tugas bu fitria

of 25 /25
Dosen : Fitria , S.ST Mata Kuliah : Askeb V kebidanan Komunitas DISUSUN OLEH KELOMPOK V DIII KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN MAKASSAR

Upload: melissagosal

Post on 23-Nov-2015

24 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Dosen : Fitria , S.STMata Kuliah : Askeb V kebidanan Komunitas

DISUSUN OLEH KELOMPOK V

DIII KEBIDANANSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN MAKASSAR2014Nama Anggota Kelompok :1. Mega Zahra Indah Sabesal (NH0412155)2. Megawati (NH0412157)3. Megawaty Lintin (NH0412158)4. Melisa Gosal (NH0412160)5. Mersiana Alfonsa Mite (NH0412161)6. Metri Sobion (NH0412162)7. Milanti Rahayu(NH0412163)8. Mimin Ramli(NH0412164)9. Musfira Dahlan(NH0412165)10.Mustikah MR(NH0412166)11. Rahmatia Mahmud(NH0412223)

DAFTAR ISI

JUDUL....................................................................NAMA KELOMPOK....................................................................KATA PENGANTAR....................................................................DAFTAR ISI....................................................................

BAB I PENDAHULUAN...................................................................A. Latar Belakang...........................................................................B. Tujuan Penulisan........................................................................C. Manfaat.......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN......................................................................A. Pengertian Eklampsia...................................................................B. Tanda dan Gejala Eklampsia .......................................................C. Komplikasi....................................................................................D. Penanggulangan.............................................................................E. Standar Penanganganan Kegawatdaruratan pada Eklampsia...

BAB III PENUTUPA. Kesimpulan ...................................................................................B. Saran.............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. WbAlhamdulillahPuji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas anugerah, petunjuk serta Hidayah-NYA lah sehingga makalah ini dapat terselesaikan meskipun memiliki banyak sekali kekurangan.Terimakasih tak lupa kami ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah Askeb V Kebidanan Komunitas, Ibu Fitria,S.ST yang tiada henti-hentinya memberikan support, dukungan dan telah membantu memberikan arahan demi terselesaikannya pembuatan makalah ini. Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang penanganan kasus eklampsia. Tentunya masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan didalam pembuatan makalah ini, oleh karena keterbatasan ilmu dan referensi yang kami jadikan sebagai acuan untuk menyusun makalah ini ataupun karena hal-hal lain . Namun, karena adanya niat untuk belajar, maka dengan antusias dan semangat tinggi, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan . Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan kita semua umumnya.Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah terkait dalam penyusunan makalah ini , dan memberikan dukungannya untuk dapat menyelesaikan makalah ini.

Makassar, 30 Mei 2014

Kelompok VBAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangKematian Ibu dan Angka Kematian Perinatal di Indonesia masih sangat tinggi tahun 2007 AKI di Indonesia tercatat 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target yang diharapkan adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 (Atmawiraka, 2010). Yang menjadi sebab utama kematianibudiIndonesiadisamping pendarahan adalah pre-eklampsia atau eklampsia dan penyebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini pre-eklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak. Pada kondisi berat pre-eklamsia dapat menjadi eklampsia dengan penambahan gejala kejang-kejang. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda preeklampsia sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yanglain. Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai proteinurin dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang disini bukan akibat kelainan neurologis. Pre-eklampsia berat dan eklampsia merupakan risiko yang membahayakan ibu di samping membahayakan janin melalui placenta. Setiap tahun sekitar 50.000 ibu meninggal di dunia karena eklampsia. Insidens eklampsia di negara berkembang berkisar dari 1:100 sampai1:1700. Jika eklampsia tidak ditangani secara cepat akan terjadi kehilangan kesadarandan kematian karena kegagalan jantung, kegagalan ginjal, kegagalan hati atauperdarahan otak. Oleh karena itu kejadian kejang pada penderita eklampsiaharus dihindari.Karena eklampsia menyebabkan angka kematian sebesar 5%atau lebih tinggi.B. Tujuan Penulisan a. Tujuan UmumUntuk mengetahui bagaimana cara penanganan kegawat daruratan pada pasien dengan eklampsia dan sistim rujukan yang di pakai.b. Tujuan khususAgar penulis dapat:1) Memahami apa itu eklampsia2) Mengerti bagaimana cara penangananyaC. Manfaat a. Bagi PenulisDapat mendeteksi pasien dengan eklampsia,dan tahu apa yang harus di lakukan jika ada pasien dengan eklampsi.b. Bagi pembacaDapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan mempunyai dampak yang baik khususnya untuk ibu hamil

BAB IIPEMBAHASANPENANGANAN KEGAWATDARURATAN PADA KASUS EKLAMPSIA

A. Pengertian EklampsiaBeberapa pengertian eklampsi adalah:a)Eklampsia berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti halilintar karena gejala eklampsia datang dengan mendadak dan menyebabkan suasana gawat dalam kebidanan. Eklampsia juga disebut sebuah komplikasi akut yang mengancam nyawa dari kehamilan, ditandai dengan munculnya kejang tonik - klonik , biasanya pada pasien yang telah menderita preeklampsia. (Preeklamsia dan eklampsia secara kolektif disebut gangguan hipertensi kehamilan dan toksemia kehamilan.) Prawiroharjo 2005.b) Eklampsi adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, kejang timbul bukan akibat kelainan neurologic (PBPOGI, 1991).c) Eklampsi adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam masa persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau demam (dr. Handaya, dkk).B. Tanda-tanda dan gejalaEklampsia termasuk kejang dan koma yang terjadi selama kehamilan. Menjelang kejang- kejang dapat didahului dengan gejalanya : Nyeri kepala di daerah frontalNyeri epigastriumPenglihatan semakin kaburAdanya mual muntahPemeriksaan menunjukkan hiperrefleksia atau mudah teransang.Kemudian dengan teori iskemia implantasi plasenta juga dapat terjadi berbagai gejalanya eklampsia yaitu :1. Kenaikan tekanan darah2. Pengeluaran protein dalam urine3. Edema kaki, tangan sampai muka4. Terjadinya gejala subjektif :- Sakit kepala Penglihatan kabur Nyeri pada epigastrium Sesak nafas Berkurangnya pengeluaran urine5. Menurunnya kesadaran wanita hamil sampai koma6. Terjadinya kejang

Berdasarkan waktu terjadinya eklampsia dapat di bagi :1. Eklampsia gravidarum Kejadian 50% sampai 60 % Serangan terjadi dalam keadaan hamil2. Eklampsia parturientum Kejadian sekitar 30 % sampai 50 % Saat sedang inpartu Batas dengan eklampsia gravidarum sukar di tentukan terutama saat mulai inpartuKejang pada eklampsia terdiri dari 4 tingkat :a) Tingkat Awal (Aura)Keadaaan ini berlangsung kirakira 30 detik, mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar. Demikian pula tangannya dan kepala berputar ke kiriataukekanan.b) Tingkat kejang tonik. Berlangsung 15-30 detik atau kurang dari 30 detik, dalam tingkat ini semua otot menjadi kaku, wajahnya keliatan kaku ( distorsi ), bola mata menonjol, tangan menggenggam, kaki membengkok ke dalam, pernapasan berhenti,muka menjadi sianotik, lidah dapat tergigit.c) Tingkat Kejang Klonik. Berlangsung antara 1-2 menit, semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat, terbukanya rahang secara tiba-tiba dan tertutup kembali dengan kuat disertai pula dengan terbuka dan tertutupnya kelopak mata. Kemudian disusul dengan kontraksi intermitten pada otot-oto muka dan otot seluruh tubuh. Begitu kuat kontraksi otot-otot tubuh ini, sehingga seringkali penderita terlempar dari tempat tidur. Seringpula lidah tergigit, dan mulut keluar liur yang berbusa kadan disertai bercak-bercak darah, wajah tampak membengkak karena kongesti dan sianosis, pada konjungtiva mata dijumpai bintik-bintik pendarahan, klien menjadi tidak sadar.d) Tingkat Koma. Lama kesadaran tidak selalu sama, secar perlahan-lahan pendrita mulai sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan berulang sehingga ia tetap dalam koma. Selama serangan tekanan darah meninggi, nadi cepat dan suhu meningkat sampai 40 derajat celcius, mungkin karena gangguan serebral. Penderita mengalami inkontinensia disertai dengan oliguria atauanuria dan kadang-kadang terjadi aspirasi bahkan muntah. Penderita yang sadar kembali dari koma, umumnya mengalami disorientasi dan sedikit gelisah.Selama serangan tensi meningkat, nadi cepat, suhu meningkat sampai 40C

C. KOMPLIKASIKomplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita pre eklampsia dan eklampsia. Komplikasi yang tersebut di bawah ini biasanya terjadi pada pre eklampsia berat dan eklampsia :1. Solusio plasentaKarena adanya tekanan darah tinggi, maka pembuluh darah dapat mudah pecah, sehingga terjadi hematom retropalsenta yang dapat menyebabkan sebagian plasenta dapat terlepas.2. HipofibrinogenemiaAdanya kekurangan fibrinogen yang beredar dalam darah , biasanya di bawah 100 mg persen. Sehingga pemeriksaan kadar fibrinogen harus secara berkala.3. HemolisisKerusakan atau penghancuran sel darah merah karena gangguan integritas membran sel darah merah yang menyebabkan pelepasan hemoglobin. Menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus.4. Perdarahan otakKomplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita eklampsia.5. Kelainan mataKehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina yang merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.6. Edema paru paru7. Nekrosis hatiNekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.8. Sindroma HELLPMerupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan.9. Kelainan ginjalKelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.10. Kopmlikasi lain yaitu lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang - kejang pneumonia aspirasi, dan DIC.11. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin.

Berbagai faktor yang mempengaruhi eklampsia : Jumlah primigravida terutama primigravida muda Distensi rahim berlebihan yaitu hidramnoin, hamil ganda dan mola hidatosa Adanya penyakit yang menyertai kehamilan yaitu diabetes mellitus, kegemukan Jumlah umur ibu di atas 35 tahun Riwayat pernah menderita preeklampsia atau eklamsia Riwayat keluarga pernah menderita preeklampsia atau eklamsia

D. PenanggulanganHarus dirawat di RS. Obat penenang yang cukup saat pengangkutan ke RS (petidin 100 mg). Hindarkan dari rangsangan kejang.Tindakan Obstetrik : 1 Kejangan diatasi dan KU diperbaiki2 Mengakhiri kehamilan atau mempercepat persalinan3 Persalinan pervaginam adalah cara terbaik bila dapat dilaksanakan dengan cepat dan aman.4 Pada eklampsia gravidarum perlu diadakan induksi dengan amniotomi dan infus pitosin setelah bebas kejang selama 12 jam dan keadaan serviks mengijinkan.5 Bila serviks masih lancip dan tertutup terutama pada primigravida, kepala janin masih tinggi, atau ada persangkaan disproporsi sefalopelvik, sebaiknya sesar.6 Jika persalinan sudah pada kala I dilakukan amniotomi untuk mempercepat partus7 Lakukan ekstraksi vakum atau cunam8 Setelah kelahiran pengobatan dan perawatan intensif harus diteruskan untuk 48 jam.

E. Standar penanganan kegawatdaruratan pada eklamsiaTujuanMengenali secara dini tanda-tanda dan gejala gejala preeklamsia berat dan memberikan perawatan yang tepat dan memadai. Mengambil tindakan yang tepat dan segera dalam penanganan kegawatdaruratan bila eklamsia terjadi.

HasilPenurunan kejadian eklamsiaIbu hamil yang mengalami preeklamsia berat dan eklamsia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepatIbu dengan tanda-tanda preeklamsia ringan akan mendapatkan perawatan yang tepat dan memadai serta pemantauanPenurunan kesakitan dan kematian akibat eklamsiaPernyataan StandarBidan mengenali secar tepat dan dini tanda dan gejala preeklamsia ringan, preeklamsia berat dan eklamsia.bidan akan mengambil tindakan yang tepat, memulai perawatan, merujuk ibu dan / atau melaksanakann penanganan kegawatdaruratan yang tepat.

Prasyarat1. Kebijakan dan protocol setempat yang mendukung bidan memberikan pengobatan awal untuk penatalaksanaan kegawat daruratan preeclampsia berat/eklampsia.2. Bidan melakukan perawatan antenatal rutin kepada ibu hamil termasuk pemantauan rutin tekanan darah3. Bidan secara rutin memantau ibu dalam proses persalinan dan selama periode postpartum terhadap tanda gejala preeclampsia termasuk pengukuran tekanan darah.4. Bidan terlatih dan teampil untuk :Mengenal tanda dan gejala preeklampsia ringan, preeclampsia berat, dan eklampsia5. Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada preeclampsia ringan, preeclampsia berat dan eklampsia Tersedia perlengkapan penting untuk memantau tekanan darah dan memberikan cairan IV (termasuk tensimeter air raksa, stetoskop, set infuse dengan jarum berukuran 16 dan 18 G IV, Ringer Laktat atau NaCl 0,9% alat suntik sekali pakai. Jika mungkin perlengkapan untuk memantau protein dalam air seni.6. Tersedia obat anti hipertensi yang dibutuhkan untuk kegawatdaruratan misalnya Magnesium Sulfat, Calsium Glukonas.7. Adanya saran pencatatan ; KMS ibu hamil/kartu ibu, buku KIA dan partograf.Proses penanganan eklampsiaBidan harus :1. Selalu waspada terhadap gejala dan tanda pre eklamsi ringan (tekanan darah dengan tekanan diastolik 90-110 mmHg dalam dua pengukuran berjarak 1 jam). Pantau tekanan darah ibu hamil pada setiap pemeriksaana antenatal, selama proses persalinan, dan masa nifas. Pantau tekanan darah, urin (untuk mengetahui protein uria) ibu hamil dan kondisi janin setiap minggu. 2. Selalu waspada terhadap tanda dan gejala preeklamsia berat (tekanan diatolik >110 mmHg) yaitu : protein dalam air seni, nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, mengantuk, tidak enak, nyeri epigastrik.3. Catat tekanan darah ibu, segera periksa adanya gejala dan tanda preeklamsia atau eklamsia. Gejala dan tanda preeklamsia berat (yaitu peningkatan tekanan darah tiba-tiba, tekanan darah yang sangat tinggi, protein dalam air seni, penurunan jumlah air seni dalam warna yang menjadi gelap, oedema berat atau edema mendadak pada wajah atau panggul belakang) memerlukan penanganan yang sangat cepat karena besar kemungkinan terjadi eklamsia. Kecepatan bertindak sangat penting.4. Penanganan preeklamsia berat dan eklamsia : Cari pertolongan segera untuk mengatur rujukan ibu ke rumah sakit. Jelaskan dengan tenang dan secepatnya kepada ibu, suami dan keluarga tentang apa yang terjadi. Baringkan ibu dengan posisi miring ke kiri, berikan oksigen ( 4 sampai 6liter permenit) jika ada. Berikan IV RL 500cc dengan jarum berlubang besar ( 16 dan 18 G) Jika tersedia, berikan MgSo4 40% Im 10gr ( 5gr IM pada setiap bokong ) sebelum merujuk Ulangi MgSo4 40% IM, 5gr setiap 4 jam , bergantian tiap bokong. MgSo4 untuk pemberian IM biasa dikombinasi dengan 1cc lidokain 2% Jika mungkin, mulai berikan dosis awal larutan MgSo4 20%, 4gr IV 20 menit sebelum pemberian MgSO4 IM.

5. Jika terjadi kejang, baringkan ibu pada posisi kiri, dibagian tempat tidur atau lantai yang aman mencegah ibu terjatuh, tapi jangan mengikat ibu. Jika ada kesempatan, letakkan benda yang dibungkus dengan kain lembut diantara gigi ibu. Jangan memaksakan membuka mulut ibu ketika kejang terjadi. Setelah kejang berlalu, hisap lendir pada mulut dan tenggorokan ibu bila perlu.6. Pantau dengan cermat tanda dan gejala MgSO4 sebaga berikut: Frekuensi pernafasan kurang dari 16 kali permenit Pengeluaran air seni kurang dari 30cc perjam selam 4 jam terkhir Jangan berikan dosis MgSo4 selanjutnya bila ditemukan tanda tanda dan keracunan tersebut diatas. 7. Jika terjadi henti nafas (apneu) setelah pemberian MgSo4, berikan kalsium glukonas 1gr ( 10cc dalam larutan 10 %) IV perlahan lahan sampai pernafasan mulai lagi. Lakukan ventilasi ibu dengan menggunakan ambu bag dan masker.8. Bila ibu mengalami koma, pastikan posisi ibu dibaringkan, dengan kepala sedikit ditengadahkan agar jalan nafas tetap terbuka.9. Catat semua obat yang diberikan, keadaan ibu, termasuk tekanan darahnya setiap 15 menit.10. Bawa segera ibu kerumah sakit setelah serangan kejang berhenti. Damping ibu dalam perjalanan dan berikan obat-obatan lagi jika perlu. ( jika terjadi kejang lagi, berikan 2gr MgSo4 secara perlahan dalam 5 menit, tetapi perhatikan jika ada tanda-tanda keracuanan MgSo4).

Panduan Penggunaan Penggunaan MgSO4.Syarat Pemberian1. Produksi Urin dalam 4 jam terakhir minimal 100ml (35-30ml/jam)2. Reflex patella (+).3. Frekuensi nafas 16x/mnt, artinya tidak ada depresi pernafasan. 4. Tersedia antidotum, yakni glukonas calcicus (calcium glukonate).Cara pemberian1. Dosis awal (looding dose) 4-6 g IV dgn kecepatan pemberian 1g/mnt.2. Diikuti dengan pemberian secara infuse (drip) dengan dosis 1,5-2 g/jam, agar dicapai kadar serum 4,8-8,4 mg/dL (4-7mEq/L)3. Bila masih terjadi kejang dengan pemberian diatas, dapat diberikan diazepam 5-10mg IV atau amobarbital 250mg IV. 4. Penggunaan MgSO4, biasanya sampai 24 jam setelah bayi lahir, atau setelah produksi urin normal kembali.Bila terjadi henti (depresi nafas)1. Berikan anti dotum yakni glukonas calcius 1gm IVpelan pelan disertai O2 dan biasanya langkah ini sudah cukup untuk mengatasi depresi nafas tersebut.2. Bila sampai terjadi henti nafas (tidak pernah terjadi pada dosis terapi), lakukan pula intubasi dan ventilasi aktif.

BAB IIIPENUTUPA. KESIMPULANEklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia,yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Pada umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.Umumnya penderita preeclampsia ini memberi gejala-gejala atau tanda-tanda yang khas,hal tersebut dianggap sebagai tanda prodoma sebagai tanda prodoma akan terjadinya kejang. Tanda-tanda itu disebut sebagai impending eklampsia atau imminent eklampsia.Kejang pada eklampsia harus dipikirkan kemungkinan kejang akibat penyakit lain. Oleh karena itu, diagnosis banding eklampsia menjadi sangat penting,misalnya pendarahan otak,hipertensi,lesi otak,kelainan metabolic,minimitis,epilepsy iattrogenik.Eklampsia selalu didahului oleh preeclampsia,perawatan prenatal untuk kehamilan dengan predisposisi preeclampsia perlu dilakukan agar dapat dikenal sedini mungkin gejala-gejala prodoma eklampsia. Kejang-kejang dimulai dengan kejang tonik, kejang tonik ini segera disusul dengan kejang kronik. Kemudian disusul dengan kontraksi. Pada waktu timbul kejang,diafragma terfiksir,sehingga pernafasan tertahan,kejang kronik berlangsung kurang lebih 1 menit. Setelah itu berangsur-angsur kejang melemah kemudian penderita diam dan tidak bergerak. Koma yang terjadi setelah kejang,berlangsung bervariasi dan jika tidak segera diberi obat-obat antikejang akan segera disusul dengan kejang berikutnya.Penderita yang sadar kembali dari koma umumnya mengalami disorientasi dan sedikit gelisah.

B. SaranDalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan perinatal akibat preeklampsia-eklampsia, deteksi dini dan pe-nanganan yang adekuat terhadap kasus preeklampsia ringan harus senantiasa diupayakan. Hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan mempertajam kemampuan diagnosa para Bidan dan melakukan pemeriksaan bumil secarateratur.Mengingat komplikasi terhadap ibu dan bayi pada kasus-kasus preeclampsia berat-eklampsia, maka sudah selayak nyalah semua kasus-kasus tersebut dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas penanganan kegawatdaruratan ibu dan neonatal.Demikian makalah mengenai Penanganan kewagat-daruratan Eklampsia kami rangkum. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku ajar bidan Myles, Diane M. Fraser, Margaret A Cooper. Jakarta EGC 2009

Rukiyah, Lia yulianti. 2010. ASUHAN KEBIDANAN 4 PATOLOGI, Jakarta Tim.

Wiknjosasrtroh,dkk.ilmu kebidanan.ed.ketiga.cetakan ke4.jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawiroharjo, 1997;24:281-301

Http://imeldaaudina.blogspot.com/2013/09/penanganan-kegawat-daruratan-pada-kasus.html