bab ii sejarah perubahan nama pandu menjadi . kepanduan masa kolonial penjajahan oleh bangsa barat...

Download BAB II SEJARAH PERUBAHAN NAMA PANDU MENJADI . KEPANDUAN MASA KOLONIAL Penjajahan oleh bangsa Barat dimulai

Post on 03-Mar-2019

221 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

13

BAB II

SEJARAH PERUBAHAN NAMA PANDU MENJADI

PRAMUKA

A. KEPANDUAN MASA KOLONIAL

Penjajahan oleh bangsa Barat dimulai dengan kedatangan Bangsa Portugis,

Inggris kemudian disusul oleh Belanda. Selama penjajahan yang dilakukan oleh

Belanda, banyak terjadi peperangan yang berlangsung lama dan tidak sedikit

memakan korban jiwa. Rakyat Indonesia kemudian disadarkan perjuangan tanpa

nasionalisme dan patriotisme tidak akan berhasil. Untuk itu perlu adanya usaha

nyata yang kemudian memunculkan banyak organisasi berbasis politik, sosial,

maupun pendidikan.

Bagi bangsa Indonesia tahun 1908 merupakan tahun istimewa, dimana

tahun tersebut tepatnya 20 Mei telah berdiri sebuah organisasi modern pertama di

Indonesia yaitu Budi Utomo. Saat itulah wacana baru bangsa Indonesia mulai

terbuka. Corak baru yang diperkenalkan oleh Budi Utomo adalah kesadaran lokal

yang diformulasikan dalam bentuk organisasi modern dalam arti organisasi ini

memiliki pimpinan, anggota dan ideologi yang jelas.1

Berdirinya Budi Utomo di tahun 1908 menjadi tonggak kebangkitan

Indonesia bertekad untuk bangkit dari segala penindasan bangsa asing. Lahirnya

Budi Utomo merupakan fase pertama tumbuhnya nasionalisme Indonesia. Di saat

Budi Utomo menggobarkan semangat perjuangannya, tahun 1907 Mayor Jendral

Baden Powell dari Inggris mencetuskan Ide Scouting yang berarti pedoman pokok

1 Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai

Proklamasi 1908-1945, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994), hlm 30

14

untuk pendidikan kepanduan di seluruh dunia, dimana pendidikan itu ada yang

berwujud permainan dan keterampilan.

Di Belanda berkembang organisasi kepanduan berdasarkan ide pemikiran

Baden Powell. Tak lepas dari pengaruh tersebut maka pada tahun 1912 tepatnya

di Jakarta, berdirilah organisasi kepanduan bernama Nederlandsche Padvinders

Organisatie (NPO). Organisasi ini didirikan oleh P.Y Smits dan Majoor Yager.2

Organisasi ini didirikan atas anjuran dari perkumpulan pandu yang berada di

negeri Belanda. Tujuan dari didirikannya organisasi kepanduan NPO ini adalah

untuk remaja dan pemuda Belanda yang berada di Indonesia. Dalam waktu yang

singkat, NPO berhasil berkembang dengan pesat di kota-kota besar di Indonesia.

Di sisi lain, Eropa sedang berkecamuk perang yang dikenal dengan nama

Perang Dunia I. Perang ini berlangsung dari tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan

11 November 1918. Perang yang terjadi di Eropa ternyata membawa dampak

yang cukup besar bagi hubungan Indonesia dengan Belanda. Hal tersebut juga

menjadi tantangan yang paling dahsyat bagi kepanduan dunia. Oleh karena itu

maka NPO diberikan kewenangan untuk berdiri sendiri dan membentuk kwartir

besar sendiri. Maka, berdirilah organisasi-organisasi kepanduan berdasar aliran

masing-masing. Namun pada tanggal 4 September 1914 organisasi-organisasi

tersebut dipersatukan di bawah organisasi baru bernama De Nederlands Indische

Padvinders Vereeniging (NIPV).3

NIPV berbeda dengan NPO. Jika NPO hanya diperuntukkan bagi pemuda

dan remaja Belanda, maka NIPV lebih terbuka dalam merekrut anggotanya.

2 NN, Patah Tumbuh Hilang Berganti 75 tahun Kepanduan dan

Kepramukaan, (Jakarta : Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1987), hlm 13 3 Ahmaddani.G, Pemuda Indonesia dalam Perspektif Sejarah Perjuangan

Bangsa, hlm 44

15

Artinya dalam NIPV juga terbuka bagi remaja dan pemuda Indonesia namun tetap

hanya memperbolehkan remaja dan pemuda Indonesia tertentu dan terbatas untuk

menjadi anggota NIPV sesuai dengan politik yang diterapkan Belanda. Hal

tersebut membuat pemuda Indonesia berkenan masuk menjadi anggota NIPV.

Kebanyakan dari mereka memiliki landasan berpikir bahwa organisasi kepanduan

ini dapat dijadikan alat untuk berjuang memperoleh kemerdekaan. Tetapi, ada

juga diantara mereka yang masuk hanya karena orangtua mereka bekerja di bawah

naungan pemerintah Hindia Belanda.

Seiring perkembangan organisasi bentukkan Belanda di Indonesia, di tahun

1916 atas prakarsa S.P Mangkunegara VII di Surakarta berdirilah organisasi

kepanduan bumiputera pertama di Indonesia dengan nama Javaanse Padvinders

Organisatie (JPO), disusul dengan berdirinya organisasi Teruna Kembang di

daerah Kasunanan di bawah pimpinan Pangeran Suryobroto. Perkembangan

kepanduan di Indonesia sejalan dengan pergerakan nasional. Kepanduan dapat

dijadikan alat untuk meningkatkan budi luhur, keterampilan dan kepribadian serta

dapat memupuk bakat kepemimpinan. Semuanya berguna untuk meningkatkan

rasa nasionalisme dikalangan pemuda. Maka dari itu, kepanduan tumbuh subur

dalam berbagai organisasi kepemudaan. Yogyakarta, Bandung dan Jakarta tercatat

sebagai tempat subur perkembangan organisasi kepanduan di Indonesia.

Pada tahun 1918, berdirilah organisasi kepanduan Padvinder

Muhammadiyah di bawah naungan Muhammadiyah yang dipelopori oleh K.H

Ahmad Dahlan, Syiraj Dhlan, Sarbini, dan lainnya. Di tahun 1920 atas usul R.H.

Hajid nama Padvinder Muhammadiyah berubah menjadi Hizbul Wathon (HW).

Serikat Islam pun menyusul dengan mendirikan organisasi kepanduan bernama

16

Wira Tamtama yang dipimpin oleh A. Zarkasi. Tak mau kalah, organisai modern

pertama di Indonesia yaitu Budi Utomo turut serta membentuk organisasi

kepanduan bernama Nationale Padvinderij dipimpin oleh Daslan Adi Wasito.

Setelah para pelajar Indonesia yang bergabung dalam perkumpulan pemuda

pelajar Indonesia mulai menaruh minat dan perhatian pada organisasi kepanduan,

jumlah perkumpulan kepanduan di Indonesia berkembang sangat pesat.4

Bulan Juli 1921 Jong Java cabang Mataram / Yogyakarta yang dipimpin

oleh Supardi memutuskan untuk mendirikan padvinderij atas usulan dari

Rustiman dan Subiono. Pasukan padvinder dari Jong Java tersebut menjadi

pasukan Jong Java Padvinderij di bawah pimpinan Suripto, Suratno

Sastroamijoyo, Rustiman dan Subiono. Bendera pasukannya berwarna merah-

putih (umbul-umbul gula kelapa) dan kacu lehernya juga sama warnanya.5 Dalam

kongres Jong Java V yang diadakan di Solo tahun 1922 mengambil keputusan

untuk memasukkan padvinderij dalam gerakan pemuda Jong Java dan diberi

nama Jong Java Padvinderij yang disingkat JJP.

Cabang Jong Java Jakarta mengikuti mendirikan pasukan JJP yang

dipelopori oleh Pirngadi, Muwardi dan Delian Sumodirjo. Di lain-lain tempat

yang terdapat cabang Jong Java, banyak yang menyusul mendirikan pasukan JJP.

Pada umumnya para pemimpin JJP pertama adalah mereka yang pernah menjadi

anggota pasukan NIPV. Pasukan JJP kemudian diorganisasikan menjadi satu

organisasi kepanduan nasional dan Jakarta dipilih sebagai pusatnya. Pimpinan JJP

pusat waktu itu adalah Muwardi, Suratno Sastroamidjoyo dan Sugandi.

4 Suhatno, Op.cit., hlm 8

5 NN, Op. cit., hlm 13

17

Dengan pertimbangan bahwa dengan adanya wadah bersama maka gerakan

kebangsaan akan menjadi lebih kuat, makan para pelajar dan mahasiswa mulai

bergabung dalam wadah bersama yaitu Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia

(PPPI) yang didirikan pada tahun 1926.

Ide mempersatukan organisasi pemuda ini dilaksanakan dalam Kongres

Pemuda I yang dlaksanakan 20 April 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres Pemuda I

ini memiliki tujuan untuk menanamkan semangat kerjasama antara perkumpulan

pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar persatuan Indonesia dalam arti yang

lebih luas. Terbentuklah Jong Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1926 yang

memiliki tujuan untuk menanamkan dan mewujudkan cita-cita persatuan

Indonesia.

Dalam rangka mempersatukan kepanduan nasional Indonesia maka NPO

dan JIPO dilebur menjadi Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO)

dibawah pimpinan Ir. Soekarno dan Mr. Sunaryo sedangkan anggota JIPO yang

tidak masuk INPO mengganti nama JIPO menjadi Pandu Indonesia (PI).

Didorong oleh semangat persatuan yang semakin lama semakin kuat, pada tanggal

23 Mei 1928 di Jakarta diadakan pertemuan antara wakil-wakil kepanduan

nasional Indonesia antara lain dr. Muwardi dari Pandu Kebangsaan (yang dulunya

adalah JJP), Mr. Sunaryo dari INPO, Mr. Kasman Singodimejo dari NATIPIJ dan

Ramelan dari SIAP. Dalam pertemuan tersebut berhasil dibentuk suatu badan

federasi bernama Persaudaran Antara Pandu Indonesia (PAPI). Angoota PAPI

saat itu adalah Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATPIJ dan PPS. Pengurus

PAPI pertama adalah Mr. Suanryo dan Dr. Halim dari INPO, Dr. Muwardi dari

18

PK, Aruji Kartawinata dan Ramelan dari SIAP, serta Mr. Hom Rum dari NATIPIJ

dengan memilih Jakarta sebagai pusat pimpinan PAPI.

Di lain tempat seperti Solo dan Yogyakarta yang memiliki lebih dari satu

kepanduan dibentuk PAPI Daerah. Di Solo, badan ini diberi nama Badan

Persatuan Kepanduan Surakarta, sedangkan di Yogyakarta diberi nama Badan

Persaudaraan Kepandua Mataram. Adapun tujuan dari PAPI ini antara lain : (1)