katarak senilis presus

50
BAB I STATUS PASIEN 1.1 Identitas Pasien Nama : Ny.IA Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 59 tahun Agama : Islam Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat : Rawamangun, Jakarta Timur 1.2 Anamnesis Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 17 Februari 2012. Keluhan Utama : penglihatan kabur (buram) secara perlahan-lahan sejak + 1 tahun terakhir. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUP Persahabatan dengan keluhan utama penglihatannya kabur (buram) secara perlahan- lahan sejak + 1 tahun terakhir. Awalnya penglihatan sedikit buram kemudian lama-kelamaan menjadi seperti melihat asap. Penderita mengaku lebih terang jika melihat pada malam hari. Pasien menyadari seperti ada selaput kuning pada bagian putih mata, dan kadang disertai kemerahan disertai rasa gatal namun tidak nyeri. Pasien menyadari adanya selaput putih kuning mulai ada sejak + 2 tahun terakhir. Mata akan tampak lebih merah saat mata pasien terpapar oleh sinar matahari. Pasien tidak memberikan obat tetes mata untuk 1

Upload: aulia-p-nurjannah

Post on 12-Dec-2015

79 views

Category:

Documents


10 download

DESCRIPTION

presus

TRANSCRIPT

Page 1: Katarak Senilis Presus

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 Identitas Pasien

Nama : Ny.IA

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 59 tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : Rawamangun, Jakarta Timur

1.2 Anamnesis

Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 17 Februari 2012.

Keluhan Utama : penglihatan kabur (buram) secara perlahan-lahan sejak

+ 1 tahun terakhir.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUP Persahabatan dengan keluhan utama

penglihatannya kabur (buram) secara perlahan-lahan sejak + 1 tahun terakhir. Awalnya

penglihatan sedikit buram kemudian lama-kelamaan menjadi seperti melihat asap.

Penderita mengaku lebih terang jika melihat pada malam hari. Pasien menyadari seperti

ada selaput kuning pada bagian putih mata, dan kadang disertai kemerahan disertai rasa

gatal namun tidak nyeri. Pasien menyadari adanya selaput putih kuning mulai ada sejak +

2 tahun terakhir. Mata akan tampak lebih merah saat mata pasien terpapar oleh sinar

matahari. Pasien tidak memberikan obat tetes mata untuk mengurangi gejala sakit

matanya. Pasien menyangkal adanya mual, muntah, sakit pada daerah di sekitar mata.

Pasien tidak pernah mengalami trauma pada kepala maupun matanya maupun terkena

bahan-bahan kimia. Pasien menyangkal pernah menjalankan operasi pembedahan pada

mata (pembedahan intraokular). Pasien tidak mengkonsumsi obat jangka panjang seperti

kortikosteroid. Riwayat atau sedang mengkonsumsi obat TBC disangkal oleh pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Hipertensi : disangkal

DM : disangkal

1

Page 2: Katarak Senilis Presus

Riwayat Penyakit Keluarga :

Pasien tidak mengetahui apakah di keluarganya ada yang menderita sakit seperti yang

dialami pasien.

1.3 Pemeriksaan Fisik

A. Status Generalis

Keadaan umum : tampak sakit ringan

Kesadaran : compos mentis

Tanda vital : TD: tidak diperiksa Nadi: 86x/menit

RR: 20x/menit Suhu: afebris

B. Status Oftalmologikus

Keterangan Okulo Dextra Okulo Sinistra

1. Visus

- Tajam penglihatan 5/60 2/60

- Koreksi S – 2.00 6/12f Tidak dapat dikoreksi

- Addisi + 2.75 + 2.75

- Distansia pupil 64/62 mm

- Kacamata lama S - 2.00 S – 2.00

2. Kedudukan Bola Mata

- Deviasi Tidak ada Tidak ada

- Gerakan bola mata Baik ke semua arah Baik ke semua arah

3. Super Silia

- Warna Abu-abu kehitaman Abu-abu kehitaman

- Letak Simetris Simetris

4. Palpebra

4.1 Palpebra Superior

- Edema Tidak ada Tidak ada

- Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

- Ektropion Tidak ada Tidak ada

- Entropion Tidak ada Tidak ada

- Trikiasis Tidak ada Tidak ada

- Hordeolum Tidak ada Tidak ada

- Kalazion Tidak ada Tidak ada

2

Page 3: Katarak Senilis Presus

4.2 Palpebra Inferior

- Edema Tidak ada Tidak ada

- Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

- Ektropion Tidak ada Tidak ada

- Entropion Tidak ada Tidak ada

- Trikiasis Tidak ada Tidak ada

- Hordeolum Tidak ada Tidak ada

- Kalazion Tidak ada Tidak ada

5. Konjungtiva Tarsalis

5.1 Konjungtiva Tarsalis Superior

- Hiperemis Tidak ada Tidak ada

- Folikel Tidak ada Tidak ada

- Papil Tidak ada Tidak ada

- Sikatrik Tidak ada Tidak ada

- Anemia Tidak ada Tidak ada

5.2 Konjungtiva Tarsalis Inferior

- Hiperemis Tidak ada Tidak ada

- Folikel Tidak ada Tidak ada

- Papil Tidak ada Tidak ada

- Sikatrik Tidak ada Tidak ada

- Anemia Tidak ada Tidak ada

6. Konjungtiva Bulbi

- Injeksi Konjungtiva Tidak ada Tidak ada

- Injeksi Siliar Tidak ada Tidak ada

-Perdarahan

Subkonjungtiva

Tidak ada Tidak ada

- Pterigium Terdapat jaringan

fibrovaskular

(derajat I)

Terdapat jaringan

fibrovaskular

(derajat I)

- Pinguekula Tidak ada Tidak ada

- Nevus Pigmentosus Positif

(ukuran 2 mm)

Tidak ada

3

Page 4: Katarak Senilis Presus

7. Sklera

- Warna Putih Putih

- Ikterik Tidak ada Tidak ada

8. Kornea

- Kejernihan Jernih Jernih

- Permukaan Licin Licin

- Ukuran 12 mm 12 mm

- Sensibilitas Baik Baik

- Infiltrat Tidak ada Tidak ada

- Edema Tidak ada Tidak ada

9. Bilik Mata Depan

- Kedalaman Normal Normal

- Kejernihan Jernih Jernih

- Hifema Tidak ada Tidak ada

- Hipopion Tidak ada Tidak ada

10. Iris

- Warna Coklat kehitaman Coklat kehitaman

- Kriptae Jelas Jelas

- Bentuk Bulat Bulat

- Sinekia Tidak ada Tidak ada

11. Pupil

- Letak Di tengah Di tengah

- Bentuk Bulat Bulat

- Ukuran 3 mm 3 mm

- Refleks cahaya

langsung

Positif Positif

- Refleks cahaya tak

langsung

Positif Positif

12. Lensa

- Kejernihan Keruh Keruh

- Letak Di tengah Di tengah

- Shadow Test Positif Positif

13. Badan Kaca

4

Page 5: Katarak Senilis Presus

- Kejernihan Jernih Jernih

14. Fundus Okuli

a. Refleks Fundus Positif Positif

b. Papil

- Bentuk Bulat Bulat

- Batas Tegas Tegas

- Warna Kuning kemerahan Kuning kemerahan

- C/D Ratio 0,4 0,4

c. Arteri : Vena 2/3 2/3

d. Retina

- Edema Tidak ada Tidak ada

- Perdarahan Tidak ada Tidak ada

- Eksudat Tidak ada Tidak ada

e. Makula Lutea

- Refleks Fovea Positif Positif

- Edema Tidak ada Tidak ada

15. Palpasi

- Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

- Massa tumor Tidak ada Tidak ada

- Tonometri Schiotz 7/7,5 = 18.5 mmHg 8/7,5 = 15,6 mmHg

16. Kampus Visi

- Tes Konfrontasi Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

1.4 Resume

Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUP Persahabatan dengan keluhan utama

penglihatannya kabur (buram) secara perlahan-lahan sejak + 1 tahun terakhir. Awalnya

penglihatan sedikit buram kemudian lama-kelamaan menjadi seperti melihat asap.

Penderita mengaku lebih terang jika melihat pada malam hari. Pasien menyadari seperti

ada selaput kuning pada bagian putih mata, dan kadang disertai kemerahan disertai gatal

namun tidak nyeri. Pasien menyadari adanya selaput putih kuning mulai ada sejak + 2

5

Page 6: Katarak Senilis Presus

tahun terakhir. Mata akan tampak lebih merah saat mata pasien terpapar oleh sinar

matahari.

Status Oftalmologikus :

Keterangan Okulo Dextra Okulo Sinistra

Visus

- Tajam penglihatan 5/60 2/60

- Koreksi S – 2.00 6/12f Tidak dapat dikoreksi

Konjungtiva Bulbi

- Pterigium Positif (derajat I) Positif (derajat I)

Lensa

- Kejernihan Keruh Keruh

- Shadow Test Positif Positif

1.5 Diagnosis Kerja

OD : Katarak Senilis Imatur

Pterigium derajat I

OS : Katarak Senilis Imatur

Pterigium derajat I

Katarak Senilis Imatur ODS dimana lensa OS lebih keruh dibanding OD

1.6 Diagnosis Banding

1.7 Pemeriksaan Penunjang

1.8 Penatalaksanaan

1. Katarak

Farmakologis : Reticopen, dosis : 1 tablet per hari

Pembedahan :

OD : Anjuran operasi katarak dengan metode phacoemulsification

OS : Operasi Ekstraksi Lensa Katarak Ekstra Kapsuler (EKEK)

Persiapan preoperatif :

A. Pemeriksaan oftalmologi :

Sebelum dilakukan operasi harus diketahui fungsi retina, khususnya

makula, diperiksa dengan alat retinometri

6

Page 7: Katarak Senilis Presus

Jika akan melakukan penanaman lensa maka lensa diukur kekuatannya

(dioptri ) dengan alat biometri

Keratometri mengukur kelengkungan kornea untuk bersama

ultrasonografi dapat menentukan kekuatan lensa yang akan ditanam

B. Pemeriksaan sistem lain :

Gula darah

Hb, Leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan

Tekanan darah

Elektrokardiografi

Chest X-Ray

2. Pterigium

Untuk pterigium ODS : karena masih dalam derajat I maka hanya perlu

penatalaksanaan :

1. Non farmakologis :

Edukasi mengenai penyebab pterigium

Edukasi untuk menjaga mata agar terhindar dari kontak langsung sinar

ultraviolet

2. Farmakologi :

Cendo Conal, dosis 3 tetes/hari, kandungan nya terdiri dari Pheniramine

Maleate (vasokonstriktor) dan Naphazoline (Antihistamin Lokal)

3. Indikasi pembedahan :

Jika sudah derajat III atau IV atau pterigium sudah mengenai visual aksis

sehingga mengganggu penglihatan atau alasan kosmetik.

1.9 Prognosis

OD OS

Ad vitam : Bonam Bonam

Ad fungtionam : Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam Dubia ad bonam

7

Page 8: Katarak Senilis Presus

BAB II

ANALISIS KASUS

2.1 Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan utama penglihatannya kabur (buram) secara perlahan-

lahan sejak + 1 tahun terakhir. Dari keluhan utama ini, dapat dinyatakan bahwa pasien

tergolong ke dalam kelompok penyakit mata tenang visus turun perlahan. Oleh karena

itu, kemungkinan penyakit yang dapat diderita pasien adalah: katarak, gangguan

refraksi, glaukoma kronik, retinopati diabetik, retinopati hipertensi, dan intoksikasi

saraf optik karena obat.

Pasien mengatakan awalnya penglihatan sedikit buram kemudian lama-kelamaan

menjadi seperti melihat asap. Penderita mengaku lebih terang jika melihat pada

malam hari. Gejala ini umumnya timbul pada mata dengan katarak

Pasien menyadari seperti ada selaput kuning pada bagian putih mata, dan kadang

disertai kemerahan disertai rasa gatal namun tidak nyeri. Pasien menyadari adanya

selaput putih kuning mulai ada sejak + 2 tahun terakhir. Mata akan tampak lebih

merah saat mata pasien terpapar oleh sinar matahari. Keadaan ini menunjukkan

adanya kelainan pada konjungtiva dapat berupa pingukuela, pterigium, atau

pterigium.

Pasien menyangkal adanya mual, muntah, sakit pada daerah di sekitar mata. Dari

keluhan ini maka kemungkinan diagnosis yang dapat disingkirkan adalah kelainan

humor aquous yaitu glaucoma kronik. Pada glaukoma gejala yang timbul adalah

kepala pening atau sakit, terasa berat pada sebelah mata yang disertai mual muntah,

yang merupakan tanda-tanda peningkatan tekanan bola mata.

Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus. Dari keluhan ini maka

kemungkinan yang dapat disingkirkan adalah katarak diabetes, retinopati diabetik,

dan retinopati hipertensi.

Selain itu pasien juga tidak memiliki riwayat trauma atau benturan maupun terkena

bahan-bahan kimia. Kemungkinan diagnosis yang dapat disingkirkan adalah katarak

traumatik.

Pasien menyangkal pernah menjalankan operasi pembedahan pada mata (pembedahan

intraokular) dari keluhan ini dapat disingkirkan kemungkinan katarak sekunder

Pasien tidak mengkonsumsi obat jangka panjang seperti kortikosteroid , dari keadaan

ini kemungkinan yang dapat disingkirkan adalah katarak komplikata.

8

Page 9: Katarak Senilis Presus

Pasien juga menyangkal mengkonsumsi OAT, dari keadaan ini kemungkinan dapat

disingkirkan adalah intoksikasi saraf optik karena obat.

Pasien menyangkal pada keluarganya ada yang memiliki keluhan yang sama

dengannya. Hal ini menandakan bahwa penyakit pasien bukan penyakit keturunan.

2.2 Pemeriksaan Fisik Mata ( Status Oftalmologi ):

Pada pemeriksaan visus,

o Mata kanan 5/60. Mata dapat dikoreksi dengan lensa S-2.00, sehingga visus

menjadi 6/12f. Pengkoreksian masih belum menghasilkan visus 6/6. Dari uji

pinhole, tidak terdapat perbaikan penglihatan maka kemungkinan pasien

mengalami kekeruhan pada media penglihatannya.

o mata kiri 2/60. Mata tidak dapat dikoreksi dengan kacamata dan uji pinhole tidak

maju. Visus 2/60 artinya pada jarak 2 meter pasien masih dapat melihat

(menghitung) jari pemeriksa yang oleh orang normal dapat dilihat pada jarak 60

meter. Dari uji pinhole, tidak terdapat perbaikan penglihatan maka kemungkinan

pasien mengalami kekeruhan pada media penglihatannya. Oleh karena itu,

kemungkinan diagnosis kelainan refraksi dapat disingkirkan karena pada kelainan

refraksi apabila dilakukan koreksi dan uji pinhole penglihatan akan bertambah

baik.

Pemeriksaan Konjungtiva bulbi

Pada inspeksi langsung, ODS juga terlihat adanya penebalan berupa jaringan ikat

pada sklera pasien yang dimulai dari kantus medius ke arah kornea, membentuk

segitiga dengan puncaknya di daerah limbus kornea. Pertumbuhan fibrovaskular

seperti ini khas ditemukan pada pterigium, yaitu kelainan degeneratif, neoplasia dan

peradangan yang sering sekali ditemukan pada orang-orang yang sering terpajan sinar

ultraviolet, kekeringan pada mata dan sering terpajan udara yang panas. Dapat

ditegakkan diagnosis kerja berikutnya ke arah pterigium.

Shadow test

o OD (+),dimana masih dapat terlihat bayangan iris pada sebagian permukaan lensa.

Hal ini pada katarak menunjukkan fase imatur.

o OS (+),dimana masih dapat terlihat bayangan iris pada sebagian permukaan lensa.

Hal ini pada katarak menunjukkan fase imatur.

Pemeriksaan CoA

9

Page 10: Katarak Senilis Presus

o ODS normal , dapat ditemukan CoA dangkal menandakan lensa sedang dalam

tahap intumesen, yaitu terjadi proses hidrasi korteks yang menjadikan lensa

mencembung mengakibatkan pendorongan iris ke depan sehingga bilik mata

depan akan lebih sempit

Pada pemeriksaan lensa

o Lensa mata kanan mengalami kekeruhan di sebagian lensa.

o Lensa mata kiri mengalami kekeruhan di sebagian lensa yaitu mengarah ke

penyakit katarak imatur.

o Kekeruhan lensa, lebih keruh pada mata kiri daripada mata kanan.

Badan kaca dan pemeriksaan fundus okuli

o Mata kanan DBN

o Mata kiri DBN

Pada pemeriksaan tonometri Schiotz didapatkan hasil

o OD 7/7.5 yaitu tekanan bola mata sebesar (18,5 mmHg) dimana angka ini dalam

batas normal. Dengan pemeriksaan ini maka kemungkinan glaukoma dapat

disingkirkan N 11-21 mmHg

o OS 8/7,5 ( 15,6 mmHg )

Berdasarkan hasil pemeriksaan oftalmologi maka diagnosis kerja pada pasien ini

adalah katarak senilis imatur ODS karena kekeruhan terjadi pada sebagian daerah lensa

Anjuran pemeriksaan yang dilakukan antara lain :

Pemeriksaan preoprasi yang meliputi :

1. Pemeriksaan oftalmologi :

Sebelum dilakukan operasi harus diketahui fungsi retina, khususnya

makula, diperiksa dengan alat retinometri

Jika akan melakukan penanaman lensa maka lensa diukur kekuatannya

(dioptri ) dengan alat biometri

Keratometri mengukur kelengkungan kornea untuk bersama

ultrasonografi dapat menentukan kekuatan lensa yang akan ditanam

2. Pemeriksaan sistem lain :

Gula darah

Hb, Leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan

10

Page 11: Katarak Senilis Presus

Tekanan darah

Elektrokardiografi

Chest X-Ray

Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dilakukan pembedahan dengan mengangkat

lensa yang keruh dan mengganti dengan lensa pengganti. Katarak akan dibedah bila sudah

terlalu luas mengenai bagian dari lensa mata. Lensa pengganti yang paling ideal adalah

lensa tanam di dalam mata (intraocular lens).

Keuntungan pemasangan lensa ini antara lain penglihatan menjadi lebih fisiologis

karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat lensa asli yang diangkat, tidak terjadi

pembesaran benda yang dilihat serta mobilisasi lebih cepat.

Tata laksana postoperatif

1. 24 jam postoperative verban dibuka dan mata dibersihkan

2. Mata diperiksa seluruhnya terutama tajam penglihatan, secret dalam saccus

konjungtiva, aposisi luka, kejernihan cornea, kedalaman bilik mata depan dan

hifema, pupil, IOL, kapsula posterior, retina, dan tekanan intra okuli.

3. Tetes antibiotic-steroid topical diberikan setiap 4-6 jam dan salep diberikan

sebelum tidur, digunakan untuk mengontrol infeksi dan inflamasi postoperatif

dan diturunkan dosisnya dalam 4-6 minggu.

4. Pasien dianjurkan untuk menghindari mencuci kepala dalam waktu 1 minggu,

mengangkat beban berat dalam 3 bulan.

Pasien juga diberitahukan hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan setelah

pembedahan. Hal yang boleh dilakukan antara lain memakai dan meneteskan obat seperti

yang dianjurkan, pakai penutup mata dan melakukan pekerjaan yang tidak berat. Hal yang

tidak boleh dilakukan antara lain : jangan menggosok mata, jangan menggosok mata

terlalu dalam, jangan berbaring ke sisi mata yang belum dibedah.

Untuk pterigium ODS : karena masih dalam derajat I maka hanya perlu

penatalaksanaan :

1. Non farmakologis :

Edukasi mengenai penyebab pterigium

11

Page 12: Katarak Senilis Presus

Edukasi untuk menjaga mata agar terhindar dari kontak langsung sinar

ultraviolet

2. Farmakologi :

Cendo Conal, dosis 3 tetes/hari, kandungan nya terdiri dari Pheniramine

Maleate (vasokonstriktor) dan Naphazoline (Antihistamin Lokal)

3. Indikasi pembedahan :

Jika sudah derajat III atau IV atau pterigium sudah mengenai visual aksis

sehingga mengganggu penglihatan atau alasan kosmetik.

2.3 Prognosis

OD OS

Ad vitam : Bonam Bonam

Ad fungtionam : Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam Dubia ad bonam

12

Page 13: Katarak Senilis Presus

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Katarak

III.1 Definisi

Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, dan Latin Cataracta yang

berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti

tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keaddaan kekeruhan

pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambhan cairan) lensa, denaturasi

protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.1

III.2 Etiologi dan faktor predisposisi 2

Etiologi katarak masih belum diketahui dengan pasti, namun umumnya

berhubungan dengan denaturasi protein lensa. Perkembangan katarak dipengaruhi oleh

faktor yang bervariasi,antara lain :

- usia lanjut merupakan faktor resiko utama yang berkaitan dengan proses degenerasi

lensa.

- genetik, bila salah satu dari kembar identik mengalami katarak, maka kembar

lainnya mempunyai kemungkinan 48% lebih besar daripada masyarakat pada

umumnya. Faktor genetik umumnya berkorelasi dengan katarak kongenital, riwayat

katarak pada keluarga berperan sebagai predisposisi berkembangnya katarak pada

usia dini yang dapat digunakan sebagai antisipasi pada katarak presenilis.

- Pajanan terhadap radiasi jangka panjang, misal UVB, sinar infra merah, dll.

- Inflamasi dan trauma lokal mata.

- Efek sekunder dari penyakit sistemik, misal diabetes mellitus, hipertensi, dehidrasi

kronik, diare, dan malnutrisi meningkatkan resiko katarak empat kali lebih besar.

- defisiensi vitamin C and E, selenium, beta carotene, dan lycopene yang berperan

melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Kebiasaan merokok

dan konsumsi alkohol juga meningkatkan insiden katarak.

- Status atopik atau alergi mempercepat progresifitas katarak, terutama pada insiden

katarak juvenilis.

- Drug-induced cataract, seperti kortikosteroid, amiodarone, phenytoin,

chlorpromazine, dan golongan statin juga mempercepat perkembangan katarak.

13

Page 14: Katarak Senilis Presus

III.3 Klasifikasi 3

Tabel 1 Klasifikasi katarak berdasarkan opasitas lensa

Sumber : Scholte, Pocket Atlas of Ophtalmology, Thieme, 2006, pg 140

Maturitas

– Katarak insipien

– Katarak intumesen

– Katarak immatur

– Katarak matur

– Katarak hipermatur (hypermature morgagnian cataract)

Lokasi

– Katarak nukleus

– Katarak kortikal (anterior or posterior)

– Katarak subkapsular

– Katarak polaris/piramidalis (anterior or posterior polar cataract)

- Katarak zonular/lamelar

– Katarak kortikonuklear (opasitas pada beberapa lapisan yang berbeda)

Bentuk opasitas lensa

– Katarak kuneiformis (Wedge-shaped cataract)

– Katarak fisiformis (Fish-shaped cataract)

– Katarak pulverulent (Powdery cataract)

– Katarak stelatum (Star-shaped cataract)

Warna

– Katarak brunescent (brown cataract)

– Katarak nigra (black cataract)

Onset

– Katarak kongenital

– Katarak infantil (< 1 tahun)

– Katarak juvenil (1-12 tahun)

– Katarak presenilis (di bawah usia 40 tahun)

– Katarak senilis (> 40 tahun)

Asal

– Katarak traumatik

14

Page 15: Katarak Senilis Presus

– Katarak syndermatotik

– Katarak sekunder

Tabel 2 Klasifikasi opasitas lensa berdasarkan penyebabnya

Sumber : Scholte, Pocket Atlas of Ophtalmology, Thieme, 2006, pg 141

Usia (perubahan photo-oxidative pada katarak senilis)

Trauma okuli (mekanik): tumpul (kontusio) atau tajam (penetrasi)

Operasi okuli

- Vitrektomi pars plana

- Operasi pembuatan fistula

- Iridektomi perifer

Penyakit intraocular

- Inflamasi: uveitis kronik, endophthalmitis, embriopati rubella (Gregg

syndrome), syphilis, toxoplasmosis, dll.

- Tumor: melanoma koroidal, dll

- Kondisi degeneratif/distrofi: retinitis pigmentosa

- Iskemia intraocular primer: following cerclage operation (string syndrome)

- Glaukoma sudut terbuka akut (“glaukomflecken”)

- Malformasi: mikrophthalmia, PHPV, Peters’ anomaly, aniridia, dll

Sindrom

- Trisomy 13

- Trisomy 18

- Trisomy 21

- Sindrom Turner

- Sindrom Lowe

- Sindrom Alport, dll

Penyakit sistemik

- Kelainan metabolik : diabetes mellitus, galaktosemia, defisiensi galaktokinase,

defisiensi α-galaktosidase (Fabry disease), tetany, myotonic dystrophy

(Curschmann-Steinert disease), Refsum syndrome, degenerasi hepatolentikular

(Wilson disease), gizi buruk, dialysis, dll

- Circulatory disorders: stenosis arteri karotikus (ischemic ophthalmopathy),

penyakit Takayasu (pulseless disease)

15

Page 16: Katarak Senilis Presus

- Katarak syndermatotik: dermatitis atopik, sindrom Werner (progeria dewasa),

dll

- Lain-lain : neurofibromatosis (NF) type II, premature birth

Medikasi

- Korticosteroids

- Amiodarone

- Golongan statin

- Sitostatik

- Chlorpromazine, phenytoin

- Parasimpatomimetik local

Radiasi

- Ionisasi: X-rays, β-rays, γ-rays

- Non-ionisasi: UVB, infra merah (“glassblower’s cataract”), microwaves, high-

voltage current (electric cataract)

Berdasarkan maturitas 1,4

1. Katarak insipien

Opasitas dimulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks anterior dan

posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai tampak di korteks. Kekeruhan ini

dapat menimbulkan poliopia karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua

bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap pada waktu yang lama.

2. Katarak intumesen

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degeneratif

menyerap air. Lensa yang edema mendorong iris sehingga bilik mata depan

lebih dangkal dibandingkan normal dan dapat menimbulkan penyulit glaukoma.

Katarak tipe ini berjalan cepat dan menyebabkan miopi lentikular.

3. Katarak immatur

Katarak belum mengenai seluruh lapis lensa, volume lensa dapat bertambah

karena meningkatnya tekanan osmotik akibat bahan lensa yang degeneratif, dan

dapat menimbulkan penyulit berupa glaukoma sekunder.

16

Page 17: Katarak Senilis Presus

4. Katarak matur

Katarak telah mengenai seluruh ketebalan lensa. Katarak matur merupakan

tahap perkembangan lanjutan dari katarak imatur dan intumesen dimana telah

terjadi pengeluaran cairan lensa sehingga lensa kembali ke ukuran normal, bilik

mata depan kembali ke kedalaman normal, uji bayangan iris negatif, dan dapat

terjadi kalsifikasi lensa. Tajam penglihatan menurun hingga persepsi cahaya.

5. Katarak hipermatur

Katarak yang mengalami degenerasi lanjut. Massa lensa yang berdegenerasi

keluar dari kapsul lensa sehingga lensa mengecil. Pada pemeriksaan terlihat

bilik mata depan dalam dan lipatan kapsul lensa.Bila proses katarak berlangsung

terus disertai dengan kapsul yang tebal, maka korteks berdegenerasi dan cairan

tidak dapat keluar, disebut sebagai katarak Morgagni.

Berdasarkan usia dan bentuk (age related - katarak senilis dan presenilis) 4

1. Kortikal (spoke – cuneiform)

Proses opasitas lensa dimulai dari perifer lensa dan terus meluas ke area pupil.

Prosesnya dapat dimulai dari setiap kuadran, namun daerah nasal inferior lebih

prevalen daripada kuadran lainnya. Proses diawali dengan separasi lamella lensa

yang disebabkan oleh overhidrasi lensa. Opasitas dapat terjadi di bagian anterior

maupun posterior lensa dan tidak dapat diprediksi progresifitasnya.

2. Posterior subcapsular (cupuliform – PSC)

Kekeruhan pada lensa berbentuk vakuol atau granular. Proses katarak terjadi di

lapisan posterior korteks lensa. Oleh karena letaknya, katarak tipe ini

menyebabkan reduksi visual yang berarti. Kausa yang berkaitan dengan katarak

kupuliformis antara lain usia, penggunaan steroid jangka lama, trauma atau

akibat uveitis kronik. Tipe ini merupakan salah satu jenis katarak yang

progresifitasnya paling cepat sehingga harus dimonitor dengan seksama.

3. Nuclear sclerosis (NS)

Segera setelah berusia 40 tahun, bagian sentral lensa akan mengalami sklerosis,

hal ini mengakibatkan perubahan indeks refraksi lensa. Pada stadium lanjut

nukleus akan berbentuk seperti ”oil droplet”. Pemeriksaan yang dianjurkan

17

Page 18: Katarak Senilis Presus

antara lain, retroilluminasi dengan oftalmoskopi langsung atau retroilluminasi

dengan slit-lamp pada pupil yang midriasis.

III.4 Patogenesis

Dua patogenesis utama yang terlibat pada mayoritas katarak (terutama katarak senilis)

adalah hidrasi dan sklerosis.

Hidrasi

Peningkatan hidrasi menyebabkan separasi lamella lensa dan penimbunan protein non

polar pada serat-serat lensa, mengakibatkan lensa kehilangan strukturnya yang

transparan dan terjadi pembiasan sinar secara irregular (scatter). Peningkatan hidrasi

menyebabkan peningkatan degenerasi protein lensa, menghasilkan opasitas lensa yang

ireversibel.

Mekanisme yang mendasari terjadinya hidrasi yang utama adalah :

Kegagalan mekanisme pompa/transport aktif

Peningkatan kebocoran (leakage) pada kapsula anterior dan posterior lensa

Peningkatan tekanan osmotik lensa.

Sklerosis

Proses ini melibatkan predominasi nukleus dan merupakan bagian dari proses

degenerasi yang normal. Peningkatan densitas protein lensa dan peningkatan jumlah

protein dengan berat molekul tinggi yang terikat pada sulfida menyebabkan hilangnya

transparansi lensa, yang mengakibatkan pembiasan sinar iregular pada katarak.

III.5 Diagnosis

a.Gejala dan Tanda

Gejala

1. Pandangan kabur (blurred), opasifikasi lensa menyebabkan perburukan

penglihatan yang bersifat progresif. Pada tahap permulaan penglihatan dekat

masih normal karena adanya second sight phenomenon.Pada katarak imatur

tajam penglihatan pasien setidaknya dapat menghitung jari, sedangkan pada

katarak matur tajam penglihatan hanya dapat sampai persepsi sinar. Pada

katarak hipermatur visus dapat sedikit meningkat kembali hingga dapat

menghitung jari dari jarak satu meter bila korteks lensa telah diabsorpsi.

18

Page 19: Katarak Senilis Presus

2. Variasi diurnal penglihatan. Pada katarak kupuliformis (sentral) penglihatan

lebih buruk pada siang hari dengan pencahayaan yang cukup (day-blindness

atau hemerelopia) tetapi membaik menjelang malam hari. Sedangkan katarak

kortikal perifer sebaliknya.

3. Halo, merupakan cincin pelangi yang terlihat di sekeliling sumber sinar,

merupakan gejala penting pada glaukoma (corneal halo). Halo dapat diketahui

dengan Fincham’s test dengan menggunakan slit vertikal pada slit staenopic

(black disc) dilewatkan melalui mata pasien dimana pasiennya sambil menatap

sumber cahaya terang. Pada pasien dengan katarak akan terlihat halo yang

menyebar di sekitar fan yang berputar, disebut halo lentikular.

4. Perubahan persepsi warna disebabkan lensa yang menguning secara progresif

menyebabkan perubahan saturasi warna dari bayangan yang terlihat.

5. Black spots, pasien mungkin mengeluh melihat titik hitam yang terfiksasi pada

lapang penglihatannya dan harus dibedakan dari muscar volitantes pada kelainan

vitreo-retina.

Tanda

1. Visual acuity, tajam penglihatan turun sesuai dengan derajat maturitas katarak.

Pada katarak imatur turun dari 6/9 sampai hitung jari, katarak matur turun dari

melihat lambaian tangan hingga persepsi cahaya. Namun, hal ini tidak mutlak

terjadi pada katarak sentral.

2. Leukokoria atau ”white pupil”, pupil terlihat putih kelabu pada katarak imatur,

putih mutiara pada katarak matur, dan putih susu pada katarak hipermatur.

3. Kedalaman bilik mata depan normal kecuali pada katarak intumesen bilik mata

depan lebih dalam dari normal, dan pada katarak hipermatur lebih dangkal dari

normal, mengandung sel-sel dan flare yang dapat menginduksi terjadinya

uveitis.

4. Bayangan iris, pada katarak imatur bayangan kresentik dari iris terlihat pada

pupil dengan iluminasi oblik, sedangkan pada katarak matur bayangan iris tidak

terlihat pada pupil karena opasitas yang meluas pada kapsul anterior lensa.

5. Fundus. Pada stadium awal katarak retina dapat dilihat dengan oftalmoskop dan

terlihat normal, namun pada stadium lanjut retina tidak dapat dilihat.

6. Tekanan intra okuli (IOP) umumnya normal kecuali bila terjadi lens-induced

glaucoma (phacolytic atau phacomorphic) tekanan intra okuli akan meningkat.

19

Page 20: Katarak Senilis Presus

7. Tanda-tanda lain yang berkaitan dengan proses degenerasi perlu diobservasi

bersamaan dengan pemeriksaan katarak, seperti arkus senilis, dermatochalasis,

entropion senilis, ptosis senilis, age related macular degeneration (ARMD),

eksfoliasi kapsula lensa, dry eye syndrome, dan lain sebagainya.

b. Pemeriksaan Penunjang

1. Tekanan intra okuli (IOP). Tekanan intra okuli harus terkontrol sebelum

dilakukan operasi katarak karena dapat menimbulkan komplikasi intra- dan

postoperatif.

2. Pemeriksaan fundus okuli untuk mengetahui detil retina dan kelainan-kelainan

pada segmen posterior mata yang dapat mengganggu penglihatan.

3. Tekanan darah. Hipertensi menyebabkan perkembangan retinopati hipertensif

dan juga hemoragik ekspulsif selama operasi, misalnya ruptur pembuluh darah

koroid. Antihipertensi harus diberikan sebagai medikasi preoperatif untuk

mengontrol tekanan darah. Penggunaan adrenalin dan fenilefrin harus dihindari.

4. Kadar gula darah yang tinggi preoperatif akan mengganggu penyembuhan luka

dan resiko infeksi sehingga harus diobservasi selama periode perioperatif.

5. General check up, pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap, EKG, X-ray

thorax.

6. Tes fungsi makula, dilakukan preoperative untuk menilai potensi penglihatan

postoperative pasien.

- Keratometri memberikan informasi tentang kekuatan refraksi kornea

(dioptri).

- Biometry/axial length of globe (L) merupakan jarak dari apeks kornea

sampai ke polus posterior mata diukur dengan USG A-scan biometer.

III.6 Diagnosis Diferensial

Tidak ada diagnosis banding sejati pada katarak, karena seringkali ada

perubahan tambahan pada mata, seperti glaukoma atau degenerasi makula, sehingga

sulit ditentukan berapa banyak katarak menyebabkan menurunnya penglihatan.

20

Page 21: Katarak Senilis Presus

III.7 Tata Laksana

Medikamentosa

Berdasarkan riset pada tahun 2003, belum terdapat medikasi yang efektif untuk

mencegah atau mengatasi katarak. Namun demikian, dapat dianjurkan diet dengan gizi

yang seimbang, suplementasi vitamin A, C, dan E, serta selenium dan anti oksidan

lainnya dengan dosis yang tepat dapat membantu memperlambat progresifitas katarak.

Operatif

Indikasi operasi katarak diklasifikasikan menjadi 3 kelompok , yaitu :

1. Indikasi optik

Tidak ada batasan pasti tajam penglihatan kapan operasi katarak sebaiknya

dilakukan. Saat ini keputusan dilakukannya operasi disesuaikan dengan kebutuhan

penglihatan subjektif pasien. Visus 6/12 merupakan indikasi awal dilakukannya

operasi, pasien harus diinformasikan mengenai keuntungan dan kerugian operasi

katarak terhadap tajam penglihatan. Glare adalah indikasi optik lainnya terutama

pada pasien yang berkendara pada malam hari.

2. Indikasi medis

Kondisi katarak di bawah ini harus segera dioperasi walaupun prognosis

penglihatannya tidak menjanjikan atau pasien tidak berminat pada perbaikan

penglihatannya :

- Katarak hipermatur

- Lens induced glaucoma

- Lens induced uveitis

- Dislokasi / subluksasi lensa

- Korpus alienum intralentikular

- Retinopati diabetik yang diterapi dengan fotokoagulasi laser

- Ablasio retina atau patologi segmen posterior lainnya dimana diagnosis atau tata

laksananya akan terganggu dengan adanya opasitas lensa

3. Indikasi estetik

White pupil yang disebabkan oleh katarak tidak dapat diterima sepenuhnya oleh

pasien usia muda, operasi katarak dilakukan untuk menghilangkan white pupil

walaupun fungsi penglihatan tidak kembali sepenuhnya.

21

Page 22: Katarak Senilis Presus

Operasi Katarak

Persiapan preoperatif

1. Lebih baik bila pasien telah dirawat inap 1 hari sebelum operasi.

2. Lakukan informed consent.

3. Eye-lashes mata yang akan dioperasi diepilasi dengan hati-hati, dibersihkan dengan

Povidone-Iodine 5 % solution dan ditandai.

4. Diberikan antibiotik profilaksis topikal tiap 6 jam.

5. Sedativa ringan (Diazepam 5 mg) dapat diberikan 1 hari sebelum operasi pada

pasien yang mengalami ansietas.

6. Pada hari operasi, pasien dipuasakan 6-8 jam.

7. Pupil diberikan midriatikum 2 jam sebelum operasi setiap 15 menit

- Tropicamide 1% atau homatropine 2% untuk merelaksasi sfingter pupil

- Fenilefrin 5-10% untuk mengkontraksikan otot dilator pupil

- Flurbiprofen 0,3%, mencegah release prostaglandin selama operasi, mencegah

konstriksi pupil intraoperatif yang dapat menyebabkan trauma iatrogenik.

8. Medikasi lain yang diperlukan seperti anti-glaucoma, anti-hipertensi, anti-asmatik,

dll tetap diberikan. Sedangkan obat-obat anti anti-diabetes dihentikan pemberiannya

pada hari operasi karena dapat menyebabkan hipoglikemia, dan diberikan kembali 1

hari postoperatif.

Teknik operasi yang tersedia :

a.Extra-capsular cataract extraction (ECCE)

Nukleus dan korteks dikeluarkan, sedangkan kapsula posterior, lateral, dan anterior

beserta zonula zinii ditinggalkan dalam keadaan utuh. Teknik ini mendukung

terlaksananya transplantasi lensa pengganti (IOL) dan berperan sebagai barrier

antara segmen anterior dan posterior bulbus okuli, sehingga mencegah komplikasi

seperti pembengkakan (bulging) korpus vitreus ke depan, edema kornea,

endoftalmitis, edema makula, glaucoma afakia.

Tahap-tahap ekstraksi katarak ekstrakapsular :

1. Setelah dilakukan anestesia, mata dibersihkan dengan larutan Povidone-Iodine

5% dan saccus konjungtiva diirigasi dengan saline fisiologis.

2. Kelopak mata diretraksi dengan spekulum.

22

Page 23: Katarak Senilis Presus

3. Superior rectus bridle suture dipasang untuk mendorong limbus ke bawah dan

stabilisasi bola mata. Forceps rectus superior dipasang pada insertion rectus

superios dan benang silk 4.0 dipasangkan di bawahnya.

4. Forniks yang mendasari lipatan konjungtiva diangkat dengan memotong

konjungtiva di tempat perlekatannya pada limbus dari jam 10 sampai jam 2.

Titik-titik perdarahan dan pembuluh darah besar dikoagulai dengan

elektrokauter bipolar.

5. Insisi dibuat setengah ketebalan pada limbus dengan menggunakan razor

mounted on blade breaker-holder, sehingga akan tampak insisi dengan

konfigurasi bi-planar.

6. Cairan visko-elastik (Poly-propyl hydroxy methyl cellulose or sodium

hyaluronate) diinjeksikan ke bilik mata depan, cairan ini akan meliputi endotel

kornea, melindunginya dari kerusakan, dan memperdalam bilik mata depan

untuk memperluas area operasi.

7. Dilakukan kapsulotomi anterior dengan menggunakan jarum bent hypodermic

26 or 30 G, dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain bear-can opener,

Christmas tree, envelope, capsulorrhexis, dan lain-lain

8. Insisi lumbal diperluas dengan menggunakan gunting kornea

9. Nukleus dinyatakan dengan memberikan tekanan lain pada jam 12 dan jam 6

meridian,

10. Korteks dikeluarkan dengan suction dilakukan dengan IA Cannula (Irrigation-

Aspiration), kemudian diirigasi dengan saline fisiologis atau ringer laktat.

11. Jika akan dilakukan implantasi lensa, larutan viskoelastik diinjeksikan kembali

ke bilik mata depan.

12. IOL (intraocular lens) dimasukkan ke dalam kapsula lensa kemudian

dirotasikan sampai diperoleh kedudukan yang terbaik.

13. Larutan viskoelastik diaspirasi dengan IA Cannula.

14. Insisi lumbal dijahit dengan menggunakan Prolene 10.0 atau Nylon sekitar ¾

ketebalan kornea dan sklera dengan jahitan interuptus atau kontinu. Jahitan

diangkat setelah 6-8 minggu. Adapun penyembuhan sempurna luka terjadi

setelah 1-3 tahun.

15. Konjungtiva direposisikan menutup luka di daerah limbus.

16. Antibiotik kombinasi dan steroid diinjeksikan subkonjungtiva, dan mata ditutup

selama 24 jam.

23

Page 24: Katarak Senilis Presus

b. Intra-capsular cataract extraction (ICCE)

Lensa dikeluarkan secara in toto, nukleus dan korteks dikeluarkan dalam kapsula

lensa setelah memutuskan zonula zinii. Kerugiaannya hanya dapat dilakukan

implantasi anterior chamber IOL yang dapat menimbulkan komplikasi terhadap

kornea. Selain itu tidak ada barrier segmen anterior dan posterior bola mata

sehingga mudah timbul komplikasi. Keuntungannya adalah tidak akan terjadi

katarak sekunder karena seluruh komponen lensa telah dikeluarkan.

Tahap-tahap pembukaan bola mata dan penutupan luka di limbus sama dengan yang

dilakukan pada ECCE. Namun, metode pengeluaran lenda berbeda dengan insisi

yang lebih besar (jam 9.30 – 2.30 atau lebih) dan dilakukannya iridektomi perifer

sebelum pengeluaran lensa. Teknik-teknik yang dilakukan untuk pengeluaran lensa,

antara lain :

1. Cryo-extraction : menggunakan cryoprobe dan N2O menyebabkan suhu turun

hingga -400C, yang menyebabkan perlekatan lensa ke probe, lensa dikeluarkan

secara perlahan.

2. Erysiphake

3. Sliding technique

4. Tumbling

5. Lens Forceps technique

6. Wire-vectis technique

Tabel Perbandingan ECCE dan ICCE

Sumber : Ophtalmology, a Pocket Textbook Atlas, 2nd Ed, Thieme, pg 192

24

Page 25: Katarak Senilis Presus

25

  ECCE ICCE

Pengeluaran lensa Nucleus dikeluarkan dari

kapsul, korteks disuction

Lens dikeluarkan secara in toto

Kapsula posterior &

zonula zinii

Intak dikeluarkan

Incisi Lebih kecil (8 mm) Lebih besar (10 mm)

Iridektomi perifer Tidak dilakukan Dilakukan untuk menghindari

glaukoma karena blokade pupil

Instrumen (rumit) Diperlukan Tidak diperlukan

Waktu Lebih lama Lebih singkat

Implantasi IOL Posterior chamber Anterior chamber (Pseudo-

phakic Bullous Keratopathy)

Teknik Lebih sulit Lebih mudah

Biaya Lebih banyak Lebih sedikit

Komplikasi yang

meningkat

After-Cataract 1. Prolaps & degenerasi

vitreus

2. Edema makula

3. Endophthalmitis

4. Aphakic Glaucoma

5. Fibrous & Endothelial

ingrowth

6. Neovascular Glaucoma

in Proliferative Diabetic

Retinopathy

Komplikasi yang

berkurang

Seluruh komplikasi yang

disebutkan pada ICCE

After-Cataract

Indikasi Prosedur rutin untuk

semua jenis katarak

(kecuali bila merupakan

komplikasi)

1. Dislokasi lensa

2. Subluksasi lensa (>1/3

bagian zonula rusak)

3. Chronic Lens Induced

Uveitis

4. Katarak hipermatur

dengan kapsula anterior

yang tebal

5. korpus alienum intra-

lentikular saat ada

gangguan integritas

kapsula posterior lensa.

Kontraindikasi 1. Dislokasi lensa

2. Subluksasi lensa

(>1/3 bagian

Pasien berusia < 35 tahun

dimana terjadi perlengketan

erat antara lensa dan vitreus

Page 26: Katarak Senilis Presus

c.Phacoemulsification

Teknik ini merupakan suatu bentuk modifikasi ECCE dimana nukleus diubah ke

dalam bentuk bulir diemulsifikasi dengan gelombang suara frekuensi tinggi (40,000

MHz), kemudian dilakukan suction melalui insisi kecil (3,2 mm). Kemudian

foldable IOL khusus dimasukkan ke dalam kapsula lensa melalui insisi yang sama.

Keuntungannya adalah tidak ada kemungkinan kecil terjadinya astigmatisma

postoperatif, penyembuhan luka lebih cepat, dan rehabilitasi visual dapat terjadi

dalam 6-8 minggu.

Tata laksana postoperatif

1. 24 jam postoperative verban dibuka dan mata dibersihkan

2. Mata diperiksa seluruhnya terutama tajam penglihatan, secret dalam saccus

konjungtiva, aposisi luka, kejernihan cornea, kedalaman bilik mata depan dan

hifema, pupil, IOL, kapsula posterior, retina, dan tekanan intra okuli.

3. Tetes antibiotic-steroid topical diberikan setiap 4-6 jam dan salep diberikan sebelum

tidur, digunakan untuk mengontrol infeksi dan inflamasi postoperatif dan

diturunkan dosisnya dalam 4-6 minggu.

4. Pasien dianjurkan untuk menghindari mencuci kepala dalam waktu 1 minggu,

mengangkat beban berat dalam 3 bulan.

Komplikasi operasi katarak

Intraoperatif

1. Kerusakan endotel kornea

2. Ruptura kapsula posterior lensa

3. Prolapsus dan degenerasi vitreus

4. Hyphaema

5. Hemoragik ekspulsif

6. Dislokasi nucleus ke dalam vitreus

Postoperatif

Dini

1. Edema kornea

26

Page 27: Katarak Senilis Presus

2. Bekas luka

3. Prolapsus iris

4. Bilik mata depan yang dangkal

5. Hifema

6. Glaukoma

7. Dislokasi IOL

8. Endophthalmitis

Lanjut

1. After cataract

2. Cystoid macular edema (CME)

3. Vitreous touch syndrome

4. Vitreous wick syndrome

5. UGH syndrome (uveitis, glaucoma and hyphaema)

6. Bullous Keratopathy

7. Glaukoma

III.8 Prognosis

Beberapa kasus katarak berhenti setelah mencapai kondisi tertentu, namun umumnya

bersifat progresif dan bila tidak diobati akan menyebabkan kebutaan terutama pada

pasien berusia lebih dari 55 tahun. Katarak tidak pernah reversibel walaupun faktor

predisposisinya telah dihilangkan.

3.2 Pterigium

III. 1 Definisi

Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip

daging yang menjalar ke kornea5, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat

degeneratif dan invasif 1

III.2 Epidemiologi

Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi

geografisnya. Di daratan Amerika serikat, prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk

daerah diatas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Sebuah

hubungan terdapat antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet

27

Page 28: Katarak Senilis Presus

lebih tinggi di bawah garis lintang. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di

lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah. 6

III.3 Mortalitas/Morbiditas

Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi visual

atau penglihatan pada kasus yang kronis. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga menyebabkan

iritasi okuler dan mata merah.6

Berdasarkan beberapa faktor diantaranya :

1. Jenis Kelamin

Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak

dibandingkan wanita. 6

2. Umur 

Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien

umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan pasien

yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling

tinggi.6

III.4 Etiologi

Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan

udara panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu

neoplasma, radang, dan degenerasi.1

III.5 Patofisiologi

Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan ultraviolet,

debu, kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi

yang menjalar ke kornea. Pterigium ini biasanya bilateral, karena kedua mata mempunyai

kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua

kotoran pada konjungtiva akan menuju ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum

lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior. Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat

sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain,

karena di samping kontak langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet

secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung, karena itu pada bagian nasal konjungtiva

lebih sering didapatkan pterigium dibandingkan dengan bagian temporal.5

28

Page 29: Katarak Senilis Presus

Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi

fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium.

Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan

basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat

untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya, oleh karena

jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase. 6

Histologi, pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel

yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H & E . Berbentuk ulat atau

degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing bergelombang dari jaringan yang

degenerasi. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. Epitel

diatasnya biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik

dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet.7

 

III.6 Gejala Klinis

Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama

sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:

mata sering berair dan tampak merah

merasa seperti ada benda asing

timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut,

biasanya astigmatisme with the rule ataupun astigmatisme irreguler sehingga

mengganggu penglihatan

pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual

sehingga tajam penglihatan menurun.8

 

III.7 Pemeriksaan Fisik 

Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada

limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea. Sclera dan selaput

lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan.9

Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke kornea dan

badan. Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup

oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson):

Derajat 1 : Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea

Derajat 2 : Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm

melewati kornea

29

Page 30: Katarak Senilis Presus

Derajat 3 : Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi

pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)

Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga

mengganggu penglihatan. 8

III.8 Diagnosa

Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua

mata, disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini mungkin telah ada

selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-lahan, pada akhirnya

menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi. Sensasi

benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin tampak lebih kering dari biasanya. Penderita

juga dapat melaporkan sejarah paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel

debu.10

Test : Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visi terpengaruh.

Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium tersebut.10

Dengan menggunakan sonde di bagian limbus, pada pterigium tidak dapat dilalui oleh sonde

seperti pada pseudopterigium. 8

III.9 Diagnosa Banding5

1. Pinguekula penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi, berbentuk nodul yang

berwarna kekuningan.

2. Pseudopterigium

Merupakan suatu reaksi dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan

dengan sonde, sonde dapat masuk di antara konjungtiva dan kornea.

III.10 Terapi

A. Konservatif 

Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang

mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid

3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak

dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada

kornea.8

30

Page 31: Katarak Senilis Presus

B. Bedah

Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat

mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi

dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk

menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan

hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka

kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus

pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.8

A.Indikasi Operasi5

1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus

2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil

3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena

astigmatismus

4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

B. Teknik Pembedahan

Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan, dibuktikan

dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea. Banyak teknik bedah telah

digunakan, meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan

yang variabel. Terlepas dari teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah pertama

untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari

kornea yang mendasarinya. Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat,

jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea.1 MMC topikal setelah

operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif

untuk mengurangi toksisitas.9

Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan, karena menghambat

mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium, meskipun tidak ada data yang jelas dari

angka kekambuhan yang tersedia. Namun, efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral,

endophthalmitis dan pembentukan katarak, dan ini telah mendorong dokter untuk

tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya.9

Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan dengan

pemberian:5

31

Page 32: Katarak Senilis Presus

Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari,

bersamaandengan pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian

tappering off sampai 6minggu.

Mitomycin C 0,04% (o,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan

bersamaandengan salep mata dexamethasone.

Sinar Beta

Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama

6minggu, diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol, dan

steroidselama 1 minggu.

III.11 Komplikasi

1. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut:6

Gangguan penglihatan

Mata kemerahan

Iritasi

Gangguan pergerakan bola mata.

Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea

Dry Eye sindrom

2. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:6

Infeksi

Ulkus kornea

Iritasi

Gangguan pergerakan bola mata.

Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea

Dry Eye sindrom

Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan. Eksisi

bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%. Angka ini bisa dikurangi

sekitar 5-15% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran

amnion pada saat eksisi6

III.12 Pencegahan

Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti nelayan, petani

yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet dianjurkan memakai kacamata

pelindung sinar matahari

32

Page 33: Katarak Senilis Presus

III.13 Prognosis

Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis baik.

Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta

radiasi.6 Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur yang

baik dapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari post operasi pasien akan

merasa tidak nyaman, kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai

aktivitasnya. Pasiendengan pterygium yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan

eksisi dan grafting dengan konjungtiva / limbal autografts atau transplantasi membran

amnion pada pasien tertentu6

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Penglihatan turun perlahan tanpa mata merah. Ilmu penyakit mata. Edisi

ketiga. Jakarta: balai penerbit FKUI; 2007. Hal 200-11.

2. Harper RA, Shock JP. Lens in Vaughan and Asbury’s: General Opthalmology 16th

edition. McGraw Hills Company : 2007. P. 173-180.

3. Scholte, Pocket Atlas of Ophtalmology, Thieme, 2006, pg 140

33

Page 34: Katarak Senilis Presus

4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua. Jakarta : Sagung Seto;2002.

5. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata. Edisi III penerbit

Airlangga Surabaya. 2006. hal: 102 – 104

6. Jerome P Fisher, PTERYGIUM. 2009

http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview

7. www.eyewiki.aao.org/Pterygium

8. www.inascrs.org/pterygium/ \

9. Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. Management

of Pterygium  http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm

10. www.mdguidelines.com/pterygium

34