bab ii tinjauan pustaka - pernyataan yang tertulis dalam buku “arsitektur kolonial belanda di...

Download Bab II Tinjauan Pustaka -   pernyataan yang tertulis dalam buku “Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia” karya Yulianto Sumalyo, ... penjajahan di Indonesia,

If you can't read please download the document

Post on 15-Feb-2018

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Bab II Tinjauan Pustaka

    Pada bab ini akan dijelaskan sejarah perkembangan kota Bandung,

    perkembangan permukiman di Bandung, arsitektur kolonial Belanda, upaya

    pemugaran bangunan-bangunan kolonial Belanda di Bandung, fasade bangunan di

    kawasan perumahan Tjitaroem Plein, serta kajian teori karakter kawasan dan

    fasade bangunan.

    II.1 Sejarah Perkembangan Kota Bandung

    Berdasarkan pernyataan yang tertulis pada buku Ciri Perancangan Kota

    Bandung karya Djefry W. Dana, dinyatakan bahwa awal mula berdirinya kota

    Bandung tidak lepas dari jasa Wiranatakusumah II yang menjadi Bupati

    Kabupaten Bandung pada tahun 1794 hingga tahun 1829. Pemerintah Hindia

    Belanda, yang saat itu menguasai Nusantara, khususnya Jawa, dibawah pimpinan

    Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memiliki rencana membuat Groote

    Postweg (Jalan Raya Pos) yang membelah Pulau Jawa sepanjang kira-kira 1000

    kilometer. Jalan ini menghubungkan Anyer di ujung barat dan Panarukan di ujung

    timur. Hal ini bertujuan untuk mempermudah hubungan antara daerah-daerah

    yang berdekatan serta dilalui jalan tersebut. Atas perintah Gubernur Jenderal

    Herman Willem Daendels, sejak tanggal 25 Mei 1810 ibukota Kabupaten

    Bandung yang semula berada di Krapyak (sekarang Dayeuh Kolot) berpindah

    mendekati Jalan Raya Pos. Atas persetujuan sesepuh serta tokoh-tokoh dibawah

    pemerintahannya, Bupati Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Kabupaten

    Bandung dari Krapyak ke daerah yang terletak diantara dua buah sungai, yaitu

    Cikapundung dan Cibadak, daerah sekitar alun-alun Bandung sekarang, yang

    dekat dengan Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Daerah yang tanahnya melandai

    ke arah timur laut tersebut dianggap cocok dengan persyaratan kesehatan maupun

    kepercayaan yang dianut pada saat itu. Sungai-sungai yang mengapitnya juga

    dapat berfungsi sebagai sarana utilitas kota10.

    10 Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 13.

    13

  • Berdasarkan pernyataan yang tertulis dalam buku Bandoeng, Beeld van

    een stad karya Robert P.G.A. Voskuil, masa kekuasaan Verenigne Oostindische

    Compagnie (VOC) di Bandung ditandai dengan munculnya budidaya kopi

    pertama di Bandung pada tahun 1718 sampai tahun 1725. Kemudian VOC

    memonopoli perdagangan dengan seringnya membeli hasil panen kopi dengan

    harga yang murah untuk kemudian dijual di Eropa dengan harga yang tinggi.

    Masa kekuasaan VOC berakhir pada awal tahun 1796. Pada saat itu VOC berada

    dalam pengawasan Pemerintah Belanda. Setelah habisnya hak monopoli yang ada,

    akhirnya pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dinyatakan bangkrut dan resmi

    dibubarkan11.

    Berdasarkan pernyataan yang tertulis dalam buku Bandoeng, Beeld van

    een stad karya Robert P.G.A. Voskuil, masa kekuasaan Bataafsche Republiek

    (Republik Batavian / Pemerintah Hindia Belanda) di Bandung tidak lepas dari

    kepemimpinan Herman Willem Daendels di Bandung. Pada bulan Januari 1807

    Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal di Asia. Sebelum

    berangkat Daendels dianugerahi pangkat Marsekal Negeri Belanda oleh Raja

    Lodewijk Napoleon. Daendels dilahirkan di Hattem Belanda pada tahun 1762.

    Pada tahun 1787 sebagai patriot muda Daendels melarikan diri ke Perancis,

    kemudian kembali ke Belanda pada tahun 1795 sebagai jenderal dalam pasukan

    Pichegru. Daendels ditugaskan oleh untuk mempertahankan Jawa terhadap

    Inggris. Dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Daendels, Groote Postweg (jalan

    raya Pos) dibuat dengan alasan untuk kepentingan ekonomi dan militer. Jalan ini

    menghubungkan Anyer di ujung barat dengan Panarukan di ujung timur, yang

    membentang sepanjang kira-kira 1000 kilometer. Atas perintah Daendels, sejak

    tanggal 25 Mei 1810 ibukota Kabupaten Bandung yang semula berada di

    Karapyak dipindahkan mendekati Jalan Raya Pos. Daendels meninggal dunia

    pada bulan Mei 1818 di St.George del Mina, ibukota pantai barat Afrika11.

    Menurut Djefry W. Dana, untuk mengatur pembangunan kota Bandung

    akibat bertambahnya jumlah penduduk, maka disusun Plan der Negorij Bandoeng

    11 Voskuil, Robert P.G.A. (1996), Bandoeng, Beeld van een stad, Asia Maior, Purmerend, 26-32.

    14

  • (Rencana Kota Bandung) dengan tujuan agar pembangunan kota lebih terarah dan

    terkendali. Pada tahun 1850 dibangun Masjid Agung dan Pendopo Kabupaten

    serta ruang terbuka / alun-alun di pusat kota Bandung sekarang. Pada tahun 1866

    dibangun beberapa bangunan sekolah seperti Sekolah Guru / Sekolah Raja

    (Kweekschool) di Jalan Merdeka sekarang dan Sekolah Pangereh Praja / Sakola

    Menak (OSVIA) di daerah Tegallega. Pada tahun 1867 dibangun Gedung

    Karesidenan yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata sebagai tempat tinggal

    Residen Priangan yang bernama Van der Moore. Sekitar tahun 1890 dibuat

    beberapa taman kota serta fasilitas-fasilitas penunjang kota lainnya. Dengan

    demikian, Bandung berkembang dari kota kecil menjadi sebuah permukiman kota

    dengan segala sarana pelengkapnya12.

    Menurut Djefry W. Dana, meskipun Groote Postweg (Jalan Raya Pos)

    telah dibuat, keberadaannya tidak cukup kuat untuk melindungi Belanda dari

    tentara Inggris yang kemudian datang ke Indonesia pada tahun 1811 dibawah

    pimpinan Thomas Stamford Raffles. Selain itu, menurut Robert P.G.A. Voskuil,

    masa kekuasaan Inggris di Bandung ditandai dengan diterapkannya Cultuurstelsel

    (Undang-undang Tanam Paksa) di Jawa pada tahun 1830 oleh Gubernur Jenderal

    Van den Bosch. Tanam Paksa dilakukan hampir sama dengan kerja paksa seperti

    pada zaman VOC, tetapi kali ini berdasarkan pajak bumi dari Raffles13.

    Menurut Robert P.G.A. Voskuil, masa kolonial modern di Bandung

    ditandai dengan adanya het Decentralisatiebesluit (Keputusan Otonomi) pada

    tahun 1905 yang secara hukum menciptakan banyak peluang bagi Batavia,

    Meester Cornelis dan Buitenzorg menjadi kota-kota di Jawa yang mendapat status

    gemeente (Kotapraja). Hal ini diikuti oleh sejumlah kota lain pada tanggal 1 April

    1906, termasuk Bandung. Sejak saat itu, kota Bandung mengalami perkembangan

    pesat di segala bidang13.

    12 Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 13-16. 13 Voskuil, Robert P.G.A. (1996),Bandoeng, Beeld van een stad, Asia Maior, Purmerend, 36-49.

    15

  • Didalam buku tersebut juga dinyatakan bahwa pada tahun 1918 het

    Departement van Gouvernementsbedreijven (Departemen Perusahaan Pemerintah)

    ditetapkan berkedudukan di Bandung termasuk berbagai dinas yang berada

    dibawah kekuasaan pemerintah seperti kereta api, trem, pos telegram telepon dan

    pertambangan. Pemindahan tersebut menyebabkan aktivitas membangun

    disepanjang batas kota, disebelah Utara Jl.Riau meningkat sejak 1920. Melihat

    perkembangan kota yang cepat, maka pada tahun 1917 Kotapraja memiliki

    Rencana Pengembangan Bandung Utara yang disusun oleh arsitek F.J.L. Ghysels

    dari het Algemene Ingenieurs en Architecten Bureau (AIA) dari Jakarta. Biro ini

    dipilih pada tahun 1920 untuk menjadi Departemen Perencanaan yang menangani

    semua pembangunan kantor pemerintah di kawasan timur laut. Tetapi pada

    kenyataannya, proyek yang terlaksana hanya dua bangunan kantor, sehingga lahan

    peruntukannya tidak dibangun hingga bertahun-tahun. Hal ini menyebabkan

    kerugian yang cukup besar bagi Kotapraja14. Berikut ini merupakan

    perkembangan kota Bandung jika digambarkan dalam bentuk diagram :

    U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.1 Diagram Peta Perkembangan Kota Bandung

    Sumber : Siregar, Sandy Aminuddin (1990), Bandung, The Architecture of A City in Development, Departement Architectuur Katholieke Universiteit Leuven

    14 Voskuil, Robert P.G.A. (1996),Bandoeng, Beeld van een stad, Asia Maior, Purmerend, 57-63.

    16

  • Berikut ini merupakan perkembangan kota Bandung yang dapat

    digambarkan sebagai berikut :

    U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.2 Peta Perkembangan Kota Bandung Tahun 1906

    Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 17-18

    U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.3 Peta Perkembangan Kota Bandung Tahun 1911

    Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 17-18

    17

  • U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.4 Peta Perkembangan Kota Bandung Tahun 1916 Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka

    Utama, Jakarta, 17-18

    U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.5 Peta Perkembangan Kota Bandung Tahun 1921 Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka

    Utama, Jakarta, 17-18

    18

  • U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.6 Peta Perkembangan Kota Bandung Tahun 1931 Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka

    Utama, Jakarta, 17-18

    U

    Tjitaroem Plein

    Gambar II.7 Peta Perkembangan Kota Bandung Sejak Tahun 1942

    Sumber : Dana, Djefry W. (1990), Ciri Perancangan Kota Bandung, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 17-18

    19

  • Berdasarkan gambar peta perkembangan k

Recommended

View more >