cidera kepala sedang menuju fix

of 37 /37
MAKALAH SISTEM NEUROBEHAVIOR “CIDERA KEPALA SEDANG” DISUSUN OLEH TINGKAT II KELOMPOK 4 ANNISA FEBRIANI PUTRI DIANA ZULHIJAH ELSA MAYORI KEZZIA PUTRI WAZANE MUTIAWATI NIA NUTHAYATI NOVI FEBRIANI RAHMAT ALHAMDA RAHMI DAFAT MAYENI RINI SUNDARI WITRI ANWAR YULITA AYU PURNAMA SARI PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

Author: annisa-febriani

Post on 10-Jul-2016

10 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MAKALAH SISTEM NEUROBEHAVIORCIDERA KEPALA SEDANG

DISUSUN OLEH TINGKAT IIKELOMPOK 4

ANNISA FEBRIANI PUTRIDIANA ZULHIJAHELSA MAYORIKEZZIA PUTRI WAZANEMUTIAWATINIA NUTHAYATINOVI FEBRIANIRAHMAT ALHAMDARAHMI DAFAT MAYENIRINI SUNDARIWITRI ANWARYULITA AYU PURNAMA SARI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATANSTIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGITAHUN AKADEMIK 2015/2016

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji beserta syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbingyang telah membantu dan mengarahkan dalam pembuatan makalah ini serta kepada teman-teman, yang telah mendukung dan membantu dalam penulisan makalah ini.Makalah ini ditulis untuk melengkapi tugas mata kuliah Sistem Respirasi Sesuai dengan petunjuk dalam silabus penulis membahas tentang Cidera Kepala Sedang.Mudah-mudahan dalam penyusunan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pihak-pihak yang berkepentingan, sehingga dapat mempermudah dan melancarkan proses pembelajaran.Dalam proses pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak terdapat kesalahan-kesalahan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun dalam makalah ini. Terima kasih.

Bukittinggi, 19 November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANG1.2 TUJUAN PENULISAN1.3 METODE PENULISANBAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 SKENARIO2.2 CIDERA KEPALA SEDANGBAB III ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA SEDANG3.1 PENGKAJIAN3.2 ANALISA DATA3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN3.4 NURSING CARE PLANNINGBAB IV PENUTUP4.1 KESIMPULAN4.2 SARANDAFTAR PUSTAKA

BAB IPENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANGCidera kepala mencakup trauma pada kulit kepala, tengkorak (karanium dan tulang wajah), atau otak. Keparahan cidera berhubungan dengan tingkat awal kerusakan awal otak dan patologi sekunder yang terkait. Cidera primer terjadi bersamaan dengan dampak dari gaya akselarasi-deselarasi atau gaya rotasi dan mencakup fraktur, gegar, kontusio, dan laseleras. Cidera sekunder dapat dimulai pada saat trauma terjadi atau pada waktu setelahnya. Cidera sekunder mencakup respons biokimia terhadap trauma serta penyakit sistemik yang memperburuk cidera primer dan menyebabkan kerusakan SSP tambahan. Cidera sekunder meliputi gangguan akson, hematoma, hipertensi intracranial, infeksi SSP, hipotensi, hipotermia, hipoksemia, dan hiperkapnia (Stillwell, 2011).Di Indonesia jumlah kecelakaan lalu lintas terus meningkat tiap tahunnya. Sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda motor. Kontribusi sepeda motor terhadap kecelakaan di indonesia adalah 80,3%. Kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia, faktor kendaraan dan foktor lingkungan yang saling berkaitan (Slamet, 2013)Klasifikasi cidera kepala diantaranya yaitu Komosio Serebri (geger otak). Geger otak berasal dari benturan kepala yang menghasilkan getaran keras atau menggoyangkan otak, menyebabkan perubahan cepat pada fungsi otak, termasuk kemungkinan kehilangan kesadaran >10 menit yang disebabkan cidera pada kepala. Tanda-tanda geger otak yaitu hilang kesadaran, sakit kepala berat, hilang ingatan (amnesia), mata berkunang-kunang, pening, lemah, pandangan ganda. Kontusio serebri (memar otak), memar otak lebih serius daripada geger otak, keduanya dapat diakibatkan oleh pukulan atau benturan pada kepala. Memar otak menimbuklan memar dan pembengkakan pada otak, dengan pembuluh darah dalam otak pecah dan pendarahan pasien pingsan, pada keadaan berat dapat berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu (Anonim, 2013).Gejala yang dapat dijumpai adalah adanya suatu lucid interval (masa sadar setelha pingsan sehingga kesadaran menurun lagi), tensi yang semakin bertambah tinggi, nadi yang semakin bertambah tinggi atau bertambah lambat, hemiparesis, dan terjadi anisokori pupil. Hematoma subrudal adalah pendarahan yang terjadi diantara durameter dan arakhnoidea. Pendarahan dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam durameter atau karena robeknya arachnoid. Gejala yang dapat tampak adalah penderita mengeuh tentang sakit kepala yang semakin bertambah keras, ada gangguan psikis, kesadaran penderita semakin menurun, terdapat kelainan neurologis seperti hemiparesis, epilepsy, dan edema pupil (Anonm, 2013).Cidera Kepala Sedang (CKS) adalah, kehilagan kesadaran atau amnesia dengan nilai GCS 9-12 retrograd lebih dari 30 menit tetapi kuarang dari 24 jam. Pasien dengan trauma kepala mempunyai resiko untuk terjadinya kerusakan otak dan kematian. Resiko kematian kemungkinan meningkat karena pasien jatuh kedalam koma yang lama (Anonim, 2013).Nyeri kepala pada pasien dengan cidera kepala dapat mengakibatkan nyeri kepala berat, berdenyut, muntah, photophobia dan phonophobia (Rahayu, 2013).Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Alimul, 2012).Nyri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenagkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau di prediksi dan berlangsung