aulia suluk+lampiran

of 67/67
HUBUNGAN OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI POLI SARAF RSUD DR.MOEWARDI SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran AULIYA SULUK BRILLIANT SUMPONO G0006183 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

Post on 09-Jul-2016

35 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

reference1

TRANSCRIPT

  • HUBUNGAN OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) DENGAN KEJADIAN

    HIPERTENSI DI POLI SARAF RSUD DR.MOEWARDI

    SKRIPSI

    Untuk Memenuhi Persyaratan

    Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

    AULIYA SULUK BRILLIANT SUMPONO

    G0006183

    FAKULTAS KEDOKTERAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2010

  • PENGESAHAN SKRIPSI

    Skripsi dengan judul : Hubungan Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan

    Kejadian Hipertensi di Poli Saraf RSUD Dr.Moewardi

    Auliya Suluk Brilliant Sumpono, NIM G0006183, Tahun: 2010

    Telah diuji dan sudah disahkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi Fakultas

    Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Pada Hari Selasa, Tanggal 30 Maret 2010

    Pembimbing Utama Nama : Prof.Dr.Oemar Sri Hartanto,dr.,SpS(K) NIP : 194703181976101001 ................................. Pembimbing Pendamping Nama : I Made Setiamika,dr.,SpTHT-KL(K). NIP : 195507271983121002 ................................. Penguji Utama Nama : Agus Soedomo, dr.,SpS(K). NIP : 194905161976031002 ................................. Anggota Penguji Nama : Widiastuti,dr.,SpRad. NIP : 195611201983112001 .................................

    Surakarta,

    Ketua Tim Skripsi Dekan FK UNS

    Sri Wahjono,dr.,M.Kes,DAFK Prof.Dr.A.A.Subijanto, dr., MS

    NIP 194508241973101001 NIP 194811071973101003

  • PERNYATAAN

    Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

    diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan

    sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

    ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

    naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Surakarta, 30 Maret 2010

    Auliya Suluk Brilliant Sumpono

    NIM G0006183

  • ABSTRAK

    Auliya Suluk Brilliant Sumpono, 2010, HUBUNGAN OBSTRUCTIVE SLEEP

    APNEA (OSA) DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI POLI SARAF RSUD

    DR.MOEWARDI SURAKARTA , Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas

    Maret Surakarta.

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi. Penelitian ini dilakukan di unit rawat jalan di poliklinik bagian penyakit saraf pada bulan Januari 2010 sampai Februari 2010 Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Besar populasi adalah 100 sedangkan besar sampel adalah 50 orang. Teknik sampling yang digunakan purposive random sampling. Data diperoleh dengan instrumen penelitian kuisioner dengan teknik wawancara terpimpin, dan sfigmomanometer jenis jarum. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis menggunakan Uji Chi Square pada taraf signifikasi = 0,05. Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di unit rawat jalan poli saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Januari 2010 sampai Februari 2010 diperoleh pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang mengalami hipertensi 19 orang (76 %) lebih banyak dari pada jumlah pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang tidak hipertensi sebanyak 6 (24%) orang dari total 25 pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA). Sedangkan jumlah pasien yang tidak mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA) tapi hipertensi adalah 8 orang (32%),lebih sedikit dari pada jumlah pasien yang tidak mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan tidak hipertensi sebanyak 17 orang (68%).Sedangkan dari hasil analisis data didapatkan hasil X = 9.742 dan OR = 6,729; sehingga dapat disimpulkan secara statistik, bahwa terdapat hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi. Sebagai kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi

    Kata kunci: Obstructive Sleep Apnea (OSA) peningkatan saraf simpatis hipertensi

  • ABSTRACT

    Auliya Suluk Brilliant Sumpono, 2010, THE RELATIONSHIP BETWEEN

    OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) WITH HYPERTENSION INCIDENT

    AT THE NERVOUS CLINIC OF HOSPITAL DR. MOEWARDI SURAKARTA,

    Medical Faculty, Sebelas Maret University of Surakarta.

    The purpose of this research is to determine the relationship between Obstructive Sleep Apnea (OSA) with hypertension incident. This research was conducted at the outpatient unit at the clinic of nervous diseases in January 2010 to February 2010. This research is an analytical research approach cross sectional. Large population is 100 while the large sample is 50 people. Sampling techniques is using purposive random sampling. The data obtained by questionnaire research instruments with a guided interview technique, and sphygmomanometer needle type. The obtained data are presented in tabular form and analyzed using the Chi Square Test at the level of significance = 0,05. From the results of research has been conducted in the outpatient unit of the nervous clinic Hospital DR. Moewardi Surakarta in January 2010 to February 2010 was obtained patients of Obstructive Sleep Apnea (OSA) who had hypertension was 19 people (76%) more than the number of patients Obstructive Sleep Apnea (OSA) who didnt have hypertension was 6 people (24%) from the total of 25 patients Obstructive Sleep Apnea (OSA). While the number of patients who didnt have Obstructive Sleep Apnea (OSA but hypertension was 8 people (32%), fewer than the number of patients who didnt have Obstructive Sleep Apnea (OSA) and didnt have hypertension was 17 people (68%). While the results of data analysis have obtained X = 9.742 and OR = 6,729; so that it can be concluded statistically, that there is a relationship between Obstructive Sleep Apnea (OSA) with hypertension incident. The conclusion from this research is there is a relationship between Obstructive Sleep Apnea (OSA) with hypertension incident.

    Keyword: Obstructive Sleep Apnea (OSA) raising in sympathetic nervous hypertension

  • PRAKATA

    Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena limpahan nikmat, rahmat, serta anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan skripsi dengan judul Hubungan Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan Kejadian Hipertensi di Poli Saraf RSUD Dr.Moewardi.

    Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi kurikulum di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta dan untuk memenuhi salah satu syarat mendapat gelar sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    Pelaksanaan dalam menyusun skripsi ini, penulis tidak terlepas dari berbagai hambatan dan kesulitan.Namun berkat bimbingan dan bantuan, penulis dapat menyelesaikannya.Untuk itu perkenankanlah dengan setulus hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr., MS selaku Dekan Fakultas Kedokteran

    Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah mengizinkan pelaksanaan penelitian ini dalam rangka penyusunan skripsi.

    2. Bagian skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi.

    3. Prof.Dr.O.S.Hartanto,dr.,Sp.S(K), selaku Pembimbing Utama yang memberikan banyak waktu, pengarahan, bimbingan, saran dan motivasi.

    4. I Made Setiamika,dr.,Sp.THT, selaku Pembimbing Pendamping yang telah memberikan banyak waktu, pengarahan, bimbingan, saran dan motivasi.

    5. Agus Soedomo,dr.,SpS(K). selaku Penguji Utama yang telah berkenan menguji sekaligus memberikan kritik serta saran guna melengkapi kekurangan dalam skripsi ini.

    6. Widiastuti,dr.,Sp.Rad,selaku Anggota Penguji yang telah memberikan kritik serta saran dalam penyusunan skripsi ini.

    7. Keluarga dan teman-temanku, terima kasih atas dukungan dan semangatnya. 8. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna maka dengan segenap hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca di ilmu kedokteran pada umumnya dan ilmu saraf pada khususnya.

    Surakarta, Maret 2010

    Auliya Suluk Brilliant Sumpono

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    PRAKATA .................................................................................................... vi

    DAFTAR ISI ................................................................................................ vii

    DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix

    DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... x

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xi

    BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1

    B. Rumusan Masalah .................................................................. 2

    C. Tujuan Penelitian .................................................................. 3

    D. Manfaat Penelitian ............................................................... 3

    BAB II LANDASAN TEORI ................................................................ 4

    A. Tinjauan Pustaka ................................................................. 4

    1. Obstructive Sleep Apnea (OSA) ........................................ 4

    2. Hipertensi ......................................................................... 14

    B. Kerangka Pikir ..................................................................... 23

    C. Hipotesis .............................................................................. 24

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN . ............................................... 25

    A. Jenis Penelitian ....................................................................... 25

    B. Lokasi Penelitian .................................................................... 25

    C. Subjek Penelitian . ................................................................. 25

  • A. Teknik Pengambilan Sampel . ................................................ 26

    B. Identifikasi Variabel Penelitian . ........................................... 27

    C. Definisi Operasional Variabel . ............................................. 27

    D. Rancangan Penelitian . ........................................................... 28

    E. Instrumentasi Penelitian. ........................................................ 28

    F. Cara Kerja Penelitian ............................................................. 28

    G. Teknik Analisis Data .............................................................. 30

    BAB IV HASIL PENELITIAN . .............................................................. 34

    A. Hasil Penelitian ..................................................................... 34

    B. Analisis Data ......................................................................... 40

    BAB V PEMBAHASAN . ........................................................................ 43

    BAB VI SIMPULAN DAN SARAN . ...................................................... 47

    A. Simpulan . .............................................................................. 47

    B. Saran . ..................................................................................... 47

    DAFTAR PUSTAKA . ............................................................................... 48

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1.Klasifikasi Kenaikan Tekanan Darah menurut ESH 2007 ................. 15

    Tabel4.1.Jumlah responden Obstructive Sleep Apnea (OSA) ............................ 33

    Tabel4.2.Jumlah responden Hipertensi .............................................................. 34

    Tabel4.3.Karakteristik Responden Obstructive Sleep Apnea (OSA) ................. 34

    Tabel4.4.Karakteristik Responden Hipertensi ................................................... 36

    Tabel4.5.Jumlah pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian

    hipertensi di RSUD Dr.Moewardi Surakarta .................................... 37

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar.1.Perbandingan laki-laki dan perempuan pada responden

    OSA .................................................................................................. 35

    Gambar.2.Perbandingan usia umur 50-60 tahun dengan usia

    61-70 tahun ....................................................................................... 35

    Gambar.3.Perbandingan laki-laki dan perempuan pada responden

    Hipertensi ......................................................................................... 36

    Gambar.4.Perbandingan usia responden hipertensi antara umur 50-60 ............ 37

    Gambar.5.Frekuensi hipertensi dan non hipertensi antara OSA dan

    non OSA ........................................................................................... 38

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran A Surat ijin penelitian Fakultas

    Lampiran B Surat ijin penelitian RSUD Dr. Moewardi Surakarta

    Lampiran C Data responden penelitian

    Lampiran D Kuisioner Penelitian

    Lampiran E Tabel nilai-nilai Chi Square

    Lampiran F Penghitungan dengan SPSS 16.0

    Lampiran G Formulir Partisipasi Penelitian

    Lampiran H Ethical Clearance

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskuler setiap tahun

    menjadi masalah utama di negara berkembang dan di negara maju.

    Berdasarkan data Global Burden of Disease (GDB) tahun 2000, 50% dari

    penyakit kardiovaskuler di sebabkan oleh hipertensi. Data dari The National

    Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa

    dari tahun 1999-2000 insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-

    31% yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di Amerika, dan

    terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES tahun 1988-1991. Penyakit

    kardiovaskuler menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992 dan

    1995 merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia (Dian, dkk. 2009).

    Prevalensi hipertensi di seluruh dunia diperkirakan sekitar 15-20%.

    Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya. Hipertensi di

    Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 1997. Hipertensi

    dijumpai pada 4. 400 per 10. 000 penduduk (Suheni, 2007).

    Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktoral yang timbul

    terutama karena interaksi antara faktor-faktor resiko tertentu. Faktor-faktor

    resiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah :

    1

  • 2

    1. asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok, genetis

    2. sistem saraf simpatis

    3. keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi

    4. pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin,

    angiotensin dan aldosteron (Yogiantoro, 2006).

    Sleep apnea adalah timbulnya episode abnormal pada frekuensi napas

    yang berhubungan dengan penyempitan saluran napas atas pada keadaan tidur.

    OSA terjadi bila ventilasi menurun atau tidak ada ventilasi yang disebabkan

    oklusi parsial atau oklusi total pada saluran napas atas paling tidak selama 10

    detik atau lebih (Sumardi. dkk, 2006).

    OSA dapat menyebabkan meningkatnya aktivitas saraf simpatis yang jika

    berulang kali akan menyebabkan hipertensi. Satu dari penderita hipertensi juga

    menderita OSA dan 80% penderita hipertensi yang resisten terhadap

    pengobatan juga menderita OSA (Prasadja, 2008).

    OSA juga meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit

    kardiovaskuler hingga lima kali lipat terlepas dari usia, kegemukan, kebiasaan

    merokok, maupun tekanan darahnya (Prasadja, 2008).

    Berdasarkan dari uraian di atas, peneliti bermaksud ingin mengetahui

    pengaruh Obstructive Sleep Apnea (OSA) terhadap kejadian hipertensi di

    RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

  • 3

    B. Rumusan Masalah

    Apakah terdapat hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    dengan kejadian hipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.

    Moewardi, Surakarta ?

    C. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

    Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi angka kejadian

    hipertensi yang disebabkan oleh Obstructive Sleep Apnea (OSA).

    2. Tujuan Khusus

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Obstructive

    Sleep Apnea (OSA) terhadap kejadian hipertensi.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat teoritis

    Dengan dilakukan penelitian ini maka dapat diketahui seberapa

    kuat pengaruh Obstructive Sleep Apnea (OSA) terhadap kenaikan

    tekanan darah (hipertensi).

    2. Manfaat aplikatif

    Apabila terbukti Obstructive Sleep Apnea (OSA) secara nyata

    berpengaruh terhadap kenaikan tekanan darah (hipertensi) sehingga

    dapat dimanfaatkan guna membantu pencegahan dan penatalaksanaan

    penyakit hipertensi.

  • 4

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    a. Definisi

    Sleep Apnea didefinisikan sebagai timbulnya episode abnormal

    pada frekuensi napas yang berhubungan dengan penyempitan saluran

    napas atas pada keadaan tidur, dapat berupa henti napas / apnea atau

    menurunnya ventilasi / hypoapnea (Sumardi. dkk, 2006).

    Apnea/hypoapnea dibagi menjadi tiga tipe :

    1) Tipe obstruktif (Obstructive Sleep Apnea / OSA) .

    Tipe ini yang paling sering terjadi keadaan ini terjadi bila ventilasi

    menurun atau tidak adanya ventilasi yang disebabkan oklusi

    parsial atau oklusi total pada saluran napas atas selama paling

    tidak sepuluh detik tiap episode yang terjadi. Episode henti napas

    sering berlangsung selama antara 10 detik sampai 60 detik.

    2) Tipe Sentral (Central Sleep Apnea)

    Tipe ini jarang terjadi. Penyebab utamanya adalah kelainan pada

    sistem saraf pusat yang mengatur sistem kardiorspirasi.

    3) Tipe Campuran

    Dimulai dari CSA kemudian diikuti dengan OSA

    (Sumardi, dkk, 2006).

    4

  • 5

    Gejala utama Obstructive Sleep Apnea / OSA adalah

    mendengkur. Gejala lain berupa ada periode apnea / tidak bernapas,

    bisa beberapa detik sampai dengan 1 menit, suara dahak di

    tenggorokan waktu tidur, berkeringat, nyeri dada, lemah, mudah

    lupa, sulit berkonsentrasi, cepat lelah dan biasanya penderita gemuk

    (Iswanto, 2009).

    b. Patofisiologi Obstructive Sleep Apnea / OSA

    Mendengkur dan Obstructive Sleep Apnea/OSA merupakan

    salah satu tipe dari Sleep Disorder Breathing (SDB). Obstructive

    Sleep Apnea/OSA ringan berupa sumbatan parsial pada pernapasan

    yang menimbulkan suara dengkuran ringan sedangkan yang berat

    berupa obstruksi total pada saluran pernapasan yang dapat

    menyebabkan episode apnea (Coleman, 2003).

    Obstructive Sleep Apnea/OSA ditandai dengan kolaps berulang

    dari saluran napas atas baik total atau parsial selama tidur. Akibatnya

    aliran udara pernapasan berkurang (hipoapnea) atau terhenti (apnea)

    sehingga terjadi desaturasi oksigen (hipoksemia). Kadang-kadang

    penderita benar-benar terbangun pada saat apnea dimana mereka

    merasa tercekik. Lebih sering penderita tidak sampai terbangun tetapi

    terjadi partial aurosal yang berulang, berakibat pada berkurangnya

    tidur dalam atau tidur gelombang lambat. Keadaan ini menyebabkan

    penderita mengantuk pada siang hari, kurang perhatian, konsentrasi

    dan ingatan terganggu. Kombinasi hipoksemia dan partial aurosal

  • 6

    yang disertai dengan peningkatan aktivitas andregenik menyebabkan

    takikardi dan hipertensi sistemik. Banyak penderita Obstructive Sleep

    Apnea/OSA tidak merasa mempunyai masalah dengan tidurnya dan

    datang ke dokter hanya karena teman tidurnya mengeluhkan suara

    mendengkur yang keras (fase pre obstruktif) diselingi oleh keadaan

    senyap yang lamanya bervariasi (fase apnea obstruktif) (Saragih,

    2007).

    c. Epidemiologi Obstructive Sleep Apnea/OSA

    Pada usia 30-35 tahun 20% laki-laki dan 5% dari perempuan

    akan mendengkur sedangkan pada usia 60 tahun prevalensinya

    meningkat menjadi 60% pada laki-laki dan 40% pada perempuan.

    Orang yang memiliki berat badan diatas normal memiliki peluang tiga

    kali lebih besar untuk mendengkur dibandingkan dengan orang yang

    memiliki berat badan normal (Fairbanks, 2003)

    Prevalensi Obstructive Sleep Apnea/OSA pada anak-anak

    sekitar 3% dengan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun. Penyebab

    utama Obstructive Sleep Apnea/OSA pada anak-anak adalah hipertrofi

    tonsil dan adenoid. Frekuensi Obstructive Sleep Apnea/OSA mencapai

    puncaknya pada dekade ke 5 dan dekade ke 6, menurun pada usia di

    atas 60-an. Tetapi secara umum frekuensi Obstructive Sleep

    Apnea/OSA meningkat sesuai dengan penambahan usia (Saragih,

    2007).

  • 7

    d. Faktor resiko Obstructive Sleep Apnea/OSA

    1) Obesitas

    Obesitas merupakan salah satu faktor penting terjadinya

    Obstructive Sleep Apnea/OSA. Penekanan obesitas pada

    Obstructive Sleep Apnea/OSA bukan terletak pada besarnya

    lingkar perut melainkan lingkar leher. Penumpukan jaringan lemak

    pada anterolateral saluran napas menyebabkan lumen saluran napas

    menyempit. Studi menunjukkan lingkar leher merupakan prediktor

    kuat Obstructive Sleep Apnea / OSA. Lingkar leher 48 cm beresiko tinggi. Pengukuran

    lingkar leher tepat dilakukan dibawah Adams Apple.

    2) Jenis kelamin

    Pria lebih beresiko tinggi mengalami Obstructive Sleep

    Apnea / OSA dibandingkan dengan wanita. Alasannya masih

    belum jelas. Hal itu mungkin berhubungan dengan pengaruh

    hormonal. Teori ini di dukung dengan penemuan bahwa wanita

    post menopause lebih beresiko mengalami Obstructive Sleep

    Apnea/OSA dibandingkan dengan wanita premenoupause.

    Pemberian hormon replacement therapy ternyata bisa memperbaiki

    Obstructive Sleep Apnea/OSA.

    3) Usia

    Usia juga turut mempengaruhi Obstructive Sleep

    Apnea/OSA. Prevalensi Obstructive Sleep Apnea/OSA lebih tinggi

    pada usia tua dibandingkan dengan usia muda

  • 8

    4) Kebiasaan merokok dan minum alkohol

    Asap rokok memicu inflamasi selama tidur selain itu juga

    menimbulkan kerusakan mekanik dan saraf pada saluran napas

    atas, serta meningkatkan resiko kolaps otot-otot faring selama

    tidur. Kebiasaan minum alkohol terbukti bisa memicu terjadinya

    apneu pada individu normal/asimptomatik. Alkohol mem

    perpanjang durasi apneu dan memperberat hipoksemia.

    5) Sindroma Polikistik Ovarium (SPO)

    SPO merupakan sindrom klinik yang ditandai dengan

    oligomenorhea dan kelebihan androgen. Tanda utama SPO antara

    lain anovulasi kronik, gangguan sekresi gonadotropin, obesitas

    sental, resistensi insulin, dislipidemia, dan dibuktikannya

    keberadaan polikistik ovarium melalui pemeriksaan USG.

    Prevalensi penderita Obstructive Sleep Apnea / OSA pada

    penderita SPO cukup tinggi mencapai 60-70%. Penumpukan lemak

    visceral dan kadar androgen yang tinggi pada SPO menjadi faktor

    terjadinya Obstructive Sleep Apnea/OSA.

    6) Hipotiroid

    Diduga kadar hormon tiroid yang menurun dan obesitas

    yang biasa ditemukan pada pasien hipotiroid berperan terhadap

    terjadinya Obstructive Sleep Apnea/OSA. Teori lain memaparkan,

    hipotiroid menyebabkan akumuasi asam hialuronat pada kulit dan

    jaringan subkutan. Deposit mukoprotein pada saluran napas akan

    menyebabkan pembesaran lidah dan faring serta membran mukosa

  • 9

    laring sehingga meningkarkan kecenderungan kolaps salura napas

    pada waktu tidur.

    7) Kehamilan

    Kehamilan terutama trisemester ketiga berkorelasi dengan

    tingginya prevalensi Obstructive Sleep Apnea/OSA. Pertambahan

    berat badan saat gestasi, penurunan ukuran lumen faring dan

    perubahan fisiologi paru diduga menjadi faktor penyebab

    terjadinya Obstructive Sleep Apnea/OSA pada kehamilan. Dampak

    buruk yang ditimbulkan adalah rendahnya nilai Apgar dan berat

    lahir bayi. Oleh karena itu penemuan dini Obstructive Sleep Apnea

    / OSA pada ibu hamil diharapkan bisa memperbaiki keluaran

    (outcome) bagi ibu dan bayi.

    8) Kelainan kraniofasial

    Kelainan kraniofasial yang juga sering dikaitkan dengan

    Obstructive Sleep Apnea / OSA adalah hipertrofi tonsil (terutama

    pada anak).

    (Daniel, 2008)

    e. Diagnosa Obstructive Sleep Apnea/OSA.

    Untuk menegakkan diagnosa Obstructive Sleep Apnea/OSA

    diperlukan pemeriksaan subyektif berdasar gejala klinis dan obyektif

    berdasarkan hasil alat diagnostik. Perangkat diagnostik yang

    sederhana adalah Epworth Sleepiness Scale (ESS). ESS berupa

    kuisoner yang diisi oleh pasien sendiri. Keuntungan dari ESS adalah

  • 10

    cepat, tidak mahal dan reabilitas tinggi. Namun korelasi ESS dengan

    derajat Obstructive Sleep Apnea/OSA rendah.

    Polisomnografi merupakan standart baku emas dalam

    mendiagnosa Obstructive Sleep Apnea/OSA. Polisomnografi meliputi

    perekaman aliran udara, gerakan napas, EEG, EMG, EOG EKG,

    saturasi oksigen dan posisi badan. Idealnya Polisomnografi dilakukan

    dalam sebuah laboratorium tidur selama satu malam penuh dan

    dipantau oleh dokter/perawat. Hasil yang muncul adalah jumlah henti

    napas tiap jam, indeks apneu-hipoapneu (IAH).

    (Rosenberg & Mickelson, 2003)

    f. Komplikasi Obstructive Sleep Apnea/OSA

    Dari penelitian epidemiologis diketahui hubungan antara OSA

    dengan hipertensi, stroke, dan infark miokard

    1) Hipertensi

    Pada orang normal tekanan darah menurun 10% - 15% pada

    waktu tidur. Pada orang yang mengalami sleep apnea tekanan

    darahnya tidak menurun pada waktu tidur bahkan seringkali

    meningkat. Selama fase apnea, terjadi penurunan cardiac output,

    peningkatan aktivitas saraf simpatis, dan peningkatan resistensi

    vascular sistemik. Di akhir fase apnea terjadi peningkatan venous

    return ke sisi kanan jantung sehingga menyebabkan peningkatan

    cardiac output. Peningkatan aliran darah menyebabkan

    peningkatan resistensi vascular yang pada akhirnya akan

  • 11

    meningkatkan tekanan darah. Episode apnea yang berulang,

    hipoksemia, dan aurosal menyebabkan peningkatan akrivitas saraf

    simpatis. Peningkatan aktivitas saraf simpatis yang persisten

    diduga sebagai mekanisme terjadinya hipertensi. Kenyataan bahwa

    beta bloker lebih efektif digunakan untuk terapi hipertensi dengan

    Obstructive Sleep Apnea/OSA dibandingkan yang lain semakin

    memperkuat teori ini. Selain karena peningkatan saraf simpatis

    hipertensi pada penderita Obstructive Sleep Apnea/OSA juga

    disebabkan oleh perubahan neuro hormon, contohnya endothelin.

    Endothelin-1 merupakan vasokonstriktor yang dikeluarkan pada

    waktu terjadi hipoksemia. Endothelin-1 meningkat setelah 4 jam

    pada Obstructive Sleep Apnea/OSA yang tidak di terapi.

    Dimungkinkan endothelin merupakan penyebab secara langsung

    terjadinya hipertensi pada penderita gangguan napas watu tidur

    (Granato & Scwhab 2003).

    2) Stroke

    Obstructive Sleep Apnea/OSA diketahui sebagai salah satu

    faktor resiko stroke setelah melalui banyak penelitian. Banyak hal

    yang terjadi pada orang yang mengalami Obstructive Sleep

    Apnea/OSA antara lain adalah :

    a) Terjadinya gangguan fungsi endotel

    b) Kenaikan kadar fibrinogen

    c) kenaikan aktivitas sel keping darah

  • 12

    d) Kenakan sistem penjendalan

    e) Penurunan cerebral blood flow/aliran darah ke otak

    f) Penebalan dinding pembuluh darah karotis

    (Laksmiasanti, 2009)

    3) Infark miokard

    Beberapa penelitian memperlihatkan kemungkinan adanya

    hubungan antara Obstructive Sleep Apnea/OSA dengan infark

    miokard. Mekanismenya mungkin melalui efek tidak langsung dari

    hipertensi, arterioskelrosis, desaturasi oksigen, hiperaktivitas

    sistem saraf simpatis, peningkatan koagulopati dan respon

    inflamasi (Saragih 2007).

    g. Terapi Obstructive Sleep Apnea/OSA

    1) Terapi non-bedah

    a) Continous Positive Airway Pressure (CPAP)

    Terapi yang efektif pada Obstructive Sleep Apnea/OSA

    adalah Continous Positive Airway Pressure (CPAP). CPAP

    mengalirkan aliran udara positif sehingga memberikan

    pneumatic splint pada aliran udara atas selama inspirasi dan

    ekspirasi, menjaga patensi dan mencegah obstruksi selama

    tidur. Akibatnya rasa kantuk pada siang hari berkurang dan

    fungsi kognitif meningkat. Dampak positifnya juga tampak

    pada sistem kardiovaskular yaitu menurunkan tekanan darah

    hingga 10 mmHg dan meningkatkan fungsi ventrikel kiri

  • 13

    sebesar 30%. Bagi pasien diabetes mellitus tipe II, CPAP

    meningkatkan sensitivitas insulin (Daniel, 2008).

    b) Posisi tidur

    Posisi tidur dapat membantu menghilangkan gejala

    Obstructive Sleep Apnea/OSA. Beberapa pasien mengalami

    perbaikan setelah tidur dengan posisi miring atau telungkup

    (Saragih, 2007).

    c) Mandibular advancement

    Alat ini dipasang pada gigi, menahan mandibula dan

    lidah ke depan sehingga dapat memaksimalkan diameter faring

    dan mengurangi kolaps pada waktu tidur. Alat ini hanya

    digunakan pada penderita Obstructive Sleep Apnea/OSA yang

    tidak dapat menjalani operasi dan penderita Obstructive Sleep

    Apnea/OSA yang ringan sampai sedang khususnya yang tidak

    gemuk atau pada penderita yang intoleran terhadap CPAP

    (Saragih, 2007).

    2) Terapi bedah

    a) Tonsilektomi dan adenoidektomi

    Pada penderita Obstructive Sleep Apnea/OSA dengan

    tonsil yang besar, tonsilektomi dapat menghilangkan gejala

    secara komplit dan tidak memerlukan terapi CPAP.

  • 14

    b) Uvulopalatofaringoplasti (UPPP)

    Hasilnya tidak sebaik CPAP pada penderita Obstructive

    Sleep Apnea/OSA yang berat. Angka keberhasilan dengan

    teknik ini mencapai 10-15%.

    c) Pillar implant

    merupakan teknik yang relative baru, merupakan

    modalitas dengan invasi minimal. Digunakan untuk penderita

    dengan Obstructive Sleep Apnea/OSA yang ringan sampai

    sedang. Prosedur ini bertujuan untuk memberikan kekakuan

    pada palatum mole. Tiga buah batang kecil di insersikan ke

    palatum mole untuk membantu mengurangi getaran yang

    menyebabkan snoring.

    (Iswarini, 2009)

    2. Hipertensi

    a. Pengertian Hipertensi

    Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada

    pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang

    dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang

    membutuhkan. Hipertensi sering disebut sebagai pembunuh gelap (Silent

    Killer) karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-

    gejalanya terlebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Lanny

    Sutrani, 2004).

    Hipertensi didefinisikan apabila tekanan darah sistolik (TDS) 140

    mmHg dan / atau tekanan darah diastolik 90 mmHg (Bandiara, 2008).

  • 15

    Pada orang normal, tekanan darah mengikuti pola sirkadian

    yaitu mengalami penurunan pada malam hari dan mengalami kenaikan

    pada pagi hari (Hariyono, 2006).

    Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai

    hipertensi primer sedangkan hipertensi yang diketahui penyebabnya

    disebut hipertensi sekunder (Dian, dkk. 2009).

    b. Klasifikasi Hipertensi

    Pada tahun 2003 Pehimpunan Hipertensi dan Kardiologi Eropa

    (Eropan Society of Hypertension, ESH- 2003) membuat pedoman

    penatalaksanaan hipertensi yang direvisi pada tahun 2007 (ESH-2007).

    Pedoman tersebut berisi klasifikasi hipertensi, stratifikasi resiko dan

    panduan umum penatalaksanaan hipertensi berdasarkan bukti klinik yang

    sahih (evidence- base medicine) (Bandiara, 2008).

    Tabel 2. 1. Klasifikasi tekanan darah menurut ESH 2007

    Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik

    Optimal < 120 dan

  • 16

    Hipertensi

    Derajat 1

    Derajat 2

    Derajat 3

    Hipertensi

    sistolik

    terisolasi

    140-159

    160-179

    180

    140

    dan/atau

    dan/atau

    dan/atau

    dan

    90-99

    100-109

    110

  • 17

    kini, pemikiran tentang hipertensi telah menemukan adanya kaitan yang

    nyata antara hipertensi dan disfungsi pembuluh darah (Nugroho, 2008).

    d. Faktor-faktor resiko Hipertensi

    1) Faktor genetik

    Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan

    keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi. Hal itu

    berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan

    rendahnya rasio antara potasium dengan sodium. Individu dengan orang

    tua hipertensi mempunyai resiko dua kali terkena hipertensi

    dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai keluarga dengan

    riwayat hipertensi. Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi

    esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Dian, dkk. 2009)

    2) Usia

    Tekanan darah meningkat seiring dengan meningkatnya usia,

    kemungkinan menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya

    orang yang menderita hipertensi berusia 40 tahun, namun tidak

    menutup kemungkinan diderita orang yang berusia muda. Boedhi

    Darmadjo dalam tulisannya yang dikumpulkan dalam berbagai

    penelitian yang dilakukan di indonesia menunjukkan bahwa 1, 8%-28,

    6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi

    (Suheni, 2007).

  • 18

    3) Jenis Kelamin

    Wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak banyak daripada

    penderita laki-laki. Tapi wanita lebih tahan terhadap kerusakan jantung

    dan pembuluh darah. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh

    pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan.

    Sampai usia 55 tahun pria lebih beresiko terkena hipertensi

    dibandingkan dengan wanita. Menurut Edward D. Frochlid seorang pria

    dewasa akan mempunyai peluang lebih besar yaitu satu diantara lima

    untuk mengidap hipertensi (Lanny Sutrani, 2004)

    4) Etnis

    Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada

    orang berkulit putih. Sampai saat ini belum diktahui penyebabnya.

    Namun pada orang berkulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih

    besar dan sensifitas terhadap vasopressin yang lebih besar (Dian, dkk.

    2009).

    5) Obesitas

    Obesitas merupakan ciri khas dari hipertensi. Walaupun belum

    diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun

    terbukti daya pompa jantung dan sirkulasi darah penderita obesitas

    dengan hipertensi lebih tinggi daripada penderita hipertensi dengan

    berat badan normal (Suheni, 2007).

  • 19

    6) Garam Diet

    Intake Sodium berlebihan berkontribusi terhadap perkembangan

    hipertensi resisten melalui peningkatan tekanan darah langsung dan

    dengan menumpulkan efek lebih rendah pada kebanyakan kasus dari

    agen antihipertensi. Efek ini menjadi lebih sering pada pasien sensitif

    garam yang tipikal, termasuk orang tua, afro amerika dan terutama

    pasien dengan CKD (Satria, 2009).

    7) Alkohol

    Pada analisa cross sectional dari orang dewasa cina yang

    meminum > 30 minuman setiap minggu resiko untuk mengalami bentuk

    hipertensi meningkat dari 12% ke 14%. Pada klinik hipertensi Finnish,

    peminum berat, sebagaimana didukung dengan peningkatan kadar

    transaminase hati lebih jarang mempunyai tekanan darah yang

    terkontrol selama 2 tahun follow up dibandingkan pasien dengan kadar

    transaminase normal (Satria, 2009).

    8) Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    Obstruksi Sleep Apnea yang tidak tertangani sangat terkait dengan

    hipertensi. Sleep apnea terutama umum pada penderita hipertensi

    resisten. Dalam sebuah evaluasi dari 41 pasien berturut-turut (24 laki-

    laki dan 17 perempuan) dengan hipertensi resisten, 83% didiagnosa

    sleep apnea. Lintas kelompok studi menunjukkan bahwa semakin parah

    sleep apnea kurang kemungkinan tekanan darah dapat terkendali.

    Mekanisme sleep apnea yang berkontribusi terhadap

    perkembangan hipertensi belum begitu jelas. Efek yang telah dijelaskan

  • 20

    dengan baik adalah hipoksemia intermitten dan /atau peningkatan

    resistensi saluran napas atas, mendorong dalam meningkatkan aktivitas

    saraf simpatis (SNS). Peningkatan SNS output akan meningkatkan

    tekanan darah melalui peningkatan output di jantung dan resistensi

    perifer serta peningkatan retensi cairan. Sebagai tambahan sleep apnea

    dikaitkan dengan peningkatan reaktif oksigen spesies yang mengurangi

    senyawa pada bioavabilitas nitrat oksida (Satria, 2009).

    e. Komplikasi Hipertensi

    Menurut Elizabeth J Corwin (2000:349) komplikasi hipertensi

    terdiri dari stroke, infark miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan

    otak) , dan pregnancy-incuded hypertension (PIH)

    1) Stroke

    Stroke dapat timbul akibat tekanan darah tinggi di otak, atau

    akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non-otak yang terpajan

    tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila

    arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan

    menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi

    berkurang. Arteri-arteri di otak yang mengalami arteriosklerosis dapat

    melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya

    aneurisma.

    2) Infark miokard

    Dapat terjadi infark miokardium apabila arteri koroner yang

    arteiosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium

    atau apabila terbentuk trombus yang menyumbat aliran darah melalui

  • 21

    pembuluh tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel,

    maka kebutuhan oksigen mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat

    terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga

    hipertrofi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu

    hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia

    jantung dan peningkatan resiko pembentukan bekuan.

    3) Gagal ginjal

    Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progesif akibat

    tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya

    glomerulus, darah akan mengalir ke unit-unit fungisional ginjal, nefron

    akan terganggu dan dapat terjadi hipoksik dan kematian. Dengan

    rusaknya glomerulus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan

    koloid osmotik plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering

    dijumpai pada hipertensi kronik.

  • 22

    4) Ensefalopati (kerusakan otak)

    Kerusakan otak dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna

    (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada

    kelainan ini menyebabkan tekanan kapiler dan mendorong pada ruang

    interstisium di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya

    kolaps dan terjadi koma serta kematian.

    (Suheni, 2007)

  • 23

    B. Kerangka Pemikiran

    Sleep apnea/henti napas

    hipoksemia

    Disfungsi endotel Aktivitas saraf simpatis

    Pelepasan hormon katekolamin

    Neuro hormon

    Pelepasan endothelin

    Vasokonstriksi pembuluh darah

    Fase dipping menghilang

    berulang

    HIPERTENSI

  • 24

    C. Hipotesis

    Berdasarkan dari tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran di atas,

    dapat dirumuskan hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut: ada hubungan

    yang kuat atau bermakna antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan

    kejadian hipertensi.

  • 25

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross

    sectional.

    B. Lokasi Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di unit poliklinik bagian penyakit saraf RSUD

    Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Januari-Februari 2010

    C. Subjek Penelitian

    Subjek dalam penelitian ini adalah pasien di poliklinik bagian penyakit

    saraf RSUD Dr. Moewardi bulan Januari-Februari 2010 yang memenuhi

    kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.

    Kriteria yang dipakai:

    1. Pasien laki-laki dan perempuan

    2. Pasien dengan usia diatas 50 tahun

    3. Tidak menderita amandel / pembesaran tonsil

    4. Tidak menderita penyakit jantung

    5. Tidak menderi penyakit diabetes mellitus

    6. Tidak merokok

    Sampel atau populasi studi merupakan hasil pemilihan subjek dari

    populasi untuk memperoleh karakteristik populasi (Arief, 2004).

    Berdasarkan observasi peneliti, jumlah populasi sumber ini ada sekitar

    100 pasien.

    25

  • 26

    Penentuan besar sampel pada penelitian ini menurut Slovin dengan

    rumus sebagai berikut : ( Murti, 2006 ).

    n =

    keterangan :

    n : ukuran sampel

    N : ukuran populasi

    : tingkatan kekeliruan pengambilan sampel yang ditolerir.

    Dengan rumus di atas maka sampel yang digunakan pada

    penelitian ini adalah : ( dengan mengasumsi tingkat kekeliruan yang

    ditolerir adalah sebesar 10% ) ( Murti, 2006 ).

    n =

    n =

    n = 50

    Jadi pada penelitian ini, peneliti menggunakan ukuran sampel

    sebanyak 50 orang pasien.

    D. Teknik Pengambilan Sampel

    Pengambilan sampel dalam penelitian ini akan dilakukan secara

    Purposive Random Sampling. Pemilihan subjek berdasarkan atas ciri-ciri atau

    sifat tertentu yang berkaitan dengan karakteristik populasi. (Arief, 2004)

    N

    1+N

    N

    1+N

    100

    1 + 100 (10%)

  • 27

    Identifikasi Variabel Penelitian

    1. Variabel bebas : Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    2. Variabel tergantung : tekanan darah

    3. Variabel luar : umur, diabetes melitus, penyaki jantung,

    pembesaran tonsil, merokok

    E. Definisi Operasional Variabel

    1. Variabel Bebas

    a. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    Sleep apnea adalah timbulnya episode abnormal pada frekuensi napas

    yang berhubungan dengan penyempitan saluran napas atas pada

    keadaan tidur. OSA terjadi bila ventilasi menurun atau tidak ada

    ventilasi yang disebabkan oklusi parsial atau oklusi total pada saluran

    napas atas paling tidak selama 10 detik atau lebih. (Sumardi. dkk,

    2006)

    b. Skala variabel : nominal

    2. Variabel Terikat

    a. Tekanan Darah

    Kekuatan yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas

    dinding pembuluh darah. Kenaikan takanan arteri akan menyebabkan

    kenaikan yang sebanding pada aliran darah yang melalui berbagai

    jaringan tubuh (Guyton, 1997).

    b. Skala variabel : skala nominal

  • 28

    F. Rancangan Penelitian

    G. Instrumentasi Penelitian

    1. Status medis

    2. Kuisioner

    3. Sfigmomanometer jenis jarum lengkap dengan mansetnya

    H. Cara Kerja Penelitian

    1. Persiapan Penelitian

    a. Sampel

    Sampel diperoleh dari semua pasien rawat jalan di poliklinik

    penyakit saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Berjenis kelamin laki-

    laki dan perempuan, usia di atas 50 tahun, bukan pasien diabetes

    Pasien rawat jalan di poliklinik saraf RSUD Dr.Moewardi

    1. Bukan pasien Diabetes Melllitus

    2. Bukan pasien penyakit jantung

    3. Pasien laki-laki dan perempuan , usia > 50tahun

    4. Tidak mengalami pembesaran tonsil

    5. Tidak merokok

    OSA Non OSA

    Hipertensi

    Non hipertensi

    Hipertensi Non hipertensi

  • 29

    mellitus dan penyakit jantung, tidak mengalami pembesaran tonsil,

    serta tidak merokok

    b. Kuisioner

    Kuisioner dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengetahui

    riwayat penyakit sebelumnya dan untuk mengetahui apakah pasien

    menderita OSA atau tidak. Adapun bentuk kuisioner yang diberikan

    kepada responden terlampir di bagian lampiran laporan skripsi ini.

    2. Pelaksanaan Penelitian

    Penelitian dilakukan dengan cara memberikan kuisioner kepada

    semua individu yang memenuhi kriteria dalam populasi sebagai subjek

    penelitian. Sedangkan tekanan darah diukur terhadap semua subyek

    penelitian dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

    a. Ruang pemeriksaan: suhu ruang dan ketenangan ruang periksa yang

    nyaman.

    b. Alat: digunakan sfigmomanometer jenis jarum dan digunakan manset

    dengan lebar yang dapat mencakup 2/3 panjang lengan atas serta

    panjang yang dapat mencakup 2/3 lingkar lengan.

    c. Persiapan: bila diperlukan dan keadaan pasien memungkinkan,

    sebaiknya dipersiapkan dalam keadaan basal.

    d. Posisi orang yang diperiksa: untuk keperluan skrining, dapat

    dilakukan dalam posisi duduk.

    e. Pemeriksaan : manset dipasang pada lengan kemudian dipompa

    perlahan-lahan dengan tujuan menghentikan aliran darah, tampak

  • 30

    jarum pada sfigmomanometer bergerak naik ke skala tertentu,

    kemudian manset dilepas secara perlahan-lahan. Stetoskop diletakkan

    pada lengan daerah volar tepat di atas arteri brakhialis, melalui

    stetoskop akan terdengar suara vibrasi turbulensi darah yang disebut

    bunyi Korotkoff (suara K). K ini adalah tekanan sistolik. Tekanan

    diturunkan terus sehingga pada suatu saat bunyi K ini hilang

    kedengarannya, saat ini menunjukan tekanan diastolik.

    Data yang diperoleh juga dengan memperhatikan data dari status

    medis pasien di rumah sakit.

    Setelah dilaksanakan penelitian, maka dilakukan tabulasi tehadap

    data yang diperoleh untuk mengelompokan dari subjek penelitian mana

    yang OSA dan non OSA serta mana yang tergolong hipertensi dan non

    hipertensi. Setelah tabulasi data, baru dilakukan analisis data.

    I. Teknik Analisis Data

    Data yang akan diperoleh dalam penelitian ini akan disusun dalam tabel

    kontingensi ukuran 22 kemudian diuji dengan metode statistik uji chi square.

    Selanjutnya untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Obstructive Sleep

    Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi digunakan rumus koefisien

    kontingensi dan ratio odds (Hadi, 1996)

    Uji chi square adalah suatu teknik statistik yang memungkinkan

    penyelidik menilai probabilitas perbedaan frekuensi yang nyata (yang di

  • 31

    observasi) dengan frekuensi yanng diharapkan dalam kategoti-kategori

    tertentu sebagai akibat dari kesalahan sampling. (Hadi, 1996)

    Uji chi square dapat dianalisis datanya secara statistik apabila frekuensi

    harapannya (expected frequency) sedikitnya memiliki 5 subjek (Murti,

    2006)

    Untuk mengetahui kuatnya hubungan antara kedua data nominal

    dinyatakan dengan besarnya koefisien kontingensi dengan lambang C.

    Selanjutnya, harga C tersebut dapat dibandingkan dengan C tabel.

    Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa

    semakin dekat C hitung dengan C maksimal tabel, semakin besar hubungan

    kedua variabel tersebut.

    3. 1. Tabel Kontingensi ukuran 22

    Sampel Hipertensi Non hipertensi Total

    OSA a b a+b

    Non OSA c d c+d

    Total a+c b+d a+b+c+d

    Keterangan :

    a. Pasien hipertensi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    b. Pasien non hipertensi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    c. Pasien hipertensi dan non Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    d. Pasien non hipertensi dan non Obstructive Sleep Apnea (OSA)

  • 32

    1. Uji Chi Square ( x )

    X =

    Keterangan :

    X = nilai Chi Square

    N = jumlah sampel

    a, b, c, d = frekuensi kebebasan ( Hadi, 1996 ).

    Ketentuan :

    H0 diterima bila X hitung X tabel

    H1 diterima bila X hitung > X tabel ( Hadi, 1996 ).

    2. Koefisien Kontingensi ( C )

    C = 2

    2

    XNX+

    Keterangan :

    C : Koefisien Kontingensi

    X : Nilai Chi Square

    N : Jumlah sampel

    Ketentuan :

    Nilai koefisien kontingensi hitung dibandingkan dengan tabel chi

    square, dengan derajat kebebasan (n-1) (k-1). Dimana n adalah jumlah

    baris, sedangkan k adalah jumlah kolom ( Hadi, 1996 ).

    N (ad bc )

    (a+b)(c+d)(a+c)(b+d)

  • 33

    3. ODDS Rasio

    OR = bc

    ad

    Dengan: OR : nilai ODDS Rasio

    a, b, c, d : frekuensi kebebasan

    Ketentuan:

    Ada hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kenaikan

    tekanan darah jika OR > 2 ( Hadi, 1996 ).

  • 34

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN

    A. Hasil Penelitian

    Telah dilaksanakan penelitian di unit poliklinik rawat jalan penyakit

    saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Januari 2010 dan Februari

    2010. Dari penelitian didapatkan 50 orang yang memenuhi syarat sebagai

    subjek penelitian.

    Hasil penelitian dilaporkan dalam dua bagian :1. deskripsi data sampel

    dan 2. analisis data sampel.

    1. Deskripsi data sampel

    Tabel 4. 1. Jumlah responden Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    No Kelompok

    Jumlah

    N %

    1. Obstructive Sleep Apnea(OSA) 25 50

    2. Non Obstructive Sleep Apnea

    (OSA)

    25 50

    Total 50 100

    Jumlah seluruh sampel yang mengalami Obstructive Sleep Apnea

    (OSA) sebanyak 25 orang (50%) dan yang tidak mengalami Obstructive

    Sleep Apnea (OSA) adalah sebanyak 25 orang (50 %).

    34

  • 35

    Tabel 4. 2. Jumlah responden Hipertensi

    No Kelompok

    Jumlah

    N %

    1. Hipertensi 27 54

    2. Non Hipertensi 23 46

    Total

    50

    100

    Jumlah seluruh sampel yang mengalami Hipertensi sebanyak 27

    orang (54%) dan yang tidak mengalami Hipertensi adalah sebanyak 23

    orang (46 %)

    Tabel 4. 3. Karakteristik Responden Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    No

    Jumlah

    OSA Non OSA

    N % N %

    1. Jenis Kelamin Laki-laki

    Perempuan

    9

    16

    36

    64

    11

    14

    44

    56

    2. Usia 50-60

    61-70

    >70

    15

    10

    60

    40

    15

    7

    2

    60

    28

    12

  • 36

    Dari 25 subjek yang mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    didapatkan data 9 orang subjek berjenis kelamin laki-laki dan 16 orang

    subjek berjenis kelamin perempuan. (Gambar 1)

    Gambar 1. Perbandingan laki-laki dan perempuan pada responden OSA.

    Dari data usia diperoleh bahwa dari 25 subjek, 15 subjek berusia

    antara 50-60 tahun dan 10 subjek berusia 61-70. (Gambar 2)

    Gambar 2. Perbandingan usia umur 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun.

  • 37

    Tabel 4. 4. Karakteristik Responden Hipertensi

    No

    Jumlah

    Hipertensi Non Hipertensi

    N % N %

    1. Jenis Kelamin Laki-laki

    Perempuan

    10

    15

    40

    60

    10

    15

    40

    60

    2. Usia 50-60

    61-70

    >70

    16

    8

    1

    64

    32

    4

    16

    8

    1

    64

    32

    12

    Dari 27 subjek yang mengalami Hipertensi didapatkan data 10

    orang subjek berjenis kelamin laki-laki dan 15 orang subjek berjenis

    kelamin perempuan. (Gambar 3)

    Gambar 3. Perbandingan laki-laki dan perempuan pada responden Hipertensi

  • 38

    Dari data usia diperoleh bahwa dari 25 subjek Hipertensi, 16

    subjek berusia antara 50-60 tahun dan, subjek berusia 61-70 dan 1 subjek

    berusia >70tahun (Gambar4)

    Gambar 4. Perbandingan usia responden hipertensi antara umur 50-60

    tahun, 61-70 tahun dan >70 tahun.

    Tabel. 4.5. Jumlah pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengankejadian

    hipertensi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta

    No

    OSA

    Hipertensi Non Hipertensi

    N % N %

    1. OSA 19 70 6 26

    2. Non OSA 8 30 17 74

    Total 27 100 23 100

  • 39

    Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam penelitian

    ini jumlah subjek Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang mengalami

    hipertensi adalah sebanyak 19 orang (70%) dan yang tidak mengalami

    hipertensi sebanyak 8 orang (30%). Sedangkan jumlah subjek yang tidak

    Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang mengalami hipertensi adalah

    sebanyak 6 orang (26%) dan yang tidak mengalami hipertensi sebanyak

    17 orang (74%). Dari data di atas dapat diketahui bahwa persentase

    kejadian hipertensi sesuai dengan pasien yang mengalami Obstructive

    Sleep Apnea (OSA). (Gambar 5)

    Gambar 5. Frekuensi hipertensi dan non hipertensi antara OSA dan non

    OSA

  • 40

    2. Analisis Data

    Analisis data uji Chi Square dengan taraf signifikasi = 0, 05 dan

    interval kepercayaan 95% didapatkan:

    1. Uji Chi Square

    a. Dari hasil penelitian didapatkan data sebanyak 50 orang

    Besar sampel diperoleh dari jumlah seluruh sampel yang didapat

    yang memenuhi persyaratan sebagai subjek penelitian yaitu

    sebanyak 50 orang. Hasil ini didapat juga dari rumus Slovin

    sebagaimana ditulis pada bab III.

    b. Dari hasil penelitian

    hasil perhitungan nilai ekspektasi menunjukkan tidak adanya cell

    dengan nilai ekspektasi kurang dari 5 ( E < 5 ) , sehingga pada

    tabel 5 dapat dilakukan uji chi square (Budiarto, 2002).

    Tabel Kontigensi 2x2

    Pasien memenuhi kriteria

    sampel

    Hipertensi Non Hipertensi Total

    OSA 19 6 25

    Non OSA 8 17 25

    Total 27 23 50

    Derajat kebebasan (db) = (b-1) (k-1) Titik kritis : df. (1-)

    = (2-1) (2-1) 1. 0, 75

    = 1 Titik kritis = 3, 841

  • 41

    Didapatkan:

    X2 =

    =

    = 9, 742

    Hipotesis:

    Ho = tidak ada hubungan bermakna

    H1 = ada hubungan bermakna

    c. Pengambilan keputusan

    Bila X2 hitung > X2 tabel maka Ho ditolak.

    Bila X2 hitung X2 tabel maka Ho diterima.

    d. Keputusan Statistik

    X2hitung adalah 9, 742 sedangkan X2 tabel adalah 3, 841 sehingga

    X2hitung > X2tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima.

    Kesimpulan: Secara statistik, ada hubungan yang bermakna antara

    Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi.

    2. Odds Ratio

    Untuk mengetahui tingkat kekuatan hubungan antara

    Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi

    digunakan rumus Odds Ratio.

    OR = ad bc

    N(ad-bc)

    (a+b) (c+d) (a+c) (b+d)

    50 (1917 - 68)

    (19+6) (8+17) (19+8) (6+17)

  • 42

    Didapatkan:

    OR = 323

    48

    = 6, 729

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien Obstructive Sleep

    Apnea (OSA) memiliki resiko mengalami hipertensi sebesar 6, 729

    kali lebih besar daripada yang tidak Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    3. Koefisien Kontingensi ( C )

    Untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan Obstructive

    Sleep Apnea (OSA) dengan hipertensi digunakan rumus koefisien

    kontingensi.

    C = 2

    2

    XNX+

    C= 742,950

    742,9+

    C= 0, 163

    C= 0, 404

    Derajat kebebasan (dk) koefisien kontingensi = (n-1) (k-1)

    dk = (2-1) (2-1)

    dk = 1 1

    dk = 1

    Nilai C = 0, 404 sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan

    antara kedua variabel adalah kuat atau bermakana.

    Untuk hasil uji chi square dan odds ratio mengunakan SPSS

    dapat dilihat di lampiran F

  • 43

    BAB V

    PEMBAHASAN

    Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di unit rawat jalan poli bagian

    penyakit saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Januari 2010 sampai

    Februari 2010 diperoleh berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam

    penelitian ini jumlah pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang mengalami

    hipertensi adalah sebanyak 19 orang (76% ) dan yang tidak mengalami

    hipertensi sebanyak 6 orang ( 24% ). Sedangkan jumlah pasien yang tidak

    Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang mengalami hipertensi adalah sebanyak 8

    orang (32 %) dan yang tidak mengalami hipertensi sebanyak 17 orang ( 68 % ).

    Dari data di atas dapat diketahui bahwa persentase kejadian hipertensi sesuai

    dengan pasien yang mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA)

    Setelah dilakukan uji Chi Square dengan = 0, 05 didapatkan hasil

    X2hitung = 9, 742. Angka yang didapatkan ini lebih besar dari harga kritis untuk

    taraf signifikasi = 0, 05 yaitu sebesar X2 = 3, 841; disebut juga X2tabel. Dari

    pembandingan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna

    antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi. Sedangkan

    dari hasil perhitungan didapatkan Odds Ratio =6, 729 yang berarti bahwa

    penderita Obstructive Sleep Apnea (OSA) memiliki resiko mengalami hipertensi

    sebesar 6, 729 kali lebih besar daripada yang tidak Obstructive Sleep Apnea

    (OSA). Dan dari perhitungan koefisien kontingensi didapatkan nilai C

    (koefisien kontingensi) sebesar 0, 404 sehingga dapat disimpulkan bahwa

    43

  • 44

    kekuatan hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian

    hipertensi adalah kuat. Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan

    bahwa secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara Obstructive Sleep

    Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi, dan nilai kekuatan hubungannya

    adalah kuat.

    Hasil penelitian diperoleh dengan mempertimbangkan faktor usia, riwayat

    merokok, riwayat pembesaran tonsil, riwayat penyakit jantung dan diabetes

    melitus. Dipilih subjek laki-laki dan perempuan yang berusia di atas 50 tahun

    karena puncak OSA terjadi pada dekade ke 5 dan ke 6 (Saragih, 2007). Pada

    jurnal epidemiologi yang ditulis (Jing F & Yuan BC, 2009) disebutkan bahwa

    pasien OSA diatas 50 tahun, laki-laki dan perempuan memiliki ratio odds yang

    sama untuk terjadinya OSA. Selain itu dijurnal tersebut juga dijelaskan bahwa

    prevalensi OSA pada wanita paling tinggi terjadi pada wanita post menoupose

    tanpa terapi hormon. Tetapi karena keterbatasan waktu dan instrumen penelitian,

    penelitian ini dilakukan dengan mengesampingkan faktor-faktor seperti, genetik

    (heterozigot atau homozigot untuk homosistinuria) , penyakit hati, pola makan,

    kadar hematokrit dan aktivitas fisik. Sehingga faktor-faktor yang tidak terkendali

    tersebut mungkin menyebabkan beberapa sampel tidak mempunyai nilai tekanan

    darah yang diharapkan dalam penelitian ini.

    Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Logan et al (2003)

    bahwa penggunaan CPAP pada terapi OSA dapat menurunkan tekanan darah pada

    pasien hipertensi berulang. Pada 19 pasien dengan hipertensi berulang, 16 orang

  • 45

    ditemukan mengalami OSA. Dari 16 orang tersebut 11 orang (10 laki-laki dan 1

    perempuan ) setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

    11 orang pasien hipertensi berulang dengan OSA, efek akut CPAP pada

    tekanan darah diamati selama tidur dan efek jangka panjang pada tekanan darah

    diamati setelah 2 bulan. Selama penggunaan CPAP pada malam pertama, dapat

    menghilangkan OSA dan mengurangi tekanan darah sistolik dari 138, 36, 8

    mmHg menjadi 126, 0 6, 3 mmHg. Begitu juga rata-rata tekanan diastolik

    berkurang dari 77, 7 4, 5 mmHg menjadi 72, 94, 5 mmHg. Setelah 2 bulan

    penggunaan CPAP tekanan harian sistolik berkurang rata-rata 11, 04, 4 mmHg.

    Tekanan darah diastolik juga berkurang rata-rata 7, 83, 0 mmHg.

    Pada pasien dengan hipertensi berulang, terapi OSA dengan menggunakan

    CPAP dapat mengurangi tekanan darah nokturnal. Data diatas juga

    memperlihatkan bahwa CPAP dimungkinkan dapat mengurangi tekanan darah

    sistolik nokturnal dan siang hari yang berlangsung secara kronik.

    Obstruksi Sleep Apnea (OSA) mempunyai pengaruh yang besar dalam

    menimbulkan hipertensi. Obstructive Sleep Apnea (OSA) dapat menaikan

    tekanan darah melalui efek hipoksemia yaitu melalui peningkatan stimulasi saraf

    simpatis dan disfungsi endotel. Obstructive Sleep Apnea (OSA) juga dapat

    menyebabkan terjadinya stroke melalui berbagai mekanisme antara lain kenaikan

    kadar fibrinogen, terjadinya gangguan fungsi endotel, kenaikan aktivitas sel

    keping darah, kenakan sistem penjendalan, penurunan cerebral blood flow/aliran

    darah ke otak, penebalan dinding pembuluh darah karotis.

  • 46

    Dengan demikian Obstructive Sleep Apnea (OSA) mempunyai peranan

    yang cukup besar dalam terjadinya hipertensi, dan juga merupakan faktor yang

    patut diperhitungkan dalam menanggulangi kejadian hipertensi dan penyakit

    kardiovaskuler lainnya seperti stroke dan infark miokard

    Secara teoritis, Obstructive Sleep Apnea (OSA) dapat menyebabkan

    terjadinya hipertensi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini, yaitu setelah data

    diolah secara statistik disimpulkan terdapat hubungan antara Obstructive Sleep

    Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi.

  • 47

    BAB VI

    SIMPULAN DAN SARAN

    A. Simpulan

    Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di poliklinik unit rawat

    jalan bagian penyakit saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan

    Januari 2010 sampai Februari 2010 dapat disimpulkan bahwa terdapat

    hubungan antara Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi

    di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

    B. Saran

    1. Perlu diberikan perhatian khusus pada penderita yang mengalami

    Obstructive Sleep Apnea (OSA) guna mencegah terjadinya hipertensi.

    2. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut tentang pengaruh Obstructive

    Sleep Apnea (OSA) dengan kejadian hipertensi dengan mengendalikan

    berbagai variabel yang tidak terkendali dan dengan menggunakan desain

    penelitian yang lebih bagus serta dengan jumlah sampel yang lebih besar.

    47

  • 48

    DAFTAR PUSTAKA

    Arief, M. 2004. Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan.

    Surakarta : GCSF

    Bandiara R. 2008. An Update Management Concept in Hypertension. Sub Bagian

    Ginjal Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS. Hasan Sadikin

    Bandung.

    Budiarto E. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC, p 13.

    Coleman Jack. A. 2003. Pathophysiologi of Snoring and Obstructive Sleep Apnea

    in Snoring and Obstructive Sleep Apnea. Philadelphia, p:19

    Dian. dkk. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipetensi

    pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang

    Periode Januari sampai Juni 2008. http: //yayanakhyar. wordpress. com.

    (01 Januari 2010)

    Daniel. 2008. Misteri Sleep Apnea Tidak Hanya Sekedar Dengkuran.

    http//:www. majalah-farmacia. com. (25 September 2009)

    Fairbanks david N. 2003. Snoring A General Overview with Historical

    Perpective in Snoring and Obstructive Sleep Apnea. Philadelphia. p:1

    Guyton A. C. 1997. Fisiologi Kedokteran. 9th ed. Jakarta : Penerbit Buku

    Kedokteran EGC

    Granato AA & Schwab RJ. 2003. Cardiovascular, Pulmonary , and

    Neurological Consequences of Sleep-Disorder Breathing. in Snoring and

    Obstructive Sleep Apnea. Philadelphia, p:25

    Hadi, Sutrisno. 1996. Statistik Jilid II. Andi Offset. Yogyakarta. p: 276-284.

    Hariyono T. 2006. Hipertensi dan Stroke. SMF Ilmu Penyakit Saraf RSUD

    Banyumas. http://www. tempointeraktif. com/medika/arsip/052002/pus-1.

    htm (1 Januari 2010)

    Iswanto. 2009. Gangguan Bernapas Saat Tidur. Dalam Seminar Hubungan

    mendengkur dan Stroke. Yogyakarta:RS. Bethesda

    48

  • 49

    Iswarini. 2009. Penanganan Mendengkur di Bidang THT. Dalam Seminar

    Hubungan mendengkur dan Stroke. Yogyakarta:RS. Bethesda

    Jing F& Yuan BC. 2009. Prevalence and Incidence of Hypertension in

    Obstructive Sleep Apnea Patiens and the Relationship Between

    Obstructive Sleep Apnea and its Confounders.. Tianjin:1464-1648

    Lanny Sutrani, dkk. 2004. Hipertensi. Jakarta. PT. Gramedia Jakarta Utama.

    Laksmiasanti. 2009. Obstructive Sleep Apnea/OSA dan Stroke. . Dalam

    Seminar Hubungan mendengkur dan Stroke. Yogyakarta:RS. Bethesda

    Logan et al. 2003. Refactory Hypertension and Sleep Apnoea :Effect of CPAP on

    Blood Pressure and Baroreflex. ERS Jornal Ltd. 21:241-247

    Murti, Bisma. 2006. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan

    Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta:Gadjah Mada University

    Press, pp:67, 113-3

    Nugroho. 2008. Hipertensi. Surakarta. SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler

    RSUD Dr. Moewardi.

    Prasadja. A. 2008. Serba-serbi Obstructive Sleep Apnea. http://sleepclinicjakarta.

    com (01 Januari 2010)

    Rosenberg R, Mickelson S. A. 2003. Obstuctive Sleep Apnea Evaluation by

    History and Polysomnography in Snoring and Obstructive Sleep Apnea.

    Philadelphia, p:39

    Suheni. Y. 2007. Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian

    Hipertensi pada Laki-laki Usia 40 Tahun Keatas di Badan Rumah Sakit

    Cepu.. Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

    Sumardi. dkk. 2006. Sleep Apnea (Gangguan Bernapas Saat Tidur). Dalam :Buku

    Ajar, Ilmu Penyakit Dalam. edisi ke 4. Jakarta :Pusat Penerbitan

    Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, p:1096

    Sugiyanto E. 2007. Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskuler. Jakarta:Cermin

    Dunia Kedokteran No. 157.

    Satria. 2009. Hipertensi Resisten :Diagnosis, Evaluasi dan Terapi, Sebuah

    Pernyataan Ilmiah dari Komite Dewan Pendidikan Profesional American

  • 50

    Heart Association untuk Penelitiaan Tekanan Darah Tinggi. http//:www.

    satriasperwira. webblog. htm. (26 januari 2010)

    Saragih Abdul R. 2007. Mendengkur The Silent Killerdan Upaya

    Penanganannya Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup. Dalam Pidato

    Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kesehatan

    Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher. Fakultas Kedokteran

    Universitas Sumatera Utara.

    Yogiantoro M. 2006. Hipertensi Esesnsial. Dalam :Buku Ajar Ilmu Penyakit

    Dalam edisi ke 4. Jakarta:Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit

    Dalam FK UI, p:599

  • 1

    Lampiran A Lampiran B

    di RSUD Dr. Moewardi Surakarta

  • 2

    Lampiran C

    NO NO.RM JENIS KELAMI

    N

    UMUR TEKANAN

    DARAH

    KATEGORI KETERANGAN

  • 3

    1. 972585 Perempuan

    51 140/100 Hipertensi Non OSA

    2. 926338 Laki-laki 61 150/90 Hipertensi OSA 3. 988158 Laki-laki 60 140/90 Hipertensi OSA 4. 840763 Perempua

    n 62 160/90 Hipertensi OSA

    5. 756874 Laki-laki 54 160/90 Hipertensi OSA 6. 927860 Laki-laki 67 130/80 Non Hipertensi Non OSA 7. 304575 Perempua

    n 51 130/80 Non Hipertensi Non OSA

    8. 991004 Perempuan

    51 120/80 Non Hipertensi Non OSA

    9. 294517 Perempuan

    60 130/80 Non Hipertensi Non OSA

    10. 688110 Perempuan

    53 110/80 Non Hipertensi Non OSA

    11. 991228 Perempuan

    54 200/120 Hipertensi Non OSA

    12. 991169 Perempuan

    59 150/90 Hipertensi OSA

    13. 973718 Perempuan

    55 200/140 Hipertensi OSA

    14. 911451 Laki-laki 56 110/80 Non Hipertensi OSA 15. 854146 Laki-laki 68 100/80 Non Hipertensi OSA 16. 990499 Perempua

    n 51 110/80 Non Hipertensi OSA

    17. 469760 Perempuan

    65 120/80 Non Hipertensi OSA

    18. 653317 Perempuan

    51 130/80 Non Hipertensi OSA

    19. 959474 Laki-laki 51 190/90 Hipertensi Non OSA 20. 982176 Perempua

    n 51 150/90 Hipertensi Non OSA

    21. 779835 Perempuan

    71 160/90 Hipertensi Non OSA

    22. 700899 Laki-laki 68 160/110 Hipertensi Non OSA 23. 991343 Laki-laki 51 120/80 Non Hipertensi Non OSA 24. 615872 Perempua

    n 54 120/80 Non Hipertensi Non OSA

    25. 896143 Laki-laki 64 130/80 Non Hipertensi Non OSA 26. 678434 Laki-laki 63 110/70 Non Hipertensi Non OSA 27. 969976 Perempua

    n 55 110/70 Non Hipertensi Non OSA

  • 4

    28. 991304 Perempuan

    64 160/100 Hipertensi OSA

    29. 811547 Laki-laki 66 140/100 Hipertensi OSA 30. 923697 Perempua

    n 68 150/90 Hipertensi OSA

    31. 726973 Laki-laki 51 120/70 Non Hipertensi OSA 32. 978656 Laki-laki 57 180/100 Hipertensi Non OSA 33. 830857 Laki-laki 67 160/90 Hipertensi Non OSA 34. 847335 Laki-laki 51 150/90 Hipertensi OSA 35. 705135 Perempua

    n 51 140/90 Hipertensi OSA

    36. 968902 Perempuan

    56 150/90 Hipertensi OSA

    37. 512568 Perempuan

    69 150/90 Hipertensi OSA

    38. 613279 Perempuan

    51 140/100 Hipertensi OSA

    39. 991904 Laki-laki 51 140/90 Hipertensi OSA 40. 531843 Perempua

    n 51 160/100 Hipertensi OSA

    41. 531843 Perempuan

    65 160/100 Hipertensi OSA

    42. 986501 Perempuan

    57 140/90 Hipertensi OSA

    43. 990126 Perempuan

    65 160/90 Hipertensi OSA

    44. 990366 Perempuan

    53 110/70 Non Hipertensi Non OSA

    45. 992095 Laki-laki 65 130/80 Non Hipertensi Non OSA 46. 990158 Laki-laki 80 110/70 Non Hipertensi Non OSA 47. 988623 Perempua

    n 51 120/80 Non Hipertensi Non OSA

    48. 382940 Laki-laki 60 130/80 Non Hipertensi Non OSA 49. 909585 Laki-laki 51 130/80 Non Hipertensi Non OSA 50. 733397 Perempua

    n 53 120/80 Non Hipertensi Non OSA

    Lampiran C

  • 5

    Lampiran D

    KUISIONER HUBUNGAN ANTARA OBSTRUKSI SLEEP APNEA

    (OSA) DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI POLI SARAF RSUD Dr.

    MOEWARDI SURAKARTA

    Identitas pasien :

    Tanggal :

    Nama :

    Umur :

    Alamat :

    No.RM

    Riwayat Penyakit : ( ) Jantung

    ( ) DM

    ( ) pembesaran tonsil/amandel

    ( ) Merokok

  • 6

    Lampiran D

    THE EPWORTH SLEEPINESS SCALE

    SLEEP LABORATORY

    Jawablah pertanyaan dibawah ini (no 1-8) dengan berdasarkan score yang telah

    ditentukan :

    Score

    0 :Tidak mungkin mengantuk

    1 :Kemungkinan sedikit untuk mengantuk

    2 :Kemungkinan sedang untuk mengantuk

    3 :Sangat mungkin untuk mengantuk

    NO. KEADAAN KEMUNGKINAN SCORE

    1 Duduk dan membaca 2 Menonton tv 3 Duduk diam di area public 4 Menjadi penumpang kendaraan lebih dari 1 jam lebih 5 Berbaring pada siang hari 6 Duduk pada siang hari dan berbicara pada seseorang 7 Duduk diam seelah makan siang 8 Berhenti pada lampu lalu lintas selama beberapa saat NILAI TOTAL (NILAI EPWORTH)

    Lampiran E