k3 rs bedah, laparoskopi, dan sop

of 80 /80
Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi. 1 BAB I PENDAHULUAN Sumber daya manusia kesehatan merupakan aset penting dan terbesar dalam menentukan kualitas pelayanan kesehatan, untuk mendukung dan mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi, maka kapasitas tenaga kesehatan perlu terus ditingkakan. Langkah-langkah startegi, taktis dan aplikatif diperlukan agar tenaga kesehatan yang berkontribusi dalam memberikan pelayanan di Rumah Sakit dapat berperan dan siap bersaing di tatanan dunia kesehatan regional, nasional dan global. Peningkatan kinerja pelayanan kesehatan telah menjadi tema utama di seluruh dunia. Dengan tema ini, organisasi pelayanan kesehatan dan kelompok profesional kesehatan sebagai pemberi pelayanan harus menampilkan akontabilitas sosial mereka dalam memberikan pelayanan yang mutakhir kepada konsumen yang berdasarkan standar profesionalisme, sehingga diharapkan dapat mnemenuhi harapan masyarakat. Sebagai konsekuensinya peningkatan kinerja memerlukan persyaratan yang diterapkan dalam melaksanakan pekerjaan yang berdasarkan standar tertulis. Dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan, standar sangat membantu perawat dan bidan untuk mencapai asuhan yang berkualitas, sehingga perawat dan bidan harus berpikir realistis tentang pentingnya evaluasi sistematis terhadap semua aspek asuhan yang berkualitas tinggi. Namun keberhasilan dalam mengimplemetasikan standar sangat tergantung pada individu perawat atau bidan itu sendiri, usaha bersama dari semua staf dalam suatu organisasi , disamping partisipasi dari seluruh anggota profesi.

Upload: catkakipediaowner

Post on 17-Jan-2016

291 views

Category:

Documents


15 download

DESCRIPTION

catkakipedia

TRANSCRIPT

Page 1: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

1

BAB I

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia kesehatan merupakan aset penting dan

terbesar dalam menentukan kualitas pelayanan kesehatan, untuk

mendukung dan mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi,

maka kapasitas tenaga kesehatan perlu terus ditingkakan. Langkah-langkah

startegi, taktis dan aplikatif diperlukan agar tenaga kesehatan yang

berkontribusi dalam memberikan pelayanan di Rumah Sakit dapat berperan

dan siap bersaing di tatanan dunia kesehatan regional, nasional dan global.

Peningkatan kinerja pelayanan kesehatan telah menjadi tema utama

di seluruh dunia. Dengan tema ini, organisasi pelayanan kesehatan dan

kelompok profesional kesehatan sebagai pemberi pelayanan harus

menampilkan akontabilitas sosial mereka dalam memberikan pelayanan

yang mutakhir kepada konsumen yang berdasarkan standar

profesionalisme, sehingga diharapkan dapat mnemenuhi harapan

masyarakat. Sebagai konsekuensinya peningkatan kinerja memerlukan

persyaratan yang diterapkan dalam melaksanakan pekerjaan yang

berdasarkan standar tertulis.

Dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan, standar sangat

membantu perawat dan bidan untuk mencapai asuhan yang berkualitas,

sehingga perawat dan bidan harus berpikir realistis tentang pentingnya

evaluasi sistematis terhadap semua aspek asuhan yang berkualitas tinggi.

Namun keberhasilan dalam mengimplemetasikan standar sangat tergantung

pada individu perawat atau bidan itu sendiri, usaha bersama dari semua

staf dalam suatu organisasi , disamping partisipasi dari seluruh anggota

profesi.

Page 2: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

2

Berdasarkan hasil riset tahap I bulan Otober 2000 – Maret 2001 yang

dilaksanakan oleh Tim Konsultan WHO Temuan permasalahan diperoleh

melalui penelitian di DKI Jakarta, Sumut, Sulut dan Kaltim tahun 2001 oleh

WHO dan Direktorat Keperawatan Depkes salah satu hasilnya adalah belum

dikembangkannya secara optimal kelengkapan standar dan SOP untuk

dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tugas.

Dalam menjalankan operasional perusahaan, peran pegawai memiliki

kedudukan dan fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan

standar-standar operasi prosedur sebagai acuan kerja secara sungguh-

sungguh untuk menjadi sumber daya manusia yang profesional, handal

sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan.

A. Pengertian SOP

1. Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk

mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk

mencapai tujuan organisasi.

2. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan

yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja

tertentu.

B. Tujuan SOP

1. Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat

kinerja petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit

kerja.

2. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap

posisi dalam organisasi

3. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari

petugas/pegawai terkait.

4. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari

malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.

Page 3: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

3

5. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi

dan inefisiensi

C. Fungsi SOP

1. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.

2. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.

3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah

dilacak.

4. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin

dalam bekerja.

5. Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.

D. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Persiapan menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan pembedahan

akut.

Standar operasional prosedur (SOP) persiapan menyiapkan pasien

dan alat untuk tindakan pembedahan akut

• Alat

o Alat pencukur rambut dan gunting rambut

o Bengkok

o Sabun

o Waslap

o Handuk

o Alat kesehatan dan obat-obatan sesuai program dokter dan

jenis tindakan pembedahan

o Baju khusus

o Formulir

o Izin operasi

o Permintaan darah ke PMI bila diperlukan

o Pemeriksaan penunjang

Page 4: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

4

• Pasien

o Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang

akan dilakukan

o Extra mandi bila kotor

o Dipuasakan sesuai kasus

o Cukur daerah yang akan diopaerasi

o Pasang NGT, kateter sesuai program

o Pasien/keluarga menyetujui dan menandatangani surat izin

operasi

• Lingkungan

o Tenang

• Petugas

E. PERSIAPAN DAN PERAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH

OPERASI

1. Persiapan Mental

Pasien yang akan dioperasi biasanya menjadi agak gelisah

dan takut. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak

Nampak jelas. Tapi kadang-kadang pula, kecemasan itu terlihat

dalam bentuk lain. Pasien yang gelisah dan takut sering

bertanya terus menerus dan berulang-ulang, walaupun

pertanyaannya telah dijawab. Ia tidak mau berbicara dan

memperhatikan keadaan sekitarnya, tetapi berusaha

mengalihkan perhatianya pada buku. Atau sebaliknya, ia

bergerak terus-menerus dan tidak bisa tidur.

Perawat mempunyai tugas untuk menjelaskan apa yang akan

dihadapi pasien jika ia akan dioperasi. Pasien sebaiknya diberi

tahu bahwa selama dioperasi ia tidak akan merasa sakit karena

Page 5: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

5

ahli bius akan selalu menemaninya dan berusaha agar selama

operasi berlangsung, penderita tidak akan merasa apa-apa.

Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan dan sekaligus

memperhatikan semua keperluan pribadi pasien. Perlu

menjelaskan kepada pasien bahwa semua operasi besar

memerlukan transfuse darah untuk mengganti darah yang hilang

selama operasi dan transfuse darah bukanlah berarti keadaan

pasien sangat gawat. Perlu dijelaskan juga besok pagi pasien

akan dibawa ke kamar operasi dan diletakkan di meja operasi,

yang berada tepat dibawah lampu yang sangata terang, agar

dokter bedah dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Beri

tahu pula bahwa sebelum operasi dimulai, pasien akan di

anestesi umum, lumbal, atau local.

2. Persiapan Fisik

Makanan

Pasien yang akan dioperasi diberi makanan yang berkadar

lemak rendah, tetapi tinggi karbohidrat, protein, vitamin, dan

kalori. Pasien yang kadar protein darahnya rendah, biasanya

akan mengalami syok bila dibius dan dioperasi.

Untuk mempertahankan masuknya makanan didalam tubuh

sampai saat operasi tiba dan segera setelah operasi, pasien

perlu diberi makan secara parental atau sering juga disebut

diinfus. Ini perlu dilakukan karena sewaktu pasien dibawa ke

kamar bedah, perutnya dalam keadaan kosong. Keadaan perut

kosong diperlukan bila operasi dilakukan dengan pembiusan

umum memakai gas yang diisap. Gas yang dipakai bisa

merangsang batuk, sehingga pasien bisa tercekik dan muntah.

Muntahan isi lambung ini bisa masuk ke paru-paru. Tercekik isi

lambung (aspirasi) ini dapat menyebabkan kematian di meja

operasi.

Page 6: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

6

Pasien harus puasa 12-18 jam sebelum operasi dimulai. Jika

operasi dilakukakn secara darurat dan pasien tak sempat puasa

terlebih dahulu, harus diusahakan agar pasien dapat

memuntahkan isi perutnya. Pasien yang dipuasakan selama 18

jam akan mengalami dehidrasi bila tak diberi cairan dan

makanan secara parenteral. Untuk itu, turutilah perintah ahli

bedah, infus apa yang harus diberikan.

Lavemen/Klisma

Klisma dilakukan untuk mengosongkan usus besar agar tidak

mengeluarkan fese di meja operasi.

Kebersihan Mulut

Mulut harus dibersihkan dan gigi disikat untuk mencegah

terjadinya infeksi terutama bagi paru-paru dan kelenjar ludah.

Gigi palsu yang bisa dilepaskan harus dilepas dan disimpan.

Mandi

Sebelum dioperasi, pasien harus mandi atau dimandikan.

Kuku disikat dan cat kuku harus dibuang agar ahli bius dapat

melihat perubahan warna kuku dengan jelas.

Rambut harus dicuci dengan sampo karena setelah dioperasi,

pasien berada dalam kesakitan sehingga tidak dapat mencuci

rambut dalam beberapa hari.

Pasien dalam keadaan syok, yang akan dioperasi darurat

tidak boleh dimandikan atau dicuci rambutnya.

Daerah yang Akan Dioperasi

Tempat dan daerah yang harus dicukur tergantung dari jenis

operasi yang akan dilakukan. Pada operasi laparatomi atau

histerektomi yang akan membuka dinding perut, kulit perut harus

Page 7: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

7

dibersihkan. Bulu kemaluan dan bulu kulit perut dicukur bersih.

Pada operasi dikepala, diusahakan mencukur rambut seperlunya

dan alis mata tidak boleh dicukur karena tumbuhnya lama.

Rambut yang tidak dicukur, dicuci dengan sampo dan antisepti.

Pusar harus dibersihkan dengan kapas yang dicelupkan

kedalam bensin untuk melarutkan lemak di dalamnya.

Istirahat dan Tidur

Malam sebelum dioperasi, diusahakan agar pasien dapat

istirahat dan tidur nyenyak. Perasaan nyeri dapat mengganggu

tidur pasien. Bila perlu, diberi satu tablet parasetamol dan

pasien yang tidak bisa tidur diberi satu tablet luminal.

Sebelum Masuk Kamar Bedah

Persiapan fisik pada hari operasi, seperti biasa harus diambil

catatan suhu, tensi, nadi, dan pernapasan. Bila suhunya

meningkat, perawat harus melaporkan kepada dokter melalui

kepala bangsal. Sewaktu mengukur suhu, perhatikan pula apakah

pasien kedinginan, sakit perut, atau sesak napas. Operasi yang

bukan darurat, bila ada demam, penyakit tenggorokan, atau

sedang haid, biasanya ditunda oleh ahli bedah atau ahli anestesi.

Pasien yang akan dioperasi harus dibawa tepat pada

waktunya. Jangan dibawa ke kamar tunggu terlalu cepat, sebab

terlalu lama menunggu tibanya waktu operasi, akan

menyebabkan pasien gelisah dan takut.

Pagi-pagi pasien disuruh mandi. Rambut diikat dan rambut

wanita yang panjang dikuncir dan diperiksa apakah ada kutunya.

Tidak boleh pakai jepit rambut. Setelah rambut dirapihkan,

ditutup dengan kain bersih atau topi bedah. Baju pasien diganti

dengan baju khusus operasi. Barang berharga seperti uang, jam

tangan, cincin, giwang, gelang, dan anting-anting harus

Page 8: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

8

dilepaskan dan disimpan dengan baik atau diserahkan kepada

keluarga.

Sebelum dibawa ke kamar bedah, pasien disuruh buang air

kecil (kencing) agar tidak membasahi meja operasi atau tersayat

kandung kencing nya sewaktu membuka dinding perut. Bila

pasien tidak bisa kencing karena ketakutan, maka perlu dikateter.

Sebelum pembiusan dimulai, gigi palsu dilepaskan agar tidak

tertelan. Kacamata harus dibuka sebelum operasi dimulai.

Premedikasi

Premedikasi yang sering dipakai ialah morfin-atropin yaitu 10

mg morfin 1/4 mg atropine. Morfin gunanya untuk mengurangi

perasaan sakit, sedangkan atropin mengurangi sekresi dari

mulut dan saluran pernapasan. Kerugian morfin ialah

menyebabkan mual, muntah dan menghilangkan nafsu makan.

Suntikan morfin-atropin biasanya diberikan 30 menit sebelum

operasi dimulai. Obat premediksi lain adalah BDP (antimuntah)

21/2 mg, petidin atau valium(penenang). Sehabis suntikan

premediksi, biasanya pasien merasakan pusing, sehingga

sewaktu dibawa ke kamar bedah ada kemungkinan terbentur

dinding gang (koridor). Oleh karena itu, harus dijaga.

Pencatatan Sebelum Operasi

Semua tindakan penting yang dilakukan pada pasien harus

dicatat, misalnya sudah dilakukan lavemen pukul berapa, jumlah

kencingnya berapa mililiter. Premedikasi obat apa dan pukul

berapa diberikan. Catat jugan bila penderita mempunyai gigi

palsu dan lain-lain yang dianggap perlu.

Page 9: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

9

Persiapan di Kamar Bedah

Pasien yang dating dari bangsal operasi, sebaiknya dibawa

langsung ke kamar bius dan disambut ramah dengan menyebut

nama pasien, sehingga pasien merasa diperhatikan secara

khusus.

Kamar tunggu pasien sebelum dioperasi haruslah tenang dan

tidak boleh terdengar suara-suara dentingan instrument, alat

bedah, atau percakapan pasien lain yang bersifat menakutkan.

Bila memungkinkan, dikamar tunggu pasien dimainkan muik

yang berirama tenang.

Air muka perawat yang bekerja dikamar bedah hendaklah

cerah. Jangan dibuat sikap yang tegang atau menyeramkan

walaupun mengetahui operasi yang dilakukan itu berbahaya.

Sedapat mungkin, dikamar tunggu selalu ada seorang perawat

yang menjaga pasien-pasien.

Bila ada sesuatu yang mau dibicarakan dengan pasien,

lakukanlah dengan tenang dan perlahan agar pasien lain tidak

mendengarnya.

3. Persiapan Instrumen

Jenis instrument yang akan digunakan tergantung jenis

operasi yang akan dilakukan. Di rumah sakit besar yang banyak

melakukan operasi terdapat beberapa kamar operasi.

Alat-alat bedah yang dipakai dibungkus dengan kain dan

disterilkan dalam bungkusan, misalnya untuk laparatomi, untuk

seksioseria, untuk operasi mata, atau operasi mastoid mempunyai

bungkusan tersendiri yang telah diberi nama tiap bungkusannya.

Penyediaan jenis benang dan kat gut disesuaikan pula dengan jenis

operasi.

Page 10: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

10

Baju steril untuk dokter bedah dan pembantunya harus sudah

siap di meja tersendiri. Juga disiapkan cairan antiseptik untuk

membersihkan kulit yang akan disayat.

Instrument dasar yang diperlukan pada semua operasi adalah

sebagai berikut:

1. Tangkai pisau (scalpel) dengan pisau yang dapat

ditukar…………………………………………………………………………………………. 1 buah

2. Pengait luka Langenbeck………………………………………………………. 2 buah

3. Pengait luka Tritsch, tumpul, lebar……………………………………… 2 buah

4. Pengait luka Middledorpf, 2 besar 2 kecil…………………………… 4 buah

5. Pengait luka Trakea dari Luer, dubbel……………………………….. 2 buah

6. Pengait luka, bergigi tajam satu…………………………………….……… 2 buah

7. Pengait luka: 2 bergigi enam, 2 bergigi empat,

tajam……………………………………………………………………………………………… 4 buah

8. Speculum dinding perut Doyen

(Buikwandspeculum)………………………….…………………….……………… 1 buah

9. Pipa penghisap……………………………………………………………………..…. 1 set

10. Pinset sirurgis…………………………………………………………………………… 2 buah

11. Pinset anatomis biasa……………………………………………………………… 4 buah

12. Pinset anatomis 20 cm……………………………………………………………. 1 buah

13. Blad sonde Myrten…………………………………………………………………… 1 buah

14. Sleuf sonde………………………………………………………………………………… 1 buah

15. Sonde berpentol dua……………………………………………………………….. 1 buah

16. Krod sonde Kocher………………………………………………………………….. 1 buah

17. Sendok tajam Volkman……………………………………………………………. 1 buah

18. Spatel………………………………………………………………………………………….. 1 buah

19. Jarum bertangkai kiri dan

kanan (OnderbindingsnaldeenDeschamps)……................... 2 buah

20. Korentang……………………………………………………………………………….…. 1 buah

21. Gunting Matzenbaum 18 cm, gunting krod sonde daro

shoemaker, mayo Bengkok, mayo lurus,

(untuk jahitan)………………………………………………….……………………….. 5 buah

Page 11: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

11

22. Peniti……………………………………………………………………….………………….. 4 buah

23. Penjepit nadi dari Kocher, tanpa gigi (Arterieklem)…….…… 2 buah

24. Penjepit kain dari Backhaus………………………………….………………. 4 buah

25. Klem peritoneum Schindler…………………………………………………….. 4 buah

26. Pengantar jam (Naald Voerder) dari Mathieu dan

Hegar-Ochsner………………………………………………………………………….. 3 buah

27. Kotak berisi jarum-jarum………………………………………………………… 1 buah

28. Penjepit nadi Kocher…………………………………………….…………………. 6 buah

29. Penjepit nadi bengkok dari Dandy………………….…………………… 6 buah

30. Penjepit nadi halus dengan gigi………………………..…………………. 4 buah

31. Penjepit kasa penghisap darah (depper)……...…………………… 3 buah

32. Mangkok kecil dari logam………………………………………………………. 3 buah

Selain alat-alat tersebut diatas, pada operasi khusus masih

beberapa alat tambahan.

Gambar 1. Gunting Diseksi Mayo

Gambar 2. Gunting diseksi Metzenbaum

Page 12: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

12

Gambar 3. Gunting aff hecting/Stitch scissors

Gambar 4. Gunting kassa/Bandage scissors

Gambar 5. Klem arteri/mosquito/pean bengkok

Gambar 6. Klem vena/pean lurus

Page 13: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

13

Gambar 7. Needle holder (naald voeder)

Gambar 8. Mathieu needle holder

Gambar 9. Ring forceps/sponge forceps

Gambar 10. Pinset anatomis/ dressing forceps

Gambar 11. Pinset sirurgis/ tissue forceps

Page 14: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

14

Gambar 12. Adson dressing forceps

Gambar 13. Adson tissue forceps

Gambar 14. Macam-macam pisau

Gambar 15. Scalpel handle

Page 15: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

15

Gambar 16. Towl forceps

Gambar 17. Neerbeken/bengkok

Gambar 18. Wound retractor /hak

Page 16: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

16

Gambar 19. Senn retractor

Gambar 20. Gillies retractor

Gambar 21. DesMarres Lip retractor

Gambar 22. Kuret

Page 17: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

17

Gambar 23. Trokar

Gambar 24. Koorntang (korentang) dan wadahnya

Pengenalan Instrumen Dasar Bedah Minor

Dokter umum merupakan profesi kedokteran yang melingkupi

skala yang cukup luas dan meliputi semua sistem dalam tubuh

manusia, sehingga hanya menyentuh area superfisial dalam proses

pengobatan. Meskipun demikian, peran dari dokter umum itu

sendiri cukup penting oleh karena menduduki posisi primer dalam

pelayanan kesehatan di masyarakat, itulah sebabnya seorang

Page 18: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

18

dokter umum harus memiliki pengetahuan serta skill tindakan yang

memadai sesuai dengan kompetensinya secara keseluruhan. Salah

satu skill yang paling penting dikuasai dalam praktek keseharian

adalah bedah minor. Hal ini dikarenakan jumlah kasus yang

memerlukan tindakan ini cukup tinggi di masyarakat. Pengalaman

penulis mendapatkan bahwa dari 10 pasien yang datang berobat

terdapat 3 kasus yang memerlukan prosedur tindakan ini.

Umumnya komplikasi dari kasus ini tidak begitu banyak, namun jika

tidak ditangani secara tepat dapat berakhir ke kematian khususnya

untuk kasus dengan perdarahan yang cukup besar atau kasus

disinfeksi yang tidak sempurna.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh British Medical

Association (BMA), menyebutkan bahwa di Inggris, prosedur

tindakan bedah minor telah sering dilakukan oleh dokter umum dan

cukup populer di kalangan pasien serta memiliki biaya yang cukup

tinggi. Berdasarkan Health Authority (1990), dokter umum telah

memiliki kewenangan untuk melakukan bedah minor dan

mendapatkan pembayaran dari tindakan ini. Bahkan pada tahun

2004, dokter umum di Inggris dapat meningkatkan dan memperluas

kompetensi tindakan bedah minornya dengan cara membayar

komisi kepada Pengatur Penambahan Pelayananan (Directed

Enhance Service-DES). Di Indonesia, cakupan pelayanan bedah

minor yang dapat dilakukan oleh seorang dokter umum cukup

beragam, mulai dari tindakan hecting luka terbuka, insisi, eksisi,

ekstraksi, kauterisasi dan lain sebagainya. Umumnya tindakan ini

dilakukan dengan anastesi lokal dengan tehnik anastesi yang

sesuai dengan kasus yang dihadapi.

Pelaksanaan prosedur bedah minor mengharuskan seorang

dokter umum mengetahui beberapa pengetahuan dasar mengenai

tindakan ini. Pengetahuan dasar tersebut berupa instrumen bedah

minor, bahan serta tehnik disinfeksi dan tehnik menjahit jaringan.

Page 19: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

19

Artikel ini hanya berbatas pada pengenalan instrumen bedah minor

dasar yang merupakan pengetahuan pertama yang harus dimiliki

oleh seorang dokter dalam melakukan tindakan ini. Untuk

pengetahuan lainnya akan dijelaskan dalam artikel yang berbeda.

Instrumen dasar bedah minor terbagi atas empat berdasarkan

fungsi, yakni instrumen dengan fungsi memotong (pisau scalpel +

pegangan dan beragam jenis gunting), instrumen dengan fungsi

menggenggam (pinset anatomi, pinset cirrhurgis dan klem jaringan),

instrumen dengan fungsi menghentikan perdarahan (klem arteri

lurus dan klem mosquito), serta instrumen dengan fungsi menjahit

(needle holder,benang bedah, dan needle).

Gambar 25. Instrumen Dasar Bedah Minor

Kesemua intrumen tersebut akan dijelaskan secara detail sebagai

berikut:

Page 20: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

20

Instrumen Dengan Fungsi Memotong

1. Pisau Scalpel + Pegangan

Scalpel merupakan mata pisau kecil yang digunakan

bersama pegangannya. Alat ini bermanfaat dalam menginsisi

kulit dan memotong jaringan secara tajam. Selain itu, alat ini

juga berguna untuk mengangkat jaringan/benda asing dari

bagian dalam kulit. Setiap pisau scalpel memiliki dua ujung

yang berbeda, yang satu berujung tajam sebagai bagian

pemotong dan yang lainnya berujung tumpul berlubang

sebagai tempat menempelnya pegangan scalpel. Cara

pemasangannya: pegang area tumpul pisau dengan needle-

holder dan hubungkan lubang pada area tersebut pada lidah

pegangan sampai terkunci (terdengar bunyi). Cara

pelepasan: pegang ujung pisau dengan needle-holder dan

lepaskan dari lidah pegangan, kemudian buang di tempat

sampah. Pegangan scalpel yang sering digunakan adalah

yang berukuran 3 yang dapat digunakan bersama pisau

scalpel dalam ukuran beragam. Sedangkan pisau scalpel

yang sering digunakan adalah yang berukuran no.15. Ukuran

no.11 digunakan untuk insisi abses dan hematoma perianal.

Pegangan scalpel digunakan seperti pulpen dengan

kontrol maksimal pada waktu pemotongan dilakukan. Dalam

praktek keseharian, pegangan scalpel biasanya diabaikan

sehingga hanya memakai pisau scalpel. Hal ini bisa diterima

dengan pertimbangan pisaunya masih dalam keadaan steril

(paket baru) dan harus digunakan dengan pengontrolan

yang baik agar tidak menimbulkan kerusakan jaringan

sewaktu memotong.

2. Gunting

Pada dasarnya gunting mengkombinasikan antara aksi

mengiris dan mencukur. Mencukur membutuhkan aksi

Page 21: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

21

tekanan halus yang saling bertentangan antara ibu jari dan

anak jari lainnya. Gerakan mencukur ini biasanya dilakukan

oleh tangan dominan yang bersifat tidak disadari dan

berdasarkan insting. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari

manis pada kedua lubang gunting. Hal ini akan

menyebabkan jari telunjuk menyokong instrumen pada

waktu memotong sehingga kita dapat memotong dengan

tepat. Selain itu, penggunaan ibu jari dan jari telunjuk pada

lubang gunting biasanya pengontrolannya berkurang. Jenis-

jenis gunting berdasarkan objek kerjanya, yakni gunting

jaringan (bedah), gunting benang, gunting perban dan

gunting iris.

a. Gunting Jaringan (bedah)

Gunting jaringan (bedah) terdiri atas dua bentuk.

Pertama, berbentuk ujung tumpul dan berbentuk ujung

bengkok. Gunting dengan ujung tumpul digunakan

untuk membentuk bidang jaringan atau jaringan yang

lembut, yang juga dapat dipotong secara tajam.

Gunting dengan ujung bengkok dibuat oleh ahli pada

logam datar dengan cermat. Pemotongan dengan

gunting ini dilakukan pada kasus lipoma atau kista.

Biasanya dilakukan dengan cara mengusuri garis

batas lesi dengan gunting. Harus dipastikan kalau

pemotongan dilakukan jangan melewati batas lesi

karena dapat menyebabkan kerusakan.

b. Gunting Benang (dressing scissors)

Gunting benang didesain untuk menggunting

benang. Gunting ini berbentuk lurus dan berujung

tajam. Gunakan hanya untuk menggunting benang,

tidak untuk jaringan. Gunting ini juga digunakan saat

mengangkat benang pada luka yang sudah kering

dengan tehnik selipan dan sebaiknya pemotongan

Page 22: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

22

benang menggunakan bagian ujung gunting. Hati-hati

dalam pemotongan jahitan. Jika ujung gunting menonjol

keluar jahitan, terdapat resiko memotong struktur

lainnya.

c. Gunting Perban

Gunting perban merupakan gunting berujung sudut

dengan ujung yang tumpul. Gunting ini memiliki kepala

kecil pada ujungnya yang bermanfaat untuk

memudahkan dalam memotong perban. Jenis gunting ini

terdiri atas knowles dan lister. Bagian dasar gunting ini

lebih panjang dan digunakan sangat mudah dalam

pemotongan perban. Ujung tumpulnya didesain untuk

mencegah kecelakaan saat remove perban dilakukan.

Selain untuk membentuk dan memotong perban sesaat

sebelum menutup luka, gunting ini juga aman

digunakan untuk memotong perban saat perban telah

ditempatkan di atas luka. (wikipedia)

d. Gunting Iris

Gunting iris merupakan gunting dengan ujung yang

tajam dan berukuran kecil sekitar 3-4 inchi. Biasanya

digunakan dalam pembedahan ophtalmicus khususnya

iris. Dalam bedah minor, gunting iris digunakan untuk

memotong benang oleh karena ujungnya yang cukup

kecil untuk menyelip saat remove benang dilakukan.

(dictionary online)

Instrumen Dengan Fungsi Menggenggam

3. Pinset Anatomi

Pinset Anatomi memiliki ujung tumpul halus. Secara

umum, pinset digunakan oleh ibu jari dan dua atau tiga anak

Page 23: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

23

jari lainnya dalam satu tangan. Tekanan pegas muncul saat

jari-jari tersebut saling menekan ke arah yang berlawanan

dan menghasilkan kemampuan menggenggam. Alat ini dapat

menggenggam objek atau jaringan kecil dengan cepat dan

mudah, serta memindahkan dan mengeluarkan jaringan

dengan tekanan yang beragam. Pinset Anatomi ini juga

digunakan saat jahitan dilakukan, berupa eksplorasi

jaringan dan membentuk pola jahitan tanpa melibatkan jari.

(wikipedia)

4. Pinset Chirurgis

Pinset Chirurgis biasanya memiliki susunan gigi 1x2 (dua

gigi pada satu bidang). Pinset bergigi ini digunakan pada

jaringan; harus dengan perhitungan tepat, oleh karena dapat

merusak jaringan jika dibandingkan dengan pinset anatomi

(dapat digunakan dengan genggaman halus). Alat ini

memiliki fungsi yang sama dengan pinset anatomi yakni

untuk membentuk pola jahitan, meremove jahitan, dan fungsi-

fungsi lainnya.(wikipedia)

5. Klem Jaringan

Klem jaringan berbentuk seperti penjepit dengan dua

pegas yang saling berhubungan pada ujung kakinya. Ukuran

dan bentuk alat ini bervariasi, ada yang panjang dan

adapula yang pendek serta ada yang bergigi dan ada yang

tidak. Alat ini bermanfaat untuk memegang jaringan dengan

tepat. Biasanya dipegang oleh tangan dominan, sedangkan

tangan yang lain melakukan pemotongan, atau menjahit.

Cara pemegangannya: klem dipegang dalam keadaan

relaks seperti memegang pulpen dengan posisi di tengah

tangan. Banyak orang yang memegang klem ini dengan

salah, yang memaksa lengan dalam posisi pronasi penuh

dan menyebabkan tangan menjadi tegang. Dalam

penggunaannya, hati-hati merusak jaringan. Pegang klem

Page 24: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

24

selembut mungkin, usahakan genggam jaringan sedalam

batas yang seharusnya. Klem jaringan bergigi memiliki gigi

kecil pada ujungnya yang digunakan untuk memegang

jaringan dengan kuat dan dengan pengontrolan yang akurat.

Hati-hati, kekikukan pada saat menggunakan alat ini dapat

merusak jaringan. Kemudian, klem tidak bergigi juga memiliki

resiko merusak jaringan jika jepitan dibiarkan terlalu lama,

karena klem ini memiliki tekanan yang kuat dalam

menggenggam jaringan.

Instrumen Dengan Fungsi Menghentikan Perdarahan

6. Klem Arteri

Pada prinsipnya, klem arteri bermanfaat untuk

menghentikan perdarahan pembuluh darah kecil dan

menggenggam jaringan lainnya dengan tepat tanpa

menimbulkan kerusakan yang tidak dibutuhkan. Secara

umum, klem arteri dan needle-holder memiliki bentuk yang

sama. Perbedaannya pada struktur jepitan (gambar 2),

dimana klem arteri, struktur jepitannya berupa galur paralel

pada permukaannya dan ukuran panjang pola jepitannya

sampai handle agak lebih panjang dibanding needle-holder.

Alat ini juga tersedia dalam dua bentuk yakni bentuk lurus

dan bengkok (mosquito). Namun, bentuk bengkok (mosquito)

lebih cocok digunakan pada bedah minor.

Cara penggunaan: klem arteri memiliki ratchet pada

handlenya. Ratchet inilah yang menyebabkan posisi klem

arteri dalam keadaan terututup (terkunci). Ratchet umumnya

memiliki tiga derajat, dimana pada saat penutupan jangan

langsung menggunakan derajat akhir karena akan mengikat

secara otomatis dan sulit untuk dilepaskan. Pelepasan klem

Page 25: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

25

dilakukan dengan cara pertama harus ditekan ke dalam

handlenya, kemudian dipisahkan handlenya sambil membuka

keduanya. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari manis karena

hal ini akan menyebabkan jari telunjuk mendukung

instrumen bekerja sehingga dapat memposisikan jepitan

dengan tepat.

Jepitan klem arteri berbentuk halus dengan galur lintang

paralel yang membentuk chanel lingkaran saat instrumen

ditutup. Jepitan ini berukuran relatif panjang terhadap

handled yang memungkinkan genggaman jaringan lebih

halus tanpa pengrusakan. Jepitan dengan ujung bengkok

(mosquito) berfungsi untuk membantu pengikatan pembuluh

darah. Jangan menggunakan klem ini untuk menjahit, oleh

karena struktur jepitannya tidak mendukung dalam

memegang needle.

Instrumen Dengan Fungsi Menjahit

7. Needle Holder

Needle holder bermanfaat untuk memegang needle saat

insersi jahitan dilakukan. Secara keseluruhan antara needle

holder dan klem arteri berbentuk sama. Handled dan ujung

jepitannya bisa berbentuk lurus ataupun bengkok. Namun,

yang paling penting adalah perbedaan pada struktur

jepitannya (gambar 2). Struktur jepitan needle holder

berbentuk criss-cross di permukaannya dan memiliki ukuran

handled yang lebih panjang dari jepitannya, untuk tahanan

yang kuat dalam menggenggam needle. Oleh karena itu,

jangan menggenggam jaringan dengan needle holder karena

akan menyebabkan kerusakan jaringan secara serius.

Page 26: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

26

Cara penggunaan: cara menutup dan melepas sama

dengan metode ratchet yang telah dipaparkan pada

penggunaan klem arteri di atas. Needle digenggam pada

jarak 2/3 dari ujung berlubang needle, dan berada pada

ujung jepitan needle-holder. Hal ini akan memudahkan

tusukan jaringan pada saat jahitan dilakukan. Selain itu,

pemegangan needle pada area dekat dengan engsel needle

holder akan menyebabkan needle menekuk. Kemudian,

belokkan needle sedikit ke arah depan pada jepitan

instrumen karena akan disesuaikan dengan arah alami

tangan ketika insersi dilakukan dan tangan akan terasa lebih

nyaman. Kegagalan dalam membelokkan needle ini juga akan

menyebabkan needle menekuk.

Page 27: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

27

Tehnik menjahit: jaga jari manis dan ibu jari menetap

pada lubang handle saat menjahit dilakukan yang membatasi

pergerakan tangan dan lengan. Pegang needle holder

dengan telapak tangan akan memberikan pengontrolan yang

baik. Secara konstan, jangan mengeluarkan jari dari lubang

handled karena dapat merusak ritme menjahit.

Pertimbangkan pergunakan ibu jari pada lubang handled

yang menetap, namun manipulasi lubang lainnya dengan jari

manis dan kelingking.

Gambar 26. Perbedaan Struktur Jepitan Antara Klem Jaringan, Klem arteri

dan Needle Holder

8. Benang Bedah

Benang bedah dapat bersifat absorbable dan non-

absorbable. Benang yang absorbable biasanya digunakan

untuk jaringan lapisan dalam, mengikat pembuluh darah dan

kadang digunakan pada bedah minor. Benang non-

absorbable biasanya digunakan untuk jaringan tertentu dan

Page 28: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

28

harus diremove. Selain itu, benang bedah ada juga yang

bersifat alami dan sintetis. Benang tersebut dapat berupa

monofilamen (Ethilon atau prolene) atau jalinan (black silk).

Umumnya luka pada bedah minor ditutup dengan

menggunakan benang non-absorbable. Namun, jahitan

subkutikuler harus menggunakan jenis benang yang

absorbable.

Black silk adalah benang jalinan non-absorbable alami

yang paling banyak digunakan. Meskipun demikian, benang

ini dapat menimbulkan reaksi jaringan, dan menghasilkan

luka yang agak besar. Jenis benang ini harus dihindari,

karena saat ini telah banyak benang sintetis alternatif yang

memberikan hasil yang lebih baik. Luka pada kulit kepala

yang berbatas merupakan pengecualian, oleh karena

penggunaan jenis benang ini lebih memuaskan.

Benang non-abosrbable sintetis terdiri atas prolene dan

ethilon (nama dagang). Benang ini berbentuk monofilamen

yang merupakan benang terbaik. Jenis benang ini cukup

halus dan luwes dan menghasilkan sedikit reaksi jaringan.

Namun, jenis benang ini lebih sulit diikat dari silk sehingga

sering menyebabkan jahitan terbuka. Masalah ini dapat

diselesaikan dengan menggunakan tehnik khusus seperti

menggulung benang saat jahitan dilakukan atau mengikat

benang dengan menambah lilitan. Prolene (monofilamen

polypropylene) dapat meningkatkan keamanan jahitan dan

lebih mudah diremove dibandingkan dengan Ethilon

(monofilamen polyamide).

Catgut merupakan contoh terbaik dalam kelompok

benang absorbable alami. Jenis benang ini merupakan

monofilamen biologi yang dibuat dari usus domba dan sapi.

Terdapat dua macam catgut, plain catgut dan chromic catgut.

Plain catgut memiliki kekuatan selama 7-10 hari. Sedangkan

Page 29: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

29

chromic catgut memiliki kekuatan selama 28 hari. Namun,

kedua jenis benang ini dapat menghasilkan reaksi jaringan.

Benang absorbable sintetis terdiri atas vicryl

(polygactin) dan Dexon (polyclycalic acid) yang merupakan

benang multifilamen. Benang ini berukuran lebih panjang

dari catgut dan memiliki sedikit reaksi jaringan. Penggunaan

utamanya adalah untuk jahitan subkutikuler yang tidak perlu

diremove. Selain itu, juga dapat digunakan untuk jahitan

dalam pada penutupan luka dan mengikat pembuluh darah

(hemostasis).

Terdapat dua sistem dalam mengatur penebalan benang,

yakni dengan sistem metrik dan sistem tradisional.

Penomoran sistem metrik sesuai dengan diameter benang

dalam per-sepuluh milimeter. Misalnya, benang dengan

ukuran 2 berarti memiliki diameter 0.2 mm. Sistem tradisional

kurang rasional namun banyak yang menggunakannya.

Ketebalan benang disebutkan menggunakan nilai nol

misalnya 3/0, 4/0, 6/0 dan seterusnya. Paling besar nilainya,

ketebalannya semakin kecil. 6/0 merupakan nomor dengan

diameter paling halus yang tebalnya seperti rambut,

digunakan pada wajah dan anak-anak. 3/0 adalah ukuran

yang paling tebal yang biasa digunakan pada sebagian

besar bedah minor. Khususnya untuk kulit yang keras (kulit

bahu). 4/0 merupakan nilai pertengahan yang juga sering

digunakan.

Dalam suatu paket jahitan, terdapat semua informasi

mengenai benang dan needlenya secara lengkap di cover

paketnya. Setiap paket jahitan memiliki dua bagian luar,

pertama yang terbuat dari kertas kuat yang mengikat pada

cover transaparan. Paket jahitan ini dijamin dalam keadaan

steril sampai covernya terbuka. Oleh karena itu, saat

membuka paket, simpan ke dalam wadah steril. Bagian kedua

Page 30: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

30

yakni amplop yang terbuat dari kertas perak yang dibasahi

pada satu sisinya. Basahan ini memudahkan paket jahitan

dipisahkan dari kertas tersebut. Kemudian dengan

menggunakan needle-holder, angkat needle tersebut dari

lilitannya dan luruskan secara hati-hati. Kemudian, gunakan

untuk tindakan penjahitan.

Rekomendasi bahan jahitan yang dapat digunakan

adalah monofilamen prolene atau Ethilon 1,5 metrik

(4/0) untuk jahitan interuptus pada semua

bagian. Monofilamen prolene atau ethilon 2 metrik (3/0) untuk

jahitan subkutikuler non-absorbable. Juga dapat digunakan

untuk jahitan interuptus pada kulit yang keras misalnya

pada bahu. Vicryl 2 metrik (3/0) digunakan pada jahitan

subkutikuler yang absorbable dan jahitan dalam

hemostasis. Vicryl 1,5 metrik (4/0) digunakan untuk jahitan

subkutikuler jaringan halus atau jahitan dalam. Prolene atau

Ethilon 0,7 (6/0) untuk jahitan halus pada muka dan pada

anak-anak.

9. Needle bedah

Saat ini bentuk needle bedah yang digunakan oleh

sebagian besar orang adalah jenis atraumatik yang terdiri

atas sebuah lubang pada ujungnya yang merupakan tempat

insersi benang. Benang akan mengikuti jalur needle tanpa

menimbulkan kerusakan jaringan (trauma). Pada needle

model lama memiliki mata dan loop pada benangnya

sehingga dapat menimbulkan trauma. Needle memiliki bagian

dasar yang sama, meskipun bentuknya beragam. Setiap

bagian memiliki ujung, yakni bagian body dan bagian lubang

tempat insersi benang. Sebagian besar needle berbentuk

kurva dengan ukuran ¼, 5/8, ½ dan 3/8 lingkaran. Hal ini

menyebabkan needle memiliki range untuk bertemu dengan

jahitan lainnya yang dibutuhkan. Ada juga bentuk needle

Page 31: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

31

yang lurus namun jarang digunakan pada bedah minor.

Needle yang berbentuk setengah lingkaran datar digunakan

untuk memudahkan penggunaannya dengan needle holder.

4. Perawatan Sesudah Operasi

Sesudah pasien dioperasi, harus diusahakan keadaan pasien

pulih kembali seperti semula. Selesai dioperasi, pasien harus segera

diangkat dan dipindahkan ke “recovery room”. Sewaktu mengangkat

pasien, harus diperhatikan luka operasi.

Pasien yang dioperasi leher nya, harus dijaga agara kepala dan

badan diangkat serentak, sehingga ridak merenggangkan luka

jahitan. Pada operasi ginjal diusahakan agar tidak mengangkat dari

sisi jahitan luka.

Harus pula diingat bahwa memindahkan pasien dari sikap

litotomia menjadi sikap horizontal, dari sikap miring ke terlentang,

dari tengkurap ke terlentang dapat menimbulkan hipotensi, sehingga

perubahan sikap yang lama harus dilakukan secara perlahan-lahan

dan hati-hati.

Memindahkan pasien dari kamar bedah merupakan tanggung

jawab ahli bius dibantu oleh perawat bedah. Rumah sakit yang

mempunyai ICU (Intensive Care Unit) akan merawat pasien yang

membutuhkan perawatan khusus di ICU. Pasien pasca bedah yang

telah keluar dari “recovery room”, tetapi masih memerlukan

perawatan khusus lebih lanjut, dapat dimasukkan ke ICU. Semua alat

yang diperlukan harus berada di ICU, misalnya tabung oksigen,

laringoskopi, trakheostomi set, kateter, pompa penyedot, tensimeter,

stetoskop, standar infus set, plasma ekspander, peralatan cardiac

arrest, defibrillator, turniket, obat-obatan yang perlu untuk

mengatasi keadaan darurat.

Tempat tidur pasien dalam “recovery room” harus mudah

dipindahkan, enak, dan aman dipakai.

Page 32: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

32

Seorang perawat dikamar bedah wajib mengetahui operasi apa

yang akan dilakukan pasien, mengetahui kesulitan apa yang terjadi

selama operasi, dan apakah ada tanda-tanda keganasan. Perawat

perlu mengetahui keadaan pasien sebelum dan pada saat operasi,

serta komplikasi apa yang timbul selama operasi.

5. Ruang Pemulihan

“Recovery room” adalah suatu ruangan yang terletak didekat

kamar bedah, dekat dengan perawat bedah, ahli anestesia dan ahli

bedah sendiri, sehingga bila timbul keadaan gawat pasca bedah,

pasien segera dapat diberikan pertolongan.

Selama belum sadar betul, pasien dibiarkan tetap tinggal di

“recovery room”. Pasien sehabis operasi, harus diberikan perawatan

sebaik-baiknya dan dirawat oleh perawat yang ahli dan

berpengalaman.

Ruang pemulihan hendaknya diatur agar selalu bersih, tenang,

dan alat-alat yang tidak berguna disingkirkan. Sebaiknya semua alat

yang diperlukan harus berada di “recovery room”. Peredaran udara

harus lancar dan suhu kamar harus sejuk. Di daerah panas dipasang

AC.

Bila pengaruh obat bius sudah tidak berbahaya lagi, tekanan

darah sudah bagus dan mantap, pernapasan lancar dan kesadaran

sudah cukup, barulah pasien dipindahkan ke kamar semula.

6. Perawatan Pasien Pasca Bedah

Untuk mengurangi perasaan sakit, dapat diberi suntikan

analgesik sesuai dengan perintah dokter. Jelaskan pada pasien

bahwa sakit luka akan berkurang setelah 24 jam. Untuk mengurangi

perasaan nyeri, lakukanlah usaha sebagai berikut:

1. Ubah sikap.

Page 33: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

33

Beri tambahan bantal dan ganjallah pinggang pasien dengan

bantal.

2. Napas dalam-dalam.

Untuk mencegah komplikasi paru-paru akibat pembiusan,

suruhlah pasien menarik napas dalam-dalam. Bila pasien

merasakan ada lendir yang menyumbat tenggorokannya,

suruhlah ia batuk agar lendir dapat keluar.

3. Cuci muka dan tangan pasien.

Mencuci muka dan tangan pasien akan menyejukan

perasaan pasien yang baru dioperasi.

4. Basahi bibir.

Bila pasien belum diizinkan minum, basahilah bibir pasien

denga kapas basah.

5. Gosok pinggang pasien dengan alkohol atau odokolonye

(eau de cologne).

Pinggang dan tungkai bila diolesi dengan alcohol atau

odokolonye akan terasa enak.

6. Bila pasien sudah flatus, berilah minum sesendok air putih.

7. Buang air kecil.

Pada umunya operasi di daerah perut and operasi

kebidanan, setelah 8-10 jam pasien disuruh buang air kecil

sendiri. Usahakan agar pasien buang air kecil sendiri. Bila

perlu, siram dengan air dingin, kompres hangat, atau

mengubah sikap tidur pasien. Seandainya semua usaha itu

gagal dan pasien sudah merasa kesakitan karena kandung

kemihnya penuh, barulah dilakukan kateterisasi urin. Semua

air seni yang keluar harus diukur jumlahnya.

8. Buang air besar.

Setiap buang air besar haru dicatat. Bila pasien tidak buang

air besar selama dua hari, perlu dilakukan klisma dengan

gliserin hangat. Jangan diberi obat pencuci perut, terutama

pada pasien pascalaparatomi.

Page 34: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

34

9. Sikap tidur pasien

Sikap tidur pasien perlu diperhatikan agar tidak terjadi

komplikasi: paru-paru yang tidak dapat berkembang dengan

baik dapat menimbulkan pneumonia; pantat yang tidak

bergera-gerak dapat menimbulkan decubitus karena

peredaran darah terganggu. Semuanya itu dapat

memperlambat penyembuhan operasi.

7. Perawatan Luka Operasi

Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat

diserap oleh kasa tadi. Dengan menutup luka itu kita mencegah

terjadinya kontaminasi (kemasukan kuman), tersenggol, dan memberi

kepercayaan kepada pasien bahwa luka nya diperhatikan oleh

perawat.

Sehabis operasi, luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa

steril selagi di kamar bedah dan biasanya tidak perlu diganti sampai

diangkat jahitanya, kecuali bila terjadi pendarahan sampai darahnya

menembus ke atas kasa, barulah diganti kasa steril, atau bila ada

perintah khusus dari dokter nya. Sewaktu mengganti kasa lama

dengan yang baru, perhatikan betul agar dikerjakan secara asepsis

supaya tidak terjadi infeksi. Mengganti perban sebaiknya dilakukan

sebelum jam kunjungan keluarga. Bila ada gordyn itu. Pada pasien

yang lukanya berbau, membersihkan dan mengganti perban

sebaiknya dilakukan dikamar balut agar teman sekamarnya tidak

terganggu.

Jahitan luka biasanya dibuka setengahnya pada hari kelima dan

sisanya dibuka pada hari keenam dan ketujuh, kecuali bila ada

perintah lain dari dokternya.

Page 35: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

35

Plester harus dilepaskan sejajar dengan kulit, jangan diangkat

tegak lurus agar pasien tidak merasa sakit.

Gambar 27. Cara melepaskan plester

Dapat pula dipakai cairan pelepas plester, misalnya bensin

iodin, dan cairan gas semprot. Plester dan kasa lama diangkat

dengan pinset (tidak usah steril) lalu dibuang ke dalam kantong

untuk dibakar supaya tidak terjadi penularan kuman.

Perlengkapan untuk mengganti perban terdiri dari: pinset,

plester, cairan pelepas plester, cairan antiseptik, bengkok, kantong

untuk membuang kasa dan plester kotor.

Bila setelah tiba waktunya membuka jahitan, bersihkanlah luka

dan kulit sekitarnya dengan antiseptik, peganglah ujung benang

dengan pinset anatomis steril, lalu guntinglah benang itu tepat di

bawah ikatan, sehingga barang yang berada diluar tidak masuk ke

dalam luka sewaktu benang diangkat.

Page 36: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

36

8. Anestesi

Anestesi atau pembiusan merupakan pembantu operasi yang

sangat karena tanpa anestesi tidaklah mungkin dilakukan

pembedahan. Obat yang dipakai merupakan zat kimia untuk menekan

pekerjaan jaringan saraf secara sentral, memblok atau bekerja pada

ujung saraf.

Ada dua macam jenis anestesi, yaitu anestesi umum dan anestesi

local (setempat). Anestesi lokal dibedakan lagi menurut tempat

diberikan obat anestesi, yaitu anestesi spinal, epirudal,

paravertebral, blok cabang saraf, infiltrasi, dan permukaan kulit

(topical).

Setiap anestesi harus memenuhi dua syarat, yaitu

menghilangkan reflex dan melemaskan otot, sedangkan pada bius

umum diperlukan pula untuk menghilangkan kesadaran.

a. Anestesi Umum

Obat untuk anestesi umum ada yang berupa gas dan ada

pula yang berupa cairan. Cara pemberian obat bius dapat

dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui isapan gas obat

bius, menyuntikkan cairan obat bius, dan memasukkan obat

bius kedalam rectum.

Anestesi umum menyebabkan mati rasa karena obat ini

masuk ke jaringan otak dengan tekanan setempat yang

tinggi. Selama masa induksi harus diberi cukup banyak obat

bius karena sebagian obat bius beredar pula didalam darah

dan tinggal didalam jaringan tubuh. Setelah semua jaringan

badan terisi dan jenuh dengan obat bius, barulah pemberian

obat bius diperkecil agar keadaan pembiusan dapat

dipertahankan.

Page 37: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

37

Tahapan Pembiusan

Kedalamanan anestesi umum dibagi dalam empat

stadium, yaitu stadium I, II, III, dan IV, sedangkan stadium III

dibagi empat plein (plane).

Stadium I atau Stadium Analgesia

Stadium ini tercapai pada saat pasien menghirup

obat bius. Saat ini pasien merasa pusing seakan-akan

melayang, telinga merasa berdenging, dan bising.

Kesadaran pasien masih ada, tetapi tidak dapat berbuat

apa-apa, merasa seakan-akan semua badan lumpuh.

Pasien menjadi sangat perasa terhadap suara, suara

bisikan terdengar sebagai teriakan yang menggaum.

Karena itu, petugas dikamar tidak boleh berbicara

sewaktu pasien berada dalam stadium I.

Tanda-tanda stadium I: ukuran pupil masih seperti

biasa, refleks pupil masih kuat, pernapasannya tidak

teratur, nadi tidak teratur sedangkan tekanan darah tidak

berubah, seperti biasa.

Bila obat bius diteruskan pemberiannya, pasien

masuk ke stadium II.

Stadium II atau Stadium Delirium

Pada stadium ini pasien berontak, ia berusaha

melepaskan kap bius, berteriak, berbicara, menyanyi,

ketawa, atau menangis. Keadaan berontak ini dapat

dicegah bila sebelum pembiusan dimulai, sudah

diberikan pengertian dan diminta pada paisen agar

menghirup obat bius sedalam-dalamnya dan bila

mencium bau yang tidak enak, jangan berontak.

Pada stadium ini ahli bius harus selalu didampingi

perawat agar dapat menahan pasien bila ia berontak.

Operasi belum boleh dimulai. Ukuran pupil seperti biasa

Page 38: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

38

atau agak membesar, refleks pupil kuat, pernapasannya

tidak teratur, nadi tidak teratur dan cepat, tekanan darah

meninggi. Pemberian obat selanjutnya menyebabkan

pasien masuk ke dalam stadium III.

Stadium III atau Stadium Pembedahan

Pada stadium ini telah tercapai mati rasa sempurna.

Semua refleks permukaan telah hilang, tetapi refleks vital

seperti denyut jantung dan pernapasan seperti biasa.

Ukuran pupil mulai mengecil, tidak bergerak bila diberi

cahaya dan refleks bola mata tidak ada walaupun bulu

mata atau kornea mata disentuh. Pernapasan teratur dan

dalam. Denyut nadi agak lambat, tetapi mantap dan

tekanan darah normal. Stadium III ini Karena cukup lebar

dibagi lagi menjadi empat substadium atau tingkatan

yang disebut plein (plane).

Plein 1.

Tanda-tandanya: tegangan otot masih tetap biasa, sifat

pernapasan adalah pernapasan dada lebih besar dari

pernapasan perut, bola mata masih bergerak bila bulu

matanya disentuh atau diberi sinar lampu. Bila

pembiusan bertambah terus, maka pasien masuk ke

plein 2.

Plein 2.

Tanda-tandanya: tegangan otot menghilang dan bola

mata tidak bereaksi lagi terhadap sentuhan dan

cahaya, refleks pupil juga hilang, sifat pernapasan

adalah pernapasan dada sama dengan pernapasan

perut. Bila pembiusan ini bertambah terus, maka pasien

masuk ke plein 3.

Page 39: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

39

Plein 3.

Pada saat ini pernapasan tetap teratur tetapi dalam,

seakan-akan sedang tidur sangat nyenyak. Sifat

pernapasan adalah pernapasan perut lebih besar

daripada pernapasan dada karena otot-otot sela iga

telah kehilangan tegangan. Ukuran pupil membesar

sedikit, refleks kornea menghilang, nadi agak cepat dan

tekanan darah agak menurun. Operasi besar dilakukan

dalam plein 3 sebab semua refleks telah hilang dan

otot-otot sudah melemas. Pemberian obat bius mulai

dikurangi dan diberikan sekedar untuk

mempertahankan stadium III plein 3 saja. Bila

pembiusan ini ditambah lagi, maka pasien masuk

kedalam plein 4.

Plein 4.

Tanda-tandanya: semua otot dan semua refleks hilang,

termasuk otot sekat dada (diafragma), sehingga

pernapasan perut mulai terganggu and terlihat

inspirasi cepat dan tersendat-sendat, sedangkan

ekspirasi diperpanjang.

Stadium IV atau Stadium Keracunan

Pusat pernapasan terletak dibatang otak (medula

oblongata) menjadi lumpuh, sehingga pernapasan

berhenti sama sekali. Bila pembiusan segera tidak

dihentikan dan dibuat napas buatan, jantung pun akan

segera berhenti, disusul dengan kematian.

Page 40: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

40

Cara Pemberian Anestesi

Anestesi Isap

Obat yang dipakai adalah berupa cairan yang mudah

menguap.

Ada empat cara pemberian bius isap:

1. Open drop atau dengan cara meneteskan cairan bius kea

tap kap atau masker. Masker pembius ditutupkan pada

muka pasien. Diatas masker itu terdapat lubang yang

ditutupi dengan berlapis-lapis kain kasa. Obat bius

diteteskan di atas lapisan kain kasa lalu bercampur

dengan udara yang mengandung oksigen dan diisap

oleh pasien.

2. Cara insulfasi (insufflation technique), yaitu dengan

peniupan gas bius dan udara ke dalam hidung.

Campuran gas dengan udara/oksigen ditiupkan melalui

pipa, sehingga masuk kedalam kerongkongan lalu ke

trakea dan paru-paru.

3. Cara semi tertutup (semi closed method), yaitu dengan

cara campuran gas bius dan oksigen diisap dari kap

(masker) yang berhubungan dengan balon pernapasan.

Udara yang keluar dari paru-paru dibuang melalui klep

yang ada diatas kap. Sedangkan klep lain yang berada

didepan balon pernapasan menjaga agar udara dari

paru-paru tidak masung kedalam tabung gas bius

maupun tabung oksigen.

4. Cara tertutup (close method), yaitu udara yang keluar

dari paru-paru (udara bekas bernapas) diisap kembali,

setelah melalui filter yang mengandung garam kapur

untuk menangkap karbon oksida. Cara ini pun

memerlukan oksigen.

Page 41: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

41

Obat-obat Bius Isap

Nitrogen Oksida (N20)

N2O dikenal juga sebagai gas ketawa atau dalam bahasa

inggris sebagai “gas”. Sifat N2O, tidak merangsang, tidak

mudah terbakar, berbau manis, mempunyai daya bius ringan,

sehingga hanya dapat sampai pada stadium III plein 1.

Eter

Eter adlah etil eter, merupakan cairan yang mudah menguap,

mudah terbakar, dan daya biusnya kuat sekali. Uap eter lebih

kuat daripada udara, pedas merangsang dan menimbulkan

batuk bila disedot. Eter sangat baik untuk operasi besar,

keamanannya cukup terjamin dan harganya cukup murah.

Kerugiannya adalah masa induksi lama, karena sifat nya

yang pedas merangsang dan jaringan badan menyerap eter

cukup banyak. Eter lebih banyak diserap jaringan lemak,

maka dari itu, orang gemuk lebih lama masa induksinya.

Untuk menyadarkan kembali pasien yang dioperasi dengan

anestesi eter memerlukan waktu yang cukup lama karena

semua eter yang berada di jaringan harus keluar semua.

Klor Etil

Klor etil sangat mudah menguap, mudah terbakar, baunya

sedap, sehingga enak dan cepat diisap, mengakibatkan masa

induksi yang pendek.

Klor etil hanya dipakai untuk induksi, untuk mempersingkat

stadium I dan II, kemudian disambung dengan etil. Klor etil

biasanya dipakai dengan cara open drop. Klor etil dipakai

juga untuk insisi bisul.

Page 42: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

42

Floutane (Halotane)

Floutane adalah obat bius isap yang terkuat pada saat ini,

tidak mudah terbakar, dan tidak merangsang.

Trilene

Nama kimia nya triklor etina, tidak berwarna dan cairannya

berat. Dipakai dengan cara open door atau semi closed.

Masa induksinya lambat, hamper sama dengan eter. Trilena

tidak merangsang, tetapi menyebabkan banyak pengeluaran

ludah dan lendir. Trilena dipakai hanya untuk

menghilangkan perasaan dan tidak dipakai pada operasi

besar karena berbahaya. Sering dipakai untuk melakukan

kuret pada wanita abortus.

Anestesi Rektum

Tribrometanol (Avertin)

Avertin adalah golongan alkohol, tidak larut dalam air, tetapi

larut dalam amilena hidrat, sejenis alkohol juga. Avertin

yang berupa cairan itu dimasukkan kedalam rectum dan

dalam waktu 5 menit pasien menjadi tidak sadar, tetapi belum

dapat dilakukan operasi, karena refleks-refleks masih ada,

maka dari itu avertin dipakai hanya sebagai induksi

pembiusan dan harus disambung dengan obat bius atau

anestesi blok saraf. Avertin dipakai pula untuk mengatasi

kejang-kejang seperti yang terjadi pada tetanus dan rabies.

Page 43: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

43

Anestesi Suntikan Melalui Vena

Anestesi umum dapat juga ditimbulkan melalui suntikan.

Obat yang dipakai biasanya tergolong barbiturate yang

bekerja sangat cepat yaitu sodium pentotal (tiopental).

Pentotal bila disuntikan ke dalam vena dalam waktu 30 detik

saja sudah menimbulkan keadaan bius. Masa induksinya

hamper tidak terasa, jadi tidak nampak stadium I dan II,

seakan-akan masuk stadium III. Kerugiannya adalah keadaan

bius yang ditimbulkan hanya sebentar saja, sehingga

operasi yang memerlukan waktu lama, biasanya disambung

dengan pembiusan isap (eter) atau anestesi spinal/lumbal.

b. Anestesi Regionsal

Bila keadaan pasien tidak memungkinkan dilakukan anestesi

umum, maka dilakukan anestesi regional. Anestesi regional

dapat dilakukan melalui:

1. Anestesi lumbal, yaitu dengan menyuntik obat anestesi

melalui fungsi lumbal ke dalam rongga subaraknoid,

obat yang akan masuk itu mematirasakan akar saraf

yang keluar dari sumsum tulang belakang.

2. Anestesi peridural, yaitu obat dimasukkan melalui

pungsi lumbal, tetapi jarum suntik dimasukkan sampai

kerongga peridural saja.

3. Anestesi blok, yaitu obat langsung disuntikkan ke

sekitar saraf atau ke pangkal saraf.

4. Anestesi infiltrasi, yaitu dengan menyuntikan obat

anestesi langsung ke ujung-ujung saraf dibawah kulit.

5. Anestesi topikal, yaitu dengan mengoleskan atau

menyemprotkan obat anestesi ke permukaan kulit atau

Page 44: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

44

selaput lendir, sehingga ujung-ujung saraf dibawahnya

menjadi mati rasa.

Page 45: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

45

BAB II K3 PENUNJANG MEDIK RUMAH

SAKIT BEDAH

A. MANAJEMEN KESELAMATAN KESEHATAN KERJA (K3) DI RUMAH

SAKIT

Pengantar

Pelayanan rumah sakit sebagai industri jasa merupakan

bentuk upaya pelayanan kesehatan yang bersifat sosio ekonomi,

yaitu suatu usaha yang bersifat social namun diusahakan agar biasa

memperoleh surplus dengan cara pengelolaan yang

professional. Rumah sakit merupakan institusi yang kompleks dan

sifat organisasi nya majemuk, maka perlu pole manajemen yang jelas

dan majemuk

Survei nasional di 2.600 rumah sakit di USA rata-rata tiap

rumah sakit 68 karyawan cedera dan 6 orang sakit (NIOSH 1974-

1976). Laporan NIOSH 1985 terdapat 159 zat yang bersifat iritan untuk

kulit dan mata, serta 135 bahan kimia carcinogen, teratogenic,

mutagenic yang dipergunakan di rumah sakit Califorbia Departement

of Industrial Relations menuliskan rata – rata kecelakaan di rumah

sakit 16,.8 hari kerja yang hilang per 100 karyawan karena

kecelakaan. Karyawan yang sering mengalami cedera antara lain :

perawat, karyawan dapur, pemeliharaan alat, laundry, clening

service dan teknisi.

Resiko bahaya dalam kegiatan rumah sakit dalam aspek

kesehatan kerja berasal dari sarana kegiatan di poliklinik,

laboratorium, kamar roentgen dan sebagainya. Dalam GBHN 1993,

ditegaskan bahwa perlindungan tenaga kerja meliputi hak

keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta jaminan social tenaga

kerja yang mencakup jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan

Page 46: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

46

kesehatan, jaminan terhadap kematian, serta syarat-syarat kerja

klainnya. Amanat GBHN ini menuntut dukungan dan komitmen untuk

perwujudnya melalui penerapan K3.

Upaya K3 sendiri sudah diperkenalkan dengan mengacu pada

peraturan perundangan yang diterbitkan sebagai landasannya.

Disamping UU No. 1/1970 tentang keselamatan kerja, upaya K3 telah

dimantapkan dengan UU No. 23/1992 tentang kesehatan yang

eksplisif mengatur kesehatan kerja.

Dalam perundangan tersebut ditegaskan bahwa setiap tempat

kerja wajib diselengarakan upaya keselamatan dan kesehatan Hal itu

juga mengatur sanksi hukum bila terjadi pelangaran terhadap

ketentuan tersebut. UU No. 23/ 1992 tentang kesehatan yang

menyatakan bahwa tempat kerja wajib menyelengarakan upaya

kesehatan kerja apabila tempat kerja tersebut memiliki resiko bahaya

kesehatan yaitu mudah terjangkitnya penyakit atau mempunyai

paling sedikit 10 karyawan. Rumah sakit wajib menerapkan Upaya

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit(K3RS) Upaya

tersebut mendesak mengingat beberapa perkembangan.

Perkembangan tersebut antara lain dengan meningkatnya

pendayagunaan obat atau alayt dengan resiko bahaya kesehatan

tertentu untuk tindakan diagnosa, terapi maupun rehabilitasi

kesehatan. Bahkan masuknya IPTEK cangih menuntut tenaga kerja

ahli dan terampil. Hal ini tidak dapat dipenuhi dengan resiko terjadi

kecelakaan kerja.

Program Ocuppational Safety Health and Environment

(OSHE) bertujuan melindungi karyawan, pimpinan, dan masyarakat

dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja,

menjaga agar alat dan bahan yang dipergunakan dalam proses

kegiatan yang hasilnya dapat dipakai dan dimanfaatkan secara

benar, efisien dan produktif. Upaya OSHE sangat besar peranannya

dalam meningkatkan produktivitas terutama mencegah segala bentuk

kerugian akibat accident. Masalah penyebab kecelakaan yang paling

Page 47: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

47

besar yaitu manusia karena kurang pengetahuan dan keterampilan,

kurangnya kesadaran direksi dan karyawan melaksanakan K3.

Penyebab lain adalah kondisi lingkungan seperti dari mesin,

peralatan, pesawat dan sebagainya.

Berikut adalah APD (Alat Pelindung Diri) dokter secara

umum dan yang paling standar haruslah memakai sarung tangan

steril, penutup (masker), pakaian steril, serta penutup rambut.

Gambar 28. Pakaian Dokter Bedah

1. Resiko Bahaya Potensial Di Rumah Sakit

Penyakit akibat kerja di sarana kesehatan umumnya

berhubungan dengan berbagai factor bioplogi (kuman

pathogen; pyogenic, col;li, bacilli, staphylococci yang

umumnya berasal dari pasien). Begitu besar resiko yang

dihadapi apabila masalah sanitasi, lingkungan kurang

diperhatikan.Hari p[erawatan pasien meningkat 5-10 hari.

Tenaga medis RS mempunyai resiko terkena infeksi 2-3 kali

lebih besar daripada yang berpraktek pribadi. Kerugian akibat

penambahan hari perawat dan pengobatan dapat mencapai 2

milyar US, Kerugian begitu besr untuk rumah sakit

Indo0nesia, dimana kondisi sanitasi dan K3RS yang umumnya

masih begitu buruk

Page 48: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

48

Gambar 29. Personal Protective Equipment

Faktor kimia (bahan kimia dan obat-obatan, antibiotic,

cyostatika, narkotik dan lain2 pemaparan dengan dosis kecil

namun terus-menerus sperti antiseptic pada kulit dan gas

anestesi pada hati). Bagian pemeliharaan se dengan solvent,

asbes, listrik. Karyawan dagian cleaning service terpanjan

deterjen, disefektan. Teknisi Radiologi potrensial terpanjan

radiasi dari sinar x dan radioaktif isotop DLL.

Rumah sakit merupakan penghasil sampah medis dan

klinis terbesar, yang kemungkinan mengandung

mikroorganisme pathogen, parasit bahan kimia beracun

danparasit. Hal oini dapat membahayakan dan menimbulkan

gangguan kesehatan baik pada petugas, pasien maupun

pengunjung rumah sakit. Pengelolaan yang tidak baik dapat

menjadi sumber pencemaran terhadap lingkungan yang pada

akhir mengangu kesehatan masyarakat.

Peraturan pemerintah Ri No 19/1994 menetapkan bahwa

limbah dalam kegiatan RS dan laboratorium termasuk dalam

limbah V3 dan sumber spesifik dari limbah diberi kode

Page 49: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

49

D227. Sesuai dengan peraturan Permenkes No. 986

Menkes/Per/XI/1992, tanggal 14 bovember tentang persyaratab

kesehatan lingkungan rumah sakit.

2. Pengendalian Penyakit Dan Kecelakaan Akibat Kerja Di

Rumah Sakit Atau Sarana Kesehatan

Tahapan pencegahan Penyakit Akibat Kerja (PAK) Dan

Kecelakaan Akibat Kerja (KAK), yakni pencegahan primer,

meliputi pengenalan Hazard (potensi bahaya), pengendalian

panjanan yang terdiri dari monitoring kerja dan biologi,

pengendalian pekerja yang rentan pengendalian teknik,

administrasi. Pencegahan sekunder meliputi screening

penyakit, pemeriksaan kesehatan berkakla, pemeriksaan bagi

pekerja yang beroptensi.

Pelayanan kesehatan kerja meliputi tahapan pencegahan

tersier meliputi upaya disability limitation dan rehabilitasi.

Gambar 30. PPE Patient Room

Dengan kata lain pengendalian PAK dan KAK di RS

meliputi :

1. Legislatif kontrol seperti peraturan perundangan,

persyaratan-persyaratan teknis dan lain-lain.

Page 50: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

50

2. Administratif kontrol seperti seleksi karyawan,

pengaturan jam kerja dan lain-lain.

3. Engenering Kontrol seperti substusi/isolasi/perbaikan

system dan lain-lain.

4. Medical Kontrol.

3. Dasar Hukum Manajemen Keselamatan Kerja Di Rumah Sakit

Beberapa standar hukum yang digunakan sebagai landasan ;

1. Undang-undang No. 14/1969 tentang Ketentuan Pokok

tenaga kerja

2. Undang-undang No. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja

3. Undang-undang No. 23/1992 tentang Kesehatan.

4. Permenkes RI No 986/92 dan kep Dirjen PPM dan PLP

No HK.00.06.6.598 tentang kesehatan Lingkungan Rs

5. Permenkes RI No 472 / menkes/ par/v/96 tentang

pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan

6. SK Menkes No. 351/Menkes/SK/III/2003 tanggal 17 Maret

2003 tentang komite kesehatan dan Keselamatan Kerja

Sektor Kesehatan.

7. SKB No. 147 A/Yanmed/Insmed/II/1992 Kep.44/BW/92

tentang pelaksanaan.

4. Pelaksanaan Manajemen K3 Rumah Sakit

Pelaksanaan menejemen Hiperkes dan K3 RS berupaya

meminimalisasi kerugian yang timbul akibat PAK dan KAK,

perlindungan tenaga serta pemenuhan peraturan

perundangan K3 yang berlaku. Fungsi perencanaan dalam

menejemen Hiperkes dan K3 RS , merupakan bagian integral

dari perncanaan menejamen perusahaan secara menyeluruh ,

yang dilandasi oleh komitmen tertulis atau kesepakatan

Page 51: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

51

menejemen puncak. Fungsi pengawasan atau pengendalian

didalam menejemen Hiperkes dan K3 RS merupakan fungsi

untuk mengetahui sejauh mana pekerja dan pengawas atau

penyella mematuhi kebijakan K3RS yang telah di tetapkan

oleh pimpinan serta dijadikan dasar.

B. INSTALASI BEDAH SENTRAL

INSTALASI BEDAH SENTRAL

Desain Fisik

Untuk mendesain suatu Instalasi Bedah Sentral, diperlukan persyaratan-

persyaratan medis, sarana, prasarana, pelayanan, ketenagaan dan

peralatan yang ketat mengacu pada: Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang “PERSYARATAN

KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT” dan “PEDOMAN

PENYELENGGARAAN PELAYANAN RUMAH SAKIT”

oleh Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan tahun 2008

Secara umum, persyaratan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Konsep dasar dalam membuat Lay-Out kamar bedah adalah:

1. Terdiri dari ruang operasi untuk tindakan bedah elektif dan cito.

2. Lingkungan yang aman dan tenang, tidak terganggu oleh kebisingan

dari luar.

3. Mempunyai akses yang mudah dicapai, baik dari ruang rawat inap

maupun rawat jalan dan dari ruangan-ruangan khusus seperti: Instalasi

Gawat Darurat, I.C.U dan I.C.C.U.

Page 52: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

52

4. Alur/pintu masuk keluar staff medis (dokter, perawat, mahasiswa

kedokteran) dan non-medis (administrasi, pekarya) terpisah dari

alur/pintu masuk keluar pasien.

5. Alur/jalan masuk barang-barang steril terpisah dari jalan keluar

barang-barang/pakaian kotor.

6. Tersedia “Spoelhock” (kamar cuci bilas) alat-alat dan instrument bekas

operasi dengan saluran pembuangan yang terpisah dengan saluran

pembuangan air kotor.

7. Kamar-kamar operasi harus dipisahkan menjadi:

a) Daerah/Area Bebas

Adalah area diluar bangunan Instalasi Bedah Sentral tempat

pengunjung/pasien berlalu-lalang, termasuk koridor-koridor Rumah

Sakit.

b) Daerah/Area Semi Steril

Daerah transisi dari koridor Rumah Sakit ke kamar operasi dan

juga merupakan area penerimaan pasien yang akan dilakukan

operasi dimana staf/personil kamar operasi harus sudah

menggunakan pakaian khusus.

Daerah bebas dan daerah semi steril dibatasi dengan garis

berwarna hijau yang dapat terlihat jelas dan tidak mudah hilang atau

terhapus.

c) Daerah/Area Steril

Adalah area dimana prosedur steril sudah diperlakukan bagi

staf/personil yang akan melakukan tindakan operasi, seperti

memakai pakaian khusus dan sarung tangan yang steril, topi dan

masker.

Daerah semi steril dan daerah steril dibatasi oleh oleh garis

berwarna merah yang tidak mudah hilang atau terhapus.

8. Ukuran kamar operasi minimal 6x6 m2, tinggi minimal 3 meter, lebar

pintu minimal 1,2 m dengan tinggi minimal 2,1 m. 1/3 bagian pintu harus

dari kaca tembus pandang. Untuk kamar operasi khusus, luas ruangan

Page 53: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

53

dapat disesuaikan dengan banyaknya peralatan dan jumlah personil

yang terlibat didalamnya.

Syarat-syarat kamar operasi yang sesuai standar pelayanan medis

yang ditetapkan adalah sebagai berikut:

a) Pintu kamar operasi harus selalu tertutup selama operasi, bisa

dengan sistem manual atau sistem elektrik secara “auto closed”.

b) Ventilasi harus terkontrol melalui filter mikroorganisme 2 layer

dengan filter terakhir berupa“High Efficiency Particulate Air (HEPA)

Filter” dan terpisah dari ruangan lainnya. Outlet pendingin ruangan

minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk

kedalam kamar operasi melalui alat yang disebut “Ultraclean

Laminar Airflow” sehingga tidak terjadi akumulasi gas anestesi.

c) Tidak dibenarkan adanya hubungan langsung kamar operasi dengan

udara luar, harus ada ruang antara.

d) Perawatan sistem ventilasi di kamar operasi harus terjadwal dan

secara rutin dibersihkan, atau diganti baru jika sudah tidak

memenuhi syarat.

e) Tekanan positif dalam kamar operasi yang harus lebih tinggi dari

koridor,minimal lebih tinggi 0,10 mBar dengan frekuensi pertukaran

udara sebesar 20-25 kali per jam dengan udara yang masuk melalui

lubang di langit-langit dan udara dikeluarkan melalui bagian bawah

dinding dekat lantai.

f) Pengaturan suhu kamar operasi dengan system AC sentral, suhu

ideal antara 19-24 derajat celcius dengan kelembaban 45-60 % dan

harus dijaga kestabilannya. Jika menggunakan bahan anestesi yang

mudah terbakar, maka kelembaban maksimum adalah 50 %.

g) Tingkat kebisingan maksimal 45 dB.

h) Pencahayaan yang cukup,untuk kamar operasi 300-500 Lux dan

untuk meja operasi adalah10.000-20.000 Lux.

i) Lampu operasi terpasang kokoh dan seimbang pada gelagar

(gantungan) dengan profil baja double INP 20, tinggi yang sesuai,

cahaya sejuk, tidak panas dan tidak menimbulkan bayangan.

Page 54: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

54

j) Penerangan alam dapat menggunakan jendela mati yang tidak

tembus pandang tapi tembus cahaya dengan ketinggian 2 meter dari

lantai.

k) Lantai,dinding dan langit-langit sebaiknya dari bahan yang kuat,

aman, kedap air dan tidak licin, seperti vinyl dengan sudut-sudut

yang berbentuk konus/lengkung sehingga mudah dibersihkan dan

tidak ada kotoran yang tersembunyi.

l) Harus ada jendela kaca mati tembus pandang di dinding ruang

operasi yang menghadap padascrub room tempat ahli bedah

mencuci tangan.

m) Setiap 2 kamar operasi dilayani oleh 1 scrub room.

9. Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai

atau di atas langit-langit.

10. Disediakan pintu keluar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang

tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung.

11. Ruang administrasi.

� Penjadwalan tindakan operasi.

� Pendataan pasien yang akan dilakukan tindakan operasi.

� Pencatatan bahan/alat kesehatan yang dipegunakan selama operasi.

� Laporan ke bagian keuangan mengenai jumlah yang harus dibayar.

� Laporan bulanan mengenai seluruh kegiatan kamar operasi.

12. Ruang penerimaan pasien.

� Serah terima pasien antara perawat ruangan dan perawat kamar

operasi.

� Cek kelengkapan/identifikasi pasien, apakah sesuai dengan jadwal

operasi, termasuk hasil-hasil pemeriksaan penunjang seperti:

laboratorium, x-ray, USG/CT-scan dan izin operasi/informed

concern.

� Pasien diganti dengan pakaian kamar operasi.

13. Ruang tunggu.

Merupakan ruang tunggu bagi keluarga pasien yang sedang melakukan

tindakan operasi, dilengkapi dengan sarana informasi dan komunikasi

Page 55: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

55

antara perawat/dokter kamar operasi dengan keluarga pasien mengenai

kelangsungan tindakan operasi dan keadaan-keadaan tertentu mengenai

kondisi pasien yang sedang di operasi. Juga disediakan sarana hiburan

berupa televisi, musik dan bahan bacaan seperti surat kabar dan

majalah.

14. Ruang rapat dan kepustakaan.

Untuk effisiensi ruangan dengan “space” yang terbatas, dapat di

multifungsikan sebagai ruang istirahat/ruang tunggu dokter sebelum

dan sesudah melaksanakan tindakan operasi atau menunggu jadwal

operasi berikutnya. Di ruangan ini, selain disediakan meja rapat yang

disesuaikan dengan jumlah staf yang ada dan rak/lemari buku, juga sofa

untuk istirahat dokter dan “pantry” sederhana untuk memenuhi

kebutuhan dokter dalam hal makanan dan minuman.

15. Ruang kepala Instalasi.

Ukuran minimal 3x4 m2 yang dilengkapi dengan meja tulis, rak berkas

surat-surat penting dan sofa tamu. Ruangan ini selain untuk kegiatan

kepala instalasi, juga dipergunakan untuk ruang rapat terbatas dan

ruang menerima tamu.

16. Ruang istirahat dokter/perawat.

Merupakan 2 ruang terpisah dengan “pantry” diantaranya. Dilengkapi

dengan sofa untuk istirahat yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah

dokter atau perawat yang berdinas tiap “shift”. Sebaiknya juga

disediakan kamar jaga untuk perawat “in-call” yang dinas “shift” malam

hari untuk beristirahat jika tidak ada operasi “cito”.

17. Ruang mahasiswa kedokteran.

Ukuran disesuaikan dengan jumlah mahasiswa kedokteran yang sedang

melakukan kepaniteraan pada saat yang bersamaan, dilengkapi dengan

meja panjang dan kursi dengan jumlah yang sesuai, white board danin-

focus screen untuk presentasi.

Page 56: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

56

18. Ruang ganti baju dokter/perawat pria dan wanita.

Dilengkapi dengan lemari locker untuk penyimpanan pakaian dan

barang-barang pribadi lainnya tapi bukan barang berharga, juga toilet

yang dilengkapi kamar mandi.

19. Ruang pemulihan (Recovery Room).

Merupakan ruang pengawasan dan pemulihan setelah pasien

menjalankan tindakan operasi, dilengkapi dengan tirai

pemisah (screen) antar pasien, monitor tanda-tanda vital, D.C

shock, wall-outlet oksigen danlemari obat-obatan/infus untuk keadaan

darurat. Jumlah monitor dan wall-outlet oksigen disesuaikan

dengan jumlah kamar operasi dan jumlah operasi yang ada. Sebaiknya,

tiap pasien yang dalam proses pengawasan dan pemulihan dilengkapi

dengan 1 monitor dan 1 wall-outlet oksigen.

20. Ruang penyimpanan instrumen steril.

� Merupakan ruang/tempat penyimpanan set instrument yang telah di

sterilisasi.

� Dilengkapi dengan rak-rak stainless.

� Pengatur suhu dan kelembaban.

� Pintu ruangan harus selalu dalam keadaan tertutup.

� Set-set instrument yang tersusun dalam rak tidak boleh terkena sinar

matahari langsung atau jika ada jendela yang berhubungan dengan

ruang terbuka, sebaiknya ditutup dengan tirai yang kedap cahaya

dan panas.

� JIka dalam waktu 1 minggu set tersebut belum dipergunakan,

sebaiknya dilakukan pensterilan ulang.

21. Ruang set alat dan penyimpanan instrument.

Setelah dilakukan tindakan operasi, alat-alat dan instrument yang

dipakai, direndam dalam cairan antiseptic sebelum dicuci dan

dibersihkan dari sisa-sisa darah dan jaringan. Setelah bersih dan

kering, alat/instrument tersebut di set ulang diruangan ini sebelum

dikirim ke unit sterilisasi sentral (CSSD). Alat/instrument yang belum

Page 57: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

57

terpakai, disimpan dalam lemari kaca yang terkunci sesuai dengan

jenisnya untuk memudahkan pencarian jika suatu saat dibutuhkan.

22. Ruang penyimpanan barang kamar operasi.

Merupakan gudang tempat penyimpanan barang yang terpisah tapi

mempunyai akses langsung ke kamar operasi. Barang-barang tersebut

adalah sebagai sarana pendukung kegiatan kamar operasi seperti :

Brankar, tromol instrument/kassa, bantal dan barang-barang lain yang

berhubungan dengan kegiatan operasional kamar operasi. Ruang ini

dilengkapi dengan rak stainless steel yang berjarak dari lantai,

dilengkapi dengan ventilasi yang baik dan pencahayaan yang cukup.

23. Ruang obat/infus/alkes.

� Tempat penyimpanan obat-obatan, infus, alkes dan alat-alat yang

diperlukan yang berhubungan dengan tindakan operasi.

� Dilengkapi dengan system ventilasi yang baik dengan pengatur suhu

dan kelembaban.

� Rak-rak penyimpanan terbuat dari stainless steel yang berjarak dari

langit-langit dan lantai.

� Kulkas untuk tempat penyimpanan obat suntik atau obat lainnya

yang memerlukan suhu tertentu.

� Lemari kaca aluminium dengan kunci untuk tempat penyimpanan

obat golongan narkotik.

24. Ruang oksigen dan gas medis.

Cadangan tabung Oksigen dan sentralisasi gas medis (N2O) untuk kamar

operasi.

25. Ruang compressor suction.

Minimal 2 unit compressor yang dipakai bergantian untuk kamar

operasi, I.C.U dan I.C.C.U, kapasitasnya disesuaikan dengan kebutuhan.

26. Supply Air bersih.

Sumber air dari PAM yang yang telah memenuhi syarat baku mutu air

bersih, khusus untuk kamar operasi harus meliwati proses filtrasi dan

khusus untuk air cuci tangan operasi harus melalui “water sterilization

Page 58: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

58

unit” dengan UV (Ultra Violet) sebelum dialirkan ke keran-keran khusus

cuci tangan.

C. ANTISEPSIS DAN ASEPSIS

Ilmu bedah baru mulai dikenal di Eropa pada abad ke-19,

orang belum mengetahui adanya mikroorganisme (kuman, virus,

riketsia, spora, jamur, dan sebagainya) yang dapat menyebabkan

infeksi. Oleh karena itu, cara bekerja secara asepsis dan antisepsis

pun belum dikenal, sehingga hamper setiap luka bedah mengalami

infeksi dan pernanahan.

Mikroorganisme baru dikenal setelah Louis Pasteur pada

tahun 1857 menemukan adanya kegiatan mikroorganisme pada

proses peragian. Ia menyimpulkan bahwa proses pembusukan

disebabkan oleh adanya mikroorganisme. Proses pembusukan pada

luka bedah dapat dicegah dengan cara mencegah masuknya

mikroorganisme ke dalam luka bedah. Mikroorganisme ini, menurut

Pasteur, dapat dibunuh dengan cara pemanasan.

Seorang ahli bedah dari Inggris, Joseph Lister, pada tahun

1867 mencoba mencegah terjadinya pembusukan dan pernanahan

dengan cara mematikan organisme dengan asam karbol. Caranya

adalah, sebelum melakukan pembedahan, tangan ahli bedah dan

pembantunya serta alat-alat bedah dicuci dengan asam karbol.

Pada saat itulah baru diketahui bahwa infeksi luka bedah

dapat dicegah bila kulit dan alat-alat dipakai untuk melakukan

pembedahan harus dibersihkan lebih dulu dengan larutan pembunuh

kuman (disinfektans) dengan cara asepsis dan antisepsis Lister.

Sekarang asam karbol sebagai larutan pembunuh kuman sudah tidak

dipakai lagi karena dapat merusk jaringan luka bedah itu sendiri,

Ada dua macam asepsis yaitu asepsis medis dan asepsis

bedah. Asepsis medis adalah suatu cara untuk membatasi jumlah

pertumbuhan dan penyebaran mikroorganisme, sedangkan asepsis

Page 59: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

59

bedah adalah segala usaha untuk membunuh semua mikroorganisme

termasuk sporanya dengan cara mekanis dan atau termis pada saat

pembedahan dimulai. Membersihkan dan mengganti perban pada

luka bedah harus dilakukan secara asepsis bedah sehingga

mikroorganisme tidak dapat masuk ke dalam luka dan tidak terjadi

infeksi.

Antisepsis adalah segala usaha untuk membunuh semua

mikroorganisme dengan bahan kimia. Dalam tindakan antisepsis,

dikenal pemakaian bahan-bahan kimia seperti asam karbol, iodin

tingtur 3-5%, alkohol 70%, larutan lisol, larutan sublimat 1%., kalium

permangat 1:10.000, hibiscrub, savlon, hibitane, dettol, resiguard,

betadin, phisoHex, dan sebagainya. Jadi, segala usaha untuk

memperoleh keadaan suci hama atau steril sebelum operasi adalah

tindakan asepsis atau antisepsis. Zat yang dapat mencegah

pertumbuhan mikroorganisme tanpa perlu memusnahkannya disebut

zat antiseptik. Sedangkan zat yang dapat membunuh mikroorganisme

disebut germisida atau bakterisida.

1. Infeksi

Tidak semua mikroorganisme dapat menyebabkan

penyakit, demikian pula tidak semua sama ganasnya

(virulensinya). Ada lima golongan mikroorganisme yang

dapat mengakibatkan penyakit yaitu kuman (bakteri), jamur,

protozoa, virus, dan riketsia. Infeksi hanya terjadi bila

mikroorganisme yang ganas (patogen) masuk kedalam

badan.

Pada saat ini, di rumah sakit besar sering terjadi

infeksi kuman nosokomial. Infeksi nosokomial adalah

infeksi yang terjadi karena pasien dirawat di rumah sakit.

Infeksi nosocomial sulit dicegah maupun diobati.

Timbulnya pun secara mendadak karena biasanya kuman

Page 60: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

60

yang ada di rumah sakit sudah kebal antibiotika dan lebih

ganas.

2. Sterilisasi

Dalam ilmu bedah, sterilisasi berarti memusnahkan

semua mikroorganisme beserta sporanya, sedangkan

desinfeksi berarti memusnahkan semua mikroorganisme

yang tidak mempunyai spora, misalnya kuman-kuman.

Desinfeksi biasanya dilakukan pada pakaian, alat-alat

linen, tempat tidur, alat buang air kecil dan besar, dan

sebagainya.

a. Sterilisasi Termis (Panas)

Sterilisasi panas dipakai untuk mensterilkan

alat-alat bedah, pakaian, dan kain-kain operasi.

Sebelum dilakukan sterilisasi panas ini, alat-alat

bedah dan perlengkapan dari kain harus dicuci

dahulu hingga bersih. Sterilisais panas dapat

dilakukan dengan memakai udara kering, uap air, atau

uap panas.

Otoklaf adalah salah satu alat yang dipakai

dalam sterilisasi panas ini.

Page 61: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

61

b. Otoklaf

Otoklaf adalah suatu bejana yang dapat ditutup

mati, yang diisi dengan uap panas dengan tekanan

tinggi. Suhu didalamnya dapat mencapai 1150C hingga

1250C dan tekanan uap nya mencapai 2 hingga 4 atm.

Uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi itu akan

membunuh semua kuman beserta spora yang ada.

Gambar 31. Otoklaf

Cara memakai otoklaf:

Sebelum peralatan dimasukkan kedalam otoklaf,

perlu diperhatikan bahwa:

- Semua peralatan harus dicuci bersih dan

dikeringkan.

- Semua alat tenun harus dilipat sedemikian rupa

agar mudah membukanya, yaitu diusahakan agar

pinggir alat tenun berada dipinggir lipatan.

- Susunan alat-alat tenun diatur agar yang dipakai

terlebih dahulu berada diatas.

Page 62: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

62

- Alat tenun untuk keperluan satu operasi dibungkus

menjadi satu, teteapi perlu dijaga agar ukuran

bungkusannya tetap dapat masuk dengan mudah

kedalam otoklaf.

- Setelah peralatan yang akan disterilkan

dimasukkan kedalam otoklaf, otoklaf ditutup rapat-

rapat dengan mengunci semua skrupnya.

- Jika listrik dinyalakan, klep yang ada pada otoklaf

akan mengeluarkan udara secara otomatis.

- Setelah suhu mencapai 1120C-1250C dan tekanan uap

telah mencapai 1-4 atm., barulah dihitung lamanya

pemanasan yang dilakukan, biasanya 30-60 menit.

Sesudah itu listrik dimatikan dan klep dibuka untuk

menurunkan tekanan dan suhu di dalam otoklaf.

c. Sterilisasi dengan Menggunakan Air Panas

Untuk mensterilkan alat bedah dapat dengan

cara merebus. Cara ini dipakai untul alat-alat operasi

kecil dan bila otoklaf tidak ada.

Merebus hanya mematikan kuman tetapi tidak

untuk membunuh spora karena untuk membunuh

spora diperlukan paling sedikit 30 menit setelah air

mendidih terus-menerus.

d. Sterilisasi dengan Api

Peralatan bedah dapat pula disterilkan melalui

nyala api, terutama bila hendak dilakukan

pembedahan kecil dengan cepat. Caranya: Alat-alat

bedah dimasukkan ke dalam baskom lalu dituangi

spiritus bakar secukupnya (5-10ml) kemudian dibakar

lalu diangkat.

Page 63: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

63

e. Sterilisasi dengan Udara Panas

Beberapa alat bedah tidak dapat disterilkan

dalam otoklaf maupun direbus, misalnya minyak,

vaselin, dan talk, maka dipakailah sterilisator kering.

Strerilisator ini prinsipnya sama dengan oven, tempat

orang membakar kue dan roti. Alat-alat disterilkan

dengan membunuh kumannya melalui udara panas.

Bahan-bahan yang hendak disterilkan dimasukkan

kedalam sterilisator kering, bila suhunya mencapai

suhu 1600C ditahan selama 1 jam atau pada suhu 1200C

selama 4 jam.

f. Sterilisasi dengan Sinar Ultra Violet

Sinar ultra violet sering dipakai untuk

mensterilkan kamar bedah. Akan tetapi perlu diingat

bahwa sinar ultra violet tidak dapat menembus butir

air karena sinar itu dipantulkan. Oleh karena itu,

sebelumnya, ruangan harus dipel sampai kering. Bila

menyinari secara terus menerus, sinar ultra violet

dapat merusak kulit dan mata.

g. Sterilisasi dengan Zat Kimia (Desinfektan)

Zat Kimia yang dapat Dipakai adalah:

1. Uap formalin.

Tablet formalin dimasukkan ke dalam tempat

yang hendak disterilkan.

2. Larutan Sublimat 1/1000 .

3. Larutan hibitane 5% .

Dipakai untuk menyimpan alat-alat steril dan

untuk menyikat atau mencuci tangan ahli bedah

dan pembantunya serta membersihkan kulit

sebelum dioperasi.

Page 64: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

64

4. Larutan savlon.

Dipakai untuk alat-alat rumah sakit, menyimpan

alat-alat steril, membersihkan kulit sebelum

dioperasi, membersihkan luka sayat dan luka

bakar.

5. PhisoHex.

Larutan phisoHex digunakan untuk mencuci

tangan ahli bedah dan pembantunya,

membersihkan kulit pasien yang akan dioperasi.

6. Resiguard.

Sebagai antiseptik dan desinfektans.

7. Betadin.

Dipakai untuk desinfeksi kulit dan luka bedah.

Hal-hal yang Dapat Mempengaruhi Daya Kerja

Desinfektan

1. Kebersihan.

Adanya darah, nanah, minyak, dan kotoran

dapat melemahkan daya kerja desinfektans.

2. Kepekatan.

Makin pekat larutan yang dipakai makin kuat

daya kerjanya, kecuali alcohol, yang terkuat

adalah yang berkonsentrasi 70%. Akan tetapi,

beberapa bahan dapat merusak jaringan pada

konsentrasi yang tinggi.

3. Waktu.

Beberapa kuman sudah mati setelah 30 menit

berada dalam desinfektans, tetapi ada pula yang

baru mati setelah beberapa jam atau beberapa

hari.

Page 65: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

65

4. Jenis jasad dan renik.

Ada jasad renik yang mudah sekali dibunuh, ada

pula yang sulit. Jasad renik yang sulit dibunuh

adalah: virus hepatitis, basil TBC, dan basil yang

berspora.

5. Suhu.

Suhu yang tinggi lebih mudah membunuh jasad

renik, tapi biasanya desinfektans dpakai pada

suhu kamar.

h. Mensterilkan Sarung Tangan

Sarung tangan dapat disterilkan dengan uap

formalin atau dengan otoklaf. Sebelum sarung

tangan disterilkan, terlebih dahulu harus

dibersihkan dengan jalan mencuci dengan air dan

sabun. Sarung tangan yang terkena nanah, setelah

dicuci bersih, dibersihkan lagi dengan lisol 0,5%

atau larutan betadin (1 gelas air ditambah 1 sendok

teh betadin). Setelah dibilas dengan air bersih,

dikeringkan dan diperiksa apakah ada yang bocor

atau tidak. Yang bocor dipisahkan. Sarung tangan

yang bersih itu dikeringkan dengan kain bersih,

baik luar maupun dalamnya. Setelah kering, bagian

luar dan dalam diberi talk, dilipat, dan dimasukkan

sepasang (kiri dan kanan) ke dalam kantong sarung

tangan, dengan terlebih dahulu diberi ukuran dan

dimasukkan pula tambahan talk yang dibungkus

dengan kasa kecil.

Bila hendak memakai uap formalin, sarung

tangan yang telah siap, dimasukkan ke dalam

tromol atau toples, lalu dimasukkan beberapa

tablet formalin. Sarung tangan baru suci hama

Page 66: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

66

(steril) setelah terkena uap formalin paling sedikit

24 jam. Sebaiknya disediakan beberapa buah

toples atau tromol agar selalu ada sarung tangan

yang steril. Sarung tangan dapat pula dimasukkan

ke dalam otoklaf untuk disterilkan. Sarung tangan

yang baru keluar dari otoklaf, talknya menjadi

basah sehingga memerlukan beberapa waktu untuk

mengeringkan talk itu.

Page 67: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

67

BAB III LAPAROSKOPI

A. TEKNIK LAPAROSKOPI

Operasi dengan menggunakan cahaya laser sering dianggap

sebagai suatu teknologi yang sangat ajaib dan dahsyat, semua

penyakit ditafsirkan akan bisa disembuhkan dengan laser, padahal

dalam kenyataan tidak semuanya demikian.

Laser adalah singkatan dari Light Amplification by Stimulated

Emission of Radiation. Walau prinsip dasar sudah diketemukan oleh

Albert Einstein tahun 1917 namun baru tahun 1960 Theodore H.

Maiman berhasil menciptakan Laser pertama di dunia. Laser

sebenarnya sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti

pada video, printer, foto copy, potong/las baja, dll.

Laser ini adalah sinar yang memiliki cirri-ciri:

1. Koheren (terpencar dalam satu phase yang sama baik

dalam waktu dan ruang)

2. Monokromatik (terdiri dari panjang gelombang tunggal)

3. Kolimasi (sejajar)

Dengan kemampuan optoelektrik sinar Laser menjadi mudah

diatur untuk mencapai suatu ketepatan yang akurat. Namun demikian

alat yang memancarkan berkas sinar yang sangat kuat dan koheren

ini mempunyai potensi yang bisa mengakibatkan kerusakan pada

mata dan kulit yang permanen.

Sedangkan operasi dengan teknologi luka sayatan kecil (MIS:

Minimally Invasive Surgery), sama sekali tidak menggunakan

teknologi laser, teknologi yang digunakan antara lain disebut

Laparoscopy yaitu cara membuat luka sayat kecil untuk

memasukkan kamera ke dalam rongga perut, sehingga dengan

Page 68: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

68

tuntunan kamera tersebut kita dapat melihat organ dalam perut yang

akan menjadi target.

Tentunya cara kerjanya harus dibantu dengan alat lain yang

juga dimasukkan ke dalam rongga perut dibawah tuntunan kamera

tersebut.

“Laparoscopy” berasal dari kata Lapara yaitu bagian dari

badan mulai iga paling bawah sampai dengan panggul dan Skopein

yaitu melihat/memeriksa. Teknologi Laparoscopy ini bisa digunakan

untuk melakukan pengobatan dan juga untuk melakukan diagnose

terhadap suatu penyakit yang belum jelas.

Teknik ini di Indonesia mulai dikembangkan sekitar tahun

1992, mengingat harga dari alat tersebut cukup mahal, maka di

Surakarta teknologi ini baru mulai dikembangkan pada akhir tahun

1995.

Keuntungan

1. Luka operasi yang kecil berkisar 3-10 mm.

2. Medan penglihatan diperbesar 20 kali, tentunya hal ini lebih

membantu ahli bedah dalam melakukan tindakan.

3. Secara kosmetik bekas luka operasi sangat berbeda bermakna

dibandingkan dengan luka operasi pasca bedah

konvensional. Luka bedah laparoscopy berukuran 3 mm

sampai dengan ukuran 10 mm akan hilang atau tersembunyi

kecuali pasien mempunyai bakat keloid (pertumbuhan

jaringan parut yang berlebihan).

4. Karena rasa nyeri setelah pembedahan hanya minimal maka

penggunaan obat-obatan dapat diminimalisasi serta masa

pulih setelah pembedahan jauh lebih cepat dan masa rawat di

rumah sakit menjadi lebih pendek sehingga pasien bisa

kembali beraktivitas normal lebih cepat.

Page 69: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

69

Banyaknya keuntungan yang diperoleh pasien dengan teknik

bedah laparoscopy menyebabkan teknik ini lebih diminati dan

bersahabat kepada pasien. Saat ini hamper seluruh Negara di dunia

melakukan semua tindakan yang bisa dilakukan dengan teknologi

misal: operasi usus buntu, batu kandung empedu, hernia (ketedun /

turun berok), perlengketan usus, kelainan di usus besar/halus,

beberapa kelainan pada hati, pankreas, lambung, dan operasi

kandungan.

B. PERKEMBANGAN BEDAH LAPAROSKOPI

Bedah Laparoscopy suatu prosedur operatif dengan cara

pendekatan invasive minimal saraf dengan teknologi tinggi. Rancang

bangun dan rekayasa terus dilakukan pada perlengkapan dan

peralatan bedah ini untuk kemudahan melakukan prosedur maupun

kenyamanan dan keamanan pasien yaitu dengan diciptakannya

robot asisten yang dapat diaktifkan dengan suara operator telah

menjadi kenyataan.

Yang sekarang sedang dikembangkan adalah tindakan yang

dilakukan oleh ahli bedah yang tidak berada disisi pasien, di luar

atau jauh dari kamar operasi dikenal dengan sebutan “Telepresence

Surgery/Robotic Surgery”.

Beberapa penyakit yang bisa dilakukan dengan teknologi

Laparoscopy:

1. Appendicitis (infeksi usus buntu)

Adalah suatu peradangan appendik (usus buntu) yang

disebabkan oleh sumbatan/kotoran yang terperangkap di

dalamnya (fecalith) sehingga flora normal yang berada di

dalam rongga usus tersebut mulai menginfeksi jaringan

sekitarnya.

Page 70: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

70

Dalam kondisi ini pasien dapat mengeluh mual, muntah, rasa

tidak enak di ulu hati, nyeri perut di bagian perut kanan

bawah, demam ringan.

2. Cholelithiasis

Adalah peradangan dari dinding kandung empedu,

disebabkan oleh adanya batu didalam kandung empedu,

peradangan ini akan menjadi kronis bila tidak dilakukan

tindakan pengobatan dan akan menyebabkan penebalan

dinding kandung empedu.

Penderita biasanya datang dengan keluhan dyspepsia (mirip

sakit maag), yaitu perut kembung, sakit pada ulu hati yang

menjalar ke punggung, banyak sendawa dan banyak buang

angin.

3. Hernia

Hernia atau yang sering disebut dengan ketedun atau turun

berok adalah penonjolan isi rongga perut (usus, jaringan

penyangga usus atau ovarium).

Ini terjadi akibat melemahnya otot dinding rongga perut atau

merupakan kelainan bawaan dimana ada saluran (processus

tunica vaginalis) yang menuju ke kantung buah zakar tetap

terbuka (patent) yang seharusnya saluran tersebut menutup

spontan waktu bayi lahir (isi dari hernia tersebut yang paling

sering adalah usus), sehingga usus tersebut melorot turun

mendesak ke bawah daerah lipat paha, bahkan kantung buah

zakar.

Gejala yang ditimbulkan adalah timbulnya benjolan di lipat

paha atau kantung buah zakar yang semula hilang timbul dan

suatu saat kemungkinan akan menetap bahkan terjepit.

Operasi laparoskopi, juga disebut “operasi minimal invasif

(MIS)”, bandaid operasi, operasi lubang kunci adalah teknik bedah

modern di mana operasi di perut dilakukan melalui sayatan kecil

Page 71: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

71

(biasanya 0.5-1.5 cm) dibandingkan dengan sayatan yang lebih besar

yang diperlukan dalam prosedur bedah tradisional.

Operasi lubang kunci menggunakan gambar yang

ditampilkan pada monitor TV untuk perbesaran elemen bedah.

Operasi laparoskopi termasuk operasi dalam rongga perut

atau panggul, sedangkan lubang kunci operasi yang dilakukan pada

rongga toraks atau dada disebut operasi thoracoscopic. Bedah

laparoskopi dan thoracoscopic termasuk bidang yang lebih luas

endoskopi.

Ada sejumlah keuntungan untuk pasien dengan operasi

laparoskopi versus prosedur terbuka. Ini termasuk nyeri berkurang

akibat sayatan lebih kecil dan pendarahan, dan waktu pemulihan

lebih pendek.

Elemen kunci dalam operasi laparoskopi adalah

penggunaan laparoskopi. Ada dua jenis: (1) lensa sistem batang

teleskopik, yang biasanya dihubungkan ke kamera video (chip

tunggal atau tiga chip), atau (2) laparoskop digital dimana perangkat

charge-coupled ditempatkan di akhir laparoskop, menghilangkan

sistem lensa batang.

Juga terlampir adalah sistem kabel serat optik terhubung ke

sumber 'dingin' cahaya (halogen atau xenon), untuk menerangi

bidang operasi, dimasukkan melalui 5 mm atau 10 mm atau kanula

trocar untuk melihat bidang operasi.

Perut biasanya insufflated, atau dasarnya meledak seperti

balon, dengan gas karbon dioksida.

Ini mengangkat dinding perut di atas organ-organ internal

seperti sebuah kubah untuk menciptakan ruang kerja dan melihat.

Page 72: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

72

CO 2 digunakan karena itu adalah umum bagi tubuh manusia dan

dapat diserap oleh jaringan dan dihapus oleh sistem pernapasan.

Hal ini juga tidak mudah terbakar, yang penting karena

perangkat electrosurgical yang umum digunakan dalam prosedur

laparoskopi.

C. BEDAH LAPAROSKOPI

Bedah laparoscopy adalah teknik pembedahan yang

menggunakan alat laparoscopy set dengan keuntungan luka sayat

yang kecil dan penyembuhan relatif cepat. Alat bedah itu telah

banyak digunakan di berbagai rumah sakit di tanah air, termasuk

Rumah Sakit Awal Bross Batam yang terus melakukan

pengembangan untuk lebih memberdayakan alat ini terhadap

kemungkinan pembedahan atas berbagai penyakit bedah, seperti

operasi hernia, varicocele, kelenjar gondok dan lainnya.

Dr. L. Ingrid Sitawidjaja yang merupakan Asst Business and

Development Manager Rumah Sakit Awal Bross Batam menjelaskan,

teknologi pembedahan untuk mengobati pasien terus mengalami

perkembangan dan saat ini ada yang dikenal dengan pembedahan

Laparoscopy.

Laparoskopi adalah teknik bedah invasive minimal yang

menggunakan gas untuk insulfasi melalui peritoneum dan alat-alat

lain melalui insisi minimal dengan acuan kamera video.

“Perkembangan teknologi telah mengantarkan dunia

kedokteran, khususnya bedah, kepada efektivitas dan efisiensi.

Teknik bedah minimal invasif laparoskopi, misalnya, menjadi

alternatif dari bedah konvensional,” katanya.

Dengan teknik pembedahan Laparoscopy, proses

pembedahan tidak perlu dengan melakukan sayatan yang panjang

seperti yang dilakukan dalam teknik pembedahan konvensional.

Page 73: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

73

Sayatan dalam pembedahan Laparoscopy dibuat sangat minimal

karena proses penyembuhan di dalam tubuh menggunakan alat

tertentu yang bisa dipantau secara langsung di kamera. Dengan

demikian, banyak keuntungan yang diperoleh pasien dengan

pembedahan itu, antara lain, hospitalisasi yang singkat, nyeri

minimal, biaya murah dan mengurangi ileus.

Laparoscopy awalnya di lakukan untuk bedah digestif atau

bedah bagian perut dan saluran pencernaan, namun kasus penyakit

yang paling sering ditangani dengan teknik itu justru bukan penyakit

saluran pencernaan melainkan cholecystectomy atau pengangkatan

kantong empedu dan appendectomy atau pengangkatan usus buntu

yang meradang.

Bedah laparoskopi juga bisa diterapkan untuk kasus

perlengketan usus, tumor usus, obesitas, hernia, dan kelenjar getah

bening. Rumah Sakit Awal Bross Batam juga sudah bisa menangani

pasien pembesaran kelenjar gondok yang penanganannya dengan

laparoscopy, dan untuk penanganagan penyakit tersebut sudah ada

dokter ahli yakni Dr. Nina Irawati Sp,B.

Menurut Dr Nina Irawati Sp,B. “Pembesaran kelenjar gondok

(gondokan) atau yang dalam bahasa medis dikenal sebagai struma

merupakan kelainan yang sering ditemukan pada lingkungan di

sekitar kita.”

Biasanya akan ditemui dalam bentuk benjolan di leher depan

atau lehernya terlihat lebih besar. Normalnya kelenjar gondok ini

memang tidak terlihat secara kasat mata. Berbagai perubahan pada

pembesaran kelenjar gondok dapat terjadi, baik yang jinak maupun

ganas.

Pembesaran kelenjar gondok bisa diakibatkan oleh berbagai

macam hal seperti kista, infeksi, koloid akibat kekurangan yodium,

hormonal, dan tumor baik jinak maupun ganas (kanker gondok).

Saat pasien datang, dokter akan menanyakan riwayat medis,

misalnya sejak kapan benjolan tersebut, apakah terasa nyeri atau

Page 74: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

74

merasa demam/flu sebelumnya serta ada tidaknya tanda-tanda

toksik seperti berdebar-debar, berkeringat banyak, cepat lelah,

menstruasi terganggu, insomnia, dan rambut rontok. Keluhan lain

yang biasa ditanyakan dokter Anda adalah apakah terdapat

gangguan suara yang menjadi serak, sulit menelan, dan mudah

sesak. Ditanyakan pula adakah orang lain di sekitar lingkungan

Anda yang juga menderita penyakit yang sama. Dari hasil

penelusuran ini, dokter berusaha menyimpulkan dugaan apakah

pasien kemungkinan menderita kelainan bersifat jinak atau ganas.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dengan melalui

perabaan. Biasanya pada perabaan akan adanya benjolan di depan

leher depan. Dalam perabaan, benjolan dapat terasa kenyal atau

keras. Terkadang dapat juga ditemui adanya pembesaran kelenjar

getah benig leher atau luka di atas benjolan. Pada pembesaran

akibat infeksi biasanya terdapat gejala nyeri.

Status fungsi kelenjar gondok diperiksa dengan menganalisa

kadar hormon gondok dalam darah (T3,T4,TSH). Pasien yang

mengalami peningkatan kadar hormon ini umumnya harus diobati

dengan medikamentosa terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan

operasi.

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu

penegakkan diagnosis, yaitu dengan USG dan Scan tiroid. Modalitas

lain seperti MRI dan CT-scan tidak dianjurkan karena tidak

membantu penegakan diagnosis dan harganya sangat mahal.

Page 75: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

75

D. BEBERAPA OPERASI YANG MENGGUNAKAN TEKNIK

LAPAROSKOPI

Berikut beberapa operasi yang menggunakan teknik laparoskopi:

1. Operasi Laparoskopi ‘Hernia Inguinalis’

Gambar 32. Penempatan Trokar Operasi Laparoskopi Hernia

Gambar 32. Memperlihatkan penempatan trokar untuk operasi

laparoskopi hernia inguinalis kanan. Kamera diletakkan pada

umbilikus dalam port 10 mm dan trokar 12 mm diletakkan pada

ketinggian umbilikus di linea midklavikularis di samping hernia.

Hal ini dikerjakan dengan hati-hati untuk menghindari cedera

pembuuh darah epigastrika.

Selanjutnya sebuah trokar 5 mm diletakkan tidak lebih rendah

dari garis umbilikus secara langsung di atas kolon dekstra dan

trokar 5 mm yang terrakhir diletakkan di kuadran kiri bawah.

Page 76: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

76

Penempatan trokar alternatif mencakup hanya 3 trokar, sebuah

trokar 10 mm di umbilikus dan 2 trokar 12 mm masing-masing di

samping umbilikus.pemasangan trokar ni dilkaukan secara

cermat cukup jauh dari area inguinal untuk memberikan

visualisasi yang memadai tanpa bidang yang “padat”. Operasi

laparoskopik repair hernia memerlukan pengetahuan yang rinci

tentang anatomi intra-ambdomen daerah ini.

Gambar 33. Hernia Inguinalis

Gambar 33. Ilustrasi ini menunjukkan hernia inguinalis kanan

dan anatomi yang mencakup pembuluh darah epigastrika

inferior yang berjalan ke superior pada dinding abdomen

anterior. Kemampuan memaparkan ligamentum Cooper

memegang peranan penting. Plika umbilikalis media

diperlihatkan tetapi di luar bidang sebagian besar repair

anatomik. Vasa diferens dan bundel neurovaskular liaka

berjalan melalui hernia inguinalis indirek dan perlu dihindari

selama repair. Nervus kutaneus femoralis lateral juga dapat

Page 77: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

77

mengalami trauma dan perlu dihindari bilamana mesh distaples

di tempat.

Gambar 34. Pembedahan Operasi Laparoskopi Hernia Inguinalis

Gambar 34. Peritoneum pada anulus inguinalis internus diinsisi.

Hal ini memungkinkan pemotongan kantong dan menghasilkan

moilisasi peritoneum sehingga mesh dapat diletakkan di

belakang peritoneum. Hal ini dikerjakan secara cermat agar

hanya peritoneum yang diinsisi. Segera setelah kantong

dipotong dan direduksi , diseksi tumpul digunakan untuk

memobilisasi peritoneum. Tindakan ini dikerjakan dengan hati-

hati utnnuk menghindari pembuluh darah epigastrika dan

diseksi tumpul biasanya memaparkan ligamnetum Cooper

dengan mudah. Peritoneum dimobilisasi ke supperior hingga

Page 78: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

78

fasia transfersalis, ke lateral hingga krista iliaka anterior

superior, ke medial hingga ke tuberkulum pubik, dan ke inferior

hingga vasa diferens.

Gambar 35. Pemasangan Mesh Operasi Laparoskopi Hernia Inguinalis

Gambar 35. Selembar mesh polypropylene 5 x 7 cm selanjutnya

diletakkan melalui trokar 12 mm dan difiksasi dengan stales

hernia. Staples hernia digunakan untuk memfikassi mesh dengan

tuberkulum pubik, fasia transfersalis dan ke lateral dengan krista

iiaka anterior superior. Tindakan staples ini dikerjakan dengan

hati-hati untuk menghindari pemasangan staples di aerah bundel

neurovaskular iliaka atau nervus kutaneus femoralis lateral.

Page 79: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

79

Gambar 36. Penutupan Operasi Pasca Bedah

Gambar 36. Segera setelah mesh dipasang di tempat,

peritoneeum ditutupkaan di atasnya untuk reoeritonealisasi

tempat tersebut.

Page 80: K3 RS Bedah, Laparoskopi, dan SOP

Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit Bedah, Standar Operasional Prosedur, Prosedur

Surgey (Pembedahan), dan Laparoskopi.

80