2009a+pendidik... · sekolah (mos), orientasi studi ... penguasaan materi atau bahan ajar,...

Download 2009a+Pendidik... · sekolah (MOS), orientasi studi ... penguasaan materi atau bahan ajar, memahami…

Post on 02-Mar-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Udik Budi Wibowo: Pendidik Yang Tidak Mendidik 1

PENDIDIK YANG TIDAK MENDIDIK: Sebuah Otokritik*

Oleh:

Udik Budi Wibowo

ABSTRAK

Basically, abuse is more often than violence in the educational institutions. Abuse of educatees is non-physical or mental violence, and it does mostly unconsciously by educators. Moreover, it has fatal impact for educatees i.e. stress, frustration, wipe out or even stagnation of motivation and learning morale.

Employing hegemonic and dominative of educator functional power is one of the causes of abuse; and it make educatee powerless, under pressure mentally, and make learning as burdensome and uncomfortably. Such contra-productive strategy should be changed by educators commitment and dedication to utilizetheir power wisely and accountable and put educatees as a focus of learning process service. In such educator first-rate service, educatees potential uniqueness is appreciated, and it developed to meet with quality standard, evenmore above it, should be. First-rate or excellent service is professional task of educating educators, to empower educatees. Thus, their presence is guaranteed to eliminate abuses or violences in the educational institutions.

Key words: abuse or non-physical violence, functional power, first-rate service, educating educators, and educatees empowering.

PENDAHULUAN

Pendidikan seringkali dipandang gagal dalam menunaikan peran dan

fungsinya dengan bukti merebaknya fenomena kekerasan di lingkungan internal

sekolah dan kampus. Beberapa tindak kekerasan yang dilakukan baik oleh

guru/dosen maupun siswa/mahasiswa --seperti yang terjadi pada masa orientasi

sekolah (MOS), orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK), atau dalam

keseharian proses pembelajaran dan tata pergaulan organisasi intra dan ekstra

kurikuler-- telah membawa korban luka fisik, bahkan ada yang berujung pada

kematian. Kekerasan tersebut semakin transparan, tidak selalu dapat ditutup-

tutupi, dan gampang diungkap seiring dengan kemudahan akses informasi berkat

kemajuan teknologi komunikasi.

* Artikel dimuat dalam Dinamika Pendidikan No.02/TH. XVI/September/2009. ISSN: 0853-151X

Udik Budi Wibowo: Pendidik Yang Tidak Mendidik 2

Sesungguhnya di lembaga-lembaga pendidikan tidak hanya terjadi

kekerasan fisik semata, fenomena yang justru lebih banyak terjadi dan tidak

disadari adalah kekerasan non-fisik yang memiliki dampak laten berjangka

panjang dan jauh lebih membahayakan. Dampak tersebut disebabkan kekerasan

yang terjadi seringkali mematikan motivasi dan semangat belajar, yang berarti

memupus kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang secara optimal.

Seperti survei yang dilakukan Rose dan Nicholl (2006: 37) menemukan bahwa

citra diri yang positip tentang kemampuan belajar anak-anak menurun drastis dari

82% sejak awal masuk sekolah pada usia 5 atau 6 tahun menjadi hanya 18%

waktu mereka berusia 16 tahun. Konsekuensinya 4 dari 5 remaja dan orang

dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan

ketidaknyamanan.

Demikian pula DePorter dan Hernacki (2003: 23-24) mengungkapkan

bahwa awal memasuki sekolah merupakan awal terbentuknya citra diri negatif

karena perlakuan guru dan teman-temannya. Setelah beberapa tahun sekolah,

kemandekan belajar yang sesungguhnya benar-benar terjadi, dan anak-anak

menghalangi/menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Setelah

lulus dari sekolah dasar, kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa

tegang dan terbebani. Bahkan lebih ekstrim lagi Benyamin Fuller (Dryden dan

Vos, 2002: 24) menyatakan bahwa setiap anak terlahir jenius, tetapi kita

memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama. Jadi para pendidik

perlu menyadari bahwa sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja,

seringkali telah melakukan kekerasan yang menyebabkan belajar menjadi tidak

nyaman bagi anak-anak sebagai peserta didik.

Blog-blog mahasiswa di internet juga banyak mengungkapkan keluhan dan

kekesalan terhadap perilaku dosen seperti kesulitan dalam konsultasi penulisan

tugas akhir (skripsi), sikap kurang membimbing, tidak memenuhi komitmen

janjinya, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang dipandang mengabaikan hak-hak

mahasiswa untuk berkembang secara optimal. Dengan demikian kekerasan non-

fisik pada dasarnya banyak terjadi di lembaga-lembaga pendidikan, baik di

lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, bahkan pada perguruan tinggi yang

mendidik tenaga kependidikan (LPTK). Para pendidik memiliki kecenderungan

Udik Budi Wibowo: Pendidik Yang Tidak Mendidik 3

untuk melakukan kekerasan non-fisik, yang justru berdampak lebih signifikan

terhadap ketidak-mampuan belajar peserta didik, dan pada akhirnya merusak

kredibilitas lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat sebagai wahana

utama pengembangan potensi sumberdaya manusia.

Tak dapat dipungkiri bahwa para pendidik telah mumpuni dalam

penguasaan materi atau bahan ajar, memahami teori pendidikan (termasuk

didaktik-metodik, pedagogi, dan androgogi), memiliki keterampilan strategi

pembelajaran, dan juga sudah mengikuti berbagai pelatihan pemanfaatan media

dan peralatan pendidikan, bahkan telah menguasai teknologi informasi

komunikasi dalam pendidikan. Meskipun demikan mengapa masih saja terjadi

kekerasan dalam proses pendidikan? Sejauh manakah para pendidik telah benar-

benar melakukan pembelajaran yang mendidik sehingga mampu memicu dan

memacu motivasi dan semangat belajar peserta didik? Sebagai bukti penjaminan

kualitas dan akuntabilitas publik, benarkah para pendidik telah mampu

menyediakan layanan pendidikan yang prima, yang memberikan kesempatan

seluas-luasnya kepada anak bangsa ini untuk mengembangkan seluruh potensinya

secara optimal?

PEMBAHASAN

Hegemoni Pendidik

Kekerasan non-fisik atau mental yang berakibat pada pemupusan motivasi

dan semangat belajar dapat dilacak dari relasi yang tak seimbang antara pendidik

dan peserta didik dimana pendidik menerapkan kekuasaan (power) secara tidak

tepat atau berlebihan. Sebagaimana dinyatakan Morphet, Johns dan Reller (1974:

147) bahwa "teachers and pupils also have power in certain situations". Oleh

karena itu kekuasaan atau kewenangan juga menjadi basis hubungan antara

murid-guru tersebut (Hoy dan Miskel, 2001: 217). Lebih lanjut dikemukakan oleh

Handy dan Aitken (1986: 113) bahwa dalam perspektif kekuasaan, pendidik

mendominasi dan peserta didik sebagai sub-ordinat. Hegemoni pendidik dengan

kekuasaannya itulah yang seringkali membatasi aktivitas kreatif para peserta didik

Udik Budi Wibowo: Pendidik Yang Tidak Mendidik 4

sehingga menyebabkan stress, frustrasi, penurunan dan bahkan kemandekan

(stagnasi) motivasi dan semangat belajar.

Kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki para pendidik dapat bersifat

formal maupun fungsional. Sebagaimana dikemukakan oleh Dunford (1995: 197)

dan Peabody (Hoy dan Miskel, 2001: 29), kewenangan formal diperoleh secara

legal sesuai dengan kedudukan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan

yang berlaku. Adapun kewenangan fungsional memiliki beraneka sumber, seperti

kompetensi dan kepribadian. Kekuasaan kompetensi berbentuk keterampilan atau

kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk informasi.

Adapun kekuasaan pribadi terkait dengan kepemilikan karakteristik individu

tertentu, perfoma fisik maupun kepribadian, yang membuat pihak lain tunduk atau

patuh. Dengan sumber-sumber tersebut maka kekuasaan pendidik bersifat

legitimate, yakni diterima sebagai hak yang wajar; dan oleh karena itu peserta

didik berkewajiban untuk menerima dan menjalankan setiap perintah dari

pendidik sebagai pemegang otoritas kekuasaan dalam proses pendidikan.

Pendidik merupakan profesional, yang dengan seluruh atribut kekuasaan

dan kewenangannya dalam menjalankan tugas berhak untuk memutuskan dan

mengawasi apa yang harus dipelajari dan dikerjakan oleh peserta didik,

bagaimana dan kapan harus selesai dikerjakan (Handy dan Aitken, 1986: 113).

Dengan kedudukan tersebut, maka relasi yang terjadi dalam proses pembelajaran

menempatkan peserta didik sebagai obyek kekuasaan semata, yang harus tunduk

atau patuh sepenuhnya. Dominasi kekuasaan tersebut seringkali melahirkan

banking concept of education (Freire, 2002: x-xi), yakni proses pendidikan yang

menganggap peserta didik sebagai bejana kosong yang harus diisi dengan

modal ilmu pengetahuan sebagai investasi yang kelak dapat menghasilkan

secara berlipat ganda.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Freire (2002: 175, 191, 199) bahwa perlakuan

peserta didik sebagai obyek ini dapat terjadi di lingkungan pendidikan prasekolah,

pendidikan dasar dan menengah, maupun pendidikan tinggi. Dalam proses

pendidikan dominatif, peserta didik menjadi obyek pasif dari tindakan pendidik

karena pendidik sebagai orang yang menguasai ilmu pengetahuan memang justru

meniadakan prinsip kesadaran aktif tersebut. Pendidikan dominatif menjalankan

Udik Budi Wibowo: Pendidik Yang Tidak Mendidik 5

praktek-praktek yang digunakan orang untuk menjinakan kesadaran manusia,

mentransformasi