proposal aulia

of 31/31
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000 (United Nations Millennium DevelopmentGoals). MDGs tersebut bertujuan menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (United Nations Millennium DevelopmentGoals). Sesuai dengan tujuan dari MDGs adalah menurunkan angka kematian anak, status kesehatan anak Indonesia semakin membaik. Hal ini ditunjukkan oleh semakin rendahnya angka kematian neonatal, bayi, dan balita . Angka kematian balita menurun dari 97 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 44 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Angka kematian bayi turun dari 68 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi hanya 34 per seribu kelahiran hidup (2007).

Post on 26-Sep-2015

247 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000 (United Nations Millennium DevelopmentGoals).MDGs tersebut bertujuan menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (United Nations Millennium DevelopmentGoals).Sesuai dengan tujuan dari MDGs adalah menurunkan angka kematian anak, status kesehatan anak Indonesia semakin membaik. Hal ini ditunjukkan oleh semakin rendahnya angka kematian neonatal, bayi, dan balita . Angka kematian balita menurun dari 97 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 44 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Angka kematian bayi turun dari 68 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi hanya 34 per seribu kelahiran hidup (2007). Angka kematian neonatal juga menurun dari 32 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 19 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Namun demikian, jika dibandingkan hasil SDKI 2002-2003 dengan SDKI 2007 penurunan kematian neonatal, bayi maupun balita cenderung stagnan. Penyebab utama kematian balita adalah masalah neonatal (asfiksia, berat badan lahir rendah, dan infeksi neonatal), penyakit infeksi (utamanya diare dan pneumonia) serta terkait erat dengan masalah gizi (United Nations Millennium DevelopmentGoals).Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efesien (Depkes RI,2008).Pelayanan kesehatan terhadap anak balita tersebut dapat diperoleh dari dari mana saja salah satunya adalah puskesmas yang merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (Depkes RI 2006).Untuk mencapai program puskesmas tersebut maka diadakanlah posyandu yang merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan diri, oleh dan untuk masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Dirjen Binkesmas Depkes RI,2005).Kegiatan posyandu meliputi 5 program pelayanan kesehatan dasar, yaitu kesehatan ibu dan anak (KIA), imunisasi, keluarga berencana (KB), perbaikan gizi dan penanggulangan diare. Setelah reformasi pada tahun 1998 sampai tahun ini pelayanan posyandu menurun. Kemunduran itu sebagai itu sebagai dampak krisis ekonomi yang terjadi di indonesia pada pada tahun 1997 dengan berkurangnya kegiatan diposyandu. Jumlah kunjungan balita di posyandu yang semula mencapai 60-70 % menurun menjadi 30-40 % , akibat menurunnya partisipasi masyarakatuntuk membawa balitanya ke posyandu. Salah satu penyebab terjadinya kasus kurang gizi pada masyarakat adalah, karena tidak berfungsinya lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat seperti posyandu. Penurunan aktivitas posyandu tersebut berakibat pemantauan gizi pada anak dan ibu hamil terabaikan (soekirman,2000).

Menurut Riskesdas 2013, menunjukkan kecendrungan frekuensi pemantauan pertumbuhan anak umur 6-59 bulan dalam enam bulan terakhir pada tahun 2007 dan 2013 terlihat bahwa frekuensi penimbangan lebih dari 4 kali sedikit menurun pada tahun 2013 (44,6%) dibanding tahun 2007 (45,4%). Anak umur 6-59 bulan yang tidak pernah ditimbang dalam enam bulan terakhir meningkat dari 25,5 % (2007) menjadi 34,3 % (2013).

Menurut Dinas kesehatan padang 2013, menunjukkan bahwa pencapaian kunjungan balita ke pelayanan kesehatan terendah terjadi pada tahun 2009 (53 %) dan tertinggi terjadi pada tahun 2013, pencapaian kunjungan balita ke pelayanan kesehatan yaitu (81,3 %).

Salah satu indikasi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat adalah keaktifan kedatangan masyarakat ke pusat pelayanan tersebut dalam hal ini spesifik kepada pemanfaatan pelayanan posyandu yaitu keaktifan anaknya datang ke posyandu atau keaktifan orang tua membawa anaknya ke posyandu yang dapat dilihat dari angka cakupan penimbangan balita ke posyandu(D/S). D adalah jumlah balita yang datang ke posyandu untuk ditimbang pada periode tertentu, S adalah jumlah seluruh balita yang berada di wilayah posyandu tersebut. D/S merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khusunya imunisasi serta penanganan pravelensi gizi kurang pada balita. Semakin tinggi cakupan D/S, seyogyanya semakin tinggi pula cakupan vitamin A dan cakupan imunisasi dan diharapkan semakin rendah pravalensi gizi kurang (Kemenkes RI, 2011).

Banyak faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan oleh pamungkas (2009) tentang faktor faktor yang mempengaruh pemanfaatan posyandu bagi ibu balita, dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya umur ibu, pendidikan, pengetahuan, sikap, kepercayaan, jarak tempuh ke posyandu, kepemilikan KMS, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat, dan faktor kebutuhan. Menurut Anderson dalam Notoatmojo(2005) dan Lewrence Green (2005) perilaku kesehatan juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas, yaitu berdasarkan faktor predisposisi seperti jenis kelamin dan umur,pengetahuan, sikap, dan nilai dan persepsi, faktor pendukung yang dapat dilihat dari dukungan keluarga dan masyarakat, faktor kebutuhan yaitu memungkinkan untuk mencari pengobatan dapat terwujud didalam tindakan apabila itu dirasakan sebagai kebutuhan.Wilayah kerja puskesmas X terdiri dari 8 posyandu,posyandu yang aktif hanya 4 dan 4 lagi masih kurang.Faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu oleh ibu balita karna pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, karna malas untuk pergi ke posyandu, karna jarak rumah dengan posyandu yang lumayan jauh.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah faktor faktor apa yang berhubungan dengan pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Diketahui faktor- faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.1.3.2 Tujuan Khusus

1. Diketahui pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di puskesmas x2. Diketahui pengetahuan ibu terhadap pemanfaatan posyandu balita di puskesmas x3. Diketahui pengaruh sikap ibu balita terhadap pemanfaatan posyandu balita di puskesmas x4. Diketahui pengaruh dukungan keluarga terhadap pemanfaatan posytandu balita di puskesmas x5. Diketahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemanfaatan posyandu oleh ibu balita di puskesmas x6. Diketahui hubungan sikap ibu terhadap pemanfaatan posyandu balita di puskesmas x7. Diketahui hubungan dukungan keluarga dengan pemanfaatan posyandu balita di puskesmas x1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Petugas Kesehatan

Hasil penelitian bisa menjadi masukan untuk petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pengetahuan ibu tentang posyandu sehingga pemanfaatan pelayanan posyandu lebih meningkat.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Memberikan informasi bagi masyarakat khususnya ibu ibu balita tentang pentingnya membawa balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

1.4.3 Bagi PenelitiDapat digunakan sebagai masukan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan serta menambah informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan posyandu.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah menelitifaktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.Sumber data yang digunakan adalah data primer karna berdasarkan hasil pengisian kuesioner oleh ibu balita.Alasan dilakukannya penelitian adalah karena masih rendahnya angka pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.Desain studi yang dilakukan adalah cross sectional.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Posyandu

2.1.1 Pengertian

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggrakan dari,oleh,untuk dan bersama masyarakat dalam rangka penyelengaraan pembangunan kesehatan,guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kesehatan dasar,utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes RI,2006).

Posyandu yang terintegrasi adalah kegiatan pelayanan sosial dasar keluarga dalam aspek pemantauan tumbuh kembang anak.Dakam pelaksanaannya dilakukan secara koordinatif dan integratif serta saling memperkuat antar kegiatan yang dan program untuk kelangsungan pelayanan di posyandu sesuai dengan situasi/kebutuhan lokal yang dalam kegiatannya tetap memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat.2.1.2 Sejarah Posyandu

Dimasa lalu posyandu dikembangkan oleh masyarakat sebagai 2 jenis pos pelayanan,yaitu pos pelayanan KB dan pos pelayanan kesehatan.Pos pelayanan KB dibantu oleh jajaran BKKBN,sedangkan pos kesehatan desa dibantu oleh jajaran departemen dan dinas kesehatan.Karena sasaran dan dukungan tekhnis yang diperlukan oleh dua jenis pos pelayanan itu hampir sama,sehingga akhirnya,dalam praktek,waktu dan kegiatan kedua jenis.Pos itu oleh masyarakat dipadukan.Pemerintah,pada tanggal 29 Juni 1983, melalui Keputusan Bersama antara Kepala BKKBN Pusat dan Menteri Kesehatan RI mengukuhkan keterpaduan itu.Sejak saat itu jumlah dan kegiatan posyandu makin marak.Tim penggerak PKK,utamanya kelompok kerja ke-IV atau pokja IV,menjadi penngerak utama penggembangan posyandu di pedesaan.Sejak saat itu posyandu diarahkan sebagai wadah petugas dan sukarelawan dari kalangan masyarakat dalam memberikan pemberdayaan dan pelayanan kepada keluarga secara paripurna.Dengan bantuan tenaga profesional maupun melalui pelatihan ,tenaga tenaga yang melaksanakan kegiatan di posyandu makin dikembangkan menjaditenaga profesional (Suyono dan Haryanto,2009).

2.1.3 Tujuan Posyandu

1. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar,terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI,AKB,AKABA2. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam penyelenggaraan posyandu,terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI,AKB,dan AKABA.

3. Meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar,terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI,AKB,AKABA.

(Kemenkes RI,2011)

2.1.4 Manfaat Posyandu

Posyandu memiliki banyak manfaat untuk masyarakat,diantaranya :

1. Mendukung perbaikan prilaku,keadaan gizi dan kesehatan keluarga.

2. Mendukung prilaku hidup bersih dan sehat,sehinnga :

a. Keluarga buang air kecil/besar menggunakan jambanb. Keluarga memanfaatkan ari bersih untuk kehidupan sehari- hari

c. Tidak merokok didalam rumah/keluarga tidak ada yang merokok

d. Keluarga mencuci tangan pakai sabun

e. Rumah bebas jentik nyamuk

f. Persalinan ibu ditolong oleh tenaga kesehatan

g. Keluarga makan buah dan sayur tiap hari

3. Mendukung pencegahan penyakit yang berbasis lingkungan dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

4. Mendukung pelayanan Keluarga Berencana, sehingga pasangan usia subur (PUS) :

a. Menjadi peserta KB

b. Dapat memilih alat kontrasepsi jangka pendek atau jangka panjangyang cocok dan tepat penggunaan 5. Mendukung pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam penganekaragaman pangan melalui pemanfaatan pekarangan untuk memotivasi kelompok dasa wisma berperan aktif,sehingga :

a. Keluarga mengusahakan budidaya tanaman,sayuran,buah,ikan dan ternak (unggas,sapi,kambing)

b. Keluarga mampu menyusun menu makanan bergizi sesuai ketersediaan pangan lokal dengan pemanfaatan pekarangan rumah.

2.1.5 Sasaran Posyandu

Sasaran pelayanan kesehatan di posyandu adalah seluruh masyarakat,utamanya :

a. Bayi baru lahirb. Bayi

c. Balita

d. Ibu hamil

e. Ibu menyusui

f. Ibu nifas

g. Pasangan usia subur (PUS)

2.1.5 Fungsi

a. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam ahli informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan AKI,AKB danAKABA

b. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar,terutama berkaitan dengan penurunan AKI,AKB dan AKABA.

(Kemenkes,RI,2011)

2.1.6 Kegiatan Posyandu

Menurut Kemenkes RI (2011) kegiatan posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan.Secara rinci kegiatan posyandu adalah sebagai berikut :

1. Kesehatan ibu dan anak

a. Ibu hamil

Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mancakup :

1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan,pengukuran tekanan darah,pemantauan nilai status gizi (pengukur lingkar lengan atas),pemberian tablet besi,pemberian imunisasi tatanus toxoid,pemeriksaan tinggi fundus uteri,konseling perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dibantu oleh kader.Apabila ditemukan kelainan,segera rujuk ke puskesmas.2) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil,perlu diselenggarakan kelas ibu hamil pada setiap hari buka posyandu atau pada hari lain sesuai dengan kesepakatan.kegiatan kelas ibu hamil antara lain sebagai berikut :

a) Penyuluhan : tanda bahaya pada ibu hamil,persiapan persalinan,persiapan menyusui,KB dan gizi.

b) Perawatan payudara dan pemberian ASI

c) Peragaan pola makan ibu hamil

d) Peragaan perawatan bayi baru lahir

e) Senam ibu hamil

b. Ibu nifas dan menyusui pelayanan diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup :

1) Penyuluhan kesehatan,KB pasca persalinan,Inisiasi menyusui dini,ASI eksklusif dan gizi.

2) Pemberian 2 kapsul vitamin A warna merah 200.000 SI (1 kapsul segera setelah melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam pemberian kapsul pertama )

3) Perawatan payudara

4) Dilakukan pemeriksaan tinggi fundus uteri,payudara,lochia oleh petugas kesehatan.apabila ditemukan kelainan segera dirujuk ke puskesmas.

c. Bayi dan Anak Balita

pelayanan posyandu untuk bayi dan anak balita harus dilaksanakan secara menyenangkan dan memacu kreatuvitas tumbuh kembangnya.jika ruang pelayanan memadai,pada waktu menunggu giliran pelayanan ,anak balita sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan pengawasan orangtua dibawah bimbingan kader.Untuk itu perlu disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur balita.Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan posyandu untuk balita mencakup : 1) Penimbangan berat badan

2) Penentuan status pertumbuhan

3) Penyuluhan dan konseling

4) Jika ada tenaga kesehatan puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang.Apabila ditemukan kelainan segera dirujuk ke puskesmas.

2. Keluarga Berencana

Pelayanan KB di posyandu yang dapat diberikan oleh kader adalah pemberian kondom dan pemberian pil ulangan.Jika ada tenaga kesehatan puskesmas dapat dilakukan pelayanan suntikan KB dan konseling KB.Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang menunjang serta tenaga yang terlatih dapat dilakukan pemasangan IUD dan impalnt.

3. Imunisasi

Pelayanan imunisasi di posyandu hanya dilaksanakan oleh petugas puskesmas.Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program terhadap bayi dan ibu hamil.

4. Gizi

Pelayanan gizi di posyandu dilakukan oleh kader.Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan,deteksi dini gangguan pertumbuhan,penyuluhan dan konseling gizi,pemberian makanan tambahan (PMT) lokal,suplementasi vitamin A dan tablet Fe.Apabila ditemukan ibu hamil kurang energi kronis,balita yang berat badannya tidak naik 2 kali berturut-turut atau berada dibawah garis merah (BGM),kader wajib segera melakukan rujukan ke puskesmas atau poskesdes.5. Pencegahan Dan Penanggualangan Diare

Pencegahan diare di posyandu dilakukan dengan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).Penanggulangan diare di posyandu dilakukan melalui pemberian oralit.Apabila diperlukan penanganan lebih lanjut akan diberi obat Zinc oleh petugas kesehatan.

2.1.7 Penyelenggaraan Posyandu

Penyelenggaraan posyandu menurut Depkes RI 2006 adalah sebagai berikut :

A. Waktu penyelenggaraan

Penyelenggraan posyandu pada hakekatnya dilaksanakan dalam 1 bulan kegiatan,baik pada hari buka posyandu maupun diluar hari buka posyandu. Hari buka posyandu sekurang kurangnya satu kali dalam sebulan.Hari dan waktu yang dipilih,sesuai dengan hasil kesepakatan. Apabila diperlukan,hari buka posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan.

B. Tempat penyelenggaraan

Tempat penyelenggaraan posyandu sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat.Tempat penyelenggaraan tersebut dapat disalah satu rumah warga,halaman rumah,balai desa,salah satu kios dipasar, salah satu ruangan perkantoran,atau tempat khusus yangdibangun secara swadaya oleh masyarakat yang dapat disebut dengan nama Wisma Posyandu atau sebutan lainnya

C. Penyelenggaraan Kegiatan

Kegiatan rutin posyandu diselenggarakan dan dimotori oleh kader posyandu dengan bimbingan teknis dari puskesmas dan sektor terkait.Pada saat penyelenggraan posyandu minimal jumlah kader adalah 5 orang.Jumlah ini sesuai dengan jumlah langkah yang dilaksanakan oleh posyandu,yakni yang mengacu pada sistim 5 langkah.kegiatan yang dilaksanakan pada setiap langkah serta penanggungjawab pelaksanaannya secara sederhana.

2.2 Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan2.2.1 Model Anderson

Anderson (1974) dalam Notoatmojo (2010) menggambarkan model sistem kesehatan (health system model) yang berupa model kepercayaan kesehatan.Didalam model Anderson ini terdapat 3 kategori utama dalam pelayanan kesehatan yaitu karakteristik prediposisi,karakteristik pendukung,karakteristik kebutuhan.

1. Karakteristik predisposisi

Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai kecendrungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan berbeda-beda.Hal ini disebabkan karena adanya ciri ciri yang digolongkan ke dalam 3 kelompok :

a. Ciri ciri demografi,seperti jenis kelamin dan umur.b. Struktur sosial,seperti tingkat pendidikan,pekerjaan,kesukaran,atau ras,dan sebagainya.

c. Manfaat manfaat kesehatan,seperti keyakinan terhadap pelayanan kesehatan,seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit.2. Karakteristik pendukung

Karakteristik ini mencerminkan bahwa meskipun mempunyai prediposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatan,ia tidak akan bertindak menggunakannya,kecuali ia mampu menggunakannya.Penggunaan pelayanan kesehatan yang da tergantung kemampuan konsumen untuk membayar.Karakteristik ini dapat ditinjau dari 2 hal,yaitu :

a. Sumber daya keluarga (pengahasilan keluarga,akses,kemampuan membeli jasa,pengetahuan tentang pelayanan kesehatan yang dibutuhkan).

b. Sumber daya masyarakat (jumlah sarana kesehatan yang ada,jarak ke fasilitas kesehatan,ketersediaan tenaga kesehatan).

3. Karakteristik kebutuhan

Faktor predisposisi dan faktor yang memungkinkan untuk mencari pengobatan dapat terwujud didlam tindakan apabila itu dirasakan sebagai kebutuhan.Dengan kata lain kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan,bilamana tingkat predisposisi dan pendukung itu ada.2.2.2 Model Lawrence Green

Menurut Lawrence Green (2005) kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu faktor perilaku dan faktor diluar perilaku.Faktor perilaku sendiri dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut :

1. Faktor predisposisi merupakan antaseden terhadap faktor perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku,yang termasuk dalam kategori ini meliputi pengetahuan,sikap,dan nilai dan persepsi.Disamping itu faktor demografi seperti status ekonomi,usia,jenis kelamin juga merupakan faktor predisposisi yang penting

2. Faktor pendukung merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana.Faktor pemungkin mencakup berbgai keterampilan dan sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan.

3. Faktor pendorong merupakan faktor penyerta perilaku yang memberi ganjaran,insentif,atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap atau lenyapnya perilaku itu.Yang termasuk dalam faktor ini adalah manfaat sosial dan jasmani dan ganjaran nyata atau tidak nyata yang pernah diterima pihak lain.

2.3 Faktor Pemanfaatan Posyandu

2.3.1 Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia,yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuaman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo,2012)

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan ( Notoadmojo,2012)

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas (2009) yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemanfaatan posyandu bagi ibu balita dimana ibu balita yang mempunyai pengetahuan baik rata-rata akan memanfaatkan posyandu dengan baik dibandingkan dengan ibu yang tidak mempunyai pengetahuan tentang pemanfaatan posyandu.

2.3.2 Sikap

Sikap adalah perasaan,predisposisi atau seperangkat keyakinan yang relatif terhadap suatu objek,seseorang atau satu situasi (L.Green,dkk).Menurut Newcomb dalam Notoatmojo (2010) menyatakan sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,dan bukan merupakan suatu tindakan atau aktifitas,akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktfitas,akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.Sikap masih merupakan reaksi tertutup,bukan merupakan reaksi tingkah laku terbuka.

Menurut hasil penelitian pamungkas (2009) mrmbuktikan bahwa ada hubungan bermakna antara sikapdengan prilaku menimbang balita secara rutin ke posyandu.2.3.3 Dukungan Keluarga

Motivasi atau dukungan adalah mendorong untuk berbuat atau bereaksi. Menurut Nancy Stevenson dalam Sunaryo,M.Kes (2003) adalah semua hal verbal,fisik,atau psikologis yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respons.Dan menurut Sarwono dalam Sunaryo motivasi menunjuk pada proses gerakan,termasuk situasi yang mendorong yang timbul dalam diri individu,tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir dari pada gerakan atau perbuatan.

Ibu akan aktif ke posyandu jika ada dorongan dari keluarga terdekat.Dukungan keluarga sangat berperan dalam memelihara dan mempertahankan status gizi balita yang optimal.Keluarga merupakan sistem dasar dimana perilaku sehat dan perawatan kesehatan diatur,dilaksanakan,dan diamankan,keluarga memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan secara bersama sama merawat anggota keluarga.Keluarga mempunyai tanggung jawab utama untuk memulai dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh para profesional kesehatan (Azzahy,2011).

Berdasarkan penelitian Pamungkas (2009) menunjukankan adanya bubungan antara dukungan keluarga dengan pemanfaaatan posyandu oleh ibu balita dimana ibu balita yang mendapatkan dukungan dari keluarga akan membawa balita ke posyandu dengan baik dibandingkan dengan ibu yang tidak mendapat dukungan dari keluarga.

2.4 Kerangka Teori

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan hasil tinjauan kepustakaan serta kerangka konsep teori,faktor faktor yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu balita ada 3 variabel independen yaitu peran kader,sikap ibu balita,dan dukungan keluarga (Anderson dalam Notoatmojo,2005).Untuk lebih jelas, dapat dilihat dalam kerangka konsep penelitian berikut :

Defenisi operasionalNo Variabel Defenisi operasioanalCara ukurAlat ukurHasil ukurSkala ukur

1.Pemanfaatan posyandu balitaPenggunaan posyandu yang dilakukan oleh ibu balita Wawancara kuesionerKurang kalau tidak rutin mengunjungi posyandu tiap bulanBaik kalau ada rutin mengunjungi posyandu tiap bulan

Ordinal

2.Pengetahuan ibuSegala sesuatu yang diketahui ibu tentang pemanfaatan posyandu balitaWawancara kuesioner1.Tinggi : Jika mean.

2. Rendah : Jika mean.

Ordinal

3.Sikap ibuRespon tertutup ibu dalam pemanfaatan posyandu balitaWawancara Kuesioner 1.Baik : Jika mean.

2. Tidak baik : Jika mean.

Ordinal

4.Dukungan keluargaDorongan keluarga terhadap pemanfaatan posyandu balitaWawancara Kuesioner 1.Baik : Jika mean.

2. Tidak baik : Jika mean.

Ordinal

BAB IIIMETODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan analitik yaitu menerangkan tentang faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu oleh ibu balita.pada penelitian ini variabel independent adalah faktor faktor yang mempengaruhi ibu balita, dan variabel dependent adalah pemanfaatan posyandu balita.

3.2 Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di puskesmas x. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Mei.3.3 Popoulasi dan sampel

Arikunto (2006) berpendapat populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian,sedangkan menurut (Sugiyono,2006) menjelaskan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.Sampel adalah bagian dari populasi.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu balita di dimana rata-rata jumlah ibu balita.Dengan demikian populasi dan semua dijadikan sampel. (Totalli Sample).

Yang menjadi sampel adalah semua ibu yang memiliki balita di yang telah memenuhi kriteria persyaratan sampel sesuai dengan kriteria sampel yang telah ditentukan yaitu sebanyak dengan kriteria sampel :

a) Ibu yang mempunyai anak 6 59 bl

b) Bersedia menjadi reponden

3.4 Jenis dan tekhnik pengumpulan data

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti kepada ibu balita .Data ini diperoleh dari hasil wawancara yang menggunakan kuesioner sebagai alat wawancara,hasil dari wawancara langsung dikumpul oleh peneliti.3.4.2Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah ada.Peneliti memperoleh data sekunder yakni dari laporan puskesmas tentang kunjungan ibu balita.

3.5 Pengolahan dan Analisi Data

3.5.1 Pengolahan Data

Kegiatan dalam proses pengolahan data meliputi ; editing, cleaning, dan tabulating data (Notoatmodjo)

1.Pengeditan (Editing)

Meneliti kembali jawaban yang telah diisi pada lembar kuesioner apakah sudah terisi sepenuhnya serta sudah cukup baik untuk diproses. belum terisi sepenuhnya maka peneliti kembali lagi ke responden pada waktu bersamaan.

2.Pengkodean (coding)

Suatu usaha untuk memberi kode atau menandai jawaban-jawaban responden atau pertanyaan yang ada pada kuesioner dan mengubah huruf menjadi angka.

Variabel pemanfaatan posyandu balita di bagi atas 2 kategori :

Kurang : 1

Baik : 0

Variabel pengetahuan di bagi atas 2 kategori :

Tinggi

: 1

Rendah

: 0Variabel sikap di bagi atas 2 kategori :

Baik : 1

Rendah : 0Variabel motivasi di bagi atas 2 kategori :

Baik

: 1

Kurang

: 0

3.Pemasukan data ( Processing/entry data)

Pada tahap ini data yang telah diberi kode dimasukkan kedalam tabel sesuai dengan kriteria setelah melakukan editing dan koding ke dalam master tabel.

4.Pembersihan data (Cleaning)

Memeriksa kembali data yang telah di entry,sehingga data bebas dari kesalahan maka dilakukan perbaikan. Jika ada kesalahan langsung di perbaiki.3.5.1 Analisa Data

1. Analisa Unifariat

Data diklasifikasikan dalam kelompok (unifariat) menurut variasi yang ada dalam pertanyaan dan sesuai dengan sub penelitian. Alternatif jawaban reponden dimasukkan kedalam master tabel. Kemudian dalam setiap jawaban dihitung dengan skala yang telah ditetapkan.

Data yang sudah diteliti,diolah secara komputerisasi dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi sesuai dengan sub variabel yang diteliti.

(Notoatmojo,2005)

2. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat adalah analisa untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara variabel independen dengan dependent.Analisa dilakukan dengan komputerisasi, dilakukan dengan pengujian chi-squere.

Dukungan

Sikap

Pemanfaatan

Pengetahuan

Faktor faktor yang mempengaruhi ibu balita :

Pengetahuan

Pendidikan

Peran kader

Sikap ibu

Pekerjaan

Jarak posyandu

Dukungan keluarga

Pemanfataan posyandu

Dimanfaatkan

Tidak dimanfaatkan