pengembangan produk bermedia vlog untuk bahan ajar

of 224 /224
PENGEMBANGAN PRODUK BERMEDIA VLOG UNTUK BAHAN AJAR MENYIMAK PEMELAJAR BIPA TINGKAT BEGINNER DI WISMA BAHASA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Sirilia Mariani Marganingsih Putri 141224026 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Author: others

Post on 16-Oct-2021

6 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Oleh:
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
BAHASA YOGYAKARTA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Oleh:
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
ii
iii
iv
Karya ini saya persembahkan kepada:
Tuhan Yesus yang selalu menyertai setiap langkah dan keputusan yang saya ambil.
Kedua orang tua saya, Yohanes Lasito dan Yuliana Tentrem. Adik saya Albertus
Bagus Setyanto serta seluruh keluarga besar saya yang selalu mendukung saya
sehingga saya merasa yakin atas segala sesuatu yang saya jalani.
Teruntuk sahabat saya Dyah Carinae Yalapuspita, Ribkha Kristina Wati, Dania
Kusumawati, Yenny Silvia Ningrum, Egy Mauliani, Patrisia Arum, Feeling Bakri,
yang selalu membantu dan memberikan semangat serta mendoakan saya. Terima
kasih atas segalanya.
Penyemangat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, Park Chanyeol, Do kyungsoo
dan semua anggota EXO. Berkat alunan lagu yang selalu mengiringi saya dalam
menyelesaikan skripsi.
Teman-teman terbaik saya di PBSI A 2014 serta Keluarga Besar PBSI.
Almamater tercinta
v
MOTTO
(Byun Baek Hyun-EXO)
Do Everything with Passion. Then everything you want will come to you.
(Sunny Dahye)
“Whatever you ask for in prayer with faith, you will recive”
(Mat 21:22)
“Change is hard at first, messy in the middle and gorgeous at the end”
(Unknown)
. . . .
“It’s okay to make a mistakes sometimes. Because anyone ca do so. Although
comforting by saying it’s alright are just words”
(Lee Hai – Breath)
vi
vii
viii
ABSTRAK
Untuk Bahan Ajar Menyimak Pemelajar BIPA Tingkat Beginner Di Wisma
Bahasa Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Sastra
Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata
Dharma.
Sebuah media belajar selalu diharapkan dapat membantu pemelajarnya
termasuk juga pemelajar BIPA. Media yang masih banyak digunakan pemelajar BIPA
tingkat beginner sekarang adalah audio dan gambar. Melalui penelitian ini peneliti
mencoba mendekatkan materi ajar dengan inovasi media belajar yang nyata/rill sesuai
dengan kebutuhan pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu, (1) Apa sajakah kebutuhan media
vlog untuk bahan ajar menyimak pada pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma
Bahasa? (2) Bagaimanakah pengembangan produk bermesia vlog untuk bahan ajar
menyimak pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta? 3)
Bagaimana kualitas media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar BIPA tingkat
beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta? Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan media dan bahan ajar yang dapat membantu pemelajar BIPA di
tingkat beginner dalam mengembangkan keterampilan berbahasanya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Penelitian ini
menggunakan langkah penelitian oleh Brog and Gall yang dipersingkat menjadi lima
langkah penelitian, meliputi (1) analisis kebutuhan dan pengumpulan informasi, (2)
pengumpulan data, (3) pengembangan produk, (4) uji validasi produk dan revisi, (5)
uji coba lapangan dan penyempurnaan. Hasil analisis kebutuhan menyatakan bahwa
pemelajar BIPA tingkat beginner membutuhkan media pembelajaran yang nyata dan
mendekatkan materi dengan situasi rill.
Kebutuhan media vlog untuk bahan ajar menyimak adalah mengembangkan
lima materi yang dipilih pemelajar BIPA. Materi tersebut meliputi (a) perkenalan dan
menyapa, (b) kegiatan sehari-hari, (c) menyatakan posisi, (d) berbelanja dan menawar,
dan (e) menyatakan arah. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukan bahwa produk
media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar BIPA mempunyai kualitas “baik”
dan layak digunakan pada pemelajar BIPA tingkat beginner. Hasil ini meliputi (1)
penilaian validator media dengan nilai 4,4 kategori “sangat baik”, (2) penilaian
validator materi dengan nilai 3,4 kategori “baik”, dan (3) instruktur BIPA dengan nilai
4,1 kategori “baik”. Hasil uji coba produk pada pemelajar BIPA tingkat beginner
mendapatkan kesilpulan “cukup membantu” dari pemelajar BIPA. Dapat disimpukan
bahwa pengembangan media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar BIPA tingkat
beginner layak digunakan sebagai media pembelajaran alternatif.
Kata kunci: Media, Bahan ajar, Keterampilan menyimak, Vlog.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ix
ABSTRACT
Undergraduate Thesis. Indonesian Language and Letters Education Study
Program, Department of Language and Letters Education, Faculty of
Teachers Training and Education, Sanata Dharma University.
Learning media are always expected to assist the learners and this situation
also applies to the BIPA students. In relation to the statement, up to date the learning
media that BIPA students have been relying onto are the audio-based and the visual-
based media. Looking at the situation, through the conduct of the study the researcher
would to try bringing the learning materials closer to the innovation in the use of real
or concrete learning media in accordance to the Beginner Level BIPA students from
Wisma Bahasa Yogyakarta. Then, the problems that will be discussed in the study are
as follows: (1) what are the needs of the vlog-based learning media as part of learning
materials for the Beginner Level BIPA students in Wisma Bahasa Yogyakarta; and (2)
how to developing vlog as media for teaching material listening to BIPA learners
beginner level at Wisma Bahasa Yogyakarta? 3) how is the quality of vlog-based
learning media as part of learning materials for the Beginner Level BIPA students in
Wisma Bahasa Yogyakarta. On the other hand, the objective of conducting the study is
to develop learning media and materials that might assist the Beginner Level BIPA
students in developing their linguistic skills.
The study is a research and development effort that has adopted the procedures
of Borg and Gall. These procedures consist of five steps as follows: (1) needs analysis
and information gathering; (2) data collection; (3) product development; (4) product
validation test and revision; and (5) field test and improvement. The results of the needs
analysis show that the Beginner Level BIPA students need actual learning media closer
look to real situations.
The needs of vlog-based media as the learning materials for the listening
activities are related to the development of five materials that the BIPA students have
selected. These materials include: (1) introduction and greetings; (2) daily activities;
(3) stating positions; (4) shopping and bargaining; and (5) giving directions. Then, the
results of the study show that the vlog-based media as the learning materials for the
listening activities among the BIPA students has “Good” quality and thus is feasible
for implementation by the Beginner Level BIPA Students. these results include: (1) the
assessment from the media validator with 4.4 point and “Very Good” category; (2) the
assessment from the material validator with 3.4 point and “Good” category; and (3)
the assessment from the BIPA instructor with 4.1 point and “Good” category.
Furthermore, the results of product test to the Beginner Level BIPA students show that
the product has been “quite helpful” for assisting their listening activities. Therefore,
it might be concluded that the development of vlog-based media for the Beginner Level
BIPA students are feasible to be implemented as an alternative learning media.
Keyword: Media, Learning Materials, Listening Skills, Vlog
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
senantiasa memberikan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Pengembangan Produk Media Vlog untuk Bahan Ajar
Menyimak Pemelajar BIPA tingkat Beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta”. Skripsi
ini disusun oleh penulis sebagai syarat untuk menyelesaiklan studi di Program Studi
Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini berhasil diselesaikan karena bantuan dan
dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus, atas berkat dan kasih-Nya kepada saya.
2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku dosen pembimbing dan Ketua
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang dengan sabar serta
bijaksana dalam membimbing dan memberikan berbagai masukan kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi.
4. Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xi
5. Dr. B. Widharyanto, selaku dosen pembimbing kedua yang dengan sabar
menuntun penulis untuk menyelesaikan skripsi.
6. Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., dan Pak Damai, selaku dosen Universitas
Sanata Dharma yang telah bersedia menjadi validator dalam penelitian ini.
7. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah
mendidik, membimbing, dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi.
8. Agus Soehardjono, S.S., M.M., selaku Direktur Wisma Bahasa Yogyakarta.
Terimakasih atas ijin yang telah diberikan peneliti untuk mengadakan penelitian
di Wisma Bahasa Yogyakarta.
9. Agung Siswanto, S.Pd., selaku instruktur BIPA yang telah membimbing selama
proses penelitian berlangsung.
10. Rina Nur Aziza, selaku instruktur BIPA Wisma Bahasa Yogyakarta yang telah
bersedia membantu saya dalam menguju coba produk dan bersedia menjadi
validator produk.
11. Pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa yang menbantu panulis dalam
waktu dan kesempatan untuk penelitian produk media vlog.
12. Keluarga penulis tercinta, Bapak Yohanes lasito, Ibu Yuliana Tentrem serta Adik
Albertus bagus yang selalu memberikan motivasi dan dukungan doa kepada
penulis.
13. Teman-teman Mitra Perpustakaan, Dani, Selvi, dan Zico yang selalu memberikan
kesempatan unutk bercerita serta semangat positif kepada penulis.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xii
xiii
HALAMAN PUBLIKASI .................................................................................. vii
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 6
D. Spesifikasi Produk ........................................................................................ 6
E. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 7
F. Batasan Istilah ............................................................................................... 8
2. Penelitian dan pengembangan .................................................................. 8
3. Keterampilan menyimak .......................................................................... 8
xiv
B. Profil Wisma Bahasa Yogyakarta ................................................................. 14
1. Visi dan misi Wisma Bahasa Yogyakarata .............................................. 15
2. Tingkat pemelajar BIPA di Wisma Bahasa Yogyakarta .......................... 15
C. Landasan Teori .............................................................................................. 16
c. TIngkatan Pemelajar BIPA (CEFR) .................................................. 18
2. Media Pembelajaran .................................................................................. 20
3. Bahan Ajar ................................................................................................ 22
4. Keterampilan Menyimak .......................................................................... 27
a. Pengertian Menyimak ....................................................................... 27
b. Tahap-tahap Menyimak ..................................................................... 29
c. Ragam Menyimak ............................................................................. 29
d. Proses Menyimak .............................................................................. 31
xv
c. Proses Pembuatan Vlog ..................................................................... 34
D. Kerangka Berpikir ......................................................................................... 36
A. Jenis Penelitian .............................................................................................. 38
B. Prosedur Pengembangan ............................................................................... 38
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................ 45
E. Instrumen Penelitian ..................................................................................... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 56
A. Hasil Penelitian ............................................................................................. 56
a. Deskripsi Data Angket Analisis Kebutuhan Pemelajar BIPA .......... 57
b. Deskripsi Wawancara dengan Instruktur BIPA ................................ 65
2. Perencanaan Produk Awal ..................................................................... 70
a. Proses Pengembangan Media Vlog untuk Bahan Ajar Menyimak ... 71
b. Produk Awal ...................................................................................... 74
3. Pengembangan Produk ........................................................................... 76
4. Validasi Produk ...................................................................................... 77
5. Revisi Validasi Ahli dan Instruktur BIPA ............................................. 84
a. Revisi Validasi oleh Dosen Ahali Materi .......................................... 84
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xvi
6. Uji Coba Produk .................................................................................... 87
7. Kajian Akhir ........................................................................................... 90
b. Bahan Ajar Buku LAtihan Bahasa Indonesia untuk Pemula .......... 94
B. Pembahasan ................................................................................................... 99
xvii
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Analisis Kebutuhan Pembelajar BIPA ..................................... 47
Table 3.2 Kisi-Kisi Penilaian Produk oleh Dosen Ahli dan Instruktur BIPA ........... 48
Table 3.3 Kisi-Kisi Penilaian Produk oleh Pemelajar BIPA .................................... 50
Table 3.4 Kisi-Kisi Wawancara Analisis Kebutuhan Instruktur .............................. 51
Tabel 3.5 Konversi Nilai dan Kriteria Skala Lima .................................................. 52
Tabel 3.6 Konversi Nilai dan Kriteria Skala ............................................................ 55
Tabel 4.1 Hasil Angket Analisis Kebutuhan Identitas Pemelajar BIPA ................... 58
Tabel 4.2 Hasil Angket Analisis Kebutuhan Materi Pemelajar Tingkat Beginner ... 58
Tabel 4.3 Hasil Angket Analisis Kebutuhan Materi yang Sangat Dibutuhkan ........ 60
Tabel 4.4 Hasil Validasi Dosen Ahli Materi ............................................................ 79
Tabel 4.5 Hasil Validasi Dosen Ahli Media ............................................................ 80
Tabel 4.6 Hasil Validasi Instruktur BIPA ................................................................ 83
Tabel 4.7 Hasil Revisi Validasi oleh Dosen Materi ................................................. 84
Tabel 4.8 Hasil Revisi Validasi oleh Instruktur BIPA ............................................. 86
Tabel 4.9 Hasil Angket Uji Coba Pemelajar BIPA Tingkat Beginner ...................... 87
Tabel 4.10 Hasil Kesimpulan Angket Uji Coba Pemelajar BIPA ............................ 89
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xviii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Tampilan Awal Vlog Dengan Materi Belanja dan Menawar ............... 74
Gambar 4.2 Tampilan Awal Vlog Dengan Materi Perkenalan dan Menyapa .......... 74
Gambar 4.3 Tampilan Awal Vlog Dengan Materi Menunjukan Arah ..................... 75
Gambar 4.4 Tampilan Awal Vlog Dengan Materi Menunjukan Posisi ................... 75
Gambar 4.5 Tampilan Awal Vlog Pemelajar BIPA Tingkat Beginner .................... 91
Gambar 4.6 Tampilan Scane Isi Vlog Pemelajar BIPA Tingkat Beginner .............. 92
Gambar 4.7 Potongan Ending Pada Setiap Vlog ...................................................... 93
Gambar 4.8 Sampul Depan dan Belakang ............................................................... 94
Gambar 4.9 Halaman Judul ...................................................................................... 95
Gambar 4.10 Halaman Identitas Editor dan Desain ................................................. 96
Gambar 4.11 Tampilan Kata Pengantar ................................................................... 96
Gamabr 4.12 Tampilan Daftar Isi ............................................................................ 97
Gambar 4.13 Rumusan Kompetensi Dasar dan Indikator ......................................... 97
Gambar 4.14 Tampilan Isi Buku Latihan Bahasa Indonesia .................................... 98
Gambar 4.15 Tampilan Glosarium ............................................................................ 99
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
xix
Bagan 3.1 Skema Prosedur Penelitian Pengembangan ............................................ 42
Bagan 4.1 Langkah-langkah Editing Vlog ............................................................... 72
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1
Maraknya orang asing yang berkunjung ke Indonesia kian hari kian
meningkat. Hampir sebagian besar, orang asing ini datang dengan tujuan untuk
memperlajari bahasa Indoneisa. Mereka dikenal sebagai pemelajar BIPA. Mackey
dan Mountford (Sofyan 1983; dalam Suyitno, 2007) mengatakan bahwa terdapat tiga
kebutuhan yang mendorong seseorang belajar bahasa, yakni (1) kebutuhan akan
pekerjaan, (2) kebutuhan program latihan kejuruan, dan (3) kebutuhan untuk belajar.
Sama halnya dengan Soewandi (1994:4-6; dalam Suyitno, 2007) yang menyebutkan
bahwa tujuan pembelajaran BIPA yang sangat menonjol adalah (1) untuk
berkomunikasi keseharian dengan penutur bahasa Indonesia (tujuan umum) dan (2)
untuk menggali kebudayaan Indonesia dengan segala aspeknya (tujuan khusus).
Bahasa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bahasa yang
mengglobal. Dengan peluang yang besar ini, Bahasa Indonesia memiliki peminat dari
banyak orang asing. Biasanya orang asing yang mempelajari bahasa Indonesia tidak
lain bertujuan untuk keperluan komunikasi antar negara. Selain kebutuhan
berkomunikasi, ada pula orang asing yang memiliki ketertrikan untuk mempelajari
keanekaragaman yang ada di Indonesia ini. Tentu Indonesia memiliki
keanekaragaman budaya yang banyak, dan salah satunya adalah bahasa tradisional.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
Dari rasa ketertarikan tersebut, banyak orang asing yang ingin mengenal lebih dalam
tentang
Pemelajar BIPA sendiri terbagi atas tiga tingkatan yaitu tingakat awal,
tingkat menengah dan tingkat lanjut. Dalam CEFR (Common European Framework
of Reference for Languages), pemelajar bahasa asing di kelompokan pada enam
tingkat yaitu A1, A2 (beginner dan post beginner), B1, dan B2 (Intermediate atau
tingkat menengah) dan C1, C2 (advance tingkatan teratas). CEFR juga dipandang
sebagai standar yang baik untuk pengembangan buku ajar (Dewi, 2016). Wisma
Bahasa sendiri mengadaptasi tingkatan pemelajar dari CEFR. Wisma Bahasa
menggunakan tujuh tingkatan yang ada yaitu 1A, 1B, 2A,2B, 3A, 3B dan 4.
Tingkatan empat yang menjadi pembeda pada tingkatan CEFR. Dalam penelitian
pengembangan ini peneliti memilih pemelajar BIPA pada tingkat beginner. Pemelajar
tingkat beginner adalah pemelajar yang berada di level awal. Karakteristik dari
pemelajar beginner adalah pemelajar yang membutuhkan pembelajaran bahasa
tingakat dasar, dan terbatas pada kebutuhan sehari-hari (surivev).
Selanjutnya, keterampilan berbahasa terdiri atas empat yaitu (1) menyimak,
(2) membaca, (3) menulis dan (4) berbicara. Keempat keterampilan berbahasa ini
memiliki peran penting untuk kemampuan berbahasa pemelajar BIPA. Government
of Saskatchewan (2013, dalam Dewi, 2016) mengungkapkan keterampilan
kebahasaan dikenal juga dengan communicative skills yang meliputi menyimak
(listening), berbicara interaktif (spoken interaction), kemampuan berbicara produktif
(spoken production), membaca (reading), dan menulis (writing). Kemampuan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
pembelajaran yang bervariatif. Harapannya, keempat kemampuan berbahasa ini akan
terintegrasi sehingga pemerolehan berbahasanya menjadi maksimal.
Dalam praktiknya, bahan ajar untuk pembelajaran bahasa Indonesia bagi
pemelajaar BIPA sudah banyak kita jumpai sekarang. Salah satu buku ajar yang ada
adalah buku PPSDK keluaran pemerintah. Namun, buku PPSDK saat ini belum
banyak digunakan di lembaga-lembaga bahasa yang ada. Biasanya mereka memiliki
buku panduan pembelajaran sendiri, sesuai dengan kebutuhan pemelajar yang belajar
di lembaga bahasa tersebut. Hal ini terjadi karena belum adanya ketetapan yang sah
untuk skl dan kurikulum bagi pemelajar BIPA. Karena dapat kita ketahui, setiap
pemelajar BIPA memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mempelajari bahasa
Indonesia tersebut.
Bahan-bahan ajar yang ditemukan dalam pembelajaran BIPA masih kurang
autentik. Bahan yang dikatakan kurang autentik adalah bahan ajar yang memang
dibuat untuk pembelajaran (Kompasiana, 10/08/2015). Contohnya, bentuk
percakapan jual-beli yang dibuat antara orang asli dengan seorang pemelajar BIPA.
Hal ini akan tampak dari dialog yang diucapkan dibuat semata-mata untuk
pemelajaran. Bahan ajar autentik dan tidaknya sama-sama memiliki kelemahan dan
kelebihan. Bahan ajar yang autentik akan lebih menarik dan sesuai dengan fungsi
yang sebenarnya, seperti pemutaran lagu, film atau dengan membaca Koran.
Sedangkan kelebihan dari bahan ajar yang tidak autentik adalah mudah didapat.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
Maksudnya, bahan ajar ini adalah produksi dari suatu institusi atau pemerintah, dan
juga relatif mudah untuk di mengerti (Kompasiana, 10/08/2015). Berdasarkan hasil
wawancara dengan salah satu instruktur BIPA, pembelajaran akan lebih menarik jika
bahan ajar, media, penggunaan bahasa, dan latihan yang digunaknya juga bersifat
autentik.
Berbeda dengan bahan ajar, media pembelajaran untuk BIPA dikenal
memiliki berbacam macam jenis, mulai yang berupa visual, audio maupun gabungan
dari audio dan visual. Khusus untuk media pembelajaran BIPA pada tingkat
beginner, para pemelajar ini banyak menggunakan media realia dan audio. Media-
media ini sifatnya masih terbatas untuk tingkatan beginner. Alasanya, pemelajar
beginner merupakan pemelajar tingkat awal yang masih mempelajari tentang
kebutuhan dasar untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Media realia merupakan
media visual yang berupa gambar.
Dari sekian banyak media yang ada, peneliti mengajukan penelitian dengan
media video khususnya pada vlog. Vlog merupakan perpaduan antara video dan blog
(Werner,2012). Konten blog yang sering kita temui berupa sebuah tulisan. Berbeda
halnya dengan vlog, konten yang ditawarkan sebuah video yang pada dasarnya berisi
konten blog. Vlog sekarang ini sudah banyak di kenal di masyarakat. Mulai dari
konten vlog yang berupa perjalanan, pariwisata, kuliner hingga pembelajaran. Peneliti
berupaya untuk membuat media pembelajaran dengan menggunakan vlog yang
memadukan konten perjalanan, pariwisata, kuliner dan pembelajaran. Dengan media
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
menyenangkan.
Media vlog untuk bahan ajar menyimak yang memiliki karakteristik video
blog berbasis konten sehari-hari. Media vlog untuk bahan ajar menyimak akan
menjadi media yang pas digunakan pada pemelajar tingkat beginner karena sesuai
tujuannya dengan kebutuhan pembelajarannya. Pemelajar baginner memiliki tujan
berbahasa secara komunikatif dalam lingkup kegiatan sehari-hari. Dalam hal ini
peneliti berharap dengan pembelajaran yang menggunakan metode komunikatif dan
terintegratif dapat meningkatkan keterlampilan berbahasa pemelajarnya.
Di Wisma Basaha Yogyakarta belum pernah menggunakan media
pembelajaran berbasis vlog. Berdasarkan hal tersebut, peneliti memiliki peluang
untuk mengembangkan bahan ajar keterampilan menyimak dengan media vlog. Hal
ini menjadi sebuah inovasi baru terhadap pengembangan media pembalajaran di
Wisma Bahasa. Vlog akan menjadi hal baru dalam media pembelajaran di Wisma
Bahasa. Dari masalah-masalah tersebut, peneliti mengusulkan judul penelitian
Pengembangan Produk Bermedia Vlog Untuk Bahan Ajar Menyimak Pemelajar
BIPA Tingkat Beginner Di Wisma Bahasa Yogyakarta. Dengan begitu, peneliti dapat
memberikan inovasi baru pada media pembelajaran untuk bahan ajar menyimak pada
pemelajar BIPA yang belajar bahasa Indonesia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
B. Rumusan masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini meliputi beberapa hal sebagai
berikut.
1. Apa sajakah kebutuhan media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar BIPA
tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta?
2. Bagaimanakah pengembangan produk bermesia vlog untuk bahan ajar menyimak
pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta?
3. Bagaimana kualitas media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar BIPA
tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta?
C. Tujuan penelitian
1. Mendeskripsikan kebutuhan media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar
BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
2. Mendeskripsikan pengembangan produk bermesia vlog untuk bahan ajar
menyimak pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
3. Mendeskripsikan kualitas media vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar
BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
D. Spesifikasi Produk
menghasilkan media yang akan dikembangkan. Adapun spesifikasi produk dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut. Produk yang dihasilkan berupa media vlog
(video blogging) yang mencangkup tiga bagian yaitu opening, story, dan ending
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
vlogging dan bahan ajar berupa buku latihan Bahasa Indonesia untuk tingkat Pemula.
Di dalam vlog mengandung gambar, suara, musik, dan konten pembelajaran bahasa
Indonesia pada tingkat beginner. Sedangkan Buku Latihan Bahasa Indonesia memuat
panduan struktur kalimat, latihan-latihan, catatan budaya serta glosarium. Media vlog
akan diedit menggunakan program software editing video untuk menghasilkan
tampilan yang menarik dengan durasi dari 3 menit hingga 7 menit. Dan buku latihan
Bahasa Indonesia dirancang menggunakan media grafis berupa Corel Draw X-7.
E. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoretis seperti di
bawah ini.
pemelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing khususnya pada tingkat beginner.
2. Manfaat Praktis
bahasa, peneliti, dan pemelajar bahasa asing. Adapun penjelasan dari ketiganya
adalah sebagai berikut
a. Bagi Peneliti
mengembangkan media dan bahan ajar bahasa Indonesia bagi penutur asing.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
bahan ajar yang ada di lembaga bahasa.
c. Bagi Pemelajar BIPA
bahasa Indonesia secara terintegratif dan komunikatif.
F. Batasan Istilah
Dalam penelitrian ini ada beberapa batasan istilah yang akan dibahas oleh
peneliti. Batasan istilah antara lain sebagai berikut.
1. Pemelajar BIPA level beginner adalah pemelajar tingkat awal. Pemelajar pada
tingkat ini membutuhkan keterampilan bebrbahasa yang terbaas pada kebutuhan
kelangsungan hidup dasar.
2. Penelitian dan Pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut
(Sugiyono, 2015).
mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan
mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya (Tarigan, 1991)
4. Vlog adalah perpaduan antara “video” dan “blog”. Vlog membagikan konten
tekstualnya berbasis video dengan nada informal dan penuh semangat kepada
audiensnya. Perbandingan antara vlog dan blog sejauhini hanya itu. Blog berbasis
tekstual yang berseri sedangkan vlog akan muncul pada kelompok konten.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
pendahuluan, (2) kajian pustaka, (3) metode pengembngan, (4) hasil pengembangan,
dan (5) penutup. Bab I menguraikan bagian pendahuluan yang terdiri atas enam
subbab. Bagian awal adalah latar belakang masalah, dari fakta yang ada. Hal tersebut
diuraikan secara terperinci di dalam rumusan masalah.
Selanjutnya, peneliti memaparkan tujuan pengembangan dan manfaat dari
penelitian pengembangan ini. Peneliti memlikiki asumsi dasar atas penelitian
pengembangan ini. Kemudian, asumsi dasar tersebut dijabarkan dalam batasan istilah
yang dipergunakan. Peneliti menguraikannya dalam batasan istilah guna membantu
pembaca secara operasional. Sehingga, pembaca mendapatkan gambaran yang jelas
tenteang masalah yang diteliti. Bagian akhir dari pendahuluan adalah sistematika
penelitian.
Bab II berisi kajian teori. Pada bab ini dipaparkan hal-hal lain yang
memperkuat teori dari penelitian. Di antaranya (1) Penelitian yang relevan (2) Profil
Wisma Bahasa Yogyakarta, (3) Definisi, Karakteristik, prinsip penyusunan dan
bentuk Bahan ajar, (4) Pemelajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA)
Tingakat Beginner (5) keterampilan Menyimak, (6) Vlog. Selanjutnya peneliti
memaparkan kerangka berpikir dan hipotesis penelitian pada bagian akhir bab ini.
Bab III menjabarkan metode pengembangan yang digunakan. Pada bab ini
diuraikan (1) jenis penelitian, (2) Data dan sumber data, (3) Teknik pengumpulan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
data, (4) Instrument penelitian, (5) Teknik dan analisis data, dan (6) Prosedur
pengembangan bahan ajar menyimak terintegratif pada pemelajar bahasa Indonesia
tingkat beginner di Wisma Bahasa, Yogyakarta.
Bab IV merupakan hasil penelitian dan pembahasan. Hal-hal yang diuraikan
dalam bab ini yaitu (1) paparan dan hasil analisis kebutuhan, (2) draf produk media
pembelajaran, (3) dskripsi dan analisis data berdasarkan ahli media, (4) paparan dan
hasil proses uji coba lapangan, (5) hasil revisi media pembelajaran, (6) produk akhir,
dan (7) pembahasan.
Bab V adalah penutup. Pada bab ini dipaparkan tiga Hal yaitu, (1) peneliti
menyimpulkan tentang kajian produk pengembangan berdasarkan paparan halsil
penelitian yang telah dilakukan peneliti, (2) Implikasi, dan (3) saran-saran yang
bermanfaa bagi pihak yang terkait dengan penelitian ini.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang pertama dilakukan oleh
Rooselina Ayu Setyaningrum, Agnes Linda Hapsari, Devina Alianto dan Rishe
Purnama Dewi. Peneliti pertama adalah Setyaningrum (2011) dengan judul
Pengembangan Materi Menyimak dengan Media Audiovisual Level Advanced
Berbasis Interkultural untuk Pembelahar BIPA, yang menghasilkan produk berupa
materi pembelajaran menyimak dengan media audiovisual. Media ini berisi enam
topik, di antaranya pariwisata, puisi, legenda, cerita rakyat, cerpen, dan novel. Produk
yang dihasilkan belum diuji coba untuk pemelajar tingkat advanced di Wisma
Bahasa. Hasil penelitian menunjukkan, pertama produk ini dapat dimanfaatkan
untuk pembelajaran menyimak dengan media audiovisual bagi pemelajar BIPA level
advanced, baik yang memang ingin mempelajari budaya Indonesia maupun yang
tidak. Kedua, produk ini dapat meningkatkan keterampilan berbahasa pembelajarnya
melalui kegiatan menceritakan kembali maupun dalam setiap latihan-latihan yang
telah diberikan penelitinya.
Relevansi penelitian pertama dengan penelitian pengembangan produk
bermedia vlog untuk bahan ajae menyimak pada pemelajar BIPA tingkat beginner di
Wisma Bahasa Yogyakarta adalah sama-sama mengembangkan keterampilan
menyimak untuk pemelajar BIPA. Perbedaan dari penelitian pertama terletak pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
tingkatan level yang diambil oleh peneliti serta media yang diambil sebagai penelitian
pengembangannya. Peneliti mengembangkan media vlog untuk bahan ajar menyimak,
sedangkan penelitian terdahulu menggunakan media audiovisual.
Penelitian kedua adalah milik Hapsari (2013), dengan judul Pengembangan
Silabus dan Bahan Pembelajaran Menyimak Menggunakan Media Audio-Visual
untuk Level Intermediate BIPA di Wisma Bahasa. Penelitian ini menghasilkan produk
berupa silabus dan bahan ajar menyimak dengan menggunakan media pembelajaran
yang ada di Wisma bahasa untuk tingkat menengah (inermediated). Produk yang
dihasilkan sudah melalui proses bimbingan dan diuji coba dosen ahli bahasa
Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan,
pertama, produk ini dinilai layak (baik) digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia. Kedua, produk ini dinilai dapat mempermudah pemelajar dalam
memahami materi, dan ketiga, dapat meningkatkan efektivitas dalam pembelajaran
bahasa Indonesia bagi pemelajar tingkat intermediated.
Relevansi penelitian kedua dengan penelitian pengembangan produk
bermedia vlog untuk bahan ajae menyimak pada pemelajar BIPA tingkat beginner di
Wisma Bahasa Yogyakarta adalah sama-sama mengembangkan keterampilan
menyimak untuk pemelajar BIPA. Perbedaan penelitian pertama terletak pada
tingkatan level yang diambil oleh peneliti. Kemudian, penelitian terdahulu memiliki
fokus pada pengembangan silabus dan bahan ajarnya.
Penelitian ketiga oleh Alianto (2017) meneliti tentang Pengembangan Media
Vlogging (Video Blogging) untuk Pembelajaran Laporan Perjalanan Pada Siswa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
Kelas VIII SMP Katolik Yohanes Gabriel Pare-Kediri. Penelitian ini menghasilkan
produk media pembelajaran berupa vlogging untuk laporan perjalanan kelas VIII
SMP Katolik Yohanes Gabriel Pare-Kediri. Hasil penelitian ini menunjukkan, media
vlogging merupakan sebuah inovasi baru dalam pembelajaran. Media ini telah diuji
coba dan divalidasi oleh ahli materi pelajaran bahasa Indonesia, ahli media dan guru
bahasa Indonesia SMP Katolik Yohanes Gabriel Pare-Kediri. Hasil validasi pertama
menunjukkan perolehan nilai sebesar 4,0 dengan ketegori baik, kedua dari ahli media
memperoleh nilai sebesar 3,9 dengan kategori baik dan ketiga oleh guru bahasa
Indonesia dengan perolehan nilai sebesar 4,1 kategori sangat baik. Berdasarkan hasil
tersebut, produk ini layak untuk diujicobakan di lapangan.
Relevansi antara penelitian ketiga dengan penelitian pengembangan produk
bermedia vlog untuk bahan ajae menyimak pada pemelajar BIPA tingkat beginner di
Wisma Bahasa Yogyakarta adalah sama-sama mengembangkan media vlog.
Perbedaannya terletak pada objek penelitian yang dituju. Peneliti melakukan
penelitian untuk pemelajar BIPA sedangkan penelitian terdahulu untuk pemelajar
SMP di kelas VIII SMP Katolik Yohanes Gabriel Pare-Kediri.
Terakhir, penelitian oleh Dewi (2017) meneliti tentang Pengembangan
Media Pembelajaran Menyimak Berbasis Lectora Inspire Untuk Pembelajar BIPA
Tingkat Pemula Dasar KBRI Moscow. Penelitian ini menghasilkan produk media
pembelajaran berupa bahan ajar menyimak melalui lectora inspire. Media
pembelajaran ini termasuk dalam klasifikasi multimedia, karena dalam proses
pembelajarannya melibatkanberbagai indera. Hasil penelitian menunjukkan, media
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
pembelajaran ini dapat menjadi salah satu media alternatif pembelajaran BIPA.
Media ini telah diuji coba dan divalidasi oleh ahli materi pembelajaran BIPA dan ahli
media. Hasil validasi oleh ahli pembelajar BIPA menunjukkan perolehan nilai sebesar
4,1 dengan ketegori baik, kedua dari ahli media memperoleh nilai sebesar 4,4 dengan
kategori baik. Berdasarkan hasil tersebut, diperoleh rerata hasil pengembangan
produk adalah 4,3 dengan kategori sangat baik.
Relevansi antara penelitian keempat dengan penelitian pengembangan
produk bermedia vlog untuk bahan ajae menyimak pada pemelajar BIPA tingkat
beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta adalah sama-sama mengembangkan
keterampilan menyimak pada pemelajar BIPA tingkat pemula. Perbedaannya terletak
pada media yang dugunakan. Peneliti melakukan penelitian untuk mengembangkan
keterampilan menyimak berbasis vlog, sedangkan peneliti keempat mengembangkan
keterampilan menyimak berbasis lectora inspire.
B. Profil Wisma Bahasa Yogyakarta
Berikut ini akan peneliti paparkan beberapa hal terkait dengan lokasi
penelitian, Wisma Bahasa Yogyakarta. Paparan ini dimaksudkan guna bahan
pembelajaran bahasa Indonesia yang akan dibuat sesuai dengan karakteristik Wisma
Bahasa Yogyakarta. Paparan di bawah ini berfungsi sebagai dasar pembuatan media
dan bahan ajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa Yogyakarta. Harapannya, media
dan bahan ajar yang akan dibuat peneliti adalah khas berdasarkan sejarah, visi, misi
dan standar layanan pelayanan yang dimiliki Wisma Bahasa Yogyakarta.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
Wisma bahasa merupakan lembaga kursus bahasa Indonesia di Yogyakarta.
Wisma bahasa berdiri pada tahun 1998 dengan nama Yogyakarta Indonesia Language
Center (YILC). Wisma bahasa terletak di Jalan Affandi, Gang Bromo nomor 15A,
Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia.
Wisma Bahasa memiliki visi dan misi dalam menggerakan lembaga bahasa
diantaranya, menjadi lembaga kursus bahasa Indonesia unutuk orang asing terbaik di
dunia. Kemudian, terdapat tiga misi dari Wisma Bahasa di antaranya, menyediakan
pelatihan bahasa Indonesia unutk orang asing di mana lulusannya memenuhi standar
nasional dan internasional, memberikan layanan berkualitas tinggi yang berfokus
pada kepuasan pelanggan, dan menyiapkan armada kerja yang mampu menangani
berbagai tantangan kekaryaan dengan standar kelas dunia.
2. Tingkatan pembelajar BIPA di Wisma Bahasa
Wisma Bahasa Yogyakarta menawarkan tujuh tingkat kemahiran berbahasa
Indonesia, berikut tingkatannya.
dasar.
Pada level ini, Wisma Bahasa maemberikan kepada pemelajar BIPAnya
keterampilan berbahasa yang terbatas dan memadai untuk komunikasi dasar.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
keterampilan berbahasa yang memadai unutk komunikasi secara singkat, akrab, dan
tanpa tekanan.
keterampilan berbahasa yang memadai untuk situasi akrab dan tidak menekan.
e. Level 3A (pasca menengah)
Pada level ini, Wisma Bahasa memberikan kepada pembelajar BIPAnya
keterampilan yang dibutuhkan untuk menggunakan bahasa secara efektif.
f. Level 3B (pra-lanjutan)
keterampilan berbahasa yang dapat digunakan secara efektif dan lancar pada segala
situasi.
keterampilan yang dibutuhkan untuk menggunakan bahasa secara efektif dan mudah
pada segala situasi.
C. Landasan Teori
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan teori yang
digunakan peneliti, di antaranya BIPA, media pembelajaran, bahan ajar, keterampilan
menyimak, dan vlog.
17
1. BIPA
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan BIPA, di
antaranya pemelajar BIPA, karakteristik pengajaran dan pembelajaran BIPA serta
tingkatan pembelajaran BIPA.
a. Pembelajaran BIPA
Sejak diikrarkan sebagai bahasa nasional dalam Sumpah Pemuda, 28
Oktober 1928, dan ditetapkan sebagai bahasa negara dalam Pasal 36 UUD 1945,
bahasa Indonesia hingga saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Sampai saat ini, bahasa Indonesia telah dipelajari di dalam negeri maupun di luar
negeri. Peminatan mempelajari bahasa Indonesia di luar negeri juga selalu kian
bertambah. Hingga saat ini tercatat tidak kurang dari 45 lembaga yang berada di
dalam negeri telah mengajarkan bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) baik di
perguruan tinggi maupun di lembaga-lembaga kursus. Sementara itu, di luar negeri,
Pengajaran BIPA telah dilakukan oleh sekitar 36 negara di dunia dengan jumlah
lembaga tidak kurang dari 130 buah, yang terdiri atas perguruan tinggi, pusat-pusat
kebudayaan asing, KBRI, dan lembaga-lembaga kursus (dalam Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa, Kemendiknas, 2012). Selain fakta di atas, Idris (2017: 175)
menyebutkan “Perkembangan pembelajaran BIPA dipengaruhi oleh perkembangan
sosial, ekonomi, dan politik Indonesia. Jika ketiga hal tersebut stabil, maka BIPA
akan berkembang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri”.
BIPA sendiri merupakan bentuk singkatan dari Bahasa Indonesia untuk
Penutur Asing. Pengajaran BIPA berarti bahasa Indonesia yang diajarkan pada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
penutur asing (GBPP, 2004). Pembelajaran BIPA ini tidak sama dengan pembelajaran
bahasa Indonesia di sekolah untuk penutur asli, tetapi sama dengan pembelajaran
bahasa kedua (Idris, 2017). Pada umumnya pemelajar BIPA ini orang dewasa.
Sampai saat ini, pengajaran BIPA yang berada di lembaga-lembaga, baik di dalam
negeri dan di luar negeri masih dikelola dan dikembangkan oleh lembaga tersebut.
b. Karakteristik Pengajaran dan Pembelajaran BIPA
Ningrum, et.al. (2015: 727) menyebutkan, “program BIPA adalah
pembelajaran bahasa Indonesia yang subjeknya merupakan pemelajar asing. BIPA
lebih memandang atau fokus pada pembelajarnya. Orang-orang yang menjadi subjek
BIPA adalah orang asing. Jadi, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing bagi
pemelajar BIPA. Pembelajaran BIPA menjadikan orang asing mampu dan menguasai
bahasa Indonesia (Kusmiatun, 2016: 1)”.
Pemelajar BIPA dapat diibaratkan seperti seorang anak yang belum
mengetahui apapun mengenai bahasa yang akan digunakan di lingkungannya
(Ningrum, 2017: 727). Pemelajar BIPA adalah pelajar luar negara Indonesia yang
hendak belajar bahasa Indonesia. Pastinya para pelajar ini belum mengetahui (untuk
tingkat pemula) dasar dan tata bahasa namun tertarik untuk mempelajarinya.
Berdasarkan hal tersebut, pemelajar BIPA merupakan pelajar asing yang memiliki
latar belakang bahasa pertama dan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Tujuan
untuk belajar bahasa Indonesianya pun beragam. Kemudian, secara umum pemelajar
BIPA memiliki usia yang beragam pula. Dengan begitu, butuhnya perhatian penuh
terhadap kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi para pemelajar BIPA. Hal ini
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
(Muliastuti, 2016; dalam Ningrum, 2017: 728).
Lain halnya dengan karakteristik pemelajar BIPA, pengajaran BIPA pun
juga memiliki karakteristiknya. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
misalnya. Karakteristik yang dideskripsikannya tercitra pada keinginannya agar
lembaga-lembaga bahasa/ penyelenggara pengajaran BIPA, baik yang berada di
dalam negeri maupun di luar negeri, maju dan berkembang demi terwujudnya bahasa
Indonesia sebagai bahasa perhubungan antar bangsa. Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa sendiri tidak hanya menangani masalah pengajaran bahasa, tetapi
juga menangani penelitian ke-BIPA-an dan pengembangan bidang studi umum dalam
bingkai kajian Indonesia (Adryansyah, 2012). Dengan berkembangnya pengajaran
BIPA, bahasa Indonesia makin mengglobal dan banyak diminati penuturnya dan
penutur asing.
Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) adalah
standar yang diakui secara internasional untuk menggambarkan kecakapan berbahasa.
CEFR merupakan skala Eropa yang secara khusus dirancang untuk diterapkan pada
bahasa Eropa manapun, sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan kecakapan
bahasa Inggris, kecakapan bahasa Jerman, atau kecakapan bahasa Estonia. CEFR
disusun oleh Dewan Eropa pada tahun 1990 sebagai bagian dari upaya yang lebih
luas untuk mempromosikan kerja sama antara guru bahasa di semua negara Eropa.
CEFR memiliki enam tingkatan, di antaranya A1 (Beginner), A2 (Elementary), B1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
laman EFSET dengan judul CEFR dan EFSET).
2. Media
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan media
pembelajaran, di antaranya pengertian media pembelajaran, jenis-jenis media
pembelajaran, dan pengembangan media pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
pembelajaran (Pranowo, 2014: 284). Media pembelajaran sering kali tumpang tindih
dengan alat belajar. Alat belajar merupakan perangkat yang digunakan untuk belajar
sedangkan media belajar merupakan perangkat yang membawa pesan atau materi
untuk belajar. Menurut Frida Mukti (2001 dalam Pranowo, 2014) menyebutkasn
media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan kepada penerima
pesan. Berdasarkan pemahaman diatas, peneliti menyimpulkan media belajar
merupakan perangkat yang dapat digunakan guru sebagai alat penyampai materi
ajarnya kepada pemelajarnya.
pembelajaran ini dapat membantu guru atau instruktur dalam menyesuaikan materi
belajar dengan kebutuhan pemelajarnya. Jenis-jenis tersebut terbagi menjadi tiga
diantaranya.
21
1) Media Auditif
Media auditif merupakan media yang berkisar pada perangkat suara seperti radio
dan tape. Media auditif dapat digunakan untuk pembelajaran menyimak.
2) Media Visual
Media visual merupakan media belajar yang berkisar pada perangkat berupa
gambar, ralia, atau yang bentuknya statis.
3) Media Audio Visual
Media audio visual merupakan gabungan dari auditif dan visual. Media ini
berupa media visual yang bergerak dan memiliki suara. Contoh dari media audio
visual adalah video, televise, film dan lain-lain.
c. Pengembangan Media Pembelajaran
Dalam mengembangkan media pembelajaran, peneliti harus memperhatikan hal-
hal seperti karakter media yang dipilih, kesekuaian media dan materi pelajaran,
tujuan pembelajaran,dan ketersediaan media di tempat pembelajaran. Pranowo
(2014) memberikan langkah-langkah konkret dalam mempersiapkan media
pembelajaran, diantaranya.
2) Menentukan jenis media yang akan digunakan (auditif, viaual, audiovisual).
3) Media yang sudah dikembangkan, diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
4) Mengevaluasi efektivitas penerapan media dalam mengembangkan kompetensi
pemelajar.
22
3. Bahan Ajar
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan bahan ajar,
di antaranya pengertian bahan ajar, unsur-unsur bahan ajar, bentuk-bentuk bahan ajar,
dan isi bahan ajar.
a. Pengertian Bahan ajar
membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas
(National Center for Competency Based Training, 2007). Bahan ajar bisa berupa
bahan tertulis maupun tak tertulis. Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang
disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta
lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Ada pula
yang menyebutkan bahan ajar adalah informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru
atau instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Pannen (dalam Prastowo, 2015: 17) menyebutkan bahwa bahan ajar adalah bahan-
bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan
peserta didik dalam proses pembelajaran.
Dari beberapa pemahaman di atas, dapat peneliti pahami bahwa bahan ajar
merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara
sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta
didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan
penelaahan implementasi pembelajaran (Prastowo, 2015). Berdasarkan pemahaman-
pemahaman tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa bahan ajar merupakan suatu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
bahan yang bisa berupa informasi, alat maupun teks yang dibuat secara sistematis
yang dapat mendukung keberlangsungan pembelajaran. Bahan ajar bisa berupa
buatan guru atau instruktur ataupun yang berasal dari alam (sekitar pemelajar).
b. Unsur-unsur Bahan Ajar
Bahan ajar tersusun atas beberapa unsur yang diperoleh dari sumber belajar
yang dibuat secara sistematis. Terdapat enam komponen yang perlu diperhatikan
berkaitan dengan unsur-unsur bahan ajar, di antaranya.
1) Petunjuk belajar
Di dalam petunjuk bahan ajar, dijelaskan tentang bagaimana guru atau
instruktur mengajarkan materi kepada pembelajarnya serta bagaimana pemelajar
mempelajari materi yang terdapat pada bahan ajar tersebut.
2) Kompetensi yang akan dicapai
Unsur kedua ini ditujukan untuk pembelajarnya. Kompetensi yang akan
dicapai harus dicantumkan pada bahan ajar yang telah disusun dan sesuai dengan
standar kompetensi yang harus dicapai. Selain itu, penyusun perlu mencantumkan
pula indikator pencapaian hasil belajar yang harus dikuasai pembelajarnya. Dengan
demikian tujuan yang harus dicapai pemelajar jelas.
3) Informasi pendukung
melengkapi bahan ajar.
24
4) Petunjuk kerja atau lembar kerja
Petunjuk kerja atau lembar kerja adalah satu lembar atau beberapa yang
berisi sejumlah langkah prosedural cara pelaksanaan aktivitas atau kegiatan tertentu
yang harus dilakukan oleh peserta didik berkaitan dengan praktik dan lain
sebagainya.
kepada pemelajar untuk melatih kemampuan yang telah dipelajarinya.
6) Evaluasi
Komponen ini merupakan salah satu bagian dari proses penilaian. Pada
unsur evaluasi ini, guru atau instruktur mengukur seberapa jauh pemelajar memahami
kompetensi yang sudah dicapainya. Pada unsur ini juga, dapat digunakan sebagai
evaluasi efektivitas bahan ajar yang digunakannya.
c. Bentuk Bahan Ajar
Bahan ajar dibedakan atas empat bentuk di antaranya bahan cetak, bahan
ajar dengar, bahan ajar pandang dengar, dan bahan ajar interaktif.
1) Bahan cetak (printed), yakni sejumlah bahan yang disiapkan dalam kertas yang
dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi
(Kemp dan Dyton, 1985 dalam Prastowo, 2015: 40).
2) Bahan ajar dengar atau program audio, yakni semua sistem yang menggunakan
sinyal radio secara langsung, yang dapat dimainkan atau didengar oleh seseorang
atau sekelompok orang.
25
3) Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yakni segala sesuatu yang
memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak
secara sekuensial.
4) Bahan ajar interaktif (interactive teaching materials), yaitu kombinasi dari dua
atau lebih media (audio, teks, gambar, grafik, animasi,dan video) yang oleh
penggunanya dimanipulasi atau diberi perlakuan untuk mengendalikan suatu
perintah dan/atau perilaku alami dari suatu presentasi (Prastowo, 2015: 40)
d. Isi Bahan Ajar
Secara garis besar, bahan ajar terdiri atas pengetahuan, keterampilan dan
sikap yang harus dipelajari pemelajar dalam rangka mencapai standar kompetensi
yang telah ditentukan.
termasuk dalam fakta seperti nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama
tempat, nama orang dan sebagainya. Kemudian, materi yang termasuk konsep adalah
pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu objek. Selanjutnya,
materi yang termasuk dalam jenis prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat,
teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan “jika….. maka…..”.
Terakhir, yang termasuk dalam jenis prosedur adalah materi yang berurutan dalam
mengerjakan suatu tugas. Misalnya, berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu,
dan lain-lain (Pranowo, 2014: 239).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
dengan, antara lain kemampuan mengembangkan ide, memilih, menggunakan bahan,
menggunakan peralatan, dan teknik kerja. Keterampilan perlu disesuaikan dengan
pembelajarnya, dengan memperhatikan aspek bakat, minat dan harapan dari
pembelajarnya sendiri. Tujuannya, agar pemelajar mampu mencapai penguasaan
keterampilan bekerja yang secara integral ditunjang oleh keterampilan hidup.
3) Sikap atau nilai
Bahan ajar jenis sikap atau nilai adalah bahan untuk pembelajaran yang
berkenaan dengan sikap ilmiah, antara lain nilai kebersamaan, nilai kejujuran, nilai
kasih sayang, nilai tolong menolong, nilai semangat dan minat belajar, nilai semangat
bekerja dan nilai bersedia menerima pendapat orang lain (Prastowo, 2015: 46).
Contoh:
Pemelajar BIPA di Wisma Bahasa Yogyakarta diminta untuk menyimak
vlog yang berisi konten perjalanan pariwisata Yogyakarta. Selanjutnya, pemelajar
diminta untuk memperhatikan beberapa latihan pada modul yang telah tersedia. Di
dalam modul tersebut terdapat beberapa bentuk latihan terintegrasi untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa pembelajarnya.
Latihan 1
Setelah menyimak perjalanan ke Malioboro, coba ingatlah kembali dan tuliskan di
dalam modulmu, tempat-tempat apa saja yang di kunjungi Lia!
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
menggunakan transportasi bus Trans Jogja. Jangan lupa, coba cocokkan ceritamu
dengan cerita temanmu!
Bentuk-bentuk latihan yang digunakan sederhana dan menyesuaikan tingkatan
pembelajarnya.
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan keterampilan
menyimak, di antaranya pengertian menyimak, tahap-tahap menyimak, ragam
menyimak, menyimak terintegrasi dan proses menyimak.
a. Pengertian Menyimak
Mendengar bukan berarti menyimak. Namun menyimak pasti melalui kegiatan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
terjadi pada waktu seseorang dalam keadaan sadar akan adanya rangsangan tersebut.
Mendengarkan merupakan kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja,
penuh perhatian terhadap apa yang didengar. Sementara itu, menyimak memiliki
pengertian yang serupa dengan mendengarkan. Namun, kegiatan menyimak lebih
intensitas perhatiannya terhadap apa yang disimak dan akan lebih ditekankan lagi.
Menyimak merupakan proses besar dalam mendengarkan, mengenal, serta
menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Andreson, 1972; dalam Tarigan, 2013:
30). Menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian
serta apresiasi (Russel & Russell: Andreson, 1972 dalam Tarigan, 2013: 30).
Tarigan (2013: 31) mengungkapkan bahwa menyimak merupakan proses kegiatan
mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan,
serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui
ujaran atau bahasa lisan. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, peneliti
menyimpulkan bahwa kegiatan menyimak merupakan proses mendengarkan secara
intensif, dengan sungguh-sungguh dan membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi
untuk menginterpretasikan lambang-lambang bunyi yang di dengarnya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
Ruth G. Strickland (dalam Tarigan, 2013: 31) menyimpulkan adanya
Sembilan tahap menyimak, mulai dari yang tidak berketentuan sampai pada yang
amat bersungguh-sungguh. Kesembilan tahap itu, dapat dilukiskan sebagai berikut:
1) Menyimak berkala
3) Setengah menyimak
4) Menyimak serapan
5) Menyimak sekali-sekali
tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan oleh si pembicara
.Menyimak dengan reaksi berkala
7) Menyimak secara seksama dan sungguh-sungguh
8) Menyimak secara aktif, menyimak untuk mendapatkan pikiran serta pendapat si
pembicara
Menyimak ekstensif ditekankan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan
lebih umum, sedangkan menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh
lebih diawasi dan dikontrol terhadap suatu hal tertentu (Tarigan, 2008: 18 - 44).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal
yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah
bimbingan langsung dari seorang guru. Salah satu tujuan menyimak ekstensif adalah
menyajikan kembali bahan lama dengan cara baru, kerap kali sangat baik bila hal ini
dilakukan dengan pertolongan alat yang dipakai untuk merekam pembicaraan dalam
masyarakat. Yang jauh lebih efektif serta meyakinkan adalah kutipan dari ujaran-
ujaran yang nyata dan hidup. Pada umumnya, sumber yang paling baik bagi berbagai
aspek menyimak ekstensif adalah rekaman-rekaman yang dibuat oleh guru sendiri
karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai.
Rekaman-rekaman tersebut dapat memanfaatkan berbagai sumber, seperti siaran
radio dan televisi (Brouhton dalam Tarigan, 2008: 38- 40). Menyimak ekstensif
memiliki beberapa jenis di antaranya : menyimak sosial, menyimak sekunder,
menyimak estetik, dan menyimak pasif.
2) Menyimak Intensif
Jika menyimak ekstensif lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara
lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung para
guru, maka menyimak menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang lebih
diawasi, dikontrol terhadap suatu hal tertentu. Jenis menyimak intensif yaitu
menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif,
menyimak introgatif, dan menyimak selektif.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
tahap-tahap, antara lain:
1) Tahap mendengar (hearing), pada tahap ini, pendengar hanya mendengarkan
ujaran-ujaran yang disampaikan oleh pembicaranya.
2) Tahap memahami (understanding), tahap ini mengisyaratkan pendengar
memiliki keinginan untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan
yang disampaikan pembicara.
3) Tahap menginterpretasi (interpreting), pada tahap ini, pendengar yang baik tidak
hanya ingin memahami atau mengerti atas pembicaraannya namun ingin
menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan
tersirat dari ujaran tersebut.
pembicara.
5) Tahap menanggapi (responding), tahap ini merupakan tahap terakhir dalam
kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mengecamkan, dan menyerap serta
menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau
pembicaraannya (Logan; Loban dalam Tarigan, 2013: 63)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
5. Vlog
Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa hal berkaitan dengan vlog, di
antaranya pengertian vlog, kelebihan dan kelemahan vlog, dan proses pembuatan
vlog,
opini, dan ketertarikan (Purnamasari, 2017). Vlog sendiri berasal dari kata video dan
blog. Dikutip dari Werner (2012: 7)
“The term “vlog” was originally a sandwiching of “video” and
“blog.” This portmanteau is accurate insofar as vlogs share the textual
weblog’s informal tone, as well as its fundamental interactivity; vloggers
like text-based bloggers tend to interact energetically with their
audiences. The comparison between blogs and vlogs, however, only goes
so far. Textual blogs are mostly serial, offering or promising a regular
sequence of entries, while vlogs often appear singly or in clusters.”
Werner menyebutkan Vlog merupakan perpaduan antara “video” dan
“blog”. Vlog membagikan konten tekstualnya berbasis video dengan nada informal
dan penuh semangat kepada audiensnya. Perbandingan antara vlog dan blog sejauh ini
hanya itu. Blog berbasis tekstual yang berseri sedangkan vlog akan muncul pada
kelompok konten.
Margaret Rouse (2006) dalam situs Whatis mengatakan hal serupa tentang
vlog. “A vlog (or video blog) is a blog that contains video content.” Vlog merupakan
blog yang berisi konten sebuah video. Seseorang yang menjalankan vlog disebut
dengan vlogger. Fouhey (2017) dalam makalah “From Lifestyle Vlogs to Everyday
Interactions” menyebutkan “Vlog is part of a growing ecosystem of datasets aimed at
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
ekosistem yang berkembang dari data set yang bertujuan memahami interaksi
manusia sehari-hari, yang masing-masing bagiannya memiliki kekuatan untuk saling
melengkapi. Berdasarkan beberapa paparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
vlog merupakan video dengan konten blog yang menceritakan kehidupan sehari-hari,
pikiran opini dan lain sebagainya dengan berbasis video.
b. Kelebihan dan Kelemahan Vlog
Vlog saat ini sangat digemari keberadaannya. Banyak orang yang sudah
mulai melakukan kegiatan vlogging untuk menceritakan kehidupan sehari-harinya,
atau hanya mengungkapkan sebuah opini. Namun demikian vlog memiliki kelemahan
dan kelebihan dalam penggunaannya. Berikut peneliti jabarkan kelebihan dan
kelemahan dari vlog. Kamaru (2016) menyebutkan beberapa kelebihan vlog.
1) Vlog merupakan konten kreatif perpaduan antara media visual dan audio yaitu
video.
2) Vlog merupakan sarana berbagi cerita mengenai kehidupan sehari-hari, pikiran,
opini dan sebaginya dalam bentuk video dokumentasi.
3) Dari kegiatan vlogging, seseorang dapat memperoleh penghasilan.
Selain itu, terdapat pula kelemahan dari vlog, di antaranya.
1) Produksi sebuah vlog membutuhkan waktu yang lama.
2) Keterbatasan alat yang dimiliki vlogger untuk menunjang produksi vlog.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
3) Vlogger atau orang yang melakukan vlogging membutuhkan keterampilan khusus
untuk menghasilkan sebuah video yang menarik (proses editing).
c. Proses Pembuatan Vlog
Mengutip dari situs WikiHow, berikut beberapa tahap pembuatan vlog.
1) Pastikan alat yang akan anda gunakan (Make sure that you have the right
equipment)
Sekarang ini, tidak perlu menggunakan kamera yang mahal atau pun
membeli sebuah mikrofon. Namun, setidaknya anda memiliki handle video untuk
menjaga konsistensi gambar pada video anda. Anda bisa menggunakan kamera pada
telepon seluler anda atau menggunakan webcam dari perangkat komputer anda.
2) Buatlah kerangka/ garis besar konten video anda (Create a loose outline of the
day's events)
Vlog memiliki sifat yang spontanitas, dan kebenaran yang akan diungkapkan
ketika shooting berlangsung. Buatlah beberapa garis besar rencana anda pada
rekaman yang akan anda lakukan. Setidaknya gambarkan dalam beberapa poin
singkat.
4) Carilah Background (Take into account your background)
Poin ini bisa menjadi suatu opsional jika anda akan mengambil rekaman di
dalam ruangan.
35
5) Variasikan konten anda (Vary your content within the vlog)
Jika anda hanya berbicara selama 15 menit di dalam sebuah video, hal
tersebut tidak akan bisa memikat hati audiensnya. Maka cobalah menunjukkan
sesuatu yang berbeda untuk konten anda. Misalnya dengan memberikan sentuhan
time-lapes pada video perjalanan dan lain sebagainya.
6) Carilah bagian unik pada video anda (Find a unique piece of your day to focus
on)
Anda dapat mencoba menampilkan beberapa bagian pada video anda yang
sekiranya dapat menarik audiensnya. Misalnya anda menampilkan hal unik yang
terjadi pada hari-hari tertentu.
Cara paling ampuh untuk menjadi lebih “natural” saat anda berhadapan
dengan kamera adalah jadilah diri sendiri. Ingatlah anda sedang mendokumentasikan
dan mempresentasikan kegiatan anda dan anda adalah bintangnya.
8) Jagalah keseimbangan cahaya video anda (Keep an eye on your light levels)
Hal ini menjadi poin penting ketika anda melakukan rekaman di luar
ruangan. Pastikan anda memiliki keseimbangan cahaya (bisa dengan menambahkan
lighting eksternal di belakang kamera) .
9) Gunakan teknik jump-cuts pada saat proses editing (Use jump-cuts when editing)
10) Promosikan vlog anda (Market your vlog)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
dengan pengembangan produk bermedia vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar
BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakartadalam mengembangkan
keterampilan berbahasanya.
Keterampilan berbahasa terdiri dari empat (1) menyimak, (2) membaca, (3)
berbicara dan (4) menulis. Keterampilan menyimak merupakan kegiatan mendengar
secara intensif untuk menginpretasikan lambing-lambang bunyi. Keterampilan
menyimak merupakan keterampilan berbahasa pertama yang diperoleh seseorang.
Dalam pembelajaran BIPA, keterampilan menyimak biasanya menggunakan
media berupa audio. Pemelajar pada tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta
menggunakan media audio yaitu rekaman suara untuk pembelajaran keterampilan
menyimak. Hal ini menjadi sebuah peluang untuk mengembangkan media
pembelajaran.
Salah satu inovasi pengembangan media adalah dengan vlog. Vlog merupakan
gabungan atau kombinasi antara video dan blog. Konten-konten yang ditawarkan
pada vlog dekat sekali dengan tujuan belajar pemelajar BIPA tingkat beginner.
Dengan begitu harapannya vlog dapat membantu pemelajar BIPA tingkat beginner
dalam mengembangan keterampilan berbahasa.
Berdasarkan peluang dan harapan di atas, peneliti melakukan pengembangan
media yaitu vlog untuk bahan ajar menyimak pemelajar tingkat beginner di Wisma
Bahasa. Uji coba produk dinilai oleh tiga ahli yaitu dua dosen ahli media dan materi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan satu instruktur BIPA di Wisma
Bahasa Yogyakarta. Peneliti melakukan penelitian dengan subjek pemelajar BIPA
tingkat beginner. Uji lapangan dilakukan oleh tiga responden pemelajar BIPA tingkat
beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
Pengembangan Produk Bermedia
Pemelajar BIPA Tingkat Beginner
38
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini dikemukakan tentang 1) jenis penelitian, 2) data dan sumber
data penelitian, 3) populasi dan sampel, 4) metode pengumpulan data, 5) teknik
pengumpulan data, 6) instrumen penelitian, dan 7) teknik analisis data.
A. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode research and development (R&D).
Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan
untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut
(Sugiyono 2015:407). Metode penelitian ini merujuk pada model Borg & Gall dengan
sedikit penyesuaian sesuai konteks penelitian. Penelitian ini memiliki tujuan akhir
untuk mengembangkan suatu produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran
BIPA. Produk yang dihasilkan penelitian ini berupa bahan ajar menyimak
terintegrasi pada pemelajar BIPA tingkat beginner melalui vlog di Wisma Bahasa
Yogyakarta. Penelitian pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan menyimak terintegrasi pemelajar BIPA tingkat beginner.
B. Prosedur Pengembangan
Metode penelitian dan pengembangan merupakan cara peneliti memperoleh
data untuk penelitiannya. Pada bagian ini akan dijabarkan model penelitian dan
pengembangan serta prosedurnya.
39
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model research and
development (R&D). Model yang digunakan mengutip milik Brog dan Galll
(Sugiyono, 2015: 408-426) yang menyarankan sepuluh langkah dalam penelitian dan
pengembangan, di antaranya.
merupakan segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah.
Namun demikian, masalah bisa juga dijadikan sebuah potensi, apabila kita dapat
mendayagunakannya. Masalah merupakan penyimpangan antara yang diharapkan
dengan yang terjadi. Antara potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian
harus ditunjukkan dengan data yang empirik.
2. Mengumpulkan Informasi
yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk. Kumpulan informasi
ini diharapkan dapat mengatasi masalah pada penelitian tersebut.
3. Desain Produk
bermacam-macam. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan
melalui penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat
digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya.
4. Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai sebuah rancangan
produk. Validasi ini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum
fakta lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa
pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang
dirancang tersebut.
Setelah desain produk divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para
ahlinya, maka akan diketahui kelemahan dari produk tersebut. Kelemahan tersebut
selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain.
6. Uji coba Produk
Setelah melakukan revisi produk, peneliti melanjutkan pada tahap uji coba
produk. Uji coba produk dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
apakah produk baru ini dapat digunakan di lapangan. Hasil uji coba produk
digunakan sebagai pedoman untuk merevisi produk pada tahap selanjutnya.
7. Revisi Produk
Revisi produk kedua ini dilakukan guna memperbaiki dan menyempurnakan
produk sesuai saran maupun kritik yang diperoleh pada tahap uji coba produk.
Penyempurnaan ini dimaksudkan untuk memperoleh produk tetap sebelum memasuki
tahap uji coba pemakaian.
41
Setelah pengujian produk berhasil, maka tahap selanjutnya adalah
melakukan uji coba pemakaian dengan jumlah penguji yang lebih besar. Data
pengujian dapat dikumpulkan melalui wawancara, observasi, kuesioner dan analisis.
Hasil uji coba pemakaian ini digunakan sebagai pedoman untuk membuat produk
akhir.
kekurangan dan kelemahan produk. Revisi ini dilakukan untuk mendapatkan produk
yang lebih baik dari produk awal supaya layak digunakan dalam proses pembelajaran.
10. Pembuatan Produk Massal
dapat melaporkan hasil produknya dalam pertemuan profesional dan dalam jurnal.
Dalam penelitian dan pengembangan media vlog untuk pemelajar BIPA
tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta, peneliti hanya mengadaptasi
beberapa langkah sesuai dengan kebutuhan yang ada. Prosedur yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri atas lima tahap, yaitu (1) analisis kebutuhan, (2) perencanaan
produk dan pengumpulan data, (3) desain produk sementara, (4) validasi ahli, (5) uji
coba produk, dan penyempurnaan produk akhir. Hal ini dilakukan peneliti karena
jumlah pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa yang kurang memadai,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
wktu belajar pemelajar BIPA tingkat beginner yang cukup singkat dan keterbatasan
waktu dalam melakukan penelitian.
Bagan 3.1 Skema prosedur penelitian pengembangan
Mencaari
potensi/masalah
Mengenali
kebutuhan
Analisis
Kebutuhan
Wawancara
BIPA tingkat beginner
Bahasa Indonesia
Validasi oleh instruktur BIPA Revisi Produk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
analisis kebutuhan terhadap pemelajar BIPA terutama pada tingkatan beginner di
Wisma Bahasa. Analisis kebutuhan dilakukan dengan cara membagikan lembar
angket yang terdiri dari sepuluh pertanyaan mengenai kebutuhan berbahasa dan
delapan pertanyaan mengenai metode pembelajaran bahasa. Data dari angket analisis
kebutuhan ini akan dijadikan sebagai pedoman untuk pengembangan produk
penelitian. Selain menyebarkan angket, peneliti juga melakukan wawancara dengan
instruktur BIPA di Wisma Bahasa.
2. Pengumpulan Data
Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data dari hasil analisis
kebutuhan dan wawancara serta kajian pustaka. Data ini diperoleh dari hasil
penyebaran angket pada pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa. Hasil
analisis ini digunakan sebagai panduan penyusunan produk penelitian.
3. Perancangan dan Pengembangan Produk
Langkah ketiga pada penelitian ini adalah membuat rancangan produk
sementara. Rancangan produk ini dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan.
Rancangan produk pertama yang dibuat peneliti adalah kemasan materi. Peneliti
melakukan analisis juga terhadap silabus yang digunakan Wisma Bahasa pada tingkat
beginner. Hasil dari analisis silabus ini adalah kemasan materi yang dapat dirangkum
menjadi produk pengantar pengembangan media vlog untuk bahan ajar menyimak.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
membuat storyboard guna perancang media vlog untuk bahan ajar menyimak.
Sotryboard membantu peneliti dalam pembuatan media berupa vlog.
Pembuatan vlog dilakuakn secara bertahap. Setelah melaksanakan pengambilan
gambar, peneliti akan melakukan editing. Proses editing dilakukan guna mengemas
produk vlog menjadi suatu bahan ajar yang lebih interaktif. Proses ini dilakukan
dengan menggunakan aplikasi filmora.
Langkah keempat yang dilakukan peneliti adalah validasi ahli. Validasi ahli
adalah tahap penilaian kelayakan produk pengembangan yang dibuat peneliti dan
dilakukan oleh ahli pada bidangnya. Setelah melakukan validasi, hasil validasi
dijadikan pedoman kedua jika hasil penilaian tersebut masih ditemukan
ketidaksesuaian. Dengan melakukan validasi, peneliti dapat menyempurnakan produk
yang dikembangkannya.
Uji coba produk dilakukan untuk mengetahui tingkat kebergunaan produk
pengembangan yang dibuat. Selain itu uji coba ini bertujuan untuk mendapatkan
saran, kritik dari dosen atau para ahli guna mengetahui kelayakan produk yang
dirancang.
Penyempurnaan produk dilakukan setelah melakukan revisi produk terhadap
hasil uji coba tersebut. Penyempurnaan ini dilakukan berdasarkan hasil saran dan
kritikan yang diberikan pemelajar BIPA, instruktur BIPA serta para ahli.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah pemelajar BIPA tingkat
begginer di Wisma Bahasa Yogyakarta. Sedangkan data dari penelitian ini berupa
hasil analisis kebutuhan baik dari pemelajar BIPA dan instruktur pemelajar BIPA,
berupa penyebaran kuesioner (angket), hasil wawancara, dan observasi lapangan.
1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah pemelajar di Wisma Bahasa. Peneliti
memilih kelompok belajar tingkat beginner. Pemelajar tingkat beginner ini dapat
memberikan data berupa wawancara dan kuesioner. Jumlah pemelajar tingkat
beginner di Wisma Bahasa adalah lima.
2. Lokasi penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih Wisma Bahasa Yogyakarta di Jalan
Affandi, Gang Bromo No. 15, Mrican, Yogyakarta sebagai tempat penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2015: 193) terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas
data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan
data. Kualitas instrumen berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen.
Sedangkan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang
digunakan untuk mengumpulkan data. Peneliti menggunakan 3 macam jenis
pengumpulan data di antaranya, angket (kuesioner), wawancara dan lembar
pengamatan.
46
yang ditujukan kepada pemelajar (dalam penelitian: responden) mengenai masalah-
masalah tertentu, yang bertujuan untuk mendapatkan tanggapan pemelajar
(Nurgiyantoro: 2013, 91). Angket akan diisi oleh pemelajar BIPA pada level
beginner di Wisma Bahasa, Yogyakarta. Angket berisi pertanyaan umum berupa
identitas diri, kebutuhan berbahasa dan metodologi pembelajaran.
2. Wawancara
tatap muka maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono: 2015, 194). Penelitian
ini menggunakan teknik wawancara yang diajukan untuk Instruktur BIPA tingkat
beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta. Wawancara digunakan untuk mengetahui
metode dan bahan ajar yang digunakan selama pembelajaran.
E. Instrumen Penelitian
1. Angket (Kuesioner)
Angket yang dibuat peneliti berupa pertanyaan. Angket ditujukan untuk
pemelajar BIPA dan validator ahli. Angket untuk pemelajar BIPA bertujuan untuk
mendapatkan analisis kebutuhan pembelajarannya. Kemudian angket untuk validator
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
ini kisi-kisi instrumen angket yang dibuat peneliti.
Tabel 3.1
A. Identitas
2 Umur 2 1
4 Level 4 1
7 Dengan siapa akan berkomunikasi 7 1
8 Latar belakang pendidikan 8 1
9 Tujuan penggunaan bahasa Indonesia 9 1
Jumlah 9
1 Berkaitan dengan perkenalan diri 1 1
2 Berkaitan dengan kata sifat (warna, ukuran
dsb.) 2
4 Berkaitan dengan angka, ukuran, harga dan
jumlah 6
tanggalan 5 1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
9 Berkaitan dengan aktivitas 9 1
10 Berkaitan dengan sapaan 10 1
Jumlah 10
2 Pekerjaan rumah 2 1
3 Kreativitas dalam pembelajaran 3 1
4 Cara belajar 4 1
5 Pengoreksian dalam berbahasa 5 1
6 Media pembelajaran 6 1
7 Teknik belajar 7 1
Jumlah 7
2 Isi vlog (berkaitan dengan teknis) 3, 4 2
3 Berkaitan dengan konten vlog (durasi dan
jumlah topik)
No Deskripsi Butir Soal Jumlah
Isi
dengan kompetensi yang dicapai. 1 1
2 Kesesuaian tema dengan indikator yang
dicapai. 2 2
49
subjudul yang dipilih. 3 1
4 Kesesuaian urutan isi materi yang
terstruktur. 4 1
Bahasa
disampaikan oleh vlogger. 6 1
7 Kemudahan penggunaan kalimat dalam
buku latihan. 7 1
kalimat dengan PUEBI pada buku latihan. 8 1
9 Kesesuaian pemilihan kosakata pada vlog. 9 1
Bentuk
standar buku pembelajaran BIPA lainya. 10 1
11 Urutan penyajian buku latihan yang teratur
dengan standar buku pembelajaran BIPA. 11 1
12 Kombinasi warna dan gambar pada desain
sampul buku latihan. 12 1
13 Ukuran dan jenis huruf yang digunakan
pada buku latihan. 13 1
14 Ukuran dan kualitas gambar dalam buku
latihan. 14 1
materi yang dipilih. 15 1
Video
17 Kesesuaian ukuran huruf dengan gambar 17 1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
Lain-lain
21 Potensi keberhasilan untuk pengembangan
keterampilan berbahasa. 21 1
No. Aspek yang dinilai Butir
Soal Jumlah
2
4 Kesulitan dengan media vlog. 4 1
5 Kalimat yang digunakan terlalu rumit. 5 1
6 Media vlog membantu pemelajar dalam
mengumpulkan kosakata. 6 1
panjang. 7 1
media vlog. 8 1
baik. 9 1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
Wawancara ini ditujukan untuk instruktur BIPA di Wisma Bahasa Yogyakarta.
Berikut kisi-kisi wawancara analisis kebutuhan Instruktur.
Tabel 3.4
1 Tingkatan pemelajar BIPA di Wisma
Bahasa 1 1
3 Metode Pembelajaran 3 1
4 Hambatan dalam proses pembelajaran 4a, 4b 2
5 Gaya belajar 5a, 5b 2
6 Ketersediaan sumber bahan ajar dan
media pembelajaran 6a,6b 2
ketika proses pembelajaran bahasa
9 Harapan tentang media pembelajaran
baru 9 1
52
Data kualitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara peneliti
dengan instruktur BIPA di Wisma Bahasa. Berdasarkan hasil wawancara ini, peneliti
memperoleh saran/ komentar yang diberikan oleh validator media, validator materi
dan instruktur BIPA. Data kualitatif ini bersifat deskriptif.
2. Data kuantitatif
a. Angket/ kuesioner analisis kebutuhan pemelajar
Angket / kuesioner yang diberikan untuk pemelajar akan peneliti analisis
dengan cara penghitungan persentase. Kemudian, setelah menghitung jumlah
persentasenya, peneliti juga menyertakan keterangan dalam bentuk deskriptif. Berikut
rumus yang digunakan peneliti
53
Hasil validasi produk yang dinilai oleh validator, akan peneliti analisis
menggunakan skor atau skala penilaian. Skala penilaian ini dikembangkan
dengan skala Likert menjadi (5) sangat baik, (4) baik, (3) cukup baik, (2) kurang
baik, (1) sangat kurang baik.. skor akhir akan diperoleh dengan cara
dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima menurut Sukarjo (2008:101),
sebagai berikut
Tabel 3.5
x>Xi + 1,80 SBi Sangat Baik X > 4,21
Xi + 0,60SBi < x ≤ Xi + 1,80 SBi Baik 3,40 < X ≤ 4,20
Xi – 0,060 SBi < x ≤ Xi + 0,60 SBi Cukup 2,60 < X ≤ 3,39
Xi – 1,80 SBi < x ≤ Xi – 0,60 SBi Kurang Baik 1,79 < X ≤ 2,60
X ≤ Xi – 1,80 SBi Sangat
Kurang Baik X ≤ 1,79
Xi : rerata ideal = ½ (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)
SBi : simpangan baku ideal = 1/6 (skor maksimal ideal – skor
minimal ideal)
kuantitatif untuk data kualitatif.
54
Diketahui
6 (3-1) = 0,33
Jawaban:
= X> 2 + (1,80 . 0,33)
= 2 – (0,60 . 0,33) < x≤ 2 + (0,60 . 0,33)
= 2 – 0,198 < x≤ 2 + 0,198
= 1,802 < x≤ 2,198
= X ≤ 2 – (1,80 . 0,33)
55
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut hasil konversi data kuantitatif
menjadi data kualitatif. Kriteria skor skala dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 3.6
Interval presentase
≤ 1,406 1 Tidak Berguna
56
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti mengkaji dua subbab, (1) hasil penelitian dan (2)
pembahasan hasil penelitian.
A. Hasil Penelitian
Brog dan Gall dengan menyederhanakan prosedurnya. Prosedur penelitian ini
disederhanankan menjadi 5 langkah, diantaranya (1) Pengumpulan informasi
unutk analisis kebutuhan , (2) pengumpulan dan pengolahan data, (3) membuat
desain produk dan pengembanganya, (4) melakukan validasi produk dan revisi,
(5) pengujian produk dan penyempurnaan produk. Berikut deskripsi hasil
penelitian yang dilakukan berdasarkan keenam prosedur pengembangan tersebut.
1. Hasil Pengumpulan Informasi (Analisis Kebutuhan)
Langkah awal yang peneliti lakukan adalah mengumpulkan informasi
sebagai dasar pengembangan produk bahan ajar. Pengumpulan informasi ini
dilakukan dengan cara membuat angket analisis kebutuhan pemelajar BIPA
tingkat beginner di Wisma Bahasa dan melakukan wawancara dengan instruktur
terkait pada tingkat beginner di Wisma Bahasa.
Sebelum membuat angket analisis kebutuhan dan panduan wawancara,
peneliti merumuskan kisi-kisi dari tiap instrumen penelitian. Kisi-kisi pada angket
analisis kebutuhan dan panduan wawancara ini dibuat berdasarkan kurikulum
pembelajaran BIPA di Wisma Bahasa. Kisi-kisi beserta angket analisis kebutuhan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
instrumen penelitian pada dosen ahli dan mendapatkan revisi.
Setelah melakukan validasi instrumen penelitian, peneliti langsung
melakukan penelitian dengan menyebarkan angket analisis kebutuhan di Wisma
Bahasa. Penyebaran angket ini dilakukan guna mengumpulkan informasi terkait
pengembangan media dan bahan ajar menyimak di Wisma Bahasa. Penyebaran
angket ini dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2018. Setelah mengumpulkan
angket analisis kebutuhan, peneliti melakukan wawancara dengna instruktur BIPA
terkait guna mengetahui lebih dalam tentang pembelajaran di kelas. Wawancara
dilakukan dengan tiga instruktur BIPA pada tanggal 24 Agustus 2018.
a. Deskripsi Data Angket Analisis Kebutuhan Pemelajar BIPA Tingkat
Beginner di Wisma Bahasa
Peneliti menyebarkan angket analisis kebutuhan kepada pemelajar BIPA
tingkat beginner di Wisma Bahasa. Penyebaran ini dilakukan pada tanggal 14
Agustus 2018 puku 10.00 WIB sampai 14.00 WIB. Penyebaran angket berjumlah
5 orang pemelajar BIPA pada tingkat begginer di Wisma Bahasa Yogyakarta.
Penyebaran angket dilakukan guna mengetahui pengal aman materi belajar yang
sangat dibutuhkan unutk tingkat beginner, pengalaman belajar di dalam kelas,
penggunaan media dan bahan ajar di dalam kelas serta pengetahuan tentang vlog
oleh pemelajar BIPA. Berikut peneliti paparkan data diri pemelajar BIPA tingkat
beginner di Wisma Bahasa berdasarkan angket analisis kebutuhan bagian A.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Data
Pemelajar
Nama
Lengkap
Mathew
Locastro
Beginner 1A
Berikut juga peneliti sajikan tabel rata-rata perolehan dari angket analisis
kebutuhan pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma Bahasa Yogyakarta.
Tabel 4.2
No Deskripsi Materi
59
3
9
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua materi
yang masuk dalam kategori sangat berguna, tujuh materi pada kategori berguna
dan satu materi pada kategori tidak berguna. Dua materi pertama yang masuk
dalam kategori sangat berguna adalah materi memperkenalkan diri dan
menghitung jumlah. Keduanya sama-sama mendapatkan rata-rata 3 dengan
prosentase sebesar 100%. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua
materi ini sangat dibutuhkan bagi pemelajar BIPA tingkat beginner di Wisma
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
berlaku di Wisma Bahasa Yogyakarta. Selain melalui tabel pemilihan, pemelajar
BIPA juga diminta menuliskan lima materi yang sangat dibutuhkan berdasarkan
sepuluuh materi yang telah disediiakan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti
mendapkatkan hasil sebagai berikut.
Pemelajar
1 2 3 4 5
1
61
Materi tentang menje