penuntun praktikum biokimia

of 22 /22
PENUNTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA PANGAN Oleh: Ir. Komang Ayu Nocianitri, M.Agr Sc. Ir. Ni Made Yusa, M.Si. Ni Luh Ari Yusasrini, S.TP., MP. Ir. A. A. Anom Jambe, M.Si. I.G.A. Diah Puspawati, STP., M.Si

Author: nidya-elvira

Post on 12-Apr-2016

29 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Penuntun Praktikum

TRANSCRIPT

PENUNTUN PRAKTIKUMBIOKIMIA PANGANOleh:

Ir. Komang Ayu Nocianitri, M.Agr Sc.

Ir. Ni Made Yusa, M.Si.

Ni Luh Ari Yusasrini, S.TP., MP.

Ir. A. A. Anom Jambe, M.Si.

I.G.A. Diah Puspawati, STP., M.Si

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2013KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya penuntun praktikum mata kuliah Biokimia Pangan yang merupakan sarana untuk menunjang kelancaran perkuliahan pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana dapat tersusun. Dengan adanya penuntun praktikum ini diharapkan mahasiswa maupun dosen pengajar akan lebih mudah didalam melakukan proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar.

Kami menyadari bahwa penuntun praktikum ini masih jauh dari sempurna. Namun demikian kami berharap kritik serta saran untuk kesempurnaan penuntun praktium mata kuliah Biokimia Pangan.

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ..

KATA PENGANTAR .DAFTAR ISI TATA TERTIB ...

FORMAT LAPORAN

I. PENGUJIAN KARBOHIDRAT .

1.1. Test Molisch 1.2. Test Benedict .1.3. Test Barfoed ..1.4. Tes Seliwanoff ..1.5. Fermentasi/Peragian ...1.6. Hidrolisis Sukrosa .......1.7. Test Yodium .1.8. Hidrolisis Pati II. PENGUJIAN LIPIDA 2.1. Daya Larut Lemak (Uji Kelarutan)..

2.2. Emulsi .

2.3. Penyabunan..

2.4. Bilangan akrolein .

2.5. Asam lemak tidak jenuh .

III. PENGUJIAN PROTEIN ..3.1. Susunan Elementer .

3.2. Daya larut albumin ..

3.3. Pengaruh Asam Mineral Kuat ..

3.4. Reaksi Warna .

3.4.1. Reaksi Biuret .

3.4.2. Reaksi Xanthoprotein ..3.4.3. Reaksi Millon .TATA TERTIB PRAKTIKUMa. Mahasiswa diwajibkan menggunakan jas Lab dan tidak diperkenankan memakai sandal jepit pada waktu praktikum.

b. Mahasiswa diwajibkan membawa penuntun praktikum dan lap.

c. Keterlambatan mahasiswa masuk laboratorium saat praktikum hanya diijinkan maksimal 15 menit dari jadwal yang telah ditetapkan.

d. Mahasiswa tidak diperbolehkan menghidupkan HP saat praktikum berlangsung (HP silent).

e. Mahasiswa tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam laboratorium dan melakukan keributan selama berlangsungnya praktikum.

f. Mahasiswa wajib hadir 100% dari jumlah praktikum.

g. Tidak ada praktikum susulan.

h. Mahasiswa wajib membersihkan peralatan praktikum dan ruangan laboratorium sebelum meninggalkan ruangan praktikum.

i. Kerusakan alat krn kelalaian/kesalahan mahasiswa ditanggung kelompok

j. Laporan praktikum dikumpulkan seminggu setelah pelaksanaan praktikum, jika terlambat akan dikenakan sanksi penilaian.

FORMAT LAPORANPendahuluan

Tujuan

Bahan dan alat

Cara kerja

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiranI. KARBOHIDRAT

1.1. Test Molisch

Reaksi ini berlaku untuk segala jenis karbohidrat baik dalam bentuk bebas maupun terikat. Dasarnya adalah pembentukan furfural atau turunan-turunan dari karbohidrat yang disebabkan daya dehidrasi asam pekat terhadap karbohidrat. Dengan alpha naftol, maka furfural akan membentuk senyawa yang berwarna ungu. Reaksi ini tidak spesifik terhadap karbohidrat, akan tetapi hasil reaksi yang negative menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat.

Alat-alat :Tabung reaksi, pipet tetes

Peraksi : - Asam sulfat pekat

Pereaksi Molisch (larutan 5% -naftol dalam alkohol 95%)

Bahan Percobaan:

Larutan glukosa 0,1M

Larutan fruktosa 0,1 M

Larutan sukrosa 0,1 M

Larutan kanji 1%

Air

Cara Kerja :

2 ml larutan yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes pereaksi Molisch dan campur baik-baik. Miringkan tabung reaksi tadi dan tambahkan dengan hati-hati 2 ml larutan asam sulfat pekat melalui dinding tabung tetes demi tetes. Perhatikan larutan, jangan dikocok, jangan diaduk. Reaksi positif ditandai oleh terbentuknya suatu cincin/gelang yang berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan larutan.1.2. Test Benedict

Larutan tembaga alkalis akan direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton, dengan membentuk cupro-oksida, endapan yang berwarna merah bata. Larutan Benedict terdiri dari kupri-sulfat, natrium karbonat dan natrium citrate.

Alat-alat: -Tabung reaksi

Alat penangas

Pipet tetesPereaksi: Larutan Benedict

Bahan Percobaan:

Larutan glukosa 0,1M

Larutan fruktosa 0,1 M

Larutan sukrosa 0,1 M

Larutan kanji 1%

Cara Kerja:

Masukkan 2,5 ml larutan Benedict ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 4 tetes larutan yang diperiksa. Campur dan didihkan selama 5 menit. Dinginkan perlahan-lahan.perhatikan, apakah ada endapan dan bagaimana warnanya? Endapan berwarna hijau, kuning atau merah menandakan reaksi positif. Perubahan warna larutan apa saja tidak menandakan reaksi positif.1.3. Test BarfoedTest Ini bertujuan untuk membedaan monosakarida dengan disakarida. Reaksi yang terjadi adalah reaksi reduksi dalam suasana asam. Pereaksi terdiri dari larutan cupri asetat yang ditambah dengan asam laktat. Disakarida juga akan memberikan hasil positif bila dididihkan terlalu lama hingga terjadi hidrolisis.Alat-alat: -Tabung reaksi

Alat penangas

Pipet tetes

Pereaksi: Laruran Barfoed

Larutan fosfomolibdat

Bahan Percobaan:

Larutan glukosa 0,1M

Larutan fruktosa 0,1 M

Larutan sukrosa 0,1 M

Larutan kanji 1%

Cara Kerja:

Masukkan ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan yang akan diperiksa dan 1 ml larutan Barfoed. Panaskan dalam penangas air mendidih atau penangas biasa selama 3 menit. Dinginkan dalamair kran selama 2 menit, lalu tambahkan 1 ml larutan fosfomolibdat. Warna biru tua menunjukkan adanya monosakarida atau adanya disakarida dalam jumlah yang sangat berlebihan dalam larutan yang diperiksa.

1.4. Tes SeliwanoffPada umumnya reaksi ini spesifik untuk ketosa. Dasarnya adalah pembentukan 4 hidroksi methyl furfural yang bereaksi dengan resorsinol (1,3-hidroksi benzene) membentuk suatu senyawa berwarna merah. Glukosa dapat member warna merah muda pada pemanasan yang lama.Alat-alat: -Tabung reaksi

Alat pemanas (kompor listrik/penangas air)

Pipet tetes

Pereaksi: Larutan Seliwanoff

Bahan Percobaan:

Larutan glukosa 0,1M

Larutan fruktosa 0,1 M

Larutan sukrosa 0,1 M

Larutan kanji 1%

Cara Kerja:

Masukkan 0,5 ml larutan yang akan diperiksa ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 5 ml pereaksi Seliwanoff, campur dan didihkan selama 30 detik tepat atau Panaskan di penangas air mendidih selama 60 detik. Perhatikan warna yang terjadi!

1.5. Fermentasi/PeragianDengan suatu enzim tertentu yang ada dalam ragi (yeast) pada suasana anaerob, karbohidrat akan dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, misalnya : enzim maltase memecah maltose menjadi glukosa. Dengan enzim zimase glukosa dipecah menjadi etil alcohol (C2H5OH) dan gas karbondioksida (CO2).Alat-alat : - Mortar Tabung fermentasi/tabung peragian

Beker gelas serta gelas pengaduk

Pereaksi: Ragi/yeast

Bahan Percobaan:

Larutan glukosa 0,1M

Larutan fruktosa 0,1 M

Larutan sukrosa 0,1 M

Larutan kanji 1%

Cara Kerja:

Masukkan dalam sebuah mortar kira-kira 1 gram ragi roti (yeast) dengan 10 ml larutan karbohidrat percobaan sehingga didapat suspense merata. Pindahkan ke dalam tabung peragian dan balikkan tabung sedemikian rupa sehingga ujung yang tertutup berisi penuh dengan cairan. Kembalikan tabung pada kedudukan semula dengan ujung yang tertutup rapat penuh terisi. Setelah 1,5 jam hasil peragian dapat diperiksa. Gas yang terbentuk akan terkumpul pada ujung yang tertutup. Apabila telah ada gas yang terbentuk, maka akan membuktikan bahwa gas itu CO2, ke dalam tabung ditambahkan NaOH 10% sampai memenuhi ujung tabung yang terbuka. Tutup ujung tabung yang terbuka dengan ibu jari dan sambil dibolakbalikkan beberapa kali. Perhatikan apakah ada penyedotan pada ibu jari? Mengapa demikian?Cara Kerja yang dimodifikasi:

Kira-kira 1 gram ragi roti (yeast) dicampur dengan 10 ml larutan karbohidrat percobaan sehingga didapat suspense merata. Masukkkan ke dalam kantong plastic. Keluarkan semua udara yang ada diatas larutan, kemudian plastic diikat dengan rapat dengan menyisakan ruang diantara batas larutan dengan ujung ikatan. Amati perkembangan gas yang terbentuk serta perubahan yang terjadi pada larutan dan pada ruang antara batas larutan dengan ujung ikatan. Catat waktu yang diperlukan sampai terbentuknya gas pada masing-masing larutan.

1.6. Hidrolisis Sukrosa

Hidrolisis karbohidrat dapat dilakukan dengan enzim atau dengan asam kuat. Hidrolisis dengan asam kuat prosesnya lebih cepat.

Alat-alat: - Beker gelas serta gelas pengaduk

Alat pemanas air atau penangas air

Pipet tetes

Pereaksi : HCl pekat, reagent Benedict, Reagent Seliwanoff, reagen Barfoed.

Bahan Percobaa. : Larutan Sukrosa 0,1 M

Cara Kerja:

25 ml larutan sukrosa 0,1 M dimasukkan ke dalam beker gelas 100 ml. Tambahkan1 ml HCl pekat dan panaskan pada penangas air mendidih selama 45 menit. Dinginkan dan setelah dingin segera netralkan dengan NaOH 10% (tambahkan tetes demi tetes NaOH 10% sampai memberikan warna merah muda pada indicator Phenolptalein atau warna merah netral pada kertas lakmus. Setelah netral betul larutan tadi diencerkan sampai volumenya menjadi 50 ml. periksalah larutan tadi dengan tes Benedict, tes Seliwanoff, tes Barfoed.

1.7. Test Yodium

Pada umumnya polisakarida dengan larutan yodium akan membentuk ikatan yang berwarna. Misalnya zat pati ditambahkan larutan yodium akan membentuk yod-amilum yang berwarna biru.

Alat-alat: - Pring gelas atau cawan porselin

Pipet tetes

Pereaksi: Larutan Yodium

Bahan Percobaan: - larutan pati larutan agar-agar.

Cara Kerja:

Letakkan sejumlah kecil atau beberapa ml larutan percobaan pada suatu piring gelas. Tambahkan setetes larutan yodium encer dan kemudian perhatikan warna yang terbentuk pada setiap jenis bahan percobaab tersebut.

1.8. Hidrolisis Pati

Zat pati dengan asam pekat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana

Alat-alat: - Tabung reaksi

Beker gelas

Alat pemanas/ penangas air

Pipet tetes

Pengaduk gelas

Piring tetes atau cawan porselin.

Pereaksi: - HCl Pekat

Larutan Yodium encer

Larutan NaOH 10%

Kertas Lakmus

Reagen Benedict, reagen seliwanoff encer

Bahan Percobaan: Larutan zat Pati/amilumCara Kerja:

1. Masukkan 10 ml larutan pati ke dalam tabung reaksi, tambahkan 6 tetes HCl pekat dan panaskan di penangas air. Setiap 3 menit ambil beberapa tetes larutan yang dipanaskan tersebut lalu tes dengan larutan yodium pada piring tetes. Volume larutan semula dipertahankan dengan menambah air bila perlu. Teruskan pemanasan sampai tidak ada lagi warna yang terbntuk dengan yodium. Dinginkan dan netralkan larutan tadi dengan NaOH 10% atau NaOH encer sampai larutan bereaksi asam terhadap lakmus atau timbul warna merah muda terhadap indicator PP. Tes sebagian larutan dengan Benedict dan Seliwanoff.2. Ke dalam 2 tabung reaksi masukkan masing-masing 5 ml larutan pati. Tambahkan beberapa tetes larutan yodium ke dalam masing-masing tabung. Panaskantabung yang satu perlahan-lahan. Perhatikan hilangnya warna, dinginkan kembali dan perhatikan warnanya. Ke dalam tabung yang lain tambahkan larutan Na-thiosulfat tetes demi tetes sehingga warna biru hilang. Terangkan kenapa hal ini bisa terjadi.

II. LIPIDA2.1. Daya Larut Lemak (Uji Kelarutan)

Lipida adalah gelombang senyawa organic yang terdapat di alam dan mempunyai sifat-sifat tidak larut dalam air tetapi larut dlam ether, chloroform, alcohol panas, dan benzene. Derajat kelarutan lemak/ minyak dapat diketahui atau ditentukan dengan pengamatan secara langsung tergantung pada bahan pelarut yang dipakai.Alat-alat : - Tabung reaksi

Alat pemanas

Penangas air/ waterbath

Pipet tetes

Kertas saring

Pereaksi: - alcohol, ether, chloroform dan air (pelarut)

Larutan NaOH

Larutn natrium carbonat

Bahan Percobaan: Lemak sapi/ lemak padat, minyak kelapa, asam palmitat, gliserol. Margarin dan keju,

Cara Kerja:

Masukkan 2 ml pereaksi/pelarut ke dalam tabung reaksi yang bersih. Bubuhkan sedikit bahan percobaan ke dalam tabung yang sudah berisi bahan pelarut, kemudian kocok kuat-kuat, dan lihat hasilnya. Bila kedua bahan terlihat terpisah berarti tidk larut, bila tidak terlihat ambillah setetes larutan kemudian teteskan pada kertas saring, uapkan bila perlu di bawah sinar matahari. Bila terdapat residu (berupa bercak) berarti ada bahan yang terlarut. Jumlah residu menunjukkan derajat kelarutan bahan yang diuji.2.2. Emulsi

Minyak /lemak tidak dapat larut dalam airtetapi dapat membentuk emulsi yang stabil bila ada bahan lain sebagai emulgator.

Alat-alat : - Tabung reaksi

Pipet tetes

Pereaksi: Natrium karbonat 0,5 %

Larutan albumin encer

Bahan Percobaan : Minyak Kelapa dan gliserol

Cara Kerja:

Masukkan air masing-masing 2 ml ke dalam tabung reaksi yang bersih, kemudian tambahkan 2 tetes bahan percobaan, kocok kuat-kuat (1-2 menit), diamkan sebentar, amati apa yang terlihat? Selanjutnya pada tabung pertama ditambahkan 2 ml larutan albumin encer dan pada tabung yang lain tambahkan 1 ml larutan Natrium karbonat 0,5% dan kocok lagi. Perhatikan pengaruh albumin dan Natrium karbonat terhadap kestabilan emulsi.2.3. Penyabunan.

Alkali bila bergabung dengan lemak akan membentuk garam alkali yang disebut sabun yang dapat berfungsi sebagai emulgator.

Alat-alat : - Tabung reaksi

Pipet tetes

Pereaksi: NaOH 0,5 N- beralkohol, KOH 0,5 N- beralkohol, air sulingBahan Percobaan: Minyak Kelapa dan lemak padat Cara Kerja:

1. Masukkan 4-5 tetes bahan percobaan ke dalam tabung reaksi yang bersih. Kemudian tambahkan 3 ml air suling dan 1 ml NaOH beralkohol. Panaskan campuran tersebut sampai mendidih selama 1 2 menit, setelah dingin, kocok dan perhatikan pembentukan busa.2. Ulangi percobaan 1, tetapi larutan NaOH beralkohol diganti dengan KOH beralkohol, bandingkan hasilnya.

2.4. Reaksi Akrolein

Kalium Hidrosulfat (KHSO4) adalah zat padat yang bersifat dapat menarik molekul air dari senyawa, misalnya : gliserolyang ditambahkan KHSO4 akan terbentuk akrolein karena keluarnya molekul air pada senyawa tersebut.

Alat-alat : - Tabung reaksi

Pipet tetes

Alat pembakar atau pemanas

Pereaksi: Kalium Hidrsulfat (KHSO4)

Bahan Percobaan : Minyak kelapa, gliserol

Cara Kerja:

Kedalam sebuah tabung reaksi dimasukkan bubuk halus KHSO4 padat sampai kira-kira setinggi 1 cm. kemudian 3 4 tetes minyak kelapa diteteskan ke dalam tabung reaksi tersebut. Lalu panaskan dengan hati-hati di atas nyala api. Kemudian pemanasan dilakukan lebih kuat. Perhatikan akrolein yang terbentuk. Ulangi percobaan ini dengan menggunakan 3 4 tetes gliserol sebagai ganti minyak kelapa.

2.5. Asam Lemak Tidak JenuhIkatan tak jenuh mudah sekali mengadakan ikatan dengan unsure lain

Alat-alat : - Tabung reaksi

Pipet tetes

Pereaksi: Chloroform, larutan Iodine Hubl (I2 dalam KI)

Bahan Percobaan :

Minyak Kelapa

Lemak hewan

Asam palmitat

Asam oleat

Margarine

keju

Cara Kerja:

Ambil 3 buah tabung reaksi yang kering. Ke dalam tabung pertama masukkan sedikit minyak kelapa, ke dalam abung ke dua masukkan seikit margarine, dank e dalam tabung ke tiga lemak hewan, sedemikian rupa sehingga tiap-tiap zat tadi mengisi bagian bulat/bawah tabung. Ke dalam tiap tabung ditambahkan chloroform dalam jumlah yang sama. Kemudian teteskan dalam tiap tabung larutan Iodine Hubl. Goyangkan tabung reaksi pada tiap penambahan iodium. Terangkan apa yang terjadi.

PROTEIN3.1. Susunan Elementer

ReaksI

: merupakan reaksi analisis

Alat-alat: - tabung reaksi

alat pemanas dengan kelengkapannya

cawan porselin

kertas saring dan kertas lakmus

Pereaksi: - NaOH padat

HCl pekat

Larutan Pb asetat (10%)Bahan Percobaa: Serbuk albumin, serbuk kasein

Cara Kerja:

1. Masukkan sedikit serbuk albumin/kasein ke dalam sebuah tabung reaksi yang bersih dan kering, lalu panaskan perlahan-lahan sehingga tercium bau rambut terbakar. Bau ini khas untuk senyawa-senyawa nitrogen. Pengarangan menyatakan adanya senyawa karbon, sedangkan pengembunan pada bagian atau tabung reaksi menyatakan hydrogen dan oksigen.

2. Pada sebuah tabung reaksi masukkanlah sedikit serbuk albumin/kasein. Tambahkan serbuk/Kristal NaOH sebanyak 2 kali jumlah albumin/kasein. Panaskan perlahan-lahan. Perhatikan bau ammonia dan pengaruh uap yang terbentuk terhadap kertas lakmus merah yang dibasahi, ini menyatakan adanya hydrogen dan nitrogen.3. Isilah sebuah abung reaksi dengan sedikit serbuk albumin/kasein dan 5 ml larutan NaOH 10%, dinginkan, lalu tambahkan 10 tetes larutan Pb asetat, terlihat larutan tersebut menghitam, tambahkan dengan hati-hati HCl pekat dan perhatikn bau khas yang berasal dari belerang yang teroksidasi.

3.2. Daya Larut Albumin

Albumin tergolong protein yang mudah larut dalam air.

Alat-alat

: - tabung reaksi

Pipet tetes

Pereaksi

: aquadest, NaOH 10%, Na-karbonat 0,5%, HCl 0,2 %, Pb asetat.

Bahan Percobaan: Larutan albumin

Cara Kerja:

Ke dalam 4 buah tabung reaksi yang masing-masing berisi larutan albumin 2% kira-kira 3 ml. Tabung pertama ditambahkan 3 ml aquades, tabung ke dua tambahkan NaOH 10%, tabung ke tiga tambahkan Na-karbonat 0,5%, dan tabung ke empt tambahkan HCl 0,2%. Perhatikanlah, apakah berbentuk presipitasi/ pengendapan?.

3.3. Pengaruh Asam Mineral KuatProtein dengan asam-asam kuat akan membentuk endapan (presipitasi)

Alat-alat

: - tabung reaksi

Pipet tetes

Alat pemanas

Kertas saringPereaksi

: HCl Pekat, H2SO4 pekat, HNO3 pekat.

Bahan Percobaan: Larutan albumin 2%

Cara Kerja:

Ke dalam 5 ml albumin 2% yang sudah disaring, tambahkan beberapa tetes HCl pekat. Campur baik-baik, perhatikan apakan ada endapan yang terbentuk? Selanjutnya tambahkan tetes demi tetes sambil diamati apakah endapan yang terbentuk larut dengan penambahan asam tersebut ( ulangi percobaan dengan menggunakan asam sulfat pekat dan HNO3 pekat.3.4. Reaksi Warna

3.4.1. Reaksi BiuretBiuret adalah senyawa organic yang diperoleh dengan cara memanakan urea. Reaksi ini merupakan tes umum terhadap protein. Warna yang timbul/terbentuk diduga berasal dari kompleks koordinasi antara ion Cu2+ dengan gugus CO dan NH ikatan peptide dalam larutan alkalis (kompleks tembaga-Na-biuret).

Alat-alat

: - tabung reaksi

Pipet tetes

Pereaksi

: larutan NaOH 10%, larutan CuSO4 0,1%

Bahan Percobaan: larutan albumin 2%, larutan casein, larutan pepton, gelatin

Cara Kerja:

1. Campurkan 2 ml larutan albumin 2% dengan 2 ml NaOH 10% dan tambahkan larutan CuSO4 0,1%. Campurkan dengan baik, bila belum terbentuk warna merah atau lembayung, tambahkan lagi setetes larutan CuSO4 0,1% (hingga maksimum 10 tetes) Ulangi tes ini terhadap larutan casein, pepton, dan gelatin.

2. Isilah sebuah tabung reaksi dengan sedikit urea, panaskan di atas api kecil sehingga zat tersebut mencair dan terbentuk gelembung-gelembung gas (hati-hati jangan sampai terbentuk arang). Perhatikan bau gas yang terbentuk, larutkan isi tabung dengan air dan lakukat tes biuret.3.4.2. Reaksi Xanthoprotein

Reaksi ini berdasarkan nitrasi inti benzene yang terdapat di dalam molekul protein (tirosin, fenil alanin, triptofan) tambahkan asam nitrat pekat. Reaksi ini menghasilkan turunan nitro benzene, senyawa nitro yang terbentuk ini berwarna kuning dan dalam lingkungan alkalis akan terionisasi dengan bebas dan warnanya lebih tua.Alat-alat

: - Tabung reaksi

Pipet tetes

Alat pemanas

Pereaksi

: larutan HNO3 pekat atau larutan NH4OH/ NaOH pekatBahan Percobaan: larutan albumin 2%, larutan gelatin, larutan casein, larutan fenol.

Cara Kerja

:

Campurkan 2 ml larutan albumin dengan 1 ml HNO3 pekat, Perhatikan terbentuknya endapan berwarna putih. Panaskan dengan hati-hati, endapan akan larut kembali dan larutan akan berubah menjadi kuning. Dinginkan di bawah air kran dan dengan hati-hati (tetes demi tetes) tambahkan larutan NaOH pekat atau NH4OH dan perhatikan apa yang terjadi!.3.4.3. Reaksi Millon

Reaksi ini untuk derivate-derivat monofenol seperti tirosin. Pereaksi yang dipaka adalah campuran Hg-nitrat di dalam larutan asam nitrat pekat, yang menimbulkan warna merah. Ion-ion anorganik seperti Cl- dan NH4+ dapat mengganggu percobaan ini.

Alat-alat

: - Tabung reaksi

Pipet tetes

Alat pemanas

Penjepit tabung

Pereaksi

: pereaksi millon (merkuri/merkuro dalam asam nitrat/nitrit)Bahan Percobaan: - Larutan albumin 2%

Larutan gelatin

Larutan casein

Larutan fenol 2%

Cara Kerja:

Tambahkan beberapa tetes pereaksi Millon pada 2 ml larutan albumin. Endapan warna putih akan terlihat. Panaskan dengan hati-hati, timbulnya warna merah menandakan hasil positif. Bila belum terbentuk warna tambahkan lagi 2-3 tetes pereaksi Millon dan panaskan lagi. Ulangi percobaan ini terhadap larutan casein, larutan fenol 2%, dan gelatin.