penilaian hubungan insentif kinerja, usaha, dan ...eprints.undip.ac.id/26528/1/jurnal.pdf ·...

of 25 /25
PENILAIAN HUBUNGAN INSENTIF KINERJA, USAHA, DAN KOMPLEKSITAS TUGAS TERHADAP KINERJA AUDIT JUDGMENT Dosen Pembimbing : H. Dwi Cahyo Utomo, SE, MA, Akt. Oleh : Novy Puspitasari ABSTRAK Pemberian insentif kinerja merupakan suatu upaya atau strategi yang diterapkan oleh kantor akuntan publik untuk meningkatkan kinerja para auditornya. Insentif kinerja diberikan untuk tujuan menambah usaha para auditor pada tingkat kompleksitas tugas yang berbeda pada kinerja audit judgment. Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah Insentif kinerja, usaha, kompleksitas tugas, dan kinerja audit judgment. Penelitian juga menggunakan variabel kontrol yang digunakan adalah IPK dan gender. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menguji hubungan antara insentif kinerja dan kinerja audit judgment. Tujuan yang kedua adalah untuk menguji pengaruh usaha pada hubungan antara insentif kinerja dan kinerja audit judgment dibawah tingkat kompleksitas tugas yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen kepada para lulusan S1 Akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi. Penelitian dilakukan terhadap dua kelas sebesar 41 mahasiswa, data yang dapat diolah sebesar 37 kuesioner. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka dapat diambil kesimpulan bahwa insentif kinerja memiliki hubungan positif terhadap kinerja audit judgment. Hasil juga medukung hipotesis bahwa mediasi pengaruh usaha pada hubungan insnetif kinerja dan kinerja audit judgment dihubungkan oleh kompleksitas tugas. Kata Kunci: Auditing, Insentif, Analisis Tugas, Analisis Financial

Author: others

Post on 29-Jul-2020

5 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PENILAIAN HUBUNGAN INSENTIF KINERJA, USAHA,

    DAN KOMPLEKSITAS TUGAS TERHADAP KINERJA

    AUDIT JUDGMENT

    Dosen Pembimbing : H. Dwi Cahyo Utomo, SE, MA, Akt.

    Oleh : Novy Puspitasari

    ABSTRAK

    Pemberian insentif kinerja merupakan suatu upaya atau strategi yang diterapkan oleh

    kantor akuntan publik untuk meningkatkan kinerja para auditornya. Insentif kinerja diberikan

    untuk tujuan menambah usaha para auditor pada tingkat kompleksitas tugas yang berbeda pada

    kinerja audit judgment. Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah Insentif kinerja,

    usaha, kompleksitas tugas, dan kinerja audit judgment. Penelitian juga menggunakan variabel

    kontrol yang digunakan adalah IPK dan gender.

    Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menguji hubungan antara insentif kinerja dan

    kinerja audit judgment. Tujuan yang kedua adalah untuk menguji pengaruh usaha pada hubungan

    antara insentif kinerja dan kinerja audit judgment dibawah tingkat kompleksitas tugas yang

    berbeda.

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen kepada para

    lulusan S1 Akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi. Penelitian

    dilakukan terhadap dua kelas sebesar 41 mahasiswa, data yang dapat diolah sebesar 37

    kuesioner.

    Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka dapat diambil kesimpulan bahwa

    insentif kinerja memiliki hubungan positif terhadap kinerja audit judgment. Hasil juga medukung

    hipotesis bahwa mediasi pengaruh usaha pada hubungan insnetif kinerja dan kinerja audit

    judgment dihubungkan oleh kompleksitas tugas.

    Kata Kunci: Auditing, Insentif, Analisis Tugas, Analisis Financial

  • ABSTRACT

    Performance incentives are one of effort or strategy applied by public audit firm to

    increase auditor’s performance. The objectives of implementation performance incentives are

    increase effort of auditor under different level of task complexity to audit judgment performance.

    Variable on this study are performance incentives, effort, task complexity, and audit judgment

    performance. This study using a variable control are IPK and gender.

    The objectives of this study are firstly to examines the relationship between performance

    incentives and audit judgment performance. Secondly to examines the mediating effect of effort

    on the relationship between performance incentives and audit judgment performance under

    different level of task complexity.

    This study using an experimental research design, the pertisipant of this study from

    alumni graduated major in accounting who are studying in the post graduate program. There

    are two class participants are 41 student, data calculated are 37.

    Result of this study indicate performance incentives variable are positively related to

    audit judgment performance. Result of this study support the hypothesis that the mediation effect

    of effort on the relationship between incentives performance and audit judgment performance is

    moderated by task complexity.

    Keywords : Auditing, Incentives. Task Analysis, Financial Analysis

  • LATAR BELAKANG

    Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat sekarang ini dapat memicu persaingan

    yang semakin meningkat diantara pelaku bisnis. Berbagai macam usaha dilakukan untuk

    meningkatkan pendapatan dan agar tetap bertahan dalam menghadapi persaingan tersebut terus

    dilakukan oleh para pengelola perusahaan. Salah satu kebijakan yang sering ditempuh oleh pihak

    perusahaan adalah dengan melakukan pemeriksaan laporan keuangan perusahaan.

    Sehubungan dengan posisi tersebut, maka auditor dituntut untuk dapat mempertahankan

    kepercayaan dari kliennya dan dari para pemakai laporan keuangan auditan lainnya.

    Kepercayaan ini harus senantiasa ditingkatkan dengan didukung oleh suatu keahlian audit.

    Auditor pada Kantor Akuntan Publik menghadapi kesulitan-kesulitan tersendiri dalam

    menyelesaikan tugas-tugas audit (Snead and Harrell, 1991). Beberapa kesulitan-kesulitan

    tersebut muncul karena adanya profesi itu sendiri, misalnya saja tekanan kerja, sumber daya atau

    tenaga kerja yang tidak memadai dan ketidakpastian dalam tugas audit. Kesulitan tersebut dapat

    berdampak pada kurangnya konsensus auditor dan ketidakakuratan kinerja audit judgment yang

    nantinya akan mempengaruhi kualitas dari audit judgment itu sendiri. Untuk memperbaiki

    kinerja audit judgment, Kantor Akuntan Publik mengakui pentingnya pelaksanaan insentif

    kinerja untuk menambah dan memperbaiki motivasi dalam usaha. Komitmen Kantor Akuntan

    Publik untuk menawarkan insentif kinerja mampu menambah motivasi auditor, mengatur

    perilaku auditor, dan memperbaiki produktivitas. Kinerja audit judgment tidak hanya

    dipengaruhi oleh sejumlah insentif kinerja yang ditawarkan, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya

    perbedaan tingkat kompleksitas yang berbeda.

  • Pemberian insentif kinerja, bertujuan untuk memperbaiki dan menambah motivasi untuk

    melaksanakan usaha dan pengaruhnya terhadap kinerja di bawah tingkat kompleksitas tugas

    yang berbeda saat ini juga tengah terjadi di Indonesia. Kantor Akuntan Publik juga mengakui

    pentingnya insentif kinerja pada tugas audit dalam sebuah Kantor Akuntan Publik untuk

    menambah motivasi dan memperbaiki kinerja sesuai dengan tujuan dan kualitas yang diharapkan

    oleh organisasi. Insentif kinerja bisa berbentuk material maupun nonmaterial, sedangkan

    pemberian insentif kinerja tergantung dari kebijakan Kantor Akuntan Publik dan kualitas dari

    kinerja yang telah dicapai. Mediasi usaha pada kinerja audit judgment tidak hanya dipengaruhi

    oleh insentif kinerja yang ditawarkan, tetapi juga perbedaan tingkat kompleksitas tugas yang

    dihadapi untuk menyelesaikan tugas-tugas audit. Beberapa penelitian sebelumnya masih terbatas,

    karena hanya meneliti penggunaan satu insentif saja. Rumusan masalah dari penelitian ini

    adalah:

    a. Apakah terdapat hubungan antara insentif kinerja dan kinerja audit judgment?

    b. Bagaimana pengaruh dari usaha pada hubungan antara insentif kinerja dan kinerja audit

    judgment dibawah tingkat kompleksitas tugas yang berbeda?

    PENGEMBANGAN HIPOTESIS

    Pengaruh Insentif Kinerja pada Audit Judgment

    Berdasarkan teori harapan menjelaskan bahwa motivasi dapat diklasifikasikan ke dalam

    dua jenis atau tipe, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi instrinsik. Pada motivasi instrinsik,

    dalam melakukan tugas berdasarkan kemauan untuk terlibat dalam menyelesaikan tugas, karena

    hasil yang akan dicapai nantinya berdasarkan kesadaran diri sendiri. Sedangkan untuk motivasi

  • ekstrinsik lebih kepada keterkaitan untuk mencapai sesuatu atau keadaan akhir seperti yang

    diinginkan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kehadiran motivasi ekstrinsik (insentif

    kinerja) mampu menambah pengaruh dari motivasi instinsik dalam kinerja. Insentif kinerja

    sering digunakan oleh Kantor Akuntan Publik untuk meningkatkan motivasi dalam usaha.

    Insentif sering digunakan untuk memperbaiki kinerja Kantor Akuntan Publik secara keseluruhan.

    Insentif kinerja yang paling sering digunakan adalah insentif finansial dan nonfinansial. Motivasi

    merupakan salah satu komponen penting dalam kinerja, Menurut Robert L. Mathis dan Jhon H.

    Jackson (2001:82) menjelaskan bahwa motivasi merupakan salah satu dari lima faktor yang ada

    yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari kinerja. Teori agensi menjelaskan bahwa untuk

    mencapai tujuan dari pimpinan Kantor Akuntan Publik, maka dibutuhkan adanya suatu insentif

    untuk memotivasi auditor. Teori kepuasan kinerja dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan atau

    kinerja yang sesuai dengan harapan maka diperlukan sesuatu yang dapat memotivasi. Hubungan

    kinerja tersebut ditunjukkan dengan hubungan antara Kantor Akuntan Publik dan auditor. Untuk

    memotivasi auditor, maka pimpinan Kantor Akuntan Publik menawarkan insentif kinerja untuk

    mencapai kinerja yang maksimal. Kinerja membawa pada kebenaran perilaku untuk mengarah

    kepada kinerja yang lebih tinggi.

    Setiap Kantor Akuntan Publik memiliki Standar Pengendalian Mutu (SPM) yang berbeda

    antara Kantor Akuntan Publik yang satu dengan Kantor Akuntan Publik yang lain. Standar

    pengendalian mutu yang dimiliki dan diterapkan oleh setiap Kantor Akuntan Publik memiliki

    tujuan untuk menjaga standar kualitas yang ditetapkan. Standar pengendalian mutu yang

    diterapkan oleh tiap-tiap Kantor Akuntan Publik ini yang memotivasi setiap auditor untuk

    memperoleh kinerja sesuai dengan yang diharapkan. Untuk kinerja yang baik, akan diberikan

    insentif sesuai dengan kinerjanya. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong usaha para auditor.

  • Penelitian eksperimen terdahulu mendukung fenomena mengenai adanya insentif kinerja

    terutama insentif keuangan yang berpengaruh pada kinerja untuk menyelesaikan tugas audit.

    Untuk insentif finansial, beberapa mekanisme seperti akuntabilitas atau keadilan diterapkan pada

    penelitian sebelumnya dengan insentif umpan balik. Penelitian tersebut mendukung bahwa

    insentif finansial dan nonfinansial mampu memperbaiki kinerja audit judgment. Walaupun

    beberapa penelitian sebelumnya meneliti mengenai pengaruh berbagai jenis insentif individu,

    penelitian sebelumnya belum meneliti insentif kinerja dari finansial dan nonfinansial pada

    kinerja audit judgment. Untuk penelitian ini akan meneliti dua jenis insentif kinerja, yakni

    insentif finansial dan umpan balik. Ashton (1990) menemukan bahwa insentif finansial mampu

    memperbaiki tugas kinerja dan di saat sedang mengalami tingkat kompleksitas yang tinggi tidak

    terdapat pengaruh yang signifikan dari insentif finansial pada kinerja. Hasil yang menunjukkan

    bahwa insentif kinerja berpengaruh pada kiner audit judgment juga ditunjukkan olejh Mohd.

    Sanusi, Nelly Sari, and Mohd. Iskandar (2007). Umpan balik (insentif kinerja) biasanya lebih

    mengenai informasi tentang tingkat kinerja dan efisiensi. Penelitian terdahulu memberikan bukti

    bahwa pengaruh umpan balik pada kinerja dalam keseluruhan (Earley,1990).

    Dari beberapa penelitian terdahulu, terdapat penelitian dengan hasil yang tidak

    mendukung insentif finansial pada kinerja. Awasthi and Pratt (1990) dan Libby and Lipe (1992)

    memberikan hasil negative dari insentif finansial pada kinerja audit judgment. Berdasarkan

    landasan teori, kerangka pemikiran dan hasil penelitian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis

    sebagai berikut :

    H1. Subjek dengan insentif kinerja akan menunjukkan kinerja audit judgment yang lebih

    baik.

  • Pengaruh Insentif Kinerja pada Usaha

    Berdasarkan teori harapan yang memberikan penjelasan mengenai pentingnya motivasi

    untuk menentukan hasil tujuan atau kinerja yang maksimal dalam organisasi, dalam hal ini

    adalah Kantor Akuntan Publik. Motivasi itu sendiri bukanlah suatu usaha, tetapi motivasi dari

    masing-masing individu yang mampu mengerahkan atau mengeluarkan usaha (Carlson, 2000).

    Teori keagenan menjelaskam bahwa untuk mencapai tujuan dari Kantor Akuntan Publik maka

    tingkat usaha dari auditor perlu ditingkatkan, yakni dengan memberikan motivasi. Teori

    kepuasan kerja juga mencerminkan hubungan antara KAP dan auditor, dimana untuk

    mendapatkan tujuan dan kinerja yang diharapkan maka diperlukan insentif kinerja. Ketika

    auditor memiliki motivasi untuk mendapatkan hasil yang sesuai, maka akan mengerahkan usaha

    yang maksimal dibanding ketika auditor yang tidak mendapat insentif kinerja. Standar

    Pengendalian Mutu (SPM) yang diterapkan dalam Kantor Akuntan Publik memberikan standar

    yang harus dipenuhi oleh seorang auditor untuk mencapai kinerja yang maksimal. Sehingga

    untuk mencapai kinerja yang maksimal maka seorang auditor harus mengerahkan usaha sesuai

    dengan hasil yang ingin dicapai.

    Beberapa penelitian memberikan hubungan yang kuat dari insentif kinerja terhadap

    kinerja audit judgment atau dengan kata lain bahwa insentif kinerja mampu memperbaiki kinerja

    audit judgment secara keseluruhan termasuk usaha. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa

    tugas audit harus menyediakan beberapa mekanisme dimana usaha mempengaruhi kinerja

    dengan jenis insentif yang berbeda dan tugas yang berbeda (Libby and Lipe,1992; Chang, 1997).

    Penelitian Early (1990) sebelumnya dalam akuntansi menunjukkan bahwa insentif kinerja

    menyebabkan individu menambah sejumlah usaha mereka untuk menyelesaikan tugas audit.

    sebaliknya penelitian dari Chang (1997), Libby and Lipe (1992) bahwa insentif nonfinansial

  • mempengaruhi usaha hanya pada kinerja tertentu. Berdasarkan landasan teori, kerangka

    pemikiran dan hasil penelitian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

    H2. Subjek dengan insentif kinerja akan menunjukkan usaha yang lebih tinggi

    Peran Kompleksitas Tugas sebagai Moderator

    Berdasarkan teori harapan yang menjelaskan bahwa tujuan seseorang dipengaruhi oleh

    motivasi baik motivasi intrinsic maupun ekstrinsik. Motivasi sendiri bukanlah suatu usaha, tetapi

    dapat mengerahkan usaha yang dapat mempengaruhi kinerja. Teori agensi menjelaskan

    hubungan pimpinan KAP dengan auditor, di mana pimpinan KAP mempunyai tujuan yang harus

    dicapai dengan memberikan insentif kepada auditor untuk mendapatkan kinerja yang maksimal

    dengan menambah usaha auditor pada tugas audit, dan teori kepuasan kerja yang menjelaskan

    bahwa pentingnya motivasi dalam organisasi, dalam hal ini adalah Kantor Akuntan Publik.

    Karena itu Kantor Akuntan Publik yang mengakui pentingnya motivasi menawarkan sejumlah

    dan berbagai tipe insentif kinerja untuk meningkatkan kinerja. Adanya insentif kinerja itu sendiri

    akan mempengaruhi tingkat usaha yang dikeluarkan, artinya ketika auditor menerima insentif

    kinerja dari KAP maka akan mengerahkan usaha yang lebih tinggi. Kinerja yang dihasilkan

    dalam audit judgment belum tentu sesuai dengan usaha yang tinggi. Kinerja audit judgment juga

    dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu hal yang mempengaruhi adalah tingkat kompleksitas

    tugas dalam tugas audit.

    Ketika tugas sedikit lebih komplek, insentif finansial ataupun insentif nonfinansial

    memberikan motivasi dan peran secara langsung serta berdampak positif pada usaha yang

    menunjukkan kinerja yang lebih baik (Earley,1990; Libby and Lipe,1992; Hun Tong,2001; dan

    Chang,2006). Karena semakin besar usaha untuk memahami masalah, semakin besar pula untuk

    produktif mencari informasi strategis untuk menyelesaikan masalah (Cloyd, 1997).

  • Didalam tugas yang kompleks, usaha tidak dapat secara langsung atau kuat berpengaruh

    pada kinerja, jika auditor tidak menambah kemampuan atau pengalaman (Bonner, 1994). Ketika

    tugas lebih kompleks dan tidak terstruktur, usaha yang tinggi tidak akan membantu seorang

    auditor untuk menyelesaikan tugas audit. Penelitian dari Zulaikha (2006) dan Siti Jamilah, Zainal

    Fanani, and Grahita Chandra (2007) memberikan hasil yang negative yang memberikan hasil

    bahwa kompleksitas tugas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment.

    Berdasarkan landasan teori, kerangka pemikiran dan hasil penelitian di atas, maka dapat

    dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

    H3. Ketika kompleksitas tugas rendah, subjek dengan usaha yang tinggi akan menunjukkan

    kinerja audit judgment yang baik.

    METODOLOGI PENELITIAN

    Variabel Penelitian

    Didalam penelitian ini terdapat beberapa variabel, penelitian ini mengunakan metode

    kuasi eksperimental yang digunakan untuk menguji hubungan insentif kinerja dan kinerja audit

    judgment dengan dua tingkat dari kompleksitas tugas dengan menggunakan partisipan penelitian

    mahasiswa lulusan S1 Akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi

    (PPA). Mahasiswa-mahasiswa tersebut dijadikan surrogate (wakil) sebagai auditor independen.

    Tujuan digunakannya surrogate mahasiswa yang telah lulus S1 Akuntansi adalah syarat untuk

    profesi akuntan dan diharapkan cukup memahami prosedur audit. Untuk variabel kontrol yang

    digunakan adalah gender dan indeks prestasi kumulatif mahasiswa atau IPK.

    POPULASI DAN SAMPEL

    Populasi

  • Populasi didefinisikan sebagai sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang

    mempunyai karakteristik tertentu untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Populasi dari

    penelitian ini adalah auditor independen yang di surrogate dengan sarjana S1 Akuntansi

    sebagaimana dijelaskan di atas. Tujuan digunakannya surrogate mahasiswa yang telah lulus S1

    Akuntansi adalah syarat untuk profesi akuntan dan diharapkan cukup memahami prosedur audit.

    Berdasarkan data yang diperoleh, mahasiswa atau lulusan sarjana akuntansi yang sedang

    menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi untuk dua kelompok sebesar 41 dan data

    yang dapat diolah sebesar 37.

    Sampel

    Responden dalam penelitian ini adalah para lulusan sarjana akuntansi yang sedang

    menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi. Metode pemilihan sampel yang digunakan

    adalah nonprobabilitas sampling atau pemilihan random, yaitu apabila setiap elemen populasi

    tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel atau pemilihan yang

    dilakukan secara acak, sehingga ada kebebasan dalam memilih sampel. Penelitian ini

    menggunakan sampel berdasarkan kemudahan (convenience sampling), yang mengumpulkan

    populasi yang tersedia pada saat dilakukannya penelitian untuk memberikan informasi yang

    dibutuhkan dalam penelitian, yaitu dua kelas PPA. Dari dua kelas tersebut diperoleh 41

    mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan memberikan tugas audit kepada para lulusan

    sarjana akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntansi setelah kuliah,

    kemudian responden diharuskan mengerjakan tugas audit sesuai dengan petunjuk dari kuesioner

  • Metode Analisis

    Penelitian ini meneliti pengaruh mediator dan moderator pada kinerja audit judgment.

    Untuk pengaruh moderasi, analisis kovarian dilakukan untuk menguji pengaruh secara langsung

    dan interaksi dari insentif kinerja dan kompleksitas tugas pada kinerja audit judgment. Teknik ini

    juga memungkinkan untuk menggunakan variabel control (gender dan IPK) dalam analisis.

    Dalam pengolahan data peneliti menggunakan alat bantu berupa perangkat lunak statistik

    (statistik software) yang dikenal dengan SPSS versi 17. Alat analisis yang digunakan adalah one

    way ANOVA untuk menguji tingkat kompleksitas dan pertanyaan manipulasi motivasi.

    Kemudian penelitian ini juga menggunakan analisis korelasi untuk mengetahui koefisien korelasi

    semua variabel. Yang ketiga, untuk menguji hubungan pengaruh dari insentif kinerja, mediasi

    pengaruh usaha dan pengaruh kompleksitas tugas terhadap kinerja audit judgment digunakan alat

    pengujian analisis regresi dengan variabel intervening.

    ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

    One Way ANOVA

    One way ANOVA digunakan untuk menguji tingkat kompleksitas tugas dan usaha.

    Analysis of covariance merupakan metode untuk menguji hubungan antara satu variabel

    dependent (skala metric) dengan satu atau lebih variabel independent (skala nonmetrik atau

    kategorikal dengan kategori lebih dari dua). Dari hasil one way ANOVA maka dapat diperoleh

    hasil sebagai berikut pada table berikut ini:

  • Statistik Deskriptif

    N Mean Std.

    Deviation Std. Error

    95% Confidence Interval for Mean

    Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound

    Kinerja Kompleksitas Rendah

    Umpan Balik

    19 3.37 1.012 .232 2.88 3.86 2 5

    Financial 18 4.11 1.530 .361 3.35 4.87 2 7

    Total 37 3.73 1.326 .218 3.29 4.17 2 7

    Kinerja Kompleksitas Tinggi

    Umpan Balik

    19 2.74 .733 .168 2.38 3.09 2 4

    Financial 18 3.33 1.085 .256 2.79 3.87 1 5

    Total 37 3.03 .957 .157 2.71 3.35 1 5

    Usaha Umpan Balik

    19 18.68 3.038 .697 17.22 20.15 12 25

    Financial 18 20.67 2.425 .572 19.46 21.87 16 26

    Total 37 19.65 2.898 .476 18.68 20.62 12 26

    Tabel di atas menunjukkan statistik deskriptif pengaruh dari dua variabel pada kinerja

    audit judgment. Dari tabel menunjukkan insentif finansial sejumlah 19 dan insentif umpanbalik

    sejumlah 18. Hasil menunjukkan nilai rata-rata kompleksitas tugas rendah pada insentif

    umpanbalik sebesar 3,37 dan insentif finansial sebesar 4,11 dan untuk nilai rata-rata

    kompleksitas tinggi menunjukkan insentif umpanbalik sebesar 2,74 dan insentif finansial sebesar

    3,33. Hasil rata-rata untuk usaha pada insentif umpanbalik sebesar 18,68 dan pada insentif

    finansial sebesar 20,67. Dari hasil tersebut pada kedua insentif menunjukkan bahwa hasil rata-

    rata kompleksitas rendah, kompleksitas tinggi, dan usaha untuk insentif finansial lebih tinggi

    daripada insentif umpanbalik.

    ANOVA

    Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    Kinerja Kompleksitas Rendah Between Groups 5.098 1 5.098 3.066 .046

    Within Groups 58.199 35 1.663

    Total 63.297 36

    Kinerja Kompleksitas Tinggi Between Groups 3.289 1 3.289 3.878 .042

    Within Groups 29.684 35 .848

    Total 32.973 36

  • Usaha Between Groups 36.327 1 36.327 4.778 .036

    Within Groups 266.105 35 7.603

    Total 302.432 36

    Berdasarkan hasil uji ANOVA di atas menunjukkan hasil dari kompleksitas rendah,

    kompleksitas tinggi, dan usaha pada kinerja audit judgment. Pada kompleksitas rendah

    menunjukkan F sebesar 3,066 dan tingkat signifikansi sebesar 0,046 (< 0,05). Hasil untuk

    kompleksitas tinggi dengan F sebesar 3,878 dan tingkat signifikansi sebesar 0,42 (< 0,05).

    Sedangkan hasil untuk usaha menunjukkan F sebesar 4,778 dan tingkat signifikansi sebesar

    0,036 (< 0,05). Hasil ANOVA di atas menunjukkan bahwa insentif umpanbalik dan insentif

    finansial mempengaruhi kinerja kompleksitas rendah dan usaha dengan tingkat signifikansi <

    0,05, sedangkan kedua insentif tidak berpengaruh pada kompleksitas tinggi dengan tingkat

    siginfikansi < 0,05, karena kinerja lebih ditentukan oleh keterampilan, kemampuan, dan

    pelatihan yang dimiliki (Bonner, 1994)

    Analisis Korelasi

    Analisis korelasi diuji untuk menguji hubungan antara semua variabel Insentif, Usaha,

    Kompleksitas Tugas, dan Kinerja Audit Judgment. Dari hasil uji analisis korelasi didapat hasil

    seperti dalam table berikut:

    Hasil Analisis Korelasi

    Insentif IPK Gender

    Kinerja Kompleksitas

    Rendah

    Kinerja Kompleksitas

    Tinggi Usaha

    Insentif Pearson Correlation 1 -.009 -.029 .284 .316 .347*

    Sig. (2-tailed) .960 .863 .089 .057 .036

    N 37 37 37 37 37 37

    IPK Pearson Correlation -.009 1 -.430** -.048 .121 -.013

    Sig. (2-tailed) .960 .001 .780 .477 .941

    N 37 37 37 37 37 37

    Gender Pearson Correlation -.029 -.430** 1 .232 .031 -.095

    Sig. (2-tailed) .863 .001 .167 .855 .575

    N 37 37 37 37 37 37

    Kinerja Kompleksitas Pearson Correlation .284 -.048 .232 1 .466** .191

  • Rendah Sig. (2-tailed) .089 .780 .167 .001 .256

    N 37 37 37 37 37 37

    Kinerja Kompleksitas Tinggi

    Pearson Correlation .316 .121 .031 .466** 1 .184

    Sig. (2-tailed) .057 .477 .855 .001 .276

    N 37 37 37 37 37 37

    Usaha Pearson Correlation .347* -.013 -.095 .191 .184 1

    Sig. (2-tailed) .036 .941 .575 .256 .276

    N 37 37 37 37 37 37

    *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

    **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

    Hasil korelasi di atas menunjukkan koefisien korelasi semua variabel. Analisis tersebut

    untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap uji normalitas, linearity, dan

    homocedaticity (Pallant, 2001). Koefisien korelasi bivariat menunjukkan korelasi tinggi sehingga

    multikolinearity bukan masalah serius.

    Analisis Regresi Model Variabel Intervening

    Uji Hipotesis Pertama

    Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi model intervening

    yang menguji penilaian hubungan insentif kinerja terhadap kinerja audit judgment dengan usaha

    sebagai mediating dan kompleksitas tugas sebagai moderating. Pengujian pada hipotesis pertama

    (H1) dengan kinerja audit judgment sebagai variabel dependent dan insentif kinerja sebagai

    variabel independent. Terdapat juga sebagai variabel kontrol adalah IPK dan gender. Rincian

    hasil dipaparkan dalam table berikut:

    Persamaan Regresi (I) Model Summary

    b

    Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the

    Estimate

    1 .408a .167 .091 1.872

    a. Predictors: (Constant), Gender, Insentif, IPK

    b. Dependent Variable: Kinerja

  • ANOVAb

    Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    1 Regression 23.163 3 7.721 2.203 .005a

    Residual 115.648 33 3.504

    Total 138.811 36

    a. Predictors: (Constant), Gender, Insentif, IPK

    b. Dependent Variable: Kinerja

    Coefficientsa

    Model

    Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

    t Sig. B Std. Error Beta

    1 (Constant) 1.662 5.479 .303 .764

    Insentif 1.371 .616 .354 2.225 .033

    IPK 1.204 1.599 .133 .753 .457

    Gender .930 .685 .239 1.358 .184

    a. Dependent Variable: Kinerja

    Dari hasil uji regresi pada koefisien menunjukkan hasil tingkat signifikansi 0,033 (<

    0,05) hasil tersebut menunjukkan bahwa insentif kinerja memiliki pengaruh yang signifikan

    terhadap kinerja audit judgment. Dengan variabel dummy pada insentif kinerja menunjukkan

    bahwa insentif finansial 1,371 lebih tinggi daripada insentif umpanbalik. Hasil untuk IPK

    menunjukkan tingkat signifikansi 0,457 (> 0,05). Untuk variabel gender menunjukkan tingkat

    signifikansi sebesar 0,184 (> 0,05). Hasil tersebut mendukung H1, maka kesimpulannya adalah

    H1: Subjek dengan insentif kinerja menunjukkan kinerja audit judgment yang lebih baik.

    Uji Hipotesis Kedua

    Pengujian hipotesis kedua ini menggunakan usaha sebagai variable dependent dan

    insentif kinerja sebagai variabel independent serta IPK dan gender sebagai variable control.

  • Persamaan Regresi (II) Model Summary

    b

    Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the

    Estimate

    1 .361a .130 .051 2.824

    a. Predictors: (Constant), Gender, Insentif, IPK

    b. Dependent Variable: Usaha

    ANOVAb

    Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    1 Regression 39.323 3 13.108 1.644 .018a

    Residual 263.110 33 7.973

    Total 302.432 36

    a. Predictors: (Constant), Gender, Insentif, IPK

    b. Dependent Variable: Usaha

    Coefficientsa

    Model

    Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

    t Sig. B Std. Error Beta

    1 (Constant) 21.519 8.264 2.604 .014

    Insentif 1.961 .929 .343 2.110 .043

    IPK -.763 2.412 -.057 -.316 .754

    Gender -.630 1.033 -.110 -.610 .546

    a. Dependent Variable: Usaha

    Hasil pengujian hipotesis kedua dengan uji regresi pada koefisien menunjukkan bahwa

    tingkat signifikansi 0,043 (< 0,05) yang berarti bahwa insentif kinerja memiliki pengaruh pada

    usaha. Dengan variabel dummy pada insentif kinerja menunjukkan bahwa insentif finansial lebih

    tinggi 1961 daripada insentif umpanbalik. Untuk variable IPK memiliki tingkat siginifikansi

    sebesar 0,754 (> 0,05) dan gender dengan tingkat signifikansi 0,546 (> 0,05). Dari hasil uji

    regresi di atas mendukung hipotesis kedua, maka kesimpulannya H2: Subjek dengan insentif

    kinerja menunjukkan usaha yang lebih tinggi

  • Uji Hipotesis Ketiga

    Pada pengujian hipotesis ketiga menggunakan kinerja audit judgment sebagai variabel

    dependent, IPK dan gender sebagai variabel kontrol, usaha sebagai variabel mediator, serta

    insentif kinerja dan kompleksitas tugas sebagai variabel independent.

    Model Summaryb

    Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the

    Estimate

    1 .456a .208 .149 1.108

    a. Predictors: (Constant), Kompleksitas Tugas, Usaha, IPK, Insentif, Gender

    b. Dependent Variable: Kinerja

    ANOVA

    b

    Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

    1 Regression 21.879 5 4.376 3.562 .003a

    Residual 83.526 68 1.228

    Total 105.405 73

    a. Predictors: (Constant), Kompleksitas Tugas, Usaha, IPK, Insentif, Gender

    b. Dependent Variable: Kinerja

    Coefficients

    a

    Model

    Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

    t Sig. B Std. Error Beta

    1 (Constant) .171 2.522 .068 .946

    Insentif .593 .275 .248 2.159 .034

    IPK .638 .670 .114 .952 .345

    Gender .494 .288 .206 1.716 .091

    Usaha .047 .048 .113 .973 .004

    Kompleksitas Tugas -.703 .258 .294 2.727 .001

    a. Dependent Variable: Kinerja

    Dari hasil uji regresi pada koefisien menunjukkan hasil insentif kinerja memiliki tingkat

    signifikansi 0,034 (< 0,05) dan dengan variabel dummy menunjukkan insentif finansial lebih

    tinggi 0,593 lebih tinggi daripada insentif umpanbalik. Untuk IPK memiliki tingkat signifikansi

  • 0,345 dan untuk gender 0,091 (> 0,05). Untuk variabel usaha memiliki tingkat signifikansi 0,004

    (< 0,05), pada variabel kompleksitas tugas sebesar 0,001 (< 0,05) yang berarti bahwa memiliki

    pengaruh yang signifikan pada kinerja. Dengan variabel dummy menunjukkan bahwa

    kompleksitas tinggi lebih rendah 0,703 daripada kompleksitas rendah. Dari hasil tersebut dapat

    disimpulkan bahwa hasil tersebut mendukung hipotesis ketiga. Kesimpulannya H3: Ketika

    kompleksitas tugas rendah, subjek dengan usaha yang tinggi akan menunjukkan kinerja

    audit judgment yang baik.

    Dari hasil uji regresi model variabel intervening maka di dapat hasil dengan persamaan

    regresi model intervening sebagai berikut:

    Pembahasan Hasil

    Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dengan one way ANOVA, analisis korelasi

    dan regresi, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka dapat diambil kesimpulan

    bahwa insentif kinerja, baik insentif finansial maupun insentif umpan balik menunjukkan kinerja

    audit judgment yang lebih baik, insentif kinerja dapat mempengaruhi usaha yang dikeluarkan

    dalam kinerja audit judgment serta kompleksitas rendah dengan usaha yang tinggi mampu

    menunjukkan kinerja audit judgment yang lebih baik. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian

    Early (1990) dan Chang (1997), hal tersebut didukung dengan diterimanya ketiga hipotesis yang

    Kinerja audit judgment= 0,354Insentif kinerja R²= 0,167

    Usaha = 0,130Insentif kinerja R²= 0,130

    Kinerja audit judgment= 0,208Ins. kinrja + 0,113Usaha + 0,294Kom. tgs R²= 0,208

    e1 = (1-0,167)² = 0,693889

    e2 = (1-0,130)² = 0,7569

    e3 = (1-0,208)² = 0,627264

    Pengaruh lansung = 0, 354

    Pengaruh tidak langsung:

    0,343Ins.kinerja x 0,113usaha x 0,267 kom.tgs= 0,0103

    Total pengaruh = 0,3643

  • telah diajukan. Hasil tersebut sesuai dengan teori-teori motivasi yang digunakan, yaitu teori

    harapan, agensi, standar pengendalian mutu, dan teori kepuasan kerja. Teori-teori motivasi

    tersebut menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kinerja, maka diperlukan insentif untuk

    mencapai kinerja yang sesuai dengan tujuan atau melebihi tujuan yang telah ditetapkan. Hasil

    dari penelitian ini juga konsisten dengan hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu

    penelitian dari Libby and Lipe (1997) yang menyimpulkan bahwa usaha dapat menambah

    perbaikan kinerja. Untuk memperbaiki kinerja audit judgment, Kantor Akuntan Publik mengakui

    pentingnya insentif kinerja.

    Subjek Dengan Insentif Kinerja Menunjukkan Kinerja Audit Judgment Yang Lebih Baik

    Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil penelitian sesuai dengan penelitian

    Earley (1990) Stajkovic and Luthans (2001) yang menyatakan bahwa dalam kinerja dipengaruhi

    oleh tipe dan sejumlah insentif kinerja, hasil tersebut menunjukkan bahwa insentif kinerja

    mampu memperbaiki kinerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian dari Awasthi

    and Pratt (1990) dan Libby and Lipe (1992) memberikan hasil negative dari insentif finansial

    pada kinerja audit judgment.

    Teori harapan (Vroom’s) menjelaskan terkait dengan hasil bahwa terdapat dua jenis

    motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Dijelaskan bahwa motivasi ekstrinsik

    mempengaruhi motivasi ekstrinsik, insentif kinerja yang ditawarkan Kantor Akuntan Publik

    kepada auditor merupakan motivasi ekstrinsik yang dapat mempengaruhi tujuan seorang auditor.

    Hal tersebut juga dijelaskan dalam teori keagenan, dimana untuk memenuhi tujuan pimpinan

    KAP, kinerja dari auditorlah yang dapat menentukan keberhasilan tujuan pimpinan KAP

    tersebut. Untuk keberhasilan dari tujuan tersebut maka pimpinan KAP memotivasi auditor

  • dengan memberikan insentif kinerja. Dalam standar pengendalian mutu dijelaskan bahwa Kantor

    Akuntan Publik memiliki SPM yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan dan kondisi Kantor

    Akuntan Publik itu sendiri. Standar pengendalian mutu dapat memotivasi para auditor untuk

    menghasilkan kinerja yang lebih baik. Hasil dari uji hipotesis juga dijelaskan dalam teori

    kepuasan kerja, setiap auditor mencapai kinerja yang tinggi diperlukan motivasi atau insentif

    kinerja yang berbeda-beda. Karena itu insentif kinerja dapat mendorong kinerja yang tinggi,

    sesuai dengan insentif yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Asthon

    Robert H (1990), Mohd Sanusi, Nelly Sari, dan Mohd. Iskandar (2007). Dari hasil statistik

    deskriptif menunjukkan bahwa subjek dengan insentif kinerja menunjukkan nilai rata-rata yang

    lebih baik, yakni pada kompleksitas rendah sebesar 4,11untuk insentif finansial dan 3,37 untuk

    insentif umpan balik. Pada kompleksitas tugas tinggi 3,33 untuk insentif finansial dan 2,74 untuk

    insentif umpan balik pada usaha menunjukkan 18,68 untuk insentif finansial dan 20,67 untuk

    insentif umpanbalik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa subjek dengan insentif kinerja

    menunjukkan hasil yang lebih baik.

    Subjek Dengan Insentif Kinerja Akan Menunjukkan Usaha yang Lebih Tinggi

    Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Libby and Lipe (1992) dan Early

    (1990) yang menyatakan bahwa sejumlah dan berbagai tipe insentif yang ditawarkan dapat

    menambah usaha untuk kinerja yang lebih baik pada tugas yang berbeda. Hasil tersebut juga

    dijelaskan dalam teori harapan bahwa motivasi ekstrinsik dapat mempengaruhi usaha untuk

    mencapai tujuan individu dalam kineja audit judgment, hasil juga sesuai dengan teori keagenan

    di mana seorang pimpinan KAP untuk meningkatkan usaha diperlukan adanya motivasi yang

    salah satunya merupakan insentif kinerja, dan teori kepuasan kerja yang menyatakan bahwa

    untuk memotivasi supaya mendapatkan tujuan dan hasil kinerja yang diharapkan maka insentif

  • kinerja yang ditawarkan dapat menambah usaha untuk mencapai tujuan dan kinerja yang

    ditentukan. Dari hasil statistik deskriptif insentif kinerja menunjukkan rata-rata usaha yang lebih

    tinggi, yaitu 18,68 dan 20,67. Hasil tersebut menunjukkan bahwa subjek dengan insentif kinerja

    menunjukkan usaha yang lebih tinggi.

    Ketika Kompleksitas Tugas Rendah, Subjek Dengan Usaha Yang Tinggi Akan

    Menunjukkan Kinerja Audit Judgment Yang Lebih Baik

    Hasil penelitian tidak sesuai dengan penelitian dari Zulaikha (2006) dan penelitian dari

    Siti Jamilah, Zainal Fanani, dan Grahita Chandrarin (2007) yang menyatakan bahwa

    kompleksitas tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja audit judgment. Ketika

    kompleksitas rendah, insentif akan menambah usaha yang secara langsung dapat mempengaruhi

    kinerja (Cloyd, 1997). Hasil tersebut sesuai dengan teori harapan yang menjelaskan bahwa

    motivasi ekstrinsik, yakni insentif kinerja dapat mempengaruhi usaha untuk kinerja yang lebih

    baik, pada teori keagenan mengakui pentingnya insentif kinerja pada auditor untuk menambah

    usaha pada kinerja, dan teori kepuasan kerja juga menjelaskan pentingnya insentif kinerja untuk

    memotivasi individu untuka mencapai hasil yang diharapkan serta pada Standar Pengendalian

    Mutu yang memotivasi seseorang untuk mengerahkan usaha supaya mendapatkan tujuan dan

    kinerja yang diharapkan. Namun, jika kompleksitas tinggi maka teori-teori tersebut tidak

    berlaku, karena insentif kinerja yang diberikan oleh Kantor Akuntan Publik kepada auditor dan

    usaha yang tinggi sebagai dampak insentif kinerja, jika tidak diimbangi dengan pelatihan,

    ketrampilan atau kemampuan, dan pengalaman yang memadai maka hasil yang diperoleh belum

    tentu sesuai tujuan, meskipun terdapat insentif kinerja yang diberikan (Bonner, 1994). Hasil

    tersebut konsisten dengan penelitian dari Libby and Lipe (1992) Hun Tong Tan and Alison Kao

  • (1999). Statistik deskriptif menunjukkan bahwa dengan kompleksitas rendah subjek dengan

    insentif kinerja menunjukkan rata-rata 4,11 dan 3,37.

    Kesimpulan

    Berikut dibawah ini merupakan beberapa kesimpulan dari penelitian yang telah

    dilakukan:

    1. Terdapat hubungan antara insentif kinerja dan kinerja audit judgment, yaitu subjek

    dengan insentif kinerja menunjukkan kinerja audit judgment yang lebih tinggi.

    2. Subjek dengan insentif kinerja maka akan menunjukkan usaha yang tinggi sehingga

    menghasilkan kinerja audit judgment yang lebih tinggi

    3. Ketika kompleksitas rendah, subjek dengan menunjukkan usaha yang tinggi dapat

    menghasilkan kinerja audit judgment yang lebih tinggi, sebaliknya jika kinerja audit

    judgment tinggi, maka subjek dengan insentif kinerja tidak menghasilkan kinerja audit

    judgment yang sama.

    Kelebihan, Keterbatasan, dan Saran

    Adapun kelebihan yang dapat dikemukan adalah sebagai berikut:

    1. Penelitian ini menggunakan lebih dari satu insentif, yaitu insentif finansial dan insentif

    umpan balik. Kebanyakan penelitian sebelumnya hanya menggunakan satu insentif saja

    dalam penelitiannya.

    2. Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa lulusan S1 akuntansi sebagai surrogate

    (wakil) sebagai auditor independen.

    Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • 1 Informasi yang digunakan dalam penelitian ini sangat terbatas, sehingga informasi yang

    disajikan dalam tugas audit pada kuesioner sangat terbatas sehingga kurang mencerminkan

    lingkungan audit yang sesungguhnya.

    3. Insentif yang terdapat dalam penelitian ini pada penelitian ini didasarkan pada asumsi

    responden, sehingga hasil yang didapat kurang representative.

    Dari keterbatasan yang ada, maka untuk penelitian yang akan datang disarankan untuk:

    1. Memasukkan variabel tambahan yang dapat mempengaruhi, misalnya adalah efektivitas

    diri.

    2. Memperbanyak informasi sehingga untuk tugas audit dalam penelitian berikutnya lebih

    mencerminkan lingkungan audit yang sesungguhnya.

    3. Memperbesar area atau kapasitas sampel sehingga lebih merepresentatifkan hasil yang

    diperoleh.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Ashton, R.H. (1990), “Pressure and performance in accounting decision settings paradoxical

    effects of incentives, feedback and justification”, Journal of Accounting Research.

    Awasthi, V. and Pratt, J. (1990), “The effects of monetary incentives on effort and

    decisionperformance: the role of cognitive characteristics”, The Accounting Review.

    Bailey, C.D., Brown, L.D. and Cocco, A.F. (1998), “The effects of monetary incentives on

    worker learning and performance in an assembly task”, Journal of Management

    Accounting Research.

    Bonner, S.E. (1994), “A model of the effects of audit task complexity”, Accounting,

    Organizations and Society.

    Bonner, S.E. and Lewis, B.L. (1990), “Determinants of auditor expertise”, Journal of

    Accounting Research.

    Bonner, S.E. and Sprinkle, G.B. (2002), “The effects of monetary incentives on effort and

    taskperformance: theories, evidence, and a framework for research”,

    Accounting,Organizations and Society.

    Chang, C.J., Ho, J.L.Y. and Liao, W.M. (1997), “The effects of justification, task complexity

    andexperience/training on problem-solving performance”, Behavioral Research in

    Accounting.

    Chung, J. and Monroe, G.S. (2001), “A research note on the effects of gender and task

    complexity on an audit judgment”, Behavioral Research in Accounting.

    Cloyd, C.B. (1997), “Performance in tax research tasks: the joint effects of knowledge and

    accountability”, The Accounting Review.

    Earley, P.C., Northcraft, G.B., Lee, C. and Lituchy, T.R. (1990), “Impact of process and

    outcomefeedback on the relation of goal setting to task performance”, Academy of

    Management Journal.

    Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : BP

    Undip.

    Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta : Salemba

    Empat.

    Ikatan Akuntan Indonesia. 2004. Standar Profesi Akuntan Publik. Jakarta : Salemba Empat.

    Jamilah, S. Fanani, Z. and Chandrarin, G. 2007. Pengaruh Gender, tekanan ketaatan, dan

    Kompleksitas Tugas Terhadap Audit Judgment. Simposium Nasional Akuntansi X

    Unhas Makassar.

  • Komputer, Wahana. 2009. SPSS Untuk Pengolahan Data Statistik. C.V Andi Offset (Penerbit

    Andi).

    Mulyadi. 2002. Auditing 1. PT. Salemba Empat Patria Jakarta

    Nataline. 2007. Pengaruh Batasan Waktu Audit, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing,

    Bonus Serta Pengalaman Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik Di

    Semarang. www.skripsi-tesis.com.

    Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business – A Skill Building Approach, Fourth

    Edition. John Wiley & Sons, Inc. : NY – USA.

    Simamora, Henry. 2002. Auditing. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN.

    Tan, H.T and Kao, A. (1999).”Accountability Effects on Auditor,s Performance: Influence of

    Knowledge, Problem Solving Ability, and Task Complexity. Academy of Management

    Journal.

    Zulaikha. 2007. Pengaruh Interaksi Gender, Kompleksitas Tugas, dan Pengalaman Auditor

    Terhadap Audit Judgment. Kumpulan Materi SNA.

    Zuraidah Mohd-Sanusi and Takiah Mohd-Iskandar. 2007. “Audit Judgment Performance”.

    Managerial Auditing Jounal, Vol. 22, hal 34-52.

    www.IAI.com

    www.google.com

    http://www.skripsi-tesis.com/http://www.iai.com/http://www.google.com/