referat hipotiroid pada anak

of 51 /51
Bagian Ilmu Kesehatan Anak REFERAT Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman HIPOTIROID Oleh : Dhyani Chitta Mayasari 1410029016 Pembimbing : dr. Diane M. Supit, Sp.A. Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak 1

Author: dr-maya

Post on 05-Dec-2015

104 views

Category:

Documents


18 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hipotiroid pada anak

TRANSCRIPT

Bagian Ilmu Kesehatan Anak REFERATFakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

HIPOTIROID

Oleh :

Dhyani Chitta Mayasari

1410029016Pembimbing :

dr. Diane M. Supit, Sp.A.

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik

Pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

2015

BAB I

PENDAHULUANHormon tiroid sangat penting untuk metabolisme energi, nutrisi, dan ion organik, termogenesis serta merangsang pertumbuhan dan perkembangan berbagai jaringan. Pada periode kritis juga untuk perkembangan susunan saraf pusat dan tulang. Hormon ini mempengaruhi beberapa jaringan dan sel melalui berbagai pola aktivasi genomik dan sintesis protein serta reseptor yang mempunyai arti penting untuk berbagai aktivitas. Hormon tiroid berpotensiasi dengan katekolamin (efek yang menonjol adalah hipertiroidisme), dan berefek pada pertumbuhan somatik dan tulang diperantarai oleh stimulasi sintesis dan kerja hormon pertumbuhan dan IGF. Hipotiroid disebabkan oleh kekurangan produksi hormon tiroid atau defek pada reseptornya. Kelainan ini dapat nampak sejak lahir. Bila gejala-gejala muncul setelah periode fungsi tiroid yang tampaknya normal, kelainan ini dapat merupakan kelainan didapat yang sebenarnya atau hanya tampak demikian sebagai akibat dari salah satu varietas defek kongenital karena manifestasi defisiensinya terlambat.

Kelenjar tiroid mengambil yodium dari darah (yang kebanyakan datang dari makanan-makanan seperti seafood, roti, dan garam) dan menggunakannya untuk memproduksi hormon-hormon tiroid. Dua hormon-hormon tiroid yang paling penting adalah thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3) mewakili 99,9% dan 0,1% dari masing-masing hormon-hormon tiroid. Hormon yang paling aktif secara biologis adalah T3. Sekali dilepas dari kelenjar tiroid ke dalam darah, suatu jumlah yang besar dari T4 diubah ke T3 hormon yang lebih aktif yang mempengaruhi metabolisme sel-sel.

Disfungsi tiroid pada masa bayi dan anak dapat berakibat kelainan metabolik yang ditemukan pada usia dewasa, berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan, karena maturasi jaringan dan organ atau jaringan spesifik yang merupakan pengatur perkembangan bergantung pada efek hormon tiroid, sehingga konsekuensi klinik disfungsi tiroid bergantung pada usia mulai timbulnya pada masa bayi dan anak. Apabila hipotiroidisme pada janin atau bayi baru lahir tidak diobati, menyebabkan kelainan intelektual dan atau fungsi neurologik yang menetap. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran hormon tiroid dalam perkembangan otak pada masa tersebut. Setelah usia 3 tahun, sebagian besar perkembangan otak yang tergantung hormon tiroid sudah lengkap. Hipotiroidisme pada saat ini mengakibatkan pertumbuhan lambat dan keterlambatan maturasi tulang, biasanya tidak menetap dan tidak berpengaruh pada perkembangan kognitif dan neurologik, sehingga perlu dilakukan skrining untuk deteksi dan terapi dini.

Buruknya pengaruh hipotiroid pada tumbuh kembang anak membuat penulis merasa perlu untuk mengetahui bagaimana cara mendeteksi kelainan ini secara dini dan bagaimana terapi yang tepat sehingga dapat mencegah ataupun memperbaiki kualitas tumbuh kembang anak selanjutnya.BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Kelenjar Tiroid

2.1.1 Embriologi

Kelenjar tiroid berasal dari evaginasi epitelium faring. Evaginasi ini berjalan turun dari dasar lidah ke daerah leher sampai akhirnya mencapai letak anatomisnya. Sebagian jaringan tiroid ini kadang tertinggal di sepanjang lintas tersebut sehingga membentuk ductus thyroglossus. Dalam keadaan normal kelenjar tiroid pada orang dewasa beratnya antara 10-20 gram.

Kelenjar tiroid berkembang dari endoderm pada garis tengah usus depan. Kelenjar tiroid mulai terlihat terbentuk pada janin berukuran 3,4-4 cm, yaitu pada akhir bulan pertama kehamilan. Kelenjar tiroid berasal dari lekukan faring antara branchial pouch pertama dan kedua. Dari bagian tersebut timbul divertikulum, yang kemudian membesar, tumbuh ke arah bawah mengalami desensus dan akhirnya melepaskan diri dari faring. Sebelum lepas, berbentuk sebagai ductus tyroglossus yang berawal dari foramen sekum di basis lidah. (Syamsuhidayat R, 1998). Gambar 1. Perkembangan Kelenjar Tiroid Duktus ini akan menghilang setelah dewasa, tetapi pada keadaan tertentu masih menetap. Dan akan ada kemungkinan terbentuk kelenjar tyroid yang letaknya abnormal, seperti persisten duktus tyroglossus, tyroid servikal, tyroid lingual,sedangkan desensus yang terlalu jauh akan membentuk tyroid substernal. Branchialpouch keempat ikut membentuk kelenjar tyroid, merupakan asal sel-sel parafolikular 4 atau sel C, yang memproduksi kalsitonin. Kelenjar tyroid janin secara fungsional mulai mandiri pada minggu ke-12 masa kehidupan intrauterin (Syamsuhidayat R, 1998).2.1.2 Anatomi

Thyroidea (Yunani thyreos, pelindung) merupakan suatu kelenjar endokrin sangat vaskular, merah kecoklatan yang terdiri dari lobus dextra dan sinistra yang dihubungkan oleh isthmus pada garis tengah. Tiap lobus mencapai superior sejauh linea oblique cartilago thyroidea, isthmus terletak di atas cincin trakea kedua dan ketiga, sedangkan bagian terbawah lobus biasanya terletak di atas cincin trakea keempat atau kelima. Kelenjar ini dibungkus oleh selubung yang berasal dari lapisan pretrachealis fascia cervicalis profunda. Beratnya sekitar 25 gram biasanya membesar secara fisiologis pada masa pubertas, menstruasi dan kehamilan (Suen C. Kenneth, 2002; Gharib H, 1993).

Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia pre vertebralis. Di dalam ruang yang sama terletak trakea, esofagus, pembuluh darah besar, dan syaraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran. Keempat kelenjar paratiroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar tyroid (Syamsuhidayat R, 1998).

Gambar 2. Anatomi Kelenjar Tiroid Tiroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh istmus dan menutup cincin trakea 2 dan 3. Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pretrakea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti dengan terangkatnya kelenjar ke arah kranial. Sifat ini digunakan dalam klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan kelenjar tiroid atau tidak (Djokomoeljanto, 2001).

Gambar 3. Vaskularisasi kelenjar tiroid

Vaskularisasi kelenjar tiroid berasal dari Arteri {a.} Tiroidea Superior (cabang dari a.Karotis Eksterna) dan a. Tyroidea Inferior (cabang a. Subklavia). Setiap folikel lymfoid diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jala-jala limfatik, sedangkan sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular (Djokomoeljanto, 2001). Nodus Lymfatikus {nl} tyroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakhealis yang kemudian ke arah nodus prelaring yang tepat di atas istmus, dan ke nl. Pretrakhealis dan nl. Paratrakhealis, sebagian lagi bermuara ke nl. Brakhiosefalika dan ada yang langsung ke duktus thoraksikus. Hubungan ini penting untuk menduga penyebaran keganasan (Djokomoeljanto, 2001).

2.1.3 Histologi

Unit struktural daripada tiroid adalah folikel, yang tersusun rapat, berupa ruangan bentuk bulat yang dilapisi oleh selapis sel epitel bentuk gepeng, kubus sampai kolumnar. Konfigurasi dan besarnya sel-sel folikel tiroid ini dipengaruhi oleh aktivitas fungsional daripada kelenjar tiroid itu sendiri. Bila kelenjar dalam keadaan inaktif, sel-sel folikel menjadi gepeng dan akan menjadi kubus atau kolumnar bila kelenjar dalam keadaan aktif. Pada keadaan hipertiroidism, sel-sel folikel menjadi kolumnar dan sitoplasmanya terdiri dari vakuol-vakuol yang mengandung koloid.

Folikel-folikel tersebut mengandung koloid, suatu bahan homogen eosinofilik. Variasi densiti dan warna daripada koloid ini juga memberikan gambaran fungsional yang signifikan; koloid eosinofilik yang tipis berhubungan dengan aktivitas fungsional, sedangkan koloid eosinofilik yang tebal dan banyak dijumpai pada folikel dalam keadaan inaktif dan beberapa kasus keganasan. Pada keadaan yang belum jelas diketahui penyebabnya, sel-sel folikel ini akan berubah menjadi sel-sel yang besar dengan sitoplasma banyak dan eosinofilik, kadang-kadang dengan inti hiperkromatik, yang dikenal sebagai oncocytes (bulky cells) atau Hrthle cells. Gambar 4. Histologi Kelenjar Tiroid Normal2.1.4 Fisiologi

Kelenjar tiroid berperan mempertahankan derajat metabolisme dalam jaringan pada titik optimal. Hormon tiroid merangsang penggunaan O2 pada kebanyakan sel tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan hidrat arang, dan sangat diperlukan untuk pertumbuhan serta maturasi normal. Apabila tidak terdapat kelenjar tiroid, orang tidak akan tahan dingin, akan timbul kelambanan mental dan fisik, dan pada anak-anak terjadi retardasi mental dan dwarfisme. Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menimbulkan penyusutan tubuh, gugup, takikardi, tremor, dan terjadi produksi panas yang berlebihan.

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) yang kemudian berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu triyodotironin (T3). Iodium nonorganik yang diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Zat ini dipekatkan kadarnya menjadi 30-40 kali sehingga mempunyai afinitas yang sangat tinggi di dalam jaringan tiroid. T3 dan T4 yang dihasilkan ini kemudian akan disimpan dalam bentuk koloid di dalam tiroid. Sebagian besar T4 kemudian akan dilepaskan ke sirkulasi sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian mengalami daur ulang. Di sirkulasi, hormon tiroid akan terikat oleh protein yaitu globulin pengikat tiroid (thyroid binding globulin, TBG) atau prealbumin pengikat albumin (thyroxine binding prealbumine, TBPA).

Hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating hormone, TSH) memegang peranan terpenting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai negatif feedback sangat penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi. Dengan demikian, sekresi tiroid dapat mengadakan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan di dalam maupun di luar tubuh. Juga dijumpai adanya sel parafolikuler yang menghasilkan kalsitonin yang berfungsi untuk mengatur metabolisme kalsium, yaitu menurunkan kadar kalsium serum terhadap tulang.

Pengukuran TSH menjadi hasil test yang jelas dari fungsi tiroid pada banyak keadaan. Nilai TSH berkisar antara rentang luar mayor dari kasus primer penyakit tiroid. Jika TSH tidak normal, lihat nilai dari T4 bebas/ free T4 (FT4). Ketika ada faktor resiko, lihat free T3 (FT3) ketika FT4 normal dan diduga ada tirotoksikosis.

Gambar 5. Diagram Pengaturan Sekresi Tiroid2.1.5 Free Thyroxine (FT4) and Free Triiodothyronine (FT3)

Pengukuran FT4 dan FT3 mengganti pengukuran T3 dan T4. hasil laboratorium yang dilakukan untuk mensubstitusi hormon free ketika T3 dan T4 telah dilakukan. Pengukuran FT3 pada pasien dengan gejala hipotiroid kadang-kadang dapat diindikasikan. Pemeriksaan ini dilakukan pada keadaan bila secara klinis diduga hipertiroid dengan kadar TSH rendah, tetapi FT4 tidak termasuk. Pengukuran FT3 bukan indikasi pada hipotiroid.

Banyak frekuensi pengukuran dari fungsi tiroid yang mungkin digunakan ketika ada perbedaan antara hasil dari tes fungsi tiroid inisial dan penemuan klinis. Pada banyak kasus, mengulangi test yang sama kurang berguna dibandingkan dengan melakukan test yang berbeda. (contoh. jika hasil TSH tidak menunjukkan hubungan dengan status klinis pasien, maka lebih baik diikuti dengan pengukuran FT4). Konsultasi dengan ahli laboratorium dapat lebih dipertanggungjawabkan ketika hasil test yang dilakukan tidak menunjukkan hubungan dengan status klinis yang ditemukan.

2.1.6 Gangguan Fungsi Tiroid

Faktor resiko gangguan tiroid adalah:

Riwayat penyakit tiroid Riwayat keluarga dengan penyakit tiroid Diagnosa penyakit autoimmune Riwayat radiasi leher Terapi obat seperti lithium dan amiodarone Perempuan di atas usia 50 tahun Pasien lanjut usia Perempuan post partum 6 minggu sampai 6 bulan

2.2 Gangguan Fungsi Tiroid

2.2.1 Hipotiroid

1. Definisi Hipotiroid

Hipotiroid adalah suatu kondisi yang dikarakteristikan oleh produksi hormon tiroid yang abnormal rendahnya atau suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu tingkat aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid dan organ, dengan akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid, serta gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.

Hipotiroid adalah suatu penyakit akibat penurunan fungsi hormon tiroid yang diikuti tanda dan gejala yang mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Faktor penyebabnya akibat penurunan fungsi kelanjar tiroid, yang dapat terjadi kongenital atau seiring perkembangan usia. Pada kondisi hipotiroid ini dilihat dari adanya penurunan konsentrasi hormon tiroid dalam darah disebabkan peningkatan kadar TSH.

Hipotiroidisme adalah suatu sindroma klinis akibat dari defisiensi hormon tiroid, yang kemudian mengakibatkan perlambatan proses metabolik. Hipotiroidisme pada bayi dan anak-anak berakibat pertambahan pertumbuhan dan perkembangan jelas dengan akibat yang menetap yang parah seperti retardasi mental. Hipotiroidisme dengan awitan pada usia dewasa menyebabkan perlambatan umum organisme dengan deposisi glikoaminoglikan pada rongga intraselular, terutama pada otot dan kulit,yang menimbulkan gambaran klinis miksedema. Gejala hipotiroidisme pada orang dewasa kebanyakan reversibel dengan terapi (Anwar R, 2005).

Hipotiroid bawaan atau kongenital merupakan penyakit pada bayi sejak lahir yang disebabkan kekurangan hormon tiroid yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak-anak. Kekurangan hormon tiroid pada bayi jika tidak cepat didiagnosis dan diobati dapat menyebabkan keterbelakangan mental dan kretinisme (terhambatnya pertumbuhan fisik dan mental).2. Epidemiologi Hipotiroid

Hipotiroid merupakan kelainan endokrin kedua yang paling banyak dijumpai di Amerika Serikat setelah diabetes mellitus (Hueston, 2001). Hipotiroid lebih banyak terjadi pada wanita (2 kali lebih sering) dibandingkan pria dan insidensinya meningkat dengan pertambahan umur. Hipotiroid primer lebih sering dijumpai dibanding hipotiroid sekunder dengan perbandingan 1000 : 1 (Roberts & Ladenson, 2004).

Sejak pembentukan program berskala nasional skrining neonatus untuk hipotiroidisme kongenital, berjuta-juta neonatus telah diskrining. Prevalensi hipotiroidisme kongenital yang telah ditemukan adalah 1 dalam 4.000 bayi di seluruh dunia, lebih rendah pada Negro Amerika (1 dalam 20.000) dan lebih tinggi pada keturunan Spanyol (Hispanik) dan Amerika Asli (1 dalam 2.000). Defek perkembangan (disgenesis tiroid) merupakan 90% dari bayi yang terdeteksi hipotiroidisme. Pada sekitar sepertiga bahkan scan radionuklid sensitif tidak dapat menemukan sisa jaringan tiroid (aplasia). Pada duapertiga bayi yang lain, jaringan tiroid tidak sempurna ditemukan pada lokasi ektopik, dari dasar lidah (tiroid lidah) sampai posisi normal di leher. Kadar T4 serum dan secara bersamaan kadar hormon perangsang tiroid (TSH) meningkat, memungkinkan skrining dan mendeteksi kebanyakan neonatus hipotiroid.Sedikit yang diketahui mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kelenjar tiroid. Disgenesis tiroid terjadi secara sporadis, tetapi kasus keluarga kadang-kadang dilaporkan. 3. Etiologi HipotiroidKekurangan hormon tiroid dapat berupa bawaan atau didapat. Hipotiroid dapat diklasifikasikan menjadi hipotiroid primer, sekunder, dan tersier. Hipotiroid primer terjadi akibat kegagalan tiroid memproduksi hormon tiroid, sedangkan hipotiroid sekunder akibat dari defisiensi hormon TSH yang dihasilkan oleh hipofisis. Hipotiroid tersier disebabkan oleh defisiensi TRH yang dihasilkan oleh hipotalamus. Penyebab terbanyak hipotiroid adalah akibat kegagalan produksi hormon tiroid (hipotiroid primer).

Hipotiroidisme Kongenital

1. Disgenesis Tiroid

Beberapa bentuk disgenesis tiroid (aplasia, hipoplasia, ektopik) merupakan penyebab paling umum dari hipotiroidisme kongenital, sekitar 80-85% kasus. Penyebab disgenesis tiroid tidak diketahui secara pasti. Disgenesis tiroid terjadi secara sporadis, namun kadang-kadang ditemukan kasus disgenesis tiroid dalam 1 keluarga. Ditemukan penyimpangan perkembangan tiroid, seperti kista saluran tiroglosus dan hemiagenesis pada 8-10% dari kerabat terdekat dengan disgenesis tiroid yang didukung komponen genetik yang mendasari.

Kebanyakan bayi dengan hipotiroidisme kongenital pada saat lahir tidak bergejala walaupun ada agenesis total kelenjar tiroid. Situasi ini dianggap berasal dari perpindahan transplasenta dari ibu yang memberikan 25-50 % kadar tiroksin (T4) pada saat lahir.

2. Kegagalan sintesis hormon tiroid (dyshormogenesis)

Berbagai kegagalan dalam biosintesis hormon tiroid dapat menyebabkan hipotiroidisme kongenital, dimana ditemukan pada 15 % kasus pada program skrining neonatal (1/30.000 1/50.000). Defek ini ditemukan secara genetik dan dipindahkan dengan cara autosom resesif. Gejala klinis yang sering muncul adalah adanya goiter.

3. Thryotropin Receptor-Blocking Antibody (TRBAb)

TRBAb dahulu disebut penghambat imunoglobulin pengikat tiroid (TBII). Hipotiroidisme kongenital terjadi akibat antibodi ibu yang diberikan secara transplasenta menghambat pengikatan TSH pada reseptornya. Hal ini terjadi pada 1/50.000 1/100.000 bayi.

4. Radioyodium

Hipotiroidisme telah dilaporkan akibat dari pemberian radioyodium secara tidak sengaja selama kehamilan untuk pengobatan kanker tiroid atau hipertiroidisme. Pemberian yodium radioaktif pada wanita yang sedang menyusui juga terkontraindikasi karena dengan mudah disekresikan dalam air susu.

5. Defisiensi Tirotropin

Defisiensi TSH dan hipotiroidisme dapat terjadi pada keadaan apapun yang terkait dengan perkembangan kelenjar pituitary atau hipotalamus. Keadaan yang paling sering terjadi adalah defisiensi TSH akibat defisiensi pelepas tirotropin (TRH). Mayoritas bayi yang terkena memiliki defisiensi kelenjar pituitary multipel dan datang dengan hipoglikemia, ikterus persisten dan mikropenis.

Hipotiroidisme Didapat

1. Tiroiditis Limfositik Kronik

Tiroiditis limfositik kronik merupakan penyebab paling sering pada terjadinya hipotiroidisme didapat. Meskipun secara khas ditemukan pada remaja, namun keadaan ini dapat terjadi pada awal usia 2 tahun. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai secara histologis terdapat infiltrasi tiroid oleh limfosit.

2. Operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid

Beberapa orang dengan nodul tiroid, kanker tiroid, biasanya sebagian atau seluruh tiroid mereka akan diangkat. Jika seluruh tiroid diangkat, orang tersebut pasti akan menjadi hipotiroid. Jika sebagian dari kelenjar tersisa, mungkin dapat membuat hormon tiroid tidak cukup pada tingkat normal.

3. Pengobatan radiasi

Beberapa orang dengan penyakit Graves, gondok nodular atau kanker tiroid diberikan yodium radioaktif (I-131) dengan tujuan untuk menghancurkan kelenjar tiroid tersebut.

4. Obat-obatan

Obat-obatan seperti amiodarone, lithium, interferon alfa, dan interleukin-2 adalah obat yang paling mungkin untuk memicu terjadinya hipotiroid pada pasien yang memiliki kecenderungan genetik penyakit tiroid autoimun.

4. Klasifikasi Hipotiroid Hipotiroid dapat diklasifikasikan berdasar waktu kejadian (kongenital atau akuisital), disfungsi organ yang terjadi (primer atau sekunder/ sentral), jangka waktu (transien atau permanen) atau gejala yang terjadi (bergejala/ klinis atau tanpa gejala/ subklinis). Hipotiroid kongenital biasa dijumpai di daerah dengan defisiensi asupan yodium endemis. Pada daerah dengan asupan yodium yang mencukupi, hipotiroid kongenital terjadi pada 1 dari 4000 kelahiran hidup, dan lebih banyak dijumpai pada bayi perempuan (Roberts & Ladenson, 2004).

Pada anak-anak ini hipotiroid kongenital disebabkan oleh agenesis atau disgenesis kelenjar tiroid atau gangguan sintesis hormon tiroid. Disgenesis kelenjar tiroid berhubungan dengan mutasi pada gen PAX8 dan thyroid transcription faktor 1 dan 2 (Gillam & Kopp, 2001).

Hipotiroid akuisital disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab yang paling sering dijumpai adalah tiroiditis autoimun yang sering disebut tiroiditas Hashimoto. Peran autoimun pada penyakit ini didukung adanya gambaran infiltrasi limfosit pada kelenjar tiroid dan adanya antibodi tiroid dalam sirkulasi darah. Operasi atau radiasi (misal: radioterapi eksternal pada penderita head and neck cancer, terapi yodium radioaktif pada tirotoksikosis, paparan yodium radioaktif yang tidak disengaja, infiltrasi besi di kelanjar tiroid pada hemokromatosis. Beberapa bahan kimia maupun obat (misal: amiodarone, lithium, interferon) juga dapat menyebabkan hipotiroid dengan cara mempengaruhi produksi hormon tiroid atau mempengaruhi autoimunitas kelenjar tiroid (Roberts & Ladenson, 2004).

Berdasarkan disfungsi organ yang terkena, hipotiroid dibagi dua yaitu hipotiroid primer dan hipotiroid sentral. Hipotiroid primer berhubungan dengan defek pada kelenjar tiroid itu sendiri yang berakibat penurunan sintesis dan sekresi hormon tiroid, sedangkan hipotiroid sentral berhubungan dengan penyakit penyakit yang mempengaruhi produksi hormon thyrotropin releasing hormone (TRH) oleh hipothalamus atau produksi tirotropin(TSH) oleh hipofisis (Roberts & Ladenson, 2004).Hipotiroid berdasarkan kadar TSH dibagi beberapa kelompok yaitu:

1. TSH < 5,5 IU/L ( normal

2. 5,5 IU/L TSH < 7 IU/L ( Hipotiroid ringan

3. 7 IU/L TSH < 15 IU/L ( Hipotiroid sedang

4. TSH 15 IU/L ( Hipotiroid beratSelain itu pasien dinyatakan hipotiroid klinis jika dijumpai peninggian kadar TSH (TSH 5,5 IU/L) disertai adanya simptom seperti fatique, peningkatan BB, gangguan siklus haid, konstipasi, intoleransi dingin, rambut dan kuku rapuh (Wiseman, 2011).5. Patofisiologi

Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau gangguan pada respon jaringan terhadap hormon tiroid.

Sintesis hormon tiroid diatur sebagai berikut :1. Hipotalamus membuat Thirotropin Releasing Hormone (TRH) yang merangsang hipofisis anterior.2. Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin (Thyroid Stimulating Hormone = TSH) yang merangsang kelenjar tiroid.3. Kelenjar tiroid mensintesis hormon tiroid (triiodothyronin = T3 dan tetraiodothyronin = T4 = thyroxin) yang merangsang metabolisme jaringan yang meliputi : konsumsi oksigen, produksi panas tubuh, fungsi saraf, metabolisme protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin, serta kerja daripada hormon-hormon lain.

Kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid dan kalsitonin, diproduksi dari 2 tipe sel, yaitu sel folikel tiroid dan parafolikuler. Meskipun gangguan hipotalamus atau hipofisis dapat mempengaruhi fungsi tiroid, penyakit lokal dari kelenjar tiroid yang menghasilkan penurunan produksi hormon tiroid adalah penyebab paling umum dari hipotiroidisme. Dalam keadaan normal, tiroid melepaskan 100-125 nmol T4 setiap hari dan hanya sebagian kecil T3. Waktu paruh dari T4 adalah sekitar 7-10 hari.

Gambar 6. Sumbu hipotalamus-hipofisis-tiroid. Kadar hormon tiroid yang beredar diatur oleh sistem umpan balik yang kompleks yang melibatkan hipotalamus dan kelenjar hipofisis.Pada awal proses penyakit, mekanisme kompensasi terjadi untuk mempertahankan tingkat T3. Penurunan produksi T4 menyebabkan peningkatan sekresi TSH oleh kelenjar hipofisis. TSH merangsang hipertrofi dan hiperplasia kelenjar tiroid dan aktifitas 5-deiodinase, sehingga meningkatkan produksi T3. Kekurangan hormon tiroid memiliki berbagai efek. Efek sistemik adalah hasil dari salah satu terjadinya penurunan proses metabolisme atau efek langsung oleh infiltrasi miksedematous (akumulasi glukosaminoglikan dalam jaringan). Perubahan hipotiroid pada jantung membuat kontraktilitas menurun, pembesaran jantung, efusi perikardial, penurunan denyut nadi, dan penurunan curah jantung. Pubertas dapat tertunda, anovulasi, ketidakteraturan menstruasi, dan terjadi infertilitas. Skrining TSH harus menjadi bagian rutin dari penyelidikan atas ketidakteraturan menstruasi atau infertilitas. Penurunan efek hormon tiroid dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol total dan low-density lipoprotein (LDL) kolesterol dan perubahan dalam high-density lipoprotein (HDL) kolesterol karena terjadi perubahan metabolik. Selain itu, hipotiroidisme dapat menyebabkan peningkatan resistensi insulin. 6. Manifestasi Klinis Hipotiroid

a. Hipotiroid Kongenital

Riwayat dan gejala pada neonatus dan bayi :

Fontanella mayor yang lebar dan fontanella posterior yang terbuka

Suhu rectal 3.500 gram, masa kehamilan > 40 minggu

Icterus prolongatum

Hernia umbilicalis

Miksedema

Makroglosi

Riwayat BAB pertama >20 jam setelah lahir dan sembelit

Kulit kering, dingin, dan motling (berbercak-bercak, terutama tungkai)

Letargi

Gangguan minum dan menghisap

Bradikardia ( 5; tetapi tidak adanya gejala atau tanda yang nampak, tidak menyingkirkan kemungkinan hipotiroid kongenital. Tabel 1. Skor Apgar pada Hipotiroid Kongenital

Gejala KlinisSkor

Hernia umbilicalis2

Kromosom Y tidak ada (perempuan)1

Pucat, dingin, hipotermi1

Tipe wajah khas edematus2

Makroglosi1

Hipotoni1

Ikterus lebih dari 3 hari1

Kulit kasar, kering1

Fontanella posterior terbuka (>3 cm)1

Konstipasi1

Berat badan lahir >3,5 kg1

Kehamilan >40 minggu1

Total 15

Gejala pada anak :

Dengan goiter maupun tanpa goiter

Gangguan pertumbuhan (kerdil)

Gangguan perkembangan motorik, mental, gigi, tulang, dan pubertas

Gangguan perkembangan mental permanen terutama bila onset terjadi sebelum umur 3 tahun

Aktivitas berkurang, lambat

Kulit kering

Miksedema

Tekanan darah rendah, metabolisme rendah

Intoleransi terhadap dingin

b. Hipotiroid Didapat

Perlambatan pertumbuhan Miksedema

Konstipasi

Intoleransi dingin

Mudah lelah

Selalu mengantuk

Maturasi tulang terlambat

Pubertas prekoks

Nyeri kepala

Galaktorea

Terjadi pembesaran hiperplastik kelenjar pituitary7. Diagnosis Hipotiroid

Anamnesis

Tanpa adanya skrining pada bayi baru lahir, pasien sering datang terlambat dengan keluhan retardasi perkembangan disertai dengan gagal tumbuh atau perawakan pendek. Pada bayi baru lahir sampai usia 8 minggu keluhan tidak spesifik. Pemeriksaan Fisik1. Gejala hipotiroid yang dapat diamati adalah konstipasi, lidah besar, kulit kering, hernia umbilicalis, ubun-ubun besar lebar atau terlambat menutup, kutis marmomata, suara serak, bayi kurang aktif.

2. Penampilan fisik sekilas seperti Sindrom Down, namun pada Sindrom Down bayi lebih aktif.

3. Pada saat ditemukan pasien pada umumnya tampak pucat.

4. Pada anak yang lebih besar mungkin ditemukan wajah bodoh, lidah membesar, retardasi pertumbuhan dan tanda-tanda retardasi mental. Pada remaja, pubertas prekoks dapat terjadi, dan mungkin ada pembesaran sella tursika di samping postur tubuh pendek. Pemeriksaan Penunjang1. Pemeriksaan fungsi tiroid T4 dan TSH dilakukan untuk memastikan diagnosis. Apabila ditemukan kadar T4 rendah disertai kadar TSH yang meningkat, maka diagnosis dapat ditegakkan.

Nilai cut-off adalah 25 U/ml. Bila TSH 50 U/ml dianggap abnormal dan perlu pemeriksaan klinis dan pemeriksaan TSH dan T4 plasma. Bila kadar TSH tinggi >40 U/ml dan T4 rendah 12 tahun2-3

Tidak dilaporkan adanya alergi terhadap levotiroksin murni, walau mungkin pada pasien timbul alergi terhadap pewarna atau beberapa komponen tablet. Reaksi toksik utama kelebihan levotiroksin adalah gejala-gejala hipotiroidismeterutama gejala-gejala jantungdan osteoporosis. Gejala tirotoksik pada jantung adalah aritmia, khususnya takikardia atrial proksimal atau fibrilasi. Insomnia, tremor, gelisah, dan panas berlebih juga dapat mengganggu. Dosis harian levotiroksin ditiadakan untuk 3 hari dan kemudian penurunan dosis mengatasi masalah ini.

Peningkatan resorbsi tulang dan osteoporosis berat telah dikaitkan dengan hipertiroidisme yang berlangsung lama dan akan timbul pada pasien yang diobati dengan levotiroksin jangka lama. Hal ini dapat dicegah dengan pemantauan teratur dan dengan mempertahankan kadar normal serum FT4 dan TSH pada pasien yang mendapat terapi penggantian jangka panjang. Pada pasien yang mendapat terapi supresi TSH untuk goiter nodular atau kanker tiroid, jika FT4I atau FT4 dijaga pada batas normal atas, walau jika TSH disupresiefek samping terapi T4 pada tulang akan minimal.1. Kongenital

Pada hipotiroid kongenital yang permanen yang merupakan penyebab tersering kongenital, kekurangan hormon tiroid tidak dapat dicegah dengan pemberian pengganti atau suplemen hormon tiroid dalam bentuk tablet. Pemberian obat ini harus dimulai sedini mungkin (usia