tugas bu devi

39
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keperawatan merupakan sebuah profesi, salah satu karakteristiknya adalah memiliki body of knowledge yang dapat membantu perawat dalam meningkatkan praktiknya. Paradigma keperawatan, falsafah keperawatan, model konseptual dapat dan teori keperawatan sebagai komponen dasar disiplin keperawatan diharapkan mampu meningkatkan pengembangan body of knowledge keperawatan itu sendiri melalui riset/metode ilmiah. Peningkatan keperawatan diharapkan dapat mengembangkan/memperbaiki kualitas asuhan keperawatan secara optimal. Pemahaman perawat tentang model konseptual dan teori keperawatan yang berfokus pada konsep sentral (orang, lingkungan, kesehatan, keperawatan) disiplin ilmu keperawatan merupakan hal mendasar yang harus ditingkatkan sebagai seorang perawat. Hal tersebut diperlukan sebagai kerangka kerja bagi perawat dalam menetapkan tujuan asuhan keperawatan sehingga praktik yang dilakukan lebih efektif dan efisien. Teori juga memberikan otonomi profesional dengan cara mengarahkan praktek, pendidikan, dan penelitian keperawatan terutama fungsi-fungsi dari sebuah profesi.

Upload: luqmanhermansyah

Post on 29-Dec-2015

90 views

Category:

Documents


1 download

DESCRIPTION

keperawatan

TRANSCRIPT

Page 1: Tugas Bu Devi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan merupakan sebuah profesi, salah satu karakteristiknya adalah

memiliki body of knowledge yang dapat membantu perawat dalam meningkatkan

praktiknya. Paradigma keperawatan, falsafah keperawatan, model konseptual dapat

dan teori keperawatan sebagai komponen dasar disiplin keperawatan diharapkan

mampu meningkatkan pengembangan body of knowledge keperawatan itu sendiri

melalui riset/metode ilmiah. Peningkatan keperawatan diharapkan dapat

mengembangkan/memperbaiki kualitas asuhan keperawatan secara optimal.

Pemahaman perawat tentang model konseptual dan teori keperawatan yang

berfokus pada konsep sentral (orang, lingkungan, kesehatan, keperawatan) disiplin

ilmu keperawatan merupakan hal mendasar yang harus ditingkatkan sebagai

seorang perawat. Hal tersebut diperlukan sebagai kerangka kerja bagi perawat

dalam menetapkan tujuan asuhan keperawatan sehingga praktik yang dilakukan

lebih efektif dan efisien. Teori juga memberikan otonomi profesional dengan cara

mengarahkan praktek, pendidikan, dan penelitian keperawatan terutama fungsi-

fungsi dari sebuah profesi.

Pada tahun 1980 Johnson, menguraikan suatu model konseptual untuk praktik

keperawatan sebagai suatu rangkaian konsep yang dibentuk secara sistematis,

berbasis ilmiah dan berhubungan secara lokal. Model konseptual ini digunakan

untuk memandu praktik keperawatan berdasarkan teori. Model keperawatan adalah

alat untuk menelaah situasi klien secara sistematis, model tersebut membantu para

perawat dalam mengorganisasi pemikiran, pengamatan, dan interprestasi mereka.

Model Johnson didasarkan pada interaksi dari sistem perilaku seseorang dan

tujuh subsistem dengan lingkungan yang bertujuan untuk mencapai equibilirium

(keseimbangan). Model ini menjadi salah satu dasar untuk mengarahkan pada

praktik keperawatan yang lebih efisien dan efektif. Model dan teori juga berfungsi

sebagai penghubung antara praktik, penelitian dan pendidikan keperawatan.

Page 2: Tugas Bu Devi

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah “Aplikasi Grand Theory Behavioral System

Model Menurut Johnson Theory” antara lain:

1. Mampu menjelaskan konsep grand theory behavioral system model

2. Mampu menjelaskan aplikasi grand theory behavioral system model in journal

nursing

3. Mampu menjelaskan hasil penelitian terkait dengan teori behavioral model

sistem didalam jurnal

4. Mampu menjelaskan kekuatan dan kelemahan dari theory behavioral system

model

Page 3: Tugas Bu Devi

BAB II

ISI

A. TEORl KEPERAWATAN

Teori merupakan serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang

menunjukkan gambaran fenomena yang sistematik dan yang bertujuan

menyebutkan, menjelaskan, dan memprediksikan. Teori adalah serangkaian konsep

yang saling terkait yang menspesifikasi hubungan antar variabel. Dengan demikian,

teori keperawatan adalah serangkaian pemyataan tentang fenomena yang saling

terkait yang amat berguna untuk menyebutkan, menjelaskan, memprediksi, dan

mengendalikan (Walker &Avant, 1995, 2004 dalam Nurachmah, 2011). Teori

keperawatan, kerangka kerja bagi praktik perawat yang merupakan bagian dari

struktur displin keperawatan. Teori keperawatan lebih aplikatif dibandingkan

dengan model konseptual karena memberikan penjelasan yang spesifik terhadap

fenomena. Contoh : Neuman’s theory of client system stability; Orlando’s theory of

nursingprocess; Leininger’s theory of Culture care diversity and universality

(Tomay & Alligood, 2006).

B. MODEL KONSEPTUAL

Model konseptual tersusun dari ide-ide (konsep-konsep) abstrak dan umum,

danproposisi yang menspesifikasi hubungan diantara keduanya menunjukkan

ketertarikan di dalam menginterpretasikan fenomena (Aligood &Tomay,

2006;Peterson & Bredow, 2004). Model konseptual amat penting ”cornerstone”

bagiperkembangan disiplin keperawatan. Model konseptual lebih eksplisit

dibandingkandengan falsafah keperawatan namun masih abstrak dibandingkan

dengan penggunaan teori keperawatan. Model konseptual merupakan framework

yang menjelaskan penjabaran paradigma keperawatan. Model konseptual

memberikan pandangan yang lebih luas pada praktik keperawatan, memberikan

pedoman pengambilan keputusan melalui proses berfikir kritis dalam proses

keperawatan. Model konseptual keperawatan memperjelas fenomena ilmu

Page 4: Tugas Bu Devi

keperawatan secara spesifik yang melibatkan empat konsep (paradigma

keperawatan) yaitu manusia sebagai pribadi yang utuh dan unik. Konsep kedua

adalah lingkungan yang bukan hanya merupakan surnber awal masalah tetapi juga

merupakan sumber pendukung bagi individu. Kesehatan merupakan konsep ketiga

dimana konsep ini menjelaskan tentang kisaran sehat-sakit yang hanya dapat

terputus ketika seseorang meninggal. Konsep keempat adalah keperawatan sebagai

komponen penting dalam perannya sebagai faktor penentu pulihnya atau

meningkatnya keseimbangan kehidupan seseorang. Contoh model konseptual

adalah Johnson’s behavioral system model, King’s conceptual system, Levine’s

conservation model, Neuman’s systems model, orem’s conceptual model, Rogers

science of unitary human beings dan Roy’s adaptation model (Aligood &

Tomay,2006:48).

C. Komponen paradigma keperawatan (The Behavioral System Model):

Model Dorothy Johnson adalah sisntesis dari teori dan konsep ilmu perilaku

dan biologi yang terintegrasi ke dalam kerangka kerja sistem. Teori mengenai stres

dan adaptasi menjadi titik fokus dalam model ini.

Menurut Christensen & Kenney (2009), teori dari Dorothy E Johnson

menegmukakan bahwa setiap orang dipandang sebagai suatu sistem perilaku yang

terdiri atas tujuh subsistem. Subsistem tersebut berinteraksi dan saling terkait. Setiap

orang berupaya mencapai keseimbangan dan kestabilan baik secara internal maupun

eksternal dan berfungsi secara efektif melalui penyesuaian dan beradaptasi terhadap

tekanan-tekanan dari lingkungan melalui pola atau respon yang telah dipelajari. Jika

tekanan ini terlalu besar dan orang tersebut tidak mampu beradaptasi atau mencapai

fungsi yang optimum, maka terjadi ketidakstabilan dalam suatu subsistem atau lebih,

sehingga mengurangi kapasitas dan efisiensi fungsi dan mengurangi energi.

Perawat membantu siapa saja yang terancam atau secara potensial terancam

oleh ketidakseimbangan sistem perilaku guna mempertahankan fungsi yang efisien

dan efektif. Para perawat mengatur tekanan eksternal untuk memulihkan sistem

perilaku (biopsikososial) pada tingkat yang optimum dengan memberdayakan

Page 5: Tugas Bu Devi

regulasi/pengendalian eksternal, mengubah unsur struktural dengan arah yang

diinginkan atau memenuhi kebutuhan fungsi dari subsistem.

Berikut dapat disajikan bagan Johnson Behavioral System Model:

Gambar 1. Johnson’s Behavioral system Model

Model johnson didasarkan pada interaksi dari sistem perilaku seseorang

dengan subsistem dengan lingkungan (Christensen & Kenney (2009) :

1. Sitem Perilaku

Dalam teori sistem, suatu sistem adalah keutuhan dengan bagian-bagian

yang saling bergantungan. Bagian-bagian tersebut mempunyai struktur dan suatu

Page 6: Tugas Bu Devi

proses atau pola perilaku. Sistem ditandai oleh organisasi, inteaksi, saling

ketergantungan dan interaksi dari bagian-bagiannya melalui interaksi baik di

dalam subsistem maupun dengan tekanan eksternal yang bekerja pada subsistem.

Sistem berupaya untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan melalui

penyesuaian dan adaptasi.

2. Subsistem

Model subsistem mempunyai tujuh sistem yang saling tergantung.

Gangguan yang terjadi pada satu subsistem dapat menggaggu subsistem lainnya,

masing-masing subsistem mempunyai fungsi yang unik atau tugas khusus yang

penting untuk suatu performa terintegrasi dari keseluruhan subsistem dan masing-

masing mempunyai struktur dan fungsi. Empat struktural yang mempengaruhi

subsistem;

a) Drive/goal (tujuan)

Adalah tujuan atau dorongan, didefinisikan sebagai tujuan dari perilaku dan

konsekuensi yang dicapai, secara umum tujuan masing-masing subsistem

adalah universal namun terdapat variasi individual.

b) Set

Set subsistem individu mencerminkan predisposisi tindakan yang akan

dilakukan oleh seseorang mengacu pada tujuan. Set membedakan rentang

perilaku yang dipilih terbentuk melalui pembelajaran, penguasaan dan

pengalaman.

c) Choice

Masing-masing subsistem mempunyai pilihan perilaku alternatif untuk

mencapai tujuan khusus. Tujuan dicapai melalui perilaku subsistem individu,

d) Behavior

Perilaku yang merupakan satu-satunya aspek yang dapat diamati dari setiap

subsistem. Perilaku ini diteliti untuk mengetahui efisiensinya dalam mencapai

tujuan.

Page 7: Tugas Bu Devi

Setiap subsistem juga diikuti oleh tiga fungsional requirements, yaitu:

a) Protection

Yaitu terlindung dari pengaruh berbahaya dengan sistem yang tidak dapat

diatasi

b) Nurturance

Yaitu terpelihara melalui input yang sesuai dari lingkungan

c) Stimulation

Yaitu menstimulasi untuk meningkatakan pertumbuhan dan mencegah

stagnasi

Masing-masing subsistem mempunyai suatu set respons atau kecendrungan

perilaku yang telah ditetapkan yang diarahkan kepada tujuan atau dorongan yang

umum. Respon-respon tersebut dibentuk melalui kematangan, pengalaman, dan

pembelajaran. Respons dipengaruhi oleh faktor-faktor biopsikososial. Seiring

waktu, respon dapat dimodifikasi, tetapi suatu pola respon berulang yang dapat

diamati terus berlanjut.

Masing-masing ketujuh subsistem mempunyai tujuan yang unik:

a) Ingestif

Mengambil dari lingkungan sumber-sumber yang diperlukan untuk

mempertahankan integritas, mencapai kepuasan dan menginternalisasi

lingkungan.

b) Pencapaian

Menguasai atau mengendalikan diri atau lingkungan melalui pencarian.

Beberapa standar kesempurnaan seperti keterampilan fisik, sosial, atau

kreatif.

c) Agresif

Melindungi diri dan orang lain dari benda-benda, orang, ide-ide yang

memiliki potensi mengancam berfungsi sebagai mekanisme perlindungan

diri.

d) Eleminatif

Mengeluarkan produk sisa biologis dari sistem.

Page 8: Tugas Bu Devi

e) Seksual

Menetapkan dan memuaskan perasaan tertarik dan mengasihi orang lain.

f) Afliasi atau kelekatan

Berhubungan atau menjadi bagian dari sesuatu atau seseorang. Tujuannnya

adalah mencapai konklusi sosial, keakraban dan ikatan sosial yang kuat untuk

keamanan dan akhirnya untuk bertahan

g) Ketergantungan

Mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan guna mendapat bantuan

perhatian, kepatuhan dan keamanan bantuan dalam mencapai dukungan,

perhatian, kepercayaan dan sebagainya.

Menurut Fawcett (2005) beberapa area kekhususan keperawatan

mengembangkan model konseptual yang sesuai dengan area praktiknya. Johnson

menjelaskan 2 unit komponen mayor dalam model konseptualnya yaitu: manusia

sebagai sistem behavioral dan keperawatan. Tujuh subsistem yang harus dipenuhi

manusia guna mencapai/mempertahankan integritas individu sebagai sistem perilaku

dan mengatur interaksinya dengan lingkungan. Subsistem itu antara lain:

a) Attachment or affiliative: memberikan rasa aman dalam menjalin hubungan

sosial, kedekatan dan mememelihara ikatannya.

b) Dependency: membantu merespon stimulus seperti pengakuan, perhatian,

maupun bantuan fisik.

c) Ingestive: menentukan selera makan individu, dimana dipengaruhi oleh faktor

sosial dan psikologis.

d) Eliminative: menentukan dimana, bagaimana, dan kapan individu akan

melakukan eliminasi.

e) Sexual: menciptakan kepuasan yang dipengaruhi oleh jenis kelamin dan

identitas peran tidak hanya terbatas kepuasan dengan pasangannya saja.

f) Aggressive: melindungi diri dan komunitasnya.

g) Achievement: sebagai kontrol diri atau lingkungan (adanya kemampuan

intelektual, fisik, kreatif, mekanik, sosial dan care taking ). Struktur masing-

masing subsistem tersebut melibatkan 4 elemen yaitu: 1) tujuan, sebagai

Page 9: Tugas Bu Devi

motivasi perilaku; 2) set, predisposisi individu memenuhi fungsi dari

subsistem; 3) choice, alternative tindakan yang dipilih individu guna

memenuhi fungsi subsistem; 4) action, perilaku individu pada berbagai

situasi yang dapat diamati secara langsung.

3. Sistem

Berdasarkan definisi sistem oleh Rapoport’s 1968, Johnson mengatakan;

sebuah sistem adalah keseluruhan yang berfungsi sebagai keseluruhan tampil

secara menyeluruh dari bagiannya yang interdependen. Dia menerima pernyataan

Chin yaitu adanya organisasi, interaksi, interdependen dan integrasi dari bagian-

bagian dan elemen. Sebagai tambahan seseorang berjuang/berusaha untuk

mempertahankan keseimbangan dalam bagian-bagian ini melalui penyesuaian dan

adaptasi terhadap tekanan-tekanan (Aligood & Tomay,2006).

4. Behavior

Johnson mendefinisikan perilaku sebagai dari ilmu perilaku dan ilmu

biologi sebagai hasil dari struktur dan proses intraorganisme yang diatur dan

dibuat untuk menghadapi perubahan di dalam stimulasi sensori. Johnson berfokus

pada perilaku yang diakibatkan oleh kehadiran lingkungan sosial yang seutuhnya

yang ditunjukkan untuk mendapatkan adaptasi (Aligood & Tomay,2006).

5. Equilibrium

Johnson mengatakan bahwa keseimbangan adalah kunci dari konsep pada

tujuan keperawatan. Itu berdampak pada bagian biologi dan psycologi dimana

adanya keseimbangan setiap satu dengan yang lainnya dan dengan sosialnya

(Aligood & Tomay,2006).

6. Tension

Konsep ketegangan didefinisikan sebagai keadaan sedang keregangan atau

ketegangan dan dapat dipandang sebagai produk akhir dari suatu gangguan dalam

keseimbangan. Ketegangan dapat konstruktif dalam perubahan adaptif atau

Page 10: Tugas Bu Devi

destruktif dalam penggunaan energi yang tidak efisien, menghambat adaptasi dan

menyebabkan kerusakan struktural potensial. ketegangan adalah isyarat untuk

gangguan dalam keseimbangan (Aligood & Tomay,2006).

7. Stressor

Stimulasi internal dan eksternal dari ketegangan dan hasil dari tingkat

ketidakstabilan yang sering disebut stresor. Stimulasi mungkin sesuatu yang

positif ingin dihadirkan dari mereka, sedangkan negatif sesuatu yang tidak

diinginkan atau dihindarkan. Rangsangan dapat berupa endogen maupun eksogen

berasal dari (dan) mungkin memainkan satu atau lebih lagi pada sistem terkait

terbuka (open-linked system) (Aligood & Tomay,2006).

Selain itu komponen paradigma keperawatan yang dikemukakan johnson ada

empat elemen, yaitu:

Manusia

Johnson (1980) memandang manusia sebagai sistem perilaku yang memiliki pola,

dilakukan berulang-ulang dan bertujuan dalam menghadapi interaksinya dengan

lingkungan. Pengalaman individu sebelumnya, pembelajaran, stimulus fisik dan

sosial berpengaruh terhadap perilaku. Integritas individu terancam jika terdapat

stressor yang kuat atau pertahanan diri yang lemah sehingga menganggu

keseimbangan sistem perilakunya.

Keperawatan

Keperawatan adalah tindakan eksternal untuk mempertahankan guna mencapai

integrasi perilaku klien mencapai tingkat yang optimal, diartikan sebagai mekanisme

kontrol ketika terjadinya ketidakseimbangan perilaku atau ketika pasien sedang stress

(Brown, 2006 & Loveland, Cherry, Wilkerson 1983). Sebagai Seni dan ilmu,

keperawatan menyediakan bantuan eksternal selama terjadi ketidakseimbanga sistem

perilaku (Aligood & Tomay,2006).

Page 11: Tugas Bu Devi

Kesehatan

Suatu kondisi yang sulit dipahami, dinamis yang dipengaruhi faktor

biologis,psikologis, dan sosial. Kesehatan digambarkan sebagai organisasi, interaksi,

saling ketergantungan dan integrasi berbagai subsistem dari sistem perilaku. Individu

akan berusaha mencapai kesimbangan sistem yang menentukan fungsi perilakunya.

Ketidakseimbangan struktur atau fungsi subsistem akan mengakibatkan individu

jatuh kerentang sakit. Ketika pengeluaran energi minimum guna mempertahankan

keseimbangan sistem perilaku ini, sejumlah energi yang lebihbesar akan

mempengaruhi kebutuhan proses biologis dan pemulihan/penyembuhan. ,contoh:

pada masa penyembuhan untuk menjamin kelangsungan hidup serta mencapai

kepuasan individu (Aligood & Tomay,2006).

Lingkungan

Lingkungan terdiri dari seluruh faktor, bukan bagian dari sistem perilaku individu

tetapi mempengaruhi sistem. Perawat dapat memanipulasi beberapa aspek dari

lingkungan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal bagi klien. Individu

selalu berinteraksi dengan lingkungan. Sistem perilaku berusaha memelihara

keseimbangan dalam merespon pengaruh lingkungan dengan mengatur dan

beradaptasi terhadap lingkungan (Aligood & Tomay,2006)

D. APLIKASI TEORI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam pandangan johnson, tujuan keperawatan adalah mempertahankan,

memulihkan atau mencapai keseimbangan stabilitas dalam sistem perilaku klien. Jika

sistem seseorang tidak dapat beradaptasi atau menyesuaikan dengan tekanan

lingkungan eksternal, maka perawat bertindak sebagai kekuatan pengatur eksternal

untuk memodifikasi atau mengubah struktur atau membantu kebutuhan fungsi guna

memulihkan kestabilan (Christensen & Kenney (2009).

Menurut Aligood & Tomay (2006) The Behavioral model system diarahkan

untuk praktek, edukasi dan penelitian. Tujuan dari teori ini untuk digunakan sebagai

perlindungan, pemeliharaan dan stimulasi untuk kesimbangan pasien dan menerima

fungsi yang optimal.

Page 12: Tugas Bu Devi

Johnson tidak memandang teorinya dengan menggunakan proses keperawatan

(nursing proses). Assesment, disorder, dan treatment dan evaluasi adalah konsep

dalam variasi keramgka kerja Johnson. Ketika terjadi kerusakan perilaku dimana

tidak terorganisir, tidak menentu dan disfungsi, maka perubahan tersebut merupakan

dari lingkungan baik internal maupun eksternal sebagai yang bertanggungjawab

terhadap malfungsi tersebut. Ketika individu mengalami stress maka akan terjadi

ketidakseimbangan (equilibrium) dan memcu tegangan (tension).

Johnson mengemukakan bahwa awal pengkajian proses keperawatan pada

saat isyarat ketegangan (tension) muncul pada saat observasi dan adanya sinyal

ketidakseimbangan (disequilibrium). Sumber data pengkajian dapat berupa dari

anamnese, testing and observasi struktural. Akurasi data selama proses keperawatan

tidak dikontrol oleh perawata namun dari pasien (system). Pengamatan hanya pada

bagian struktur subsistem perilaku. Perawat harus mendapatkan informasi untuk

menetapkan tujuan, set, dan pilihan yang terdapat pada susbsistem.

Perawat memberikan sementara pengenaan mekanisme pengaturan dan

kontrol eksternal, seperti menghambat respon perilaku tidak efektif dan membantu

pasien memperoleh respon yang baru. Johnson menyarankan teknik yang dilakukan

adalah mengajarkan (theaching), role model dan konseling. Jika masalah tidak dapat

diatasi, aksi perawat dalam upaya mencegah adalah sesuai dengan metodologi.

Pemeliharaan, proteksi dan stimulasi adalah pencegahan perawatan yang penting

dalam promosi kesehatan dalam mengatasi penyakit. Hasil dari intervensi

keperawatan adalah kesimbangan sistem perilaku.

1. Proses keperawatan menurut Dorothy E Johnson

a. Assesment

Pengkajian dilakukan menggunakan tujuh subsistem perilaku yang spesifik yang

dikembangkan dari behavioral model system.

1) Attachment or affiliative

2) Dependency:

3) Ingestive

4) Eliminative

Page 13: Tugas Bu Devi

5) Sexual

6) Aggressive

7) Achievement

b. Diagnosis

Diagnosis dapat dibuat terkait dengan perbedaan dalam subsistem atau anatar

subsistem

c. Planning

Perencanaan untuk pelaksanaan asuhan keperawatan harus dimulai pada tingkat

subsistem dengan hasil akhir fungsi perilaku yang efektif diseluruh sistem

d. Implementation

Yang dilakukan oleh perawat untuk klien untuk memanipulasi subsistem pada

pencapaian keseimbangan

e. Evaluation

Evaluasi hasil penelitian ini sudah mungkin ditetapkan jika hasil keseimbangan

dibuat selama tahap perencanaan sebelum pelaksanaan.

Berikut asumsi tentang teori Johnson yang dikemukakan oleh Meleis (2012) :

1. Perilaku merupakan jumlah total dari faktor fisik, biologi, dan sosial.

2. Bukti perilaku individu pada pada suatu titik waktu tertentu adalah hasil dari

keseluruhan setelah akibat dari faktor-faktor ini dari waktu ke waktu dan pada

titik waktu

3. Ketika keteraturan dan constancies terganggu. Integritas orang itu terancam dan

fungsi diputuskan oleh order tersebut.

4. Seseorang adalah sistem perilaku yang ditandai dengan perilaku diarahkan,

teratur, dapat diprediksi dan tujuandiarahkan untuk selalu berusaha menuju

keseimbangan

5. Ada berbagai tingkat keseimbangan dan stabilisasi. kadarnya berbeda pada waktu

yang berbeda.

6. Keseimbangan adalah penting untuk fungsi yang efektif dan efisien dari individu

(pengeluaran energi minimal, kepuasan maksimal, dan kelangsungan hidup)

Page 14: Tugas Bu Devi

7. Keseimbangan dikembangkan dan dipelihara dalam subsistem atau sistem secara

keseluruhan untuk mempertahankan adaptasi dan lingkungan

8. Perubahan struktur atau fungsi dari subsistem perilaku yang berkaitan dengan

dorongan yang tidak puas, kurangnya persyaratan fungsional, atau perubahan

kondisi lingkungan.

2. Contoh kasus menggunakan teori Behavioral sytem model

Seorang 67 tahun datang ke rumah sakit untuk melakukan tes diagnostik

setelah mengalami nyeri abdomen parah dan terdapat sedikit darah dalam tinja nya.

ia sadar dan berorientasi. ia memiliki riwayat diabetes tipe II dan hipertensi.

Glukosa darah pada level 187 mg/dl dan tekanan darah 188/100 mmHg. Tinggi

badan 5’10’’ dan berat badan 145 pounds. Dia sedang mendapatkan obet

antihipertensi, anticoagulan, antiinflamatory, dan antidiabetik.

Dia juga mempunyai riwayat penyakit dengan acut cerebral vascular accident

(CVA), 6 minggu yang lalu dengan hasil parsial paralisis dan kekakuan ditangan

kanan dan kaki, aphasia, dan mengacau bicaranya. Dia telah mendapatkan rawatan

rehabilitasi (rawat inap) selama 4 minggu dan mampu berjalan jarak pendek

dengan menggunakan tongkat, dan mendapatkan bantuan tingkat menengah, dia

lemah dan mudah lelah meskipun dia dapat menggerakkan lengan kananwalau

sedikit mengalami nyeri ketika digerakkan. Dia meengkonsumsi acetaminophen

(Extra Strength Tylenol) untuk lengan kanannya pada saat sebelum tidur. ia juga

terus menunjukkan aphasia ekspresif tingkat menengah. Dia cemas tentang

kelanjutan terapi dan menunjukkan kekhawatiran karena melewatkan janji dengan

dokter ortopedi yang bertujuan untuk mengevaluasi lengan kanannya. Dia

melaporkan bahwa makan tidak terasa lagi dilidah dan tidak ada nafsu makan.

Dengan motivasi dari keluarganya dia makan dengan porsi sedukit setiap dia makan

dan minum minuman tanpa masalah.

Pasien adalah alumni universitas yang telah pensiun. Dia telah menikah

selama 45 tahun dan memiliki dua anak yang tinggal bersama dikota yang sama.

Dia merupakan ketua komunitas sosial dan gereja. Keluarga dan temannya sering

mengunjunginya di rumah sakit. Dia senang dan mencoba untuk berbicara saat

Page 15: Tugas Bu Devi

teman mengunjunginya. Ketika dia tidak dikunjung dia duduk dengan tenang di

ruangan yang gelap atau tidur, dia sediah setiap keluarga memeluk dia sebelum

pergi meninggalkannya. Dia mengucapkan terima kasih untuk setiap kunjungan dan

meminta maaf setiap kali ia "mendapat emosional".

Behavioral Assesment

Menggunakan model system Johnson, berikut pengkajian perilaku yang

teridentifikasi:

Achievement : pasien telah banyak mencapai tujuan perkembangan

dewasa. Dia belajar kembali bagaimana melakukan

aktivitas sehari-hari (ADL)

Attachment-affiliative : pasien telah menikah dan mempunyai dua anak yang

selalu mensuport dan juga tinggal dikota yang sama. Dia

juga banyak mempunyai teman dan kontak sosial yang

sering mengunjunginya.

Aggressive-protective : pasien khawatir terhadap perjalanan istrinya menuju ke

rumah sakit ketika malam hari, dan juga

mengkhawatirkan pola makan dengan baik ketika

istrinya tinggal bersamanya di rumah sakit

Dependency : dia telah stroke baru-baru ini, yang mengakibatkan

penurunan penggunaan fungsi lengan kanan dan kaki,

yang berdampak pada mobilitas dan menyelesaikan ADL

pada tingkat ketergantungan pada orang lain. potensial

untuk jatuh, ketidakmampuan untuk merasakan

lengannya atau kaki jika terluka, dan kelemahan yang

menjadi perhatian untuk keselamatannya. istrinya telah

mengambil tanggung jawab maintenence keuangan dan

rumah.

Ingestive : karena stroke, pasien telah mengalami penurunan nafsu

makan. ia telah kehilangan 20 pound dalam 6 minggu.

studi menunjukkan tidak ada kesulitan menelan. ia

Page 16: Tugas Bu Devi

mampu makan sendiri dengan tangan kirinya, namun

membutuhkan assitences untuk memotong makanannya.

Eliminative : pasien dapat buang air kecil tanpa kesulitan untuk kemih

dan lebih suka berjalan ke kamar mandi. ia menjadi

mudah sembelit karena cairan menurun dan asupan

makanan menurun.

Sexual : ada perubahan hubungan sexual pada pasien dengan

istrinya dikarenakan nyeri, dan keterbatasan pada sisi

kanannya dan kelelahan.

Environmental Assesment

Penilaian terhadap faktor lingkungan internal dan eksternal menunjukkan

bahwa beberapa menciptakan ketegangan dan mengancam keseimbangan dan

stabilitas dari sistem perilaku. hospitalisasi dan tes diagnostik menambahkan stres

tambahan terhadap stabilitas biologis dan psikologis yang sudah lemah dari sistem

perilaku. stroke menghasilkan beberapa gangguan fisik dan kognitif yang

mempengaruhi kemandirian, perawatan diri, belajar, maturasi, dan sosialisasi.

Perawatan di rumah sakit saat ini dapat menunda atau mengurangi prognosis dari

proses rehabilitasi fisik dan berbicara pasien. ia akan memerlukan bantuan untuk

bergerak dengan aman di lingkungan rumah sakit.

Pasien dan istrinya aktif di gereja mereka dan berpartisipasi dalam berbagai

kegiatan sosial. Pasien mengajar di sekolah pada kelas hari Minggu. Penyakit yang

diderita baru-baru ini, selama perawatan di rumah sakit dan adanya kelelahan telah

menurun kemampuannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Meskipun ia telah beradaptasi dengan kelemahan sisi kanan dan penurunan fungsi

motorik dengan melakukan ADL nya dengan tangan kirinya dan berjalan dengan

tongkat, ia masih membutuhkan bantuan. Pasien dan istrinya tinggal di lingkungan

suburan. anggota keluarga memasang jalan/arah untuk memudahkan akses ke

rumah. Istrinya menyatakan bahwa tetangga mengawasi rumah ketika dia pergi dan

mengawasi sekembalinya untuk memastikan bahwa dia dalam keadaan aman.

Page 17: Tugas Bu Devi

Struktural Komponen

Drive or goal : pasien tampaknya termotivasi untuk menyelesaikan tes

diagnostik dan kembali ke rumah. ia adalah pasien yang telah

menjalani pada program rehabilitasi. Sepertinya sama

pentingnya baginya untuk mengurangi stres pada istrinya.

Istrinya memberikan dorongan positif dan dukungan untuknya.

ia melihat bahwa istrinya perlu bantuan dalam pengambilan

keputusan.

Set : terbukti bahwa pasien terbiasa mengambil keputusan sendiri dan

dia sebagai pemimpin. Itu juga terbukti bahwa ia terbiasa

bertukar pikiran dengan istrinya untuk memastikan bahwa

istrinya juga merasa nyaman dengan keputusan yang dibuat.

Choice : walaupun ia tidak lagi sakit dan sudah tidak mengalami ada

perdarahan sejak perawatan di rumah sakitnya, pasien

menyetujui untuk tes diagnostik. Oleh karena itu, sekarang dia

lebih fokus pada pencapaian tujuan rehabilitasi. Dia memulai

kegiatan dan mencari bantuan dari keluarganya dalam berjalan

ke kamar mandi, berjalan di koridor, dan menyelesaikan ADL

nya.

Actions : pasien bersosialisasi kepada pengunjung dan keluarga dengan

aktif dan berpartisipasi dalam pembicaraan. Dia meminta

bantuan yang diperlukan untuk kebutuhan fisik dan kognitif. Ia

meminta doa dari keluarga dan teman-teman untuk bimbingan

rohani dalam mengelola penyakitnya.

Functional requirements

Pasien membutuhkan bantuan dari luar untuk semua kebutuhan fungsinya

termasuk perlindungan, pemeliharaan, dan stimulasi. ketidakmampuannya untuk

merasakan sisi kanan dan gangguan mobilitas nya meningkatkan potensial nya

untuk cedera. alat pelindung seperti hand bar dan kursi mandi dapat digunakan.

Pasien membutuhkan bantuan dengan menyiapkan makanan, tetapi telah

Page 18: Tugas Bu Devi

beradaptasi dengan menggunakan tangan kirinya untuk makan dan minum.

sosialisasi dan ekspektasi kinerja di fasilitas rehabilitasi pasien selama rawatan

adalah metode penting memberikan stimulasi bagi pasien. Stimulasi juga

disediakan oleh teman-teman dan keluarga yang mengunjungi pasien. Stimulasi

sosial terus sangat penting untuk pasien ini, karena ia memiliki kesulitan berupa

pemahaman lain dari rangsangan seperti radio, televisi, dan membaca.

Nursing

Tindakan keperawatan adalah kekuatan regulasi eksternal yang harus

melindungi, merangsang, dan memelihara untuk menjaga organisasi dan integrasi

dari sistem perilaku pasien. Tindakan keperawatan untuk pasien ini harus fokus

pada penyediaan penjelasan dari tes diagnostik yang akan dilakukan dan

mengidentifikasi makanan favorit dan dorongan untuk makan porsi kecil tetapi

sering dengan cairan yang cukup untuk mencegah konstipasi yang akan dibutuhkan.

Perawat harus mengadvokasi fisik pasien pada masa rawat inap dan terapi wicara

untuk merangsang kemampuan fungsional dan memperkuat pencapaian perilaku

pasien dan untuk mengurangi ketergantungan kebutuhan/bantuan. Akan sama

pentingnya untuk mendorong pasien untuk ikut sosialisasi dengan teman dan

keluarganya. Pasien dan istrinya akan membutuhkan dukungan dan bimbingan

untuk mengidentifikasi metode beradaptasi dengan mengelola ketidakseimbangan

sistem dan ketidakstabilan dengan mengidentifikasi tindakan yang akan

meningkatkan perilaku untuk menciptakan keseimbangan dan stabilitas sistem.

E. HASIL PENELITIAN TERKAIT DENGAN TEORI BEHAVIORAL MODEL

SYSTEM DI DALAM JURNAL

Banyak penelitian terkait yang dikemukakan oleh Aligood & Tomay (2006)

diantaranya adalah Small (1980) menggunakan teori Johnson sebagai kerangka

konseptual ketika saat merawat anak tunanetra. dengan mengevaluasi dan

membandingkan citra tubuh dirasakan dan kesadaran sebagian anak normal dengan

Page 19: Tugas Bu Devi

dari anak-anak tunanetra, kecil menemukan bahwa kekurangan sensorik dari anak

yang mengalami gangguan penglihatan,mempengaruhi perkembangan normal dari

citra tubuh anak dan perhatian terhadap bagian tubuhnya. Dia menyimpulkan bahwa

ketika sistem manusia mengalami stres yang berlebihan, tujuan dari sistem tidak

dapat mainted.

Wilkie, Lovejoy, Dodd, dan Tesler (1988), pemeriksan kanker perilaku kontrol

nyeri menggunakan Model Sistem Perilaku Johnson. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa orang-orang menggunakan pengetahuan perilaku yang dikenal untuk

melindungi diri dari rasa nyeri intensitas tinggi. Hal ini mendukung asumsi bahwa

'agresif / pelindung subsistem perilaku dikembangkan dan dimodifikasi dari waktu ke

waktu untuk melindungi individu dari rasa nyeri dan mewakili pilihan beberapa

pasien nyeri sebagai kontrol.

Temuan ini didukung dalam studi terbaru yang meneliti makna yang berkaitan

dengan laporan pribadi dan self-manajemen pengambilan keputusan pasien kanker

dengan nyeri tulang metastasis. nyeri yang tersedia insentif untuk mencari perawatan

dari penyedia layanan kesehatan, sehingga itu adalah mekanisme perlindungan.

namun hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar pasien kanker tidak mengambil

obat penghilang rasa sakit sesering mungkin yang ditentukan dan lebih menyukai

metode nonpharmacological, seperti posisi atau pengalih perhatian, sebagai pilihan

kontrol nyeri mereka.

Mempercayai model memiliki potensi dalam perawatan pencegahan, Majesky,

Brester dan Nishio (1978) menggunakannya untuk membangun suatu alat untuk

mengukur indikator pasien dalam asuhan keperawatan. Holaday (1980), Rawis

(1980), dan Stamler (1971) telah melakukan penelitian menggunakan salah satu

subsytem. Derdiarian (1991) menguji hubungan antara subsistem aggresive dan

protektif dan subsytem lainnya. dia menemukan dukungan proposisi bahwa subsytem

interaktif, interdependen, dan terintegrasi, sehingga, konten Derdiarian mendukung

konsep dari Johnson bahwa perubahan subsytem yang dihasilkan dari penyakit tidak

dapat dipahami dengan baik tanpa memahami hubungan mereka (subsytem) dengan

perubahan dalam subsistem lainnya.

Page 20: Tugas Bu Devi

Perawat peneliti telah menunjukkan kegunaan teori johnson dalam praktek

klinis. sebagian besar penelitian ini telah dilakukan dengan individu dengan penyakit

jangka panjang atau penyakit kronis, seperti mereka dengan inkontinensia, kanker

nyeri kronis, acquired immunodeficiency syndrome dan penyakit psikiatrik.

F. Kekuatan Dan Kelemahan Dari Theory Behavioral System Model

Kesederhanaan

Teori johnson adalah teori yang relatif sederhana dalam kaitannya dengan jumlah

konsep. Seseorang digambarkan sebagai suatu sistem perilaku yang terdiri dari tujuh

subsistem. keperawatan merupakan sebuah kekuatan peraturan luar sistem. Namun

peraturan luar sistem teori berpotensi kompleks karena terdapat beberapa

kemungkinan keterkaitan antara dan di antara sistem prilaku, subsistem-subsistem

dan kekuatan yang mengenai mereka. pada akhirnya, bagaimanapun, hanya beberapa

dari hubungan potensial telah dikemukakan.

Keumuman

Teori Johnson adalah teori yang relatif terbatas bila diterapkan pada individu yang

sakit, tetapi belum digunakan sebanyak dengan individu sehat atau pada kelompok

masyarakat. Jhonson menganggap seseorang sebagai sistem perilaku yang terdiri dari

tujuh subsistem, kumpulan dari teori prilaku yang interaktif. Jhonson tidak jelas pada

situasi apa tidak sakit atau perawatan preventive. Dalam publikasi selanjutnya,

Jhonson menekankan peran perawat dalam perawatan kesehatan preventif individu

dan bagi masyarakat. Dia menyatakan "keperawatan bertanggung jawab khusus

untuk kesehatan berasal dari itu adalah misi sosial yang unik”. Keperawatan perlu

berkonsentrasi pada pengembangan keperawatan preventif untuk memenuhi

kewajiban sosial.

Presisi Empiris

presisi empiris dicapai dengan mengidentifikasi indikator empiris untuk teori ini,

karena model mengandung konsep abstact. presisi empiris meningkat ketika

Page 21: Tugas Bu Devi

subkonsep dan hubungan antara dan di antara mereka menjadi lebih jelas dan

indikator empiris diperkenalkan kepada ilmu pengetahuan. Unit-unit dan hubungan

diantara unit dalam teori jhonson yang secara terus menerus didefinisikan dan

digunakan. Namun, keseluruhan tulisan johnson ini, istilah-istilah seperti

keseimbangan, stabilitas, dan keseimbangan, penyesuaian dan adaptasi, gangguan,

ketidakseimbangan, dan gangguan perilaku selalu berubah-ubah tanpa mengacaukan

artinya. kejelasan dalam pengertian dalam subsystem meningkatkan presisi empris

sebuah model.

Konsekuensi yang di dapat

Model Jhonson menunjukkan praktik keperawatan, pendidikan dan penelitian;

menghasilkan ide-ide baru tentang keperawatan, dan membedakan keperawatan dari

profesi kesehatan lainnya. Dengan berfokus pada perilaku dan bukan biologi, teori

keperawatan jelas membedakan dari kedokteran, meskipun konsep tersebut tumpang

tindih dengan orang-orang dari profesi psikososial. Model sistem perilaku jhonson

yang memiliki kerangka konsep bagi pendidikan keperawatan, praktek dan

penelitian. teori ini telah mengarahkan pertanyaan untuk penelitian keperawatan. Hal

ini telah dianalisis dan dinilai tidak sesuai sebagai dasar bagi pengembangan

kurikulum keperawatan. praktisi dan pasien telah menilai tindakan keperawatan yang

dihasilkan cukup memuaskan. Teori memiliki potensi untuk utilitas lanjutan dalam

keperawatan untuk mencapai tujuan-tujuan keperawatan yang bernilai.

G. APLIKASI TEORI DI DALAM JURNAL

Penelitian yang dilakukan oleh Nuraini, widati dan Ah Yusuf pada tahun 2011

dengan judul upaya meningkatkan perilaku pasien dalam tata laksana diabetes

mellitus menggunakan pendekatan teori model behavioral system Dorothy E

Johnson. Di sini peneliti menggunakan sistem behavioral, dengan perawat sebagai

pengubah perilaku pasien, pasien yang mengalami stressor sehingga terganggu

keseimbangannya, teknik yang digunakan adalah dengan motivasi dan pengetahuan.

Page 22: Tugas Bu Devi

Menurut peneliti perawat merupakan faktor yang mempunyai peran penting

dalam merubah perilaku pasien sehingga terjadi kondisi keseimbangan (equilibrium)

dalam diri pasien. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan model

asuhan keperawatan Behavioral System Model dari Dorothy E. Johnson. Teori

Behavioral System Model memandang individu sebagai sistem perilaku yang selalu

ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas, baik di lingkungan internal atau

eksternal, juga memiliki keinginan dalam mengatur dan menyesuaikan dari pengaruh

yang ditimbulkannya. Intervensi yang digunakan untuk merubah perilaku pasien

dalam Behavioral System Model yaitu regulasi eksternal, misalnya dengan cara

membatasi perilaku dan menghambat respon perilaku yang tidak efektif, merubah

elemen structure dengan tujuan untuk memotivasi pasien dengan cara memberikan

pendidikan kesehatan dan konseling dan memenuhi kebutuhan subsistem dengan

cara nurture, protect dan stimulate. Pemberian motivasi dapat memperbaiki perilaku

pasien terhadap pengobatan karena dalam hal ini kita menanamkan kesadaran

individu untuk mentaati pengobatan didasari adanya keinginan yang timbul dari

dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan konsep yang diciptakan oleh Johnson bahwa

untuk merubah perilaku seseorang dapat dilakukan dengan cara memotivasi drive

menjadi action. Aplikasi teori ini untuk memperbaiki perilaku pasien diabetes

mellitus belum diteliti, oleh karena itu peneliti mengadakan penelitian tentang

perbedaan pengetahuan, sikap dan praktik pasien dalam tatalaksana DM akibat

pemberian motivasi dan edukasi.

Page 23: Tugas Bu Devi

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemahaman terhadap model konseptual bagi perawat sangat penting, karena dapat

menjadi kerangka kerja dalam pelaksanan asuhan keperawatan. Model konseptual

ini berfokus terhadap sistem yang meliputi manusia, keperawatan, lingkungan dan

kesehatan yang saling kerterkaitan satu dengan yang lainnya.

Johnson merupakan salah satu ahli dalam model konseptual keperawatan yang

berfokus pada perilaku sering dikenal Theory Behavioral System Model, model

konseptual ini digunakan untuk memandu praktik keperawatan berdasarkan teori.

Model Johnson didasarkan pada interaksi dari sistem perilaku seseorang dan tujuh

subsistem dengan lingkungan yang bertujuan untuk mencapai equibilirium

(keseimbangan). Model ini menjadi salah satu dasar untuk mengarahkan pada

praktik keperawatan yang lebih efisien dan efektif. Model dan teori juga berfungsi

sebagai penghubung antara praktik, penelitian dan pendidikan keperawatan.

3.2 Saran

1. Peningkatan penggunaan model koseptual/teori keperawatan dalam tatanan

praktik, pendidikan, dan riset.

2. Peningkatan komunikasi antara tatanan praktik, pendidikan, dan penelitian

dalam sharing pengetahuan dengan tujuan akhir terdapat peningkatan kualitas

asuhan keperawatan.

Page 24: Tugas Bu Devi

DAFTAR PUSTAKA

Alligood, Martha Raile & Tomey, Ann Mariner (2006). Nursing Theory and Their

Work 7th edition. USA: Mosby Elsevier

Christensen, Paula J & Kenney, Janet, W (2009). Proses Keperawatan, Aplikasi

Model Konseptual Edisi ke 4. Jakarta: EGC

Fawcett, J (2005). Contempory nursing knowladge : analysis and evaluation of

nursing models and theories 2th edition. Norwalk: appleton & Lange

Meleis, Afaf, I (2012). Theoritical Nursing Development and Progress 5th edition.

Pennsylvania: Wolters Kluwer

Nur Aini, dkk (2011). Upaya Meningkatkan Perilaku Pasien Dalam Tatalaksana

Diabetes Mellitus dengan Pendekatan Teori Model Behavioral System

Dorothy E. Johnson. journal.lib.unair.ac.id/index.php/JN/article

Page 25: Tugas Bu Devi

Tugas makalah teori dan falsafah keperawatan

OLEH :

NEVI HASRATI NIZAMI

ENNY JURISA

NANDA FITRIA

MAGISTER ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM PASCA SARJANA

UNSYIAH

2012

Page 26: Tugas Bu Devi