invaginasi usus

Click here to load reader

Download Invaginasi usus

Post on 17-Jan-2016

153 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ini adalah referat invaginasi usus. semoga bermanfaat

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN1. Latar BelakangInvaginasi atau yang biasa disebut dengan intususepsi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk ke dalam lumen usus bagian distalnya sehingga menyebabkan obstruksi usus dan dapat menjadi strangulasi kemudian mengalami komplikasi yang berujung pada sepsis dan kematian. Invaginasi merupakan salah satu kegawatdaruratan yang umum pada anak. Kelainan ini harus dikenali dengan cepat dan tepat serta memerlukan penanganan segera karena misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis akan meningkatkan angka morbiditas(1-6).Invaginasi pertama kali digambarkan oleh Paul Barbette di Amsterdam pada tahun 1674. Jonathan Hutchinson melaporkan operasi pertama invaginasi yang berjalan sukses terhadap anak usia 2 tahun pada tahun 1873(7). Literatur lain menyebutkan Wilson merupakan yang pertama sukses dalam melakukan terapi pembedahan invaginasi pada tahun 1831(2). Di tahun 1876, Harald Hirschprung menggambarkan pendekatan sistematik dengan reduksi hidrostatik. Di Amerika Serikat, Ravitch mempopulerkan penggunaan reduksi barium enema untuk mengatasi invaginasi(7).Invaginasi atau intussussepsi adalah penyebab tersering dari obstruksi usus akut pada anak. Di negara - negara barat, penderita invaginasi biasanya datang dalam keadaan yang masih dini, sehingga angka kesakitan dan angka kematian dapat ditekan. Kebanyakan penderita sembuh bila dirawat sebelum 12 jam setelah kejadian. Di negara-negara berkembang seperti di Indonesia, penderita sering datang dalam keadaan yang sudah terlambat atau lebih dari 12 jam setelah kejadian, sehingga sebagian besar memerlukan tindakan pembedahan yang sering disertai dengan reseksi usus. Rendahnya pengetahuan orang tua penderita tentang kesehatan menyebabkan keterlambatan memeriksakan penderita ke dokter atau oleh karena keterlambatan dokter dalam menegakkan diagnosa. Invaginasi anak terjadi pada 1 dari 13.000 penderita yang dirawat di rumah sakit. Angka kejadiaan laki-laki dibandingkan wanita sekitar 3:1. Pada neonatus sebesar 0,3%. Sebagian besar invaginasi terjadi dibawah umur 2 tahun dengan puncak kejadian berkisar antara umur 4-11 bulan.(16)Gejala klasik yang paling umum (85%) dari invaginasi adalah nyeri perut yang sifatnya muncul secara tibatiba, kolik, intermiten, berlangsung hanya selama beberapa menit. Gejala awal lain yang sering dikeluhkan yaitu muntah. Kerusakan usus berupa nekrosis hingga perforasi usus dapat terjadi antara hari ke 2-5 dengan puncaknya pada hari ke 3 setelah gejala klinis terjadi. Hal tersebut akan memperberat gejala obstruksi yang ditimbulkan oleh invaginasi dan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas(2,8).Di negara maju, outcome dari pasien dengan invaginasi memiliki prognosis yang lebih baik karena diagnosis yang tegak secara dini diikuti dengan prosedur terapi yang kurang invasif seperti reduksi barium enema. Sebaliknya, di negara berkembang, banyak anak dengan invaginasi dilaporkan mengalami keterlambatan untuk mendapatkan terapi definitif(9). Tertundanya diagnosis yang berlanjut menjadi nekrosis usus, diikuti dengan terapi reduksi operasi, memiliki angka fatalitas yang tinggi, misalnya 18% di Nigeria, 20% di Indonesia(10) dan hingga 54% di Ethiopia(8). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh van Heek et al (1996) angka kematian anak-anak dengan invaginasi di pedesaan Indonesia jauh lebih tinggi daripada di perkotaan di Indonesia atau di Belanda, hal ini disebabkan karena pengobatan yang terlambat, yang menghasilkan lebih banyak pasien yang menjalani operasi dalam kondisi fisik yang buruk(10). Mortalitas invaginasi meningkat secara signifikan (lebih dari 10 kali) pada pasien invaginasi yang baru datang berobat setelah 48 jam sejak onset gejala dibandingkan dengan pasien invaginasi yang datang berobat sejak 24 jam onset gejala(7).Berdasarkan data di atas, menjadi suatu keharusan bagi para calon dokter umum yang nantinya juga akan terjun ke masyarakat untuk memahami dan mengenali gejala awal dari invaginasi sehingga dapat melakukan tindakan sesegera mungkin untuk memperbaiki keadaan umum pasien kemudian merujuk ke spesialis bedah yang tepat sehingga berdampak pada menurunnya angka morbiditas dan mortalitas dari invaginasi.2. TujuanSetelah membaca referat ini, diharapkan panitra klinik mampu mengenal gejala invaginasi serta memberikan penatalaksanaan yang tepat baik terapi pendahuluan maupun rujukan pada pasien sehingga dapat berperan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ketika terjun ke masyarakat sebagai dokter.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomia. Usus halusUsus halus merupakan suatu tabung yang kompleks, berlipat-lipat dan membentang dari pilorus hingga katub ileosekal. Panjang usus halus halus pada orang hidup sekitar 12 kaki (3,6 m) dan hampir 22 kaki (6,6 m) pada kadaver (akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya berdiameter sekitar 3,8 cm, tetapi makin ke bawah garis tengahnya semakin berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm.(17)Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum dan ileum yang merupakan tempat digesti dan penyerapan sari-sari makanan. Duodenum berbentuk tabung menyerupai huruf C dengan panjang sekitar 25 cm (10 inci) dari spinkter pilorus sampai fleksura duodenojejunal.5Pemisahan duodenum dan jejunum ditandai oleh adanya Ligamentum Treitz, yaitu suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada perbatasan antara duodenum dan jejunum4.Panjang jejunum sekitar 1 m (3 kaki), memiliki lumen yang besar dan lipatan yang lebih banyak dari ileum tetapi struktur histologinya hampir sama dengan ileum. Ileum memiliki panjang sekitar 2 m (6-7 kaki).5Pada usus halus juga terdapat sebuah saluran buntu yang menyerupai tabung berukuran sebesar jari kelingking terletak pada daerah ileosekal yaitu pada apeks sekum yang disebut appendiks vermiformis.(17)Dinding usus halus terdiri dari 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis dan serosa, sedangkan otot yang menyusunnya terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan luar terdiri atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis dan lapisan dalam terdiri dari serabut sirkular. Struktur ini membantu dalam gerakan peristaltik usus halus. Lapisan mukosa bagian dalam cukup tebal dan banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar.(17)

Perdarahan dan persarafanArteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat dibawah arteri seliaka. Arteri ini memperdarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya, arteri pankreatikoduodenalis superior. Darah dikembalikan lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta.(17)Usus halus dipersarafi oleh cabang-cabang sistem saraf otonom. Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan motilitas, dan rangsangan simpatis menghantarkan nyeri, sedangkan serabut parasimpatis mengatur refleks usus. Suplai saraf intrinsik yang menimbulkan fungsi motorik, berjalan melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis dan pleksus Meissner di lapisan submukosa.(17)

b. Usus Besar

Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diameter usus besar sekitar 6,5 cm (2,5 inci) tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.(17)Usus besar dibagi menjadi 3 bagian, yaitu sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat katup ileosaekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileosaekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke dalam usus halus. Kolon dibagi menjadi kolon asenden, transversum, desenden dan sigmoid. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut disebut sebagai fleksura hepatika dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk S. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum. Bagian terakhir usus besar adalah rektum dan membentang dari kolon sigmoid hingga anus. Satu inchi terakhir dari dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus.(17)

Perdarahan dan persarafanUsus besar secara klinis terbagi atas belahan kiri dan kanan berdasarkan pada suplai darah yang diterima. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan kanan (sekum, kolon asenden dan 2/3 proksimal kolon tranversum) dan arteri mesenterika inferior memperdarahi belahan kiri (1/3 distal kolon tranversum, kolon desenden, kolon sigmoid dan bagian proksimal rektum). Suplai darah tambahan ke rektum berasal dari arteri hemoroidalis media dan inferior yang dicabangkan dari arteri iliaka interna dan aorta abdominalis.(17)

Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui vena mesenterika superior, vena mesenterika inferior dan vena hemoroidalis superior (bagian sistem portal yang mengalirkan darah ke hati).(17)Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dalam pengendalian voluntar. Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon tranversum dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakral menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medulla spinalis melalui saraf splangnikus.(17)

2. Fisiologi

Terdapat 4 fungsi dari usus halus yaitu :1.Penyerapan (17) Penyerapan karbohidrat dimulai dengan aktivitas salivary amilase, tetapi penyerapan yang sempurna terjadi ketika monosacarida telah terbentuk di usus halus dengan bantuan pakreatik amilase dan enzim lainnya. Penyerapan lemak. Diet trigliserida terdiri dari sejumlah besar oleate dan palmitat sebagai asam lemak. Setiap hari, 2-8 phospolipid dicerna. Yang paling banyak adalah lecitin dan predominan asam lemak adala