapan nutrisi dalam tubuh ternak.

    Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui atau mengevaluasi

    pengaruh pemberian tepung daun kelor dalam ransum terhadap gambaran

    histologis usus halus bagian ileum

  • 5

    TINJAUAN PUSTAKA

    Gambaran Umum Tanaman Kelor (Moringa oleifera)

    Tumbuhan kelor (Moringa oleifera) merupakan merupakan salah satu

    spesies tumbuhan dalam family Moringaceae yang tahan tumbuh di daerah kering

    dan tropis. Spesies ini merupakan salah satu tanaman di dunia yang sangat

    bermanfaat, karena semua bagian dari tanaman seperti daun, bunga dan akar dapat

    dimanfaatkan untuk berbagai tujuan baik di bidang medis maupun industri

    (Sjofjan, 2008). Tumbuhan ini juga sering kali dikonsumsi oleh masyarakat

    dengan cara diolah menjadi sayur, tanaman ini selain bernilai nutrisi tinggi juga

    memiliki citarasa yang enak serta dapat digunakan sebagai obat-obatan untuk

    pemanfaatan komposisi kimia yang terdapat didalamnya.

    Kelor awalnya banyak tumbuh di India, namun kini kelor banyak ditemukan

    di daerah beriklim tropis (Grubben, 2004). Moringa oleifera merupakan

    tumbuhan asli sub-Himalaya di India, Pakistan, Banglades, dan Afganistan,

    termasuk pohon yang mudah tumbuh dan telah digunakan oleh penduduk asli

    Roma, Yunani, dan Mesir. Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan

    tumbuhan penting di India, Etiopia, Filipina, dan Sudan serta tumbuh di bagian

    barat, timur, dan selatan Afrika, Asia tropis, Amerika Latin Karibia, Florida, dan

    Pulau Pasifik (Fahey, 2005).

    Tanaman kelor ini memiliki banyak manfaat mulai dari bagian daun,

    bunga, akar yang dapat digunakan sebagai bahan makanan, bahan industri dan

  • 6

    dapat pula digunakan dalam dunia medis seperti obat-obatan. Adapun Klasifikasi

    tanaman kelor menurut Cwayita (2014) adalah sebagai berikut:

    Kingdom : Plantae

    Divisio : Magnoliophyta

    Kelas : Magnoliopsida

    Order : Brassicales

    Family : Moringaceae

    Genus : Moringa

    Species : Moringa oleifera, Lam

    Upaya pemberian tepung daun kelor dalam ransum ternak harus

    diperhatikan dosis penggunaannya, hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu

    kesehatan ternak jika diberikan dengan dosis yang berlebih, sebab selain

    mengandung zat-zat nutrisi tinggi yang bermanfaat bagi tubuh ternak, tepung

    daun kelor juga mengandung zat-zat anti nutrisi baik itu secara alami ada dalam

    tanaman maupun diperoleh dari pestisida ataupun pupuk yang diberikan pada

    tanaman.

    Beberapa senyawa nutrisi yang terkandung dalam tanaman kelor diduga

    mampu memperbaiki kondisi produktivitas ternak itu sendiri dalam proses

    perbaikan manajemen pakan khususnya pada ternak unggas. Namun dalam

    penggunaannya sebagai tambahan nutrisi dalam bentuk pakan perlu

    memperhatikan dosis penggunaan berdasarkan setiap kandungan nutrisi yang

    terdapat dalam daun kelor. Beberapa senyawa yang terkandung di dalam daun

  • 7

    kelor baik itu yang bersifat nutrisi maupun antinutrisi disajikan pada Tabel 1 dan

    Tabel 2.

    Tabel 1. Komposisi Kimia dan Nutrisi Daun KelorParameter Nilai Sumber

    Komposisi Kimia (% BK)Protein kasar 25,1 – 30,29 Moyo et al., 2011; Aderinola et

    al.,2013 ; Fuglie, 2001NDF 11,40 – 21,9 Moyo et al., 2011ADF 8,49 – 11,4 Moyo et al., 2011Energy (Kkal/100 kg) 1440,11 Ogbe et al., 2012Kadar lemak 2,11 - 5,9 Ogbe et al., 2012; Aderinola et

    al., 2013

    Profil asam amino (% BK)Lysine 1,1 – 1,64 Moyo et al., 2011Histidine 0,6 – 0,72 Moyo et al., 2011Trheonine 0,8 – 1,36 Moyo et al., 2011Arginine 1,2 – 1,78 Moyo et al., 2011; Aderinola et

    al., 2013 ; Fuglie, 2001

    Methionine 0,3 Moyo et al., 2011MineralCa (%) 1,91 – 3,65 Ogbe et al., 2012; Cwayita, 2013Mg (%) 0,38 – 0,50 Ogbe et al., 2012; Cwayita, 2013K(%) 0,97 – 1,50 Ogbe et al., 2012; Cwayita, 2013Na (%) 192,95 Ogbe et al., 2012Fe (ppm) 107,48 Ogbe et al., 2012Zn (ppm) 60,06 Ogbe et al., 2012P (ppm) 30,15 Ogbe et al., 2012Mn (ppm 81,65 Ogbe et al., 2012Cu (ppm) 6,1 Ogbe et al., 2012

  • 8

    Tabel 2. Komposisi Senyawa Anti-Nutrisi Daun Kelor

    Senyawa Anti-nutrisi Nilai (%) Sumber

    Phytate 2,59 Ogbe et al., 2012Oxalate 0,45 Ogbe et al., 2012Saponin 1,6 Ogbe et al., 2012Tannin 21,19 Ogbe et al., 2012

    Tripsin Inhibitor 3 Ogbe et al., 2012Hydrogen Cyanida 0,1 Ogbe et al., 2012

    Total Fenolik 2,02-2,74 Moyo et al., 2011

    Tanaman secara umum selain mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi

    tubuh manusia atau ternak, juga mengandung senyawa anti-nutrisi yang diperoleh

    dari pupuk dan pestisida atau terdapat dalam bagian tanaman secara alami

    (Makkar dan Becker, 1997). Beberapa senyawa kimia anti-nutrisi tersebut dikenal

    pula dengan senyawa “metabolit sekunder” yang menunjukkan aktivitas biologis

    tinggi. Zat anti- nutrisi yang umum dijumpai pada tanaman antara lain: saponin,

    tannin, flavonoid, alkaloid, tripsin (protease) ihibitor, oxalate, phytate,

    haemaglutinin (lectin), cyanogenik glikosida, cardiac glikosida, coumarin, dan

    gossypol (Soetan dan Oyewole. 2009). Beberapa senyawa ini menunjukkan

    dampak negatif terhadap kesehatan dan juga dampak positif apabla dikonsumsi

    dalam jumlah tertentu (Chivapat et al., 2011; Chivapat et al., 2012).

    Senyawa anti-nutirisi ialah senyawa-senyawa yang dihasilkan secara alami

    bahan makanan/pakan melalui metabolisme normal oleh suatu spesies (Chivapat

    et al., 2011). Mekanisme kerja dari zat anti-nutrisi ini berbeda-beda tergantung

    pada jenis senyawa dan asal tanaman yang menghasilkan seyawa tersebut,

    misalnya inaktivasi beberapa jenis nutrisi, menghambat proses cerna, atau

    penggunaan nutrisi tertentu dalam metabolisme (Kumar, 1992). Dikemukakan

  • 9

    pula bahwa suatu senyawa anti-nutrisi bukanlah merupakan karakteristik intrinsik

    dari senyawa tersebut, melainkan tergantung pada kondisi saluran pencernaan

    ternak/manusia yang mengkonsumsi senyawa tersebut. Sebagai contoh, tripsin

    inhibitor, yang diketahui sebagai senyawa anti-nutrisi pada ternak monogastrik,

    tidak menunjukkan dampak negatif pada ternak ruminansia karena senyawa ini

    akan terdegradasi dalam rumen (Kakengi dkk., 2005).

    Penggunaan Daun Kelor sebagai Bahan Pakan Unggas

    Salah satu solusi praktis untuk beberapa masalah di bidang perunggasan di

    daerah tropis adalah memperhatikan kebutuhan gizi unggas dan komposisi nutrisi

    dari pakan yang tersedia dalam pemeliharaan untuk kebutuhan produksi. Salah

    satu langkah yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah kekurangan

    pasokan bahan baku pakan dengan upaya mengarahkan peternak untuk

    memanfaatkan tanaman dan produk olahan limbah untuk dijadikan bahan pakan

    unggas (Banjo, 2012).

    Tanaman kelor telah lama dikenal sebagai tanaman sayuran oleh masyarakat

    Indonesia. Kandungan nutrisi daun kelor yang cukup tinggi, juga mengandung

    berbagai bahan aktif dengan aktivitas biologis yang beragam menjadikan daun

    kelor berpotensi sebagai pakan ternak (Cwayita, 2013). Pengetahuan mengenai

    karakteristik senyawa bahan aktif, dan mekanisme kerjanya dalam tubuh ternak

    unggas menjadi aspek penting yang perlu dikaji sehubungan dengan penggunaan

    daun kelor sebagai bahan pakan atau pakan tambahan pada ternak unggas.

  • 10

    Hasil penelitian Aderinola et al. (2013), memberikan rekomendasi bahwa

    apabila tujuan utama pemeliharaan ayam pedaging untuk perbaikan kondisi

    perlemakan, bukan pertumbuhan yang menjadi perhatian utama, maka daun kelor

    dapat diberikan sejak ayam berumur satu hari walaupun dengan level yang tidak

    terlalu tinggi (2%). Berbeda dengan Banjo (2012) dan Teteh dkk., (2013)

    melaporkan bahwa pemberian tepung daun kelor hingga 2% dan 3% dalam pakan

    selama 4 minggu, tidak menunjukkan dampak negatif pada ayam pedaging. Pada

    kedua penelitian tersebut, direkomendasikan pemberian tepung daun kelor 2%

    dalam pakan untuk meningkatkan pertumbuhan ayam pedaging sebagai pengganti

    penggunaan antibiotik yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan karkas.

    Suplementasi kelor, selain meningkatkan performa, juga memperbaiki

    karakteristik kimia darah, dan meningkatkan respon imun tubuh terutama dengan

    menurunkan kandungan asam urat, trigliserida, dan rasio albumin/globulin pada

    serum ayam pedaging (Du et al., 2007). Selain itu, pemberian kelor juga

    meningkatkan performa ayam melalui pengaruhnya terhadap kondisi usus halus.

    Yang et al (2006) melaporkan bahwa pemberian daun kelor dalam pakan dapat

    memperbaiki kondisi duodenum, meningkatkan jumlah populasi Lactobacillus

    dalam ileum dan mengurangi koloni E.coli, sehingga dapat meningkatkan status

    imun tubuh pada ayam pedaging yang diamati.

    Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian

    ekstrak kelor dalam waktu lama dengan dosis tinggi (Chivapat et al., 2011). Pada

    penelitian tersebut, sebanyak 80 ekor tikus percobaan diberikan 4 jenis perlakuan

    masing-masing kontrol (hanya diberi air aquades), dan kelompok yang diberi

  • 11

    ekstrak daun kelor dalam air minum dengan dosis masing-masing 10, 100, dan

    1000 mg/kg/hari selama 6 bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

    pemberian ekstrak daun kelor melalui air minum tidak memberikan dampak

    negatif terhadap tikus percobaan walaupun dengan dosis tinggi (1000 mg/kg/hari).

    Beberapa parameter kimia darah yang diamati tidak berbeda dengan kelompok

    kontrol, demikian pula pada pengamatan histopatologis tidak ditemukan adanya

    lesi pada beberaa organ yang diamati. Hasil kajian ini membuktikan bahwa proses

    ektraksi dan pemberian tepung daun kelor melalui air minum tidak berdampak

    negatif terhadap tikus percobaan.

    Sistem Pencernaan pada Unggas

    Sistem pencernaan merupakan sistem yang terdiri dari saluran pencernaan

    dan organ-organ pelengkap yang berperan dalam proses perombakan bahan

    makanan, baik secara fisik, maupun kimia menjadi zat-zat makanan yang siap

    diserap oleh dinding saluran pencernaan. Pada ternak unggas khususnya ayam ras

    pedaging mempunyai saluran pencernaan yang sederhana, karena unggas

    merupakan hewan monogastrik (berlambung tunggal). Saluran-saluran

    pencernaan pada ayam broiler terdiri dari mulut, esophagus, proventriculus, usus

    halus, sekum, usus besar, dan kloaka (Abun dalam Hamzah, 2013).

    Doeschate et a1. (1993) menyatakan bahwa dalam usus terjadi penyerapan

    zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Kemampuan adaptasi saluran

    pencernaan berdasarkan atas fungsi fisiologis tergantung pada pasokan nutrisi

    yang diberikan pada periode perkembangan awal setelah menetas. Status nutrisi

  • 12

    dan pola pemberian pakan dapat memodifikasi fungsi saluran pencernaan (Zhou et

    al., 1990; Suthama dan Ardiningsasi, 2012).

    Usus Halus

    Menurut Suprijatna dkk., (2008) usus halus merupakan organ utama tempat

    berlangsungnya pencernaan dan absorbsi produk pencernaan. Berbagai enzim

    yang masuk ke dalam saluran ini berfungsi mempercepat dan mengefisiensikan

    pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah proses absorbsi.

    Pada ayam dewasa, panjang usus halus sekitar 62 inci atau 1,5 meter.

    Sebagian besar pencernaan terjadi di dalam usus halus, disini terjadi

    pemecahan zat-zat pakan menjadi bentuk yang sederhana, dan hasil

    pemecahannya disalurkan ke dalam aliran darah melalui gerakan peristaltik di

    dalam usus halus. Di dalam saluran pencernaan, khususnya pada usus halus,

    patogen yang sering menyebabkan gangguan adalah Escherichia coli. Sudah

    banyak dilaporkan bahwa mikroorganisme patogen, seperti Escherichia coli yang

    terdapat dalam saluran pencernaan, dapat merusak mukosa saluran pencernaan

    secara potensial (Wresdiyati dkk., 2013).

    Secara anatomis, usus halus dibagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum,

    jejunum, dan ileum. Ileum yang merupakan bagian paling ujung dari usus halus

    berfungsi dalam proses penyerapan nutrisi dikarenakan penyerapan nutrisi

    terbesar terjadi dalam ileum. Ileum memiliki peranan mengabsorbsi nutrisi, asam

    amino, vitamin, dan monosakarida.

  • 13

    Histologis Usus Halus (Vili)

    Kemampuan pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan dapat

    dipengaruhi oleh luas permukaan epithel usus, jumlah lipatan-lipatannya, dan

    banyaknya villi dan mikrovilli yang memperluas bidang penyerapan (Austic dan

    Nesheim, 1990 ; Ibrahim 2008) dan dipengaruhi juga oleh tinggi dan luas

    permukaan villi, duodenum, jejunum, dan ileum (Sugito, et al., 2007 ; Ibrahim

    2008).

    Luas permukaan usus halus seperti tinggi villi menggambarkan area untuk

    penyerapan zat-zat nutrisi. Vili merupakan tonjolan kecil mirip jari atau daun

    yang terdapat pada membran mukosa, panjangnya 0,5 sampai 1,5 mm dan hanya

    terdapat pada usus halus. Vili pada ileum bentuknya mirip jari dan lebih pendek

    dibandingkan dengan vili yang terdapat pada duodenum dan jejejnum. Salah satu

    parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas pertumbuhan adalah struktur

    morfologi usus (Wang et al., 2008).

    Vili berfungsi untuk memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh

    terhadap proses penyerapan makanan (Alfiansyah. 2011). Perkembangan vili-vili

    usus pada ayam broiler berkaitan dengan fungsi dari usus dan pertumbuhan dari

    ayam tersebut (Sun, 2004). Semakin lebar vili semakin banyak zat-zat makanan

    yang akan diserap pada akhirnya dapat berdampak pada pertumbuhan organ-organ

    tubuh dan karkas yang meningkat (Asmawati, 2013). Awad et al., (2008)

    melaporkan bahwa peningkatan tinggi vili pada usus halus ayam pedaging

    berkaitan erat dengan peningkatan fungsi pencernaan dan fungsi penyerapan

  • 14

    karena meluasnya area absorpsi serta merupakan suatu ekspresi lancarnya sistem

    transportasi nutrisi keseluruh tubuh.

    Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas

    pertumbuhan adalah struktur morfologis usus (Wang et al., 2008 ; Ningtias 2013).

    Tinggi vili pada setiap bagian usus halus secara umum meningkat seiring

    dengan bertambahnya umur ayam (Wang et al., 2008)

    Gambaran Histopatologi

    Histopatologi berasal dari dua kata yaitu histo yang berarti jaringan dan

    patologi yang berarti ilmu yang mempelajari tentang penyakit. Menurut Spector

    (1993), histopatologi merupakan ilmu yang mempelajari kerusakan jaringan

    secara mikroskopis. Menurut Gosh dan Singh (1994), pemeriksaan histopatologi

    pada vili usus memperlihatkan kematian sel (nekrosa), pendarahan dan peluruhan

    (deskuamasi).

    Histopatologi adalah ilmu yang mempelajari kerusakan jaringan yang

    diperiksa secara mikroskopis. Bahan yang akan dipelajari diperoleh dengan

    memproses potongan jaringan mati yang telah difiksasi secara kimiawi yang pada

    akhirnya akan diperoleh “irisan jaringan yang sangat tipis” (slide/preparat)

    sehingga dapat dipelajari strukturnya dengan menggunakan mikroskop cahaya.

    Untuk mempermudah pemeriksaannya, irisan tipis ini dapat diwarnai dengan

    berbagai zat warna guna meningkatkan kekontrasan dari berbagai komponen yang

    ada dalam slide tersebut.

    Pemeriksaan histopatologis merupakan salah satu pemeriksaan berdasarkan

    perubahan morfologi jaringan atau sel terinfeksi agen penyakit. Perubahan

  • 15

    morfologi jaringan atau sel dapat diamati setelah pewarnaan Hematoxylin dan

    Eosin (HE) dari preparat jaringan terinfeksi.

  • 16

    METODE PENELITIAN

    Waktu dan Tempat

    Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai dengan Januari

    2016, bertempat di Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Jurusan Produksi

    Ternak Universitas Hasanuddin, Makassar sebagai tempat pemeliharaan dan

    pengolahan data dilaksanakan pada akhir pemeliharaan yang bertempat di:

    - Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Nutrisi dan Makanan

    Ternak Universitas Hasanuddin untuk analisis bahan pakan ternak.

    - Laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner (Maros) sebagai tempat

    interprestasi gambaran mikroskopis usus.

    Materi Penelitian

    Materi yang digunakan antara lain: ayam ras pedaging strain Lohmann MB

    202, pakan starter komersil (butiran), pakan finisher, air minum, vaksin dan

    tepung daun kelor (Moringa oleifera Lam). Bahan-bahan pendukung antara lain;

    formaldehyde 37 %w/w (analar), chloroform (analar), xylene (analar), toluen,

    ethanol, sodium bicarbonate (analar), magnesium sulphate (analar), paraffin wax

    (paraplast plain/MEDOS), Mayers Hematoxylin dan Eosin (lih.Apendiks 1.1dan

    Apendiks 1.2).

    Alat yang digunakan antara lain: kandang, chick guard, gasolek, koran, alat

    analisa proksimat, litter, timbangan pakan, wadah penyimpanan, scalpel, pinset,

    gunting, tempat pemotongan jaringan basah, keranjang tissue, proseccor,

    embedding center, mikrotom putar, pisau mikrotom, pengasah pisau mikrotom,

  • 17

    alat penulis pada gelas, floatation bath, dishwarmer, slide staining racks, staining

    jars with lids, dan miroskop.

    Rancangan Penelitian

    Penelitian dirancang berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) (3 x 3)

    dengan menggunakan ayam ras pedaging strain Lohmann MB 202 dengan berat

    awal ±40 g, berumur satu hari (Day Old Chicks) berkelamin jantan (sexed)

    sebanyak 72 ekor, dibagi secara acak berdasarkan perlakuan sebagai berikut:

    1. Pakan komersil finisher tanpa tepung daun kelor (P0)

    2. Pakan komersil finisher+ 2 % tepung daun kelor (P1)

    3. Pakan komersil finisher+ 4 % tepung daun kelor (P2)

    Tabel 3. Komposisi Ransum Finisher (Umur 15-35 Hari)Uraian Komposisi (%)

    Konsentrat 40

    Jagung 60

    Uraian P0 P1 P2Komposisi (%)

    Pakan Komersilfinisher 100 98 96Tepung daun kelor 0 2 4

    Total 100 100 100

    Jumlah perlakuan pada penelitian ini sebanyak 3 dan masing-masing

    perlakuan terdiri atas 3 kali ulangan sehingga terdapat 9 unit percobaan yang

    masing-masing diisi dengan 8 ekor ayam. Perlakuan pemberian tepung daun kelor

    dilakukan melalui pakan dimulai setelah pertumbuhan usus halus telah maksimal

    sebagaimana rekomendasi Gadzirayi dan Mupangwa (2014) yaitu pada umur 15

    hari hingga akhir periode pemeliharaan (35 hari) dengan level penambahan sesuai

  • 18

    perlakuan.

    Daun kelor yang digunakan berasal dari tanaman kelor lokal yang sehat.

    Daun tanaman kelor segar dikumpulkan dan dipisahkan dari tangkai tanaman.

    Pengeringan pada suhu ruang dilakukan selama tiga hari tanpa sinar matahari

    hingga kadar air mencapai 20%. Penggilingan hingga halus dilakukan dan

    hasilnya berupa tepung ditimbang dan dicampurkan bersama dengan bahan pakan

    lain sesuai dengan perlakuan.

    Sampel tepung daun kelor yang digunakan dalam penyusunan ransum

    Finisher pada penelitian ini dianalisis proksimat untuk mengetahui komposisi

    nutrisi yang terkandung di dalamnya. Hasil analisis disajikan pada Tabel 4.

    Tabel 4. Komposisi Nutrisi Tepung Daun KelorKomposisi Nutrisi * Kandungan (%)

    Air 10,56Protein kasar 30,30Lemak kasar 6,13Serat kasar 12,48BETN 38,49Abu 12,60Ca 2,66P 0,95

    *berdasarkan hasil analisis proksimat di Laboratorium Kimia Makanan Ternak, Universitas Hasanuddin

    Pemeliharaan

    Pemeliharaan dilakukan dalam sebuah kandang dengan dinding terbuka

    berukuran 6 x 6 m. Pada umur 1-11 hari pemeliharaan DOC dilakukan dengan

    manajemen brooding yang menggunakan gasolek sebagai pemanas pengganti

    indukan, pada umur 12 hari ayam dipindahkan di kandang yang telah dibuat

    berpetak-petak berukuran panjang 120 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 50 cm agar

    adaptasi ayam terhadap lingkungan kandang lebih baik sebelum diberikan

  • 19

    perlakuan penambahan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam ransum

    finisher pada umur 15-35 hari. Petak kandang yang dibuat ditempatkan secara

    berjejer dan pengacakan dilakukan pada setiap unit percobaan untuk mengisi

    masing-masing satu petak kandang, setiap petak diisi 8 ekor ayam. Sumber

    cahaya berasal dari dua buah lampu neon (40 watt) yang ditempatkan pada bagian

    atas kandang setinggi 2 m. Lama pencahayaan selama penelitian masing-masing

    24 jam.

    Pemeliharaan dilakukan selama 35 hari dengan menggunakan dua jenis

    pakan yaitu pakan starter berupa pakan komersil butiran (crumble) yang diberikan

    pada umur 1-14 hari, dan pakan basal finisher ( umur 15 - 35 hari) yang

    diformulasikan sesuai dengan rekomendasi (NRC, 1994). Kandungan nutrisi

    pakan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 dan 6. Pakan diberikan dua kali

    sehari secara ad libitum.

    Tabel 5. Komposisi Nutrisi Pakan Komersil Starter (Umur 1-14) Ayam PedagingKomposisi Nutrisi * Kandungan (%)

    Protein kasar 22-23Lemak kasar 6Serat kasar 3-4BETN 50Abu 5,5Ca 1,5P 0,5-0,7

    *berdasarkan hasil analisis laboratorium produsen

  • 20

    Tabel 6. Komposisi Nutrisi Pakan Basal Finisher (15-35 Hari)Uraian Komposisi (%)

    Konsentrat 40Jagung 60

    Kandungan Nutrisi*Kadar Air 12,86Protein 20,86Lemak Kasar 4,13Serat Kasar 7,88BETN 58,87Abu 8,27Ca 1,33P 1,21

    *berdasarkan hasil analisis proksimat di Laboratorium Kimia Makanan Ternak, Universitas Hasanuddin

    Selama pemeliharaan, pemberian multi-vitamin tambahan hanya dilakukan

    pada umur 1-7 hari, antibiotik komersil tidak diberikan, dan vaksinasi hanya

    dilakukan pada umur 4 hari untuk penyakit ND dengan menggunakan vaksin

    strain H-B1 melalui tetes mata.

    Tabel 7. Konsumsi Pakan, Tepung Daun Kelor dan Air Minum Umur 15-35 Hari

    Perlakuan Pakan (g/ekor/hari)Tepung Daun kelor(g/ekor/hari)

    Air Minum(ml/ekor/hari)

    P0 122,70±5,70 0,00±0,00 308,43±26,42P1 131,09±6,48 2,62±0,13 312,67±21,43P2 129,43±14,43 5,18±0,60 319,13±45,90

    Sumber: Yunus, 2016 (data belum dipublikasikan)

    Pada saat ayam berumur 35 hari, sebanyak 1 ekor dari setiap unit

    percobaan diambil secara acak, kemudian dilakukan pemotongan dan pemisahan

    setiap bagian usus halus. Setelah itu, mengambil bagian ileum ±2-3 cm dan

    dimasukkan kedalam botol yang berisi larutan alkohol 10% +aquades lalu dibawa

    ke Laboratorium Patologi BB-Vet Maros untuk prosedur selanjutnya.

  • 21

    Preparasi sampel histologi

    Pembuatan preparat histologi dilakuakan dengan membuat preparat

    Hematoxylin Eosin (HE) dengan penginterprestasian data yang dilakukan

    bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Maros (Lampiran 1).

    Parameter yang Diukur

    1. Gambaran Histotologis Usus halus bagian Ileum

    Preparat yang telah diwarnai dengan Hematoxylin Eosin (HE) (Lampiran

    1) kemudian melakukan interprestasi gambar menggunakan camera optilab untuk

    membandingkan normal atau tidaknya setiap bagian usus tersebut dengan

    perbesaran 40X dibawah mikroskop.

    2. Tinggi Vili

    Cara pengukuran tinggi vili dilakukan menggunakan komputer layar datar

    dengan program Microsoft Office Picture Manager pada perbesaran 10x dan

    dengan bantuan mikroskop serta camera optilab. Mula-mula standar ukuran μm

    ditentukan lebih dahulu dengan bantuan komputer yaitu berapa nilai perbesaran

    yang dipakai atau diinginkan dan dikonversikan ke dalam satuan panjang (μm).

    Analisis Data

    Berdasarkan jenis data dalam penelitian ini yaitu kualitatif maka analisa

    data dilakukan dengan analisis statistik deksriptif dengan penyajian data dalam

    bentuk gambar dan tabel (Gazpersz, 1991). Gambaran histopatologi atau tingkat

  • 22

    kerusakan suatu jaringan di nilai berdasarkan skor dengan penjelasan sebagai

    berikut:

    0 = Tidak ada perubahan (Normal)

    1 = Sangat ringan

    2 = Ringan

    3 = Sedang

    4 = Berat

  • 23

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Gambaran Histologis Usus Halus bagian Ileum

    Gambaran histologis usus halus bagian ileum ayam broiler yang diberi

    tepung daun kelor dalam ransum dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 3.

    Gambar 1. Gambaran Histologis Usus Halus bagian Ileum Ayam Broileryang di beri tepung daun kelor dalam ransum (kontrol)(tingkat kerusakan jaringan tidak ada /normal dengan skor 0).(A) Pewarnaan HE, Pembesaran obyektif 10x, (B) PewarnaanHE, Pembesaran obyektif 40x.

    A

    B

    Vili

  • 24

    Gambar 2. Gambaran Histologis Usus Halus bagian Ileum Ayam Broileryang di beri tepung daun kelor dalam ransum dengankonsentrasi 2% (tingkat kerusakan jaringan dengan skor 3) .Ditemukan perdarahan (merah) dan nekrotik epitel (biru). (A)Pewarnaan HE, Pembesaran obyektif 10x, (B) PewarnaanHE, Pembesaran obyektif 40x.

    A

    B

    Vili

    A

  • 25

    Gambar 3. Gambaran Histologi Usus Halus bagian Ileum Ayam Broileryang di beri tepung daun kelor dalam ransum dengankonsentrasi 4% (tingkat kerusakan jaringan dengan skor 4) .Ditemukan hiperplasia epitel (hitam) ,nekrotik epitel (biru),dan sel radang meningkat luas (merah). (A) Pewarnaan HE,Pembesaran obyektif 10x, (B) Pewarnaan HE, Pembesaranobyektif 40x.

    Hasil pengamatan histologis usus halus bagian ileum (Gambar 1, 2 dan 3)

    menunjukkan bahwa pada perlakukan P0 (kontrol) memiliki tingkat kerusakan

    tidak ada atau normal. Perlakuan P1 (2% tepung daun kelor ditambahkan dalam

    A

    B

    Vili

  • 26

    ransum) memiliki tingkat kerusakan jaringan dengan skor 3 (sedang) yang

    ditunjukkan dengan adanya hiperplasia epitel dan perdarahan. Sedangkan pada

    perlakuan P3 (4% tepung daun kelor ditambahkan dalam ransum) memiliki

    tingkat kerusakan jaringan dengan skor 4 (berat) yang ditunjukkan dengan adanya

    nekrotik epitel, hiperplasia epitel dan sel radang meningkat luas. Hal ini

    menunjukkan bahwa semakin tinggi level pemberian tepung daun kelor dalam

    pakan dapat merusak sel usus bagian ileum . Tingginya tingkat kerusakan jaringan

    yang terjadi diduga disebabkan oleh kadar anti nutrisi dalam tepung daun kelor

    yang tinggi sehingga belum sepenuhnya dapat dicerna dalam usus . Widodo

    mengatakan bahwa senyawa anti nutrisi paling tinggi yang terdapat dalam daun

    kelor yaitu tannin .Tannin yang terdapat dalam daun kelor diduga bisa memicu

    terhambatnya proses pencernaan dalam saluran cerna. Kumar, (1992)

    manambahkan bahwa mekanisme kerja dari zat anti-nutrisi ini berbeda-beda

    tergantung pada jenis senyawa dan asal tanaman yang menghasilkan seyawa

    tersebut, misalnya inaktivasi beberapa jenis nutrisi, menghambat proses cerna,

    atau penggunaan nutrisi tertentu dalam metabolisme.

    Senyawa anti-nutrisi bukanlah merupakan karakteristik intrinsik dari

    senyawa tersebut, melainkan tergantung pada kondisi saluran pencernaan

    ternak/manusia yang mengkonsumsi senyawa tersebut. Tripsin inhibitor yang

    diketahui sebagai senyawa anti-nutrisi dalam daun kelor yang diberikan pada pada

    ternak ruminansia tidak menunjukkan dampak negatif karena senyawa ini akan

    terdegradasi dalam rumen (Kakengi et al., 2005).

  • 27

    Peningkatan kerusakan jaringan pada P1 dan P2 diduga disebabkan oleh

    meningkatnya dosis pemberian tepung daun kelor. Selain tannin, senyawa anti

    nutrisi lainnya yang terdapat pada tanaman kelor adalah saponin. Walapun

    kadarnya hanya sedikit tetapi saponin dalam tanaman kelor diduga dapat

    menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan dan apabila tepung daun kelor

    diberikan pada dosis yang tinggi dapat mengakibatkan iritasi saluran pencernaan

    ayam. Iritasi dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya

    peradangan serta terganggunya proses pencernaan ayam ( Dwipayanti, 2008).

    Proses pencernaan ayam yang terhambat akan berpengaruh terhadap proses

    penyerapan nutrisi yang secara tidak langsung berdampak pada bobot hidup

    ternak. Pada penelitian dengan perlakuan yang sama Nuraeni (2016) menyatakan

    bahwa penambahan tepung daun kelor dalam pakan pada perlakuan P1 dan P2

    tidak berbeda nyata dengan perlakuan P0 (kontrol). Hal ini tersebut diduga karena

    adanya kesamaan manajemen dalam pemeliharaan, jenis kelamin, dan umur yang

    seragam, bibit yang sama serta kandungan asam amino yang kurang bervariasi

    dalam ransum yang diberikan. Sejalan dengan pendapat Winedar dkk., (2007)

    bahwa pertambahan berat badan disebabkan secara langsung oleh ketersediaan

    asam amino pembentuk jaringan sehingga konsumsi protein pakan berhubungan

    langsung dengan proses pertumbuhan. Salah satu pembentuk jaringan untuk

    konsumsi protein yaitu asam- asam amino yang dihasilkan dari proses penyerapan

    nutrisi dalam usus halus bagian ileum.

    Daun kelor Moringa oleifera mempunyai kandungan bahan aktif seperti

    flavonoid, phenols, alkaloid, dan isotiosianat. Senyawa-senyawa tersebut juga

  • 28

    terkandung dalam tanaman obat lain yang mekanisme kerjanya kemungkinan

    sama. Parhusip (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan bahan

    aktif seperti flavonoid, phenols, dan alkaloid dalam ekstrak Andaliman dapat

    menyerang membran sitoplasma dan mempengaruhi integritasnya, kerusakan pada

    membran ini mengakibatkan peningkatan permeabilitas dan kebocoran sel yang

    diikuti dengan keluarnya materi intraseluler. Kebocoran sel bakteri dapat

    disebabkan karena rusaknya ikatan hidrofobik komponen penyusun membran sel

    seperti protein, fosfolipid, serta komponen-komponen yang berikatan secara

    hidrofilik karena bereaksi dengan fenol. Hal ini berakibat meningkatnya

    permeabilitas membran sel dan memungkinkan masuknya senyawa-senyawa

    fitokimia ke dalam sel, sehingga berakibat keluarnya substansi sel seperti protein

    dan asam nukleat yang mengakibatkan kematian sel. Kematian sel pada usus

    menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan sehingga dalam hal ini mengakibatkan

    tingginya tingkat kerusakan pada usus.

    Histologi Usus Halus bagian Ileum (Tinggi Vili) Ayam Pedaging

    Pengaruh penambahan tepung daun kelor dalam ransum terhadap tinggi

    vili usus halus bagian ileum pada ayam pedaging umur 35 hari dapat dilihat pada

    tabel berikut:

    Tabel 5. Tinggi Vili Usus bagian Ileum Ayam Ras Pedaging yang diberi TepungDaun Kelor dalam Ransum

    Perlakuan Rata-rata Tinggi vili (µm)P0 936,47P1 414,69P2 351,29

    Ket: P0 = Pakan basal (kontrol), P1= Pakan basal + tepung daun kelor 2%, P2 = Pakanbasal+ tepung daun kelor 4%

  • 29

    Tabel 5 memperlihatkan bahwa tinggi vili pada P0 (kontrol)yaitu

    936,47µm lebih tinggi dibandingkan dengan P1 (2%) dan P2 (4%) yaitu 414,69

    µm dan 351,29 µm. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan

    tepung daun kelor dalam ransum maka semakin pendek vili usus halus bagian

    ileum. Hal ini diakibatkan karena terjadinya peradangan dan sel radang pada usus

    halus sehingga menyebabkan vili rusak dan memendek. Hal ini sejalan dengan

    pendapat Henderson et al., (1999) yang mengatakan bahwa peradangan pada

    saluran cerna mengakibatkan villi usus halus memendek dan sekum membesar

    disertai infiltrasi sel radang. Pemendekan dan pembesaran vili akan mengurangi

    kerapatan vili (Winarsih, 2005).

    Penambahan tepung daun kelor dalam ransum pada perlakuan P1 (2%) dan

    (4%) dapat memperpendek tinggi vili usus selama masa pertumbuhan. Vili yang

    tinggi menunjukkan bahwa kondisi usus lebih baik daripada vili yang pendek. Hal

    ini didukung oleh gambaran histologi ileum yang menggambarkan pada perlakuan

    P0 (kontrol) susunan vili terlihat normal sedangkan pada P1 (2%) dan P2(4%)

    vili-vili usus mengalami kerusakan(hiperplasia epitel, nekrotik epitel dan terjadi

    peradangan serta pendarahan). Awad et al,. (2008) menyatakan bahwa

    peningkatan tinggi vili pada usus dengan fungsi pencernaan dan absorbsi terjadi

    karena bentuk vili utuh yang merupakan ekspresi lancarya sistem transportasi

    nutrisi keseluruh tubuh. Rofiq (2003) menyatakan bahwa daya serap nutrisi pada

    usus halus dipengaruhi oleh luas permukaan bagian dalam usus (lipatan, villi dan

    mikrovilli) dan lamanya transit digesta dalam usus.

  • 30

    Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan P1 (2%) dan P2 (4%)

    mengalami penurunan tinggi vili. Pada penilitian dengan perlakuan yang sama,

    Nuraeni (2016) menyatakan bahwa pemberian tepung daun kelor dalam pakan

    dengan level 2% dan 4% tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot

    hidup ayam pedaging. Hal ini menunjukkan kondisi ayam masih baik, namun

    sudah mulai terjadi kerusakan, seperti vili yang pendek sehingga mengakibatkan

    proses absorbsi terganggu.

  • 31

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan

    sebagai berikut:

    1. Gambaran histologis pada usus halus bagian ileum dengan pemberian

    tepung daun kelor dengan level 2% dan 4% dalam ransum mengalami

    kerusakan sel yaitu hiperplasia epitel, nektrotik epitel, peradangan dan

    pendarahan.

    2. Semakin tinggi level pemberian tepung daun kelor dalam pakan semakin

    pendek vili usus halus bagian ileum.

    Saran

    Sebaiknya dalam pakan ayam tidak disarankan untuk menambahkan

    tepung daun kelor pada level 2% dan 4% sehingga perlu dilakukan penelitian

    lebih lanjut tentang teknik dan taraf pemberian tepung daun kelor yang lebih

    efektif pada ayam pedaging.

  • 32

    DAFTAR PUSTAKA

    Abun. 2007. Pengukuran nilai kecernaan pakan yang mengandung limbah udangwindu produk fermentasi pada ayam broiler. Laporan Penelitian. UniversitasPadjajaran. Bandung.

    Aderinola, O. A., T. A. Rafiu, A.O. Akinwumi, T. A. Alabi, and O. A. Adeagbo.2013. Utilization of Moringa oleifera leaf as feed supplement in broiler diet.Int. J. Food Agric. Vet. Sci., 3(3): 94-102.

    Alfiansyah, Muhammad. 2011. Anatomi dan Pencernaan Usus Halus. http://www.sentra-edukasi.com/. Diakses tanggal 05 Februari 2016.

    Asmawati. 2013. The effect of in ovo feeding on hatching weight and smallintestinal tissue development of native chicken. (Disertasi) FakultasPeternakan Unniversitas Hasanuddin. Makassar.

    Austic, R. E. and Nesheim., 1990. Poultry Production, 13th ed. Lea andFebiger.Philadelph. London. p.29-30.

    Awad, W.A., K. Ghareeb, S. Nitclu S. Pasteiner, S.A. Raheem, and J. Bohm.2008. Efect of dietary inclusion of probiotic, prebiotic and symbiotic onintestinal glucose absorb'tion of broiler chickens. Lrt. J. Poult. Sci. 7: 688-691.

    Banjo, O.S. 2012. Growth and performance as affected by inclusion of Moringaoleifera leaf meal in broiler chicken diet. J. Biol. Agric. Healthcare, 2: 35-38.

    Chivapat, S., P. Sincharoenpokai, P. Suppajariyawat, A. Rungsipipat, S.Phattarapornchaiwat, and V. Chantarateptawan. 2012. Safety evaluation ofethanolic extract of Moringa oleifera Lam. Seed in experimental animals.Thai. J. Vet. Med. 42(3): 343-352.

    Cwayita, W. 2014. Effects of feeding Moringa oleifera leaf meal as an additiveon growth performance of chicken, physico- chemical shelf-life indicators,fatty acids profiles and lipid oxidation of broiler meat. Masters ThesisFaculty of Science and Agriculture, University of Fort Hare, Alice, SouthAfrica.

    Denbow DM. 2000. Gastrointestinal anatomy and physiology. Di dalam: WhittowJC, editor. Sturkie’s Avian Physiology. Ed ke-5. London: Academic Pr. hlm299-325.

    Du, P.L., P.H. Li, R. Y. Yang, and J. C. Hsu. 2007. Effect of dietarysupplementation of Moringa oleifera on growth performance, blood

  • 33

    characteristics and immune response in broiler. J. Chinese Society Anim.Sci. 36(3): 135-146.

    Dwipayanti N. M. Y. 2008. Profil organ dalam serta histopatologi usus dan hatiayam kampung terinfeksi cacing Ascaridia galli yang diberi tepung daunjarak (jathropa curcas l.). (Skripsi). Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

    Fahey J. W. 2005. Moringa oleifera: A review of the medical evidence for itsnutritional, therapeutic and propylactic properties. Part 1. Trees for LifeJournal. 1:5-15.

    Fuglie, L. J. 2001. The Miracle Tree (The Multiple Atribute of Moringa). Senegal:CWS Dakkar.

    Gaspersz, 1991. Teknik analisis dalam penelitian percobaan. Tarsito: Bandung

    Ghosh, J.D. dan Singh, J. 1994. Acute Ascaridiosis in chickens. A Report. IndianVeterinary Journal. Vol. Edition: 717-719.

    Grubben, G.J.H. 2004. Plant Resources of Tropical Africa 2 Vegetables. Belanda:PROTA Foundation.

    Hamzah. 2013. Respon Usus Dan Karakteristik Karkas pada Ayam Ras PedagingDdngan Berat Badan Awal Berbeda yang dipuasakan setelah Menetas. Skripsi.Universitas Hasanuddin: Makassar.

    Ibrahim, S. 2008. Hubungan ukuran-ukuran usus halus dengan berat badanbroiler. Agripet : Vol (8) No. 2: 42-46.

    Kakengi, A.M.V., M.N. Shem, S.V. Sarwatt and T. Fujihara. 2005. Can Moringaoleifera be used as protein supplementation for ruminants? Asian-Aust. J.Anim. Sci., 18(1): 42-47.

    Kumar, R. 1992. Antinutritional factors, the potential risks of toxicity andmethods to alleviate them. Proceedings of the FAO ExpertConsultation held at the Malaysian Agricultural Research andDevelopment Institute (MARDI) in Kuala Lumpur, Malaysia, 14-18October, 1991. Andrew Speedy and Pierre-Luc Puglise (eds).

    Makkar, H. P. S and Becker, K. 1997. “Nutrient and Anti Guality Factors onDifferent Morphological Parts of the Moringa Tree”. Journal of AgriculturalScience 128: 31.

    Moyo, B., S. Oyedemi, P. J. Masika, and V. Muchenje. 2012. Polyphenoliccontent and antioxidant properties of Moringa oleifera leaf meal extractsand enzymatic activity of liver from goats supplemented with Moringaoleifera/Sunflower cake. Meat Sci., 02: 29.

    Ningtias, A. S. 2013. Comparison of Growth Performance of Broilers, Kampong,and Backcross3 (Gallus gallus domesticus Linnaeus, 1758) Based on

  • 34

    Morphometri and Histological Structure of Ileum and Breast Muscle.(Skripsi) Fakultas Biologi. Universitas Gajah Mada.

    NRC (National Research Centre). 1994. Nutrient Requirements of Poultry. 9ed.National Academy Press. Washington DC.

    Nuraeni. 2016. Pengaruh Pemberian Tepung Daun Kelor Moringa oleifera dalamRansum terhadap Karakteristik Karkas dan NonKarkas Broiler. (Skripsi).Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar.

    Nursjamsiah. 1994. Efek campuran rumput gajah, dedak jagung dan konsentratkomersial terhadap performa sapi PO. (Skripsi). Fakultas PeternakanUniversitas Padjajaran, Bandung.

    Ogbe, A. O. and J. P. Affiku. 2012. Effect of polyherbal aqueous extract (Moringaoleifera, Arabic gum, and wild Ganoderma lucidum) in comparison withantibiotic on growth performance and haematological parameters of broilerschickens. Res. J. Recent Sci., 1(7):10-18.

    Parhusip, A.J.N. 2006. Kajian Mekanisme Antibakteri Ekstrak Andaliman(Zanthoxylum acanthopodium DC) terhadap Bakteri Patogen Pangan.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

    Portugaliza, H.P. and T.J. Fernandez. 2011. Growth performance of Cobb broilersgiven varying concentration of Malunggay (Moringa oleifera Lam.)aqueous leaf extract. Online J. Anim. Feed Res., 2(6): 465-469.[http://www.science-line.com/index]

    Rahmanto. 2012. Struktur histologik usus halus dan efesiensi pakan ayamkampung dan ayam broiler. (Skripsi). Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.

    Rofiq, M. N. 2003. Potensi Suspensi Teh Fermentasi Kombucha (STK) dalammengontrol infeksi Salmonella sp. dan pengaruhnya terhadap performanayam broiler. Tesis. Fakultas Peternakan, Institut Pertanaian Bogor. Bogor.

    Sjofjan, O. 2008. Efek Penggunaan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) dalamPakan Terhadap Penampilan Produksi Ayam Pedaging. Fakultas PeternakanUniversitas Brawijaya. Malang.

    Sugito dan M. Delima. 2007. Dampak Cekaman Panas terhadap PertambahanBobot Badan, Rasio Heterofil:Limfosit dan Suhu Tubuh Ayam Broiler. J.Ked. Hewan 3(1): 216-226.

    Sun, X. 2004. Broiler performance and intestinal alterations when fed drug-freediets. Thesis.Animal and Poultry Science. Blacksburg. Virginia.

    Suprijatna, E., U. Atmomarsono, R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar TernakUnggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

  • 35

    Suthama, N dan S.M. Ardiningasasi. 2012. Perkembangan fungsi fisiologissaluran pencernaan ayam Kedu periode starter. Laporan Penelitian. FakultasPeternakan. UNDIP. Semarang.

    Teteh, A., E. Lawson, K. Tona, E. Decuypere and M. Gbeassor. 2013. Moringaoleifera leaves: Hydro-alcoholic extract and effect on growth performanceof broilers. Int. J. Poult. Sci., 12(7): 401-405.

    Winarsih, W. 2005. Pengaruh probiotik dalam pengendalian Salmonellosissubklinis pada ayam : Gambaran patologis dan performan. Disertasi.Pascasarjana Institut Pertania Bogor. Bogor.

    Winedar, H., Listyawati, S dan Sutarno. 2004. Daya Cerna Protein Pakan,Kandungan Protein Daging, dan Pertambahan Berat Badan Ayam Broilersetelah Pemberian Pakan yang Difermentasi dengan EffectiveMicroorganisms-4 (EM-4). Universitas Sebelas Maret (UNS). Surakarta.

    Wresdiyati, U., Laila, S.R., Setio R., Arief, I.A., Astawan, M. 2013. ProbiotikIndigenus Meningkatkan Profil Kesehatan Usus Halus Tikus yang DiinfeksiEnteropathogenic E. coli. Departemen Anatomi, Fisiologi, danFarmakologi. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB. Bogor.

    Yang, R.Y., L.C. Chang, J.C. Hsu, B.B.C. Weng, M. C. Palada, M.L. Chadha, andV. Levasseur. 2006. Nutritional and functional properties of Moringaleaves-from germplasm to plant, to food, to health. Proceeding seminar:Moringa and other highly nutritious plant resources: strategies, standardsand markets for a better impact on nutrition in Africa. Ghana.

    Zhou, Z.X., Y. Isshiki., K. Yamauchi and Y. Nakahiro. 1990. Effects of forcefeeding and dietary cereals on gastrointestinal size, intestinal absorptiveability and endogenous Nitrogen in ducks. Br. Poult. Sci. 31:307-317.

  • 36

    Lampiran

    Lampiran 1. Prosedur Histopatologi

    1. Fiksasi

    Sampel jaringan difiksasi dengan Buffered Neutral Formalin (BNF),

    volume Buffered Neutral Formalin (BNF) minimal 10 kali volume jaringan. Pada

    umumnya waktu yang diperlukan untuk fiksasi sempurna adalah 48 jam.

    2. Pemotongan Spesimen

    a. Spesimen yang dipilih untuk pemeriksaan, dipotong setebal 0,5-1 cm.

    b. Potongan spesimen dimasukkan dalam keranjang pemprosesan dengan

    disertai dengan label nomor spesimen yang ditulis dengan pensil.

    c. Sisa spesimen dengan Buffered Neutral Formalin (BNF) disimpan dalam

    botol bertutup rapat. Selanjutnya botol ini disimpan berurutan dan

    dibuang apabila telah melebihi 3 bulan dan ditulis dalam formulir

    pemusnahan sampel.

    3. Prossesing dan Embedding

    Embedding cassete yang telah diisi spesimen jaringan dimasukkan kedalam

    tissue processor dengan pengaturan waktu sebagai diuraikan pada tabel dibawah

    ini.

    Tabel. 1. Prosedur tissue processor dan pengaturan waktu

    No Proses Reagensia Waktu

    1 Fiksasi Buffer formalin 10% 2 jam2 Fiksasi Buffer formalin 10% 2 jam3 Dehidrasi Alkohol 70% 1 jam

  • 37

    Embedding cassette dikeluarkan dari tissue processor dan masukkan ke

    dalam wadah yang telah tersedia pada alat embedding center. Keluarkan contoh

    specimen dari keranjang tissue untuk di blok oleh paraffin satu-persatu (agar tidak

    tertukar no. contoh specimen). Tempatkan cetakkan dan keranjang pada sisi kanan

    dan kiri dispenser paraffin.

    Contoh spesimen diletakkan diatas cetakkan lalu diisi dengan paraffin

    dengan menekan tombol hitam yang telah tersedia pada alat embedding center.

    Cetakkan diberi nomer sesuai nomer contoh spesimen yang letakkan diatas

    keranjang yang berisi contoh spesimen. Pindahkan cetakan pada bagian dingin.

    Setelah beku (mengeras paraffinnnya) pisahkan cetakan dengan keranjang. setelah

    terpisah pindahkan keranjang siap untuk dilakukan pemotongan dengan mikrotom

    knife.

    4. Pemotongan

    a. Ambil blok jaringan kemudian difiksir pada microtome. Blok jaringan

    dipotong dengan microtome kasar sehingga didapatkan permukaan yang

    rata.

    4 Dehidrasi Alkohol 90% 1 jam5 Dehidrasi Alkohol 100% 1 jam6 Dehidrasi Alkohol 100% 2 jam7 Dehidrasi Alkohol 100% 2 jam8 Clearing Toluen 1 jam9 Clearing Toluen 1.5 jam10 Clearing Toluen 1,5 jam11 Impregnasi Paraffin 2 jam12 Impregnasi Paraffin 3 jam

    Total Waktu 20 jam

  • 38

    b. Gunakan pisau mikrotom yang masih tajam, ketebalan potongan 5-6

    mikron. Pilih potongan jaringan terbaik dari pita yang terbentuk.

    c. Potongan yang terpilih direntangkan pada floating out yang bersuhu sekitar

    400C yang terlebih. Suhu yang ideal akan mengakibatkan potongan jaringan

    merentang sempurna, tidak berkerut.

    d. Taburkan gelatin powder sebanyak 5 gram untuk 100 cc aquadest dan

    biarkan larut sempurna.

    e. Potongan yang bagus, tidak tergores, tidak mengkerut dipilih dan diambil

    dengan gelas slide yang sudah bernomer sesuai dengan nomer epi/patologi.

    f. Slide yang berisi tempelan potongan jaringan ditempatkan diatas pelat

    pemanas slide, minimal dua jam.

    5. Pewarnaan

    a. Sebelum pewarnaan dilakukan, semua bahan pewarna harus diperiksa

    kejernihannya dan disesuaikan dengan jadwal penggantian yang tersedia

    (3 kali penggunaan setiap pemakaian).

    b. Tahapan pewarnaan:

    Tabel 2. Tahap Pewarnaan Mayers Hematoxylin EosinNo Reagensia Waktu

    1 Xylol I 2 menit2 Xylol II 2 menit3 Alkohol 100% I 1 menit4 Alkohol 100% II 1 menit5 Alkohol 95% I 1 menit6 Alkohol 95% II 1 menit7 Mayer’s Haematoxylin 15 menit8 Rendam dalam Tap Water 20 menit9 Masukkan dalam Eosin 15 detik -2

  • 39

    menit10 Alkohol 95 % III 2 menit11 Alkohol 95 % IV 2 menit12 Alkohol 100% III 2 menit13 Alkohol 100% IV 2 menit14 Akohol 100%V 2 menit15 Xylol III 2 menit16 Xylol IV 2 menit17 Xylol V 2 menit

    Setelah selesai pewarnaan dilakukan coverslipping, siapkan coverslips

    secukupnya sesuai dengan jumlah preparat yang baru saja diwarnai lalu teteskan

    1-2 tetes “entellan” pada tiap coverslip. balik dan tutupkan pada slide preparat

    yang baru saja diwarnai, cegah jangan sampai terbentuk gelembung udara, biarkan

    preparat yang sudah tertutup dengan coverslip lalu dibiarkan sampai mengering

    sempurna. Bersihkan slide glass dengan xylol lalu berilah nomor sesuai dengan

    nomor yang ada dietiket slide glass tersebut dan siap untuk diperiksa di bawah

    mikroskop cahaya.

    6. Pemeriksaan Mikroskopik

    Pemeriksaan mikroskopik dilakukan d bawah mikroskop untuk melihat

    perubahan morfologis dari contoh spesimen yang diperiksa. Pemeriksaan

    dilakukan sebanyak 5x lapangan pandang lalu dirata2 skor kelainan yang didapat

    atau persentase kerusakan pada 5x lapangan pandang tersebut.

    Apendiks

    1. Mayers Hematoxylin Eosin

    1.1. Alat dan Bahan:

    a. Staining Jar 20b. Preparat Slidesc. Timerd. Mounting

  • 40

    e. Xylol 1,2,3f. Alkohol 100 %g. Alkohol 95 %h. Alkohol 80 %i. Aquadestj. Larutan Mayers Haematoxylin dan Eosink. Larutan Stok Eosin 1%

    1.2. Pembuatan Zat Warna Mayer’s Haematoxylin

    a. Haemotoxylin crystals 1 gramb. Distilled Water 1000 mlc. Sodium iodate 0,2 gramd. Ammonium/Potassium alum 50 grame. Citric acid 1 gramf. Chloral hydrate 50 gram

    Cara Pembuatan Mayers Haematoxylin :

    Masukkan potassium alum kedalam air tanpa pemanasan tambahkan

    hematoksilin kedalam larutan tersebut. Tambahkan sodium iodate, asam sitrac dan

    choral hydrate lalu diaduk semua bahan tersebut sampai marata. Hasil pewarnaan

    akhir berwarana merah keungguan. Pewarnaan dapat disimpan dalam beberapa

    bulan.

  • 41

    Lampiran 2. Istilah-istilah Kesehatan

    a. Hyperplasia/Hiperplasia epitel

    Menurut kamus kesehatan hyperplasia/hiperplasia epitel merupakan

    peningkatan abnormal dalam jumlah sel dalam suatu organ atau jaringan.

    b. Nekrosis/ Necrotic

    Menurut kamus kesehatan nekrosis merupakan kematian patologis satu

    atau lebih sel atau sebagian jaringan atau organ, yang dihasilkan dari kerusakan

    ireversibel. Hal ini terjadi ketika tidak ada cukup darah mengalir ke jaringan, baik

    karena cedera, radiasi, atau bahan kimia.

    c. Sel radang/ inflammation

    Radang (bahasa Inggris: inflammation) adalah respon dari suatu organisme

    terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi

    yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar,

    atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem

    kekebalan terhadap infeksi dan iritasi.

  • 42

    DOKUMENTASI

    DOC umur 1 hari

    Masa pemeliharaan

    Pencampuran pakan

  • 43

    Sampel usus halus

    Pengamatan sampel

    Perhitungan tinggi vili

  • 44

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    Yessy Anatalia siagian lahir pada tanggal 22 Desember 1994

    di Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Penulis merupakan

    anak kedua dari tujuh orang bersaudara, dari pasangan Bapak

    Antonius Sanda Rupa dan Ibu Damaris Bumbungan.

    Pendidikan formal yang telah ditempuh oleh penulis yakni:

    TK Pertiwi tahun 1999-2000, SD Negeri Kristen Makale 1

    Tahun 2000-2006; SMP Katolik Makale Tahun 2006-2009; SMA Negeri 1

    Makale Tahun 2009-2012 dan pada tahun 2012-2016 penulis melanjutkan

    pendidikan S1 di Fakultas Peternakan Program Studi Ilmu Peternakan Universitas

    Hasanuddin (UNHAS) Makassar, melalui jalur Prestasi, Olahraga, Seni dan

    Keilmuan (POSK). Adapun pengalaman organisasi yang pernah ditempuh oleh

    penulis semasa kuliah adalah sebagai Bendahara Umum pengurus Keluarga

    Mahasiswa Katolik Unhas pada periode 2014-2015 ; terdaftar di Data Base Senat

    Mahasiswa Fakultas Peternakan UNHAS (SEMA FAPET_UH) sebagai Warga

    Biasa Tahun 2012 dan Pengurus Departemen Pendidikan dan Penalaran

    Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (HIMAPROTEK_UH) periode 2014-

    2015.

    SAMPUL SKRIPSI.pdfSKRIPSI 8.pdf